Tittle : The Ideal Type

Main Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast : Other EXO's member

Genre : Romance, Fluff

Rated : T

Warning : Genderswitch/GS, OOC, typos

Disclaimer :

The idea is mine. Don't be plagiator. Have fun with my fanfiction!

.

.

.

"Ya. Bisakah kalian lebih dekat?" Jongin-sang Fotografer Sekolah menurunkan kaca lensanya kemudian menggerakan tangannya, mengisyaratkan 'sang objek foto' untuk lebih dekat. Baekhyun menelan ludahnya dengan susah payah, berdehem sebentar untuk menghilangkan kegugupannya, sementara pria dibelakangnya-Park Chanyeol tetap datar, tidak menunjukan mimik wajah resah, gelisah, canggung, apalagi gugup seperti Baekhyun. Perlahan Chanyeol maju, berdiri tepat dibelakang Baekhyun.

"Baekhyun-ssi relax okay? wajahmu pucat sekali seperti melihat hantu saja."

"Aniyo. Tinggal Potret saja kenapa kau menyebalkan sekali?" Baekhyun memicing matanya kearah Jongin, sedangkan Jongin memutar matanya jengah dan mengangkat kembali lensa-Slr-nya bersiap memotret. Sebelum menekan tombol potretnya seseorang masuk keruangan dengan membawa tentengan belanjaan, Kyungsoo berjalan kearah belakang Jongin kemudian merentangkan tangannya kearah Baekhyun, Baekhyun yang melihat –apa yang dibawa Kyungsoo- tersenyum bahagia, menggapai tangannya kedepan untuk mengambil makanan berbau strawberry itu.

CEKLEK.

Suara jepretan serta blitz camera menghentikan tangannya. Baekhyun memandang sebal kearah Jongin, Tetapi yang dipandangi seolah cuek, pria berkulit sedikit gelap itu menurunkan kembali lensa cameranya dan mengembangkan sedikit senyumnya melihat hasil jepretannya. Di foto itu Baekhyun terlihat bahagia dengan senyum cantiknya, terlihat seperti menggapai sesuatu kemudian dibelakangnya Park Chanyeol memandangnya dengan tatapan bingung. Bukankah terlalu biasa? dimana letak istimewanya sampai Kim Jongin terlihat puas dengan bidikannya? Perlu aku ingatkan sekali lagi tema pasangan ini benar-benar berbeda dengan pasangan lain yang pada umumnya menyukai berbagai hal berbumbu romantis? Jadi Angle seperti itu sudah cukup menggambarkan hubungan 'unik' mereka. Jongin memandang Baekhyun yang tengah asik memakan es krim strawberry-nya dengan semangat bersama gadis bermata bulat dengan postur tubuh tidak jauh berbeda, mungil-maksudku ayolah mereka berdua memang termasuk pendek bukan? Tetapi jelas menggemaskan dan disitulah letak pesona mereka berdua.

"Baiklah, ini selesai. kalian boleh pulang." Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada Jongin begitu pula dengan Kyungsoo dan Chanyeol.

"Eoh? Bagaimana bisa? Bukankah kita belum melakukan foto sama sekali?" Jelas itu suara Baekhyun, Kyungsoo hanya menggangukan kepalanya seolah menyutujui ucapan sahabatnya. Sementara Chanyeol, pemuda tinggi itu tetap diam saja sejak tadi, mungkin kalau mereka tidak 'mengenal' Chanyeol, yang mendapat julukan "namja dingin" itu pasti mengira Chanyeol adalah seorang tunawicara. Jongin menghembuskan nafasnya, sebelum memulai bicara.

"Kalau aku suruh kau dan Chanyeol menautkan jemari apa kalian mau?" Baekhyun memelototkan matanya, pipinya mulai memerah, melihat itu Jongin terkekeh.

"Tidak mau kan? Tenang saja, aku sudah mendapat objek bagus yang keliatan lebih natural, kita lihat saja reaksi anak-anak tentang apa yang ditempel di mading besok okay?" Chanyeol mengangguk, sebentar- tadi aku bilang mengangguk? Coba kita lihat reaksi Baekhyun dan Kyungsoo yang melihat respon itu, mereka hanya saling berbisik setengah tidak percaya, jangan lupa kalau sejak tadi namja itu tidak beranjak dari posisinya seperti patung apalagi membuat texture tubuh oke? Baekhyun kembali memusatkan perhatiannya kepada Jongin dan Chanyeol yang berdiri disebelahnya kemudian perlahan membungkukan badannya.

"Kalau begitu terimakasih atas kerja samanya hari ini." Jongin mengangguk ringan, tanpa mengalihkan pandangannya sedari tadi memperhatikan sosok mungil gadis yang berdiri tepat di belakang Baekhyun.

"Eum... Baekhyun-ssi boleh aku minta bantuanmu?" Gadis yang dimintai tolong memandang Jongin dengan heran, terlihat dahinya yang mengkerut.

"Kalau aku bisa bantu. Ada apa?" Baekhyun mengikuti pandangan Jongin kearah sahabat baiknya, menatap Jongin curiga.

"Kenalkan aku dengan gadis yang ada dibelakangmu."

"MWO?" Baekhyun melihat Jongin dengan tatapan heran sementara sang objek, Kyungsoo merasakan pipinya mulai memanas.

.

.

.

Baekhyun mengeratkan pegangannya pada tali tas ranselnya, gadis itu mulai memperhatikan penampilannya dari bawah hingga menyentuh rambutnya sendiri. Apa ada yang aneh? Mengapa semenjak Baekhyun turun dari mobil dia menjadi pusat perhatian, beberapa siswa-siswi saling berbisik membicarakannya dengan konteks yang berbeda, murid perempuan tampak memandangnya sinis sementara murid laki-laki tampak mengeluarkan pujian seperti biasanya hanya saja Baekhyun berpura-pura tidak perduli dan berusaha bersikap cuek, tapi hari ini-entah ada apa perhatian yang biasanya Baekhyun dapat lebih banyak dan gadis itu juga merasa sebagian gadis memandangnya dengan sebal. Baekhyun seorang introvert, dia benci menjadi pusat perhatian apalagi ditatap dengan tatapan intimidasi seperti ini. Nona muda Byun itu semakin menundukan kepalanya dan berjalan cepat kedepan tanpa mengangkat kepalanya. Langkahnya terhenti saat dia melihat sepatu tepat menghadang jalannya, perlahan Baekhyun mengangkat kepalanya, sedikit terkejut melihat Chanyeol berdiri dihadapannya masih dengan ransel dipunggung, sepertinya dia juga baru datang.

