Disclaimer: Eiichiro Oda

Chapter 3: Friends

~ wake up everyone, how can you sleep at the time like this ~

Gadis berambut hijau itu segera mengangkat teleponnya

"Hallo Lucci ada apa?" tanyanya ramah

"Umm… Monet apa kau melihat Robin, dia menghilang"

"Apa?! Robin hilang?" teriak Monet dengan nada cemas

"Iya dia menghilang setelah mendengar kabar kecelakaan orangtuanya, apa dia ada menghubungimu? atau dia ketempatmu?" tanya Lucci lagi

"Owh Robin yang malang, kasihan sekali dia" jawab gadis itu dengan suara melemah "tapi dia tidak menghubungiku atau ketempatku Lucci"

"Oh baiklah, jika ada kabar darinya hubungi aku ya"

"Tentu Lucci" Monet lalu menutup teleponnya dan dia tersenyum "Rasakan itu Robin... Itu akibatnya jika kau menarik perhatian orang-orang dengan kekayaan dan tampang cantikkmu"

Flashback

Robin dengan seragam SMA-nya saat itu terlihat menenteng dua kantong plastik berisi makanan ringan, dia hendak masuk kelas dan dilihatnya ada 3 orang temannya Monet, Valentine dan Paula yang membelakanginya. Robin hendak menyapa mereka tapi tak jadi saat dia mendengar

"Aku sangat membenci Robin"

Robin terdiam lalu bersembunyi di balik dinding

"Ya aku juga, kita hanya menggunakan Robin sebagai 'ATM berjalan' kita" tawa Paula, disusul yang lainnya

"Benar …, tapi sebaiknya kita besok tidak usah mengajaknya" ucap Monet

"Aku setuju Monet, aku tidak ingin dia ikut liburan kita, lagipula kita tidak butuh uangnya besok, aku juga muak melihat muka Robin yang sok kaya dan cantik itu" ucap Valentine

Robin yang dari tadi mendengarkan mereka mengobrol terus terusan meneteskan air mata "aku memang tidak punya teman" batinnya "benar kata Lucci dan Kalifa mereka hanya menginginkan uangku" Robin lalu berlari menjauhi kelas, dia hendak ke toilet untuk menangis disana, menangis sekencang-kencangnya, Robin menabrak seseorang. membuat kantong belanjanya jatuh berantakan

"Maafkan aku" Ucapnya kemudian kembali berlari meninggalkan makanannya

Pria berambut hijau itu bingung kenapa wanita itu menangis "Hey! kau kenapa" tanyanya, tapi Robin tidak mendengarnya dan hanya terus berlari "makananmu mau kau tinggalkan saja?" teriaknya lagi tapi sosok itu menghilang berbelok di koridor.

End of flashback

Di ruang makan ada Nami, Sanji, Luffy, Chopper, dan Robin

"Jadi nanti kita pergi ke kantor polisi ya" ucap Nami saat di meja makan

"Untuk apa Nami-san?" tanya Sanji heran

"Kita mau mencari keluarga Robin, dia kehilangan ingatannya" jelas Nami

"Apa? Robin-chan kehilangan ingatannya?" teriak sanji terkejut "maafkan aku Robin-chan" lanjutnya dengan tatapan sedih

"Hey kalau dia tidak menemukan keluarganya, dia tinggal sama kita saja sama kita, dia kelihatannya orang yang menyenangkan" usul Luffy

"Hey jangan menentukan hal ini semaumu! Keluarganya pasti mencemaskannya! Dan juga tanya dulu Robin apa dia mau tinggal dengan kita" ucap Nami memarahi Luffy

Kini semuanya memandang ke arah Robin meminta persetujuannya

"Jika kita tidak keluargaku dan ingatanku tidak kembali aku akan senang tinggal dengan kalian, tapi sebaiknya tidak usah, aku takut menjadi beban" jawab Robin

"Kau terjebak bersama kami karena kesalahan kami Robin, Sanji mungkin lebih tepatnya jadi kami akan menampunggmu sampai kau sembuh dan ingatanmu kembali, aku juga akan senang bisa berteman denganmu" ucap Nami meyakinkan

"Baiklah jika kalian tak keberatan, aku akan senang tinggal bersama kalian"

"Shi shi shi, dia sudah setuju, ayo bersulang untuk anggota baru" ucap Luffy sambil mengangkat gelasnya

Sanji, Robin, Nami dan Chopper juga ikut bersulang.

