Disclaimer : I do not own Naruto. Yamanaka Ino, Uchiha Sasuke and any other characters belong to Masashi Kishimoto.
Inspired from GOT series and The Bride of The Death God fanfiction.
Warning : RUSH! SasuIno. Rate T semi M for theme, language and touchy feely.
For #SASUINO4S18 / SUMMER (?)
Dancing with the Sun
Ia bukan lagi gadis lugu yang mengidamkan kedamaian. Sejak tragedi itu menimpanya beberapa tahun silam, sang putri berhenti menaruh empati pada cara dunia berjalan.
Hari sudah sepenuhnya gelap ketika kuda putih yang ditunggangi sang raja dan pengantinnya berlari memasuki pintu gerbang sebuah istana.
Yamanaka Ino tidak berhenti merasa tegang sepanjang perjalanan.
Tubuh mereka terus bersentuhan. Ino bisa merasakan dada tegap sang raja di punggungnya, dan lengan kokoh lelaki itu menyentuhnya setiap kali tangan besarnya menarik tali kekang kuda. Padahal sikap dan ekspresi lelaki itu tak berubah, masih tampak begitu dingin, tapi bersamanya... terasa panas bagai sedang terbakar.
He is worth of Sun King title, batin Ino.
Sang kuda belum juga melambatkan larinya, sampai kemudian bangunan istana mulai nampak tak begitu jauh dari lorong gerbang.
Dari jarak yang ditempuh, sang putri masih bisa menyadari bahwa tempat yang kini sedang mereka singgahi merupakan daerah kerajaan Roselyn, negeri tetangga kerajaan Grassia, yang masih berada di wilayah Land of Grass.
Tetapi alih-alih pasukan prajurit istana dari kerajaan itu yang berjaga, sepanjang mata memandang Ino hanya melihat beberapa kelompok orang berjubah hitam mendiami berbagai pos penjagaan.
Saat aquamarinenya menyadari panji-panji bergambar lambang kipas diusung di sepenjuru benteng gerbang, seketika Ino paham dengan apa yang telah terjadi di sana. Bahwa kini, kerajaan itu telah diambil alih oleh pasukan prajurit Uchiha dan telah berada di bawah kekuasaan Land of Fire.
Ino merasa agak tercekat ketika memperhatikan lebih lanjut bukti-bukti penjarahan yang ada. Beberapa bagian tembok hancur dan bercak darah yang belum dibersihkan masih banyak membekas di berbagai sudut. Jejak sisa-sisa pertarungan yang masih baru.
Inilah tepatnya yang terjadi pada suatu negeri bila negara api menyerang.
Jika tak ingin menyerahkahkan diri dengan sukarela, maka pilihan lainnya hanyalah dirampas paksa, kecuali bila negeri itu bisa memberikan persembahan yang sama layaknya dengan seisi kerajaan mereka.
Ino ingin sekali bertanya apa yang dimiliki oleh kerajaan itu sampai pantas mendapatkan semua ini, dan mengapa. Tapi sang gadis merasa ia sudah tahu jawabannya tanpa perlu Sasuke menjelaskan.
Mereka turun di beranda istana dengan disambut oleh dua orang pria. Salah satu pria membawa kuda putih tunggangan mereka, sementara pria yang lain mengantar keduanya memasuki istana.
Sebelum melangkah masuk, Ino sempat menengok ke arah belakang, mencari tanda-tanda kakaknya beserta rombongan pasukan Uchiha yang lain tiba di sana. Tetapi Ino bahkan tidak tahu apakah rombongan itu akan segera menyusul mereka atau kembali bermalam di perkemahan.
Pemikiran tersebut membuatnya semakin merasa resah. Gadis itu benar-benar sedang sendirian di tempat asing, tanpa seseorang yang ia kenal.
Bahkan sang suami masih terasa begitu asing baginya.
Ruangan istana cenderung gelap dengan hanya berpenerangan lampu gantung besar berisikan puluhan lilin. Tak lama setelah memasuki hall utama istana tersebut, Sasuke menginstrusikan salah satu pelayan wanitanya untuk membawa Ino. Pelayan itu segera mengantar sang putri menaiki tangga lingkar, menuju ke dalam sebuah ruangan kamar di lantai dua.
