"Aku mencium adikmu saat itu, Seok-ah." Mata lawan bicaranya membulat sempurna.

"Dan aku benar-benar tidak tahu kalau saat itu ada Jihoon memergokiku." Soonyoung menundukkan kepalanya.

"Sudah sepantasnya kau mendapatkan imbalan seperti ini, aku justru terimakasih kepada Jihoon nunna karena sudah menyadarkanmu atas kesalahanmu." Soonyoung menggeram rendah.

"Aku belum siap kehilangannya dan aku tidak mau." Seokmin memutar bola matanya jengah.

"Terima saja." Soonyoung hanya bisa mengangguk pasrah.


-gimmelatte-

PRESENT

Love Complicated

.

"Aku akan membahagiakanmu suatu saat nanti. Tunggu aku." –Kwon Soonyoung

"Aku akan menenagih janjimu saat itu." –Lee Jihoon

.

Kwon Soonyoung x Lee Jihoon

Slight! Meanie, Jicheol, Soonchan

.

Genre : Sad, romance, lit bit comedy.

Rating : M

.

WARNING!

typo(s), genderswitch for uke, au, alurnya tidak jelas

Don't Like Don't Read


Sudah hampir dua minggu pemuda bermata sipit itu melihat Jihoon –dikarenakan rumahnya yang dekat- dan ia tidak berkomunikasi dengan Jihoon sehabis kejadian pada hari itu. Soonyoung merasa kekosongan pada hatinya saat Jihoon benar-benar menghilang dari hadapannya. Walaupun sedang bersama Chan –kekasihnya- ia tetap saja memikirkan Jihoon dengan perasaan sakit hati yang selalu Jihoon bawa kemana-mana.

"Oppa, kau kenapa melamun?" Soonyoung kelagapan setelah mendapatkan pertanyaan itu.

"Ah, aku tidak melamun kok." Ujar Soonyoung.

"Tadi oppa dengar tidak aku bercerita apa?" Soonyoung mengangguk padahal sebenarnya ia sama sekali tak mendengarnya.

"Coba ceritakan ulang." Dan sedetik kemudian Soonyoung menyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Tuhkan, oppa tidak mendengarkanku tadi." Chan mencebikkan bibirnya membuat Soonyoung gemas di buatnya.

"Aigoo, jangan marah." Soonyoung mencubit kedua pipi Chan.

"Biarkan saja aku marah." Ujar Chan ketus membuat Soonyoung sedikit mengernyit.

"Jangan dong, nanti jelek." Pemuda bersurai cokelat itu tersenyum hangat kearah sang kekasih.

"Kalau aku tidak cantik lagi berarti oppa tidak akan mencintaiku lagi?"

"Bukan seperti itu, chagia. Aku lebih suka kau apa adanya, sungguh. Aku tidak memandangmu dari fisik sama sekali." Chan tersenyum kemudian agak berdiri untuk mengecup bibir Soonyoung dan hal itu berhasil membuat Soonyoung membeku dan otaknya mereplay masalahnya dengan Jihoon.

Jihoon berjalan keluar dari pintu bandara Haneda . Disinilah sekarang ia berdiri, di Jepang. Negara yang menjadi pintu utama untuk menggapai semua cita-citanya. Dan di sini juga lah, awal kehidupannya yang baru akan di mulai.

Jihoon pandai dalam berbahasa Jepang maka dari itu ia lebih memilih Jepang sebagai negara untuk mengenyam pendidikan s2-nya. Jihoon mendorong trolley miliknya yang berisikan dua buah koper dan satu tas jinjing. Gadis bermata sipit itu berjalan mencari taxi yang aman sebagai transportasi untuk mengantarnya ke apartment yang di belikan oleh sang ayah.

"Jihoon?" kemudian gadis bermata sipit menoleh kearah sura saat namanya di panggil. Manik hitamnya mendapati seseorang yang sangat ia kenal sedang melambaikan tangan kearahnya dan kemudian pemuda bermata tegas itu mendekati Jihoon.

"Kau sendirian?" dan Jihoon mengangguk.

"Oppa kenapa di sini?"

"Aku menjemput adikku, dia baru saja landing dari Korea, mungkin satu pesawat denganmu."

"Oh iya, Seungcheol oppa, bukannya kau punya café di Soul?"

