Ga bisa tidur.
GA!
BISA!
TIDUR!
Guling kanan, guling kiri, ubah posisi bantal, atas bawah. Tetep aja, mata melek terbuka lebar. Ini yang namanya homesick? Seenak apapun tempat tidurnya, tetep aja susah beradaptasi kalau kasurmu bukan bau iler sendiri.
Tidak, tidak, bukan itu saja masalahnya. Aku sudah membuat "Ratu" di rumah ini marah karena sudah memergoki mereka bermesraan.
Suasana di ruang tamu tadi juga tidak mendukung. Yurio hanya diam memainkan smartphone miliknya, Yuuri masih terus menghantamkan death glarenya. Aku meminum tehku cepat, berpaling ke arah Victor yang duduk di sampingku dan berkata, "Aku sedikit pusing, jadi aku ke kamar dulu." Dengan senyum meringis yang dipalsu-palsukan. Ya, cabut dari sana adalah pilihan terbaik.
Tapi, kalau diingat dan ditelaah lagi, itu fanservis terdahsyat yang pernah kuterima. Dan begonya aku sama sekali tak menyesal, mata otomatis bersih cuy. Padahal baru 2 hari aku di rumah ini.
TAERARENAI KONO SAYAKU DAAAA(*)
Tetap aje harus minta maaf kan? Mau sejauh apapun lari dan menghindar, ujungnya juga harus minta pengampunan dari si Mamih.
"Kalau bikin perkara gini, gimana caranya minta tolong sama mereka?" Aku duduk menghadap jendela, langit malam di Rusia ternyata seperti ini? Indah, meskipun yang menggantung di sana bukan bulan purnama. Aku termangu beberapa saat. Mulai sekarang bagaimana ya? Perkiraan terburuknya adalah, kalau "Queen" engga senang, maka "King" juga pasti engga senang. Dan pastinyah, aku bakalan didepak dari sini.
Di negara orang, tanpa petunjuk apapun.
Gimana kalau orang secakep diriku ini diculik om-om mesum?
Emak bapak di Indonesia pasti nyari. Dan mereka akan menggarsak kamarku untuk menemukan sebuah petunjuk.
Jangan deh, banyak 'fangirling material" di dalam. Yang ada ketika aku ditemukan oleh mereka, aku bakalan siap-siap ditendang lagi dari rumah.
Memikirkannya saja sudah membuat perutku mulas.
Tok, tok, tok.
"Ya!" Aku berjengit ketika ada seseorang mengetok pintuku. Kuseret kakiku tak bergairah, memutar kenop dengan setengah hati.
"Tidak bisa tidur?"
OHMYGOD
"Yu-Yuuri-san?" Lelaki berkacamata itu membawa nampan, di atasnya ada dua cangkir yang mengepulkan asap. Apa jangan-jangan gua mau disiram pake air panas? "E-eh, iya. Kupikir..err…karena ini pertama kalinya aku tidur di sini."
Tapi, tidak. Yuuri tersenyum lembut, aura keibuan mulai memancar dan hatiku meleleh karenanya.
"Coklat panas?" katanya menawarkan. Aku hanya mengangguk canggung. "Aku juga tak bisa tidur. Boleh aku duduk bersamamu?" Gaswat, kayaknya mau bicara tentang kejadian sore nih. Tapi sebagai tamu dan secara ini kamar mereka, mana mungkin dengan kurang ajarnya kuusir dia. Jadi aku mengangguk sekali lagi, mempersilahkannya masuk.
Kami duduk di atas tempat tidur, menatap keluar jendela. Tidak ada suara yang memulai percakapan. Hanya sepi, dan suara seruput coklat panas sesekali. Mungkin aku tampak tenang, tapi rasanya jantungku mau keluar dari sangkarnya. Ini cuma aku atau kami berdua yang merasa canggung? Aku mencuri-curi pandang ke arah Yuuri. Ah, look how graceful he is. Matanya berwarna coklat, dengan wajahnya yang berbinar tertimpa sinar rembulan. Pure sinnamon roll. Rasanya dari seluruh fans di fandom YOI, kurasa akulah yang paling beruntung melihat dia sedekat ini. Tanpa sadar ngeblushing sendiri, kupalingkan wajahku darinya.
