My Sweet Devil

By, CN Scarlet

.

.

.

.

.

Vocaloid©Yamaha Corp

Dan semua karakter yang aku pinjam untuk cerita ini.

T+

.

.

.

.

JRASH!...

Sebuah kebisingan dalam salah satu ruangan di pondokan pohon ebony tua membangunkan sosok tampan dibalik selimut sehalus sutera. Hijau terbaur biru, samar dua warna itu berkelebat dari manik azure setengah sadar, detik kemudian terbelalak. Nyaris berteriak.

Shion Kaito, nama lelaki tampan itu, baru sadar sepenuhnya kalau langit-langit itu harusnya putih. Tapi tosca? Hell, dimanakah gerangan dia yang jelas bukan kamarnya di rumah keluarga besar Shion.

"Ohayou, Kaito-kun?" suara moe itu yang terakhir ingin didengar sang Shion, yang menoleh patah-patah pada sumber suara, sang gadis berambut panjang dengan kuncir dua yang mirip telinga kelinci eropa. "Kau tertidur lama sekali."

"M-Miku?" ya, Hatsune Miku. Si iblis pencium.

"Oh ya, aku nyaris lupa! Tunggu sebentar..."

Miku menghilang dibalik rak buku, membuat waktu dua menit untuk Kaito melihat-lihat sekelilingnya. Ada dua meja kecil di sisi kiri-kanan ranjang empuk tempatnya terduduk, sebuah lemari besar di depannya, sebuah jam berbentuk rumah-rumahan dengan dua belas simbol aneh yang dia yakini angka, dan rak penuh buku.

Sampai mata Kaito kembali kesana dan Miku datang membawa semangkuk cairan kental seperti bubur. Shion itu menyernyit. Bentuknya menjijikan sekali, sekalipun aromanya seperti strawberry yang manis. "Apa itu?"

"Ah, maafkan aku." Miku mengeluarkan sebuah saputangan putih dari laci di sebelah kiri, mengibarkannya, lalu bubur aneh itu berubah seketika menjadi gundukan beku yang dikenali pria azure itu sebagai makanan favoritnya sepanjang masa.

Ice cream.

"Silahkan.." Kaito langsung menerimanya dan memakan isi mangkuk itu dengan lahap, sedangkan sang gadis duduk di depan dan memandangnya sambil tersenyum tipis. Baru pada sendok kelima, dia curiga.

"Itu ramuan penyembuh rasa lelah, terbuat dari beri-berian pulau dan beberapa bahan yang aku tak yakin kau ingin dengar selagi makan. Terasa manis dan dingin di mulut, tapi akan terasa hangat di perut setelah kau telan," jelas Miku sebelum Kaito bertanya, lelaki itu langsung menatap mangkuk dengan ragu.

Sepertinya membayangkan 'beberapa bahan' yang kemungkinan tercampur, dan itu membuat Kaito mual. Miku buru-buru menambahkan, "Melewati gerbang air untuk pertama kalinya membuat tubuhmu kekurangan banyak energi. Ramuan itu membantu mengembalikan seluruh tenagamu dalam sedetik." Dan Kaito kembali berani menyendok lagi.

Shion Kaito sudah tertidur seminggu, membuat Miku benar-benar cemas, dan gadis itu takkan bilang padanya tentang hal ini. Dia malah bertanya, "Kaito-kun sangat suka eskrim, ya?"

Dibalas anggukkan singkat, yang membuat Miku merona. Senyuman Kaito saat ini sangat menggemaskan. Persis seperti anak kecil, dengan mulut yang agak belepotan. "Terutama rasa blueberry, dengan atau tanpa topping."

"Lain kali aku akan coba buat."

"Hontou? Ariga..to.." ucap Kaito, bersemangat di awal dengan penutunan drastis di akhir kalimat. Jemari Hatsune Miku meluncur cepat, mengusap noda eskrim di sekitar bibir Kaito yang belepotan, kemudian ke mulutnya sendiri.

Membuat rona merah otomatis menjalar di pipi laki-laki berambut biru itu. Membersihkan sendiri bibirnya dengan lidah sembari menunduk, hal yang biasa dilakukan Kaito ketika gugup.

Hening menyelimuti rumah ebony itu, Miku kembali menghilang di balik rak buku untuk menyimpan mangkuk kosong bekas Kaito. Lelaki itu sekarang berdiri dan melihat-lihat apa yang berjajar di rak buku Miku. Khasiat Sayap Peri oleh McGarden, Ramuan Mujarab Berbagai Kebutuhan oleh Unknowleable, Sejarah Mitologi Dunia Peri, dan sejenisnya yang tidak pernah Kaito temukan sekalipun di perpustakaan terlengkap di Tokyo.

