80 Millionen
by Gyoulight
.
.
.
.
CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance
RATING: T
.
.
.
.
Sepulang mengantar Baekhyun untuk memperbaiki kameranya, mereka bertolak menggunakan kereta ekspress. Gerimis kembali mengguyur kota Bern yang dingin, tapi kali ini keduanya telah siap dengan pakaian hangat. Mereka pun fokus menatap ke luar jendela. Mengabsen beberapa bangunan, menikmati pepohonan lalu sampai pada Baekhyun yang mengeluarkan sandwich dari kotak bekalnya.
Chanyeol mendapatkan satu dari Baekhyun. Melahapnya lapar, tak lupa terkikik dalam hati melihat Baekhyun yang begitu lucu di matanya. Pipinya yang sedikit berisi, bibirnya yang mungil, kulitnya yang seputih susu dan matanya yang bersinar mengingatkannya pada keponakan kecilnya.
Saat makan, Baekhyun bisa nampak begitu berantakan. Sudut bibirnya akan meninggalkan sisa saus. Lalu mulutnya akan sibuk berceloteh tentang pestanya tadi malam. Baru sehari bertemu dengannya, Chanyeol tak akan percaya bahwa Baekhyun bisa bercerita banyak padanya. Padahal yang ia ingat, kemarin mereka sempat beradu argumen setelah beberapa menit bertemu.
"Saat musim semi, biasanya kami berlibur ke rumah nenek," cerita Baekhyun masih menatap ke luar jendela. Ia baru saja mengambil video pemandangan kota yang menghampar dengan ponselnya. "Kau pernah ke Yanggu?"
Chanyeol menggeleng. Matanya masih memuja, terlalu excited dengan semua cerita yang pemuda mungil itu bagi padanya.
"Cobalah untuk berkunjung ke sana sesekali." Baekhyun menyandarkan kepalanya pada jendela. Mencoba menggambar gunung dengan uap dari tiupan mulutnya. "Disana ada banyak gunung. Lingkungannya selalu membuatku tenang. Nenekku juga pintar memasak, jadi aku selalu ingin kembali ke sana."
Chanyeol menatapnya penuh senyum. "Kau bisa kembali besok."
Baekhyun menggeleng. Mendadak maniknya pudar akan kalimat itu. "Aku tidak ingin pulang─"
"Kenapa?" Chanyeol bertanya dengan hati-hati. Takut menyinggung, apalagi dianggap sebagai seseorang yang ingin mengurusi masalah orang lain. Tapi ia sama sekali tidak keberatan jika Baekhyun menolak untuk menjawab. Setidaknya ia telah berusaha untuk membangun hubungan akrab dengan lawan bicaranya.
"Aku tidak ingin bertemu mereka." Baekhyun menjawab dengan wajah yang tertekuk. Diam-diam ia memegangi hatinya yang terserang pedih. "Orang tuaku bercerai."
"Maaf─" tutur Chanyeol yang begitu menyesal karena ingin tahu. Lalu mereka pun tenggelam dalam diam. Sampai pada Baekhyun yang tenggelam dalam jernih matanya sendiri.
"Dulu ibuku bertengkar setiap hari dengan ayahku karena uang. Suatu hari ia pergi bersama seorang pria kaya. Tapi setelah semua hal yang aku lalui tanpanya, ia malah kembali merebutku dari ayah. Membuatku meninggalkan rumah dan membawaku ke dalam keluarga barunya yang ku pikir akan sempurna."
Baekhyun menggaruk hidungnya sebentar, sedangkan nafasnya mengudara mengantar uap yang dingin. Berhasil membentur atensi Chanyeol, hingga pemuda itu benar-benar menyesal karena telah mengusir riang Baekhyun pagi ini.
"Ayah tiriku mungkin seseorang yang luar biasa, tapi putranya malah tak lebih dari seorang berengsek. Lalu ayahku─" Baekhyun tersenyum getir saat melanjutkan, "entahlah, dia hanya seseorang yang menyedihkan. Ditinggal ibuku saja dia merasa dunia sudah runtuh. Dia lebih memilih mabuk dari pada mendengarku bicara."
Mata Chanyeol berkedip beberapa kali. Mendapati Baekhyun yang begitu blak-blakan soal keluarganya membuat ia mendadak ikut terserang pahit yang menguar dari diri si pemuda.
