A/N : Hallo! Akhirnya setelah hampir dua tahun saya memutuskan untuk mengupdate cerita ini. Ada beberapa hal yang saya edit untuk chapter satu. Pada awalnya saya membuat Sasuke sebagai karakter yang diasingkan dan dibenci oleh teman-temannya, tapi kemudian saya berpikir itu terlalu OOC untuk seorang "Uchiha", jadi saya hanya membuatnya menjadi tuan muda yang kasar dan ditakuti teman-temannya. Jadi untuk yang pernah membaca chapter 1, mungkin ada baiknya membaca kembali. Baiklah, tanpa perlu basa-basi lagi silahkan nikmati lanjutannya. : )

.

.

.

Sasuke Uchiha sedikit mendongakkan kepalanya sambil menatap remaja berkulit pucat di depannya dengan pandangan mencibir. Dia yakin dia mendengar namanya disebut-sebut tadi. Dan juga sesuatu tentang... dada besar..

'Gheez apa yang salah dengan otak orang ini?' pikir Uchiha. 'Bagaimana dia bisa punya pikiran aku dapat dibanding-bandingkan dengan dada… heh, terserahlah!'

Sasuke sebenarnya telah terbiasa dengan orang-orang yang membicarakan dirinya dari belakang. Sudah sering hal itu terjadi dan tak pernah dia merasa terganggu sebelumnya. Namun setiap hal pasti punya pengecualian. Hanya orang ini, entah kenapa Sasuke merasa sangat tidak nyaman jika namanya terlontar dari bibirnya. Terlebih saat orang itu membicarakannya dengan Sakura dan Ino, dua gadis yang diam-diam selalu mencuri pandang ke arah Sasuke. 'Bodoh, mereka pikir aku tidak tahu kalau mereka mengejar-ngejarku. Jangan remehkan ketajaman indera seorang Uchiha.'

"Aku pikir kita harus segera masuk, Sasuke-kun." Sai, si pemuda berkulit pucat berusaha mengalihkan perhatian. Usaha yang bagus. Sasuke melihat Iruka-sensei sedang menuju ke kelas mereka. Dan Sasuke tak akan membiarkan dirinya terlambat masuk kelas untuk pertama kalinya di sekolah ini hanya karena seorang anak konyol yang bermarga sama dengannya.

"Anggap saja ini hari keberuntunganmu," ucapnya kemudian sambil berlalu ke dalam kelas.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

My Reflection © Afuri

.

.

~Chapter 3~

"Roommate"

.

.

.

Bulan Mei hampir berakhir dan tak lama lagi musim panas akan segera tiba. Sore itu matahari masih bertengger dengan semangat. Menaungi para pejalan kaki dengan sinar keemasannya. Sasuke Uchiha mendesah pelan. Hari ini dia tidak mengikuti kegiatan klub yang biasa dia ikuti. Hanya karena dia merasa lelah secara mental. Hal yang sangat jarang dialami oleh seorang Sasuke.

Melewati jalan setapak di tengah taman kota, dia memotong jalan agar cepat sampai ke rumahnya. Jalanan itu sepi, dengan tanah yang dipenuhi kerikil kecil dan pepohonan di kanan kiri. Sungguh nuansa yang sangat asri di tengah kota yang modern ini. Sesekali Sasuke menoleh kebelakang saat mendengar gesekan ranting-ranting. Entah kenapa dia menjadi sedikit paranoid. "Siapa yang kau pikir mengikutimu, Sasuke?" gumamnya pada dirinya sendiri.

Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lelah. "Aku rasa aku butuh tidur panjang hari ini."

Ingatan Sasuke melompat pada beberapa jam sebelumnya. Saat Iruka sensei tengah mengajar dan juga saat teman sebangkunya yang berkulit pucat tak henti-hentinya berusaha akrab dengannya. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa orang yang jelas-jelas sudah 'ditolaknya' masih berusaha untuk merebut hatinya? Apakah dia sedikit lambat atau semacamnya?

