Ch 2. Day 2; Monster!

Chap 2! Ini fic lemot amat updatenya ya.. Mohon maaf Sora agak sibuk karena udah mulai SEKOLAH. Ya, SEKOLAH. Banyak yang terjadi, salah satunya bisa kalian lihat di profile Sora kenapa fic2 jadi lemot update.

Oh iye, fic ini mengandung unsur... Humor gagal.

Hari pertama libur musim panas adalah hari kedua sejak perjanjian tersebut dimulai. Tak banyak yang berubah bagi Akashi. Yah, bagaimanapun juga ini baru hari kedua. Karena kemarin dia sudah meniadakan latihan, sudah pasti hari ini dia harus latihan. Harus mengadakan latihan tepatnya.

Jadi beginilah, mereka berkumpul di gym, Akashi duduk di bangku pinggir lapangan dengan Momoi. Lebih tepatnya, Akashi di bangku, Momoi di ujung bangku tersebut. Momoi saja tidak begitu berani duduk di dekat Akashi. Karena Midorima berkeras agar Akashi tidak latihan, beginilah jadinya. Atau, intinya begitu.

"Bu-bukanya aku cemas! Tapi kita bakal repot kalau cederamu tambah parah, nanti kalau kau tidak bisa ikut pertandingan bagaimana? Siapa yang akan mengatur makhluk-makhluk ini, aku tidak mau! Kalau kau sampai masuk rumah sakit, pasti ke tempat keluargaku! Aku tidak mau repot lagi!Lagipula nanti siapa yang akan melerai Aomine dan Kise hah-nodayo?"

Dan bla bla bla.

Intinya adalah kalau Akashi tidak ingin mendengar keOOCan Midorima yang disertai wejangan dan nasehat panjang lebar, untuk sementara Akashi hanya mengawasi latihan. Lagipula siapa yang mau mendengar Midorima mengomel? Dan setelah bicara panjang lebar begitu dia masih sempat menambahkan 'nodayo'. Dia bisa jadi sangat menyebalkan kalau sudah mengomel. Kenapa Akashi tahu? Wah.., kenapa ya? Serahkan pada khayalan readers aja lah…

"Mou…! Aominecchi jahat..!"

Ini dia kalimat yang terdengar tiap kali latihan.

Baru satu jam mulai latihan (baru?) sudah terdengar tangisan Kise yang pasti habis dikerjai Aomine. Satu jam sudah lama sih, tapi biasanya mereka tahan lebih lama sebelum mulai bertengkar.

"Berisik kau Kise, cuma minta minum sedikit kok!" balas Aomine sambil meletakkan botol minum yang menjadi sumber keributan di bangku terdekat.

"Sedikit kok diabisin..! Minumku cuma satu tau!" terdengar lagi suara Kise yang mulai mengikuti Aomine sambil merengek-rengek bagaikan bocah gak dikasih duit jajan sama maknya.

"Berisik ah! Beli aja lagi!" itu saja jawaban Aomine yang sedang mengorek kupingnya.

"Memangnya beli gak pake duit..!? Aominecchi hidoi-ssu..!" rengek Kise lagi, kali ini disertai bola basket yang melesat dari tangan Kise ke kepala Aomine. Ya, Kise baru saja menimpuk Aomine dengan bola. Si Model-Cengeng baru saja menimpuk si Ace-Berandalan dengan BOLA BASKET. Sejak kapan Kise berani sama Aomine? Akashi dan Midorima hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dua makhluk itu.

"Hoi, Kise breng—" terputus. Terputus oleh jeritan Kise.

"Oh iya..!" jeritan Kise membahana di gym yang sudah sepi sejak timpukan bola tadi.

"Apa, hah!?" bentak Aomine.

"Tadi pas istirahat minumku kemasukan kecoa! Makanya belum kuminum tuh!" ujar Kise dengan riangnya sambil garuk-garuk kepala, mengabaikan Aomine yang langsung lari ke toilet mau muntah. Midorima langsung pasang muka jijik. Akashi hening, speechless dengan ulah bawahannya ini. Momoi ngakak melihat 'Dai-chan'nya minum air bekas kecoak. Murasakibara tiba-tiba berhenti mengunyah setelah mendengar kata 'kemasukan kecoa'. Pasti yang ada di pikirannya adalah, "Snakku gak apa-apa kan? Gak apa-apa kan?"

Kuroko? Dia tetap poker face melihat 'cahaya'nya minum air yang mungkin sudah kecemar ****** atau **** atau bisa juga ****

[Sora: Bentaran, kok jadi komedi?]