"Apa aku terlalu kasar?" tanya Baekhyun menahan air mata ketika merapikan kotak bekalnya. "Ini pertama kalinya aku menceritakan keluargaku pada orang lain."
"Dan aku tidak percaya jika rasanya bisa begitu melegakan." Pemuda itu kemudian terkikik sendiri. Merasa lucu karena air matanya berhasil jatuh tak terbendung. Pula merasa bodoh karena masih saja bisa menangis karena membicarakan keruntuhan keluarganya. Nyatanya, Baekhyun sudah berhasil melarikan diri, jadi bukankah sudah seharusnya ia melupakan banyak hal yang ia benci?
Chanyeol menyodorkannya sebotol air─mengaku tidak dapat melakukan hal yang lebih bagus selain itu. Berharap dengan tawaran kecilnya, ia bisa merubah suasana hati si pemuda brunette menjadi lebih baik. "Aku bisa pura-pura tidak tahu kalau kau mau."
Baekhyun menjemput botol itu. Membuka tutupnya tapi tidak segera meminumnya. Malah tenggelam ia ke dalam sebuah tundukan. "Chanyeol, apa kau percaya cinta?"
"Ya," jawab Chanyeol tenang. Ia hendak menerangi hazel Baekhyun yang begitu mendung. Dan kalau bisa, ia ingin mengenalkannya banyak perihal cinta. "Cinta itu sama seperti manusia. Tidak ada yang sempurna. Percaya atau tidak, orang tuamu demikian karena mereka saling mencintai."
Pupil Baekhyun melebar mendengarnya. Ia pun buru-buru membuang wajahnya. Menyembunyikan getaran aneh yang tiba-tiba bertempur dalam dadanya.
e)(o
Baekhyun mendadak tenggelam dalam keramaian. Kakinya yang kecil berusaha menyeimbangkan langkah raksasa Chanyeol di depannya. Takut tersesat, ia pun dengan sungguh-sungguh melebarkan matanya untuk mengejar punggung si tinggi. Dan Baekhyun hanya bisa menggeleng. Baru saja jam sepuluh pagi, tapi keramaian disana sudah terasa seperti sore hari di kota Seoul.
Keramaian Auntumn Festival di seberang Kapellbruecke tengah menyita atensi seluruh pengunjung. Festival itu dibuka untuk umum di tepian sungai Reuss. Tak banyak wisatawan seperti mereka yang menikmati berbagai wahana permainan dan juga berbelanja oleh-oleh.
Baekhyun yang sibuk menatap sekeliling kini lupa pada kehadiran Chanyeol yang menghilang bagai ditelan bumi. Mungkin kemarin ia bisa senang jika Chanyeol menghilang dari pandangannya, tapi sekarang Baekhyun bisa menjadi panik karena kehilangan Chanyeol di sisinya. Bukan apa-apa, hanya saja ia dalam mode tidak percaya orang asing selain Chanyeol.
Butuh beberapa menit bagi Baekhyun menembus keramaian dan berjinjit karena hendak menemukan Chanyeol. Tubuhnya yang mungil tenggelam dalam pria-pria tinggi Eropa. Mata bulan sabitnya bahkan tak bisa menemukan sosok Chanyeol dengan baik.
Celaka baginya. Ia tak akan bisa pulang tanpa Chanyeol sebagai important guide-nya. Ia lalu bersumpah menyesal karena tidak meminta nomor kontak si tinggi itu semalam.
Mencoba menyerah, Baekhyun akhirnya berbalik. Kakinya yang lelah tiba-tiba ingin segera keluar dari keramaian, lalu mendekat pada salah satu pagar wahana permainan untuk menunggu Chanyeol yang mungkin akan mencarinya. Tapi sebelum itu, tangannya kini sudah digenggam oleh si tinggi.
Baekhyun seakan bermimpi menggenggam bintang setelah tahu Chanyeol muncul di hadapannya. Senyum pemuda itu bak mentari dengan wajahnya yang begitu mempesona. Melupakan tangannya yang digenggam tanpa permisi, Baekhyun segera menghardik Chanyeol tentang ia yang tertinggal.
Merasa gemas, Chanyeol hanya terkikik sambil mengusak surai lembut Baekhyun. Tiba-tiba saja melihat Baekhyun yang merengut dapat menghangatkan hatinya yang kalut. Entahlah, mengapa ia bisa begitu tenang setelah menemukan si brunette?
