Sumarry:

Rasa cemburu menguasai emosi Uchiha Sasuke. Melihat sang gadis memeluk pria lain mampu membutakan mata hatinya. Menimbulkan penyesalan yang selalu datang terlambat. RnR please!

Naruto©Masashi Kishimoto

Karena Aku Ingin Memilikimu

~Tori-chan Nadeshiko~


Chapter 3

Menuju atap. Gadis pirang itu berjalan dengan amat ragu-ragu. Seorang pria tampan sedang berjalan di sebelahnya saat ini. Pria itu datang pagi-pagi ke rumahnya untuk menjemput dirinya. Dia begitu gugup hingga tak bisa memejamkan mata semalam. Apalagi tugas yang harus dilakukannya dengan pria tersebut hari ini. Jika melihat keadaannya saat ini, dia terlihat begitu gelisah. Dan mereka memutuskan untuk duduk bersandar pada pagar pembatas yang ada di atap sekolah.

"Keluargamu harmonis ya? Ayahmu menyenangkan dan ibumu begitu ramah." Ujar Sasuke

"Begitulah. Bagaimana dengan keluargamu? Saat aku ke rumahmu aku tak melihat keluargamu." Tanya Naruto begitu penasaran.

Senyum yang semula tersungging di bibir tipis Sasuke, sekarang telah menghilang. Matanya yang semula menunjukkan semangat, mendadak meredupkan sinarnya. Dia terdiam mendadak. Menandakan bahwa pertanyaan sang gadis bukanlah pertanyaan yang baik.

"Ayahku selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kakakku sekolah di luar negeri. Dan Ibuku sudah lama meninggal karena penyakit yang diidapnya." Ucapnya tanpa semangat.

"Oh, maafkan aku. Aku sama sekali tidak tahu." Kata si pirang penuh penyesalan.

"Tak apa. Ibuku adalah wanita yang baik dan lembut. Dia lah yang menyatukan kami semua. Tapi sejak beliau meninggal, kami semua menjadi semakin menjauh. Jarang berkumpul, jarang bertemu, jarang bercanda seperti dulu. Aku selalu sendirian di rumah." Terang Sasuke dengan mata yang tak memancarkan sinarnya yang indah, begitu kosong. Membuat siapa pun prihatin melihatnya, tak terkecuali gadis di sampingnya.

"Kau kesepian ya?"

Naruto membawa sang pria ke dalam pelukannya. Menyalurkan kehangatan tubuhnya pada pria dingin di hadapannya. Sekedar untuk mencairkan suasana yang mulai membeku itu. Mendekapnya penuh dengan rasa iba dan rasa peduli. Menghiraukan dinginnya angin pagi yang berkali-kali menusuk sampai ke sumsum tulang. Sesekali bibir mungil sang gadis menciumi pundak kokoh Sasuke, dan tangannya mengusap-usap punggung Sasuke. Rasa damai yang kembali dirasakan oleh sejoli itu. Menghayati setiap sentuhan yang diberikan oleh masing-masing pasangan tersebut.

"Sekarang tidak lagi. Sudah ada dirimu, Naruto. Kau milikku." Ucap Sasuke masih dalam posisi memeluk gadisnya.

"Mm, boleh aku ke toilet sebentar?" Tanya si kepala pirang.

"Tentu, akan ku tunggu."

'Jika aku berlama-lama di situ, jantungku bisa-bisa meledak.' Batin Naruto. Hingga dia hilang di telan pintu.

Naruto berjalan sendirian di dalam gedung yang masih sepi. Mana ada murid yang datang pukul enam, jika pelajaran baru dimulai pukul delapan? Selain Naruto dan Sasuke tentunya. Namun mata Naruto tiba-tiba melihat sosok yang lama tak dilihatnya di lingkungan sekolah. Sosok yang telah dianggapnya sebagai sahabat.

"Kiba!" Naruto berlari mendekati Kiba dan memeluk pria itu. Di tangan kanannya masih terapit tongkat yang membantunya untuk berjalan.

