Kuroko kebingungan. Bukankah kemarin Akashi meminta keduanya menemui dia dulu di ruang OSIS? Lalu, kenapa sekarang Furihata membawanya ke ruang kepala sekolah? Saat Kuroko menanyakannya, Furihata menjawab karena pesan dadakan yang Akashi kirimkan padanya saat Kuroko sedang mandi tadi. Baiklah, jawaban itu bisa diterima. Namun, siapa dua makhluk jangkung yang berdiri di dekat pintu ini?


KuroBasu © Fujoshi aka Fujimaki Tadatoshi

One of the Princesses?! © Calico Neko

Harem & Crack Fiction of Kuroko Tetsuya & Furihata Kouki


"Selamat datang di ruang kepala sekolah, Princesses."

Kuroko kebingungan mendapati dua sosok tegap tersebut yang sedang memasang senyum (mungkin bermaksud) menggoda. Yang satu dia ingat sebagai Aomine Daiki, yang kemarin mengantarnya ke kamar dengan cara menggendongnya di pundak. Satunya lagi memiliki perawakan mirip Aomine, bedanya adalah dari warna kulit dan rambut. Raksasa, adalah komentar pertama yang terbersit dalam benak Kuroko.

"I-iya, Kaga- eh, maksudku Taiga-kun dan juga Daiki... eto..." Aomine tersenyum mengetahui gagap Furihata yang kambuh kalau dia gugup. Dalam bisikan, Furihata berujar, "Daiki onii-chan."

Apa?! Tunggu sebentar. Telinga Kuroko benar-benar sudah diperiksakan ke THT, kan? Dia tidak mungkin salah dengar. Furihata baru saja memanggil keduanya dengan nama kecil mereka. Iya, Kuroko tidak salah dengar, terlihat dari seringai yang bermain di bibir Aomine.

"Biar aku bawakan tasmu, Princess."

Sebuah interupsi datang dari si jangkung berambut merah yang menawarkan jasanya untuk membawakan tas Kuroko. Tapi untuk apa? Kan tidak berat.

"Tidak perlu repot-"

"Biar aku bawakan tasmu, Princess." Kali ini dia ucapkan dengan penuh penekanan. Takut diapa-apakan, Kuroko menurut.

"Milikmu juga, Kouki-hime. Dan lenganmu."

Wajah Kuroko tiba-tiba memerah melihat lengan Furihata yang bergelayut pada lengan berotot Aomine, dengan tas pundak Furihata yang Aomine bawakan di tangan satunya. Dilihat dari manapun mereka seperti pasangan, sangat natural. Pikiran Kuroko mulai melanglang buana. Apa dia harus bergandengan tangan juga dengan (mungkin) Kaga Taiga ini? Apa ini salah satu tugas seorang Princess? Membayangkannya saja sudah membuat Kuroko merinding geli.

"Kuroko-hime, di sebelah sini."

Fyuh... Kuroko menghembuskan nafasnya, lega karena dia tidak harus melakukan kontak fisik dengan Taiga. Sambil membuntut di belakangnya, mata Kuroko melihat-lihat sekeliling. Terlihat deretan pigura berisikan foto-foto mantan kepala sekolah, diurutkan dari masa terdahulu hingga sekarang. Namun belum sempat melihat foto kepala sekolah yang sekarang, Kuroko sudah berada tepat di depan sebuah meja mewah, berdiri di sebelah Furihata yang terlihat pasrah karena masih bergandengan dengan Aomine.

"Furihata-kun, kau pernah bertemu dengan kepala sekolah sebelumnya?" Furihata menggeleng.

"Aku juga belum pernah melihatnya. Kalau kau, Aomine?" tanya Kagami pada Aomine yang menggeleng sambil menguap malas-malasan.

Tak lama kemudian, dari pintu yang berasal dari ruangan lain, seorang pria tua berjalan perlahan dengan bantuan tongkatnya, sedikit dibantu papah juga oleh Akashi yang ternyata turut keluar dari ruangan tersebut. Furihata sesegera mungkin melepas gandengan tangannya dengan Aomine, kemudian keempatnya menunduk hormat pada kepala sekolah.

"Selamat pagi, Kepala Sekolah."

Beliau tersenyum, Akashi seakan menahan tawa, dan pria dewasa lain yang berdiri di belakang keduanya menegur cukup keras.

"Siapa yang kalian katakan Kepala Sekolah, anak-anak? Beliau ini adalah ayahku, Takeda. Yang kepala sekolah adalah aku, Aida Kagetora!" Kuroko, Kagami, dan Aomine menyenandungkan "Oh..." dalam tempo dan nada yang sama, hanya Furihata yang membungkuk meminta maaf. "Papa, sampai di rumah langsung beristirahat, ya. Riko-tan hari ini pulang cepat, dia akan menemanimu. Dan kau Akashi, temani ayahku sampai mobil, lalu jemput yang lainnya ke sini." Seperti sudah terbiasa, Akashi membungkukkan badannya dengan sudut yang sangat tepat, lalu undur diri.

