LOSING MY HEART
Cast : Byun Baekhyun (17 thn)
Park Chanyeol (31 thn)
Other Cast : Oh Sehun (17 thn), Do Kyungsoo (25 thn)
cast bertambah seiring berjalannya cerita,
chapter 3
.
.
.
Keadaan ruang apartement bernomorkan 614 tak jauhnya berbeda dengan kapal pecah. Istilah yang berarti benar - benar berantakan. Dimulai dari ruang utama, bantal sofa menyebar kemana - mana. Asbak dengan putung rokok yang menggunung. Remote tv entah terlempar kemana. Dan cd game play yang tertumpuk tidak pada tempatnya.
Baekhyun menumpang hidup pada Chanyeol, itu berarti ia harus berbalas budi meskipun hanya dengan memastikan keadaan apartement ini bersih dan Chanyeol makan dengan baik.
"Aku bersumpah akan melakukan perawatan kuku berjam - jam sampai tertidur sekalipun setelah membersihkan ini" dengusan kesal tak berarti apa - apa saat ini. Ia hanya perlu membereskan dan kemudian pergi menjalani sumpahnya tadi.
Ting
Tong...
Baekhyun membawa kaki - kaki pendeknya untuk menghampiri letak pintu utama. Membuka pintu setelah mengucapkan kalimat tunggu sebentar pada seseorang diluar.
"ya? ada yang bisa aku bantu?" tanyanya pada seorang lelaki paruh baya berpakaian serba oranye -yang ternyata adalah kurir-
"apa benar ini kediaman tuan Byun Baekhyun"
"ya, aku sendiri"
Kurir itu tersenyum sekilas sembari menyodorkan satu paket berbentuk persegi panjang dan memintanya menandatangani bukti penerima.
Baekhyun tak lupa mengucapkan terima kasih setelah menandatangani kertas tersebut. Kerutan di dahinya muncul setelah menutup kembali pintu utama. Ia baru saja mendapat kiriman paket entah dari siapa. Yang jadi pertanyaan adalah kenapa ada orang yang tau ia tinggal disini? padahal ia disini baru dua hari. Mungkin ia bisa mengetahuinya setelah membuka paket tersebut.
Lelaki itu terlalu malas mencari gunting, jadi tanpa perasaan ia merobek paksa bungkusan tersebut. Hal pertama yang ia lihat adalah logo apple.
"apa ini? ponsel?" dan benar saja itu adalah ponsel keluaran terbaru yang menjadi favorit para pecinta gadget. *berasa di endorse*.
"Woahhhhh... iphone X"
Baekhyun melompat - lompat diatas sofa dengan senang. Apa ia bermimpi? mendapat ponsel mahal dari orang entah siapa itu. Itu tidak penting, yang penting ia memilikinya sekarang.
Ia menyalakan ponsel tersebut. Tak selang beberapa detik ada pesan yang masuk. Dari nomor yang sudah tersimpan di kontak dengan nama Park Chanyeol.
'Aku tau kau membutuhkan benda ini. Kuharap kau menyukainya. Dan bukalah kotak ponsel itu, aku menyelipkan sesuatu"
"Ah... Chanyeol hyung yang memberikannya. Baik sekali dia itu, apa dia ada keturunan malaikat?" gumamnya dan tak lupa kembali membongkar kotak ponselnya, mencari apa yang dimaksud Chanyeol sesuatu itu.
Dapat, sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang layaknya card. benda itu berwarna hitam dan astaga...
"Blackcard???" lelaki itu membulatkan mata dan mulutnya. Tidak mempercayai apa yang dilihat oleh mata abunya.
Apa maksud Chanyeol memberikannya ini semua. Astaga ini terlalu berlebihan jika hanya diberikan untuk seseorang berlabelkan simpanan. Sekaya apa lelaki kelebihan kalsium itu. Begitu mudahnya menghamburkan hartanya.
Baekhyun tanpa pikir panjang mengotak - atik ponsel barunya. Membuat panggilan telepon pada satu - satunya kontak yang tersimpan. Tak membutuhkan waktu lama untuk menyambungkan panggilan.
'ya, sayang?'
apa - apaan lelaki itu memanggilnya sayang.
"Hyunggggg... apa kau tidak berlebihan??"
'Berlebihan dibagian mana?'
"Kau baru saja memberiku Blackcard, hyung"
'Itu sama sekali bukan apa - apa, sayang. Aku masih punya banyak'
Baekhyun mendengus kesal dan berdecih memikirkan betapa sombongnya Chanyeol itu.
'Pergilah berbelanja. Aku ingin melihatmu tetap terlihat cantik'
"Tentu saja, aku akan menghabiskan uangmu"
Sambungan ia putuskan setelah mengucapkan kalimat tersebut. Bibirnya masih saja mengumpati Chanyeol, namun tak berapa lama tergantikan dengan senyuman cerianya.
