Dark Angel and White Devil
Dislaimer: maunya sih punya saya, tapi…*ngelirik Kishimoto* e- *nelen ludah* ngak kok saya Cuma nyewa tapi ngak bayar doang. Ampun mbah, saya nyerah _apadeh_
Rating: maunya sih M, tapi berhubung saya masih di bawah umur *apadeh* jadi cari aman aja lah…
Gendre: romance/family/hurt/comfort *?* (author tidak yakin)
Pairing: Sasuhina de el el *plak*
Warning: gak jelas, gak mutu, semua karakter saya buat OOC, AU, typo dimana-mana, kenapa? gak suka? Yaudah gak usah baca *maksa_dihajar readers*
CH 3
THE LOST OF MEMORIES
Taman kota pada musim panas tampak ramai dengan anak-anak yang bermain di sana. Di antara kerumunan itu terdapat dua orang bocah yang tengah asik mengobrol di dekat air pancuran yang di sediakan pengelola taman.
"Nee, Sasuke-kun mau m-mendengar p-permainanku tidak?" tanya gadis mungil yang tengah memegang Violin berwarna biru gelap di tangannya.
"Setidaknya pakai milikmu sendiri!" bocah yang di panggil Sasuke itu mendengus saat Violin miliknya tengah berada di tangan gadis manis di sebelahnya.
"S-suara violinku agak s-sumbang, jadi… a-aku pinjam milikmu s-saja dulu!" ujar gadis itu malu-malu sambil mengusap Violin miliknya yang masih terbungkus dalam tas khusus miliknya.
"Hn."
Hinata si gadis manis itu tersenyum senang saat Sasuke mengijinkannya memakai biola miliknya, "A-arigatou ne!"
Setelah meletakkan violin itu di bahu mungilnya, Hinata chibi mulai menggesekkan biolanya dengan tempo yang teratur.
Alunan lembut yang di hasilkan oleh permainan gadis mungil itu membuat suasana taman yang awalnya berisik berubah tenang, hanya ada suara Violin yang terus mengalun manis di dalam suasana sore itu.
Sasuke kecil sempat di buat ternganga beberapa detik ketika permainan gadis itu mulai merasuki gendang telinganya, ada rasa kagum dan takjub di dalam hati kecilnya melihat Hinata kecil yang begitu lihai memainkan biolanya di usia yang masih terbilang sangat muda.
Permainan Hinata cilik terhenti saat di lihatnya sosok wanita anggun menghampirnya. "Kaa-san!" Hinata kecil menghampiri ibunya yang tersenyum lembut kearah keduanya. Hinata memeluk perut wanita Hyuuga yang sudah merawatnya sejak hampir 5 tahun lamanya di dunia, kemudian Hinata mengecup singkat perut ibunya yang membesar.
"Kau hebat Hinata-chan." Pipi chubby Hinata merona saat mendapatkan pujian dari okaa-sannya.
"Kaoru baa-san." Sasuke berlari kecil menghampiri dua perempuan Hyuuga tersebut. Kaoru _ibu Hinata_ tersenyum ramah, "Sasuke-chan tadi mamamu meminta baa-san membawamu pulang, ini sudah sore jadi ayo kita pulang!" senyuman manis tak lepas dari bibir wanita Hyuuga tersebut.
Sasuke mengangguk kecil menanggapi ucapan wanita yang sering menemaninya dan Hinata berkunjung di taman yang sama.
Jarak rumah yang tidak terlalu jauh membuat ketiganya lebih memilih jalan kaki. Saat sampai zebra cross, wanita yang tengah mengandung 8 bulan itu menggandeng dua tangan bocah yang berada di masing-masing tubuhnya.
"Nah, lampunya sudah berubah hijau. Ayo!" dengan hati-hati, Kaoru membimbing keduanya menyebrang.
Saat setengah jalan, ternyata pegangan pada biola Sasuke melepas hingga benda berbungkus tas kulit tersebut terlepas dan jatuh di antara kerumunan yang hendak menyebrang. "Violinku!" bocah tampan itu hendak mengambilnya, namun di tahan oleh sebuah tangan lembut.
" Sasuke-chan dan Hinata-chan duluan saja! Biar Baa-san ambilkan Violinnya!" Sasuke tidak merespon, tapi secara refleks bocah tujuh tahun itu menggenggam tangan Hinata erat saat gadis cilik itu hendak menyusul ibunya.