"Ingin mencoba?" Chanyeol menyerahkan salah satu gun mainan di depannya pada Baekhyun. Baekhyun yang berkedip pun hanya menerima dengan senang hati.
Mereka terfokus pada kaleng-kaleng yang disusun di rak-rak hadiah. Sempat bertaruh, Chanyeol menggoda Baekhyun tak akan menang melawannya. Sedangkan Baekhyun kembali mendegus dan tak kalah cerewet menendangnya.
"Kalau kau kalah, kau harus menemaniku berkeliling Switzerland kapanpun aku mau."
Baekhyun menyernyit mendengar taruhan Chanyeol. Sedikit geli karena pemuda itu terlalu innocent untuk bertaruh dengan orang sepertinya. Lagipula bukankah tak ada ruginya ia menghabiskan banyak waktu dengan pemuda itu? Siapa sih yang tidak suka berkeliling di luar negeri?
Mendadak pengunjung festival menjadikan mereka bahan tontonan. Sedikit dari mereka mengantri untuk menunggu giliran. Dan jangan lupakan pemilik stand permainan yang berharap-harap cemas pada keduanya yang tampak berapi-api.
Tapi Baekhyun tak suka keramaian. Ia ingin menang dan segera cepat pergi dari tempat itu. "Kalau aku menang, kau harus selalu mengabulkan permintaanku," tutur Baekhyun sengit. Chanyeol pun mengiyakan taruhan darinya. Lagipula pria manly mana yang menolak taruhan?
Permainan dimulai. Chanyeol dengan sengit menembaki susunan kaleng. Mengacaukan letak target dan meruntuhkan satu piramida. Berbeda dengan Baekhyun yang terlihat tenang dan menembak dengan amat sangat hati-hati.
Tepuk tangan ramai bersorak di belakang mereka, tapi keduanya tampak tak begitu perduli. Satu persatu piramida kaleng di arena Baekhyun runtuh. Dan Chanyeol tak akan percaya bahwa ia akan kalah sebentar lagi.
Selain memotret, Baekhyun sangat suka dengan game. Di hari libur ia bisa seharian memainkan game tanpa keluar dari kamarnya yang nyaman. Dan lewat game-game yang dimainkannya, ia berubah menjadi pribadi yang selalu ingin menang dan sangat teliti.
Lalu Chanyeol hanya bisa melongo ketika pemilik stand memberikan Baekhyun hadiah paling besar di rak. Baekhyun mendapatkan boneka beruang super besar sedangkan ia hanya mendapatkan boneka jerapah yang lucu. Baekhyun pun tertawa puas lalu segera menagih taruhannya.
Chanyeol akhirnya menggendong boneka beruang besar itu di sepanjang perjalanannya, ditambah dengan boneka miliknya yang membuat Chanyeol kerepotan. Belum lagi dengan gitar yang Chanyeol selalu bawa dengannya. Dan Baekhyun benar-benar telah membuatnya menjadi jin yang mengabulkan semua permintaan.
Melirik Chanyeol yang kewalahan, Baekhyun menahan tawa di perutnya. "Kenapa kau selalu membawa gitarmu?"
"Ingin berkenalan dengannya?" goda Chanyeol membenarkan posisi gitarnya. Ia tak ingin mengeluh sekarang. Pria manly macam apa yang mengeluh pada taruhan yang sudah diterima? "Dia teman hidupku."
"Dia pasti sangat cantik," kekeh Baekhyun sedikit menepuk tas gitarnya.
"He is gentleman," koreksi Chanyeol yang otomatis menjauhkan gitarnya dari Baekhyun.
Baekhyun terkikik. Langkahnya yang mungil kini tertuju pada bangku panjang di pinggir sungai. Ia pun segera menepuk sisi kosong di sebelahnya untuk Chanyeol. Tentu pemuda itu sangat tahu, Chanyeol butuh istirahat setelah menemaninya bermain wahana berjam-jam.
Matanya yang sipit kemudian mengedar pada sungai yang tenang. Melihat kawanan angsa yang bermain air sampai menyaksikan burung-burung yang terbang tinggi di awan. Chanyeol tanpa terasa sudah duduk meregangkan otot-ototnya. Ikut menatap pemandangan indah itu sambil memeluk boneka jerapah coklat yang baru saja ia dapatkan.
"Kau tahu gunung yang ada di sana?" Baekhyun menggeleng setelah melihat kemana arah telunjuk Chanyeol mengarah. Baginya semua gunung Alpen terlihat sama. Sama-sama putih dan juga selalu indah.