"Baekhyun-ah, ayo jalan bersama." Baekhyun sedikit merinding mendengar sapaan akrab dari Chanyeol ditambah ajakannya yang tiba-tiba, gadis itu memandang Chanyeol dengan bingung, dibalas gerakan mata Chanyeol yang mengarah ke mading sekolah.

"Dasar gadis kaku." Baekhyun menegang saat salah satu gadis yang tadi melihatnya dengan tatapan sebal merutuk padanya, gadis itu kembali menundukan wajahnya kemudian berdehem sebentar untuk menghilangkan sesuatu yang menggajal ditenggorokannya.

"Kajja." Chanyeol memandang Baekhyun dengan tatapan yang tidak bisa dibaca, mendengar suara Baekhyun yang begitu lirih dia dapat mengerti bagaimana perasaan Baekhyun saat ini. Chanyeol mengarahkan perhatiannya pada gadis yang merutuk Baekhyun tadi, memandangnya seolah-olah dia ingin melempar pistol dikepala gadis itu, sementara gadis yang dipandangi perlahan wajahnya memucat.

"Chanyeol-a-ah kajja." Baekhyun kembali mengulang ucapannya dengan gugup saat mencoba sapaan akrab itu seolah-olah lidahnya kelu, mereka jelas belum saling mengenal dalam konteks yang mendalam dan tiba-tiba saling mengucapkan panggilan akrab membuat keadaan semakin canggung. Chanyeol membalikan tubuhnya kedepan dan mulai berjalan sementara Baekhyun mengikuti langkahnya disampingnya, masih menggenggam erat tali tasnya, antara gugup berjalan bersama Chanyeol serta ciut akan tatapan dari siswa-siswi yang berada di koridor.

"Angkat kepalamu, Jangan membuat mereka senang karna mengintimidasimu." Baekhyun mengarahkan pandangannya ke Chanyeol, dan terkejut karna Chanyeol terus memandanginya, perlahan bibir Chanyeol membentuk kurva tipis yang ditunjukannya kepada Baekhyun, sementara pipi gadis itu mulai mengeluarkan blush on alami. Baekhyun memandang Chanyeol dengan tatapan berbeda, lalu mengganguk mantap, mengarahkan kembali tatapannya kedepan tanpa perlu merasa takut lagi, entahlah seperti mendapat kekuatan sendiri setelah melihat Chanyeol berbicara seperti itu seolah menyemangatinya, memberi motivasi-eh? Apa kau terlalu kege-eran Byun Baekhyun? Baekhyun tidak perduli suara-suara itu terdengar dipikiran serta telinganya, Mood Baekhyun sedang baik dan itu karena pria jangkung yang berjalan bersamanya saat ini.

.

.

.

Kyungsoo membulatkan matanya yang bulat, sedikit membuka mulutnya saat Baekhyun dan Chanyeol masuk kelas bersama. Gadis itu langsung mendekat pada Baekhyun yang duduknya berada disampingnya, menanyakan kenapa sahabatnya itu bisa datang bersama Chanyeol hari ini.

"Dia menyelamatkanku dari tatapan murid sepanjang koridor, lalu begitulah kita bisa masuk kelas bersama."

"Jeongmalyo?" Kyungsoo terlihat antusias, tetapi masih tetap memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh siswa lain yang melihat penasaran tempatnya berada saat ini, tepatnya kursi Baekhyun.

"Eoh. Ada apa?" Baekhyun menatap Kyungsoo heran, dibalas dengan anggukan gadis bermata bulat itu.

"Ani. Kita bicarakan lagi nanti." Kyungsoo membuat gerakan mata menunjukan tatapan murid lain yang menghujam tempatnya saat ini, Baekhyun bergumam panjang kata "A" seolah mengerti. Menggerakan jari lentiknya keudara menyuruh Kyungsoo untuk duduk kembali ketempatnya, yang langsung dituruti gadis itu.

Keadaan kelas menjadi hening, pintu kelas digeser kesamping menyeruakan pemuda berkulit tan dengan postur tubuh yang menawan menyebabkan kelas kembali ricuh dipenuhi suara anak perempuan bergosip saat Kim Jongin memasuki kelas dan duduk dikursinya dengan pandangan yang tidak lepas dari Kyungsoo, menimbukan pertanyaan seperti 'ada apa dengan tatapan Jongin?' 'Jongin dengan Kyungsoo?' tidak tahukan efeknya pada Kyungsoo? gadis itu tengah menunduk berusaha berpura-pura membaca buku biologi kesayangannya, menyembunyikan pipi kemerahannya saat pikirannya kembali pada saat pengambilan gambar untuk Baekhyun dan Chanyeol, pemuda Kim itu berusaha mendekatinya dengan modus 'pulang bersama' dan perbincangan banyak yang mereka lakukan saat perjalan pulang.

"Kyung~ ada apa dengan pipimu?" Baekhyun berbisik dengan nada menggoda, saat Kyungsoo mengangkat wajahnya ia bisa melihat smirk menyebalkan yang terlampir disudut bibir Baekhyun, oh apakah ini artinya 1-1 untuk dirinya? Setelah puas selalu menggoda Chanyeol disetiap pembicaraan mereka pasti kali ini Baekhyun balas dendam dengan menggunakan Jongin. Kyungsoo melotot, mengisyaratkan Baekhyun untuk diam atau dia akan celaka.