"Jangan!" Hinata menatap wajah Sasuke yang tengah menatap kearah depan dengan tatapan kosong.
"Sa-Sasuke-kun."
Setelah berhasil mengambil biola dengan sedikit susah payah karena harus menahan beban di perutnya, Kaoru tersenyum puas dan medekat kearah dua bocah yang sangat bertolak belakang itu.
"Lihatkan!" zebra cross sudah sepi penyeberang padahal lampu masih menunjukkan warna hijau yang artinya masih ada waktu penyeberangan. Hinata menatap heran wajah Sasuke yang tetap datar, mata kelamnya tak henti memangdang ke depan.
Hinata mengikuti arah penglihatan Sasuke, matanya sedikit menyipit memastikan apa yang tengah di lihatnya. Di sana, tepatnya di seberang jalan yang lain Hinata dapat melihat dua orang yang menghadap ke arah mereka. Karena terlalu silau penglihatan Hinata jadi kurang jelas.
"Awas!"
BRAAGHH…
Sebuah mobil hitam melaju dengan kencang di hadapan Hinata, dua orang tadi menghilang dan tepat di hadapan Hinata dan Sasuke, lumuran darah segar mengalir dari seseorang yang tengah tergeletak lemah.
..-..
"KAA-SAN!"
"Hinata-chan kau baik-baik saja?"
Wajah Hinata pucat dan di penuhi peluh, kepalanya terasa pening dan berputar-putar. Ingatannya tentang kematian ibunya terus berputar-putar di kepalanya. Sekarang ia ingat siapa Sasuke Uchiha itu. Mungkin, sekarang ia ingat semuanya.
"Hinata-chan, kau baik-baik saja?" ulang Shion yang baru tiba bersama Tenten. Hinata tidak menjawab, namun sebagai balasannya dia mengangguk lemah.
Dengan alasan ingin menghirup udara segar, Hinata pamit dan keluar dari kamar dan tanpa memberi penjelasan detail kepada dua teman barunya tersebut.
Sasuke membaringkan tubuhnya di sofa hijau kamar pribadinya, matanya memandangi langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Pikirannya menerawang kejadian yang baru saja dialaminya bersama Hinata.
Ia kembali mengingat wajah Hinata yang marah dan kejadian saat gadis indigo itu menamparnya keras. Ingatan itu terus berulang-ulang seperti kaset rusak.
'Kenapa dengan Hinata? Kenapa dia marah padaku? Memangnya apa yang sudah aku lakukan hingga dia semarah itu?'
"Aaarghhh…" Sasuke manjambak rambunya frustasi saat tak satupun pertanyaan di otak cerdasnya yang terpecahkan.
"Yo, Sasuke-kun!"
Sasuke mendelik kearah pintu, matanya menatap tajam pria pirang yang tengah bersandar di engsel pintu dengan kedua tangan yang saling menyilang.
"Sudah aku bilang jangan memanggilku dengan penggilan menjijikan begitu!" ujar Sasuke dingin.
Bukannya takut, Deidara malah terkikkik geli lalu menghampiri Sasuke yang duduk sambil memanjangkan kaki kanannya di sofa dan kaki yang lainnya di lipat untuk menjadi tumpuan tangannya.
"Seminim itukah pengamanan asrama sampai orang asing bisa seenaknya masuk?"
"Wah-wah Sasuke-ku_ err.. maksudku Sasuke, kau kelihatannya tidak suka kalau aku datang kemari!" Deidara meralat panggilannya saat mendapatkan deathglare dari Sasuke.
"Hn."
"Lama tidak ketemu, nee Dei-senpai!" seseorang muncul dari balik pintu.
"Cih, kenapa bocah authis ini juga ada di sini?" sindir Deidara sinis.
"Ahahaha… aku tahu Dei-senpai pasti sangat merindukanku!"
"Dasar authis, sejak kapan kau berubah jadi pria gay?"
"Ini semua kan salah senpai.."
"Ja_"
"Berisik!" satu kata dari Uchiha 18 tahun itu sekses membungkam mulut dua makhluk yang tengah berdebat tersebut. "Keluar kalian!" usir Sasuke bak mengusir anak ayam. "Heh, lihat gara-gara kau Sasuke jadi marah!" tuduh Deidara.