Kemudian, keempatnya ditinggalkan begitu saja oleh kepala sekolah. "Eh?"

"Ah, maaf anak-anak. Kita tunggu sampai Akashi dan yang lainnya kembali ya. Silakan duduk dimanapun selain di sofa soalnya baru beberapa hari yang lalu ganti kulit, nanti kotor."

Cengo berjamaah. Sungguh keterlaluan kepala sekolah yang satu itu, beliau seakan tidak merasa bersalah sama sekali dan justru kembali ke ruangan yang darimana dia berasal tadi. Terdengar tawa keras dari dalamnya. Sepertinya beliau sedang menonton TV.

"Kepala sekolah kita aneh, ya." Tanggapan Kuroko dijawab keheningan dari ketiganya.

Sudah 10 menit mereka menunggu dan tak satupun ujung hidung baru yang nampak. Pegal, Kuroko yang berniat duduk di lantai langsung mendapat teguran dari Kagami. Furihata sampai terkaget mendengar suaranya.

"Kau ini sekarang sedang menjadi Princess, bagaimana bisa kau duduk di lantai?! Kalau pegal bilang-bilang, aku bisa memangkumu!"

"Hah~? Ini kan salahmu juga, Kagami. Kau itu tidak peka. Seharusnya sebelum Tetsu-hime berniat duduk, kau yang harus menawari duluan," kata Aomine sambil membersihkan telinganya.

"Apa? Jangan berlagak hebat, Aomine! Kau tidak lihat dari tadi Furihata-hime melirik terus ke arah sofa?"

Furihata kecolongan sejenak. Dia memang dari tadi pegal berdiri, tetapi kalau duduk di lantai pasti dimarahi Aomine, jadi dia diam saja sambil berharap-harap cemas. Sambil menyampirkan rambut palsunya ke belakang telinganya, dengan malu-malu dia berucap, "Iya, aku agak pegal, tapi aku takut merepotkan Ao- maksudku Daiki onii-chan."

"Dengar itu, Kagami!" jerit Aomine sambil merangkul pundak Furihata. "Dia ini menghargai perasaanku, jadi diam saja. Ah, aku tidak menyalahkanmu, Tetsu-hime, tapi memang sebaiknya kau tidak duduk di lantai apalagi karena sekarang kau sedang memakai rok. Jadi, ini semua adalah kesalahanmu, Bakagami!"

"Hah..! Kau mau cari ribut denganku?"

Entah asli atau hanya pura-pura berkelahi, Kagami dan Aomine saling menggenggam kerah gakuran masing-masing. Kuroko dan Furihata terjepit di antara tubuh keduanya. Untungnya tak satupun dari keduanya yang bau badan.

Tak berapa lama dari adegan tak penting antara keduanya, suara Akashi yang bernada rendah menginterupsi. Suaranya sukses menghentikan tingkah kekanakan mereka.

"Daiki, Taiga, bisa tolong jelaskan padaku kenapa Princesses bisa terjepit di antara kalian?" Tidak ada yang menjawab.

Sambil merapikan wig mereka yang berantakan, Kuroko dan Furihata mengalihkan mata pada Akashi. Dia tidak datang sendirian, namun bersama 4 orang yang belum Kuroko kenal. Dilihat dari seragamnya, keempatnya pastilah senior. Berbeda dengan pekik senang yang keluar dari tenggorokkan Furihata, sepertinya dia mengenal keempatnya.

Seperti sudah terjadwal, Aida-san keluar dari ruangannya, lalu menyalami keempat tamunya, kali ini termasuk Kuroko dan Furihata pun beliau salami. "Ah, sudah datang rupanya? Ayo berkumpul. Kita duduk bersama-sama di sofa." Kalau mereka tidak punya kesabaran berlebih, dua Princesses pasti sudah gondok. "Pertama, aku ucapkan selamat datang kepada Kuroko Tetsuya-kun di Seirin Private School dan selamat karena telah menjadi Princess yang baru untuk menggantikan Akashi."

Yang disebut namanya mengangguk pelan. "Terima kasih, Kepala Sekolah, akan tetapi aku akan lebih senang kalau aku tidak menjadi Princess." Laki-laki berambut belah tengah menahan tawanya dengan sebuah batuk.