"Na-Naruto?" Kiba hanya mampu terkaget karena tiba-tiba dipeluk oleh seorang gadis.

"Aku kangen. Kamu sudah lama tidak masuk sekolah." Ujar Naruto yang masih memeluk Kiba begitu erat.

"Bukankah kemarin kalian baru menjengukku?" Tanya Kiba memastikan dan hanya dijawab dengan anggukan sang gadis.

"Bisa kau lepas pelukanmu, Naruto? Aku mulai sesak."

"Ah, maaf!" ucap Naruto dan refleks melepas pelukannya.

"Baiklah Naruto, aku masih ada urusan. Bye!"

"Bye." Naruto tetap berada di tempat hingga Kiba benar-benar lenyap dari pandangannya. Dan berniat berbalik untuk kembali ke atap.

Tiba-tiba tubuhnya kaku. Matanya membelalak lebar. Jantungnya serasa mau keluar. Lidahnya terasa kelu. Melihat orang yang sedari tadi menantinya kini berada di hadapannya. Menatapnya.

"Sa-Sasuke!"

Sang gadis berniat mendekati pemuda itu. Namun niatnya buyar saat melihat raut wajah anak laki-laki di hadapannya. Begitu dingin, begitu angkuh, dan begitu garang. Berbeda dengan Sasuke yang ditemuinya sebelum ini. Sasuke yang lembut, yang manis, dan yang dengan jujurnya mengucapkan 'Aku menginginkanmu Naruto.'

"Sasuke ada ap-?" ucap Naruto terpotong.

"Ikut aku!"

Belum sempat Naruto menyelesaikan ucapannya, tangan kekar sang Uchiha muda telah menarik lengannya dan menyeretnya kasar. Membuat sang gadis muda merintih kesakitan. Menyeretnya ke arah mobil sedan hitam Sasuke terparkir.

"Sasuke lepaskan! Kau menyakitiku!"

Beberapa kali Naruto meronta-ronta, namun tak diindahkan oleh Sasuke. Menyeretnya dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.

"Masuk!" perintah Sasuke datar dan dingin.

"Ta-tapi…"

"AKU BILANG MASUK!" bentak Sasuke hingga membuat gadis yang bersamanya agak terperanjat dan mematuhi perintah Sasuke.


Hening. Itulah satu kata yang mampu menggambarkan keadaan muda-mudi itu saat ini. Sasuke menyetir dengan begitu tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Sedangkan Naruto, dia begitu ketakutan. Tak berani mengeluarkan suara barang sekata pun. Entah apa nasib yang akan menimpannya nanti. Dan kini semua kegundahan hatinya terjawab juga. Ketika mereka telah berada di depan kediaman Uchiha yang kelewat megah.

Sang pewaris Uchiha itu telah turun dari mobilnya dan berjalan ke sisi pintu yang lainnya. Mencengkeram pergelangan tangan malaikat kecilnya, dan menariknya masuk ke dalam istana itu. Yang lebih mengenaskan lagi, sang gadis hanya bisa pasrah saat diseret ke kamar yang telah dikenalnya. Saat Sasuke membuka pintu, keduanya masuk ke dalam kamar itu. Menutup dan mengunci pintunya dengan amat sangat kasar.

Sasuke berjalan mendekati Naruto dengan tampang bagai binatang buas yang siap menerkam mangsanya kapan saja. Berjalan dengan cepat dan mendorong tubuh Naruto kasar hingga terjungkal di atas ranjang besar. Tanpa rasa canggung atau apa pun itu, sang Uchiha muda itu menindih tubuh ringkih Naruto. Melumat bibirnya dengan kasar dan tanpa ampun, membuat sang wanita mengerang.

Sasuke yang telah dibutakan oleh emosi tak bisa menahan segala gejolak yang ada di dalam dirinya. Tangannya membuka paksa seragam sekolah yang dikenakan Naruto, hingga semua kancing yang bertengger manis, lepas dari tempatnya. Menampakkan kedua payudara yang masih tertutup oleh mangkuk bra. Sontak Naruto menutupinya dengan kedua tangan kecilnya.