"Huh? Yang benar saja, ne Sasuke-kohai jangan begitu pada kami!"
"Cih, tidak berguna!" dengus Sasuke kesal.
"Haahh.. aku ke sini ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu!" akhirnya Deidara memulai membicarakan topik utamanya dari pada harus berdebat hal-hal tidak berguna dengan si Tobi.
"Hn." Sasuke yang sedang tidak bersemangat memilih mendengarkan saja.
"Kau mendapat tugas baru dari Ketua!"
"Hn."
"Dia ingin kau membereskan sekelompok pengganggu!"
"Tidak menarik!"
"Oh, ayolah Sasuke… kau tidak bosan hanya duduk di kelas dan mendangar penjelasan tidak menarik di kelas?" Deidara mengambil sebatang rokok di saku jasnya
"Aku mengerti!" tanpa membuang waktu Sasuke beranjak dari tempatnya dan membuka sebuah lemari besar yang terbuat dari kayu pilihan dan mengambil sebuah benda hitam kemudian memasukkan benda tersebut kedalam blazer yang di kenakannya. "Jadi… kita mulai dari mana?"
"Whoaaa… tu-tunggu dulu Sasuke-kohai, kau tidak usah buru-buru begitu! Kita masih punya banyak waktu kok!" Tobi melirik Deidara yang tengah mengisap rokok yang baru di sulutkannya. Pria bertopeng itu seolah mencari sekutu untuk di ajak kompromi.
"Hhahh.. walau aku benci mahkluk bertopeng ini, tapi aku setuju dengannya. 'Orang' ini tidak bodoh, jadi kita tidak perlu gegabah! Kau tenang saja," Deidara beranjak hendak keluar, "Kalau kita sudah mendapatkan waktu yang tepat, aku pasti akan menghubungimu!"kemudian Deidara menghilang di balik pintu.
"Cih."
"Sasuke-kohai cukup tunggu kabar saja, ok!" lalu Tobi menyusul senpai pirangnya tersebut, terdengar suara teriakan "Dei-senpai tunggu aku!" dan sebuah debaman keras yang bisa Sasuke pastikan itu adalah ulah Deidara untuk Tobi.
"Dasar bodoh!" gumam Sasuke entah pada siapa. Tak beberapa lama Naruto memasuki kamar Sasuke.
"Teme! Apa yang di lakukan Deidara dan Tobi?"
"Bukan urusanmu!"
Naruto menghela nafas kasar, ia selalu saja di buat emosi kalau harus berhadapan dengan sahabat sekalugus rivalnya ini. "Apa ini ada hubungannya dengan U_"
"Jangan coba-coba menyebut namanya di hadapanku!" Sasuke menatap tajam kearah Naruto yang terlihat tengah menelan ludah
Wajah tan Naruto tampak pucat, "O-ok!... tapi… Teme, bukankah hari ini adalah hari peringatan 11 tahun meninggalnya kedua orang tuamu?" ujar Naruto lirih, takut kalau-kalau perkataannya dapat menyinggung Sasuke lagi.
Sasuke terdiam. Naruto benar, sudah 11 tahun lamanya dan dia bahkan hampir lupa atau lebih tepatnya berusaha untuk melupannya.
"Hn."
"He?" Naruto mengangkat alisnya bingung, "Apanya yang 'Hn'? Berhentilah mengucapkan bahasa alien begitu, sampai sekarang aku samasekali tidak mengerti maksuda dari perkataanmu barusan-ekh… woi,Teme kau mau kemana?" belum selesai Naruto berceloteh, Sahabatnya itu sudah mengilang terlebih dahulu di balik pintu.
..-..
Sakura duduk termenung di kursi panjang, tepatnya di bawah pohon mample yang daunnya telah gugur, sepertinya musim dingin akan segera datang. Sakura membenarkan letak syal hijau maroonnya. Wajah cantiknya berubah murung.
Menghirup nafas dalam-dalam, Sakura mendongakkan kepalanya memandang gumpalan awan yang berarak di langit luas.
'pertunangan ini hanya sebatas formalitas, tak lebih dari itu!'