Dan aku sudah membuat orang yang kusukai menjadi marah. Ini waktu yang tepat untuk minta maaf. Ya, aku harus minta maaf. Kutarik nafas pelan, oke I'm ready.
"Jadi, bagaimana Rusia?" Ah sial, dia sudah mulai duluan.
"Em, ya. Sangat bagus, maksudku, semua terasa sempurna di sini. Orang-orangnya lumayan ramah. Makanannya juga enak, terutama masakannya Yuuri-san juga. Victor juga baik padaku."
"Oh." YA AMPUN SETELAH SEMUA KATA-KATA LEBAR PANJANG TADI DIA HANYA NGERESPON 'OH'? Beneran marah banget. Mampus, mampus!
"Syukurlah." Katanya lagi. Ada sambungannya toh. "Tentang tadi sore.."
Here it is, aku sudah berpikiran yang enggak-enggak, menduga duga kata-kata selanjutnya. 'Kumohon lupakan dan pulanglah ke Indonesia, SEKARANG.' Atau 'Balikin semua duit Vitya yang kamu belikan barang-barang tadi.' atau 'Karena kamu tak bisa melupakan kejadian tadi, boleh kucongkel kedua bola matamu?'
Ampuni hambamu ini.
"Tentang tadi sore, maaf ya." Kata Yuuri, sambil menatapku, sedikit canggung.
Lho? Lah? Lah dalah?
Dia menggaruk pipinya, ada sedikit rona di wajahnya. "Seharusnya gadis polos sepertimu tidak melihat hal tidak senonoh seperti itu, aku takut kau menjadi tidak nyaman."
Apa? Polos katanya? Tunggu sampai Yuuri melihat history browser-ku yang rata-rata judul depannya adalah 'Victuuri smut fanfic', 'Victuuri fanfic rated M', 'Yuri on Ice dj R18', 'Victuuri NSFW'. Tunggu sampai dia melihat screenshot di galeriku yang full of Victuuri mulai dari yang softcore sampai hardcore.
"Tu-Tunggu Yuuri-san! Aku yang salah, seharusnya aku yang minta maaf karena mengganggu privasi kalian! Aku sudah menganggu kalian dengan… kedatanganku di sini." Yuuri tertegun sebentar, kemudian tertawa.
"Kamu tahu apa ocehan Victor saat latihan ice skating dan sepanjang perjalanan pulang kemari?" Aku menggeleng.
"Victor terus-terusan bercerita tentangmu. Dia berkata, 'Seorang anak perempuan manis yang kuselamatkan itu jadi seperti anakku sendiri.' Dan Yakov, pelatih ice skatingnya terus-marah karena dia selalu mengatakan hal-hal sepeti, 'Dia mau tidak ya jadi anakku?' 'Sedikit mirip sama Yuuri'"
MAU BANGET. DAN GUE DISAMAIN SAMA MAKHLUK TER-EROS SEJAGAT RAYA.
"Sepanjang perjalanan pulang, dia menggangguku menyetir, mengoceh, 'Yuuri~ Karena kamu adalah…" Yuuri sedikit mengalihkan pandangannya, malu-malu. " –calon istriku, boleh kuadopsi dia? Aku yakin kau pasti bisa… ehm.. jadi ibu yang baik."Kalian dengar itu, hatiku yang meletus seperti balon? Kalau dalam lagu 'Balonku', yang meletus cuma satu, maka aku 'balonku' meletus lima-limanya. Kesemsem sendiri, aku Cuma tersipu.
"Dia senang sekali kamu datang kemari. Tapi, Victor keterlaluan. Sampai-sampai kamu harus melihat hal seperti itu. Aku takut kau bisa trauma, meskipun kamu adalah fans kami." Trauma? Pemandangan indah menggiurkan itu dibilang trauma? "Jadi, aku marah padanya. "
Oh.
OOOOOHHH, ITU DEATHGLARE BUKAN BUAT GUE, TAPI ORANG YANG DUDUK DI SEBELAH GUE PAS DI RUANG TAMU TADI, TAK LAIN DAN TAK BUKAN ADALAH MR. VICTOR NIKIFOROV. Ya elah kegeeran banget sih aku ini.
"Haaaaahh.." Aku menghela nafas lega. "Kukira kau marah padaku."
"Buat apa? Aku malah melihatmu sebagai korban." kata Yuuri, sambil mengusap kepalaku.