"Oh, aku takut?" Bukannya gentar dengan tatapan tajam Kyungsoo, Baekhyun malah kembali menggoda Kyungsoo, gadis bermata bulat itu berdecak sebelum menutup buku tebal biologinya yang sempat dia baca tadi dan mendaratkannya dikepala Baekhyun dengan senyum kemenangan.

"YA! kau pikir itu tidak sakit eoh? kau tega sekali... aish jinja awas saja kalau aku jadi bodoh gara-gara bukumu yang rasanya ingin aku bakar itu!" Baekhyun melotot horor Kyungsoo, sambil tangannya mengusap kepalanya yang rasanya sakit sekali, benar-benar buku sialan. Baru saja Baekhyun akan membalas perbuatan Kyungsoo, dia sadar kalau teriakannya tadi sudah menyebabkan dirinya menjadi objek perhatian, bahkan Chanyeol ikut mengalihkan perhatiannya dari buku yang tadinya pria itu baca, Baekhyun menundukan kepalanya, meminta maaf karna berbuat keributan dipagi hari. Sedangkan Kyungsoo hanya memberikan smirk kemenangan kepada Baekhyun, baiklah sekarang 2-1 untuk Kyungsoo. Keadaan hening sampai Shin Songsaenim masuk, memberikan tugas kelompok, membuat keadaan kelas kembali ricuh, setiap kelompok teridiri dari dua orang. Baekhyun tidak bergeming dari tempat duduknya, dia masih kesal dengan-adegan pelemparan buku biologi menyebalkan itu dikepalanya- dan Baekhyun sedikit berdoa semoga Kyungsoo tidak mencari kelompok lain untuknya, apalagi ini pelajaran fishitka, oh bahkan sampai saat ini Baekhyun masih mengutuk pencipta pelajaran yang membuat otaknya mendidih itu.

"Tugas ini untuk jangka lama, Jangan terlena dengan waktu yang saya berikan, semoga kalian dapat mengerjakannya dengan baik."

"Algeseumnida, Songsaenim."

"Kita ulangan. Saya ingin meninjau sampai dimana kemampuan kalian. Ja, siapkan alat tulis." Semua murid menurut, kecuali gadis yang tadinya masih asik memandang luar jendela dengan pandangan malas, gadis itu seketika panik dan tanpa sadar menjatuhkan pulpennya, menarik perhatian Shin Songsaenim yang sedang membagian lembar jawaban.

"Kau baik-baik saja Baekhyun?" Baekhyun mengangguk kaku.

"Y-ya songsaenim." Kyungsoo menoleh perihatin padanya, dia tahu kalau Baekhyun saat ini pasti sangat panik. gadis itu akan membantu Baekhyun sungguh, kalau saja Shin Songsaenim tidak mengawas semua murid dengan mata tajamnya itu, juga Baekhyun tidak menoleh padanya, entahlah, apakah gadis itu masih marah padanya atau pasrah dngan lembar jawaban dihadapannya.

"Waktu habis, letakan alat tulis kalian." Semua murid tampak menghembuskan nafas dengan pasrah, tak terkeculi Baekhyun yang memang sudah pucat dari tadi. Shin Songsaenim bangun dari duduknya, sudah selesai memeriksa lembar jawab murid rupanya. Shin Songsaenim diam sebentar saat membagikan lembar jawab Baekhyun, menatap Baekhyun dengan tajam lalu menggelengkan kepalanya, gadis itu tambah berdebar, takut nilainya sangat mengecewakan sampai guru itu menggeleng dengan tatapan menakutkan seperti tadi.

"Demi Tuhan Byun Baekhyun kau ini peraih nilai Matematika tertinggi se-angkatan tapi kenapa nilai Fisikamu begitu pas-pasan?" Baekhyun menunduk meremas lembar jawabannya saat mendapati nilai C dikertasnya.

"Syukurlah ternyata partner kelompok belajarmu adalah Chanyeol, kalian berdua bisa saling mengajarkan oke? Walaupun Chanyeol tidak terlalu buruk dalam matematika tapi nilai dia terlalu kontras-standar- terkadang malah turun dratis disuatu materi mata bidang itu padahal jelas-jelas nilai yang lainnya selalu sempurna. Buatlah kerja sama Mutualisme kalian mengerti?"

"N-ne? dengan Chanyeol-ssi?" Shin Songsaenim memandang Baekhyun dengan heran.

"Bukankah kau sudah tau mengenai peraturan dikelas istimewa? Kursi-mu nomor 16 dan Chanyeol nomor 15, apa aku salah?" Baekhyun terbelak saat menyadari sesuatu, kemudian gadis itu sedikit merunduk.

"Jeongseohamnida Songsaenim, aku... lupa." Shin Songsaenim tampak menghembuskan nafasnya kemudian menatap Baekhyun dengan tatapan lembut, biar bagaimanapun Baekhyun adalah murid sangat berprestasi di sekolah ini khususnya ya mata pelajaran Matematika.

"Aku mengerti, mungkin kau masih terbawa oleh suasana kelasmu dulu. Jadi kau keberatan? Bagaimana denganmu Chanyeol-ah kau keberatan?"

"Animida." Guru cantik itu tersenyum lega.

"Semoga nilai Fisikamu mengalami perkembangan ya Baekhyun?"

"Ye, Songsaenim." Baekhyun mengangguk dengan sedikit terpaksa.

.

.

.

Pelajaran yang dibenci Baekhyun mati-matian itu baru berakhir, gadis itu menyunggingkan senyumnya saat bel sudah berbunyi. Keadaan kelas tetap hening saat Shin Songsaenim keluar kelas, berbeda memang dari kelas lainnya. Di Kelas istimewa ini semua murid lebih memilih mengobrol dengan buku untuk materi selanjutnya, berbeda dengan kelas lainnya yang mungkin sudah asik menyeret kursi membentuk kelompok lalu bergosip tentang boyband-girlband Hallyu yang marak di negeri gingseng itu sambil menunggu guru pelajaran berikutnya masuk, malah berharap guru yang masuk akan absen dari kelasnya supaya mereka lebih puas bergosip. Pintu kelas terbuka, muncul pria berperawakan lumayan dengan kacamata tebalnya disertai rambut klimisnya. Ya, lumayan untuk ukuran standar guru. Pada umumnya guru-guru disekolah elit ini memang kebanyakan masih muda dan banyak yang belum menikah. Perhatian murid beralih dari teman kecannya-buku- memfokuskan diri untuk melihat Lee Songsaenim, guru matematika, mata pelajaran favorite Baekhyun.

