Haiii!

So, this is chapter three, guys.

Untuk BaekHill, hehe, maaf kalau kurang panjang, sebenarnya, ini draftnya udah kuselesaikan dulu sampai chapter terakhir baru aku upload, jadi, benar-benar gak bisa diperpanjang. Jadi, kan, aku nulisnya di Word dulu, nah disitu ada perkiraan katanya, 1000, nah aku mikirnya, kayanya 1000 aja udah banyak, eh ternyata kurang panjang.

Mianhamnida.

Okay, I don't want to bother you any longer, this is chapter three.

Chapter 3: Transformer

Pria tinggi tadi maju ke depannya, membungkukkan kepalanya dengan penuh hormat, membuat Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali. "Untuk menjawab pertanyaanmu, kau ada di El Dorado dan aku adalah Putra Mahkota."

Putra mahkota? El Dorado? Adakah tempat seperti itu? Baekhyun mungkin bukan yang terbaik dalam masalah geografi, namun dia tahu tak ada tempat atau kerajaan – karena dia bilang dia adalah putra mahkota – di bumi ini yang bernama El Dorado. Dan katakan lagi kenapa tempat bernama seperti latin itu memakai baju tradisional Korea?

Dehaman keluar dari mulut Sehun, "Oh, jangan hiraukan kami, perkenalkan saja dirimu sendiri." Ujarnya sarkastis dan Baekhyun menatapnya kesal. Setahunya, Oh Sehun yang dia kenal adalah pria dingin yang hanya melembutkan sikapnya pada Luhan.

Tapi lihatlah dia sekarang, merengut seperti anak kecil.

Putra mahkota ikut berdeham. Baekhyun menatap sosok tinggi di depannya, sangat aneh memanggilnya itu, tak bisakah dia memberitahunya namanya alih-alih gelar? Dia menatapnya dan gadis itu menunduk, tak melihat royalty di depannya mengulas senyum tak terlihat.

"Aku Park Chanyeol. Panggil saja sesukamu." Ujarnya dan si brunet menaikkan kepalanya, tersenyum.

"Oh, jangan hiraukan kam-"

"Sehun," Jongin menertawakan Lord itu, "sudahlah."

"Hyung-nim!" teriak Sehun dan menatap gadis itu tersebut. "Itu Kim Jongin. Itu istrinya, Do Kyungsoo, kau sudah kenal, kan? Itu Park Chanyeol, dia baru bilang. Aku Oh Sehun, pacar Luhan."

"Mantan." Ucap Baekhyun, membuat pria itu membelalak, "Bagaimana bisa kau menculik sahabat pacarmu sendiri? Aku akan menuntutnya untuk merubah statusmu menjadi mantan."

"Apa-apaan?!"

"Sehun," tegur Kyungsoo sebelum beralih ke Chanyeol, "Orabeoni, aku pergi dulu. Mual." Kata wanita itu sebelum pergi dengan Jongin yang menawarkan diri untuk mengantarnya, meninggalkan ketiga orang itu di dalam ruangan.

Ini canggung.

Hanya itu isi pikiran Baekhyun ketika dua orang itu saling menatap tajam sebelum Sehun akhirnya menghela nafas, mendorong dirinya yang tengah bersandar di pegangan sofa.

"Aku pergi dulu, Hyung-nim. Baek." Ujarnya dan gadis itu mengangguk pelan, tapi Sehun berhenti dan berbalik, "dan aku takkan putus dengan Luhan. Titik."

Baekhyun menghela nafas ketika pria itu menutup pintu dengan keras, "Aku kan hanya bercanda, apa masalahnya, sebenarnya?"

"Sehun selalu begitu, biarkan saja." Ujar Chanyeol dan Baekhyun menggeleng. Sehun tak pernah seperti itu. Disini dia tampak seperti remaja kekanak-kanakan, sedangkan biasanya, dia sangat dingin dan menakutkan.

"Apa aku bisa pulang? Aku harus bekerja dan Luhan pasti mencariku." Pintanya.

Namun Chanyeol hanya menggeleng, "Kau harus tetap disini, Sehun akan mengurusnya." Aku tak percaya dia. "Kau bisa mempercayainya." Baekhyun menatap pangeran itu aneh, seolah dia membaca pikirannya.

Tapi dia ingin pulang.

"Aku pergi dulu." Ujar Baekhyun, akhirnya bergerak dari tempat dia berdiri dari awal mereka bertemu hingga sekarang. "Aku lelah."

"Apa kau bahkan tahu jalan menuju ruanganmu?" Baekhyun baru menyadarinya, dia tak tahu apa-apa, dan kalau bukan karena Kyungsoo, dia pasti sudah tersesat di tempat ini. "Aku akan mengantarmu."