Sebenarnya dia dimana?

.

.

.

"Kaito-kun?"

Sapaan itu membuat Shion Kaito sedikit tersentak dari lamunannya. Miku kembali ke tempat itu dengan baju berbeda, pink berenda simpel dengan rok merah berbintik-bintik. "Jalan-jalan yuk!"

"Eh? Kemana?"

"Berkeliling. Aku ingin menunjukkan seluruh tempat ini padamu sebelum Kaito-kun pulang, ayolah, kau harus lihat air mancur pelangi, air memanjat, ah ya! kita akan ke lembah kristal, tentu saja!..." Miku terus berceloteh sembari menarik lengan Kaito.

Setengah berlari melewati rak buku, ruang santai yang berantakkan, tangga melingkar turun yang menghubungkan dengan ruang cukup besar dengan karpet empuk dan dua jendela yang menampakkan senja, kemudian sebuah pintu cekung yang menuju keluar.

Miku memegang pegangan pintu ketika tersadar akan sesuatu, "Ya ampun, kau akan terlihat aneh dengan seifuku..." ucapnya sambil memperhatikan Kaito dari ujung ke ujung.

Akhirnya mereka berbalik ke atas. Hatsune Miku membongkar lemari besar di kamar, yang ternyata itu lemari pakaian, sedangkan Kaito menunggu dibalik rak buku. Gadis ber-twintail itu menyingkirkan semua pakaiannya, membongkar satu-persatu dari mereka, "Duh, dimana sih? Aku yakin neechan meninggalkan beberapa pakaian Gakupo di sini... nah, ini dia!"

Kaito sedang membereskan apapun yang dia bisa rapihkan di ruangan yang berantakkan itu ketika Miku memanggil, dan menyerahkan sesetel pakaian a la cosplay super aneh baginya. Jelas lelaki itu berkomentar, "Kau menyuruhku pakai ini?"

"Hanya itu yang aku temukan, ayolah, takkan kekecilan kok.."bujuk Miku, lengkap dengan manik menggemaskannya yang selalu ditunjukkan ketika Kaito nyaris marah.

Lelaki itu hanya bisa menghela nafas, jelas sekali, mimik wajah yang dipasang Miku terlalu menggemaskan untuk membuat Kaito marah. Selalu. Itu yang terjadi jika Shion Kaito nyaris marah tiap kali diseret Miku dan dicium. "Baiklah.."

"Asiiiikk!" Miku melompat-lompat senang setelah Kaito menerima dengan pasrah pakaian itu.

Shion Kaito sedang membuka kancing seragam sekolahnya. Tepat di kancing ketiga, dia menoleh dan melotot begitu Miku masih di sana dan menatapnya. Oh tidak, "Kau keluar dulu, sana!"

"Hahaha, oke-oke.."

Tak perlu waktu lama, seifuku Voca High sudah berganti menjadi pakaian –cosplay, menurut Kaito- berwarna dominan putih dengan beberapa bagian ungu muda, ada bagian yang padat dan berat seperti logam di beberapa bagian. Baju itu agak longgar.

"Hah, sepertinya kebesaran? Tapi kau lebih cocok pakai itu dari Gakupo-kun, yah, meski ungu tidak serasi dengan warna rambutmu.." komentar Miku.

Shion Kaito bersumpah tidak mau bercermin untuk saat ini, dia yakin, wujudnya sudah seperti samurai dadakan. Sangat chuubinyou. Dan Shion Kaito bukan manusia aneh sejenis Gaku –eh, tunggu! Tadi bukannya Miku menyebut-nyebut Gakupo?

"Kamui.. pernah ke rumah ini?" tanyanya ragu, ada nada cemburu sedikit sekali, jika kau peka.

Untungnya, Miku menggeleng. Mereka sudah sampai di pintu dan gadis itu segera membuka, menampakkan pemandangan berupa hamparan kebun lavender ungu yang menakjubkan serta segala keajaiban dibawah langin jingga itu, sayangnya Kaito terlanjur fokus pada apa yang hendak diucapkan Hatsune Miku.

"Aku hanya membuatkan pakaian untuk dipakainya selama di sini, seseorang yang pesankan, dan itu sudah pekerjaanku. Kau tahu Kaito-kun, aku sangat senang bisa membantu mereka yang terhalang kesulitan atau bahaya..."

