I don't own Detective Conan
All characters belong to © Gosho, Aoyama
CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) SeriesAKHIR PENANTIAN(?)
CHAPTER 3
Keputusan yang Salah
Ai's POV
Mataku berbinar dan jantungku berdegup kencang saat Kudo menjelaskan letak pusat data dan laboratorium mereka. Aku sudah tidak sabar untuk masuk ke sana dan menemukan petunjuk apapun tentang obat itu, obat warisan penelitian kedua orangtuaku. Tapi, tunggu dulu. Apa kata Kudo barusan? Obat yang kubuat? Mengembalikan kehidupan ke semula? Apakah itu artinya aku akan kembali sendiri? Suaraku tercekat, nafasku sesak. Aku sadar bahwa ini semua tidak perlu terjadi jika orangtuaku tidak mewarisi penelitian itu. Atau mungkin kalau aku tidak melanjutkannya? Entahlah, aku pikir keduanya sama-sama salah. Aku telah merenggut kebahagiaan banyak orang, termasuk kebahagiaannya bersama wanita itu.
"Jika datanya bisa kita dapatkan, tentu kau bisa membuat antidot itu bukan? Dengan demikian semuanya akan selesai dan case closed," ucap detektif itu masih dengan tersenyum puas. Pikiranku kembali melayang.
Ya, semuanya selesai. Mungkin juga itu termasuk kebersamaanku dengannya. Bodohnya aku, aku berharap bahwa detektif ini akan selalu ada melindungi bahkan mendampingiku sampai kapanpun. "Apa yang sedang kau harapkan dari orang yang kehidupannya sudah hampir kau hancurkan, Shiho? Apakah kau mengharapkan kebahagiaan bagimu dari orang yang kebahagiaannya sendiri telah kau rebut?" pikirku.
Aku membuyarkan lamunanku sendiri saat kulihat Kudo yang bingung menatapku. Kembali kupasang tatapan dinginku sambil merapatkan cardigan di tubuhku. "Ya. Ayo kita lakukan, Tuan Sherlock."
- End of Ai's POV
"Ini tidak apa-apa, hanya tergores peluru. Setelah lukanya disterilkan dan diperban dia bisa pulih kembali, tidak perlu dibawa ke RS," ucap petugas medis yang disiagakan. "Te, terima kasih banyak," ucap Kogoro.
"Ini benar-benar berbahaya, sepertinya kita memang harus pergi dari sini," Hakase setengah panik. "Ngo-ngomong-ngomong, di mana Conan dan Ai?" lanjutnya.
Wajah Kogoro sedikit berubah saat berkata lirih, "Mereka menerobos masuk ke sana."
Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut Hakase, shonen meitantei dan Kazuha yang sedaritadi menunggu di sana. Hanya rasa kaget dan khawatir sementara Heiji dan Sera hanya bisa menatap penuh harap ke arah bangunan yang kini mulai diselimuti asap tipis.
Desingan peluru dan rentetan suara tembekan terus bergema di bagian timur kompleks bangunan itu. Turun tangannya agent-agent FBI serta CIA rupanya turut mempermudah penggerebekan – mungkin lebih tepatnya penyerangan – terhadap markas organisasi itu. Kini mereka sudah hampir memasuki jantung dari organisasi itu. Sementara hanya beberapa meter dari pusat baku tembak itu, Ai dan Conan berhasil menyelinap masuk ke dalam laboratorium.
"Aku akan mencari data-data dari tumpukan dokumen ini, kau cobalah memeriksa di komputer itu," perintah Conan. Ai hanya merespon dalam diam dengan segera mengambil tempat di atas kursi yang ada di depan komputer. Panik? Ya, sepertinya itu yang Ai rasakan. Tapi kini ia merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar panik. Hawa itu, perasaan itu. Ya, mereka ada begitu dekat. "K-ku-kudo-kun...," sambil matanya yang penuh dengan ketakutan menatap ke arah pintu.
Conan melangkah mundur dan menjadikan dirinya sebagai tameng hidup bagi Ai saat pria berjubah panjang itu menyeruak masuk sambil bersuara dingin, "Welcome back...," Pria berambut panjang itu menampakkan wujudnya seraya melanjutkan kata-katanya, "...Sherry." Sebuah pistol ia todongkan kepada Conan dan Ai.