Aku tersenyum, dia tersenyum. Aku tertawa, dia ikut tertawa. Aku tersedak coklat panas, dia juga ikut tersedak.
"Hngghh, baiklah. Aku mulai mengantuk. " kata Yuuri, menguap. "Aku akan kembali ke kamar." Dia menaruh gelasnya dan gelasku di atas nampan, beranjak dari tempatnya duduk. "Selamat tidur, little lady." Katanya sembari menutup pintu kamarku. Aku melambai, membalasnya dengan kata selamat tidur juga.
Kuhempaskan badanku ke tempat tidur, bau Yuuri masih terasa. Aku merasa sangat lega. Seakan-akan beban dari dalam diriku menguap tanpa bekas. Akhirnya masalah terpecahkan. Sebuah kesalahpahaman diluruskan dengan secangir coklat panas. Dan aku terkikik geli, mungkin Victor tidak mendapat 'jatah' malam ini karena tadi sore mereka nyaris bercinta di depan mataku?
"Hoahhmm." Terbangun, membuka pintu kamarku karena mencium bau yang enak dari luar. Kurentangkan tanganku, langkah kakiku menuju pintu dapur.
"Yuuri~ Kiss me~"
"Tidak."
"Yuuuriiii, maaf."
"Sampai kamu jera dan enggak sembarangan lagi menyerang, aku tidak akan memberi bentuk jenis cuddling apapun."
"Yuuuuriiiii."
Mataku yang tadinya setengah tertutup, terbuka lebar. Victor memeluk Yuuri dari belakang, kepalanya ditaruh di atas bahu sang kekasih bersurai coklat. Pipinya digesekkan ke pipi Yuuri. Yuuri memakai baju kaus dengan celana pendek lumayan ketat, tapi apron yang dipakainya menutupi, dan tengah memasak sesuatu. Sedangkan Victor…
Cuma pake sempak.
Bibir Victor sudah maju untuk mencuri satu dua kecupan, tapi sendok alumunium yang dipegang Yuuri mendorong bibirnya. "TI-DAK." kata-kata Ratu adalah mutlak dan keabsolutannya tidak bisa dibantah. Victor menggembungkan pipinya seperti anak kecil, masih terus memeluk Yuuri, meminta pengampunannya.
Ya Gusti, coba kalau tiap pagi kayak begini, aku pasti semangat pergi sekolah. Dan pastinya akan terus menabrak apapun yang ada di depanku, karena pikiranku hanya tertuju pada satu bayangan, clingy Victor with his fiancée, only wear sempaks.
Karena tak tahan, dan takut jika aku mimisan mendadak, mataku beralih ke arah sofa ruang tamu.
"Yurio nginep di sini?"
Yuuri sepertinya mendengar suaraku, tersadar jika 'sang lady' kembali melihat adegan tak senonoh. Dia mendorong Victor, jari telunjuknya menunjuk ke arah kamar, "Pakai baju sana! Dasar engga tahu malu, di hadapan cewek." Mom, sebenarnya saya seneng kok liat papa, dengan roti sobeknya yang menggiurkan.
Victor masih cemberut, tapi menurut juga. Mungkin takut enggak dapat jatah lagi. Dia melewatiku, kemudian mengedipkan sebelah matanya. Rambutnya yang berwarna abu-abu ikut berayun. CRITICAL HIT, parah, parah dah, jantungku enggak kuat lagi. Tahu aja dia, aku selalu butuh asupan fanservis.
"Iya, Yurio menginap." Yuuri keluar dari dapur, memegang panci teflon. Ada pancake di atasnya. "Kemarin dia terlalu larut bermain game bersama Victor." Aku segera membantu Yuuri, cekatan meletakkan piring dan garpu.
"Terima kasih sudah membantu." Katanya sambil tersenyum, menyiram sirup di atas pancake. Maaf, tapi itu terdengar seperti, "Wah, anak mama hebat yah." di telingaku.
"Oh, bisa tolong bangunkan Yurio-kun?" Apa? Bangunin Yurio? Ini sama aja bangunin macan dari tidurnya, oke aku juga belum terlalu kenal dekat dengan dia. Tapi dari 12 episode anime, sudah menggambarkan gimana garangnya peri dari Rusia itu.