"Saya hanya sebentar, maaf anak-anak tolong kalian belajar bersama kelompok kalian masing-masing untuk Bab Limit pada Trigonometri, besok saya akan mengkaji hasil kerja kelompok kalian, pokoknya masing-masing dari kalian harus mengerti. Baiklah saya harus pergi, sampai bertemu besok anak-anak." Lee Songsaenim menundukan badannya singkat sebelum beranjak dari tempatnya. Tidak ada protes atau bantahan apapun, mereka lekas menggeser kursi mereka-kelompok sesuai letak kursi- lalu mulai memahami bab tersebut bersama, kecuali kursi nomor 15 dan 16 yang tidak bergeming di tempatnya. Chanyeol yang berusaha mati-matian memahami materi tersebut tampak frustasi, apalagi ini trigonometri, kelemahannya. Sejak dulu Chanyeol memang tidak bersahabat dengan materi sialan itu, bahkan dia pernah mendapat ulangan C- karna dia tidak mengerti sama sekali tentang sin cos tan beserta semua rumusnya yang dengar-dengar lebih dari 50, entahlah Chanyeol tidak perduli. Pria itu lebih memilih ditawarkan dengan lima kali lipat materi lainnya dibandingkan dengan trigonometri. Menyerah, Chanyeol membalikan tubuhnya, membuat Baekhyun yang sedang berkonsentrasi mengerjakan soal yang sudah dia pahami terlonjak.

"Ada apa?" Saut Baekhyun kaget, karena Chanyeol tiba-tiba mengubah kursinya, menghadap padanya. Chanyeol juga berusaha mengubah mimik wajah dinginnya agar lebih terlihat bersahabat dari biasanya.

"Ini kerja kelompok kan, bagaimana kalau kita kerjakan bersama?" ...lebih tepatnya aku butuh bantuanmu." sambung Chanyeol dalam hati. Pria tinggi itu terlihat salah tingkah, menggaruk tengkuknya sendiri yang tidak gatal.

"Oh... baiklah, ayo pahami bersama, Chanyeol-ssi." Pria itu berdehem sebentar, lalu menunjuknya pada satu nomor.

"Sebenarnya aku tidak mengerti sama sekali tentang trigonometri, dan tidak usah terlalu formal cukup Chanyeol saja, atau panggilan tadi saat dikoridor juga tak apa." Baekhyun merona, telinganya yang tertutup rambutnya itu memerah mengingat kejadian di koridor tadi. Gadis itu tersenyum lalu mengangguk, dengan kaku membuka buku matematika-nya menunjukan materi trigonometri dari awal kemudian mulai menjelaskannya pada Chanyeol. Pria itu sesekali menggigit ujung pensilnya lalu menganggukan kepalanya lucu apabila dia mengerti yang Baekhyun jelaskan.

"Setelah memahami trigonometri, lanjut ketugas pada bab limit. Tidak jauh berbeda dengan rumus trigonometri hanya saja pengganti limit ini dimasukan saja kedalam soalnya lalu apabila soal seperti ini bilangannya harus difaktorkan dahulu kemudian tinggal dihitung saja apabila soalnya sin atau tan. Kecuali cos, karena cos harus diubah dulu ke sin menggunakan rumus trigonometri tadi. Kau mengerti Chanyeol-ah?" Baekhyun mengangkat kepalanya, melihat Chanyeol yang mengkerut bingung berkali-kali menghembuskan nafasnya, tidak terlihat image cool nan menyebalkan yang biasanya tercetak diwajahnya malahan Baekhyun seperti melihat seekor anjing kecil yang menggemaskan. Baekhyun terkikik dengan pikirannya sendiri.

"Sebenarnya Baekhyun" Suara Chanyeol yang berat dan tiba-tiba itu mengagetkan Baekhyun, Chanyeol mengangkat wajahnya melihat kearah Baekhyun dengan pandangan meringis.

"Aku tidak mengerti kenapa hanya sin dan tan yang boleh langsung dihitung." Baekhyun menghembuskan nafasnya perlahan kemudian menggaruk pipinya guna menghilangkan kegugupannya yang tiba-tiba melanda saat manik Chanyeol yang bulat itu menatapnya.

"Apa penjelasanku terlalu cepat?"

"Aniyo bukan seperti itu, kau sudah menjelaskan dengan baik, lebih baik dari Lee Songsaenim malah, akunya saja yang..." Chanyeol salah tingkah sendiri, begitu juga Baekhyun yang semakin memerah saat tanpa sengaja Chanyeol memujinya, jantungnya berdegup sangat kencang.

"hahaha... gwenchana aku akan mengulanginya agar kau mengerti." Baekhyun tertawa hambar untuk menghilangkan kegugupannya, membalik lembar bukunya, memberikan kepada Chanyeol dan mulai menjelaskan. Sementara Chanyeol tidak bergeming masih menatap Baekhyun, Pria itu tanpa sadar menyunggingkan senyum manisnya yang bahkan hampir tidak pernah dia tunjukan kesiapapun, benar-benar senyuman bukannya smirk andalannya atau kurva tipis yang dia tunjukan pada Baekhyun saat dikoridor tadi.

"Terimakasih, Baekhyun." Baekhyun kembali mengangkat kepalanya dan seketika kembali terkena heart attack saat melihat senyum Chanyeol yang begitu tampan ditunjukan padanya.

.

.

.