Ai tidak habis pikir bagaimana Gin bisa menemukannya di tengah baku tembak yang ada di luar. Apakah Gin terlalu mengenalnya hingga ia bisa menebak apa yang dia akan lakukan? Yang pasti, saat ini tidak banyak yang bisa ia lakukan di tengah todongan pistol itu. Apalagi kali ini bukan hanya nyawanya yang terancam, tapi juga nyawa Conan, orang yang paling tidak ia inginkan untuk pergi dari kehidupannya. "Dan salam kenal...," Gin memiringkan moncong pistolnya ke arah Conan. "...Shinichi Kudo," lanjut Gin.
Mata Conan dan Ai terbelalak saat Gin menyebutkan identitas Conan yang sebenarnya. Bagaimana Gin bisa tahu? Bukankah hanya sedikit orang yang mengetahui tentang kebenaran itu? Apakah ada pengkhianat dari kubu mereka?
"Apa kau terkejut, Shinichi?" tanya Gin. "Mungkin seharusnya aku menghabisimu dengan senjataku sendiri tanpa harus mengandalkan obat buatan wanita pengkhianat yang kini hanya mampu bersembunyi di belakangmu itu," lanjutnya. "Mudah saja menebaknya. Jika wanita itu berubah menjadi seorang gadis kecil berusia 7 tahun, bisa kupastikan hal yang sama terjadi denganmu yang meminum obat yang sama." Sorot mata Gin menatap mereka seperti seekor serigala yang siap menerkam mangsanya, sorot mata pembunuh yang begitu kejam.
"Kembalilah kepada kami, Sherry," ucap Vodka yang ada di belakang Gin. "Big Boss akan memaafkanmu jika kamu mau melanjutkan penelitian itu," sambungnya lagi. Ai hanya terdiam mendengar ucapan itu sementara Conan terus berpikir keras untuk mencari jalan keluar sambil terus men-tamengi Ai.
"Huh, untuk apa aku harus kembali jika kehancuran kalian sudah di depan mata?" ucap Ai dingin.
Gin tersenyum dingin mendengar ucapan itu seraya membalas, "Kalau kami hancur, kau juga hancur bersama kami, pengkhianat."
"FBI! Drop your weapon!" teriak Jodie dan Camel dari belakang Gin dan Vodka. Vodka yang terkejut berusaha melepaskan tembakan, tetapi sayang peluru Jodie lebih dulu menyambar tubuhnya hingga ia tersungkur. Conan yang melihat kesempatan ini berteriak kepada Ai, "Haibara, lari!" Ai lari ke arah pintu yang hanya berjarak beberapa meter di sebelah mereka. Tiga buah letusan pistol terdengar seraya rubuhnya tubuh Ai ke lantai. Sedikit asap mengepul keluar dari mulut pistol Gin. Rupanya jarak 3 meter masih terlalu jauh untuk lari dari serbuan peluru Gin. Saat Jodie hendak menembak Gin, Gin menodongkan sebuah pistol lagi dengan tangan yang satunya ke arah Jodie dan Camel. "Sudah kubilang kau akan hancur bersama kami, Sherry. Tidak ada tempat di manapun bagi pengkhianat sepertimu," ucap Gin lagi.
Conan's POV
"A-apa yang terjadi?" Aku tidak bisa berpikir jernih saat kudengar suara tembakan itu. Saat kulihat ke arah pintu, pintu itu tetap tertutup. Bukankah seharusnya pintu itu terbuka? Bukankah ia seharusnya sudah keluar dari pintu itu? Aku tersadar saat kulihat ia tergeletak di depan pintu. Darah mengalir dari tubuhnya. "Haibara!" teriakku. Aku berlari menghampirinya, ia masih bernafas. Betapa bodohnya aku! Kenapa aku berhenti melindunginya dan malah menyuruhnya berlari sendirian?
Aku melihat sesuatu menyembul di balik pinggangnya. Bentuk itu, pistol. Aku ingat akan senjata yang ia tawarkan kepadaku di awal. Aku menarik pistol itu dan menodongkannya ke arah Gin. Jodie dan Camel terkejut tetapi setelah itu tersenyum menang karena dengan begini Gin bisa mati langkah. Aku sudah tidak peduli dengan prinsipku untuk tidak akan melukai siapapun dengan senjata. Aku akan menembaknya jika ia melakukan lebih jauh lagi dengan senjata itu. Tiba-tiba sebuah langkah mendekat terdengar dari balik pintu di sampingku. Aku pikir itu sebuah bantuan hingga kusadari senyum di wajah Gin.