"Yap, memang, namun selama aku di Jepang, sepupuku Hansol yang menangani semuanya." Ujar Seungcheol dan Jihoon hanya bisa mengangguk.

"Oppa!" Seungcheol dan Jihoon menoleh kearah sumber suara dan terdapat gadis yang lebih pendek dari Jihoon melambai ke arah Seungcheol kemudian mendekati keduanya.

"Jihoon unni?" gadis itu tampak berpikir.

"Yoojung?" Jihoon balik bertanya kepada gadis di depannya ini.

"Ah unni!" Yoojung memeluk Jihoon erat. Yoojung merupakan adik kelasnya saat sekolah menengah pertama dan atasnya dulu.

"Aku tak menyangka kita bisa bertemu lagi, Yoojung-ah!" Seungcheol menatap heran kedua gadis di depannya.

"Kalian sudah saling mengenal? Bahkan sebelumnya aku malah ingin mengenalkan kalian berdua." Seungcheol tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya.

"Aku bahkan baru tau kalau kau kakak dari adik kelasku yang sangat dekat denganku ini." Jihoon tersenyum kearah Yoojung dan Sengcheol bergantian.

"Dulu saat unni sering bermain kerumah, Seungcheol oppa di Amerika, kuliah di sana." Yoojung menjelaskannya dan Jihoon hanya membalas dengan ber-oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Yasudah kalau begitu, aku ingin mencari taxi dulu." Jihoon tersenyum sebelum kembali mendorong trolley.

"Bareng saja, unni~" Yoojung menatapnya dengan puppy eyes.

"Tidak usah nanti merepotkan, lagi pula takut arahnya berbeda."

"Mau kemana memang?" Seungcheol melihat Jihoon dari atas sampai bawah. Entah, ia menjadi tertarik untuk mengenal Jihoon lebih jauh lagi.

"Igeo." Jihoon mengeluarkan secarik kertas dari tas jinjingnya yang merupakan alamat apartmentnya dan memberikannya kepada Seungcheol.

"Oh ini, searah, kok." Ujar Seungcheol membuat Jihoon tak percaya.

"Apartment mu dekat dengan rumah orangtuaku." Lanjut Seungcheol.

"Yasudah kalau begitu unni ikut bersama kita saja, ne?" Yoojung bergelayut manja di tangan Jihoon membuat gadis bermata sipit itu mau tak mau mengangguk menerima tawaran dari adik kelasnya ini.

Jihoon membantu Seungcheol untuk menurunkan kopernya dari bagasi sedan hitam milik kakak sang adik kelasnya. Ia melihat gedung pencakar langit yang akan menjadi tempat tinggalnya selama di Jepang. Semuanya akan di mulai, hari baru dengan memori baru.

"Ku antar sampai ke dalam ya." Seungcheol menarik koper marun Jihoon menuju lobby apartmentnya.

"Ah, tidak usah oppa, takutnya merepotkan." Jihoon merarik tangan pemuda yang lebih tua setahun darinya dan menghentikan pergerakan pemuda berahang tegas.

"Ini tidak merepotkan sama sekali, Ji, sungguh." Seungcheol menatap Jihoon lekat membuat Jihoon mengangguk pasrah.

"Unni!." Jihoon menoleh kearah gadis yang memanggilnya kemudian berjalan menghampiri Yoojung yang masih berada di dalam mobil.

"Nanti main ke rumah ya. Dekat dari sini kok, hanya naik bus lima belas menit saja."

"Kapan-kapan aku akan main kesana."

"Nanti malam, jam tujuh aku jemput, kita makan malam bersama." kedua mata sipit itu melebar menatap gadis yang lebih muda darinya tu.

"Tidak usah, Yoojung-ah. Merepotkan orangtuamu nanti." Jihoon menolak dengan sopan.

"Tidak sama sekali, unni. Pokoknya nanti jam tujuh aku jemput, titik tidak ada penolakan sama sekali." Dan akhirnya Jihoon mengangguk terpaksa.

Pemuda bermata sipit itu menekan bel yang berada di sisi pagar, dan tak lama pagar rumah terbuka dan menampakkan ibunda sang mantan kekasih.

"Annyeong umma." Soonyoung tersenyum kaku.