"Baiklah... aku akan belanja sepuasnya hari ini" girangnya sambil memasuki kamar bersiap - siap untuk pergi belanja melupakan niat awalnya untuk membersihkan apartement.
.
.
.
Chanyeol terkekeh pelan setelah sambungan teleponnya dengan Baekhyun terputus. Lelaki berperawakan kecil itu seperti menghipnotisnya. Bibirnya tak pernah berhenti tersenyum ketika memikirkan simpanan barunya itu. Kecil dan menggemaskan layaknya puppy, tipe Chanyeol sekali.
Ponselnya kembali berdering, kali ini bukan Baekhyun. Tapi seseorang yang mampu menciptakan desiran menyenangkan didadanya.
'Chanyeol, aku ingin makan siang bersamamu'
Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum teduh dan terlihat pancaran matanya yang berbinar.
"Tentu, sayang. Aku akan menjemputmu segera"
'Jangan terburu - buru. Mengemudilah dengan selamat'
"Aku tak ingin membuat malaikatku menunggu terlalu lama"
Chanyeol dengar berbagai umpatan yang menurutnya lucu itu. Kata sialan yang biasanya terdengar kasar dan menyebalkan justru terdengar seksi jika orang itu yang mengucapkan.
Seseorang itu bernama Do Kyungsoo, atau sekarang berganti jadi Park Kyungsoo. Lelaki yang dinikahinya 3 tahun yang lalu beratas - namakan cinta.
Terdengar brengsek memang, Chanyeol sudah memiliki istri yang sangat dicintainya. Lalu apa tujuannya menjadikan Baekhyun simpanannya? bukankah itu malah akan menyakiti istri tercintanya?
Katakan Chanyeol adalah lelaki dengan hormon yang tinggi. Nafsunya mudah sekali terpancing. Ketika bertemu Baekhyun pertama kali di minimarket, saat itulah sesuatu yang berada dibawah sana mendesak celananya. Mata abu - abu milik Baekhyun baginya sangat berbahaya. Baekhyun seolah menggodanya meskipun hanya menatapanya.
Lalu kenapa ia tidak meniduri lelaki itu dihari pertama ia membawanya memasuki apartement. Dan Chanyeol akan menjawabnya dengan tegas, ini bukan saatnya. Baekhyun bisa saja melarikan diri jika ia bertindak terlalu cepat. Ia ingin Baekhyun perlahan - lahan luluh dan kemudian menyerahkan diri padanya.
.
.
.
Beberapa paper bag berserakan dilantai kamar apartement bernomor 614. 15 menit yang lalu Baekhyun selesai dengan kegiatannya berbelanja kebutuhan primernya kemudian dilanjutkan ke salah satu salon langgannannya untuk melakukan creambath dan mempercantik jari jemarinya. hingga pukul 8 malam tepat ia baru kembali pulang.
Dan sekarang ia terkapar diatas ranjang merasa kakinya terlalu pegal. Matanya terasa berat untuk terbuka terlalu lama. Hingga akhirnya ia jatuh tertidur. Tak menyadari seseorang baru saja memasuki kamar.
Chanyeol tersenyum mendapati Baekhyun tidur tengkurap diatas ranjang. Apartementnya luar biasa berantakan. Namun itu tidak menganggunya sama sekali, karena tujuan utamanya membawa Baekhyun kemari bukan untuk dijadikan sebagai pembantu, tapi untuk dinikmati.
Chanyeol mendekati Baekhyun. Bergerak merangkak keatas tubuh mungil yang tengkurap itu. Ia ingin menghabiskan waktu dengan Baekhyun, bukan malah melihat Baekhyun tidur nyenyak.
Dan ia pun berinisiatif menganggunya agar terbangun. Chanyeol menunduk, sedikit mengecupi tengkuk hingga naik ke daun telinga Baekhyun.
"Baekhyun" panggilnya tepat ditelinga si kecil. Tak mampu membuat Baekhyun bergerak. Kali ini lidahnya yang bekerja. Terjulur dan bergerak menjilat belakang telinganya.
Baekhyun bergumam dalam tidurnya, merasa telinganya basah dan sedikit geli ketika telinga tengah digigit bahkan disesap oleh seseorang. Matanya reflek terbuka dan ia mengangkat tubuhnya agar terbangun.
Namun punggungnya menabrak sebuah dada yang bidang dan keras. Barulah ia menyadari jika itu adalah Chanyeol. Ia berbalik menghadap kearah Chanyeol yang tengah mengukungnya.
