.
"Vanilla" by Kazusaki Kuga
*EXTRA*
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
'Vanilla' Belongs to me
Mayuzumi Chihiro X Kuroko Tetsuya
Happy Reading : )
.
.
.
Kuroko baru saja masuk kamarnya ketika manik baby bluenya menangkap sesuatu yang asing tergeletak di dekat kolong kasurnya. Ia pun berjalan mendekat, berjongkok, dan diambilnya sesuatu itu.
Buku agenda.
Kuroko tidak ingat pernah memiliki sebuah buku agenda berwarna coklat dengan gambar bola basket di pojok kiri bawah sampulnya seperti itu. Sedikit ragu-ragu, ia pun membuka buku itu.
Oh. Milik Mayuzumi Chihiro.
Tunggu sebentar. Ia baru saja pergi dari rumah Kuroko beberapa menit yang lalu dan sekarang barangnya yang tertinggal baru saja ditemukan. Kuroko berpikir sejenak. Haruskah ia mengantarkannya sekarang? Sekalian bisa cari tahu dimana apartemen baru sang senpai.
...
Tidak, ia masih merasa lelah karena permainannya semalam. Mungkin ia akan mengantarkannya nanti sore atau malam, karena siang ini ia sudah ada acara dengan ibunya. Berhubung tadi Mayuzumi bilang ia tidak ada jam kuliah hari ini. Jadi, tidak masalah, kan? Kuroko pun beranjak dan meletakkan buku agenda itu di mejanya, tepat di atas kertas pemberian Mayuzumi tadi yang berisi alamat apartemen barunya.
Sementara itu, beberapa menit kemudian di tempat lain, seseorang sedang mengobrak-abrik sebagian perabotan apartemennya karena mencari barang miliknya yang entah ada dimana, dan siapa sangka barang yang dicarinya sedang bertengger di meja kamar Kuroko.
.
.
.
Dengan secarik kertas di tangannya, Kuroko berjalan menyusuri beberapa deretan rumah yang asing baginya. Bertahun-tahun hidup di Tokyo ternyata tidak membuat Kuroko hafal semua daerah di kota kelahirannya ini. Hingga akhirnya, kakinya berhenti melangkah di depan sebuah gedung bertingkat.
Pemilik surai dan manik baby blue itupun melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut dan mencari satu kamar diantara puluhan kamar yang dilewatinya. Dan ia kembali berhenti melangkah di depan pintu dengan nomor 305 di sisi kanannya. Di bawah nomor itu terdapat tulisan 'Mayuzumi'.
Ditekannya tombol di atas nomor pintu itu hingga sebuah suara yang dikenalinya sebagai bel berbunyi dari arah di balik pintu. Beberapa detik kemudian, terdengar derap langkah kaki dari arah yang berlawanan dengan Kuroko mendekati pintu.
CKLEK
Pintu terbuka. Memperlihatkan si tuan rumah lengkap dengan surai dan manik keabuannya.
"Kuroko?"
"Doumo. Maaf jika aku datang tiba-tiba, Mayuzumi-kun," sapa Kuroko, emotionless seperti biasa. "Aku datang mengantar barang yang tertinggal." Kuroko mengacungkan buku coklat yang dipegangnya.
"Astaga, buku agendaku! Syukurlah kau menemukannya," balas Mayuzumi menerima buku yang disodorkan Kuroko. "Masuklah. Kalau tidak salah, aku menyimpan cake vanilla di kulkas. Anggap saja sebagai rasa terima kasihku."
Kuroko pun masuk mengikuti sang tuan rumah. Atau tuan apartemen? Sudahlah itu tak penting. Jika saja bukan cake vanilla yang ditawarkan Mayuzumi, mungkin Kuroko akan segera pamit untuk pulang, mengingat hari sudah semakin sore.
"Duduklah," pinta Mayuzumi. Sementara ia langsung berjalan menuju lorong yang diyakini Kuroko adalah jalan menuju dapur.