"Itu Titlis Mountain. Aku ingin bermain Ski dan melewati jembatan gantungnya suatu hari." Chanyeol lantas menoleh pada Baekhyun yang ada di sebelahnya. "Mungkin aku kalah taruhan, tapi siapa tahu kau mau pergi bersamaku untuk yang satu ini."
Baekhyun membalas menatapnya antusias. Nyatanya sekalipun pemuda itu kalah taruhan, Baekhyun tetap saja senang untuk diajak berkeliling. "Kapan kau akan pergi?"
Bersandar dengan kedua tangannya, si tinggi mengadah ke langit. Menimbang banyak hal, tapi tidak mau merombak jadwal yang sudah dibuatnya. Sebut saja ia ingin hari special untuk melakukannya, dan itu bukan sekarang.
"Saat salju pertama turun?" Mata Chanyeol yang bulat kemudian mengedar pada awan. Ingin menarik gulungan putih itu jatuh ke tangan, tapi nyatanya tak pernah tergapai.
Si mungil mendadak tertawa mendengar ide bodoh guidenya. Di era modern ini ternyata masih ada seseorang seperti Chanyeol yang memaknai the first snow sebagai sesuatu yang special. "Kau pasti bercanda."
"Itu akan sangat menyenangkan," kata Chanyeol tak terima. Matanya berkedip-kedip meminta kesetaraan pemikiran. Sedangkan Baekhyun belum bisa menghentikan tawanya karena berpikir itu hanyalah hal paling bodoh yang pernah didengarnya.
"Kalau ke Seoul denganku?"
Seketika tawa Baekhyun terhenti mendengar kalimat si tinggi. Manik bulan sabitnya menyelami obsidian kembar Chanyeol yang menatapnya penuh harap. Sungguh tak ada rasa bercanda yang dikirim pemuda itu lewat telepatinya.
Tak mendengar jawaban apapun dari Baekhyun, Chanyeol pun tertunduk murung. Ia lantas menatap boneka di tangannya. Tak lupa mengelus bulunya yang halus, lalu menyentuh kedua telinga mungilnya yang berpita. "Ibuku sakit," jujurnya sedih.
Baekhyun berkedip. Angin tiba-tiba saja menerpa wajahnya yang memerah karena dingin. Membayangkan Chanyeol yang pulang meninggalkannya saja hatinya tiba-tiba terasa kosong. "Kau akan pulang?" tanyanya berubah sepi.
"Kalau kau jadi aku─" Chanyeol kembali menatap Baekhyun begitu sendu. Ia berharap si brunette memberinya solusi terbaik. Termasuk berharap untuk menahannya agar tetap berada disini. "apa yang akan kau lakukan?"
Mendengar kalimat itu, Baekhyun terdiam sebentar. Memeriksa kembali kondisi hatinya yang tiba-tiba saja dirundung sepi. Tak pernah terbesit di benaknya jika ayah atau ibunya mencarinya. Tidak pernah. Sedikit pun ia tak pernah berpikir mereka akan susah-susah mencarinya. Karena yang ada dipikiran kecilnya, mereka malah akan bahagia kalau ia menghilang, jadi mereka tidak akan berteriak satu sama lain jika saling bersisian.
"Kau harus pulang," jawab Baekhyun menyentuh jemarinya yang mendingin.
Chanyeol menatap kedua mata yang berkedip lucu itu. Mencoba mengisi kekosongan mereka dengan banyak harapan, tapi nampaknya Baekhyun benar-benar mencoba memberinya solusi terbaik. Walaupun mereka sama-sama tahu, jika mereka mungkin tidak akan bisa bertemu lagi nantinya.
"Tapi mereka akan mengurungku dan─"
"Bersyukurlah karena keluargamu masih utuh. Mereka sangat menyayangimu, Chanyeol." Baekhyun memberinya senyum terbaik. Namun di balik itu, Chanyeol sendiri sungguh tahu betapa rapuhnya hati Baekhyun akan keluarganya sendiri.
"Soal pertunanganmu─" Baekhyun lebih tertohok dengan kalimat ini. Entah mengapa, tiba-tiba hatinya dirundung pilu yang luar biasa. Ia bahkan baru menyadari bahwa ternyata selama ini ia membiarkan tunangan orang lain membawanya berkeliling. Menghabiskan waktu hanya berdua dengannya, sampai nyaris ia menyampingkan banyak hal. Bodohnya ia yang sempat berpikir ingin menahan Chanyeol disini.
