Jesica mengambil selembar kain dan memerasnya dalam baskom. Baekhyun duduk di tepi ranjang mengamati hal yang dilakukan pengasuhnya.
"Aku berharap Chanyeol menikahimu"
"Aku? Tapi mengapa?" Baekhyun teringat kata kata Luhan dan menatap Jesica.
"Karena kau adalah seorang putra carrier dari Sang Ratu, tak peduli apa pun hubunganmu dengan sang heretic serta istrinya" Jessica merujuk pada Hyunbin dan Istrinya, Naeun yang membuat dewa dewa murka. Nama mereka tidak pernah disebut lagi di kerajaan Jumong. Mereka lebih di kenal dengan para heretic. Baekhyun tidak paham artinya namun ia tahu jika itu adalah sesuatu yang buruk.
Baekhyun membayangkan Chanyeol menatap padanya dan memintanya menjadi istrinya. Rasa hangat langsung merayap ke sekujur tubuh Baekhyun. Jessica melanjutkan ucapannya.
"Ibumu tentu berharap akan melihatmu menikahi seorang raja"
"Dan bagaimana jika aku tidak menikahi seorang Raja?"
'Selain itu, bagaimana jika Chanyeol tidak mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan' Lanjut Baekhyun dalam hati.
"Kau akan menjadi pendeta. Tapi, kau sudah pergi ke kuil Amun setiap hari, dan melihat bagaimana kehidupan para pendeta" Kata Jessica memperingatkan, lalu member isyarat pada Baekhyun agar berdiri.
"Tidak akan ada lagi kuda atau kereta"
Baekhyun mengangkat lengan ketika Jessica melepaskan pakaiannya.
"Bahkan saat aku menjadi Pendeta Agung?" Tanya Baekhyun.
Jessica tertawa.
"Apakah kau sudah merencanakan kematian Taeyeon sehingga kau ingin menjadi pendeta agung di Kuil Amun?"
Wajah Baekhyun merona.
"Tentu saja tidak!" Sangkalnya.
"Usiamu sudah tiga belas tahun. Hampir empat belas. Sudah saatnya kau menemtukan posisimu di istana"
"Mengapa semua orang terus mengatakan hal itu padaku?"
"Karena penobatan sang penguasa mengubah segalanya"
Baekhyun memakai pakaian yang di sodorkan Jessica padanya.
"Kau sangat cantik"
"Aku pria!"
"Tentu saja. Tapi kau cantik"
"Tapi tidak secantik Seulgi"
"Kau lebih cantik dari wanita dan carrier manapun di istana ini"
Baekhyun memutar bola matanya malas, lalu memalingkan wajahnya.
"Kau tidak perlu berpura pura. Aku tahu aku tidak sebanding dengan Seulgi—"
"Seulgi tiga tahun lebih tua darimu. Dalam dua sampai tiga tahun kau akan tumbuh menjadi Carrier dewasa dan tubuhmu akan berkembang"
"Jongin bilang tubuhku tidak akan berkembang. Dia bilang saat aku berusia dua puluh tinggiku tidak akan lebih dari orang orang cebol"
Jessica mendelik marah.
"Memangnya apa yang Jongin tahu tentang orang orang cebol? Kau akan setinggi dan secantik Dewi isis nanti. Dan kalau pun kau tidak setiunggi sang Dewi, paling tidak kau akan secantik dirinya. Apakah ada Carrier lain yang memiliki mata seperti mata milikmu? Kedua mata yang sama indahnya dengan mata ibumu. Selain itu kau memiliki senyum milik bibimu"
"Aku tidak mirip bibiku sama sekali" Kata Baekhyun marah.
Tapi Jessica di besarkan di lingkungan istana Naeun dan Dranir Hyunbin, sehingga ia tahu kalau itu memang benar.
"Aku tidak mirip bibiku sama sekali" Baekhyun berujar lirih, mengulang kalimatnya. Jessica mengangkat alisnya.
"Bibimu mungkin seorang penganut sesat, seorang Heretic. Namun, tak ada seorang pun yang pernah menginjakkan kakinya di Jumong mampu menyaingi kecantikannya"
Baekhyun membayangkan wajah yang memiliki kecantikan melebihi kecantikan Taeyeon, tetapi ia gagal. Diam diam Baekhun berharap ada gambar Naeun yang tersisa di Jumong.