"Fufufu. Selamat bergabung, Vermouth." Ucap Gin sambil tersenyum. "Kau pasti mau membantuku untuk menghabisi kedua bocah itu bukan?" lanjutnya. Kulihat Vermouth masuk dari pintu itu sambil menenteng sebuah AK-47. "Bukan caraku untuk melibatkan anak berkacamata ini," jawab Vermouth dingin. "Lagipula aku sudah berhenti mengejar Sherry," lanjutnya lagi. Aku terkejut mendengar kata-kata itu. Aku berusaha untuk mengulang tiap kata yang diucapkannya dan berusaha mencari sesuatu yang salah. Pikiranku mendadak kacau saat kurasakan nyeri di tanganku dan yang kudengar setelah itu adalah rentetan suara tembakan lagi dan Gin rubuh. "Drop your weapon, Vermouth!" teriak Jodie.
Rupanya Gin menembak dengan membabi-buta dengan kedua pistolnya saat kulihat Vermouth meletakkan pistolnya dan darah – seperti yang mengalir dari tanganku – mengalir juga dari sisi perutnya. Aku hanya bisa menatapnya yang tersenyum dan seolah mendengarnya berkata, "Aku memegang janjiku 'kan, Cool Guy?"
- End of Conan's POV
"Kau tidak apa-apa, Cool Kid?" tanya Jodie.
"Tolong segera bawa dia ke RS, Jodie-sensei. Dia terus mengeluarkan darah," ucap Conan dengan wajah panik.
"Aku minta 1 unit ambulans bersiaga di gerbang, ada sipil yang terluka di sini." Jodie menghubungi lewat mic yang menempel di kerahnya. "Kau juga harus ikut, Conan. Kau terluka." Lanjut Jodie cemas.
"Aku baik-baik saja, Jodie-sensei. Ada sesuatu yang harus aku lakukan, aku titip Haibara!" teriak Conan sambil kini berlari keluar ke arah ruang pusat data.
MPD masuk dan menyelidiki sekitar ruangan laboratorium itu. "Bagaimana, Inspektur? Apakah big boss mereka tertangkap?" tanya James. "Maafkan kami, ia berhasil lolos dalam baku tembak," jawab Inspektur. "Tapi kami sedang melakukan penggeledahan di ruangannya. Anak yang bernama Sera juga ada di sana, salah satu anak buahmu bilang bahwa ia adalah bagian dari kalian," lanjut Inspektur lagi. "I-inspektur, g-ga-wat," ucap Sato saat menengok ke arah laci yang baru saja ia buka. "Ada apa?" tanya Camel. "I-ini... Bom!"
"Bagaimana dengan waktunya?" tanya James. "Ini sudah berhitung mundur, sa-satu menit lagi.." ucap Sato. "Cepat evakuasi semua pasukan dari sini! Perintahkan pasukan di tempat lain untuk memeriksa juga!" teriak Megure. Mereka pun berlari keluar dari ruang laboratorium.
Sementara di ruang komputer, Conan terus berusaha menerobos masuk ke sistem mereka. Berbagai cara ia coba lakukan bahkan dengan mengacaknya menggunakan alat yang sudah disiapkan Hakase untuk menerobos ke dalam sistem komputer. Fokusnya buyar saat pintu terbuka dan Sera berteriak memanggilnya, "Conan! Apa yang kau lakukan?! Semua tempat sudah dipasangi bom!" Conan terkejut dan matanya memandang sekeliling, berusaha menemukan tanda-tanda benda itu terpasang di ruangan itu. Matanya menatap sebuah benda kecil dengan lampu merah yang berkedip-kedip di bawah meja. Ia dan Sera kemudian berlari keluar tepat di saat bom itu meledak dan melemparkan mereka ke tanah yang berjarak sekitar 20 meter dari ruangan itu.
"Cool Kid!" teriak Jodie. "Kami baik-baik saja, Jodie-sensei," Conan berusaha bangun. "Tapi dengan begini, segala sesuatu tentang mereka lenyap," kata Sera sambil menatap ke arah api yang melalap bangunan tersebut. Raut kekesalan tampak di wajah Conan. "Sial," katanya sambil memukulkan kepalan tangannya ke tanah.
to be continued...
Hallo, readers semua! Terima kasih sudah setia menunggu dan kini membaca update terbaru dari FF ini... Terima kasih juga untuk yang sudah setia memberi review terhadap ceritanya! Awalnya author janji update max 1 minggu sekali, tapi sekarang rasanya jadi tiap 2 hari hehe.. Gapapa kan ya? Daripada membuat readers nunggu lama /kayak ada yg nungguin aja/ hehe..
Di chapter ini, author minta maaf kalau misalnya alur berasa kecepetan dan ada missing link di sana-sini. Author akan coba menjabarkan missing link itu di chapter-chapter selanjutnya. Jadi, ditunggu saja update-nya lagi! Mohon updatenya juga agar FF ini bisa jadi lebih baik yaa readers, arigatou!