Kuroko mengedarkan pandangan sambil melepas mantel biru yang dikenakannya. Apartemen yang sederhana namun berkesan nyaman. Beberapa perabotan yang terletak di tempat yang sesuai terlihat agak berantakan. Dilihat dari kondisinya, sepertinya kamar ini baru saja diobrak-abrik pagi ini.
"Ah, maaf menunggu. Cake dan teh, kau tidak keberatan, kan?" ujar Mayuzumi tiba-tiba sekeluarnya ia dari dapur sambil membawa sepiring cake vanilla mini dan secangkir teh dengan uap yang masih mengepul.
Kuroko menggeleng. "Ini lebih dari cukup, Mayuzumi-kun."
"Aku belum pernah mencoba cake rasa vanilla, tapi toko kue langgananku tidak pernah kuragukan kelezatannya," komentar Mayuzumi sambil membenahi beberapa perabotan yang tertata kurang rapi tadi.
Diliputi rasa heran, Kuroko pun akhirnya bertanya. "Apa sesuatu habis terjadi disini?"
Mayuzumi menghentikan aktivitasnya sejenak. "Maksudmu?"
"Beberapa perabotan terlihat sedikit berantakan."
"Oh..." Mayuzumi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku kebingungan mencari buku agendaku pagi tadi. Dan dengan sedikit kepanikan, beginilah hasilnya." Kemudian Mayuzumi melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda tadi. "Yah, untung saja kau menemukannya."
"Mayuzumi-kun."
Mendengar namanya dipanggil, spontan Mayuzumi menoleh. "Ada apa, Kuroko? Kau suka cakenya?"
"Ya. Cake ini enak."
Mayuzumi tersenyum. Namun ia mengernyit melihat wajah Kuroko yang memperlihatkan ada kejanggalan. Terlihat sedikit jelas bahwa terdapat rona warna merah di wajah putih Kuroko.
"Kuroko?"
"Cake ini dingin, tapi entah kenapa membuatku terasa hangat."
"Hah?"
Penasaran dengan keanehan yang terjadi pada Kuroko, Mayuzumi pun menghampirinya. Diamatinya wajah si phantom Seirin itu. Mukanya memerah dan pandangannya terlihat sayu. Dialihkannya manik abu-abu Mayuzumi menghadap sepiring cake vanilla yang sudah habis setengah. Setengah ragu-ragu setengah yakin, ia mengambil garpu Kuroko dan mencicipi sepotong cake itu.
Rum. Cake ini mengandung rum rupanya. Kalau Mayuzumi tidak salah, berarti Kuroko sedang mabuk.
"Kuroko, sepertinya kau mabuk," ucap Mayuzumi.
"Ha~?"
Menghiraukan Kuroko yang tidak mendengarkan ucapannya, Mayuzumi lekas pergi ke dapur. Diambilnya segelas air putih, dan dibawanya untuk diberikan pada si remaja bersurai baby blue itu.
Dan begitu ia kembali ke tempat dimana Kuroko bertengger, Mayuzumi terbelalak. Tangan mungil Kuroko mencopoti kancing kemeja putih yang dikenakannya satu persatu. Oh, efek alkohol sudah menjalar ke tubuhnya. Padahal remaja bernomor punggung 11 di Seirin itu baru makan setengah cakenya.
"Kuroko, hentikan!" Sebelum meraih pergelangan tangan Kuroko, Mayuzumi meletakkan gelas yang dibawanya ke atas meja. "Kubawakan air putih, minumlah!"
Seolah dibutakan oleh alkohol, Kuroko menghiraukan ucapan Mayuzumi. Ia terus membuka kancing kemejanya, berharap bisa menghilangkan rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Si mahasiswa tahun pertama yang tadi menghidangkan cake vanilla untuk tamunya menelan ludah dengan susah payah ketika dada putih mulus Kuroko kini terekspos dengan jelas begitu kancing terakhir dipisahkan dari lubangnya. Tangannya kaku seketika begitu ia digoda oleh pemandangan yang dihadapkannya kini.
"Mayuzumi-kun."
Panggilan yang lebih terdengar seperti desahan itu makin membekukan Mayuzumi. Pikirannya bagai teralih meski ia sadar bahwa Kuroko kini mencoba berdiri dan bermaksud menghampiri dirinya. Bisa dilihat dari pandangan manik cyan Kuroko yang sayu tapi memikat.
