Ngak lagi pake privasi2an, tadi aja bingung mau bukanya gimana. Silahkan baca sudah.. maaf kalau menganggu!
Sinar Mentari menyirami hamparan bunga dan rumput yang mengelilingi mansion putih yang berdiri megah. Kicau burung menjadi pengiring pagi musim semi yang menggoda setiap kuncup bunga untuk membuka kelopaknya, menampilkan setiap keindahan yang dimiliki untuk memanja setiap mata yang melihat. Namun, semua keindahan itu tidak menghentikan langkah kaki seorang pria yang berjalan anggun dalam balutan jas hitam. Pria itu terus melangkah tidak mengindahkan bunga-bunga yang menebar bau harum untuk memikatnya. Langkah kakinya berbelok menjauhi pintu utama mansion yang menjulang tinngi dan berhenti tepat didepan pintu yang berukuran lebih kecil di samping bangunan. Itu adalah pintu khusus karyawan. Pintu yang sama dengan yang pertama kali dia masuki dulu bersama sang Tousan.
Tanpa menunggu dia membuka pintu dan di sambut para pelayan dan maid yang bekerja didalam rumah ini.
"Pagi Uchiha sama"
"Pagi Uchiha sama." Satu persatu para maid dan pelayan pria berpakaian hitam putih itu membungkuk pada sang Uchiha, yang ditanggapi dengan bungkukan kecil dan senyuman tipis yang tidak pernah mencapai mata.
"Pagi, apa Tuan Besar telah bangun?" Sasuke yang sejak pagi buta telah keluar rumah dikarenakan ada urusan, bertanya apa tuan pemilik mansion ini telah membuka matanya pagi ini.
"Belum Uchiha sama, Tuan Besar belum keluar dari kamarnya," seorang maid berambut coklat menjawab pertanyaan Sasuke.
"Hn... Siapkan nampan, aku akan membangunkan Tuan Besar" para pelayan dapur menyiapkan nampan berisi jus jeruk dan buah dan menyerahkannya pada Sasuke, mereka hafal kebiasaan sang Tuan besar yang selalu meminum jus itu sebelum sarapan pagi.
Sasuke membawa nampan itu dan berjalan keluar dapur dan berbelok menuju tangga pelayan, memperlambat langkahnya saat akan menaiki tangga pertama. Sasuke ingat hal mengerikan apa yang dia lakukan di tempat ini, bahkan ingatan itu hingga kini belum pernah menganggu Sasuke. Sasuke kembali berjalam menaiki tangga dan berbelok kekanan. Menelusuri lorong panjang yang akan membawanya pada kamar utama di mansion ini. Di sepanjang lorong Sasuke bertemu maid-maid yang sedang bekerja membersihkan tempat ini hingga selalu tampak sempurna. Mereka membukuk dan berbisik saat Sasuke berjalan melewati mereka, bersemu merah hanya dengan menatap wajah yang terukir begitu rupawan oleh tangan sang pencipta.
Fisik Sasuke memang telah banyak berubah sejak masa kanak-kanak dan remajanya dulu, tubuh sang Uchiha kini telah menjulang tinggi dengan bahu tegap dan pinggang ramping. Otot-otot tubuhnya telah berkembang sempurna di balik jas yang dia gunakan. Para pria yang pernah melihat tubuh Sasuke hanya dapat berdecak dan mengigit jari dengan iri, sedangkan para wanita yang beruntung mengintipnya bersimbah darah karena hal terlarang yang tidak sengaja mereka lihat. Kesan kanak-kanak pada wajah Sasuke kini telah menghilang, meninggalkan wajah mempesona pria dewasa yang membuat setiap wanita bermimpi liar setelah menatapnya. Rambut Sasuke kini tidak lagi mencuat melawan grafitasi, namun disisir kebelakang dengan beberapa helai rambut yang menjuntai yang semakin menonjolkan fitur wajah sempurna yang dimiliki sang Uchiha. Sasuke yang berumur 23 tahun ini benar-benar telah bertransformasi menjadi kaisar malam penuh dosa.
Sasuke memasuki kamar utama dalam bangunan ini, pandangannya langsung tertuju pada sosok berambut pirang berantakan yang tengah duduk di sisi tempat tidurnya. Matanya yang hampir terpejam karena efek bangun tidur menatap Sasuke yang membawa minuman dan makanan ringan untuk dirinya. Seulas senyum tersemat menyambut pria yang telah dianggapnya anak ini.
"Tumben kau baru muncul membangunkanku Sasuke, biasanya sebelum aku bangun kau sudah ada di sini" Namikaze Naruto, sang Tuan Besar di mansion ini berdiri dan merengangkan tubuhnya, guna menghilangkan kantuk yang masih tersisa.
"Maaf Tuan Naruto, tadi saya masih harus keluar mansion sebentar" Sasuke menghampiri Naruto dan meletakkan nampan di meja sebelah tempat tidur Naruto.