##skip time##

"Aominecchi lama…." Kise mulai mengeluh lagi.

"Kise-kun cemas?" Kuroko memulai pertikaian. Tumben sekali makhluk yang satu ini membuat kerusuhan.

"Ap.. Apa maksudmu Kurokocchi..?!"

"Kise-chin, beri dia pocky.." sahut Murasakibara sambil memberikan tatapan 'ini pasti berhasil'

"Murasakibaracchi..! Aku tidak—"

"Jika ini tidak mengganggu latihan aku mendukungmu, Ryouta," Akashi menyahut sambil menepuk pundak Kise.

"Akashicchi, hentikan..!"

"Kau melanggarku?" ujar Akashi, aura seram mulai meliputinya, diikuti sekilas kilatan emas.

"A-Ah.."

"Lucky item Gemini hari ini adalah kulit tan-nodayo," Kise nyaris merasa melihat senyum licik di wajah Midorima.

"Midorimacchi pasti bohong..!"

"Kau dengar, Kise-kun? Hari ini saat yang tepat," sambung Kuroko lagi.

"Kurokochhi..! Sudah ah.!"

"Ki-chan.. hiks.. jaga Dai-chan baik-baik ya.." Momoi mulai nangis layaknya ibu yang anaknya mau dinikahi orang.

"Kalian dengar tidak sih? Hidoi-ssu..!"

"OI… KISE!"

Yang dibicarakan datang. Ini dia yang dimaksud 'orang yang salah, datang di tempat yang salah, pada waktu yang salah,'

"Aominecchi!" jerit Kise, mengharapkan pertolongan. Atau mungkin Aomine akan memprotes perkataan mereka semua tadi. Yah.. Itu harapan Kise, sayang tak sesuai kenyataan.

"Makan nih..!" teriak Aomine penuh dendam sambil menyiram Kise dengan air di botolnya.

Kise batuk-batuk. "Aominecchi! Ini air apa? Rasanya?"

Aomine mulai menunjukkan senyum sadis.

"Itu air *******"

"Aominecchi kampret..!" Dan Kise langsung lari ke toilet—juga.

[Sora: Oke, kita sudahi dulu lawakan gagal ini, kembali ke Seijuurou-sama]

Kali ini Akashi berjalan pulang sendirian. Karena ada yang harus diurus dengan pelatih Teikou, dia jadi pulang larut begini. Jalanan mulai sepi, sementara rumahnya masih jauh. Malam hari begini saat yang rawan. Apalagi Akashi cedera dan dia sendirian. Murasakibara disuruhnya pulang lebih dulu karena masih ada urusan dengan pelatih mereka. Karena ngantuk dan lapar, Murasakibara nurut aja. Sayang sekali, gak ada yang ngegendong pulang deh~

Tiba-tiba terdengar teriakan ibu-ibu. Awalnya sih Akashi kira Kise muncul entah darimana. Tapi tunggu, suara Kise tidak secempreng ini juga.

"COPET..!"

Diiringi suara derap langkah seseorang. Akashi menoleh ke belakang, sebelum dia sempat mengidentifikasi arah jeritan tadi, seorang bertopeng yang membawa tas ibu-ibu menabraknya hingga mereka berdua terjatuh.

"Bocah sialan! Mengganggu saja!" maki orang yang pastinya si pencopet itu sambil berusaha berdiri, meninggalkan Akashi yang pastinya kesulitan berdiri. Sementara si korban pencopetan berlari mengejar mereka berdua.

Oh salahkan Daiki atas cedera ini, dasar dia sembarangan. Maki Akashi dalam hati sambil berusaha berdiri, rasa sakit terus menyengat kakinya. Yah.. Cedera atau tidak, sakit atau tidak, Akashi masih sempat mendengar makian si pencopet terima dikatai bocah sialan, Akashi menarik kerah si pencopet yang hendak lari. Ditariknya kerah itu sekuat tenaga, entah kekuatan dari mana, Akashi sanggup membanting pencopet itu ke tanah. Ditatapnya pencopet yang terjatuh itu.

"Minggir bocah sialan!" makinya sambil berusaha bangun, ibu-ibu korban pencopetan itu kini sudah berdiri di dekat Akashi.

Tidak terima lagi, tentu saja, Akashi menahan tangan si pencopet yang memegang tas ibu tadi dengan kaki.