"Kau baru pulang?" tanyanya dengan suara serak. Ia benar - benar mengantuk. Belum ada 5 menit ia tertidur tapi Chanyeol sudah membangunkannya. Entah apa yang lelaki itu butuhkan darinya.
"Ya, baru saja. Apa aku menganggu tidurmu, hm?"
Hell!! Sangat menganggu. Batinnya menjeritkan kalimat itu namun kepalanya berbalik menggeleng. Seolah tidak masalah jika ia dibangunkan.
"Aku melihat banyak sekali paper bag. Sepertinya kau benar - benar menghabiskan uangku"
Baekhyun terkikik kecil merasa pengeluaran hari ini terlalu banyak dan Baekhyun mana peduli, toh harta Chanyeol tidak akan habis. Baekhyun menunjukan kedua tangannya dihadapan Chanyeol.
"Aku juga ke salon tadi. Lihat tanganku, hyung"
Chanyeol menangkap tangan Baekhyun, menggengam dan mengusapnya. Tangan ramping itu terasa halus sekali dikulitnya dan ia jadi gemas sendiri untuk mengecupinya. Membayangkan tangan kecil itu bekerja mengocok penisnya yang berdiri tegak.
"Tanganmu ramping dan halus sekali, sayang. Tetaplah merawatnya karena aku menyukainya"
Baekhyun mengangguk semangat kemudian teringat jika lelaki dihadapannya ini pasti belum makan malam. Untungnya sebelum pulang tadi ia sempat membeli makanan diluar.
"Hyung belum makan malam, kan? aku membeli makanan diluar tadi sebelum pulang. Hyung makanlah dan aku akan menyiapkan air hangat untuk mandi"
Bagaimana perasaan Chanyeol saat ini? tentu luar biasa senang. Baekhyun benar - benar memperlakukannya seperti seorang suami. Walaupun jika dirumah Kyungsoo juga melakukan hal yang sama.
Biarlah, memang pada dasarnya Chanyeol suka diperhatikan. Entah itu istrinya atau simpanannya.
Tak hanya disiapkan makan malam ataupun air hangat, namun Baekhyun juga menyiapkan piyama tidur untuknya. Dan sekarang setelah ia selesai mandi dan berganti pakaian, Chanyeol disambut oleh simpanannya yang duduk di sofa sambil menonton tv dan secangkir susu hangat diatas meja.
Chanyeol menghampirinya, tanpa tau permisi ia merebahkan tubuh tingginya diatas sofa dan menjadikan paha Baekhyun sebagai bantalan.
"Sayang" Panggilnya sembari mengambil tangan Baekhyun untuk ia genggam.
Baekhyun mengalihkan atensinya pada tv dan menunduk menatap Chanyeol. Baekhyun bertanya ada apa namun Chanyeol tak menjawabnya. Hanya senyuman bodoh yang ditunjukan lelaki tinggi itu.
Baekhyun tak ingat sejak kapan Chanyeol gemar memanggilnya sayang. Setaunya kemarin lelaki itu masih memanggilnya dengan nama. Perubahan yang cepat sekali. Pikirya.
"Chanyeol hyung" berganti Baekhyun yang memanggilnya. Ia ingin menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi. Entah nanti Chanyeol akan menjawabnya jujur atau tidak.
"Hyung menjadikanku sebagai simpananmu. Apa itu artinya hyung sudah punya istri?"
Pertanyaan itu membuat pergerakan Chanyeol yang sedang memainkan jemari Baekhyun jadi terhenti. Ia mengulirkan bola matanya kearah mata abu - abu milik Baekhyun. Pertanyaan yang ia sebenarnya hindari.
"Ya, aku sudah punya istri" namun memilih untuk mengakuinya. Pikirnya pasti Baekhyun sudah bisa menebaknya.
"Kenapa hyung menyelingkuhinya? apa hyung tidak mencintai istri hyung?"
Chanyeol menghela nafas. Tentu, aku mencintai istriku. Bodoh kalau Chanyeol mengakui itu didepan Baekhyun. Yang ada si kecil itu akan merasa terbebani.
"Jangan memikirkan urusan pribadiku, Baekhyun. Yang kau perlu lakukan disini hanya diam dan nikmati apa yang aku berikan padamu"
Baekhyun terdiam, Chanyeol baru saja berbicara dingin padanya. Dan kemana perginya panggilan sayang yang sedari tadi lelaki itu ucapkan padanya? ia sadar diri untuk tidak mencampuri urusan pribadi Chanyeol. Ia hanya memikirkan satu hal. Bagaimana jika istri Chanyeol menemuinya, memakinya, mengatainya jalang, atau yang paling parah menginjak - injak harga dirinya. Baekhyun akan lari menjauhi Chanyeol jika keberadaannya tercium oleh istri lelaki itu.
.
.
.
tbc
.
.