"Jangan, Sasuke!" tolak Naruto dengan suara bergetar.

Namun Sasuke kembali menindihnya dan mencengkeram kedua lengan itu di atas kepala pirang sang pemudi. Membuatnya kembali tanpa pertahanan. Melumat kembali sepasang bibir ranum gadis Namikaze itu. Memaksakan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Naruto, mencari kenikmatan yang sangat dipaksakan. Perlahan namun pasti, ciumannya berpindah ke lain tempat, meninggalkan sejumlah cupang kemerehan di area leher Naruto.

"Hentikan, Sasuke!" bentak sang gadis.

Kini air mata tak mampu dibendung oleh pelupuk mata sang gadis. Isakan demi isakan telah terdengar dari bibirnya yang telah terlepas dari ciuman sadis tadi. Rasa takutnya sudah tak sanggup ia tahan lagi. Begitu cepatnya Sasuke berubah. Kemarin Sasuke begitu lembut padanya meskipun itu hanya kebohongan semata. Tapi sekarang Sasuke kasar padanya, seolah dia adalah budak nafsu yang wajib untuk disiksa.

Sasuke tak menghiraukan isakan-isakan dari gadisnya. Dia terus bergerilya dengan tubuh yang mulai lemas itu. Menciumi dada ranum yang telah terbuka sempurna. Sedangkan satu tangannya kini mulai merangkak perlahan menyapu paha mulus sang gadis. Dan melepas pertahanan terakhirnya.

Sang gadis polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Hanya rambut pirang panjangnya yang menghiasi lekuk tubuh indah itu. Membuatnya terlihat seperti putri duyung tanpa ekor dan sisik indahnya. Begitu cantik. Begitu anggun. Begitu eksotik. Di tambah lagi air mata yang mengalir dari kedua sudut mata bulatnya. Menyempurnakan suasana sendu itu.

"Jangann…Sasuke! Hiks..hiks.." pinta Naruto di sela-sela isakannya, membuat Sasuke menghentikan aktivitasnya.

"Kenapa? Kenapa kau menolakku sedangkan lelaki lain boleh kau peluk?" ucap Sasuke yang begitu menahan amarahnya yang sudah meluap-luap.

"Apa aku tidak boleh memeluk sahabatku sendiri?" Tanya Naruto lirih tapi masih bisa tertangkap oleh ruang dengar pria tampan itu, dengan wajah yang begitu sayu menggoda saat mengucapkan kata-kata itu.

"Tidak boleh! Kau adalah milikku!" Ucap Sasuke dengan penekanan di setiap katanya.

Naruto setuju untuk melakukan hal hina ini bersama Sasuke, demi teman-temannya. Tapi apakah jika dirinya disakitis seperti ini dia tak boleh melawan dan menolah. Saat Sasuke mulai menggerayangi tubuhnya dengan amat sangat kasar. Saat Sasuke kembali menghujam-hujamkan kebanggaanya berkali-kali di lorong paling sensitif milik Naruto dengan kasar hingga menimbulkan rintihan-rintihan kesakitan dari bibir kecil itu. Bukan lagi desahan dan erangan dari kenikmatan yang diberikannya beberapa hari lalu. Perih. Fisik dan jiwanya sangat perih dengan apa yang diperbuat Sasuke pada jiwa dan raganya. Bagai tertembak timah panas tepat di hatinya. Membuatnya tak tahan dengan semua siksaan nyata ini.

"HENTIKAN!" jerit suara gadis pirang itu tak mampu menahan siksaan ini. Diikuti dengan isakan dan derasnya air mata yang mengalir di pipi lembutnya. Membuat bocah uchiha itu tersentak mendengarnya.

"Na-Naru..?"

"Kumohon hentikan, Sasuke!" ucapnya begitu lirih dengan intonasi yang menandakan jika dia sedang terjerat dalam keputus asaan dan tak berdaya.