Sai mungkin hanya satu dari sekian banyak orang yang berusaha agar diterima oleh sesamanya. Berusaha agar semua orang lain menyukainya. Atau berusaha mengubah pandangan orang-orang yang membencinya agar menyukainya. Jika dia tidak salah, semua teman sekelasnya adalah orang-orang semacam itu. Dengan kata lain, Sai sebenarnya tidak jauh berbeda dengan teman-temannya yang lain. Namun mengapa Sasuke merasa gelisah saat bola mata hitam pekat itu memandang dirinya? Saat bibir tipis itu menyebut namanya? Seolah ada sesuatu yang salah pada dirinya. Sesuatu yang entah kenapa membuat pemuda berkulit pucat itu menjadi berbeda.

Sasuke sampai di rumahnya beberapa menit kemudian. Dia melepas sepatunya dan menaruhnya di rak di dekat pintu utama. Tidak ada yang janggal di dalam rumahnya pada awalnya. Kediaman Uchiha yang sepi – tentu saja karena ayahnya ada di kantor saat ini sementara kakaknya sedang kuliah atau entah apa yang dilakukannya, yang pasti Itachi tak akan pulang sampai larut malam, sedangkan ibunya, jika tidak sedang menonton televisi di ruang tamu pasti dia menghabiskan waktunya untuk mengelilingi Konoha bersama teman-temannya. Namun apa yang Sasuke temui kali ini agaknya sedikit berbeda.

Ibunya terlihat sibuk di dapur – dia bisa mendengar suara alat-alat memasak yang berdentangan, sementara kakaknya membaca majalah di ruang tamu. Itachi segera mendongakkan kepalanya begitu mendengar langkah kaki Sasuke yang memasuki ruangan.

"Oh, kau sudah pulang, Ototou..." sapa Itachi pelan, lebih seperti kepada dirinya sendiri. Sasuke sedikit heran melihat kakaknya ada di rumah. Akan tetapi dia terlalu lelah untuk memikirkan kemungkinan yang ada, jadi tanpa menimpali sapaan kakaknya, dia menaiki tangga menuju kamar tidurnya.

Sasuke meletakkan tasnya di dekat kaki meja belajarnya kemudian melepas seragamnya, menggantinya dengan kaus tanpa lengan dan celana pendek – mengingat betapa panasnya hari ini. Setelah berpikir cukup lama, Sasuke akhirnya memutuskan untuk membersihkan dirinya sebelum melenggang ke tempat tidur.

Sasuke keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian, merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia hampir menenggelamkan diri di atas tempat tidurnya yang nampak begitu menggoda sampai ketukan di pintu terdengar olehnya. Sasuke menatap ke arah pintu dan wajah seseorang yang sangat identik dengannya muncul di sana.

"Ada yang harus dibicarakan di bawah," ucap Itachi tanpa memberi penjelasan lebih lanjut pada adiknya. Sasuke mengernyit heran, berpikir apakah ini ada hubungannya dengan Itachi yang ada di rumah dan ibunya yang tiba-tiba memasak di dapur sementara makan malam masih beberapa jam lagi? Yah, setidaknya ayahnya masih ada di kantor jadi pasti ini bukan sesuatu yang begitu serius.

Sasuke mengangkat bahunya lalu keluar dari kamarnya, mengekor Itachi.

Tidak ada sedikitpun kecurigaan saat dia menuruni anak tangga, berjalan beberapa langkah di belakang Itachi sampai kemudian suara yang cukup akrab terdengar olehnya. Sasuke berdiri tegak, berhenti melangkah. Hanya tinggal 3 anak tangga lagi sampai dia menginjak lantai. Dia mencoba mencerna bahwa itu adalah suara yang benar-benar dikenalnya – atau setidaknya dia pernah mendengarnya hari ini. Nafasnya tertahan.

Itachi yang menyadari adiknya tiba-tiba diam terpaku segera membalikkan badannya. Dia menatap Sasuke intens, menyadari perubahan ekspresi adiknya dari tenang – nyaris tanpa emosi – menjadi sedikit bingung bercampur terkejut. Hal itu membuat seriangan kecil mengembang di sudut bibir Itachi.

