Cast : Bryan Kim (SJ), Nathan Kim (SJ), Marcus Cho (SJ), Vincent Lee (SJ), Stefia (OC)
Rate : T
Genre : Friendship
Warning : Typo, OOC, dan kekurangan yang lain.
DLDR
Enjoy :)
Forever Bestfriend
Chapter 3
Palmyra, sebuah kota kecil yang memiliki keindahan yang luar biasa. Diapit oleh beberapa pegunungan tidak menjadikan kota ini terisolir oleh dunia luar. Justru hal itu digunakan oleh walikota Aaron Cho dan sahabatnya Dean Parish membuat kota kelahiran mereka dikenal hingga pelosok wilayah Nevada. Indahnya wisata alam yang diciptakan Tuhan di tempat ini membuat banyaknya wisatawan yang ingin melihat sendiri surga dunia yang berada tak jauh dari pusat kota. Selain itu keramahan penduduk dan kesejahteraan mereka menyebabkan beberapa pendatang yang ingin menjadi bagian dari kota ini.
Parish dan Cho adalah nama dari beberapa keluarga terpandang di Palmyra. Kakek buyut merekalah yang telah membuka kota ini berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan hingga saat ini keduanya tetap disegani oleh seluruh penduduk kota. Bersama dengan beberapa sahabatnya yang lain –Ryan -, Dean dan Aaron membuat Palmyra seperti yang diketahui banyak orang saat ini.
Aaron Cho adalah walikota ke 41 Palmyra. Kepeduliaannya pada rakyat membuatnya dipilih untuk kesekian kalinya. Selain itu wajah yang rupawan meski telah berusia lanjut membuat banyak wanita begitu senang memandangi wajah sang walikota, tapi hati seorang Aaron Cho telah dimiliki oleh Alexis Cho. Wanita manis yang sangat mahir memainkan biola ini mampu membuat hati Aaron Cho tak berdetak saat pertama kali bertemu. Dan dengan bantuan dari sahabatnya, Ryan Lee, dia mampu memiliki wanita yang kini telah memberikannya seorang putra dan putri.
Ahra Cho adalah putri pertama pasangan Aaron-Alexis. Dikaruniai wajah yang cantik tidak membuatnya sombong. Dia juga selalu membantu semua orang yang membutuhkan bantuan. Sikap yang supel dan humble yang dimilikinya semakin membuat penduduk Palmyra menyayanginya. Sementara itu sikap sang adik yang jauh berbeda dengannya tidak membuat warga Palmyra mengacuhkan keberadaannya. Bagi mereka keusilan seorang Marcus Cho adalah pelengkap dari kesempurnaan sikap keluarga Cho yang selalu terkenal dengan sikap santun mereka.
Dean Parish, seorang pengusaha yang sukses. Tidak hanya memiliki perusahaan di Palmyra, tetapi juga memiliki saham yang tak sedikit di kota-kota besar seperti Nevada dan New York. Keputusannya memilih tinggal di kota kecil seperti Palmyra adalah melanjutkan usaha sang kakek buyut guna mensejahterakan masyarakat di kota ini. Dan sekarang dia berhasil melakukan mimpi sang kakek.
Memiliki istri yang tak kalah berbakat dengan Alexis dalam memainkan alat musik membuatnya sangat bahagia. Bahkan sang istri –Mary Jane -dan sahabatnya itu telah membuat sekolah musik bagi masyarakat Palmyra. Wanita yang dinikahinya saat masih tinggal di New York itu telah memberinya tiga anak. Kedua anak kembarnya –Casey Andrew Parish dan Albus Diamond Parish- saat ini tinggal di New York bersama sang kakek, sementara putri bungsunya, Stefia Georgina Parish, lebih memilih ikut dengannya dan sang ibu.
Ryan Lee adalah sahabat Aaron dan Dean sejak kuliah. Dan bersama-sama membangun kota yang kini telah menjadi rumah bagi ketiganya. Meski tidak lahir di kota ini, Ryan selalu berharap suatu saat nanti bisa dimakamkan di Palmyra. Menjadi seorang pelukis tidak membuatnya kekurangan ide dalam menuangkan karyanya dalam kanvas. Keindahan alam Palmyra selalu membuat semuanya karyanya terjual dengan sangat mahal. Menikahi seorang gadis asli Palmyra menunjukkan keinginannya untuk bisa selamanya menetap di kota dari pernikahannya dengan Ernie Lee, dia dikaruniai seorang putra yang sangat manis.
Persahabatan yang terjadi antara tiga kepala keluarga itu juga dialami oleh anak-anak mereka. Sejak kecil tinggal berdekatan dan selalu sekolah ditempat yang sama membuat ketiganya tidak bisa berjauhan satu sama lain. Tak jarang ada beberapa gadis yang iri melihat kedekatan Marcus dan Vincent terhadap Fia. Keduanya selalu menjadi pelindung satu-satunya sahabat gadis mereka.
