Didekatkan lah jaket itu ke hidungnya, dan matanya pun membelalak kaget. Bau parfum. Tentu, ini hanya sebuah harum dari parfum. Tapi Miharu ingat betul, ini bukan bau parfum yang sering Kuroko pakai. Kalau ada bau parfum sampai menempel seperti ini... pasti ada seseorang yang dekat-dekat dengan Kuroko dalam jangka waktu lama. Seperti waktu dari ia pergi sampai pulang ini.
Miharu langsung merasakan dadanya sesak.
Tapi... rasanya... ia merasa familiar dengan bau parfum itu.
Dimana ia pernah mencium bau itu?
.
DISCLAIMER: DO NOT OWN ANYTHING.
WARNING: YAOI, BL, SHONEN-AI, fic pertama ku di fandom Kurobasu.
.
It's OK
Chapter 3
Connects
.
Ssshhh...
"...mi."
"..."
"Nanami."
"Huh?" Akhirnya orang yang dipanggil pun meresponnya setelah entah berapa kali ia panggil, pria bermata heterochromatic itu menatap kepada sosok istrinya dengan pandangan penuh pertanyaan kenapa dari tadi dia tidak menjawab panggilan dari dirinya. Wanita bermata hitam-kemerahan itu mengedipkan matanya beberapa saat sebelum berbicara.
"Ada apa, Sei-kun?"
"Itu. Gosong."
"Eh? Gosong?" Tiba-tiba penciumannya mencium bau gosong yang menyeruak di sekitarnya, dan matanya pun membelalak kaget saat menyadari bahwa bacon yang dia sedang masak itu gosong karena lama tak dibalikkan. Dengan cepat dia mematikan api kompor dan menatap lirih kerada bacon yang sekarang setengah hangus.
"G-Gomenne, Sei-kun... Ini jadi gosong." Ucap Nanami seraya dia menatap sang Akashi Seijuuro dengan pandangan takut.
"Tak apa, Nanami." Akashi pun mengusap-ngusap kepala istrinya dengan lembut, sedangkan Nanami hanya bisa terdiam dan merasakan kepalanya di usap. Tentu saja Akashi menyadari sesuatu yang ganjil darinya, ditarik lah nafas dalam-dalam dan, "Bagaimana untuk sarapan hari ini kita makan di luar saja?"
Nanami mengangkat kepalanya dan menatap Akashi, "Eh?"
"Sepertinya kau juga sedang tidak mood untuk memasak. Jadi, bagaimana?"
"Etto... un, boleh." Nanami mengangguk dan langsung pergi ke kamar mereka. Sedangkan Akashi membalikkan badannya dan mengambil kunci mobil dari meja lalu keluar rumah. Nanami menunggu sampai Akashi keluar dan menutup pintu kamar.
Setelah memilih baju, ia meletakkan baju itu di atas ranjang. Tapi entah kenapa, kejadian kemarin melintas di pikirannya.
'Kasihan Miha... Aku masih tak percaya kalau Tetsu-kun selingkuh...'
Nanami langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan secepatnya berganti baju.
'Kuharap hari ini berjalan dengan baik.'
...
Nanami melahap pancake yang ia pesan di sebuah famires (Family Restaurant) yang terletak tak cukup jauh dari lingkungan rumahnya. Sedangkan Akashi sedang menyeruput kopi dengan santai sambil membaca koran- benar-benar like a Boss banget. Sesekali Nanami menatap figur suaminya yang berada tepat di sebrangnya.
"Ada apa, Nanami?"
"T-tak ada apa-apa." Dia langsung memalingkan wajahnya.
TRIIIIING TRIIIING
"Sei-kun, HP mu bunyi tuh."
"Hm." Akashi menaruh koran dan cangkir kopi itu di atas meja sebelum merogoh saku celananya untuk mengambil HP nya yang bewarna merah dan mengkilap. Saat melihat indentitas sang penelepon, wajah Akashi berubah menjadi ekspresi... senang. Matanya melebar dengan excitement, mulutnya membentuk senyuman tipis. Nanami yang tadi sedang makan, menghentikan kegiatannya sementara.
"Bentar ya, ada telepon dari kantor."
'Bohong.'
"Aku akan keluar menerima telepon ini, kau tunggu di sini saja ya, Nanami."
'Bohong. Kau bilang bahwa hari ini kau pastikan tak ada apapun yang berhubungan dengan pekerjaanmu. Aku tahu itu karena kau pasti sampai mengancam para pegawai untuk itu.'
"Un." Dengan ragu Nanami mengangguk dan membiarkan suaminya angkat kaki dari situ. Tapi tentu saja Nanami masih memerhatikan sosok suaminya yang sekarang sudah di luar dan menerima panggilan itu. Nanami tanpa sadar menggenggam pisau yang a pegang dengan sangat erat.
Ia kesal melihat ekspresi suaminya saat menerima telepon itu.
Jarang-jarang suaminya yang terkenal sanggar dan suka membawa gunting itu bisa tersenyum dengan mudah hanya karena menerima sebuah telepon.
"Sei-kun..."
...
"Nanami, aku ada urusan sebentar di luar. Sekitar dua jam lagi aku akan kembali."
"Eh? Bukannya kau berjanji akan tetap di rumah bersamaku hari ini?"
"Maafkan aku, tapi ini hanya dua jam."
"Huh, baiklah." Ucap Nanami dengan sedikit kesal sambil me-manyunkan bibirnya. Akashi tersenyum saat melihat ekspresi istrinya itu, diangkat lah kedua tangannya dan mencubit kedua pipi Nanami.
