Taekwoon berbaring di tempat tidurnya sambil melihat-lihat foto dirinya bersama Hongbin.
( Juni 2006 )
"HYUNG! JANGAN! KAU HARUS PULANG"
"Kalau aku gamau, gimana?"
Hongbin menatap Taekwoon dengan kesal dan berlari meninggalkan Taekwoon.
Taekwoon tersenyum sambil mengikuti Hongbin.
'Dia ingin main-main ya? Oke kalau gitu' pikir Hongbin sambil berlari kencang.
Taekwoon suka tantangan, jadi dia hanya tersenyum sambil terus mengejar Hongbin.
"Aaahhhhh" teriak Hongbin kegirangan.
Taekwoon menarik pinggang Hongbin dan tersenyum lebar.
"Hyuuungg aahh" Hongbin cemberut sambil melepaskan pelukan Taekwoon.
Taekwoon semakin tersenyum lebar melihat tingkah Hongbin.
'Cutee' Taekwoon mencubit pipi Hongbin.
Hal itu membuat Hongbin makin kesal.
Taekwoon menepuk pelan pipi Hongbin "Ayo kita makan es krim"
Mendengar hal itu wajah Hongbin langsung ceria dan ia mengangguk dengan antusias.
-present time
Taekwoon mengelus foto yang digenggamannya dan tanpa ia sadari, pipinya sudah basah.
"I miss you bin-ah"
Taekwoon menggenggam kuat pada foto itu 'Aku harus mencari mu binnie, ya aku janji aku akan menemukanmu'
"Mmmm..." Hongbin menikmati es krim kesukaannya.
Ravi sejak tadi tidak berhenti memandangi Hongbin.
Hongbin menatap Ravi kembali dan menaikkan sebelah alisnya.
Ravi tertawa kecil.
"I love you bin-ah" kata Ravi sambil mengecup tangan Hongbin.
Beep beep
"Tuan, saya hanya ingin mengingatkan kalau malam ini anda ada acara makan malam dengan kepala perusahaan X dari New York jam 8 malam di Harvest. Terimakasih tuan"
Ravi meletakkan kembali hp nya ke atas meja dan menuju ke tempat tidur.
Ia mengelus wajah Hongbin "just like an angel" bisik Ravi.
- jam 8 malam di Harvest
"Saya Kim Ravi, saya kepala di perusahaan ini. Terimakasih Mr Jung yang telah mau bekerja sama dengan perusahaan kami"
Taekwoon senyum ramah "No problem Mr Kim"
"Jika anda perlu sesuatu, anda jangan sungkan menghubungi pelayan kami"
Taekwoon mengangguk dan tersenyum.
Mereka pun makan malam dan keduanya pun cepat akrab.
Hongbin sedang termenung di kamarnya sambil memutar cincin di jari manisnya. Ia sedang bosan, harusnya dia sudah tidur, tapi...
Hongbin mengambil kotak di bawah tempat tidurnya. Ia membersihkan kotak itu dari debu. Ia memandangi kotak itu. Ia mengambil nafas yang dalam untuk membuka kotak itu. Hongbin merasa sakit di dada nya melihat barang yang ada di kotak itu. Bibirnya bergetar, tangannya memegang erat kotak itu, air mata membasahi pipinya. Perlahan ia mengambil cincin berbentuk setengah hati, ia mengelus lembut, ia benar-benar tidak tahan. Ia menangis tersedu-sedu. Lalu ia mengambil sebuah foto Taekwoon dengan dirinya. Saat itu mereka sedang menikmati es krim, hanya saja hyungnya itu membuat ulah sehingga wajah mereka berlepotan es krim. Itu ide hyungnya untuk foto bersama. Hyungnya bilang kalau saat kau tua nanti, kau akan melihat foto ini dan kau akan merasakan momen saat itu. Kau akan merasa bahagia hanya dengan melihat foto itu dan kau akan rindu dengan momen itu.
Hongbin tersenyum kecil, 'kau benar hyung... aku merindukanmu...sungguh merindukanmu'
Ravi sedang menunggu Hongbin sambil melihat-lihat sekeliling ruang tamu Hongbin.
"Oh Mr Kim!" Sapa ayah Hongbin dengan senyuman yang ramah.
"Mr Lee please, panggil saya Ravi saja" Ravi memberi salam pada Mr Lee
"Aah ya ya! Apa anda sudah sarapan nak? Kami memang belum jam buka, tapi ahh kau tamu spesial! Heheh"
"Aah apa itu boleh? Sudah lama saya tidak menyicip masakan anda Mr Lee"
Mr Lee menyuruh Ravi untuk tunggu dan tak berapa lama kemudian Mrs Lee membawakan menu spesialnya.
"Woaah ini pasti sungguh lezat..hmm..."
"Hahaha ya ya silahkan nak"
"Ammaaaaa... oooh well well, lihat siapa yang kelaparan?" Hongbin mengejek Ravi dan Ravi menatapnya dengan tajam.