Kata-kata Sasuke beberapa hari yang lalu kembali berputar di otaknya. Mengirup nafas sekali lagi, Sakura memejamkan kelopak matanya lalu dengan bersamaan dia menghembuskan nafasnya, Sakura perlahan-lahan membuka matanya.
Ia tersenyum miris, sesuatu di hatinya terasa sakit dan terluka. 'Setelah sekian lamanya, kau masih belum berubah ya… Sasuke-kun?' Sakura memjamkan kembali matanya, sambil bersenandung kecil dia menggerakkan kakinya mengayun-ayun di udara.
Sakura menghentikan kegiatannya dan menoleh saat di rasakannya kursi yang dudukinya berdenyit, menandakan ada yang duduk bersamanya. Mengernyitkan keningnya saat dilihatnya siapa yang tengah duduk di sisi kananya.
Gadis itu membalas tatapan Sakura, dengan ekspresi datarnya. "Apa aku salah duduk di sini?" Sakura menggeleng lemah, sesaat setelahnya keduanya sama-sama diam.
"Aku… Haruno Sakura." Kata Sakura akhirnya.
"Oh!" hanya itu kalimat yang terucap dari bibir mungil gadis pendiam ini.
"Eng… kau ini…" Sakura tampak ragu melanjutkan kalimatnya, perlahan di gigitnya bibir bawah merah mudanya. "Kau, Hyuuga Hinata kan?"
"Hn."
Sakura tersenyum miris, sesaat bayangan Sasuke muncul pada diri gadis di sebelahnya ini. "Waktu itu… kenapa kau mencari Sasuke-kun?"
"Memangnya kau ini siapa? Apa urusanmu ingin tahu hal-hal pribadiku?" kemudian Hinata beranjak akan pergi sebelum akhirnya Sakura menangkap lengannya terlebih dahulu.
"Tunggu! Hinata, aku… aku, aku hanya ingin tahu ada hubungan apa kau dengan Sasuke-kun?" Sakura menatap gadis Hyuuga itu penuh harap.
Melihatnya membuat Hinata menghela nafas lelah, dengan perlahan Hinata berusaha melapas lengan kanannya dari pegangan Sakura. Sakura yang menyadarinya semakin mengeratkan pegangannya, bahkan kini ia menggunakan kedua tangannya.
"Aku mohon. Hinata, jauhi Sasuke-kun! Aku tidak siap kalau harus kehilangan dirinya, aku… aku sangat mencintainya. Jadi_"
"kau tidak usah khawatir dengan hal itu!" Sakura menatap wajah tenang Hinata. "Aku tidak akan merusak hubungan kalian. Aku terlalu lelah untuk mengurusi hal seperti itu!"
Sakura tersenyum carah.
"Arigatou, Hinata-san!"
..-..
Hinata mengetuk-ngetuk pelan sepatunya di aspal pinggir taman dekat asrama. Headsheet yang setia menemani kedua telinganya memanjakannya dengan suara alunan lagu-lagu ala hip-hop. Kelopak matanya sengaja di pejamkan untuk semakin menghayati lagu yang di dengarnya. Lingkar hitam di matanya jadi semakin jelas terlihat.
Hari sabtu merupak salah satu hari fovorit para siswa karena pada hari ini mereka bisa mendapatkan libur seharian dan di bebaskan keluar dari asrama. Merasa tidak ada keinginan untuk berpergian seperti kedua temannya –Tenten dan Shion- yang tengah asik berbelanja, Hinata lebih memilih berkeliling di taman yang tidak jauh dari asrama
Ketenangan Hinata terganggu saat seseorang yang seenaknya saja melepas salah satu headsheet di telinga kirinya. Hinata menoleh kesal ke arah orang yang telah mengganggu ketenangannya tersebut. Dan hal pertama yang di lihat Hinata adalah senyuman tipis, sangat tipis hingga Hinata tidak yakin kalau orang ini tengah tersenyum kepadanya.
Uchiha Sasuke.
"Apa maumu?" tanya Hinata dingin.
"Ini tempat umum, kau ingat?" Sasuke tidak memperdulikan tatapan tajam dari sang lavender.
"Che, dasar!"
Saat akan pergi, tangan Sasuke sudah lebih dulu menahannya. "Lepas!" Hinata menggerakkan tangannya berusaha melepas pegangan Sasuke.