"Oh ya Robin, dari baju yang kau pakai saat tertabrak sepertinya kau bekerja sebagai pelayan cafe Robin" sela Nami

"Mungkin kita bisa cari tempat kerjanya, lalu kita bisa tau tempat keluarganya" usul Chopper

"Kalau begitu nanti aku dan Robin akan ke kantor polisi, dan kalian pergi ke cafe di sekitar sini dan tanyai apa ada pegawai bernama Robin kerja disana"

"Baik Nami" jawab mereka bertiga patuh

.

Nami dan Robin berjalan di trotoar dekat taman

"Jika ingatanku sudah kembali …" ucap Robin membuat Nami menolehnya "Apa kalian masih mau berteman denganku?" lanjutnya

"Kenapa kau berpikir kami tidak mau berteman denganmu?" tanya Nami "Kami tentu senang berteman terus denganmu, justru aku heran kenapa kau mau berteman dengan kami" lanjutnya "maksudku … Kau tidak lihat Luffy dan Sanji-kun tadi?" ucap Nami, dia heran kenapa Robin tahan mungkin suka dengan sikap 'aneh' mereka berdua

"Aku hanya … Merasa senang melihat pertemanan kalian, aku merasa pertemanan kalian sangatlah kuat sehingga hubungan kalian tidak terasa seperti teman saja, tapi seperti keluarga dan menjadi bagian didalamnya membuatku ikut senang" jawab Robin dengan senyumnya

"Itulah persahabatan Robin, teman sejati akan terasa seperti itu" ucap Nami, lalu dia berhenti saat melihat toko es krim "Kau mau Es krim Robin? biar aku traktir, kau mau rasa apa?" tanya Nami

"Sepertinya rasa kopi enak" jawab Robin melihat daftar menu diluar toko itu

"Kau tunggu disini sebentar aku mau beli es krim dulu" Perintah Nami seraya masuk ke toko

Saat menunggu Nami, Robin melihat anak kecil yang berjalan ke tengah jalan untuk mengambil bolanya, dan sebuah mobil hendak menabrak anak itu, Robin langsung berlari ke arah anak itu menariknya dan menjadikan dirinya sandaran untuk melindungi anak itu, tapi kepalanya terbentur dan dia pingsan luka lamanya terbuka kembali dan mengeluarkan darah. Orang-orang di sekitar menghampiri mereka. Mereka berbisik untuk segera menghubungi ambulan

"Momonsuke !" teriak seseorang yang mendekati Robin dan anak itu, anak itu langsung berdiri dan berlari menghampiri orang itu dan memeluknya

"Ayah" ucapnya gemetar, meskipun dia tidak terluka tapi kejadian tadi tentu membuatnya takut

"Robin ini eskrimnya" ucap Nami yang keluar dari took eskrim "Robin kau kemana" tamyamya saat tak melihat sosok robin, kemudian dia menghampiri kerumunan orang di dekat jalan dan menjatuhkan es krimnya saat melihat teman barunya tergeletak disana dengan kepala berdarah "Robin!" teriaknya menggoyangkan tubuh itu pelan, tapi yang dipanggil tak kunjung sadarkan diri 'Aku harus menghubungi yang lain' Nami mengambil handphonenya dan menelpon Sanji.

.

Robin membuka matanya, lalu menerjap-nerjabkannya karena silau, langit langit ruangan itu putih begitu pula dengan dindingnya dia melihat sekitarnya, dan matanya menangkap sosok pria yang duduk di samping kasurnya dan kemudia pria itu bertanya

"kau sudah sadar?"

To be continued

Thanks for read, go and see the next chapter.