Bel pulang sudah berbunyi sejak lima menit lalu tapi Baekhyun terlihat santai dalam jalannya menuju loker, itung-itung menunggu Seo ahjussi menjemputnya. Baekhyun meletakan bukunya diloker, lalu teringat tugas fisika dan matematika hari ini, gadis sipit itu memutuskan untuk membawa kedua buku itu pulang dan Baekhyun akan mencoba mempelajari lagi fishitka yang sedang dia genggam itu. Baekhyun meniup poni ratanya sehingga sebagian poninya terbang keatas lalu kembali lagi ketempatnya semula. Gadis itu mulai berjalan tanpa menyadari seseorang yang mengendap-ngendap dibelakangnya.

"BAEKHYUN." yang dipanggil tersentak, buku-buku Baekhyun berserakan dilantai. Baekhyun melotot kesal pada tersangka yang menyebabkan buku-buku malang itu terlempar, sedangkan Kyungsoo-tersangka itu- ikut melototkan matanya dan membantu merapihkan buku-buku Baekhyun yang berserakan, gadis itu tersenyum seolah mengatakan dia tidak tahu kalau Baekhyun membawa buku seperti ini juga minta maaf karena sudah menjahilinya.

"Ada apasih Kyungsoo, kau itu ya benar-benar."

"Mianhae, Sungguh aku tidak tahu kalau kau membawa buku setebal ini." Setelah merapihkannya Kyungsoo membantu membawa buku Baekhyun dalam pegangannya.

"Arra... wajahmu kenapa tegang begitu?"

"Aku kira kau masih marah padaku gara-gara aku melemparimu biologi tadi, habisnya seharian ini kau lebih banyak diam, lalu memandang keluar jendela disebelah kursimu." Baekhyun terkekeh mengingat kejadian tadi.

"Benar juga ya, harusnya aku marah." Baekhyun mengelus dagunya dengan tatapan menyebalkan bagi Kyungsoo.

"Makanya aku kesini mau minta maaf sekaligus mengucapkan selamat." Kyungsoo tersenyum misterius yang menurut Baekhyun senyum itu mempunyai maksud jahat padanya.

"Selamat untuk?" Baekhyun memicing curiga kepada Kyungsoo.

"Tadi kau mesra sekali dengan Chanyeol, wah pertama kalinya aku melihat Byun Baekhyun tertarik pada pria."

"Aku masih memegang buku tebal kalau kau mau tahu. aish kau pikir aku ini lesbi hah? Kau ini sahabatku atau bukan sih?!" Baekhyun mendengus jengkel kearah Kyungsoo, yang dibalas dengan gelak tawa bahagia sahabatnya itu. Kyungsoo senang membuat Baekhyun mengeluarkan mimik kesal, baginya sangat menyenangkan apabila melihat ekspresi itu dari wajah sahabat baiknya itu, Karena Baekhyun jauh terlihat hidup dan imut tentu saja.

"ngomong-ngomong Kyungsoo... " Kyungsoo mulai menghentikan tawanya tapi tetap berjalan menuju gerbang bersama Baekhyun, kembali menolehkan kepalanya kearah Baekhyun.

"Ada hubungan apa antara kau dengan Kim Jongin eh?" Kyungsoo sempat melihat smirk menyebalkan itu tetapi tidak menghiraukannya, bukannya menjawab, gadis itu malah mempercepat langkahnya.

"YA. Jangan kabur kau! menyebalkan sekali kenapa dia selalu menang kalau berdebat denganku." Baekhyun menggerutu dibelakang Kyungsoo sambil membawa buku-bukunya. Kyungsoo berhenti melangkah dan menunggu Baekhyun di pintu gerbang.

Ponsel Baekhyun bergetar, tanpa meminta ijin gadis itu langsung menumpukan semua bukunya pada pegangan Kyungsoo. Kyungsoo sempat menjerit, tapi Baekhyun tidak perduli, mengisyaratkan tangannya ke ponselnya.

"Ah... begitu? Baiklah ahjussi aku bisa pulang dengan Kyungsoo... mungkin." Baekhyun memelankan kalimat terakhirnya, melirik Kyungsoo lagi dengan tatapan memelas dan bibir yang digigitnya sendiri.

"Gwenchana ahjussi sungguh aku pasti pulang tanpa lecet jangan kawatir, bilang umma juga kalau aku bersama Kyungsoo, ne?" Setelah mendengar jawaban dari supir pribadinya itu Baekhyun mematikan ponselnya, lalu memasukannya kembali ke saku. Baekhyun cepat-cepat mengambil buku yang dipegang Kyungsoo tadi kemudian menatap Kyungsoo dengan tatapan melas.

"Bisakan Kyung? Seo ahjussi bilang ban-nya bocor, dia sedang ada dibengkel, apalagi antriannya panjang." Kyungsoo menggaruk tengkuknya dengan gugup, bukan masalah sebenarnya kalau Baekhyun mau menumpang toh dia juga sering menumpang mobil Baekhyun, tapi masalahnya hari ini gadis itu sudah menghubungi supirnya untuk tidak menjemput, Kyungsoo mau mengerjakan tugas fisikanya bersama Jongin, dan pria itu sudah menyuruhnya untuk ikut motornya tadi saat istirahat.

"Baekhyun-ah... aku mau mengerjakan tugas kelompok. Tadi aku bilang pada Jeon Ahjussi untuk tidak menjemput." Kyungsoo menatap Baekhyun dengan tatapan menyesal.

"Jinjayo? Bersama Jongin?" Normalnya pasti Kyungsoo mendelik kesal saat Baekhyun mengeluarkan nada menggoda itu. Tapi kini situasinya berbeda, Kyungsoo tahu sejak dulu Baekhyun tidak pernah menggunakan angkutan umum bahkan taxi sekalipun karena gadis itu punya trauma, dan saat ini Kyungsoo benar-benar menyesal menyutujui ajakan Jongin untuk kerja kelompok hari ini, paling tidak kalau dia tidak menghubungi Jeon Ahjussi untuk tidak menjemput, Supir pribadinya itu pasti sudah bertengger di parkiran, dan bisa mengantar Baekhyun pulang, jadi Kyungsoo tidak khawatir. Suara klakson menyentakan keduanya, Jongin dengan motor gede ala balapan beserta jaket kulit dan helm, menatap keduanya, lalu menyapa ramah Baekhyun yang berada disamping Kyungsoo seolah meminta ijin sahabatnya itu untuk membawa Kyungsoo.