Hongbin memeluk Ravi "I miss you"
Ravi tertawa kecil dan memeluk Hongbin "Kita baru aja jumpa semalam honeyy" Ravi mengecup Hongbin.
Hongbin merengek sambil menghentakkan kakinya dengan manja.
"Bin-ah... aku akan pergi beberapa hari.. ak.."
"Huh? Kenapa kau selalu meninggalkanku? Aku kangen tauuuu!" Hongbin melipat kedua tangannya di dada dan berbalik arah.
Ravi memeluk Hongbin dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Hongbin.
"Aku janji... setelah kita pulang... kita akan membeli wedding suit kita.. hmm?"
Wajah Hongbin langsung ceria.
"Yeayy!" Hongbin melompat kegirangan.
Ravi tersenyum lembut melihat tingkah Hongbin.
'Aku berjanji akan terus membahagiakanmu Bin-ah, aku janji."
"Mr. Jung, ini ruangan anda. Jika anda butuh sesuatu, silahkan telepon saya di line 1."
Taekwoon mengangguk dan berjalan melihat keselilingnya. 'Ruangannya cukup besar, hmm... aku suka ini' Taekwoon mengangguk lagi.
"Umm.. Mr... Cha? Apa aku bisa menemui Mr. Kim sekarang?"
"Oh maaf Mr. Jung, Mr. Kim sedang di luar kota 5 hari ini. Saya bisa meninggalkan pesan untuk anda, mungkin?" Mr. Cha memberikan senyum terbaiknya kepada Taekwoon.
"Ah baiklah, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih." Kata Taekwoon dan mengangguk kepada Mr. Cha.
"Baik Mr. Jung" dengan sekali anggukan Mr. Cha pergi.
- 6 hari kemudian
Hongbin menyiapakan makan siang untuk Ravi. Setelah selesai, dia pergi ke kantor Ravi dengan senyum lebar. Dia membungkuk ke setiap staff disana.
"OH! My Hongbinn! Aigoo" Hakyeon aka Mr. Cha memeluk Hongbin dan menepuk punggung Hongbin pelan.
"I really miss you Hongbin-ah" kata Hakyeon yang masih memeluk Hongbin.
"I miss you too hyung"
Hakyeon melihat Hongbin dari kaki ke kepala.
"Aah.. kau semakin tampan saja bin-ah."
Hongbin tersipu malu.
"Binnie"
Hakyeon cepat-cepat melepas Hongbin dan memberi hormat pada Ravi.
Hongbin tersenyum lebar pada tunangannya itu dan berlari memeluk Ravi.
"Aku membawakanmu makan siang, kau pasti lapar kan?" Tanya Hongbin dengan senyum lebar.
Ravi tersenyum dan menarik Hongbin ke dalam kantornya.
Hakyeon menghela nafas dan tersenyum melihat hubungan Ravi dan Hongbin. Dia sangat berterimakasih pada Hongbin. Karena Hongbin, Ravi selalu tersenyum dan tertawa.
Karena Hongbin, Ravi berhenti mabuk dan berhenti merokok.
Karena Hongbin, Ravi berhenti menangis.
Karena Hongbin, Ravi menjadi ramah dan baik hati pada semua orang.
Karena Hongbin, Ravi menjadi giat bekerja.
Hakyeon yakin, kalau Hongbin adalah takdir Ravi. Mereka ditakdirkan untuk hidup bersama. Mereka pasangan yang sangat serasi menurut Hakyeon. Mereka tidak pernah bertengkar, selalu ada yang mengalah. Dan Hakyeon terus memaksa Ravi untuk segera menikahi Hongbin. Hanya saja Ravi, belum siap untuk menikahi Hongbin. Hingga 4 bulan yang lalu, Ravi memberanikan diri untuk bertunangan dengan Hongbin. Hongbin tau Ravi belum siap, maka dari itu dia tidak mau memaksa Ravi. Dia juga merasa belum siap. Walau mereka sudah berpacaran selama lebih dari 4 tahun. Ravi selalu ada untuk Hongbin. Bahkan ia rela mati demi Hongbin. Hongbin juga selalu ada untuk Ravi.
- September 2014
Ravi berjalan sempoyongan sambil meminum beer yang ke - 3. Dia tertawa gak jelas. Kadang dia meneriaki pejalan lainnya. Kadang dia menangis dan berteriak. Dia tak peduli dengan sekitarnya. Dia benci hidupnya. Dia berharap saat itu juga dia mati. Dia berhenti berjalan dan menegak habis beernya.
Hongbin terus berjalan, dia bahkan tidak tau mau kemana. Dia belum mau pulang. Pikirannya kacau. Dia hanya memikirkan Taekwoon, Taekwoon, Taekwoon, dan Taekwoon. Harusnya hari ini Taekwoon sudah tiba di Seoul. Dia telah menunggu dari tadi siang di pantai. Dia bahkan telah membeli kue kesukaan Taekwoon dan balon. Tapi semuanya gagal.