"Kalau aku bilang tidak mau, kau mau apa?" tantang Sasuke sambil menyeringai sinis.
"Aku akan teriak dan mengatakan kalau ada pria mesum yang ingin menodaiku!"
"Keh, coba saja kalau kau berani!" tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik, Sasuke segera menyeret Hinata menuju mobil mewah miliknya. Dalam genggaman Sasuke, Hinata terus saja berontak dan berusaha melepaskan tangannya, namun terusa] saja gagal karena tenaganya kalah dua kali lipat dari Sasuke.
"Kau menyebalkan!" Hinata melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya tampak sangat kesal. Sasuke yang sudah duduk di kursi penumpang mulai menggunakan setbelt-nya.
"Pakai setbelt-mu!" Hinata tidak menjawab, wajahnya ia palingkan ke arah jendela di sampingnya. "Keras kepala." Merasa kesal, Sasuke maju dan mencondongkan tubunya. Meraih setbelt milik Hinata, Hinata yang merasa risih berusaha menjauhkan tangan Sasuke dari tubuhnya.
"Aku bisa memasangnya sendiri!" teriak Hinata panik.
"Hn."
Mobil mewah itu melaju perlahan dan berangsung –angsur menjadi cepat. Sangat cepat sampai-sampai membuat Hinata menutup matanya ketakutan. Dengan panik, Hinata mencari pegangang, tangan kanannya tak menemukan sesuatu yang dapat ia jadikan sebagai pegangan, tangan Hinata bergerak menyentuh lengan Sasuke yang sedang mengemudi.
Di remasnya blazer milik Sasuke panik. Seumur hidup, baru kali ini Hinata menaiki kendaraan bernama mobil dengan kecapatan yang tidak kalah dengan Kereta yang sering di tumpanginya. "U-Uchiha… kau m-mau balas dendam?" geram Hinata tanpa membuka matanya.
"Hn."
..-..
"Cepat turun!"
Hinata membuka salah satu matanya, kemudian di susul mata yang satunya lagi. 'Ha-sejak kapan…'
"Ayo!" setelah membuka pintu mobil, Sasuke segera menyeret Hinata paksa. Tak lupa ia mengambil sebuket bunga putih di tangannya. Hinata yang belum mengerti di mana mereka sekarang mulai mengamati tempat ini.
Mereka menaiki sebuah undakan yang membawa keduanya menuju tanah lapang, angin yang bertiup lebut membuat tulang-tulang Hinata serasa tertusuk jarum. "Dingin!" gumam Hinata berusaha memberi tahu Sasuke kalau dia tidak suka tempat ini meski tempat ini terlihat sangat indah.
"Sebentar lagi kita sampai!"
"Kemana?"
"Nanti kau juga tahu!"
Tepat di puncak bukit, terdapat tiga buah batu yang saling berdekatan. Dengan seksama Hinata berusaha membaca tulisan yang tertera di batu tersebut.
"Ini…" terlihat kepulan asap saat Hinata menggerakkan bibirnya yang sedikit memucat.
"Ini makam keluargaku."
Sasuke meletakkan buket bunga itu di antara kedua makam, di dekatnya juga terlihat sebuket bunga yang sama dengan milik Sasuke namun sudah layu.
"Sepertinya ada yang sudah mendahuluimu." Celetuk Hinata.
"Hn." Sasuke menatap bunga itu dengan seksama, ia mengepalkan kedua tangannya erat. 'pasti bukan dia!' batin Sasuke berteriak. Ia kemudian berdiri bersebelahan dengan Hinata.
"Ayah , ibu maaf aku hampir lupa mengunjungi kalian!" Hinata menatap Sasuke heran, kemudian kembali menatap nisan itu dalam diam. "Dia… adalah satu-satunya gadis yang berani menampar wajahku." Lirih Sasuke.
"Mau melapor." Hinata terkekeh melecehkan. Dalam hati, Hinata menertawakan tindakan konyol Sasuke yang sedang berbicara dengan benda mati.
"Hmm… dia, dia membuat pikiranku gila bu." Sasuke menatap Hinata lembut, membuat Hinata memalingkan wajahnya dengan rona merah yang tertinggal di kedua pipinya. "Aku tidak mengeti dengan jalan pikirannya, tapi… aku merasa tidak asing dengannya." Hinata kembali manatap wajah Sasuke.