"Cepatlah pergi, dia sudah menunggu." Baekhyun mendorong Kyungsoo dengan susah payah karena tangannya penuh dengan buku. Kyungsoo memberengut, sampai kapanpun Kyungsoo tidak akan pergi sebelum Baekhyun pulang dengan selamat.

"Bagaimana kalau Jongin mengantarmu pulang dulu, setelah itu dia kembali lagi kesini untuk mengerjakan tugas kelompok itu? Jongin, kau keberatan?" Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan meringis, Jongin sedikit terkejut. Pemuda yang masih duduk dimotornya itu mengangguk ragu.

"Tidak perlu, itu akan memakan waktu yang sangaaaaat lama, kau pikir aku tega membiarkanmu sendirian menunggu disini? Sudahlah aku bukan anak kecil Kyungsoo aku bisa pesan taxi kok." Baekhyun mengibaskan tangannya menyuruh Kyungsoo untuk lekas pergi. Saat itu Kyungsoo menoleh kesembarang arah dengan pandangan gusar. Seperti anak kecil yang mendapatkan balon pada saat kau menangis, Kyungsoo membinarkan matanya melihat Chanyeol berjalan kearah mobilnya dengan Luhan.

"Chanyeol!" Pria tinggi yang dipanggil Kyungsoo itu menghentikan langkahnya menoleh kebelakang menunggu Kyungsoo berlari kearahnya.

"Annyeong haseyo sunbae." Kyungsoo menundukan tubuhnya sekilas saat menyadari Luhan berjalan bersama Chanyeol.

"Ada apa?" Kyungsoo mengalihkan kembali tatapannya ke Chanyeol, tersenyum manis kearahnya yang langsung membuat Chanyeol bergidik ngeri.

"Oppa~" Chanyeol melotot horor kearah Kyungsoo saat gadis itu tiba-tiba memanggilnya seperti itu, pasti ada apa-apanya, pikir Chanyeol dalam hati.

"Mencurigakan sekali kau. Ya Cepatlah apa yang kau mau." Chanyeol tetap mengatur suaranya agar tetap terdengar datar, sementara Kyungsoo sudah kembali pada wajah semulanya, mendengus kearah pria dihadapannya yang sangaat menjengkelkan itu.

"Aku ingin minta bantuanmu."

"Tidak mau kalau untuk mengantar umma-mu belanja lagi." giliran Kyungsoo yang melotot, aish haruskah pria itu membongkarnya didepan Luhan? bahkan kejadian itu sudah lama sekali.

"Ya, sikapmu dingin dan menyebalkan tapi kenapa mulutmu ember sekali sih? tenang saja, Aku kapok menyuruhmu mengantar umma belanja, gara-gara itu aku jadi disuruh cepat-cepat punya namjachingu, apa yang kau lakukan untuk meracuni pikiran umma-ku hah?" Kyungsoo berdecak malas, sementara Luhan yang tidak tahu ada hubungan apa Chanyeol dengan Kyungsoo hanya menatap keduanya bingung, sejak Kyungsoo datang rasanya Luhan ingin pergi ketempat Baekhyun dan pria yang naik motor itu saja daripada menjadi obat nyamuk untuk mereka berdua, perlahan Luhan mundur, berjalan kearah Baekhyun yang langsung disambut senyum oleh gadis imut itu.

"Ada apa dengan mereka, sunbae?" Baekhyun yang sedari tadi memperhatikan tingkah Kyungsoo, tak tahan untuk tidak bertanya.

"Molla, mereka seperti punya hubungan." Luhan menggidikan bahunya acuh, Baekhyun menganggukan kepalanya, walau masih penasaran tapi Baekhyun tidak mau terlalu ikut campur untuk urusan orang lain.

"Mwo? Maksud sunbae Kyungsoo dengan Chanyeol?" Kedua gadis itu menolehkan pandangan mereka pada sosok pemuda yang masih duduk dimotornya, Jongin.

"Ada yang salah?" Luhan malah bertanya bingung, sambil mengangkat kedua alisnya. Keduanya terdiam kembali mengalihkan pandangannya saat Kyungsoo dan Chanyeol berjalan kearah mereka.

"Baekhyun dengarkan aku, maafkan aku karna tidak bisa mengantarmu pulang oke? Jadi..."

"Sudah kubilang tidak apa-apa, kau ini mengapa berlebihan sekali, aku bukan anak kecil." Baekhyun memotong ucapan sahabatnya itu dengan senyuman meyakinkan.

"Jangan memotong ucapanku, kau ini. Aku tidak akan membiarkanmu naik kendaraan umum. Jadi, pulanglah bersama Chanyeol."

"Tidak perlu Kyungsoo, itu merepotkan. Chanyeol kan pulang dengan Luhan sunbae."

"Aku bawa mobil." Chanyeol menyaut dengan tatapan datarnya seperti biasa.

"Kau dengar sendiri. Pulang dengan Chanyeol atau gunakan rencana pertama biar Jongin yang mengantarmu, hm?" Baekhyun bergumam kata "A" panjang, nadanya terdengar canggung.

"Apa tidak merepotkan?"Baekhyun menyerah berdebat dengan Kyungsoo, gadis itu bertanya pada Chanyeol yang dijawab dengan anggukan.

"Kita bisa sekalian mengerjakan tugas fisika itu kalau kau ada waktu." Baekhyun berpikir sejenak.

"Ah, Baiklah kita bisa mampir ke Cafe untuk mengerjakannya."Chanyeol setuju, sementara Luhan tersenyum kepada keduanya.

"Kebetulan sekali, Yeol! ke Cafe-ku saja, aku juga mau kesana."