Ino belum mengeluarkan sepatah kata pun dari semenjak ia datang sampai sekarang dirinya sedang dibersihkan. Di ruangan kamar itu, tiga wanita tengah mengelapi tubuhnya dengan air hangat yang berasal dari bejana-bejana emas di pangkuan mereka. Wanita-wanita pelayan itu tampak seperti penduduk lokal kerajaan ini. Namun Ino kehilangan minat untuk memberi perhatian lebih. Sedari tadi ia belum berhenti merasa gelisah.
Setelah sang putri dipakaikan sebuah gaun malam bersimpul sederhana, kini para pelayan sedang menata rambut pirang panjangnya. Ino tidak begitu peduli dengan penampilannya sekarang. Gadis itu lebih memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini.
Ia memilin jarinya sambil menggigit bibir. Tentu saja ia merasa gugup. Ino tak tahu apa yang akan dilewatinya di malam itu. Ia juga bingung dengan apa yang harus ia lakukan untuk bisa memuaskan sang raja, seperti yang diperintahkan kakaknya.
Ditinjau dari sikapnya yang masih dingin dan tak acuh, bisa saja Sun King malah lebih memilih untuk mengabaikannya semalaman. Jika dipikirkan lagi, memang tak ada alasan bagi lelaki itu untuk menyentuhnya.
Mengambil napas dalam, entah mengapa pemikiran itu membuat Ino merasa sedikit lebih baik.
Namun tak lama kemudian, pintu kamar tiba-tiba terbuka di saat Ino bahkan belum usai berbenah. Otomatis menegakkan punggungnya, gadis itu tahu percis siapa yang datang.
Benar saja. Uchiha Sasuke mulai melangkah memasuki ruangan kamar.
Ketegangan yang sedetik lalu sempat hilang, sontak kembali melanda seluruh indera gadis itu. Terlebih saat ketiga wanita yang beberapa saat lalu sedang melayaninya, kini segera pergi ke luar ruangan dengan tergesa. Meninggalkan Ino hanya berdua saja dengan sang raja.
Suasana di sana terasa hening mencekam.
Suara langkah kaki Sasuke nyaris terdengar bagai irama bom waktu yang bisa membuat sang putri meledak kapan saja. Ino tak bisa bergerak. Rasanya berat bahkan sekedar untuk memutar kepalanya dan berbalik menghadap pada lelaki itu. Tetapi si gadis segera menarik napas dalam-dalam sebelum melakukannya.
Diterangi hanya oleh cahaya temaram dari lampu minyak, Ino memperhatikan sang Uchiha melangkah menghampirinya. Lelaki itu masih mengenakan setelan yang sama seperti sebelumnya.
Sepasang onyx dan aquamarine kembali bertemu. Tatapan sang raja tetap sama, sorot yang tajam dan begitu dingin. Bagai mata predator yang tengah mengamati buruannya sebelum hendak diterkam bulat-bulat.
Tetap memandang sang putri tanpa jeda, seraya berjalan Sasuke mulai mengangkat tangan untuk melonggarkan kerah bajunya. Selanjutnya ia menarik kerah tersebut sampai kancing di bajunya lepas. Ia segera menanggalkan blazer hitam yang dikenakannya tersebut, lalu melemparnya asal ke hadapan Ino.
Sang gadis menahan napas kala menyaksikan lelaki itu mendadak sudah bertelanjang dada sesaat sebelum mencapai tempatnya berdiri diam. Tak sanggup terus menatap ke depan, Ino memindahkan pandangannya ke lantai tepat ketika Sasuke berjalan melewatinya.
Lelaki itu berhenti sejenak di belakang sang putri, sekedar untuk menggapai beberapa helai rambut pirang panjangnya, lalu meneruskan lagi langkahnya untuk mengitari tempat gadis Yamanaka itu. Samar-samar Ino kembali mendengar suara kain yang dibuang ke lantai, kali ini Sasuke melepas kain yang tadi tersampir membelit pinggangnya.
Sang gadis mendadak terasa sulit bernapas.
Kemudian, tiba-tiba Ino merasakan simpul kain di punggungnya ditarik hingga memperlonggar gaun malamnya. Refleks gadis itu segera mengangkat satu tangan dan menyimpannya di sekitar dada, mencegah agar gaunnya tidak melorot.
Tensi dalam ruangan itu serasa bertambah saat tangan sang raja mulai melucuti satu per satu asesoris yang menempel di badan Ino. Tentu saja sang putri merasa takut. Tapi ia tak boleh terlihat lemah jika tak ingin Sun King menghancurkannya. Begitu kata sang kakak.