"Yeah, Otouto, aku rasa tadi kau sudah bertemu dengannya di sekolah," ucap Uchiha yang lebih tua sesaat sebelum meninggalkan adiknya yang masih diam terpaku.

Sasuke meremas pegangan tangga dengan erat, mencoba memikirkan kemungkinan yang terburuk. Menyadari bahwa tidak ada gunanya hanya berdiam di sini dan menebak-nebak, Sasuke memutuskan untuk melanjutkan langkahnya, sedikit tergesa-gesa hanya untuk melihat siapa orang yang sedang bersama keluarganya saat ini – walau sebenarnya dia sangat yakin siapa orang itu.

Itu tetap hal yang sangat mengejutkan walau Sasuke sudah menyangka bahwa orang itu adalah 'dia'. Dia, Uchiha Sai, duduk di sofa ruang tamunya, sedang tersenyum sambil menggenggam secangkir teh bersama dengan ibunya dan juga Itachi yang tampak baru bergabung dengan mereka. Mata Sasuke melebar.

"Oh, Sasuke-kun, kemarilah," ibunya yang menyadari kedatangannya segera bangkit dan menarik Sasuke, memaksanya bergabung bersama mereka. Tidak dipungkiri bahwa ini adalah hal yang serius, melihat betapa canggungnya senyum ibunya padanya.

"Ada apa?" tanya Sasuke, mencoba untuk terdengar tenang sembari mencoba mengabaikan keberadaan laki-laki berkulit pucat itu. Sementara si laki-laki berkulit pucat malah menatapnya penuh minat dengan mata gelapnya.

"Umm.. begini Sasuke-kun," ibunya mulai membuka percakapan. Sasuke menahan nafas, berharap dia tidak mendengar sesuatu yang tidak perlu. Sudah cukup buruk harinya untuk duduk dalam satu bangku dengan anak pucat itu. Dan sekarang, dia yang memiliki marga yang sama dengannya ada di dalam rumahnya, mendapat sambutan dari ibu sekaligus kakaknya yang bahkan sebelumnya tidak pernah peduli padanya sekalipun.

"Apa kau ingat sepupu ayahmu, paman Obito?" Sasuke mengernyitkan dahinya, mencoba menggali ingatannya, sampai dia bisa menggambarkan dengan jelas orang yang namanya telah disebut oleh ibunya tadi.

"Ya..." jawab Sasuke lirih. Menyadari ke mana arah pembicaraan ini. Dia meremas erat jari-jarinya, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Dan aku rasa kau sudah bertemu dengan Sai-kun di sekolah tadi," lanjut ibunya. "Nah, Sai-kun adalah anak dari paman Obito..."

Tidak ada sedikitpun emosi yang dikeluarkan oleh Sasuke. Dia sudah siap mendengar berita ini, hal terlogis yang bisa menjelaskan kenapa anak berkulit pucat ini ada di rumahnya.

Sasuke menarik nafas panjang. Memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya kembali menatap ibunya. "Lalu ada perlu apa ibu memanggilku ke sini?" tanyanya, sambil mengharapkan sebuah jawaban yang setidaknya bisa sedikit menghiburnya hari ini.

"Umm, yah... Sai-kun memutuskan untuk pindah ke sini karena sekolah lamanya akan ditutup tahun depan karena kekurangan siswa. Kami sudah membicarakannya dengan paman Obito juga, kau tahu Ayahmu dan Paman Obito dulunya sangatlah dekat," ibunya berkata sambil tertawa renyah, mencoba untuk membuat suasana menjadi sedikit lebih santai. Dia menyadari bahwa anak bungsunya ini terlampau sulit dibandingkan dengan kakaknya. "Nah Sasuke-kun, Sai-kun telah sampai di Konoha sejak tadi malam, akan tetapi dia menginap di apartement paman Madara. Dan hari ini adalah hari pertamanya di sekolah."