"aku percaya kau bisa menyelesaikannya dengan kekuatanmu sendiri. Karena kau juga berhak untuk memilih jalan terbaik di hidupmu," sambung Baekhyun melirih. Dan benar. Ia tidak pernah punya alasan untuk menahan Chanyeol disini.
Chanyeol terdiam dalam sejuta bahasa. Pikirnya akan menyenangkan jika ia diam disini lebih lama bersama Baekhyun. Menghabiskan list perjalanan mereka yang masih panjang, mencoba banyak makanan yang belum pernah mereka cicipi, dan yang lebih penting mereka belum pernah berkunjung ke Jeneva.
"Ikutlah denganku," ajak Chanyeol yang membuat hati Baekhyun menghangat.
Hening. Hanya ada suara angin yang mengisi pendengaran keduanya. Sementara Baekhyun terus menekan rasa egoisnya yang terus meminta Chanyeol untuk tinggal lebih lama di sisinya. Karena tidak akan pernah menjadi baik jika ia menahan pemuda itu dan membiarkannya jauh dari keluarganya yang menunggu.
"Untuk gunung Titlis, aku akan berjanji. Ayo pergi bersama saat salju pertama turun," tutur Baekhyun yang disambut kedipan halus Chanyeol di depannya.
Sekali lagi Baekhyun memberinya senyum terbaik. Menerangi kegelapan di hati Chanyeol yang selama ini begitu buta akan merindu dan juga kesalahan. "Pulanglah, Chanyeol. Ibumu pasti sangat merindukanmu."
e)(o
Dua hari berselang, dan mereka masih menghabiskan waktu untuk berkeliling. Mereka seakan traveler yang selalu haus akan tempat baru. Meminimalisir penggunaan uang, mencoba banyak makanan dan bersenang-senang, sampai lupa bahwa ini adalah hari terakhir mereka membuat jejak di Swiss.
Chanyeol telah memperkenalkan banyak tempat kepada Baekhyun seperti ahli atau mungkin penduduk lokal. Entah darimana Chanyeol tahu kalau Swiss selalu punya tempat yang indah. Pemuda itu terlalu ajaib karena mengetahui banyak tempat hanya dengan bermodalkan internet dan juga map digital di ponselnya.
"Kau ingat saat kita pertama kali bertemu?" Chanyeol membuyarkan lamunan Baekhyun tentang langit malam di atas balkon hotel yang tak seindah kemarin-kemarin. Mereka memutuskan untuk tidak mengambil perjalanan pulang malam ini. Membuat Baekhyun harus menelpon pemilik home stay untuk tidak menunggunya demi mengunci pintu depan.
"Hu'um," respon Baekhyun mengangguk penuh senyum. Pandangannya kini jatuh pada Chanyeol yang bersiap dengan gitarnya. Mulai memetik beberapa senarnya dan membuat intro secara acak.
"Kopi hitam pahit, lalu kau yang menuduhku seorang penguntit," lanjutnya masih dengan suara merdu gitar sebagai latar. Ia ingin menyayikan sebuah lagu rupanya.
Baekhyun terkekeh. Memangku dagunya untuk menanti lagu yang akan dimaninkan Chanyeol di bawah sinar temaram. "Jangan mengingatkanku tentang aku yang menangis karena lensa kameraku rusak."
"As Your wish." Chanyeol menatap si brunette dengan senyumnya yang lebar. Menghindari tatapan menawan itu, Baekhyun memutuskan untuk masuk ke dalam. Menarik selimut tebal, lalu membawanya bersama sisa wine yang mendingin di atas meja.
Ich war die letzten fünf Jahre alleine.
Hab nach dem Sechser im Lotto gesucht~
Sebuah lagu mulai muncul bak kotak musik dari permainan gitar Chanyeol yang merdu. Baekhyun setia mendengarkan, meminum isi gelasnya yang merona sambil menikmati lagu asing yang dinyanyikan Chanyeol untuknya.
Baginya, Chanyeol adalah seseorang yang hanya ada satu di dunia. Tidak ada yang pernah bisa menjinakkan hatinya sebelumnya, bahkan setelah ia melewati banyak jalan dan juga miliaran manusia yang menyapanya. Yang baginya hidup ini adalah tentang mencari keuntungan, tapi dengan Chanyeol semua itu dikatakan tidak. Dan Chanyeol menyadarkannya bahwa menyelami dunia penuh masalah seorang diri tidaklah pernah menjadi menyenangkan.