Ia berusaha untuk tidak terlihat ketakutan, namun sepertinya gagal. Bibirnya bergetar akibat gugup dan menahan tangis.
Sasuke kembali melangkah dan kini berhenti di samping si gadis.
Melihat wajah sang putri yang memucat, ia merentangkan tangan untuk membelai pipi gadis itu. Gerakan dadakan tersebut membuat Ino menegakkan bahu, merasakan kulitnya seolah terbakar oleh sentuhan dari ibu jari milik lelaki itu. Masih berusaha menyembunyikan kegugupannya, sang putri memberanikan diri untuk mendongak.
Mata mereka kembali saling beradu, dan Ino segera menjumpai tatapan itu lagi. Sorot mata tajam yang seolah sedang menilainya, mengukurnya, menentukan kelayakan dirinya untuk bersanding dengan sang raja.
Sasuke masih belum berekspresi. Ia kembali melangkah dan kini berhenti tepat di hadapan si gadis. Dengan tenang lelaki itu membuka bros yang menyatukan pakaian di bahu Ino.
Mengumpulkan keberanian, akhirnya sang putri memutuskan untuk bicara. "Apa kau... mengerti hal yang ku ucapkan?" tanyanya dengan suara serak.
Itu merupakan pertanyaan bodoh, memang, tetapi Ino tidak tahu harus mengatakan apa lagi karena sang raja belum juga menimpalinya.
Bukannya menjawab, Sasuke hanya mendelik singkat ke arahnya, lalu kembali berjalan memutar ke belakang punggung gadis itu.
Menelan ludahnya, Ino membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Tentu saja lelaki Uchiha itu tidak memiliki kewajiban untuk menjawabnya, tetapi terus mendiamkannya seperti ini... Ino merasa semakin terabaikan.
Sang putri berjengit ketika jalinan simpul yang membalut pundaknya ditarik keras dari arah belakang, membuat gaunnya benar-benar terlepas dan melorot sampai ke pinggang.
Langsung menyilangkan tangan di depan dada, dengan panik Ino berusaha untuk menutupi tubuh bagian depannya. Tetapi Sasuke segera menurunkan paksa kedua tangannya, sengaja membiarkan tubuh gadis itu kembali terekspos.
Ino memejamkan mata, merasa malu membiarkan dirinya terbuka seperti ini. Namun tampaknya sang raja tak berniat untuk berhenti.
Merapatkan tubuhnya ke punggung sang putri, Sasuke mulai menunduk dan menempelkan wajahnya di samping kepala gadis itu. Napas hangatnya menggelitik telinga si gadis. Ino mengerang lemah ketika tangan besar lelaki Uchiha itu mulai mengusap lehernya, lalu dengan perlahan jemari si lelaki turun untuk mengelus pundak dan dadanya.
Ino merasa menggigil. Ia semakin memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan sensasi asing yang terbentuk dari setiap sentuhan sang Uchiha di tubuhnya. Kemudian, masih tanpa suara, Sasuke segera membopongnya dan lansung menidurkannya terlentang di atas kasur.
Sang gadis melebarkan mata ketika menyadari Sasuke sudah mengangkang di atasnya. Lelaki itu mulai membungkuk dan berangsur merapatkan tubuh mereka.
"Haa..." Ino memekik dalam.
Seketika itu keteguhan hatinya seolah buyar saat memikirkan bukan hanya hidupnya yang telah ditawan oleh lelaki berkepribadian sangat dingin itu, namun kesuciannya pun akan segera dirampas diluar keinginannya.
Lirih isakan akhirnya lolos dari mulutnya. Tangis mulai mengalir di pipinya.
Dan Ino sadar, bahwa ia tak memiliki kuasa untuk menghindar.
x x x
Terik mentari sudah membakar udara segar di pagi itu. Sang surya bahkan belum menurunkan temperatur panasnya, namun pasukan prajurit Uchiha sudah diperintahkan untuk kembali pulang ke tanah mereka, Land of Fire.
Sun King memutuskan untuk menarik seluruh pasukannya dari Roselyn setelah segala urusannya di Grassland usai dan semua tujuannya terpenuhi.