"I-ittai, ittai, Se-kun." Lirih Nanami sambil berusaha melepaskan tangan Akashi dari pipinya, Akashi menyeringai dan melepaskan genggamannya. Nanami pun mengelus-ngelus kedua pipinya yang tadi di cubit oleh Akashi, suaminya tersenyum sekali lagi lalu mengusap kepala Nanami.
"Aku pergi dulu, Nanami."
"Un, itterasshai."
Akashi pun keluar dari rumah. Nanami akhirnya berakhir menonton sebuah Anime yang belum sempat ia selesaikan- ini sebuah anime yang menceritakan tentang seorang lelaki bernama Misaki dan roomate-nya yang bernama Usagi, Nanami pun sesekali tertawa – bahkan berteriak ketika melihat suatu adegan. Yah... Walaupun begini-begini, Nanami masih setia menjadi Otaku, dan untungnya Akashi juga tak terlalu komplain tentang hobi istrinya ini.
Drrt drrt drrt
"Hm?" Nanami pun merogoh kantung celananya dan melihat siapa yang mengirimnya pesan, mata hitam bercorak merah itu langsung mengedip beberapa kali. "Miha? Ada apa ya... Jangan-jangan soal Tetsu lagi..."
[Nam, aku mau nanya sesuatu. Kamu ada di rumah?]
[Ada kok, langsung aja dateng ke sini. Aku lagi nonton anime, Sei-kun juga lagi gak ada di rumah.]
[OK.]
Waktunya menunggu sahabatnya itu merkunjung ke rumahnya.
...
Miharu sekarang sudah duduk di sofa ruang keluarga dengan sesekali menyeruput teh darjeeling yang di sediakan oleh sahabatnya beberapa waktu lalu. Nanami menyimpan nampan di atas meja lalu duduk di sebelah Miharu, "Mi, mau nanya apa? Apa ini soal Tetsu lagi...?" Tanyanya dengan sedikit ragu. Miharu berhenti menyeruput tehnya itu dan memandangi cairan cokelat yang berada di cangkir yang ia pegang dengan tatapan sayu.
"Ya, ini tentang Tetsuya... lagi." Wanita itu menyimpan cangkir teh itu ke atas meja dan menyodorkan sebuah jaket putih dengan garis-garis biru muda ke depan Nanami. Sedangkan wanita yang lainnya hanya menatap heran kepada jaket yang di pegang oleh Miharu, "Ini jaket siapa? Aku yakin ini bukan punyamu 'kan?"
Miharu menggelengkan kepalanya.
"Punya Tetsuya."
"Terus, kenapa kau bawa ke sini?"
"Yang ingin kutanyakan adalah, apa kau tahu wangi parfum yang menempel di jaket ini? Rasanya aku sangat familiar dengan bau ini, tapi aku tak bisa mejelaskannya..." Ucapnya sambil sesekali mengusap jaket milik suaminya itu, "Sini biar ku lihat." Miharu pun menyerahkan jaket itu kepada Nanami, setelah jaket itu tersampaikan, Nanami langsung mendekatkan jaket itu ke hidungnya. Seketika matanya membelalak.
Perasaan Miharu mulai tidak enak, "Nam...? Kau tahu itu parfum apa?"
Nanami menjauhkan jaket itu dari hidungnya dan mengembalikan jaket itu kepada sahabatnya dengan pelan, "Ini... aku tahu parfum apa ini..."
"Eh?! Jadi, apa kau tahu siapa yang memakai parfum ini?"
"Ya. Hanya seorang yang kutahu memakai parfum mahal seperti itu."
"Lalu... siapa orang itu?" Tanya Miharu dengan gugup sambil meremas keras jaket milik Kuroko. Hatinya mulai gundah mendengar pernyataan dari sahabatnya itu, apakah pasangannya adalah seorang ojousama dari sebuah perusahaan ternama? Yah, begini-begini juga Kuroko benar-benar populer di kalangan wanita, walaupun kadang mukanya memasang poker face dan nada bicaranya sangat datar.
"Orang itu, adalah Sei-kun."
"..."
Miharu mengedipkan matanya.
"Hah?"
"Serius Mi... Ini parfumnya Sei-kun, dia pakai parfum ini setiap hari. Makannya aku tahu."
"Tu-tunggu... kalau sampai parfumnya Sei melekat di jaket Tetsuya- bearti Sei sangat dekat dengan Tetsuya seharian dong?"
Kini giliran Nanami yang kicep.
"Bisa jadi..." Nanami mulai mengelus-ngelus dagunya dengan lembut dengan pose layaknya seorang detektif. Miharu hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah laku sahabatnya ini yang sebagian besar tak berubah dari sejak mereka bertemu- kadang orangnya itu chuunibyou. Tak lama kemudian, Nanami melepaskan tangannya dari dagunya dan menatap Miharu dengan serius.
"A-Apa?"
"Jangan-jangan hal yang sempat kita pernah bayangkan itu terjadi di dunia nyata?"
"...Maksudmu, hal yang waktu itu sempat kita diskusikan dan debatkan?"
Nanami mengangguk.
Mereka berdua pun saling bertukar pandang.
"Mau memastikannya?" Miharu melirik kepada Nanami, sedangkan wanita yang satunya lagi hanya menyeringai tipis, "Tentu."
"Apa kau tak apa-apa?" Tanya Nanami untuk meyakinkan sahabatnya itu, Miharu tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Tak apa. Kau sendiri?" Nanami mengangkat jempolnya, "Jangan salahkan aku jika kau pingsan nanti ya."
"Kau juga ya, Miha."
Sebuah strategi pun disusun.
To Be Continued
A/N:
Duum Duum Duum~!
Yang kalian tunggu-tunggu akhirnya datang juga, minna-san~ Mari kita ungkap pasangan selingkuhan Sei dan Tetsu.