Pagi yang selalu dihiasi dengan suara cicitan burung membuat seorang lelaki terbangun dari tidurnya. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang panjang membuatnya enggan bangun dari kasurnya yang nyaman. Dicobanya lagi untuk kembali kealam mimpi, hingga saat dia hampir tertidur suara nyaring yang dihafalnya mendera kedua telinganya.
Diacuhkannya sang pembuat suara dengan menutup wajahnya dengan bantal, tapi ternyata sang pengganggu tidurnya itu memiliki cara untuk membuat lelaki itu beranjak dari tidurnya.
"Bangun pemalas" diseretnya selimut besar yang menutupi sang sahabat, setelah itu dibukanya tirai dan jendela lebar-lebar agar udara bisa masuk.
"Aissshh…tutup jendelanya bodoh, " rutukan sang pemilik kamar sama sekali diacuhkan oleh lelaki yang kini hanya mampu menahan tawa melihat sahabatnya meringkuk kedinginan.
"Cepat bangun Bryan, tidakkah kau tertarik berkeliling kota huh?"
"Tidak saat ini"
"TAPI UDARANYA SANGAT CERAH PAGI INI !" teriakan yang bisa membuat telinga berdenging itu sukses membuat lelaki yang tadi meringkuk bangun dari tidurnya.
"Kau tidak perlu berteriak seperti itu kan Nathan?" kesalnya kepada sang sahabat yang hanya tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuatnya berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri dan sarapan pagi, keduanya beranjak mengelilingi kota yang akan mereka tinggali beberapa tahun kedepan. Mereka sama sekali tidak menyadari jika hari ini takdir akan mempertemukan mereka dengan sahabat-sahabat yang akan menjadi bagian dari hidup mereka kelak.
Dua orang dengan ekspresi berbeda itu tetap melangkah setelah melihat sekolah yang akan jadi tempat mereka menimba ilmu. Lelaki yang berjalan di depan dengan semangatnya menyapa setiap orang yang dijumpainya dengan ramah dan tak jarang akan berteriak seperti anak kecil saat melihat sesuatu yang menakjubkan menurutnya. Sementara dibelakannya, tampak lelaki dengan mata mengantuk berusaha mengimbangi langkah sang sahabat.
"Kyaaa….. Bryan lihat itu !" teriakan Nathan hampir saja membuat Bryan terjungkal karena terkejut.
"Aishhh berhentilah berteriak seperti itu. Kau bisa membuat telingaku rusak tahu" kesalnya seraya mengusap telinganya yang kembali dibuat berdenging oleh lelaki manis didepannya.
"Hehehe, jika telingamu rusak, kau bisa menyuruh ayahmu menyembuhkannya bukan?" ledek Nathan. "Lihat itu !" lanjutnya seraya menunjuk sebuah gunung yang diatasnya tertutup salju. Tinggal di kota besar sejak kecil membuat Nathan jarang melihat pemandangan seperti itu. "Dan kita bisa melihat itu setiap hari" senyum manis di wajahnya membuat Bryan mengurungkan niat untuk memarahinya.
"Kau ini…" diacaknya surai kecoklatan sang sahabat gemas dan berjalan mendahuluinya.
"Yakk…jangan tinggalkan aku !" teriakan kembali terdengar saat lelaki manis itu berusaha menyusul sahabat esnya itu yang berlari jauh dari mereka terlihat tiga orang penduduk lokal yang tengah membicarakan festival yang akan digelar setiap tahun. Dan perayaan besar itu akan terjadi besok lusa.
"Menurutmu apa yang akan menjadi pusat festival kali ini?" satu-satunya gadis itu berbicara dengan mulut tak berhenti mengunyah gummy kesukaannya.
"Entahlah, tapi aku sempat mendengar dad berkata jika tema kali ini tentang makanan. Dan apakah kalian tahu jika kemarin ada dua keluarga yang resmi menjadi bagian dari Palmyra?" putra san walikota menjawab dengan pandangan terfokus pada benda di tangannya.
"Mungkin salah satu diantara mereka adalah dokter yang diperbantukan di Bluesky Hospital. Dad yang memberitahuku" lelaki manis dengan pakaian serba pink itu ingat tentang pembicaraannya dengan sang ayah kemarin.
"Kau benar Vince, dan juga keluarga koki" Marcus membenarkan pernyataan sahabat pink-nya itu.
"Jadi kita mempunya tetangga baru bukan? Aku tidak sabar untuk mengunjungi mereka" senyum terukir di wajah Fia saat menyadari jika akan ada kunjungan yang akan dilakukannya. Dia sangat menyukai hal itu karena bisa menikmati kue buatan ibunya yang sangat disukainya.
"Dasar aneh" kedua sahabatnya hanya mampu menggelengkan kepala mengetahui kebiasaan sang sahabat.
"Ayo cepat, aku tidak mau Aunt Alexis dan Mom memarahiku gara-gara kita telat ke Harmony School."
"Kau pikir kami mau?" dan ketiganya pun mempercepat langkah mereka menuju satu-satunya sekolah musik di Palmyra.
TBC