Sudah empat hari terlewat semenjak Ino menginjakkan kaki di kerajaan itu. Kini ia telah dipersiapkan untuk menempuh perjalanan panjang dan meninggalkan Land of Grass, wilayah negara kecil yang telah menjadi tempat tinggalnya selama setahun belakangan.
Di ruangannya, sang putri sedang tampak tertunduk diam. Ia bukan khawatir mengenai jarak ratusan mil yang harus ditempuhnya untuk mencapai Land of Fire dengan jalur darat, melainkan karena tuntutan sang kakak yang terus menyudutkannya.
"Seharusnya kau bisa lebih merayu Sun King untuk lebih cepat meninggalkan negeri ini dan segera membicarakan tahtaku," gerutu Deidara sambil menuangkan anggur ke dalam gelas kacanya dengan emosi. "Tapi apa yang kudapatkan darimu sekarang?" Lelaki itu berbalik menghadap Ino dengan kejengkelan memenuhi wajahnya. "Hanya berita buruk tentang raja yang tidak mau menemui pengantinnya lagi semenjak malam bulan madu kalian!"
"Dia hanya sedang sibuk dengan semua persiapan pulang ini..." bantah Ino pelan, seraya meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia telah melakukan tugas dengan semampunya.
Meminum anggur di tangannya dalam satu tegukan, Deidara mendelik pada gadis itu. "Kau telah menjadi wanita seutuhnya sekarang, tetapi kau masih belum mampu sekedar untuk memuaskannya?"
Ino hanya bisa diam.
"Dan kau bilang, dia bahkan masih belum mau bicara padamu?" Deidara lanjut mengomel. "Sebenarnya apa yang kau lakukan di malam pertama kalian, huh? Hanya menangis seperti pecundang?" cemoohnya.
Mengambil napas dalam, Ino memejamkan mata. Ia pun merasa frustasi akan hal itu. Suaminya tidak lagi menemuinya, bahkan belum mau bicara padanya. Ino sudah menyadari kekurangannya tanpa perlu Deidara mengingatkannya secara frontal seperti itu. Ia jadi semakin merasa tidak berguna.
"Aku tidak peduli jika dia hanya memandangmu sebagai pemuas nafsu," tekan Deidara. "Seorang Sun King pasti akan punya cara untuk memuaskan dirinya meski dengan gadis kecil sepertimu," sambungnya. "Masalahnya, hanya kau yang tidak memiliki keberanian!"
Ino menempatkan pandangannya ke arah lain, sehingga sang kakak meraih dagunya supaya gadis itu kembali menaruh perhatian padanya.
"Dengar, adikku yang manis," desis Deidara. "Aku tidak mau tahu. Buat dia membutuhkanmu agar kau tidak tersingkir dari sisinya, sampai dia memberikan kita tahta yang dijanjikannya!"
Ino menatap Deidara dengan sorot lelah, memohon agar lelaki itu tidak terus menuntutnya dengan berbagai hal yang tampak mustahil ia lakukan di waktu dekat. Tetapi lelaki Yamanaka itu hanya melepaskan dagu adiknya dengan kasar lalu membuang muka.
Ino merintih pelan.
"Kuberi tahu kau sesuatu," sang kakak kembali bicara. "Dia belum menganggapmu sebagai seseorang yang layak berada di sisinya." Deidara memutar badan, bersiap pergi meninggalkan kamar. "Jika kau ingin dia bicara padamu, maka mulai lah bertingkah seperti seorang ratu!" ujarnya tanpa menoleh lagi.
Ino membuang napas. Mungkin itu memang benar. Ia bahkan belum tahu apa arti dari sebuah kelayakan, dan bagaimana cara untuk mencapai sana.
Lebih buruk lagi, kakaknya masih saja berambisi, tidak sabaran dan berusaha untuk mengorbankan sang adik hanya demi mengklaim tahtanya. Deidara tampak tergesa seolah ia sedang dikejar oleh sesuatu. Tapi mengapa?
.
.
Waktu dimulainya perjalanan telah tiba.
Ino agak tertegun ketika seorang pengawal menuntunnya ke tempat sebuah kereta kuda sedang terparkir. Orang itu berkata bahwa raja telah memerintahkan sang putri untuk melakukan perjalanan dengan menaiki kereta tersebut.
Ino melakukan apa yang diminta pengawal itu tanpa bertanya lebih lanjut.