Namun, siapa sangka, dalam usahanya mencoba berdiri, kaki Kuroko terantuk kaki meja dan membuatnya terjatuh. Reflek Mayuzumi yang bekerja lebih cepat pun membuatnya bergerak untuk menangkap si pelajar Seirin meskipun agak terlambat, hingga membuat keduanya sama-sama terjatuh.
PRAANG...
"Itte..."
Beruntung. Sepiring cake vanilla yang tinggal setengah yang ikut terjatuh itu tidak mengenai keduanya. Sibuk merasakan sakitnya, Mayuzumi belum sadar kejadian apa yang akan menimpanya selanjutnya. Ia bahkan tidak menyadari kalau tubuh Kuroko sedang menimpanya sekarang. Pikirannya baru tersadarkan ketika sesuatu yang lunak nan hangat menyapu bibirnya.
Bibirnya? Kedua kelereng abu-abu yang tadi terpejam kini membulat sempurna. Ternyata benar, Kuroko sedang menciumnya. Lembut, namun juga terasa penuh hasrat. Meski maniknya masih terbuka, tanpa sadar Mayuzumi menikmati lumatan bibir Kuroko. Dan andaikan mereka bukan manusia, pagutan itu pasti akan terus menempel satu sama lain.
Kebutuhan oksigen yang menipis memisahkan pagutan mereka. Dengan kedua tangannya, Kuroko menopang tubuhnya yang berada di atas Mayuzumi. Manik cyannya memperhatikan pemuda yang dua tahun lebih tua itu dengan intens.
"Vanilla?"
Mayuzumi mengerjab. Dia bilang apa? Vanilla? Oh, benar. Alumni Rakuzan yang kini sedang telentang itu teringat bahwa tadi ia sempat mencicipi cake vanilla itu. Dan kini manik abu-abunya terhenti di hadapan baby blue. Apa ketika mabuk, wajahnya juga seperti itu kemarin?
Sementara Mayuzumi masih memikirkan itu, Kuroko yang tidak memikirkan apapun kembali menyambar bibir Mayuzumi yang masih basah, membuat manik abu-abu si empu kembali melebar. Dan tanpa membuang waktu, tangan kanan Kuroko ikut menyusup ke dalam T-shirt biru Mayuzumi.
"Aaggh... Mmph..."
Dalam ciuman itu, Mayuzumi masih mampu mengerang ketika tangan Kuroko bermain nakal di salah satu tpnjolan yang sudah menegang di balik T-shirtnya. Sambil tangan yang satunya menarik kaos yang masih membalut tubuh pria bermarga Mayuzumi itu ke atas, bibir Kuroko melepas pagutan di bibir dan berpindah menyecap di leher sang senpai. Membuat tanda kemerahan disana.
"Hentikan, Kuroko!"
Melawan respon tubuhnya terhadap kenikmatan yang diberikan Kuroko-Yah, Mayuzumi mengakui demikian-tangan kanannya mencoba menggapai segelas air putih yang tadi ia letakkan di meja. Berharap dengan itu si remaja bermahkota cyan itu dapat segera sadar dari pengaruh alkohol.
Sial.
Ternyata permukaan meja itu cukup tinggi untuk diraih dengan posisi telentang. Jari-jarinya yang sempat menyentuh pinggiran gelas plastik berisi air mineral itu terus menggapai-gapai meraih pegangannya.
"Agh..."
Oh, jangan lupakan Kuroko yang tengah menikmati makanan utamanya. Ia kini mulai melahap dada bidang Mayuzumi, mangulum, menjilat, juga menggigit kedua nipple si pria beririskan keperakan itu.
Dengan tak sabaran setengah terkejut, Mayuzumi masih berusaha menarik segelas air dingin yang masih bergeming di atas meja. Hingga akhirnya, ia berhasil meraih pegangan gelas itu, namun posisinya yang tidak mendukung membuatnya gagal mempertahankan keseimbangannya pada tangan kanannya.