Sieben Nächte die Woche zu wenig geppent.
Wie auf ner Achterbahn im Dauerflug~
Aroma wine semakin menguar indah di udara. Baekhyun bersandar pada dinding ketika tahu isi gelasnya habis. Ia memeluk erat selimut yang dibawanya, seakan mencari sebuah kehangatan. Dan Chanyeol semakin terpejam menikmati petikan gitarnya. Sesekali menatapnya yang mulai terbuai ke alam kantuk.
So weit gekommen und so viel gesehen.
So viel passiert dass wir nicht verstehen.
Ich weiß es nicht doch ich frag'es mich schon.
Wie hast du mich gefunden?
Einer von achtzig Millionen~
(80 Millionen – Max Giesinger)
e)(o
Chanyeol akhirnya menutup kotak musiknya. Menurunkan gitar kesayangannya, lalu mengusak surai Baekhyun yang ditiup angin malam. Baekhyun terbangun lalu bertepuk ringan, memuji bagaimana permainan musik dari si tinggi yang membuatnya hampir saja bermimpi terbang menembus langit.
Chanyeol menatap lekat bagaimana Baekhyun begitu bersinar di matanya. Bagaimana senyum, mata, hidung dan suara dari pemuda itu mampu membuat jantungnya selalu berdetak dalam damai. Sungguh ia tak bohong, begitu memuja ia pada sosok pemuda brunette di depannya itu.
Selalu.
"Dulu aku punya grup band saat SMA," mulai Baekhyun pamer bercerita. Mata bulan sabitnya berkedip bak bintang kejora. Kakinya yang mungil bergerak memasuki kamar. Menutup pintu balkon hingga angin tak berani masuk mengganggu. "Band Rock."
"Benarkah?" Chanyeol masih menatap Baekhyun dari ujung ranjang besar. Mengabsen gerak-gerik pemuda itu hingga membuatnya semakin berdesir.
Baekhyun mengangguk lalu berjalan ke arah nakas. Meletakkan gelas tinggi kosongnya sebarangan, sampai-sampai harus dipindahkan oleh Chanyeol ke atas meja. Alhasil Baekhyun kembali terkikik sampai ia benar-benar menjatuhkan dirinya ke atas ranjang.
"Tak heran kalau suaramu saja bisa seberisik itu," canda Chanyeol memutuskan ikut duduk di sampingnya. Baekhyun hanya tersenyum simpul, sedikit menggenggam getaran halus pada dadanya saat Chanyeol menatap lurus kedua matanya.
Tubuh mereka kembali membeku dalam waktu. Diisi hening kepala yang mulai berputar karena tegukan minum dan lelah.
"Mari ku ingatkan kau tentang pertaruhan kita beberapa hari yang lalu," tutur Baekhyun yang terlalu gugup. Ia beralih mendudukkan dirinya perlahan lalu menghadap Chanyeol dengan sejuta alasan.
"Untuk?"
Suara husky Chanyeol saat itu benar-benar membuat Baekhyun mabuk. Bayangan bagaimana pemuda tinggi itu memetik gitarnya seketika menghantam ingatannya. Membuatnya memuja, tersenyum sendiri dalam hatinya ketika melodi itu menembus angannya. "K-kita hanya memesan satu kamar."
"Lalu?" Chanyeol mendekat padanya. Membuyarkan kesadarannya akan begitu mengagumkan aroma pemuda itu di paru-parunya. Membuatnya sesak dan otomatis segera menjauh dari si tinggi.
"K-kau yang tidur di sofa," cicit Baekhyun menunduk. Menyembunyikan maniknya yang begitu lembut. Sampai Chanyeol tersenyum meraih lengannya. Membawa pemuda mungil itu ke hadapannya.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Kita─" Baekhyun bisa bersumpah ia akan meledak sebentar lagi. Matanya kalut, bibirnya bergetar dan lidahnya terlalu kelu. Lalu jantungnya berdebar bak genderang perang di dada. Entah, ia pun tak mengerti mengapa tubuhnya bisa begitu jauh dari kendalinya saat ini.