Setiap pagi selama tujuh tahun terakhir Baekhyun selalu berjalan dari kamar ke halaman istana, dan mengunjungi Kuil kecil Amun di samping istana. Chanyeol dan Jongin selalu mengajaknya berlomba menuju kelas di luar kuil, namun upacara penobatan kemarin merubah segalanya. Chanyeol telah pergi, dan Jongin merasa terlalu malu untuk berlomba lari. Ia akan berkata
'Aku sudah terlalu tua untuk melakukan hal itu'
Ketika Jessica muncul dari pintu ruang pakaian dengan membawa kotak di kedua tangannya, Baekhyun berdiri dan Jessica melilitkan sabuk di celana Baekhyun. Jessica mengambil krim myrtle dan mengoleskannya pada wajah Baekhyun agar tetap lembab di musim panas ini.
"Berhentilah memasang wajah seperti itu" Kata Jessica.
"Wajah apa?"
"Wajah seperrti Bes"
Baekhyun menahan senyumnya. Bes adalah dewa cebol yang melindungi manusia saat melahirkan. Seringai seramnya menghalangi Anubis sehingga sang Dewa kematian tidak akan menyeret bayi yang baru lahir ke alam baka.
"Aku tidak tahu alasanmu merajuk seperti itu" Kata Jessica.
"Kau takkan sendirian. Edduba penuh dengan anak anak lain"
"Dan mereka bersikap baik padaku hanya karena Chanyeol. Chanyeol dan Jongin-lah sahabat sejatiku. Tak ada anak lain yang mau diajak berburu atau memancing bersamaku"
"Seharusnya kau senang Jongin masih ada di Edduba"
"Untuk sementara" Baekhyun mengambil tas sekolahnya dengan enggan. Dan ketika Baekhyun akan keluar dari kamar, Jessica berkata.
"Merengut seperti Bes hanya akan membuat Jongin pergi lebih cepat"
Baekhyun terus saja berjalan, tidak ingin berkelekar. Baekhyun mengambil jalan terjauh untuk menuju ke Edduba, melalui jalan setapak sebelah timur istana. Sepanjang jalan terlihat bentuk bentuk sabit dari kuil kuil dan barak-barak yang memisahkan Belakang Istana dengan kota di bawahnya.
Baekhyun sering mendengar istana di ibaratkan dengan Mutiara, terlindung sempurna di dalam cangkangnya. Di satu sisi terdapat tebing tebing, sementara di sisi lain terdapat danau yang cantik. Begitu Baekhyun tiba di tepi danau, ia mendekatkan wajahnya ke permukaan air untuk mengintip pantulan wajahnya.
'Aku sama sekali tidak mirip Bes' Pikirnya.
'Pertama, hidung Bes jauh lebih besar dari milliku' Baekhyun membuat seringai Bes, dan seseorang di belakang Baekhyun tertawa.
"Apakah kau sedang mengagumi gigi gigimu?" Jongin bertanya.
"Wajah apa itu?" Tanyanya lagi.
Baekhyun menatap Jongin dengan kesal.
"Bibi Jessica bilang wajahmu mirip Bes"
Jongin melangkah mundur dan mengamati wajah Baekhyun. Kemudian berpose berpikir.
"Ya, aku bisa melihat kemiripannya. Kalian berdua membunyai pipi yang tembam, dan kau memang pendek"
"Hentikan!" Kata Baekhyun sambil menghentakkan kakinya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju kelas.
"Jadi, apakah bibi Jessica memberitahumu tentang berita tadi malam? Mungkin Chanyeol akan menikahi Seulgi"
Baekhyun memalingkan wajah, tidak mengatakan apa pun. Keheningan melanda mereka. Kemudian Baekhyun menghela nafas.
"Jika Chanyeol hendak menikah, mengapa bukan dia yang mengatakannya langsung pada kita" Kata Baekhyun akhirnya berkata.
"Mungkin Chanyeol sedang bimbang. Lagi pula, pada akhirnya Dranir Gyujin-lah yang memutuskan"
"Tapi wanita itu tidak cocok untuk Chanyeol! Dia tidak berburu, atau berenang, atau bermain senet. Dia bahkan tidak bisa membaca tulisan Goguryeo"
Guru Lee melotot saat mereka mendekati halaman, dan Jongin berbisik.
"Bersiap siaplah!"
"Bagus sekali kalian mau bergabung bersama kami!" Guru Lee berseru. Dua ratus wajah menoleh ke arah Baekhyun dan Jongin, kemudian Guru Lee mencambuk Jongin dengan tongkatnya di bagian belakang kakinya.