Sehun merogoh kunci yang dia bawa dan membuka pintu, mencari Luhan yang mungkin sudah tertidur. Dia memasuki kamar mereka, iya benar sekali, dia sudah tertidur.

Disitulah Luhan, dengan selimut tergulung seperti buritto di tubuhnya. Wajah mungilnya terpulas di alam mimpi. Sehun tersenyum menatap kekasihnya, sungguh sayang mereka berkencan pada awalnya hanya karena Sehun tak bisa menguntit Baekhyun seperti psikopat selama bertahun-tahun lamanya. Memacari sahabatnya adalah satu-satunya jalan keluar yang ia lihat saat itu.

Namun seiring waktu, dia kian menyukainya. Ketulusan gadis itu dalam mencintainya. Pancaran sinar mata yang selalu menatapnya bahagia. Andai saja dia dulu melihat itu semua, dia akan segera jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tanpa sadar Sehun mengelus pipi lembut si blonde, membuat matanya mengerjap terbuka. "Kau sudah pulang? Tadi kau kemana?" tanyanya.

"Jauh," senyum Sehun, mengelus rambut berantakan Luhan sebelum mendorongnya untuk membuka gulungan selimut yang membungkus tubuhnya. "Geser, aku juga mau."

"Hei, ganti baju dulu!" protes Luhan ketika kekasihnya mendekapnya erat. "Sehun," tatap gadis itu mengancam, "aku tak mau kotor-kotoran."

Pria itu menaikkan alis mata, mengecup pipinya, "kenapa? Biasanya kau suka kotor-kotoran." Mata si rusa membelalak dan segera membenamkan diri ke leher Sehun, membuat pria itu tertawa. "Aku bercanda."

Dia lalu melepas pelukannya untuk mengganti bajunya, membuat Luhan merona dan membalikkan badan, berpura-pura tidur.

Mata Baekhyun mengerjap terbuka. Matahari sudah bersinar terlalu cerah, namun tubuh gadis itu masih ingin terus begulung dalam kehangatan selimut yang tebal itu. Sudah sejak alam dia merasakan kemewahan tidur di kamar seperti ini, tidur dengan tenang – kecuali fakta bahwa dia khawatir Luhan mencarinya – dan dia ingin menikmati ini lebih lama.

Sebuah ketukan muncul dari pintu kamarnya dan Baekhyun menghela nafas, menyibak selimutnya sebelum membuka pintu.

Hanya untuk menjerit melihat siapa yang menunggunya.

"K-Kau-" Chanyeol tersenyum, tanpa izin masuk ke dalam. "Ada apa? Ini masih pagi." Protesnya, matanya masih berkedip mengantuk.

"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Ujar pangeran itu, membuat Baekhyun menaikkan satu alis mata, kebingungan. "Kau penasaran kenapa Sehun membawamu, kan? Aku akan menunjukkannya."

Tak lama kemudian, Baekhyun sudah keluar dari kamarnya, menemui Chanyeol yang menunggunya di depan pintu.

Gadis itu tak tahu mereka akan kemana, dan sekuat apapun dia mencari baju yang nyaman untuk kemanapun termasuk ke hutan, yang dia temukan hanya deretan hanbok, termasuk beberapa gaun mendieval yang dia temukan di sudut-sudut lemari luas itu.

Dia mengenakan gaun dengan model yang nyaris sama dengan yang kemarin, minus warnanya, kali ini biru. Rambutnya dia ikat membentuk jalinan korea tradisional. Dia sangat ingin mengenakan binyeo seperti Kyungsoo di rambutnya agar lebih nyaman, namun jika mereka menggunakan hanbok sesuai adat sebenarnya, Baekhyun bisa dikira sebagai wanita yang sudah menikah.

Pangeran itu tersenyum melihatnya, di tangannya sudah ada buntelan yang dia buka dan lingkarkan di bahu Baekhyun. Sebuah sseugae-chima hitam dengan jalinan emas di ujung-ujungnya.

"Ini akan jauh." Ucapnya dan membawa gadis itu keluar.

Baekhyun tak mengharapkan bahwa mereka akan pergi sendirian.

Di atas kuda hitam Chanyeol yang berderap kencang, pria itu di belakangnya, Baekhyun mengencangkan cengkramannya di tali kemudi. Ini pertama kalinya dia menaiki hewan itu dan dia pasti berbohong jika mengatakan bahwa dia tidak takut.

Bukankah – dari yang dia baca di dongeng-dongeng – keluarga kerajaan pasti akan dikawal jika keluar dari istana? Kenapa mereka pergi sendiri?