Miku bercerita dan Kaito menjadi pendengar yang baik. Hingga tak terasa, mereka sudah menyebrangi kebun lavender ungu di depan rumah ebony. Banyak hal ajaib yang bisa dilihat dan membuat Kaito tercengang di depan sana, sayangnya, cerita Miku lebih menarik. Sepertinya.

"Lihat, komet timur!" ucap Miku ditengah ocehannya tentang anak kalkun yang dihadiahkan Kamui Gakupo untuk Megurine Luka tempo hari. Kaito menoleh ke arah telunjuk Miku mengacung.

Sebuah bintang berekor panjang berjalan merayap lambat dari ujung langit jingga. Masih terpesona dengan keindahan tidak biasa itu, tiba-tiba dia terangkat dari tempatnya menapak ke angkasa. Shion Kaito nyaris berteriak jika saja seseorang tidak berbisik, "Kita akan melihat kelahiran peri pixie, beruntung sekali!"

Miku memeluknya dari belakang, sangat erat, dan mereka terbang membelah langit jingga. Dari sini Kaito bisa melihat berbagai macam keanehan serta keajaiban indah yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Kedua tangan lebar itu menggenggam tangan mungil Miku di dadanya. "Ini.. dimana?"

"Dunia Peri." Jawabnya, tepat di ceruk leher Kaito yang tertutup kerah baju. "Tempat yang ajaib dan penuh magis. Jauh sekali dari dunia manusia, ah, kita sampai!"

Tempat yang dimaksud Miku adalah sebuah padang bunga lain, kali ini sejenis tulip tapi beraroma mawar yang menyengat. Miku dan Kaito mendarat di salah satu dahan besar pohon maple yang mengelilingi padang bunga kecil itu. Tak hanya mereka berdua, ada sekitar seratus orang yang bertengger juga di pohon-pohon.

"Tunggu sebentar lagi," ucap Miku bersemangat. Kaito melihat semua orang, ada yang punya sayap seperti kelelawar hitam dan ada pula yang seperti angsa, terlipat di punggung mereka. Semuanya menatap serius padang bunga itu, jadi dia memutuskan melakukan hal yang sama.

Tiba-tiba saja sebuah cahaya mengintip dari belakang, "Kometnya tiba!" kata Miku, menerpa bunga tulip biru dan merah muda di depan mereka berdua. Bunga itu mekar perlahan, dan sesosok makhluk mungil dikelilingi cahaya perak yang silau terbangun. Begitu seterusnya sampai seluruh bunga di padang kecil itu tersinari cahaya komet.

Beberapa makhluk serupa keluar dari setiap daun maple, menyerbu peri-peri yang baru lahir. Masing-masing satu bunga oleh tiga peri, membantu makhluk-makhluk itu mengembangkan sayapnya untuk pertama kali, dan beterbangan diudara.

Semua orang bersorak ramai sekali. Kaito juga ikut bersorak, kemudian mereka semua bubar setelah cahaya komet habis. Para peri itu pergi mengikuti si bintang berekor, ngomong-ngomong, tinggal Miku dan Kaito.

"Kau berani melompat?" tantang si twintail.

"Dari ketinggian ini? jangan bercanda.. MIKU!"

Tapi gadis itu sudah melompat dengan suara "Kyaa..." panjangnya yang imut melengking. Kaito tidak percaya ini, tapi Miku mengampul tiga kali dari tumpukkan kelopak bunga bekas para peri baru. Dia tertawa.

"Ini menyenangkaaan!" teriaknya.

Kaito melompat dengan ragu, mendarat setengah meter di sebelah Miku yang sedang mengibas-ngibaskan kedua tangan dan kakinya. Tumpukkan kelopak bunga dan dedaunan maple yang sangat banyak membuatnya empuk seperti bantal. "Ini gila!"

Beberapa menit kemudian Miku kembali menariknya menuju tempat lain yang lebih menakjubkan. Puluhan jenis beri menggantung dalam satu pohon, dengan hamparan bunga merah muda seperti karpet sebagai pijakkan. Cahaya kuning senja menembus celah dedaunan yang rimbun.

"Ini hutan beri, tempat berbagai buah dan tanaman berkhasiat tumbuh. Lihat yang seperti strawberry itu, aku lupa namanya, tapi itu bisa membuatmu tertawa sampai berjam-jam jika kau makan. Akan hilang khasiatnya sampai kau kencing di celana." jelas Miku, menunjuk beri terdekat yang langsung dipasangi tanda bahaya cepat-cepat di kepala Kaito.

Dari semua penjelasan si gadis Hatsune, jelas tidak ada yang wajar tumbuh di tempat itu. Buah yang terlihat seperti alpukat berkhasiat menyusutkan tubuh, disebelahnya ada anggur yang berkhasiat kebalikannya. Kemudian ada juga yang menjerit.