"Ayo masuk barisan" Katanya galak.
"Aku berani bertaruh Chanyeol sedang duduk di Balairung sidang" Kata Baekhyun.
"Aku tidak yakin. Setidaknya dia aman dari guru Lee"
Baekhyun mencibir. Kemudian tujuh pendeta datang dan memulai menyanyikan himne Amun.
Terpujilah engkau, Amun-Ra. Penguasa dari segala takhta di bumi, keberadaan tertua, surga kuno, pendukung semua perkara.
Dewa tertinggi, penguasa kebenaran, pembuat segala yang ada di atas dan di bawah.
Terpujilah engkau.
Ketika asap dupa mengepul memenuhi ruangan, seorang murid terbatuk. Guru Lee berbalik dan memelototinya. Baekhyun menyikut Jongin, membentuk mulutnya menjadi seringai marah dan meniru wajah Guru Lee. Jongin tertawa keras. Guru Lee membalik tubuhnya lagi.
"Jongin dan Pangeran Baekhyun!" bentaknya.
Jongin memelototi Baekhyun. Baekhyun hanya terkikik. Kemudian mereka berdua keluar dari kuil.
"Aku tidak mengerti kenapa para pendeta tidak melarang kita keluar" Jongin berkata.
"Karena kita bangsawan" Baekhyun tersenyum lebar.
"Kau yang bangsawan. Aku hanya anak laki laki dari seorang prajurit"
"Maksudmu anak laki laki seorang jendral?"
"Tetap saja, aku tidak sama denganmu. Aku tidak memiliki kamar di istana dan pelayan pribadi. Aku harus lebih berhati hati dengan perilaku ku"
"Tapi, akui saja kalau aku lucu tadi" Baekhyun bersikeras.
"Sedikit. Jadi, menurutmu apa yang akan kita pelajari hari ini?"
"Mungkin huruf Goguryeo"
Jongin menghela nafas dengan berat.
"Aku tidak sanggup menyampaikan laporan buruk pada ayahku"
"Duduklah di matras di sampingku, aku akan menulisnya besar besar sehingga kau bisa menyalinnya" Baekhyun berjanji.
Di dalam kelas, guru berdiri di depan kelas ketika para murid sibuk berteriak dan bermain main. Namun begitu Seulgi masuk ke ruangan, semua orang langsung terdiam. Ia bergerak melewati para murid dan mereka langsung membuka jalan seolah sesosok tangan raksasa mendorong mereka ke samping. Seulgi duduk di seberang Baekhyun, melipat kaki panjangnya di matras bulu seperti biasa.
"Berhentilah mengamatinya" Guru Choi bicara.
"Ambil tinta masing masing. Hari ini kita akan menerjemahkan surat Dranir Goguryeo kepada Firaun Gyujin"
Baekhyun mengeluarkan beberapa pena bulu dan tinta dari tas. Ketika lembar papirus kosong di disodorkan, Baekhyun memilih kertas yang paling halus dari tumpukan tersebut.
"Pangeran Baekhyun?" Guru Choi memanggil.
"Ya?"
Kemudian Guru Choi mendekati tempat Baekhyun, kemudian berkata.
"Di dalam suratnya nama ibumu disebut, apa kau tidak keberatan?" tanyanya.
Baekhyun tersenyum sedih.
"Tidak apa"
Mereka mulai mengerjakan suratnya ketika Guru Choi memberi aba-aba. Baekhyun menepati janjinya untuk menulis pekerjaannya dengan huruf besar-besar agar Jongin bisa menyalinnya. Beberapa menit kemudian Guru Choi berpamitan pada muridnya untuk mengambil perkamen lainnya yang akan mereka pelajari hari ini, jadi ia menyuruh muridnya mengerjakan tugasnya dengan tenang.
Setelah seuara langkah kaki Guru Choi menghilang di lorong, para siswa bergermbul di tempat Baekhyun.
"Baekhyun, aku tidak mengerti bagian ini"
"Bagaimana dengan baris yang ini?"
"Apa kalimatku ini benar?"
"Aku tidak mengerti apa yang tertulis di paragraf ini"
Baekhyun menjawab semua pertanyaan itu sampai tak sengaja matanya melihat Seulgi yang bahkan belum menyelesaikan baris pertamanya.
"Apa kau butuh bantuan?" kata Baekhyun.
"Tidak. Aku tidak akan membutuhkannya lagi setelah aku menikah dengan Chanyeol"
"Kau benar" Sahut seseorang di ambang pintu. Pendeta Agung Isis—Taeyeon, berdiri di ambang pintu.