"Namaku bukan bocah sialan, dan sebaiknya kau kembalikan tas itu sebelum kuinjak patah tangan kotormu ini," ancam Akashi sambil menatap pencopet dibawahnya dengan dingin.

Tidak mendapat jawaban, Akashi makin kesal, diinjaknya tangan tadi lebih keras, membuat pemilik tangan tersebut mengerang saat pergelangan tangannya retak.

"Kubilang kembalikan!" perintahnya lagi.

Genggaman pencopet tadi melemas, dan akhrinya dia melepaskan tas tadi. Ibu pemilik tas itu memungutnya dengan perasaan senang luar biasa.

"Lepas topengmu," perintah Akashi lagi. Kapok melawan, pencopet tadi menggunakan tangannya yang bebas untuk membuka topengnya. Akashi menyeringai, membuat pencopet sekaligus ibu tadi merinding melihatnya.

"Sekarang kau akan ikut aku ke kantor polisi dengan tenang dan tanpa perlawanan kalau tidak ingin tanganmu yang sudah retak ini kupatahkan sekalian," perintah, atau ancam, Akashi.

Ibu tadi mulai pucat melihat tingkah Akashi. "Su.. Sudahlah nak, lebih baik kau pulang—" Apapun yang hendak dia katakan terputus karena Akashi meliriknya dingin. Melihat kilatan mata yang.. tak wajar itu ibu tadi langsung membungkuk berterima kasih lalu berbalik pergi.

Setelah memastikan tidak ada orang, Akahsi membiarkan pencopet tadi berdiri. Dia sudah hendak kabur dari Akashi saat dia melihat wajah Akashi. Beradu tatapan dengan Akashi, seketika seluruh tubuhnya lemas. Tatapan dingin itu membuatnya tak bisa bergerak. seluruh tubuhnya serasa membeku, dirasuki tatapan yang lebih dingin dari es itu.

"Kenapa? Ayo jalan,"

Ditambah suara Akashi, pencopet tadi betul-betul ngeri dengan pemuda yang membekuknya itu.

"Siapa namamu?" Tanya pencopet tadi pelan.

".. ? Akashi Seijuurou,"

Dengan mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa, pencopet tadi melepaskan diri dari Akashi dan berteriak sambil menunjuk Akashi.

"Akan kupastikan dendamku ini terbalas! Kau monster!"

Dan setelah berseru begitu, pencopet begitu berlari sekencang mungkin sambil memegangi pergelangannya yang retak.

Monster? Rambut merah wajar saja kan? Batin Akashi, tanpa menyadari maksud pencopet tadi, dia pergi ke kantor polisi untuk melapor.


##KAMAR AKASHI##

"Kau monster!"

Mungkin aneh kalau Akashi memikirkannya, makksudku, dia sudah sering disbeut begitu. Monsterlah, iblislah. Tapi.., ada yang berbeda. Sesuatu dari nada bicara pencopet tadi terdengar serius, beda dengan nada Aomine yang terdengar dendam karena latihan nerakanya. Membuatnya berpikir keras. Apa yang terjadi? Apa dia melakukan hal aneh?

Pikiran itu membebaninya selagi dia bergulung di dalam selimut dan tidur. Menghalanginya menuju alam mimpi. Menyesakkannya bahkan melebihi selimut yang menekannya. Dari pengalaman, Akashi tahu ini berarti ada yang salah. Dia tidak akan stress begini hanya karena ucapan seorang asing. Lain cerita kalau yang mengatakan begitu adalah Tetsuya-nya tersayang~ STOP. STOP. Ini bukan fic AkaKuro.

Akashi tidak bisa tidur. Tidak bisa tidur. Pikirannya melayang ke kejadian-kejadian belakangan ini. Ingin rasanya bertanya pada 'orang itu'. Tapi sejak janji itu dibuat, dia menghalangi Akashi mengakses 'ruangan itu'. Lagipula, Akashi tidak akan meminta bantuannya. Itulah perjanjian mereka kan?

Tidak disangka Akashi akan merindukan percakapannya dengan 'dia'. Karena, saat tidak ada seorangpun disisi Akashi, saat tidak ada seorangpun yang mendukungnya. Saat tak ada seorangpun menemaninya, 'orang itu' selalu ada. Selalu.