Tapi karena uda disuruh sama mamak, ya udahlah yakan. Turuti aja.
Aku beringsut, menggoyangkan bahu Yurio yang tertidur pulas, dengan ilernya yang banjir di selimutnya. Iyuh, untung elu fave chara gue, kalo gak jijay amat njir.
"Yu-Yuri bangun… Udah pa –" TEPLAK! Tangannya nemplok di jidat, sakiiiittt. Ya gusti, merah nih kening.
"Nyaem, nyem, nyem. Beka~ Kanan dikit." Apaan yang kanan dikit? Bodo amat. Merasa tak berhasil (dan takut kena tepok lagi), aku beralih ke badannya, menggoyangkan tangannya untuk mencegah dia menepukku lagi.
JEDAK!
"Ahaaakhh…."Aku memegangi perutku, Tadi tangan sekarang giliran kakinya yang menendang perutku. Dan si bangke ini masih tidur dengan imutnya tanpa tahu kesusahan orang. Eh, dia senyum, senyum songong. Berarti dia uda bangun dari tadi?
Xianyeng.
Apa maksudnya? Karena aku outsider? Karena aku anak ilang, lupa ingatan yang tinggal di rumah figur skater tajir sekaligus terkenal? Hei, itu tak ada hubungannya! Ini uda ga bisa dibiarkan, dia lebih muda dariku dan itu artinya dia engga menghormati sebagai orang yang lebih tua. Maafkan aku Yurio, tapi tradisi Indonesia mengatakan orang yang tak menghormati abang/kakaknya mesti dibinasakan bukan dibiasakan.
Maka dari itu, dengan penuh dendam aku berteriak, "OTABEK! JAUH-JAUH BAWA PIROZHKI KEMARI? MAU JEPUT YURI YA?"
Dan seketika si kampret berambut pirang itu melompat dari sofa, celingak-celinguk ke kanan kiri, "Beka?! Kan uda dibilang tunggu di airport!" Tapi ya, Yuri tak menemukan Mz Beka tersayangnya. Yang ada aku di depannya, tersenyum dengan lebar.
"Met pagi!" Dan langsung ngibrit, penuh kemenangan
"Sialaaaan!"
"Uda selesai berantemnya?" Aku dan Yurio duduk bersebelahan di meja makan, saling membuang muka. Mengunyah pancake tanpa jeda. Di depan kami ada Yuuri yang terlihat 'lelah' dengan sikap kami serta Victor (yang kali ini sudah pakai baju (Yaaah)) terkikik geli.
"Seperti ibu dan anak ya." Victor berkomentar,
"DIAM." Dibentak kedua Yuri, Victor langsung kepincut, manyun.
Sarapan pagi itu terasa mencekam karena ada aura hitam dari sang ratu Eros.
Aku duduk di sofa, Yurio juga dengan jarak yang sangat jauh dariku. Masing-masing dari kami, menopang dagu dengan satu tangan di atas pegangan sofa, mata menuju televisi. Makkachin duduk di antara kami, seakan bersikap netral. Yuuri menyuruhku dan dia untuk akur. Hell no, to the no no no. Dia lebih muda dan harusnya dia minta maaf duluan. Karakter favorit sih, tapi ini beda kasus. Tidak ada batasan umur dalam menyukai seorang karakter, but this one is different. Anak ini overdosis pirozhki dan perlu diajari tata krama.
Dan lagi, sepertinya si preman kucing ini mau balas dendam, dia tahu aku tak bisa bahasa Rusia. Sengaja mengalihkan channel TV ke siaran berbahasa Rusia. Si lontong satu ini mau ngajak berantem sekali lagi, ha? Mau encore hah? Mau tanding ulang? Rematch? Hayuk sini, mau kamu balerina kek, mau skater kek, seterah. Hayuk gulat sama aku. Kamu meremehkan orang Indonesia hah?
Tiba-tiba, ada piring dengan bau enak yang disodorkan di antara kami.
"Pirozhki katsudon." Kata Yuuri, meletakkan piringnya di atas kepala Makkachin yang anehnya cuma diam, bertindak sebagai meja. Aku dan Yurio meraihnya, mata kami saling bertatapan, langsung membuang muka. Aku mengunyah pirozhki katsudon milikku perlaha. Enak! Duh, kalau Yuuri yang masak kayaknya apapun enak ya.