"Kalau begitu kita pisah disini, ne? Sampai Jumpa Baekhyun."

"Kau berhutang penjelasan padaku, Kyung." Baekhyun berbisik sebelum Kyungsoo pergi, sahabatnya itu sempat mengangguk kemudian terkekeh memikirkan hal yang ingin Baekhyun tanyakan.

Kyungsoo sudah pergi, Baekhyun menoleh kearah Chanyeol dan Luhan dengan canggung, tadinya Luhan mau duduk di jok belakang, mempersilahkan Baekhyun duduk disamping Chanyeol, tapi gadis imut itu sudah lebih dulu duduk di jok belakang dan otomatis Luhan duduk dijok depan, tidak enak juga pada Chanyeol, dikira pria itu supir kalau kedua gadis itu duduk di jok belakang. Mobil berjalan dalam keadaan hening sampai mereka sampai tujuan, memasuki Cafe dengan tujuan yang berbeda, Chanyeol dan Baekhyun jelas untuk mengerjakan tugasnya. Sementara Luhan baru saja bilang pada Baekhyun kalau dia bekerja Part time di Cafenya itu untuk membantu ibunya, itung-itung mengurangi pelayan katanya.

.

.

.

Ngomong-ngomong buku yang tadi dipengang Baekhyun sudah berada di tangan Chanyeol, pria itu ngotot ingin membawanya, Baekhyun mengucapkan terimakasih, duduk dikursi pojok menghadap jendela, benar-benar ya tempat favorite Baekhyun selalu dekat jendela. Luhan datang dengan pakaian waitress membawa Green late pesanan Baekhyun dan Mocca late pesanan Chanyeol.

"Silahkan menikmati, semoga Cafe ini membuatmu nyaman." Baekhyun tersenyum, membalas senyuman ramah Luhan sebelum sunbaenya itu pergi mengerjakan kembali tugasnya.

Cafe milik keluarga Luhan ini memang besar, dekorasinya juga elegan mirip-mirip seperti Cafe di drama korea yang dipakai untuk meeting pengusaha kaya. Yang tidak habis Baekhyun pikir kenapa Luhan termaksud dari kasta ketiga disekolah? Keliatannya Cafe ini juga cukup terkenal karena pengunjungnya hampir setiap umur dan Baekhyun juga melihat ada meja khusus untuk meeting di sudut belakang tadi. Apa mungkin tidak ada yang tahu ya kalau Luhan itu punya Cafe sebesar ini disekolah atau sunbaenya itu malah menyembunyikan statusnya? Baekhyun bergelung dalam pikirannya, sementara namja didepannya mulai membuka buku fisikanya, berdehem untuk mengalihkan perhatian Baekhyun pada sekeliling Cafe.

"Jadi, darimana kita akan mulai?" Suara berat Chanyeol itu sedikit membuat Baekhyun merinding. Baekhyun ikut membuka bukunya, membolak-balikan lembar paketnya dengan bingung, jangan lupa Baekhyun buta fisika okay?

"Baiklah dari sini saja, bagaimana?" Chanyeol membuka materi Fluida, menunjukannya pada Baekhyun yang dibalas ringisan oleh gadis dihadapannya.

"Oh astaga kenapa harus materi Fluida?"Chanyeol mengerutkan dahinya kemudian mengalihkan tatapannya pada gadis itu.

"Jadi materi apa yang kau mau? Bukankah kita akan memasuki Bab Fluida?" Baekhyun tidak menjawab, matanya dan tangannya sibuk membalik lembar bukunya. Setelah ketemu gadis itu menyodorkan bukunya pada Chanyeol, Pria itu rekasinya berlebihan membuat Baekhyun sedikit takut.

"Byun Baekhyun sebenarnya kau ini bodoh atau apa, masa kita harus mengulangi materi GLBB karena kau tidak mengerti?" Baekhyun mendengus kesal, memicingkan mata sipitnya kearah Chanyeol. ngomong-ngomong setelah mengerjakan tugas matematika tadi mereka sepakat menggunakan banmal, agar terlihat tidak canggung. Dan Baekhyun juga baru tahu sifat Chanyeol tidak sedingin keliatannya, pria itu hanya to the point mengenai pikirannya tidak banyak basa-basi seperti kebanyakan pria, sejenak Baekhyun teringat akan Type idealnya, kemudian kembali berdecak saat menyadari baru saja Chanyeol mengatainya bodoh.

"Coba saja kau bicara seperti itu pada saat pelajaran Matematika." Chanyeol terdiam, Pria itu mengingat kejadian dikelas tadi saat Baekhyun mengajari materi tri fucking gono yang menyebalkan itu dengan sabar, tapi tetap saja beda hal, Chanyeol hanya lemah dibidang trigonometri oke? Sedangkan Baekhyun meminta mengajarinya dari Bab pertama, astaga gadis ini apakah sangat membenci pelajaran menarik ini sampai tidak mengerti sama sekali? Hey Park, hanya menurutmu saja fishitka itu menarik, bahkan semua murid rata-rata membencinya!

"Sebenarnya aku... Bagaimana ya menjelaskannya, kalau langsung loncat kemateri Fluida, dimateri ini bahkan ada soal yang menggunakan rumus GLBB, kau tau kan kalau semua materi ini berhubungan. Jadi percuma kalau kau menjelaskan materi Fluida tapi aku masih tidak mengerti GLBB, Chanyeol-ah." Chanyeol merasakan perasaan aneh saat Baekhyun memanggil namanya dengan sapaan akrab itu, pria itu menghembuskan nafasnya, kemudian membalik lembarannya kembali, membuka materi GLBB.

"Berarti kita harus sering kerja kelompok untuk mengejar materi sampai Fluida, Berikan ponselmu."

"NE?" Dengan ragu Baekhyun memberikan ponselnya pada Chanyeol, pria itu terlihat mengetik sesuatu pada layar full screennya kemudian mengembalikan ponselnya pada Baekhyun setelah selesai.