"Wajahnya, matanya, rambutnya, sikapnya… aku seperti pernah mengenalnya." Hinata kembali teringat sepenggal kenangannya bersama Sasuke dan almarhumah ibunya.
"Kalau saja kalian masih ada di sini, mungkin kalian bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku!"
"Uchiha…" Hinata menggantungkan kalimatnya, ragu akan apa yang ingin di ucapkannya.
"Hn?"
"Kau…" Hinata menunduk, 'kau tidak mengingatku? Kau lupa padaku dan kejadian yang membuat Okaa-sanku pergi untuk selamanya? Kau lupa semua itu?' itulah yang ingin Hinata tanyakan.
"Hinata?"
"Ah, t-tidak apa-apa!" Hinata mengangkat wajahnya, Hinata kembali menggosok kedua lengannya saat angin dingin kembali berhembus.
"Ayo kita pulang!" Sasuke menggenggam tangan kanan Hinata yang terbalut sarung tangan berwarna merah bata.
"Lepas!"
"Kau masih marah ya?"
"Hn."
"Apa yang membuatmu menamparku waktu itu?"
"Aku tidak akan mengatakan alasannya, biar kau sendiri yang menyadarinya!"
"Kenapa begitu?"
"Karena…"
"Karena…?"
"Karena bodoh, jadi kau tidak bisa mengingat masa lalumu! Karena itu aku ragu kalau kau sering di sebut sebagai seseorang yang genius!"
Hinata berjalan mendahului Sasuke menuju mobil milik Sasuke yang teparkir tidak jauh dari tempat mereka.
"Hei… siapa yang kau sebut bodoh?" Sasuke menyusul Hinata yang sudah lebih dulu mendahuluinya.
Di tempat lain, sebuah mobil silver yang tengah di kendarai empat orang yang tengah mengawasi mereka sejak kedatangan awal keduanya."Sepertinya adik kesayanganmu itu belum bisa mengingat 'gadisnya'." Pria bermasker yang memegang kemudi mulai bersuara.
"Hn. Aku yakin organisasi brengsek itu memaksa Sasuke melupakan ingatannya." Kali ini pria berambut merah ikut menimpali."Tapi kurasa tidak akan berlangsung lama."
"Aku setuju dengan pendapatmu Sasori, mereka terlalu bodoh untuk orang seperti Sasuke." Pria bermasker tersenyum di balik maskernya.
"Hyuuga Hinata ya?"
"Hei.. hei… Gaara, jangan bilang kau tertarik pada gadis milik adik pria di sebelahmu itu! bisa-bisa kau dihabisi kakaknya sebelum adiknya bertindak" Kakashi si pria bermasker melirik orang yang berada tepat di belakangnya melalui kaca depan.
"Benar kan Itachi."
"Hn." Orang yang di sebut Itachi itu memandang kepergian mobil yang di tumpangi Sasuke dan Hinata dengan wajah datar nan dingin khas Uchihanya.
"Kita pergi sekarang!" perintahnya, kemudian di susul suara deru halus dari mobil yang mereka tumpangi.
TBC
Author note: ya ammpyuunn… kenapa rasanya kok kayak sinetron kacangan gini yak? Ah ya gak papalah yang penting saya sudah berusaha. *plak*
gomen kalau banyak kekurangannya, saya ini newbie jadi mohon pengertiannya. Kritik dan saran akan saya teima dengan senang hati, flame? Gak papa asal jangan charanya, karena saya bakalan sangat tersinggung!#apadeh!
Sebenarnya saya bingung mau gimana ngelanjutinnya, kalau bukan dari review minna, mungkin sudah saya hapus T.T
Lollytha-chan:makasih fav-nya#peluk", yea… hina-chan marah karna merasa kematian kaa-sannya di sebabkan oleh sasu.
Hizuka miyaki: tanks, siapa yng maw menjebak Hina masih rahasia*plak
Uchihyuu nagisa: jangan mati dulu senpai, nanti ngak ada yng review lgi hoho*plak
Hyou Hyouichiffer: silahkan baca sendiri *plakplakplak
keiKo-buu89: ni dah di jelasin!*senyumgaje
yosh segitu aj balesan review gak penting saya ini, akhir kata mind to review minna…^^
