Saya ingin balas review dulu ne,…. Gomawo kepada reader yang telah meninggalkan jejak review di FF abal saya ini. Jeongmal Gomawo ne chingu….
Nadia : hahahaha tunggu ne, sabar dulu, ini belum saatnya moment kriskai berlovydovey….. hehehehe
FriederichOfficial : hehehe mian ne chingu banyak kendala jadi,.. agak mogok nie updatenya,.. akan diusahakan lebih cepat hehehe
Guest : Thanks ya chingu hehehehehe iya, akan dilanjutkan,… review terus ne chingu…..
Flamintsqueen : ne chingu, Kris jahat #plak Kris : itu kan tuntutan FF, lirik sisca sisca : lalalalala *pura-pura gak lihat. Kai : Ampun, peran ku kok gak enak banget ya? Dipaksa-paksa mulu deh….. sisca : deathglare Kai. Kai : -_-
Ichigo song : hehehehe mian chigu, saya juga lagi galau jadi FFnya tambah gualau hehehehehe
TheAKTF : hahahaha pairnya belum ditentukan chingu tapi ini nanti lebih ke Kai centric hehehehe pair akhir masih mencari-cari hehehehe tapi tetap ada moment Hunkai, Kriskai, Chankai nanti hehehe….. yang memperkosa Baekhyun ya? Ehmmmm gimana kalau sisca bilang itu sisca #plak… Baek : Males banget kamu grepe-grepe Sisca : -_-
: hehehe iya chingu ini sudah dilanjut kok hehehe terus review ne…..
Sayakanoeicinoe : ne chingu sudah dilanjutkan, review terus ne chingu hehehehehehhee
Ayuluhanie : hmmmmm yang memperkosa Baek itu siapa ya? Baek : ini kenapa nasibku sama malangnya sama si item yak? Kai : apa? *muka galak Baek : Kagak *siul-siul liatin atap.
Yunkai : heheheheh iya pukul aja kepala Yifan sampai benjol ! go go go Yifan : Deathglare sisca, Sisca pundung di pojokan. Baekhyun koma soalnya mencoba bunuh diri dengan motong nadinya chingu….. Baek : peranku T-T
Putri, Linda, bela, nin : ne chingu sudah dilanjutkan ini sekarang ehehehehheehe
: hehehe mian chingu, niatnya bikin twoshoot or threeshoot jadi alurnya cepet tapi kayaknya jadi chapter deh ini akhirnya hehehehehe
Misaki Yumi : hehehe pairnya belum ditentukan chingu, ditunggu ne…
G124 : iya miris-miris. Tenang bukan sehun aja yang peduli, sisca juga peduli kok #plak Kai : Nasibku T-T, Sehun :thudah jangan thedih, thehun dithini….. sisca :-_-
Chapter 3
Pagi telah menjelang, Jongin segera bangun dari posisi tidur tidak nyamannya di sofa dalam kamar rawat Baekhyun. Ia menyingkirkan mantel yang menyelimutinya. Meski ragu, ia yakin Sehun yang meminjamkan mantel untuk menghangatkan tubuhnya. Ia membasuh wajahnya dalam kamar mandi yang tersedia didalam ruang rawat Baekhyun.
Baekhyun masih betah dalam posisi tidur nyaman di ranjangnya. Jongin mendudukan dirinya di samping ranjang Baekhyun dan menggenggam tangannya.
'Kau tak ingin bangun Hyung?' lirih Jongin
'Apa disana lebih menyenangkan dibanding menemaniku disini Hyung?'
'Aku takut, sangat takut'
'Kumohon bangunlah Hyung, aku merindukanmu.' Jongin hanya mengucapkan kata-kata tersebut dalam batinnya. Ia menangis dalam hati.
Ia sudah berjanji tak akan ada lagi air mata yang menetes. Ia lelah. Sangat lelah.
Setelah itu Jongin segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruang rawat Baekhyun. Ia menuju ke rumahnya dan segera membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan kemeja berwarna biru dan segera menyambar jaketnya yang berwarna hitam dan menuju ke sekolahnya.
Ia sudah memutuskan akan menjaga Baekhyun dan mencari pekerjaan. Ia merelakan pendidikan dan beasiswanya demi menjaga Baekhyun. Jongin sampai di depan ruang kepala sekolahnya, ia sudah memantapkan hati.
"Mianhae seonsangnim, saya harus menjaga hyung saya."
" Tapi apa kau yakin Jongin? Ini sudah tahun keduamu." Tanya kepala sekolah
" Mianhae seonsangnim. Aku tetap memilih mundur dari sini, hyungku membutuhkanku." Ujar Jongin sopan.
"Baiklah." Semoga kau mendapatkan yang terbaik.