Kini Sasuke telah melepaskan semua serangannya pada gadis malang tersebut. Memeluknya begitu erat tubuh lemah tak berdaya itu. Sejuta rasa penyesalan bergejolak di relung hatinya. Tak menyangka dirinya bisa dirasuki oleh setan dan berubah menjadi iblis yang tak memiliki kata ampun. Memeluk erat sang pemilik kepala pirang seolah tak ingin gadis itu pergi. Ya, memang Sasuke tak ingin kehilangan gadis satu ini.

Tapi tengoklah keadaan Naruto saat ini. Begitu memprihatinkan. Rambut panjangnya yang semula tersisir rapi, kini menjadi acak-acakan. Tubuh yang telanjang sempurna tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Bercak-bercak merah tersebar merata di sekujur tubuh indahnya. Jejak-jejak air mata yang masih sangat baru, membekas di sepasang pipinya. Sisa-sisa isakan yang masih bisa terdengar darinya. Dia begitu berantakan seperti habis diperkosa dengan begitu liar. Ya, dia memang telah diperkosa oleh seorang lelaki terhormat.

"Maafkan aku, Naruto! Aku khilaf." Ujar Sasuke dan mempererat pelukannya pada Naruto.

Tak ada jawaban, hanya sisa-sisa isakan lirih. Tak ada balasan pelukan seperti saat itu. Tak ada lengkungan indah yang menghiasi bibir ranumnya seperti saat itu. Dan tak ada lagi perasaan nyaman dan hangat seperti saat itu. Semuanya hilang, hilang, musnah dan hancur karena kebodohan Sasuke. Hanya tinggal selangkah untuk mendapatkan hati dan cinta gadis itu. Dan karena kebodohan Sasuke pula, langkah itu semakin menjauh darinya. Hanya karena emosi dan rasa cemburu sesaat. Dia begitu pengecut, begitu takut untuk ditinggalkan gadis pujaanya.

"Aku akan mengganti pakaianmu yang rusak, dan setelah itu akan ku antar kau pulang." Ucap Sasuke begitu dingin dan datar.

"Te-terima kasih!"

[Sasuke's POV]

"Aku akan mengganti pakaianmu yang rusak, dan setelah itu akan ku antar kau pulang." Ucapku begitu dingin dan datar pada makhluk indah yang ada di hadapanku saat ini. Aku begitu menyesal telah melakukan semua ini padanya. Aku tak berani menatap mata safir yang telah meredupkan kilau cahayanya.

"Te-terima kasih!"

Terima kasih? Kau masih mau mengucapkan terima kasih setelah apa yang ku perbuat padamu? Jangan ucapkan kata itu lagi, kumohon. Kau akan membuat hatiku semakin sakit. Sebodoh itukah dirimu Naruto? Mengucapkan terima kasih pada orang yang telah manyakitimu.


Diam, sunyi, senyap dan sepi. Tak ada satu pun di antara kami yang angkat bicara. Kulirik gadis yang duduk di sampingku saat ini. Penyesalan selalu datang terlambat. Aku pernah berkata padanya jika dia bukanlah seorang jalang, tapi kenapa aku malah memperlakukannya seperti seorang pelacur?

Tetap tak ada yang angkat bicara hingga kami tiba di depan kediaman Namikaze. Kumatikan mesin sedanku dan turun menuju sisi pintu yang berlawanan. Kubukakan pintunya untuk mempermudah dia turun.

"Teri.."

"Aku pulang dulu Naruto." Cepat-cepat kupotong kata yang hendak keluar dari bibir manis itu. Aku tak mau mendengar kata itu lagi darinya untuk saat ini.

"Ah, hati-hati!" ucapnya pelan dan berjalan ke arah pintu pagar kediaman Namikaze.

"Naruto!" panggilku pada gadis itu.

Aku berjalan cepat ke arahnya dan mengecup singkat bibir mungilnya. Menatap dalam-dalam mata biru langitnya yang menentramkan jiwa. Nampaknya dia kaget dengan ciuman tiba-tiba dariku barusan.

"Maaf Naruto!"