Dan detakan jantung Baekhyun benar-benar membuatnya tak nyaman.

Tak lama setelah melewati hutan lebat dan jauh itu, Chanyeol akhirnya turun dari kuda dan membantu gadis itu dengan meletakkan tangan di pinggangnya. Baekhyun berpegangan pada kedua pundak pangeran itu dan melompat turun dari Thunder, nama kuda Chanyeol, seperti yang awalnya dia katakan.

Mereka berada di sebuah perkampungan, yang Baekhyun sadari kemudian, penduduknya memiliki bercak kemerahan di kulitnya. Campak, pikir Baekhyun. Beberapa nampak lemas dan menutup mata di beranda rumah. Hawa penyakit terasa dimana-mana.

"Ada apa disini?"

"Jadi kau menyadarinya," Ujar Chanyeol dan membawa Baekhyun ke sebuah rumah. Dimana seseorang tertidur dengan dahi berkeringat. Pangeran itu berjongkok, "bagaimana keadaanmu?"

"Sendiku, ototku semuanya nyeri. Tenggorokanku..." orang itu terbatuk setelah berbicara dengan suara paraunya. Membuat Chanyeol menahan tangannya sebagai isyarat untuk tidak menjawabnya, lalu membawa Baekhyun keluar.

"Banyak yang terkena penyakit itu disini." Ujar Chanyeol setelah membiarkan gadis itu berkeliling melihat desa. "Aku tak tahu kenapa, tapi aku yakin para harpy melakukannya."

"Harpy..." telaah Baekhyun, "Cewek ayam itu?" pria itu menatapnya aneh, "bukan, mereka mirip ayam tapi kepalanya perempuan, benar, kan?" tanyanya, Baekhyun bersyukur dia pernah membaca beberapa novel yang berkaitan mitogoli dulunya, dan Chanyeol mengangguk. "Itu tak masuk akal jika mereka yang melakukannya, apa hubungannya coba?"

"Mereka meracuni makanan dari desa yang mereka lewati, begitulah." Jawab Chanyeol, "dan mereka seperti ini jadinya."

"Tapi seharusnya dari hewan, seperti di catatan," gumam Baekhyun, namun pangeran itu mendengarnya, menghentikan langkahnya. Menatap Baekhyun tak mengerti. "Biasanya melalui darah atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi."

"Apa maksudmu?"

Baekhyun menegakkan tubuhnya, sebagaimana dia dulu ketika menjawab pertanyaan dari gurunya semasa sekolah. "Myalgia, arthralgia, sakit tenggorokan. Aku tak terlalu yakin, tapi terdengar seperti gejala ebola-"

"Aku tak mengerti." Jawab Chanyeol lagi.

"Begini..." tapi Baekhyun terhenti sebelum memulai penjelasannya. "Kau bilang kau akan memberitahuku kenapa Sehun membawaku kesini, kenapa kau memintaku penjelasan penyakit dari pelajaran yang sudah lama tak kupelajari selama lima tahun?"

Chanyeol tersenyum, mengerti bahwa firasat Sehun mungkin saja benar. Dia cerdas, walaupun Chanyeol tak mengerti kata-kata yang dia ocehkan, tapi dia bisa menebak bahwa gadis ini tahu apa yang dia ucapkan.

"Karena kau seperti ini." Ujarnya seolah itu menjelaskan segalanya. "Yang kau katakan tadi, semua nama aneh itu, kau mungkin bisa membantu kami. Mereka sedang sakit."

Baekhyun menilingkan kepalanya, tak mengerti. Dia hanya mempelajarinya di sekolah, kenapa tiba-tiba Chanyeol memintanya membantunya.

"Sembuhkan mereka."

Whoop!

"Sembuhkan mereka." Srsly, Chanyeol, Baekhyun bukan dokter. LOL.

So... how was it?

Boring? Slow? Kayanya pertanyaanku itu terus, kkkkkkk, tapi seriusan, aku takut alurnya lambat atau kecepatan jadi anxious aku. Kalau ada apa-apa tolong di review ya... misalnya ada typo atau apa gitu, karena aku nulis bindo gini masih baru, masih transisi dari bing.

Ih, Soo Ji sombong kali, wak.

Dan! Gejala-gejala ebola itu, LOL, aku malu sekali mengingat aku ini anak IPA yang sering gagal di ulangan biologi tapi sok-sokan nulis tentang penyakit. Maaf kalau ada yang salah, aku mengandalkan wikipedia pas nulis itu. Kalau ada yang salah, tolong di review jadi aku bisa buat perbaikan.

Astaga, tercydoek, LOL.

So, c u next time,

Yoon Soo Ji, out!

Annyeong!