"Kamsahamnida" Jongin membungkukan badan ke kepala sekolah dan segera meninggalkan ruang kepala sekolah. Ia menyempatkan diri melewati kelasnya. Ah mantan kelas lebih tepatnya, karena mulai esok ia tak akan lagi meninjaka kaki dalam ruang sempit yang mengurungnya dengan berbagai rumus dan pengetahuan selama 10 jam setiap hari. Ia akan merindukan masa itu. Ia menatap Han seonsangnim yang sedang memberi penjelasan mengenai fisika di depan kelas kepada teman sekelasnya. Ia melihat bangkunya kosong. Ia akan merindukan bangku keras itu suatu hari nanti.
Jongin tak ingin berlama-lama mengingat masa yang akan dirindukan nantinya. Ia segera melangkahkan kaki menjauhi gerbang sekolah menuju rumah sakit tempat Baekhyun dirawat. Sementara itu di ruang kelas lain, nampak Yifan duduk gelisah melihat jam dinding yang tak kunjung menunjukan waktu istirahat.
Chnyeol yang berada di belakang bangku Yifan menyadari gerak gelisah sang sahabat. Namun ia enggan untuk bertanya, ia masih ingat peristiwa saat Yifan menyeret Jongin di kamar hotel. Separuh hatinya tak rela Jongin diperlakukan seperti itu oleh Yifan, namun separuh hatinya terlalu gengsi untuk mengakuinya karena selama ini dirinya juga menghina dan menganggap Jongin sebagai pelacur.
Jam dinding menunjukan waktu istirahat yang disusul dengan dering alarm sekolah yang berbunyi nyaring bak lantunan melodi bagi seluruh siswa high school tersebut. Yifan segera menutup buku yang ada di mejanya tanpa memasukan ke dalam tasnya. Ia segera berlari menuju kelas Jongin. Chanyeol mengikuti dari belakangnya karena penasaran akan Yifan yang nampak sangat terburu-buru.
Yifan telah sampai di kelas Jongin. Nampak murid kelas Jongin berbisik-bisik melihat kedatangan Yifan yang tidak biasa ke ruang kelas tersebut. Sehun melihat Yifan datar. Ia yakin Yifan mencari Jongin karena sedari tadi pandangannya mengarah ke seluruh penjuru kelas.
"Dimana Jongin?" tanya Yifan pada seorang gadis yang duduk di depan.
" Mianhae sunbae, saya tidak tahu. Jongin tidak masuk hari ini." Ujar gdis itu sedikit takut melihat tatapan mata Yifan yang sama sekali tidak bersahabat.
Setelahnya Yifan segera meninggalkan kelas Jongin tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sehun masih menatap datar Yifan. Ia bergelut dengan pikirannya sendiri.
'Untuk apa Yifan mencari Jongin?' Sehun bertanya-tanya dalam hati.
Yifan nampak mendengus kasar. Ia sedikit frustasi tak menemukan Jongin sedari kemarin. Ia berniat akan menunggu Jongin di depan rumahnya sepulang sekolah. Luhan memandang aneh kedua temannya hari nampak sangat berbeda. Si berisik Chanyeol nampak sangat diam sedingin es dan Yifan nampak gelisah sedari tadi. Hal ini membuat mood Luhan untuk mengacau menghilang begitu saja karena partner in crimenya tak dapat diharapkan saat ini.
Karea merasa jengah dengan kondisi kedua temannya ini, Luhan akhirnya buka suara.
" Ya! Tiang listrik berjalan kalian kenapa eoh?" tanya Luhan jengan dengan keduanya.
"Ck…" Yifan hanya mendecak tak menjawab.
" Ya ! katakan apa yang terjadi Dobi!" Ujar Luhan menoleh pada Chanyeol.
" Kau tanyakan sendiri padanya." Ujar Chanyeol meninggalkan Yifan dan Luhan di kelas.
Yifan tetap bungkam, pikirannya kalut menerka-nerka keberadaan Jongin saat ini. Sementara itu Luhan yang jengah segera meninggalkan kelas, ia membuka blazer dan mengendorkan dasinya. Tak lama setelahnya ia mengambil sebatang rokok dari sakunya.
" Dilarang merokok di sekolah." Seseorang mengambil rokok yang di pegang Luhan dan membuangnya ke tempat sampah.
" Apa maumu?" tanya Luhan ketus.
" Aku? Aku tak ingin apapun. Hanya mengingatkan." Ujar orang itu tenang.
" Aish, jangan kau pikir aku menyetujui ini berarti kau bebas bertindak terhadapku." Ujar lihan dingin.
"Aku juga malas dengan orang sepertimu." Ujar orang itu.
" Ck." Luhan segera berjalan meninggalkan tempat itu.
" Kita boneka. Nasib kita sama." Ujar orang itu datar membuat Luhan menghentikan langkahnya.