Kata itu sudah berulang kali kuucapkan, tapi tetap tak bisa menghilangkan rasa penyesalan di batinku. Hanya senyuman kecil dengan pandangan sayu yang mampu meluluhkan hati lelaki mana pun, yang menjadi jawaban untukku. Meskipun begitu indah, meskipun begitu manis, tapi melalui senyuman itu dia telah menikam jantung ku dengan rasa penyesalan yang begitu besar.

[End of Sasuke's POV]


Satu setel seragam SMU, sebuah cardigan berwarna oranye dan shawl serupa telah membalut tubuh mungil Naruto. Tak lupa dengan rambut pirangnya yang tergerai sempurna. Bererti sekarang tiba saatnya musim dingin. Namun saat ini bukanlah musim dingin. Justru saat ini adalah pertengahan musim panas. Alasan kenapa gadis itu rela mengenakan pakaian tebal itu adalah Sasuke. Dia tidak mungkin memamerkan cupang-cupang di sekujur tubuh, leher dan lengannya pada semua orang.

"Naruto? Kenapa kau memakai semua itu?" ucap seorang makhluk cantik yang setia menjadi sahabatnya.

"A-aku agak demam. Ya, demam!" kawab Naruto meyakinkan Sakura bahwa dia sedang demam.

"Di musim panas, eh?"

"Ahahaha.."Naruto memaksakan dirinya untuk tertawa.

Namun, sepandai apa pun Naruto berbohong, Sakura tidak akan pernah tertipu. Mata seorang Namikaze Naruto adalah mata yang takkan pernah bisa memancarkan kebohongan, itulah yang dipelajari Sakura saat mulai berteman dengan gadis rubah itu.

Sakura menarik lengan Naruto, membawanya ke suatu tempat yang sepi. Hanya dia dan sahabatnya ini. Ingin mengetahui kebenaran yang disembunyikan gadis itu. Atap. Itulah tempat yang paling sepi saat ini. Sakura menyeret Naruto dan membawanya ke atap.

"Lepaskan shawl dan cardiganmu, Naruto!" perintah Sakura tegas namun masih ada aksen ramah dalam pengucapannya.

"Tapi dingin, Sakura!" elak Naruto yang tak ingin siapa pun tahu apa yang ada di balik semua itu.

"Aku bilang lepaskan, Naruto!" ucap Sakura lebih tegas dengan pandangan khasnya yang tak mampu ditolak Naruto.

Perlahan namun pasti, gadis Namikaze itu melepaskan shawl dan cargidan yang melekat di tubuhnya. Mengungkap rahasia yang berusaha disembunyikannya dari siapa pun. Sakura tak mampu berkata-kata. Seolah semua isi dalam kamus kosa katanya hilang terbakar oleh api keterkejutan yang mengubahnya menjadi abu seketika. Cupang-cupang tersebat merata di leher dan sepasang lengannya. Membuat Sakura menutup mulut dengan kedua tangan putihnya. Tak percaya akan semua ini.

"Siapa yang melakukan semua ini?" Tanya Sakura begitu khawatir setengah mati.

Kini air mata kembali mengalir di pipi kenyalnya. Sudah terlalu besar beban yang dipikulnya. Memeluk sahabatnya adalah yang dibutuhkan oleh gadis pirang itu. Dan membalas pelukan itu adalah hal yang bisa dilakukan Sakura saat ini. Memberikan ketenangan dan kedamaian dalam suatu dekapan hangat tersebut.

"Ceritakan padaku kawan!"


Dua gadis belia dengan warna rambut yang begitu kontras duduk bersandar pada pagar pembatas di atap sekolah. Sang gadis merah jambu mendengarkan keluh kesah dari sahabatnya, si gadis pirang. Diiringi sepoi-sepoi hembusan angin yang menjadi candu ketenangan bagi keduanya. Sakura adalah pundak yang dibutujkan oleh Naruto saat bersedih. Sakura adalah bunga yang memperindah kehidupan Naruto. Dan Sakura adalah teman terbaik yang pernah dimiliki Naruto.