"Kau berpikir aku seorang pria?" Baekhyun menggeleng kecil. Kepalanya terus tertunduk, tak ingin menatap mata Chanyeol yang begitu menawannya.
Chanyeol terkekeh, lalu mencari dengan keras kegugupan Baekhyun yang tersembunyi. "Bukannya kau juga seorang pria?" godanya tidak main-main, sekaligus memastikan jika rasa di dalam dadanya tidak salah ketika mencari tempat bernaung.
Baekhyun tergugu. Sedangkan otaknya seakan terpecah menjadi dua bagian. Ia sama sekali tak bisa berpikir, bagaimana caranya ia mengatakan sesuatu yang salah di dalam dirinya. "Hanya lakukan saat aku mengatakannya."
Baiklah, Baekhyun sungguh tak ingin bercanda.
Chanyeol menatapnya seakan dirinya adalah sebuah lelucon. Kalimatnya dianggap angin lalu yang setara dengan kata 'selamat malam'. Begitu indah kini senyum itu membelah angannya. Lantas si tinggi semakin mendekat padanya. Menyisakan Baekhyun yang terkejut bukan main karenanya.
Chanyeol dengan sabar mengagumi Baekhyun, bagaimana ia menyentuh wajah manis bak gula itu dengan jemarinya yang kokoh. Sementara Baekhyun mundur menjauhkan wajahnya.
Baekhyun tertegun menyesap sisa aroma wine yang melekat di antara mereka. Bibir tipisnya terbuka kala ia akhirnya bisa menatap iris Chanyeol yang menyinarinya bagai rembulan. Belum mengatakan sesuatu, Chanyeol tiba-tiba mencium bibirnya singkat. Sangat singkat, sesingkat kedipan di matanya.
Baekhyun membola. "Chanyeol─"
"Ini mungkin terdengar gila, tapi aku tidak bisa berbohong kalau aku menyukaimu," lirih Chanyeol mendesau di telinganya. Nafas pemuda tinggi itu pun menyapu habis sisi wajahnya.
Baekhyun melemas. Rona merah di wajahnya memerah tak tertolong. Tubuhnya terasa panas ketika Chanyeol berhasil menangkapnya. Dan ia sungguh yakin bahwa Chanyeol mungkin tengah mabuk sepertinya.
"Chanyeol, kau─" Bergetar tubuh Baekhyun ketika ia benar-benar tersadar bahwa kini punggungnya terbaring di atas ranjang yang empuk. Tangannya yang kecil mendorong Chanyeol, hendak mencoba lepas dari kungkungannya. Tapi tubuhnya seakan terkunci, membola matanya menatap bagaimana wajah itu semakin mendekatinya.
Chanyeol kembali meraup bibir itu lembut. Memangutnya sabar bagai sentuhan kapas. Lengan Baekhyun yang bebas ia bawa menuju lehernya, menuntun pemuda itu untuk mengontrol kegugupannya.
Entahlah, bagi Chanyeol, Baekhyun begitu memabukkan malam ini. Ia bahkan tanpa berpikir, tak sempat mengindahkan bagaimana resiko atas perbuatannya. Ia tak berpikir banyak tentang, bagaimana jika Baekhyun kecewa padanya lalu tak ingin menemuinya setelah ini?
Lalu tiba pada Baekhyun yang mendorong Chanyeol kasar. Nafas pemuda itu memburu kala ia membalas tatap kepingan hitam Chanyeol yang berkabut. Jantungnya kembali merengek. Ingin segera keluar dari rongga dadanya.
Tapi tentu, semua ini salah besar.
Baekhyun beranjak dari sana, membiarkan Chanyeol yang diam mematung di posisinya. Ia memanfaatkan waktu yang tersesat itu untuk menampar Chanyeol yang berlaku tak sopan padanya.
Sorot gemetar Baekhyun berpaling pada pintu kamar yang mereka pesan, menutup mulutnya rapat. Berharap dengan begitu ia bisa menghapus jejak Chanyeol di bibirnya.
"Baek─"
Baekhyun berlari menutup pintu keras-keras. Air matanya tumpah ruah. Buraman matanya pun tak pernah menghalanginya untuk menuruni ribuan anak tangga darurat. Tak perduli dadanya sesak hingga rasanya ingin mati. Karena yang ia inginkan saat ini hanya satu,
─menjauh dari Chanyeol.
e)(o
Chanyeol tak pernah membayangkan hari terburuknya dalam sejarah liburan atau kabur dari rumah. Tidak, bahkan jika ibunya menyeretnya di hadapan banyak orang untuk pulang. Ia bisa dengan jujur mengatakan bahwa hidupnya tak pernah sekacau semalam.