" Aku tahu Sehun-ssi dan tolong berpura-puralah tidak mengenalku selama di sekolah. Biarkan aku menjadi boneka cukup di rumah saja. Tidak untuk disini. Aku lelah." Ujar Luhan nampak frustasi.
" Arra." Ujar laku-laki itu, Sehun datar. Ia membiarkan Luhan melanjutkan langkahnya meninggalkan sehun sendirian di koridor sekolah yang nampak sepi karena bel tanda masuk telah berbunyi beberapa saat yang lalu.
'Aku juga bosan' ujar Sehun dalam hatinya. Ia segera beranjak menuju ruang kelasnya sambil memasang wajah datar dan dinginnya.
Jongin sampai di ruang rawat Baekhyun. Nampak Baekhyun yang masih betah menutup matanya enggan untuk menatap dunia. Jongin mendudukan dirinya di sofa ruang rawat itu. Ia tak lagi memikirkan biaya rumah sakit karena saat ia menuju ruang administrasi untuk mengajukan penangguhan tanpa ia tahu biaya perawatan Baekhyun telah di lunasi seluruhnya oleh seseirang. Entah siapa, tapi Jongin yakin Sehun orangnya karena tak ada satupun orang selain dirinya dan Sehun yang tahu Baekhyun di rawat di rumah sakit.
Jongin masih bergelut dengan pikirannya. Ia tak ingin berbicara apapun saat ini karena ia yakin bahwa ia akan menangis lagi ketika ia berbicara. Kemudian ia segera beranjak dari ruang rawat Baekhyun. Ia melangkahkan kakinya menuju halte bis yang akan membawanya ke tempat teman lama Baekhyun.
Setelah bis tiba ia segera masuk dan mendudukan dirinya di salah satu kursi dekat jendela. Tiga puluh menit kemudia ia telah sampai di halte dekat dengan tujuannya kemudian ia melangkahnkan kakinya ke dalam sebuah kafe.
"Bisakah aku bertemu dengan Suho?" tanya jongin ketika dihampiri seorang pelayan kafe.
" Kalau boleh tahu nama tuan?"
" Jongin atau Kai, bilang pada Suho hyung aku mencarinya." Ujar Jongin pelan.
" Baiklah, tunggu sebentar." Ujar pelayan itu.
Tak lama setelahnya seorang pemuda berkulit putih menuju ke meja temapat Jongin duduk.
" Astaga, apa yang membawamu sampai kemari Kai?" Ujar pria itu, Suho.
Jongin menceritakan segala yang terjadi pada Baekhyun, namun ia tak menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.
" Hyung kumohon, pekerjakan aku disini.: Ujar Jongin ia ingin mengundurkan diri dari Bar tempatnya bekerja saat ini.
" Baiklah bia menjadi salah satu pelayan disini, tapi aku rasa kau sebaiknya meneruskan pendidikanmu Kai. Soal keuangan biar hyung yang mengurusnya." Ujar Suho serius.
" Ani Hyung, biarkan aku bekerja, aku ingin menjaga Baekhyun sekaligus bekerja untuknya. Jebal Hyung." Ujar Jongin.
" Baiklah." Ujar Suho pasrah.
" Gomawo Hyung." Ujar Jongin.
Suho sudah mengenal keluarga Baekhyun sedari mereka Junior High School. Saat itu Jongin selalu meminta orang lain memanggilnya Kai. Namun sejak kematian orang tua Baekhyun Jongin tidak pernah lagi memakai nama Kai karena Bibinya sangat tidak suka Jongin memakai nama lain.
" Biarkan orang lain menerimamu apa adanya, menerima namamu, dirimu, kekuranganmu, dan kelebihanmu." Ujar bibi Jongin saat itu, kalimat yang selalu Jongin ingat sampai saat ini.
"Baiklah sekarang pulanglah ke rumah. Besok pagi kembalilah kesini." Ujar Suho.
" Arraso Hyung." Jongin meninggalkan kafe, Suho memandang sendu punggung Jongin yang menjauh.
" Hah…." Suho menghela nafasnya.
Jongin segera menuju halted an memasuki bis yang akan membawanya ke rumah tempat tinggalnya dan Baekhyun. Ketika sampai di rumah ia segera mengambil bebrapa potong baju dan keperluan selama menginap di rumah sakit. Setelahnya Jongin segera menuju ke halte bis untuk pergi ke rumah sakit. Tepat saat Jongin memasuki bis, mobil Yifan melaju pelan menuju ke arahnya.
Sementara itu di sekolah, Sehun nampak berjalan pelan. Kelas telah berakhir, namun ia masih di taman belakang sekolah. Ia segera menuju ke sebuah bangku tempat seseorang tengan tidur menutup matanya. Segera ia menarik tangan orang tersebut.
" Kau!..."
TBC