Miku sedang menggerutu tentang jamur kancing yang membuat berdebar-debar yang katanya biasa tumbuh dibawah pisang halusinasi, ketika Kaito menemukan blueberry normal. Terlihat dari pohon, batang, dan daunnya persis blueberry biasa. Hijau dan lebar.

Karena itulah, Shion Kaito langsung memakannya tanpa bertanya.

Suapan yang pertama, rasa manis blueberry yang khas dan tak ada yang terjadi. Lelaki berambut biru itu mengambil kesimpulan itu adalah blueberry biasa dan terus memakan yang lain. Tepat ketika dia menelannya..

"Hiks!"

Kaito kembali terduduk ketika hendak berdiri. Cegukan, astaga, yang benar saja?

"Hiks! Hiks! Hiks!"

Dan hal serupa terjadi berulang-ulang. Shion Kaito tidak bisa bangun dari tempatnya karena terus cegukan keras.

"Kaito-kun?"

Miku sudah hampir keluar hutan beri sebenarnya, beberapa meter di depan sana, kembali karena menyadari Kaito tidak ada di belakangnya. Satu tas samping yang menggembung berisi beri-beri juga dedaunan dan ranting yang mencuar keluar, ditaruh di sebelah lelaki itu ketika dia berjongkok.

"Jangan bilang kau memakannya?" dijawab suara cegukan lagi, Miku menghela nafas panjang.

Tangan lentik itu langsung memetik beberapa helai daun blueberry cegukan itu, membuka tali kerah Kaito dan bersiap menempelkannya di tengkuk pria itu. Ada perasaan seperti kejut listrik saat daun itu nyaris menyentuh kulitnya.

"Ini akan menghilangkan cegukannya tapi rasanya sangat sakit," kata Miku.

"Hiks! Ka-hiks! U-hiks! gi-hiks!.." belum beres Kaito menyelesaikan protesnya, bibirnya sudah dibungkam oleh si gadis twintail. Rona merah memenuhi wajahnya.

Itu bersamaan dengan ditempelkannya daun blueberry cegukan di tengkuknya, Miku tempel saja, tapi rasanya seperti sebuah strumgun yang nyaris membuatnya pingsan. Nyaris saja, dan rasa sakit luar biasa itu langsung tersedot dan lenyap entah kemana.

Seperti terlupakan.

Miku masih disana, duduk berhadapan dengan Kaito dengan mata terpejam. Bibir mereka saling mengunci. Ya, perlahan, pria itu membalas lumatan lembut Miku dengan hati-hati. Menikmati rasa dan debaran yang dihasilkan.

Mereka berdua mengambil jarak setelah benar-benar kehabisan nafas, dengan posisi Miku yang entah sejak kapan sudah terlentang dibawah kurungan lengan Kaito yang menopang berat tubuhnya sendiri. Pria itu menatap sayu gadis manis yang sedang bernafas tersenggal sama sepertinya dengan mata tertutup. Ada desiran aneh di dadanya.

"Kai-to-kun.." panggilan lirih itu memanggil kesadaran pria itu dari lamunannya. Juga dari posisi mereka yang absurd.

"Cegukanmu hilang, bukan?"

Miku menggerling kearahnya dan masih berbaring. Sedangkan Kaito membuang muka, "A-aku tidak t-tahu k-kalau c-c-ciuman bisa..."

"Tidak, daun itu penawarnya. Mengeluarkan racun beri yang membuatmu cegukan." jelas Miku sambil menunjukkan dauh hitam-merah, yang asalnya hijau, tiga lembar di tangan kanannya. "... ciuman tadi membuat seluruh syarafmu lupa rasa sakitnya."

Kaito menoleh tidak percaya, kemudian mendapati Miku sudah berdiri dari tempatnya. "Ayo, aku akan mengajakmu melihat lembah kristal!"

.

.

.

.

.

.

.

TBC

A/N : chapter 3 di bulan Desember kupersembahkan buat 2 orang yang sedang berulang tahun. kak Ancha (11 Desember) dan Keishuu tertjintah (12 Desember) haha.. iya aku tahu updet hari ini telat banget. Lappie tersayangku kena virus, bikin jengkel banget. Tiap aku buka, ficku hilang satu-persatu. Yah, jujur aku nggak bisa replace fic ini juga dari chap satu, si malwer makan fic ini sampai chap 5, anjaaaayy... dan aku harus begadang untuk chapter 3. Demi kalian, readers!

So, tanjoubi omedetto gozaimasu!

CN Scarlet