Alhasil, dengan gerakan slow motion, gelas itu jatuh terbalik. Bulir-bulir air yang tertarik oleh gravitasi mulai menyentuh ujung, lalu pangkal hingga kulit kepala si phantom dan akhirnya...
PYAASH...
Mayuzumi terpejam erat, menahan dingin yang mengguyur tubuhnya. Untung saja tadi ia mengambil gelas plastik, kalau tidak, mungkin tetes-tetes darah akan ikut menghiasi tubuh putihnya.
"Mayuzumi-kun?"
Kelereng abu-abu terbuka, bertemu dengan cyan. Cyan itu mengerjab. Sepertinya masih berusaha mencerna situasi yang sedang terjadi. Dan beberapa detik kemudian cyan itu melebar.
"A-apa yang sudah kulakukan?" Kuroko pun segera menurunkan T-shirt Mayuzumi agar kembali menutupi tubuh sang senpai. Tiba-tiba tubuhnya bergetar akibat rasa dingin yang tadi menyadarkannya. Dan Kuroko terbelalak melihat kemejanya yang kini terbuka lebar, tidak ada satu kancing pun yang tersambung dengan lubangnya.
Secepat kilat, Kuroko berpindah posisi dan langsung cepat-cepat menutup kancing kemejanya. Namun, sebuah tangan menghentikannya. Tangan Mayuzumi.
Mayuzumi yang sudah tidak tertindih tubuh Kuroko lagi mendudukkan diri dan menghentikan Kuroko yang akan memasangkan kancing kemejanya. "Kau mabuk," ucapnya kemudian, menjawab pertanyaan Kuroko yang belum terjawab.
"Ma-mabuk?"
"Cake yang kau makan mengandung rum dengan kadar yang tidak sedikit."
Mayuzumi beranjak, yang entah Kuroko tahu akan kemana. Kuroko menunduk berusaha menutupi wajahnya yang ia yakini kini sudah semerah tomat. Tak lama kemudian, sebuah handuk terjatuh tepat di atas kepalanya. Bersamaan dengan mendongaknya Kuroko, sebuah tangan mengusap-usap handuk tersebut, berharap dengan begitu surai baby blue Kuroko bisa kering.
"Bajumu basah. Pakai bajuku dulu." Dan tanpa meminta persetujuan Kuroko, Mayuzumi langsung melepas kemeja basah Kuroko, mengekspos kulit pucatnya. Sekaligus mempertebal semburat merah di wajah putih Kuroko.
"Su-sumimasen, Mayuzumi-kun. Aku bisa sendiri."
Namun, si mahasiswa Universitas Tokyo itu berhasil mencegah Kuroko yang berusaha merebut pakaian yang dipegang Mayuzumi. Dan beberapa detik kemudian, keduanya tenggelam dalam keheningan, masih dengan posisi yang belum berpindah.
"Biarkan aku melakukannya...pada orang yang kusukai."
Dan sederet kalimat tersebut membuat sepasang cyan di hadapan Mayuzumi melebar. Serta makin memperlebar daerah yang dipenuhi semburat-semburat merah di wajah Kuroko. Dan semburat-semburat itu berhasil menular pada wajah si penghuni apartemen.
Dan detik berikutnya, semuanya kembali hening. Mayuzumi masih sibuk memakaikan kemeja miliknya pada tubuh Kuroko. Sedang yang dipakaikan baju menunduk menatap lantai apartemen yang lebih menarik perhatiannya saat ini.
"Selesai."
Setelah satu kata itu terlontar, Mayuzumi kembali beranjak. Kuroko yang ditinggal sendirian masih mengingat-ingat ucapan Mayuzumi tadi. Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinga Kuroko layaknya radio rusak. Dan suara gesekan antara piring dan lantai yang berhasil menghentikan radio rusak tersebut.
Kuroko menoleh. Mendapati Mayuzumi yang kini tengah menyapu piring yang sudah menjelma menjadi pecahan-pecahan.
"Biar kubantu!" Kuroko beranjak dari duduknya dan melihat-lihat sekeliling, mencari kain yang mungkin bisa ia buat untuk pel.