Di sinilah mereka sekarang. Di tengah-tengah kegalauan dan kegundahan hati. Menceritakan semua hal yang sangat mengganjal di hati gadis Namikaze. Layaknya batu permata yang bersarang di hatinya. Begitu indah, tapi juga begitu keras dan menyakitkan.

Mata emerald Sakura masih tak terbiasa dengan keadaan kawannya saat ini. Jika digambarkan melalui kata-kata, kedua mata Sakura masih bersinar terang layaknya kembang api di musim panas, sedangkan kedua safir Naruto sudah meredup sinarnya layaknya lentera yang menyala di tengah hujan badai. Sang Namikaze muda itu menceritakan semuanya dari awal. Apa yang dilakukannya dengan Uchiha bungsu. Dan apa yang telah Uchiha bungsu lakukan padanya.

"Sasuke mengancammu untuk mendapatkan dirimu?"

Hanya sebuah anggukan kecil dan seulas senyum masam yang menjadi jawaban Naruto. Betapa pedih hatinya saat ini.

"Apa hanya aku yang tahu, Naru?"

"Iya, dan kumohon jangan katakana pada siapa pun!" pinta Naruto.

"Maaf Naruto, tapi aku tak bisa menjaminnya."


Seorang pria muda melangkahkan kaki jenjangnya ke arah sedan hitam kesayangannya. Diikuti seorang gadis mungil yang berpakaian ala musim dingin. Seperti biasa, Sasuke membukakan pintu penumpang untuk gadis kesayangannya, baru dia menuju ke arah pintu yang lainnya lalu masuk.

"Terima kasih, Sasuke!"

"Hn."

Sepi. Kata itu lagi yang menghiasi suasana di antara mereka. Sesekali Sasuke mencuri pandang pada gadis yang ada di sampingnya. Dia tahu mengapa gadisnya mengenakan pakaian seperti itu. Menepikan mobil hitam mengkilatnya di tepi jalan dan mematikan mesin mobilnya.

"Kenapa berhen..ti?" Tanya sang gadis terbata setelah melihat tatapan tajam dari anak lelaki yang ada di hadapannya.

"Ini semua gara-gara aku, maaf!" kata Sasuke sembari melepas shawl yang bertengger manis di leher Naruto untuk melihat keadaanya.

"Tak apa." ucap Naruto santai dengan senyuman yang mengembang.

Namun perkataan dan senyuman itu malah membuat sang Uchiha menjadi geram. Bukan ini respon yang diinginkan dari si gadis. Pengakuan jujur sang gadislah yang saat ini ingin didengarnya.

"Berhenti mengucapkan kata-kata itu dan berhentilah tersenyum. Apa kau bodoh? Aku telah berkali-kali menyakitimu." Bentak Sasuke membuat Naruto sontak menghilangkan senyum manisnya.

"Bukankah kau yang memaksaku melakukan semua ini?" balas Naruto dengan bentakan yang tak kalah kerasnya.

"Aku hanya ingin memilikimu. Aku tak ingin kau bertingkah palsu seperti ini." Ucap Sasuke yang sudah menurunkan nada bicaranya namun masih dengan wajah merah padam.

Naruto ingin membenci Sasuke. Tapi sekuat apa pun dia berusaha, dia takkan pernah bisa membencinya. Sasuke telah mengisi salah satu sudut hatinya. Tempat untuk seorang pria yang begitu spesial di relung hatinya. Senyumannya. Ciumannya, sentuhannya. Semua itu memaksa Naruto untuk memberikan tempat spesial itu padanya.


"Uchiha Sasuke adalah musuh kelas ini, Naruto!" bentak Kiba pada gadis yang ia sukai ini. Marah, kecewa dan terluka yang dirasakannya saat ini.

"Kau tahu itu, tapi kenapa kau malah berada di pihaknya dan menjadi kekasihnya?" kali ini ganti Neji yang membentaknya.