Yuri menatap tajam diriku, sedangkan aku sama sekali tak membalasnya. Cih, ga sudi! Bodo amat kalau aku yang lebih tua darinya ini dibilang childish. Lagian, dia duluan kan? Kalau menilik cerita Yuuri semalam tentang Victor yang terus-terusan berbicara tentangku, berarti dia sudah tahu aku ada di rumah ini. That insult is on purpose, dia sengaja. Dan ini bikin aku geram.
Dari kunyahan pelan, berubah menjadi kunyahan ganas. Ganas, karena enak sih.
Yuuri hanya menggeleng kepala. "Yuuri, coba lihat koreografi orang ini tahun lalu." Victor memanggilnya dari dalam kamar.
"Iya, sebentar." Yuuri beranjak dari sofa, meninggalkan kami berdua. Makka melompat dari atas sofa, mengikuti majikannya. Yah, tak ada lagi dinding sebagai pemisah. Tayangan menampilkan beberapa kucing lucu, dan sepertinya membahas jenis-jenis kucing di seluruh dunia. Yuri pasti tertarik. Aku melirik sedikit, tuh kan mukanya berbinar.
"Kucingku hamil seminggu yang lalu." Katanya sombong. YA KUCING LU HAMIL KEK, BERANAK KEK, KAWIN LARI KEK, DITINGGAL MANTAN KEK, GUA JUGA KAGAK PEDULI.
"Hm." Aku menjawab seadanya, biar terlihat dewasa dan sedikit memaafkan. Tapi sepertinya dia tak puas dengan responku.
"Himalaya Persia, warna matanya biru."Semakin sombong saja anak ini. "Dia hanya lengket padaku dan Otabek." Yea, mz Beka dimention. "Kamu pasti tak tahu."
CTAS! Tali kesabaranku putus lagi.
"Himalaya, kucing yang bertubuh gemuk, besar, dan bulat dengan kaki yang pendek seperti Persia. Hal tersebut membuat Himalaya sulit untuk melompat. Namun, ras Himalaya juga ada yang memiliki tubuh seperti Siamese, yaitu tubuh yang langsing, ramping, dan anggun. Dan kutebak kucingmu Himalayan Persia."
Dia kicep, aku menyeringai.
"Pada dasarnya untuk jenis kucing ini memiliki sifat yang agak tenang, cerdas dan aktif. Namun walau mereka memiliki sifat yang agak tenang, mereka juga gampang senang dan mudah berinteraksi dengan siapa saja. Jadi, Tuan Yuri Plisetsky, kucingmu itu bukan hanya lengket kepadamu saja jika kau biarkan dia dipegang orang lain."
Yurio manyun, aku tersenyum penuh kemenangan. Tapi doi melanjutkan, "Tahu kenapa mata kucing bisa bersinar dalam gelap?"
Eh, nantang ini ceritanya. Wajahku kupalingkan ke arah dia.
"Kau ragu dengan pengetahuanku tentang kucing?"
"Heh, tadi kau lumayan juga."
Perdebatan dan pertanyaan terlontar. Terkadang berdebat, terkadang sependapat. Kami bahkan tak sadar jika Yuuri dan Victor pergi keluar dan meletakkan sticky notes bertuliskan, "Pergi keluar sebentar ke supermarket. Akur-akur ya. – Love, Victor" di meja ruang tamu.
Aku baru sadar ketika Yurio berkata, "Heh, hebat juga kau." Dan di saat itulah perdebatan terhenti. Mataku berpaling pada meja ruang tamu.
"Terima kasih." Aku tersenyum, mengambil notes yang tertempel. Kali ini ikhlas. Ya iyalah, aku juga seorang cat lover, meskipun kucing di rumah sebatas kucing kampung yang kalau dikasih makan tinggal dikasih ikan asin. "Sepertinya Yuuri dan Victor berbelanja."
Aku menatap dia, dia balik menatapku.
"Mungkin kita bisa akrab jika itu tentang kucing."
"Setuju." Oh kutarik ucapanku tadi, tentang aku masa bodo dengan kucing.
Friendship point with Yuri Plisetsky, +25
Lama kami berdialog, mencurahkan segala hal tentang kucing. Mulai dari jenis, perilaku, sampai cara melahirkannya. Aku memberinya beberapa petunjuk jika sewaktu-waktu kucingnya melahirkan, dia bisa menanganinya dengan baik. Dan Yurio benar-benar menyimak apa yang kukatakan.