Sasuke kembali menahan nafas dan kali ini, untuk pertama kalinya dia menatap sosok pucat itu, hanya untuk menemukan mata gelap itu yang masih menatapnya, seolah mengharapkan sesuatu. Sasuke menggigit bibir bawahnya, ingin dia menggeram dan melotot pada Uchiha asing yang ternyata adalah sepupunya itu.

"Sasuke-kun, bagaimana pun juga, Sai-kun adalah keluarga kita juga, Paman Obito awalnya berniat untuk mencarikan Sai-kun sebuah apartemen tapi kami pikir itu akan membuang-buang uang jadi..."

Sasuke mengerang bahkan sebelum ibunya menyelesaikan kalimatnya. "Kenapa dia tidak tinggal dengan Paman Madara saja?" seru Sasuke dengan tiba-tiba, jelas bahwa dia tidak bisa mengendalikan emosinya saat ini.

Mikoto, perempuan berusia kepala empat itu memberi tatapan tajam pada anak bungsunya. Dia berdeham lalu kembali berkata, "tentu saja itu tidak mungkin, Sasuke-kun," ujarnya mencoba untuk bersikap sabar. " Paman Madara tinggal di apartemen dengan keluarga barunya, kau tahu dia baru menikah lagi. Kita tidak mungkin membebani istrinya seperti itu."

Sasuke menenggelamkan dirinya ke sandaran sofa. Jika memang Sai, sepupunya, atau siapalah anak itu diputuskan untuk tinggal di sini, maka tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Sasuke menatap tajam pada anak itu tanpa mendapat reaksi apapun darinya.

"Sekarang Ibu harap kau bisa menerima dan bersikap baik pada Sai-kun. Bagaimana pun juga Ibu sedikit terkejut karena kalian tidak pulang bersama tadi. Untung saja Sai-kun mempunyai alamat rumah kita dan tidak tersesat," Mikoto mendesah sambil menatap anak bungsunya, seolah Sasuke telah melakukan sebuah kesalahan besar.

"Bagaimana mungkin aku mengajaknya pulang bersama kalau aku bahkan tidak tahu jika dia adalah sepupuku!" gerutu Sasuke dalam hatinya. Kali ini dia menatap Sai dengan pandangan frustasi sampai kemudian dia teringat di sekolah tadi, saat Sai berkali-kali hendak mengatakan sesuatu namun Sasuke hanya mengacuhkannya dan menyuruhnya diam...

Sial, pikir Sasuke.

"Baiklah, sekarang sudah jelas bahwa Sai-kun mulai saat ini adalah anggota keluarga kita!" Mikoto berseru, terlalu riang untuk ukuran ibu rumah tangga seumurnya. Itachi hanya tersenyum kecil sambil menatap anggota keluarga baru mereka, seolah itu adalah sebuah ucapan selamat datang yang hangat untuknya.

Sementara Mikoto menuntun keponakannya ke meja makan untuk menikmati pesta kecil yang sudah dia siapkan, Sasuke mengerang frustasi sambil memejamkan matanya erat-erat. Dia merasa bahwa tidak ada hari yang lebih buruk dari saat ini. Bagaimana tidak, seorang anak yang tidak disukainya pada pandangan pertama ternyata adalah sepupunya sendiri bahkan dia akan tinggal satu atap dengannya!

Tapi tentu saja penderitaannya sebenarnya tidak sampai di situ.

"Oh ya, Sasuke-kun," ucap Mikoto kembali menghampiri Uchiha termuda di ruang tamu, seolah melupakan sesuatu yang penting. "Barang-barang Sai-kun akan sampai sebentar lagi, tolong kau bantu membawanya ke dalam kamarmu, ya?"

"Apa?" tanya Sasuke seakan dia telah salah dengar. Matanya berkedip beberapa kali. "Kamarku...?" lanjutnya kemudian dengan hati-hati.

"Ya," balas Mikoto. Dia memandang putranya dengan serius. "Karena Sai-kun akan tidur sekamar denganmu Sasuke," tambahnya sebelum kembali berlalu dari ruangan itu, meninggalkan Uchiha muda yang terlalu terkejut untuk mengeluarkan reaksi apapun.

-o0O0o-

To Be Continue