"Ah kau, Soon, umma kira siapa." Nyonya Lee menepuk pundak Soonyoung.

"Ada apa?" Soonyoung mencuri pandang ke arah pintu kayu yang tertutup rapat. Biasanya kalau Soonyoung ke sini, saat nyonya Lee membukakan pagar, Jihoon berada di ambang pintu dengan senyuman manisnya. Namun nihil, tidak ada siapa-siapa di sana.

"Kau mencari siapa?" Nyonya Lee mengintrogasi gelafat pemuda bermata sipit itu.

"Ah, aku-aku mencari Jihoon, umma. Dia ada di rumah?" Nyonya Lee terdiam. Pasalnya Jihoon sudah mengingatkannya untuk tidak memberi tahu Soonyoung dimana keberadaannya sekarang. Jihoon benar-benar ingin hilang dari kehidupan Soonyoung. Nyonya Lee terlihat berpikir untuk mencari alasan yang logis agar pemuda di depannya ini tidak curiga.

"Jihoon sedang tidak ada di rumah, Soon-ah." Soonyoung menhela napasnya dalam.

"Kira-kira kemana umma?"

"Jihoon tidak memberi tahu, tadi ia langsung ke luar rumah begitu saja." Soonyoung mengangguk saja. Tujuannya kesini rupanya sia-sia, namun bukan Soonyoung namanya kalau ia tidak ada niatan untuk mencari gadis mungil itu.

"Kalau begitu aku permisi, umma. Kalau Jihoon sudah pulang, tolong sampaikan kepadanya agar ke rumahku, umma, gomapseumnida, annyeong." Soonyoung menunduk kemudian memutar badannya berbalik arah menuju rumahnya. Langkah kakinya sangat berantakan, sesuai dengan perasaannya. Ibunda Jihoon yang masih melihat Soonyoung dari ambang pagar hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Soonyoung memutar arah kakinya menuju taman yang tak jauh dari rumahnya. Taman yang biasanya sering di kunjungi Jihoon untuk bermain dengan anak-anak kecil yang berada di sana. Pemuda itu mempercepat langkahnya menuju taman, namun saat sampai di taman, pandangan mata sipit itu kosong. Ia tak menemukan Jihoon di sini.

"Argh, Jihoonnie kau dimana?" Suara gusar Soonyoung sangat ketara. Ia menunduk lesu, mengikuti gerak kakinya yang entah akan membawanya kemana.

"Soon berhentilah, kumohon." Seokmin menahan tangan Soonyoung yang memegang gelas berukuran sedang yang berisikan soju. Mata merah Soonyoung sudah ketara sekali kalau pemuda ini sudah dibawah pengaruh alkohol.

"Aku tak akan berhenti sebelum Jihoon kembali kepadaku, Seok-ah." Soonyoung menggeprak meja yang berisikan botol soju itu cukup keras hingga pelanggan di meja seberang menengok kearah mereka berdua.

Seokmin sudah tidak bisa mengelak kalau keadaannya seperti ini. Sooyoung akan lebih liar kalau sudah di bawah pengaruh alkohol, bisa saja ia menjadi korban amarah Soonyoung kalau ia terus saja bercuap untuk menyuruh pemuda sipit itu berhenti minum.

"Jihoonie kau dimana?" Soonyoung mencelupkan jari telunjuknya ke dalam gelas yang berisikan soju dan mengaduknya.

"Aku merindukanmu, chagia. Apa kau tidak merindukanku, hm?" Soonyoung menopang kepalanya yang terasa berat dengan tangan kirinya.

"Sebaiknya kita pulang saja, Soon-ah." Soonyoung menatap pemuda di depannya ini dengan tajam dan hal itu membuat Seokmin terdiam.

"Ini semua bukan salahku, Jihoon-ah. Kumohon kau mengerti dan kembali kepadaku." Soonyoung menegak soju terakhirnya sebelum ia benar-benar pingsan.

"Dasar bocah." Seokmin mengumpat saat Soonyoung benar-benar tidak membuka matanya. Seokmin memanggil pelayan untuk membawakan bill. Ia mengambil dompet di sakunya saat melihat bill yang di bawakan oleh pelayan kemudian mengambil uang 10.000 won.