Bel pintu depan tiba-tiba berbunyi. Aku segera berlari ke depan. Mungkin Yuuri dan Victor lupa membawa kunci apartemennya. Yurio mengikuti dari belakangku.
Edan.
Mas Beka?!
"E-eh, Otabe –"
"BEKAAAAA!" Yurio langsung melompat, Otabek sudah siap, merentangkan tangannya. "Kan uda dibilang tunggu di airport! Bukannya pesawat landing jam 4 sore?" kepalanya di ceruk leher Otabek, memeluknya dengan kencang. Kakinya dikaitkan di pinggang sang skater dari Kazakhstan itu.
Yaolo, kayak koala, imutnyaaa. Aku jadi kyun-kyun sendiri. Nambah satu OTP lagi bermesraan di depanku, sumvah jantung beta tak kuat lagi.
"Pelatihku meminta jadwalnya dipercepat." Tangan Otabek mengelus rambut pirang Yurio. Kemudian dia tersadar kehadiranku yang tengah kesusahan menahan rasa fangirling di dalam dada.
"Otabek Altin, aku mau menjemput dia."
"Sa-Salam kenal." Otabek memakai jaket warna hitam, celan jeans hitam. Ok, tapi perawakannya yang tenggap dan manly, yeah lebih manly dibandingkan di animenya, membuatku nyaris pingsan.
"Dia tahu banyak tentang kucing juga, Beka!" kata Yurio berbinar. Silauuu! Otabek hanya tersenyum menanggapinya. Yang ini juga bikin silauuuu!
"Kau membuat teman lagi sepertinya."
Setelah mengambil tas dan jaketnya, Yurio meminta nomor teleponku dan media sosial (sementara kubuat dengan username "Little Lady". Well yeah, aku tidak mau ketinggalan informasi dan aku tak bisa hidup tanpa internet). Dia melambai ke arahku, keluar kamar apartemen. Aku membalasnya. Otabek mengambil tasnya, dan aku sempat melihat Yurio marah karena Otabek tidak membiarkannya menggendong tas sendiri.
"Kamu lumayan, gadis jelata. Lain kali kita bicara lagi." Dia tersenyum lebar (ingat scene Yurio memberi yuuri pirozhki katsudon? Ya, ya persis seperti itu.), lalu pintu apartemen sepenuhnya tertutup.
Tapi, yang kudengar dari mulut anak berumur 15 tahun itu adalah,
"Nanti kita main lagi ya!"
Aku kembali ke kamarku, meraihku smartphone. Ding! Permintaan pertemanan diterima. Aku tersenyum, senang. Sepintas, aku berpikir kalau dia sengaja datang kemari untuk melihatku? Ehehe, mana mungkinlah aku sespesial itu.
Aku tetap "Gadis rakyat jelata pecinta kucing dan pirozhki" di matanya.
A/N: Halooo~~ yang ngira bakalan didepak dari apartemen mana suaranya XD
(*) TAERARENAI KONO SAYAKU DAAAA itu dari scene dimana Yuuri ngerasa bersalah banget udah ngebentak Victor, dan dia menghindari Victor seharian. Kira-kira di eps 4 atau 5. Itu ketika mama masih malu-malu sama papih XD
Yosh, OtaYuri dan Makka sudah muncul. Hmm, banyak yang ngereq Phichit buat dijadiin ultimate duo fujo yang mengejar Victuuri dimanapun berada. Iye, ntar dimunculin kok leader fandom kita yang satu itu XD
nah, ini balasan review bagi Guest:
viccy: Yup, dreams come true dan coba kalau itu terjadi di dunia nyata, bukan cuma di fic XD
Victuuri Is Canon : Tenang Phichit, sang Lieutnant Victuuri bakalan dimunculin kok
Oh dan satu lagi, karena fic ini haruslah berdasarkan keinginan reader ke depannya gimana, tolong jawab pertanyaan (yang sebenarnya tidak) penting ini:
JIKA KAMU BENAR-BENAR DI POSISI INI, APAKAH KAMU TERPIKIR UNTUK KEMBALI KE TANAH AIR TERCINTA?
Yosh, sekian cao~ cao~