Tetapi di tengah perjalanan Ino mulai menyadari, di antara rombongan itu tak ada keberadaan kendaraan beroda lain selain kereta kuda yang dinaikinya, dan gerobak-gerobak yang hanya dipakai untuk mengangkut tenda dan barang-barang lain yang diperlukan untuk berkemah.
Bahkan sang raja dan kakaknya pun menaiki kuda.
Dengan jemarinya, sang putri menyusuri permukaan kursi yang sedang ia duduki. Entah mengapa ia jadi merasa seperti sedang diperlakukan dengan istimewa. Melongok dari jendela kereta, Ino bisa melihat siluet sang raja yang tengah menaiki kuda hitamnya kini sedang berjalan di barisan terdepan.
Lalu seketika itu Ino menyadari, sang raja bahkan mau menaiki kuda bersamanya ketika dulu mereka pergi menuju Roselyn, dan mengabaikan kuda hitam miliknya sendiri.
Apa dari saat itu... Sasuke sudah menyadari traumanya dalam berkuda?
Ino menggigit bibirnya sambil membuang napas.
Jika dipikirkan lagi... dari sikapnya yang begitu dingin, Sasuke memang tampak kejam dari luar, namun lelaki itu tak sedikit pun melukainya dengan kasar.
.
.
Gelap mulai datang menandakan hari telah menjelang malam.
Rombongan itu berhenti di sebuah hutan dengan tanah yang landai, cocok dijadikan sebagai tempat untuk membangun kemah.
Ino merasa pegal setelah duduk seharian di dalam kereta. Ia turun dengan dituntun oleh dua orang pelayan wanita yang langsung memandunya menuju sebuah tenda besar yang telah selesai dibangun.
Bagian dalam tenda cukup megah. Atapnya tinggi dengan ukuran yang luas, dan interiornya disusun rapi dengan beberapa kain sekat yang menggantung menutupi ruangan berkasur. Ino tak memiliki keinginan lain selain langsung merebahkan diri untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku. Kedua pelayannya membantunya untuk rileks dengan membersihkan tubuhnya, juga memijiti kaki dan lengannya.
Saking lelahnya, Ino bahkan tak bertanya mengenai keberadaan kakak atau pun suaminya... karena saat itu juga, ia segera tertidur dalam lelap.
.
.
Ino terbangun merasakan sentuhan tangan merabanya.
Dengan mata masih terpejam, ia merasa terekspos, dingin udara menusuk kulitnya. Sang gadis mengerang pelan ketika tangan-tangan itu terus bergerak mengusap tubuhnya.
Mata birunya mengerjap terbuka ketika menyadari apa yang sedang terjadi.
Cahaya remang lilin berkelap-kelip, memantulkan bayangan lelaki yang sedang mengukungnya menari-nari di permukaan kain tenda. Ino mendapati pakaiannya sudah terbuka, dan menemukan Sasuke sedang membungkuk di atasnya.
Syok menimpa kesadarannya dengan sekaligus, membuat Ino langsung meringsut mundur tanpa pikir panjang. Dua tangannya mencoba mendorong dada telanjang lelaki itu, tetapi Sasuke bisa menangkisnya dengan mudah.
Seolah jengkel dengan penolakan gadis itu, sang raja segera menanamkan kedua tangannya di samping kepala Ino untuk menjepit rambut pirangnya, sehingga si gadis tidak bisa pergi kemana-mana dan hanya bisa menatapnya dengan aqua yang tegang. Sasuke balik memandangnya dengan tatapan tajam.
Sorot mata dingin si lelaki bisa saja membuat Ino membeku, namun sebaliknya, tubuh gadis yang sedang ditindih itu malah terasa panas seperti sedang terbakar oleh perlakuan sang raja padanya.
Dengan napas yang naik turun, Ino mengedipkan mata beberapa kali, sampai akhirnya ia dapat menenangkan diri dan kesadarannya benar-benar kembali.
Ino menghela napas ketika merasakan bobot Sasuke kembali menimpanya, saat lelaki itu mulai menurunkan wajah mendekat padanya.
"Kau takut padaku," tilik sang raja menyimpulkan.
Ino mengerjap. Merasa sedikit kaget karena ini pertama kalinya ia mendengar lelaki itu bicara. Suaranya dalam dan maskulin.
Menelan ludahnya, Ino segera bergeleng dengan gugup. Namun sepertinya bantahan itu tak tampak begitu meyakinkan, karena Sasuke kini menyipitkan matanya yang sedang tampak berpendar merah dari pantulan cahaya lilin.