"Aku akan menghubungimu apabila tidak ada urusan OSIS." Baekhyun mengangguk kaku, sambil meraih kembali ponselnya.

"Ayo kita mulai." Chanyeol mulai menerangkan materi GLBB itu dengan perlahan. Sepertinya dia harus sabar seperti Baekhyun tadi yang sabar mengajarinya sampai satu materi saja perlu diulang-ulang. Ajaib, biasanya Baekhyun sangat sulit mencerna pelajaran ini, tetapi entah karena apa gadis itu malah selalu mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti dan mengisi soal yang diberikan Chanyeol dengan jawaban sempurna.

"Ini mudah, bagaimana mungkin materi ini menjadi mudah, aigoo aku sampai tak percaya dapat mengerti materi ini." Baekhyun berkata dengan semangat.

"Sukailah pelajarannya, pasti akan mudah bagimu untuk mengerti materinya, sebelumnya kau pasti sangat membenci fisika ya, padahal ini pelajaran menyenangkan."

"Apanya yang menyenangkan dari fishitka." Baekhyun bergumam pelan, Chanyeol terkekeh dalam hati mendengar umpatan Baekhyun.

"Tapi sebenarnya mudah bukan?" Baehyun ikut menyunggingkan senyumnya kemudian mengangguk tanpa ragu.

"Sepertinya aku mulai menyukai fisika... Eum terimakasih ya Chanyeol." Gadis itu menggaruk pipinya yang tidak gatal, kebiasaannya apabila salah tingkah. Chanyeol mengangguk, pria itu melihat jam tangannya, lalu membereskan buku-bukunya.

"Astaga Baek, ini sudah malam, cepat bereskan bukumu." Baekhyun tidak menjawab, tangannya sibuk dengan buku dan alat tulisnya.

"Bahkan aku sampai lupa waktu, umma pasti khawatir. Lalu aku pulang bagaimana" seru gadis itu dalam hati.

Chanyeol dan Baekhyun pamit kepada Luhan dan mengucapkan terimakasih karena Cafenya memperbolehkan mereka menumpang sampai larut. Sampainya didepan gerbang Chanyeol langsung memasuki mobilnya dan Baekhyun mengetuk kaca jendelanya, Chanyeol membukanya dengan dahi mengkerut, untuk apa gadis itu mengetuk jendela bukannya langsung masuk saja?

"Terimakasih untuk hari ini, hati-hati dijalan." Chanyeol semakin mengerutkan dahinya, bukankah seharusnya Baekhyun mengucapkan hal itu setelah sampai dirumahnya? Chanyeol cepat-cepat membuka pintu mobilnya saat gadis itu mulai berjalan menjauh dan menarik tangan gadis itu agar berhenti.

"Aku akan mengantarmu, mengapa kau pergi?"

"Ah, tidak usah Chanyeol-ah aku sudah sangat merepotkanmu hari ini." Baekhyun merapihkan rambutnya yang terkena angin malam.

"Aku sudah berjanji pada Kyungsoo mengantarkanmu dengan selamat, Kajja." Chanyeol yang tidak sabar langsung menarik tangan Baekhyun kembali kemobilnya, membuka pintu jok samping pengendara, mempersilahkan Baekhyun untuk masuk lalu menutup pintunya, pria tinggi itu sedikit berlari kembali ke jok pengemudinya. Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada jendela mobil, menyembunyikan rona merah dipipinya serta detakan jantung yang menggila. Ini pertama kalinya mereka melakukan skinship. ya, walaupun hanya mengenggam tangan seperti itu tetap saja membuat gadis itu merona hebat. Perjalanan mereka benar-benar hening, keduanya dilanda pikirannya masing-masing.

Mobil Chanyeol berhenti diperkarangan rumah mewah dengan hiasan air mancur dihalamannya bahkan dari gerbang ke pintu rumah juga sangat luas, tidak jauh beda dengan rumah Chanyeol. Baekhyun turun dari mobil kemudian menutupnya. Baekhyun mengetuk lagi jendela pintu Chanyeol, kemudian menunjukan senyum tulusnya kepada Chanyeol.

"Hati-hati." Chanyeol masih mematung melihat senyuman gadis bermata sipit itu yang menarik perhatiannya, Baekhyun mengerjap bingung saat pandangan Chanyeol seperti tidak fokus, dia berpikir mungkin saja Chanyeol terlalu lelah hari ini karena mengajarinya habis-habisan sampai larut. Merasa suasana menjadi awkward Baekhyun menundukan tubuhnya sebentar sebelum melangkah pergi, tapi baru saja satu langkah Chanyeol kembali memanggilnya.

"Ada apa?"

"Sampai jumpa besok." Baekhyun mengangguk, memundurkan tubuhnya saat jendela mobil tertutup dan pengendaranya mulai menjalankan mobil menjauhi halaman rumahnya. Gadis itu memutuskan, hari ini menjadi salah satu hari terbaiknya yang pernah ada entah karena alasan apa.

.

.

.

.

TBC


Halooooooooo ketemu lagi ya ama ff ini, hehe maaff banget karena lanjutannya lama itu juga kalau masih ada yang nunggu hehe -_- sekali lagi ini gs (genderswitch) ukenya aku jadiin gs._. jangan kaget karna ff ini ringan tenang dan terkesan alurnya lama, karna ini fluff aku gabisa bikin alur cepet tapi malah konfliknya maksa, jadi maklum okee :) kalau ada typo juga mohon maklum soalnya belum sempet diedit hehe makasih buat yang review ff ini aku baca semuanya kok review kalian, terus juga yang udah fav atau follow makasih juga~ aku seneng masih ada yang suka wkwkwkwk /bow/ review ne biar aku juga semangat lanjutinnya wkwkwk sampai jumpa chapter selanjutnya!~

buat yang penasaran, hubungan chanyeol ama luhan sabar ne mungkin bukan di chapter ini kejawabnya terus itu kyungsoo ama chanyeol eh juga hayo mencurigakan wkwkwkwkwk kritik dan saran diterima paipai^^~