"Dimana Guru Choi?" tanyanya angkuh.
Tidak ada yang menjawab. Taeyeon menaikkan sebelah alisnya, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Seulgi, kau tidak harus belajar disini lagi. Kau akan menikah dengan Chanyeol, jadi yang perlu kau lakukan hanya mempersiapkan pernikahanmu"
"Ya. Aku juga muak berada disini. Bau tinta membuatku ingin muntah"
"Ada apa ini?" Guru Choi datang dengan membawa setumpuk perkamen.
"Oh, Sang Pendeta Agung Isis? Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"Aku inging menjemput Seulgi untuk menyiapkan pernikahannya. Dia tidak perlu belajar di sini lagi bukan?"
"Ya, tentu saja"
Taeyeon melirik sinis Baekhyun yang hanya diam.
"Sebaiknya kau mengajari murid Hereticmu dengan benar Guru Choi" kata Taeyeon dengan menatap Baekhyun.
"Kau tidak seharusnya bicara seperi itu pada Pangeran!" bentak Jongin.
"Kim Jongin, Putra Jendral besar, kau harus menjaga sikapmu jika kau dan keluargamu masih ingin tinggal di kerajaan ini"
Jongin sudah akan membentak Taeyeon lagi, tapi Baekhyun menarik lengannya menyuruhnya diam. Baekhyun tidak ingin Jongin mendapat masalah karena membelanya. Taeyeon dan Seulgi melenggang pergi meninggalkan area belajar.
"Kumpulkan pekerjaan kalian" Guru Choi menginterupsi.
.
.
.
Baekhyun tidak pergi ke sekolah selama tiga hari karena sakit. Hal itu membuatnya harus mengerjakan banyak perkamen dan ia harus mengumpulkannya hari ini pada Guru Lee.
Baekhyun berjalan kesusahan di pinggir danau sambil memeluk perkamen yang tingginya sampai di bawah matanya. Sampai seorang anak berlari-lari dan menabraknya, membuat perkamen di tangannya jatuh berceceran.
Anak itu melenggang pergi setelah mengatakan maaf. Baekhyun berjongkok memunguti Perkamen dan mengumpulkannya.
"Ini—" seseorang menyodorkan beberapa perkamen yang jatu jauh darinya.
"Aku mencarimu di Eduba, tapi aku tidak menemukanmu. Kenapa kau tidak masuk sekolah?" kata pria yang membantu Baekhyun memungut perkamen miliknya—Chanyeol.
"Apa aku harus memberitahumu?"
"Tentu saja"
"Kenapa harus?"
"Karena kau sahabatku" kata Chanyeol.
"Apa ada seorang sahabat yang akan menikah tapi tidak mengatakannya pada sahabatnya?" tanya Baekhyun sinis.
"Maafkan aku, aku berniat memberitahumu, tapi kau tidak datang di Edduba. Aku mendengar beberapa pelayan kalau kau sedang sakit. Apa kau baik-baik saja?"
"Ya" jawab Baekhyun. "Jadi, apa kau benar-benar akan menikahi Seulgi?"
Baekhyun menahan nafas sambil menunggu jawaban yang akan diberikan Chanyeol.
"Ya, begitulah. Pestanya akan di adakan minggu depan" jawabnya acuh.
Baekhyun membentuk huruf 'O' dengan mulutnya. Dia tidak bisa mengeluarkan suara karena sesak di dadanya.
Mereka berdua dikejutkan dengan Jessica yang sedang berlari ke arah Baekhyun.
"Pangeran—Pangeran, Pangeran Baekhyun. Aku mencarimu kemana-mana. Hahh haahhh..." katanya terengah-engah.
"Ada apa, bi?" Chanyeol bertanya.
Jessica menjatuhkan keranjang yang ia bawa, kemudian memegang lengan Baekhyun.
"Dranira memindahkan kamarmu. Seulgi meminta kamarmu, dan Sang Dranira mengabulkannya" katanya.
"Apa?!" tanya Chanyeol tak percaya. Matanya berkilat marah, kemudian ia menoleh ke arah Baekhyun. Matanya kosong, air matanya jatuh. Chanyeol tahu, disana satu-satunya kenangan tentang ibunya berada.
.
.
.
TBC
Maaf sudah menelantarkan ff ini sangat lama. Ini tidak di edit karena keterbatasan waktu.
Mind to review?
With Love,
V