Semua teman sekelasnya menghakiminya dengan sejuta pertanyaan yang mampu menikam jantungnya dengan begitu dahsyat. Bagaimana mereka semua tahu? Cepat-cepat Naruto menoleh ke arah Sakura, Sakura menggelengkan kepala pertanda dia tak tahu apa-apa tentang bocornya hal ini. Naruto hanya bisa duduk tertunduk dan menangis. Tak ada yang mampu ia katakan untuk membela diri. Tidak mungkin dia berteriak, "Aku memberikan keperawananku padanya gara-gara kalian, sadar diri dong!"

"Kau penghianat Naruto, aku kecewa!" kali ini Ino yang ambil suara, tapi tanpa bentakan.

Dia sudah tak sanggup mendengarkan semua ini. Lari dari tempat itu adalah hal yang terbaik. Sekarang semuanya telah tahu tentang semua ini.

Yang mampu Sakura jelaskan adalah apa yang Naruto ceritakan padanya sebelum ini. Tentang Kiba yang diserang sebelum pertandingan dan tentang toko bunga milik keluarga Ino yang hancur. Juga tentang pengorbanan Naruto agar teman-temannya yang lain tidak di lukai oleh si brengsek Sasuke. Ya, mereka sama dengan Sakura. Hanya bisa diam seribu bahasa. Seolah sulit bagi mereka untuk menyusun kata.


Sasuke diseret ke gedung belakang sekolah oleh beberapa orang saat dirinya sedang berjalan sendirian di koridor yang sepi. Belum sempat dia mengeluarkan suara, sebuah tinju mendarat di wajah rupawannya. Bertubu-tubi serangan yang diterima di sekujur tubuhnya.

"Dengar Uchiha, ini untuk pertandinganku! BUAGH!" ucap seorang pria berambut cokelat jabrik dan memukul tepat di ulu hati Sasuke.

"Dan ini untuk toko bunga Ino! BUAGH!" kini tinju itu mendarat di perutnya.

"Dan yang terakhir untuk…"

"HENTIKAN!" jerit seorang gadis yang melindungi pria yang babak belur itu agar tak tersiksa lebih parah lagi.

TBC


Uahhh*menggeliat*

Selesai juga chapter tiga. Semakin banyak reviu yang di dapat, semakin cepat pula chapter selanjutnya apdet. Terima kasih pada reader yang telamh menyempatkan waktu untuk membaca fic gaje ini. Aku setuju dengan kalian semua, bahwa Sasuke adalah cowo kurang ajar. Aku berhasil menurunkan pamornya. Hip hip Horray *diamaterasu*.

Super Super Duper Special Thanks to:

- UchiRasen

- Chiho Nanoyuki

- hoshi no hikari-chan

- Uchiha Winda (wah review 2kali)

- DewiKira

- NhiaChayang

- Kaze or Wind

- Acha-Namikaze

- Jill

- Sorayuki Nichan

- seiichiro raika (wah ini juga review 2kali)

- YumeYume-chan

-Thunder Wind-Uchiha

- Lavender Hime-chan

- Fujoshi Nyasar

- NaruZach

- Levelylawliet

- anonymous

- Dara-Sasusaku Shikatema Lovers

- Ame no Haru Uzumaki

- Mhaya Hatake

- Namikaze May-chan

- Ka Hime Shiseiten

- Akane kanagaki

- ForgottenJoker

- Namikaze Zhi-chan

Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama maupun jabatan.

Ada yang Tanya Naru bakalan hamil apa nggak? Yah sekedar rencana saja sih, Naru aku buat nggak hamil. Soalnya udah dibungkus (apanya?). Kalau aku bikin hamil, tambah panjang ficnya dan aku harus berfikir lebih keras buat endingnya. Sekedar info saja, kalu aku punya gangguan otak. Nama penyakitnya Bego Stupidngitis. Yah mungkin kalau mau di bikin hamil, aku usahakan bikin sekuelnya aja apa ya? Itu pun kalau fic gaje ini udah tamat.

Dan gara-gara chap lalu banyak yang ingin liat gambar ilustrasi yang ku buat dan minta alamat fb ku, aku kasih deh. Alamatnya : go_. Ayo kita berteman! ^_^'

Mind to review?