'Apa mungkin dia baru sampai sekarang?'
'Tapi kenapa handphone selalu sibuk?'
'Harusnya dia memberitahuku kalau dia tidak jadi pulang. Atau mungkin dia mau kasih surprise?'
'Apa aku harus ke pantai lagi? Siapatau dia sudah disana?'
Hongbin menghentikan langkahnya. Mungkin dia benar, kalau Taekwoon akan memberinya surprise. Di depannya ada seorang pria yang mabuk dan berteriak gak jelas. Hongbin merasa iba. Dia menghela nafas dan akan berbalik arah kembali ke pantai tetapi...
"HEY! JANGAN!" Teriak Hongbin sambil mengejar pria mabuk itu.
Pria mabuk itu hendak berlari ke jalan raya.
Tiiiiiinnnnnnnnnnn
Hongbin menarik kembali pria itu dan mendorongnya ke dinding di belakang mereka.
"APA KAU GILA! KAU BISA MATI TADI!" teriak Hongbin sambil mencekram kuat kerah baju pria itu berharap agar pria itu sadar apa yang tadi dilakukannya itu salah.
Pria mabuk itu hanya diam. Bahunya berguncang. Hongbin mendengar isak tangisnya pelan. Perlahan Hongbin melemahkan cekramannya, ia merasa kasihan.
Pria itu terus menangis, dan tidak berani menatap Hongbin. Hongbin menarik lelaki itu ke pelukannya dan mengelus belakang kepalanya.
Setelah beberapa menit kemudian, pria mabuk itu tertidur di bahu Hongbin. Hongbin bingung apa yang harus dilakukannya. Sudah jam 12 malam, dia harus pulang. Tapi bagaimana pria ini? Dia berencana membawa pria ini bersamanya. Hanya saja, dia bingung harus naik apa. Jika naik bus, dia tidak akan sanggup mengangkat pria ini. Jika naik taksi, dia tidak punya uang. Hongbin mengigit bibir bawahnya sambil memikirkan dia harus apa. Dia melihat sekelilingnya, sepi. Dia merogoh saku pria itu dan membuka dompetnya. Hongbin bersiul pelan dan menaruh dompet pria itu ke saku celana Hongbin. Hongbin mengangkat pria itu ke punggung Hongbin dan memanggil taksi.
'Nanti akan aku ganti uangnya' pikir Hongbin.
Keesokan harinya..
Hongbin duduk di samping pria yang dibawanya semalam.
"Mmm..." pria mabuk itu membuka matanya dan merintih kesakitan.
"Kau sudah bangun? Kau sebaiknya minum ini, dan makan sup buatan ibuku"
Pria itu lompat dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi lalu muntah.
"Argghh kepalaku..."
Hongbin menuntut kembali pria itu ke atas tempat tidur dan menyuruhnya minum obat.
"Kau mabuk berat ya?"
Pria itu tidak menjawab pertanyaan Hongbin. Dia mengambil mangkuk yang dipegang Hongbin dan makan dengan lahap. Hongbin menggelengkan kepalanya.
"Oh! Aku semalam memakai uangmu untuk ongkos taksi kita. Umm, tapi aku akan ganti nanti setelah aku gajian"
Pria itu tidak menjawab.
Setelah ia menghabiskan supnya. Ia meletakkan mangkuk tersebut di meja sebelah.
Hongbin tidak berhenti memperhatikan pria itu.
Dan untuk pertama kalinya, pria itu menatap Hongbin.
Pria itu merasa ... ia merasakan sesuatu saat melihat Hongbin. Ntahlah, dia merasa tenang. Bukan. Dia merasa... senang.
Mereka saling bertatapan. Hongbin berdehem.
"...oh!.. kau tidak perlu mengganti uangku. Aku.. aku ... aku maaf, menyusahkanmu.." pria itu jadi salah tingkah, bahkan ia tersipu malu.
"Kau ... serius?" Tanya Hongbin dengan mulut yang berbentuk o dan mata yang besar.
Pria itu menatap Hongbin dengan terpesona.
"...y..ya...hahha..umm...thanks..."
"Gak masalah, aku suka membantu orang" jawab Hongbin sambil tersenyum.
'Aku belum pernah melihat laki-laki setampan dia. Oh lihat! Lesung pipinya! Aku ingin...oh...'
"Aku Lee Hongbin, kau siapa?" Tanya Hongbin sambil menjulurkan tangannya.
Lelaki itu masih memandangi Hongbin dengan terpesona.
"...hello?"
"...oh...ma...maaf...tadi kau bilang apa..?"
'Ravi jangan terlihat bodoh!' Pikir Ravi.
Hongbin tertawa dan mengulangi pertanyaannya.
"Aku Kim Ravi" jawab Ravi dan menjabat tangan Hongbin.