"Hh.. Kuharap dibawah ada yang bisa membuatku mengantuk." Biasanya disaat begini Akashi akan menonton TV. Berharap ada yang membuatnya bosan dan mengantuk. Sialnya, mati listrik. Tidak, bukan karena nunggak. Kalian tahu sendiri Akashi itu kaya, lah. Masa nunggak? Pemadaman bergilirlah dari PLNlah penyebabnya. Jadi Akadhi putuskan untuk pergi ke dapur dan mencuci muka. Kenapa dapur? Karena kamar mandi gelap gulita.

Bukannya Akashi takut gelap, dia hanya tidak ingin tersandung atau terbentur sesuatu saat berjalan ditengah gelap.

Saat sedang berjalan menuruni tangga, Akashi dikejutkan siraman air dingin. Siapa yang berani sekali menyiram Akashi Seijuurou dengan air dingin di tengah malam begini.

Jawabannya adalah salah satu maid di kediaman keluarga Akashi.

"Se-Seijuurou-sama! Maafkan saya!" ujar maid tersebut panik. Dia buru-buru mengelap wajah dan rambut Akashi yang basah dengan kain roknya.

"..Kenapa kau menyiramku?" Tanya Akashi sambil menepis tangan maid yang sedang mengusap rambut merahnya.

"Sa-Saya kira ada kucing masuk.." jawabnya takut-takut.

Kucing? Alasan konyol tau.

"Tidak ada kucing matanya merah kan?"

"Ta-Tapi mata anda.. bukan-" yang ingin dikatakannya terpotong saat dia sadar kalau dirinya hampir mengatakan sesuatu yang tak seharusnya dikatakan.

"Ah.. Tidak.. Maaf mengganggu," Ujarnya lagi.

Akashi menghela napas. Dan kembali berjalan menuruni tangga.

"Jangan meracau," ujar Akashi, berjalan meninggalkan maid tadi.

"… Saya.. tidak meracau.."

Hanya kegelapan rumah yang mendengar bisikannya.

TBC!

OMAKE – PENCOPETNYA MAHO:

Setelah memastikan tidak ada orang, Akashi membiarkan pencopet tadi berdiri. Dia sudah hendak kabur dari Akashi saat dia melihat wajah Akashi. Beradu tatapan dengan Akashi, seketika seluruh tubuhnya lemas.

Amboi.. Ganteng banget..! batinnya dengan aura blink blink. [Sora: Emang ganteng! Baru tau?]

Ternyata pencopetnya maho.

"Mas.. Saya mau nyerah kalo mas cium pipi saya gimana?" tawar si pencopet sambil menunjuk pipinya. Tak lupa disertai senyum cerah. Banci dadakan.

Akashi merinding dengernya.

Besoknya dikabarkan seorang pemuda ditemukan pingsan babak belur disertai sayatan gunting disana-sini dengan kertas bertuliskan 'MATI KAU' di atas tubuhnya. Sampai saat ini polisi masih mencari pelakunya.

OMAKE 2-SEI

"..Kenapa kau menyiramku?" Tanya Akashi sambil menepis tangan maid yang sedang mengusap rambut merahnya.

"Sa-Saya kira ada kucing masuk.." jawabnya takut-takut.

Dan tiba-tiba..

Nyaa..!

"Se-Seijuurou-sama?"

"Kucing ini manis kan?" jelas Akashi sambil menunjuk kucing yang menyembulkan kepala dari balik piyamanya. Matanya merah dan emas, bulunya coklat kemerahan. [Sora: Di dunia nyata sih gak ada kucing begini, jangan dicari yah]

"Matanya merah dan emas.."

"Ya, mirip denganku kan?"

Hah?

"Kurasa Sei berisik, jadi kau kira ada kucing liar,"

Namanya SEI!? Seijuurou-sama ternyata narsis?!

"Lain kali, jangan sampai aku ikut tersiram ya,"

Jadi gak apa-apa kalau Sei yang kesiram?

Moral kisah OMAKE ini:

- Orang maho jangan deket-deket Akashi (Fic2 AkaKuro gimana?)

- Akashi bukan majikan kucing yang baik

- Sei itu kucing yang lucu..! Coba ada betulan~

Hahaha, maidnya gagap mulu! Omake apa ini…


Chapter ini pendek! Hua..! Failure..! Maafkan Sora..! Tapi mungkin yang berikutnya bakal panjang. Mungkin. Gak janji. Mana Sora sempet-sempetnya bikin Omake dan Lawakan Gagal pula! Sora… Kau memang tidak tahu diri nak! Maafkan lawakan gaje di chap ini! Pas Sora baca ulang, ternyata chap ini malah berisi lawakan orz OAO

Btw, PLN? Ada yak PLN disana?