"Kalau kau mencari pel, ada disana," tunjuk Mayuzumi pada sebuah kain yang teronggok di salah satu sudut ruangan.
Tanpa pikir panjang, Kuroko pun berjalan ke arah yang ditunjuk Mayuzumi. Sambil mengerjakan kegiatan masing-masing, tidak ada yang mau membuka percakapan, membiarkan hening kembali menyelimuti mereka. Sampai akhirnya, kedua manik Mayuzumi menangkap seulas senyum Kuroko.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Mayuzumi.
Kuroko mendongak menatap Mayuzumi sejenak. Kemudian kembali menunduk melihat lantai yang belum selesai ia bersihkan. Tanpa menghilangkan sedikitpun senyuman tipisnya.
"Tidak. Aku hanya membayangkan, apa seperti ini rasanya andai aku bisa serumah dengan Mayuzumi-kun."
Dan kini kedua manik keperakan Mayuzumi yang melebar.
"Ka-kau mau bersamaku?" tanya Mayuzumi lagi, ragu-ragu.
Belum ada jawaban dari Kuroko. Hingga menit berikutnya Kuroko beranjak berdiri dari posisi duduk bersimpuhnya. Dan kemudian menyahut bibir Mayuzumi yang lagi-lagi membuatnya terkejut.
Setelah mencuri cium dari si remaja bermahkotakan abu-abu, Kuroko memasang wajah datar andalannya demi menyembunyikan wajah malunya sekarang. Mayuzumi yang rada kesal dengan sifat Kuroko hanya menutup bibirnya yang baru saja disambar dengan punggung telapak tangannya sambil menautkan kedua alisnya.
"Ku-kuanggap itu sebagai jawaban.." ucap Mayuzumi malu-malu.
.
.
.
End
.
.
.
(A/N)
Doumo.
Silahkan tabok authornya karena berani menelantarkan fic ini. Nangis deh liat fic ini sempat terlantar T-T
Author minta maaf sepenuhnya apabila ada kekurangan dalam fic ini. Maaf juga karena endingnya keliatan dipaksain banget, Kuga cepet-cepet namatinnya sehingga nggak bisa berpikir jernih. Kuga juga nggak pintar bikin ending. :')'''''
Thank's a lot for Uchiha Ryuuki | ChiiKuro | Guest | rucichy | outofblue | avkamila | H-B | yukari0001 | kacang metal | kurakuraninja | evilfish1503 | Akira Phantomthief | Azriel1827 | Dovyqueensan | Evamaru | The Mysterious Lazy King | The Red Bloody Scissors | anclyne | ben4kevin | Ayuni Yukinojo | NamikhraKyra |
for review, fav and follownya.
Hontou ni gomennasai, author nggak bisa balas reviewnya satu persatu karena keterbatasan waktu.. T^T
Tapi author beneran ngucapin banyak-banyak terima kasih udah mampir di fic ini.. #hug
Yosh, see you minnatachi~ ^o^/
OMAKE
"Mayuzumi-kun."
"Ya?"
"Sejak kapan kau menyukaiku?"
"Sejak pertandingan final Winter Cup. Ada apa?"
"Boleh aku bertanya bagaimana kau menyukaiku?"
"Umm... waktu itu, pertandingan sedang berlangsung. Aku tahu kau terus memperhatikanku dari bench selama aku bermain. Setelah itu, aku jadi ikut diam-diam memperhatikanmu. Ketika kau memandangku dengan wajah seriusmu, aku berpikir..."
"Berpikir?"
"Tidak, mungkin lebih tepatnya membayangkannya."
"Membayangkan apa?"
"Kau menatapku begitu serius seolah-olah... seperti gadis yang ingin mendapatkan ciuman pertama dari seorang pria incarannya. Dan kupikir wajahmu waktu itu imut sekali, membuatku ingin menerkammu saat itu juga."
"Mayuzumi-kun, kau mesum."
"Ti-tidak! Kau yang membuatku begitu!"
"Mesum."
"Kau juga mesum saat mabuk!"
Dan garis-garis hitam imajinasi menghiasi punggung Kuroko.