"Kau takut pada rezim pemerintahanku," desis sang raja, terdengar begitu dekat di telinga Ino.
Gadis itu mengerutkan dahi. Akhirnya menyadari sedari tadi Sasuke tidak sedang bertanya, melainkan memberi pernyataan, seolah lelaki itu telah menyimpulkan segala sesuatunya tanpa perlu menanyakan pendapat gadis itu.
Tiba-tiba sang putri teringat akan ucapan kakaknya. Bertingkah lah seperti seorang ratu.
Ino mengepalkan tangannya sambil meremas kain sprei. "Aku... tidak takut," bisiknya.
Sang raja membutuhkan seseorang yang mampu bersanding bersamanya untuk mendukungnya, bukan orang yang akan bersembunyi ketakutan di balik bayang-bayangnya dan memperlambatnya. Apa itu artinya, sebuah kelayakan? Ino bertanya dalam hati.
Lagipula Ino masih meyakinkan diri, meski bersikap begitu dingin, namun lelaki itu tak pernah sedikit pun memperlakukannya dengan kasar seperti yang bisa dilakukan kakaknya. Entah mengapa pemikiran itu memberi Ino sedikit keberanian.
"Aku tidak takut." Sang putri mengulang ucapannya dengan lebih lantang.
Sasuke masih memicingkan mata. "Aku membunuh semua musuhku dan merampas semua yang ku mau," ungkapnya. "Kau masih tidak takut?"
Tetap menatap lekat lelaki itu, Ino bergeleng lagi.
"Kenapa?" sang raja kembali bertanya, seolah sedang mengetesnya.
"Itu hukum dunia... cara semesta berjalan," jawab si gadis tanpa ragu. "Mengalahkan atau dikalahkan, menguasai atau dikuasai. Kau hanya menjalankannya sesuai dengan hukum alam."
Ino mengungkapkan apa yang memang belakangan ini dipikirkannya. Ia bukan lagi gadis lugu yang mengidamkan kedamaian. Sejak tragedi itu menimpanya beberapa tahun silam, sang putri berhenti menaruh empati pada cara dunia berjalan.
Sasuke tak bersuara lagi. Seolah sedang menilai dan mempertimbangkan jawaban si gadis, lelaki itu hanya terus menatap Ino dalam diam.
Sang putri sempat kebingungan, sedikit merasa kecewa barangkali jawabannya tak cukup memuaskan. Kembali merasa tegang akibat ditatap begitu lama dari jarak sedekat itu, Ino memindahkan tatapannya ke arah lain dengan gugup.
Tubuh tegap dan lengan kokoh sang raja yang masih terekspos dapat terlihat jelas oleh jarak pandang Ino dan kini menjadi perhatiannya. Otot perut dan dadanya terbentuk dengan sempurna. Bahunya yang solid, garis rahangnya yang tegas dan kuat. Rambut ebonynya yang sedang menjuntai bagai tirai di setiap sisi wajahnya yang tampan. Eksistensinya hampir tampak bagai perpaduan sempurna antara maskulinitas dan keindahan.
Sang putri menggigit bibir, berusaha menjaga tangannya untuk tidak menggapai ke arah Sasuke. Menyentuhnya. Menariknya. Merasakannya.
Tetapi kemudian, tanpa perlu gadis itu meraihnya, sang raja sudah berangsur menundukkan kepalanya, mendekati wajah jelita sang gadis yang telah mendongak untuk menantinya.
Dalam satu tarikan napas, Ino merasakan bibirnya diraup lembut, membuatnya refleks memejamkan mata rapat-rapat.
Di tengah keheningan malam, seraya tubuh sang raja menekannya, Ino bisa merasakan jantung Sasuke berdegup di dadanya. Dalam benaknya langsung muncul pikiran bahwa, Sun King yang terkenal kejam dan dingin ternyata memiliki hati... yang terasa begitu hangat dan kini sedang berdenyut seirama dengan miliknya sendiri.
—TBC—
26.07
Hahaha tenang pemirsa~ sasu bisa ngomong kok, cuman disitu dia lagi males cuap-cuap aja kali XD
Dan semoga chap ini menggugurkan bayangan tetang drogo, tingkat ke-macho-an mereka beda level, iya sih lol
Terimakasih supportnya! Review? :)