"Ah, semuanya pasti berkata seperti itu, Kuroko-kun. Tenang saja, kau pasti akan betah. Jangan lupa kalau Furihata-kun akan selalu membantumu." Ucapan beliau sama sekali tidak membuatnya tenang. "Mari kita mulai dari awal. Aku adalah Aida Kagetora, kepala sekolah ke 27. Di sebelahku adalah Akashi Seijuurou. Dia ini orang kepercayaanku, merangkap sebagai mantan Princess dan ketua OSIS. Nah, yang menyambut kalian berdua tadi adalah Aomine Daiki dan Kagami Taiga. Mereka ini bisa dibilang adalah bodyguard kalian. Tapi ada dua lagi, akan diperkenalkan saat pergantian tugas nanti."

Kuroko tiba-tiba merasa bingung bercampur malu. "Bodyguard? Furihata-kun, kau belum bercerita padaku tentang ini."

"Soalnya, kalau aku cerita nanti kau takut," cicit si coklat sambil duduk menjauh, ngeri melihat tatapan mata Kuroko. Pantas saja Aomine dan Kagami agak perhatian bahkan sebelum mengetahui namanya. Mungkin itu juga alasan Furihata memanggil keduanya dengan nama kecil mereka.

"Tenang saja, bodyguard bukan untuk mengekang kalian. Setelah tahu keadaan murid-murid di sini nanti, kau pasti akan mengerti, Kuroko-kun." Entah mengapa Kuroko justru merasa semakin ketakutan sekarang. "Nah, mereka berempat adalah yang harus kau kenal, Kuroko-kun," sambung Aida-san sambil menunjuk keempat orang yang tadi datang bersama Akashi. Keempatnya duduk di sofa di hadapan Kuroko. "Silakan perkenalkan diri kalian." Entah perasaan Kuroko saja atau nada bicara Aida-san berubah agak lembut, ya?

"Biar aku yang pertama!" ucap seorang berambut hitam dan berbelah tengah. "Namaku Takao Kazunari, kelas 2-B. Kau boleh memanggilku Nari-kun seperti Kou-chan memanggilku. Salam kenal ya, Te-chan!" Orangnya sepertinya ceria, terlihat dari matanya yang mengedip genit pada Kuroko.

Lalu di sebelahnya adalah laki-berambut coklat muda. "Maaf, namaku Sakurai Ryou, kelas 2-D. Salam kenal Kuroko-san. Ah, maaf, apakah –san terlalu formal? Maaf." Kalau menghitung, Kuroko mendapati bungkukan maaf sebanyak 3 kali. Sepertinya dia seorang gugup tingkat angkut.

"Kalau aku Izuki Shun, kelas 3-C. Salam kenal Kuroko." Perkenalan yang singkat dari seorang laki-laki berambut hitam yang memiliki mata tajam. Wajahnya sangat oriental dan ramah, walau sepertinya (mungkin) dia agak unik.

Orang terakhir adalah laki-laki berambut hitam cepak. Wajahnya cukup galak, walau tidak semengerikan wajah Akashi atau Aomine. "Kasamatsu Yukio, kelas 3-A. Salam kenal." Kuroko sampai menelan ludah, gugup mendengar nada bicaranya.

Diperhatikannya keempat orang yang duduk di hadapannya tersebut. Kuroko mencoba mencerna siapakah mereka dan kenapa Kuroko harus mengenal mereka. Bila diperhatikan, keempatnya memiliki sedikit persamaan. Mereka duduk dengan agak anggun untuk ukuran laki-laki, dan yang pastinya... mereka tidak begitu tinggi.

Berarti...

"Mereka adalah mantan Princess. Kalau kau butuh bantuan, silakan datang pada Furihata-kun atau salah satu dari mereka berempat."

Ternyata benar dugaannya. Mengerti, Kuroko pun menggangguk. "Aku dengar Akashi-kun juga mantan Princess. Lalu-"

Sebuah suara memutus. "Tidak usah meminta bantuan padanya." Ucapan bernada main-main keluar dari mulut Takao. "Dia itu penghianat. Baru sebulan menjadi Princess sudah seenaknya menjadi ketua OSIS." Akashi hanya memberi tatapan membunuh yang sepertinya tidak ampuh terhadap Takao.

"Oke, perkenalan sesama Princess kita sudahi. Sekarang saatnya untuk memperkenalkan Kuroko-kun pada warga Seirin Private School. Furi-"

"Tidak!" Semua dibuat jantungan oleh Furihata yang tiba-tiba berdiri sambil berteriak. "A-aku tidak mau ikut! Aku minta maaf kalau aku terdengar egois, tapi aku mohon, biar Kuroko saja yang ke sana sendiri. Aku tidak mau mengalaminya lagi dua kali!" Furihata sekarang benar-benar menangis dan dipastikan bedaknya akan luntur. Melihatnya membuat Kuroko cemas akan apa yang dihadapinya nanti.