Mencuri ciuman seseorang mungkin hal bodoh yang pernah ia lakukan. Ia dulu mungkin melakukannya. Bukan karena ingin atau mengharapkan ketulusan, tapi ia bermain untuk egonya sendiri. Tapi untuk Baekhyun, terasa begitu berbeda dari sebelumnya. Ia tak pernah berniat mempermainkan pemuda itu. Ia mengaguminya, dan jatuh cinta padanya.
Seolah mimpi, ingatannya semalam bagai menghujamnya ke dasar bumi. Menguburnya pada harapan akan perbaikan hubungan menyenangkan tentang ia dengan Baekhyun. Namun tentu, segala hal tidak akan pernah sesuai dengan bayangannya.
Turun dari kereta dan menggeret kopernya pagi ini adalah sesuatu yang teramat sangat menyedihkan baginya. Ia sangat ingin Baekhyun datang. Memberinya salam perpisahan yang mungkin untuk yang terakhir kalinya. Tapi begitu hayal ketika yang ditemukannya hanya bangku panjang dingin yang kosong. Suasananya pun tak kalah dingin, tidak ada seorang pun yang mengatakan selamat tinggal untuknya.
Chanyeol memutuskan untuk mengeluarkan ponselnya. Membuat beberapa panggilan untuk Baekhyun hingga panggilan keberangkatannya menggema ke seluruh penjuru. Tidak, dengan begini ia bisa saja dianggap pria berengsek yang kabur setelah mencuri sesuatu. Ia ingin berbalik lalu menemui Baekhyun di home staynya. Tapi mungkin saja hal itu sia-sia karena Baekhyun benar-benar telah membencinya sejak semalam.
Ia mungkin tak akan menemukan kembali si brunette yang tertawa renyah di sisinya, ceritanya tentang kamera dan juga segala sesuatu tentang game favoritnya. Ia juga tak akan melihat Baekhyun menangis di hadapannya. Dan ia akan mati rindu akan sosok itu.
Chanyeol kembali menarik kopernya. Menunduk dalam memasuki pintu kaca yang hendak menuntunnya naik terbang ke Seoul.
e)(o
Baekhyun mengurung dirinya semalaman di dalam kamar. Ia menangis membiarkan ponselnya berdering di kolong ranjangnya. Ia sibuk memeluk diri dan mengabaikan Mrs. Gwen yang mengetuk beberapa kali pintunya.
Baekhyun terus terbayang dengan Chanyeol semalaman. Hatinya koyak menahan seberapa sesaknya ia memikirkan kepercayaannya yang begitu besar pada si tinggi itu. Ia bersumpah, ia bukanlah orang murahan. Bagaimana mungkin Chanyeol bilang menyukainya sementara pemuda itu tak akan pernah mungkin mengusik aturan yang sudah dibuat oleh keluarganya. Chanyeol adalah tunangan orang lain, dan sudah seharusnya pemuda itu tidak melupakan statusnya.
"Baekhyun, ada sesuatu yang harus ku katakan padamu," samar-samar ia mendengar Mrs. Gwen tak menyerah berdiri di depan pintunya. Baekhyun sungguh sangat menghormati wanita itu, hanya saja dengan ia yang keluar dengan keadaan seperti ini tentu membuatnya penuh malu. Belum lagi tentang pagi tadi dengan ia yang pulang dengan mata yang sembab. "Dia datang memberimu surat."
"Kau bahkan belum makan sejak pulang. Aku tak ingin kau sakit."
Baekhyun masih diam meredam isakannya. Mengusap kembali bibirnya. Berharap rasa yang tertinggal disana segera enyah dari pikirannya. Dari jiwanya yang ikut membayang bayangan kelam yang selalu menghantuinya.
"Kau baik-baik saja? Kami harus pergi menjemput seseorang di bandara."
Baekhyun bisa melihat sebuah lipatan kertas menyusup masuk pada sela pintunya. Begitu kecil dan juga terbungkus dengan rapi pada amplop putih. Ia bisa melihat sebuah nama di pojok amplop itu. Sebuah nama yang tak ingin didengarnya. Tidak ingin ia baca di benaknya sekalipun.
From Chanyeol Park.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