"Ambil saja kembaliannya, anggap tip untukmu." Pelayan itu mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkannya dengan Soonyoung.

"Kau benar-benar menyusahkanku jika sudah seperti ini, Soon-ah." Seokmin menarik tangan kanan Soonyoung kemudian membopoh pemuda sipit bersurai cokelat itu menuju mobilnya.

Seokmin membuka kaca mobilnya saat bau alkohol menyeruak memenuhi mobil. Ia melirik pemuda di sampingnya ini dengan tatapan kasihan. Terhitung, ini sudah kali ke empat Soonyoung mabuk-mabukan seperti ini dalam hubungannya dengan Jihoon, namun ini lah yang terparah. Soonyoung tidak bisa meneguk soju atau wine lebih dari dua setengah botol namun sepertinya malam ini pemuda bersurai cokelat itu benar-benar stress hingga ia menghabiskan tiga setengah botol soju.

Pemuda yang lebih muda satu tahun dari Soonyoung itu memutuskan untuk membawa Soonyoung pulang ke apartementnya. Tak mungkin ia memulangkan Soonyoung ke rumah orang tua pemuda yang lebih tua setahun darinya itu dengan keadaan seperti ini, pasti itu akan menimbulkan tanda tanya besar dari kedua orang tua Soonyoung.

Jihoon melihat pantulan dirinya dari cermin besar yang berada di kamarnya. Dress selutut berwarna tosca itu sangat pas di tubuh mungilnya. Gadis mungil itu meraih lip balm kemudian mengoleskan di bibir tipisnya. Jihoon lebih menyukai lip balm daripada lipstick.

Gadis bermata sipit itu mengeluarkan sepatu kets putih dari koper hitamnya kemudian memakainya. Ia tersenyum kembali setelah mengecek penampilannya sekali lagi di depan cermin. Jihoon menolehkan kepalanya saat suara bel menggema di apartmentnya yang masih berantakan ini. Gadis mungil itu berlari kecil menuju pintu apartmentnya, sebelum membukakan pintu, Ia melihat ke layar kecil yang menampakkan seorang Choi Yoojung di depan pintu. Tangannya menurunkan knop pintu dan membukakan pintu untuk Yooojung yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.

"Annyeong, unni." Yoojung tersenyum membuat Jihoon juga ikut tersenyum.

"Nado annyeong. Kita langsung jalan saja ya, apartmentku masih berantakan hehe." Jihoon membenarkan letak tali tas selempangnya yang sedikit melorot.

"Yasudah, kajja." Jihoon berjalan keluar dari apartmentnya kemudian memasukkan kata sandi sebelum menyusul Yoojung yang sudah jalan terlebih dahulu.

Keduanya menaiki bis yang akan membawa mereka menuju kediaman orang tua Yoojung. Gadis yang lebih muda tiga tahun darinya itu menarik tangan Jihoon kearah bangku paling belakang dan duduk di sana.

"Rumah kalian sepi sekali." Jihoon mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Rumah orang tua Seungcheol bisa di bilang dua kali lipat lebih besar dari rumah orang tuanya yang berada di Seoul.

"Rumah ini sebenarnya hanya di jadikan tempat singgah kalau kita ke Jepang." Ujar Seungcheol

"Oh~" Jihoon hanya ber-oh ria. Gadis mungil itu menaruh tasnya di sofa kemudian berjalan mendekati Seungcheol yang berada di dapur.

"Biar aku bantu." Jihoon membenarkan tatanan letak gelas yang di taruh Seungcheol.

"Tidak usah, kau duduk saja atau temani Daengie di atas." Seungcheol mengambil mangkuk dan memasukkan masakannya ke dalam mangkuk.

"Ini mudah kok." Jihoon mengambil alih mangkuk yang di pegang oleh pemuda yang lebih tua setahun darinya itu kemudian menaruhnya di meja makan. Seungcheol yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

'Soon-ah, bagaimana orang setulus, dan sebaik Jihoon bisa kau sia-siakan begitu saja?' batin Seungcheol.

TBC


Annyeong!

Balik lagi nih bawa ff gaje ini wk): Makasih ya buat reviewnya^^ Kalian bikin gim semangat lagi padahal hampir nyerah sama ff ini):

Reviewnya di tunggu ya!

Annyeong!