"Furihata, tenang. Kau membuat Kuroko takut." Kasamatsu mencoba menenangkan teman sekamar Kuroko itu dengan memeluknya pelan, walau Kuroko sendiri sangat yakin dapat melihat kilat ketakutan di mata Kasamatsu. Diliriknya sekitar, keempat mantan Princess, yang berarti termasuk Akashi, beserta Aomine dan Kagami menunjukkan wajah ketakutan dan kekhawatiran. Penilaian Kuroko terhadap si ketua OSIS adalah dia memiliki kewibawaan dan keberanian yang besar, namun melihat keringat sebesar biji kacang hijau yang menetes dari pelipis Akashi, si surai biru muda harus menelan pil pahit. Akashi pun sepertinya tidak punya kendali pada apa yang akan terjadi nanti.

"Maaf, kalau boleh aku ingin usul. Maaf kalau ini gila atau membuat tidak nyaman, tapi aku..." Sakurai menelan ludahnya sendiri, "Aku akan menemani Kuroko-san dan Furihata-san ke sana. Jadi, aku harap yang lain juga tidak keberatan menemani. Maaf, aku harap Akashi-san juga ikut dengan kami. Maaf."

"Ryou-chan, kau gila! Aku-" melihat Furihata yang masih menangis, Takao pun luluh. "Ck, baiklah aku akan ikut."

"Kalau yang lain ikut, aku juga tidak keberatan," kata Izuki sambil merentangkan tangannya ke atas.

"Aku juga. Jadi kau tenang saja, Furihata. Kami akan menemanimu." Mendengar ucapan Kasamatsu, tangis Furihata mereda. "Bagaimana denganmu, Akashi? Kami tidak memaksa, tapi kami akan sangat berterima kasih kalau kau mau ikut."

Tersenyum simpul, Akashi dengan tegas menjawab, "Baiklah, aku akan meminta 5 dari Reo. Dia pasti gembira mendengarnya."

Ketika mereka bersorak pelan dan saling menguatkan diri serta hati masing-masing, hanya Kuroko yang tidak tahu apa-apa.

"Tenang saja, Kuroko-hime. Kami akan melindungimu."

"Iya, tidak perlu khawatir, Tetsu-hime." Ucapan Kagami dan Aomine sama sekali tidak membuatnya tenang. Kuroko justru semakin bingung dan sepertinya merasa agak takut.

Ah, Aida-san rupanya sudah kembali ke ruangannya untuk melanjutkan acara TV-nya.


Di sebuah aula berbentuk bundar yang biasa digunakan untuk pentas musik ini telah duduk sekitar 600 warga Seirin Private School yang semuanya tentu saja adalah laki-laki. Suasana begitu riuh, tidak sabar akan kedatangan Princess yang baru. Semua begitu penasaran akan dirinya.

Keadaan menghening ketika salah seorang anggota OSIS yang bernama Mibuchi menaiki panggung aula, ditemani Aomine dan Kagami. Wajah Mibuchi sangat cerah, seperti baru tertimpa durian runtuh.

"Minna-san~" sapanya dengan suara yang tak kalah cerianya, "Maaf menunggu lama karena kami harus menyiapkan kejutan untuk kalian." Dengung 'Kejutan apa?' menggema di aula tersebut. Seperti host profesional, Mibuchi merentangkan tangannya sambil berteriak, "Tanpa tunggu lama, mari kita sambut, Princesses!"

Suasana menjadi riuh menggelegar, suara yang ditimbulkan seperti bila ada bola yang berhasil dijebloskan ke dalam gawang, sangat memekakkan telinga. Siulan dan tepukan tangan pun tak kalah kencangnya terdengar.

Pintu yang digunakan oleh para siswa untuk masuk ke aula menjeblak terbuka, memperlihatkan tujuh laki-laki bertubuh mungil dalam balutan seragam perempuan khas Seirin Private School.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya


Terima kasih spesial untuk yui-yutikaisy, citrusfujo, Seijuurou Eisha, Lee Kibum, arista raska, jessy-jasmine-7, Himawari Wia, VilettaOnyxLV, GalaxyandOrbit, icyng, Myadorabletetsuya, Tanaka Aira, Anagata Lady, Banana Trap, Aoi-Umay, Yuna Seijuurou, Aliyss, Hazu, Dee Kyou, Baby Panda Zi TaoRis EXOtics, annpui, HoshiKirari, chiyu sakurai, Sagi Akabara, aster-bunny-bee, Ruki-chan SukiSuki'ssu, yui-cchi, Shina Suzuki yang sudah menyempatkan waktu untuk mereview. Makasih juga untuk yang sudah fave & follow dan semuanya yang udah baca.

Princesses lain tunggu di chapter selanjutnya, ya. Untuk yg minta Aomine, Kagami, Takao, dan Sakurai juga udah aku selipkan. Oh ya, seragam yg dimaksud di sini adalah seragam Seirin.

Review, please ^^

Note: Karena kesibukan, sampai waktu yg tdk diketahui, multichapter yg akan di-update adalah ff yg temanya agak ringan(?).