"Sudah ku bilang gakki, jangan panggil aku Tuan, kau boleh memanggilku Tousan paman atau bahkan Naruto jika kau mau" Naruto tersenyum dan mengusap kepala Sasuke yang telah sedikit melewati tinggi badannya. Kebiasaan yang telah terbentuk sejak mereka pertama bertemu.
"Hn.." Sasuke tidak menjawab saran dari Naruto, jujur saja Sampai matipun Sasuke tidak akan mau memanggil Naruto ayah. Yang diinginkan Sasuke bukanlah hubungan ayah anak yang selalu Naruto tawarkan padanya sejak kematian Fugaku. Naruto telah berniat mengadopsi Sasuke sejak delapan tahun yang lalu, namun selalu ditolak Sasuke dengan berbagai alasan dan cara. Namun penolakan Sasuke sepertinya masih belum menghilangkan niat Naruto untuk menjadikan Sasuke keluarga. Andai sang Namikaze tahu dalam cara apa Sasuke mengiginkannya, mungkin dia akan lari menjauh dari sang Uchiha saat itu juga.
Naruto meminum jus jeruk yang selalu di minumnya setiap bangun tidur sejak ia masih kanak-kanak. Kebiasaan aneh yang belum bisa dihilangkan Naruto. Naruto berjalan memasuki kamar mandi, dan Sasuke langsung menuju lemari pakaian yang luasnya menyaingi sebuah apato. Seperti biasa Sasuke akan memilihkan baju yang akan dikenakan Naruto hari ini, memeriksa semua hal yang diperlukan sang tuan untuk menjalani hari.
Sasuke juga yang akan membantu Naruto untuk bersiap, yang terasa seperti berkah dan siksaan disaat bersamaan. Seperti saat ini, melihat Naruto yang baru keluar kamar mandi dengan hanya handuk yang meililit pinggang. Membuat monster dalam diri Sasuke berteriak untuk menerjang Naruto. Namun kendali diri luar biasa yang telah Sasuke bangun, membuatnya mampu menekan perasaan primitive yang melanda dirinya. "Tenanglah Uchiha Sasuke, tunggulah sebentar lagi." Mantra itulah yang selalu dia ucapkan pada dirinya guna mencegah hal ceroboh yang akan merusak rencana yang telah ia susun selama bertahun-tahun ini.
Sasuke memperhatikan bagaimana Naruto berpakaian dengan gerakan yang elegan. Naruto memanglah seorang yang terlahir dengan sendok emas dimulut. Dia diajari setiap tatakrama yang memungkinkan untuk dipelajari. Dua belas tahun Sasuke memperhatikan Naruto, ia tidak pernah melihat Naruto berlaku di luar batas moral. Dia selalu berjalan di bawah cahaya dengan bahu tegap dan mata menatap lurus kedepan. Membuat karyawan, relasi bahkan musuhnya menaruh hormat pada pemimpin keluarga Namikaze ini.
Tahun ini Naruto telah menginjak usia 38 tahun, namun penampilannya masihlah terjaga akibat kegemarannya berolahraga. Kesehatan yang selalu dipantau, serta DNA keluarga Namikaze yang memang memiliki kecenderungan awet muda sejak para leluhur, membuat penampilan Naruto lebih mendekati awal 30 dari pada hampir 40.
"Sasuke, kau tau tentang Sharinggan Investment?" Naruto mengajukan pertanyaan itu dengan sambil lalu saat mengancingkan manset lengan kemejanya. Andai Naruto memperhatikan Sasuke, mungkin ia akan dapat melihat sekelibat perubahan ekspresi Sasuke yang diakibatkan perkataanya.
"Hn.. Perusahaan investasi yang memiliki kantor pusat di Inggris kan?" Sasuke kembali keekpresi datarnya. Memberikan dasi merah marun untuk Naruto kenakan.
"Iya, perusahan itu. Perusahaan itu baru didirikan enam tahun yang lalu, namun perkembangannya sungguh mencengangkan. Hanya dalam waktu singkat mereka menjadi perusahaan investasi yang diperhitungkan di dunia. Delapan bulan lalu mereka membuka cabang di Konoha dan kini bursa saham Konoha sudah hampir dikuasai mereka" Naruto mengambil jas yang disodorkan Sasuke dan mengenakannya. Entah sejak kapan Naruto terbiasa dibantu Sasuke untuk bersiap dipagi hari, padahal dulu dia enggan.
"Apa anda terganggu dengan perusahaan itu?"
"Tidak juga, akhir-akhir ini Sharinggan melakukan pembelian saham Namikaze Corp. Aku rasa mereka sedang mencoba berinvestasi pada perusahaanku. Aku kira mereka membuat kepusan yang bijak." Naruto tersenyum percaya diri dan beranjak keluar diikuti Sasuke
"Yang membuatku penasaran, lebih dari perkembangan luar biasa perusahaan itu adalah pemiliknya." Hingga di meja makanpun sepertinya Naruto belum mau melepas topic yang dibicarakannya tadi.
"Bukankah sekitar waktu pendirian perusahaan itu kau juga sedang ada di Inggris Sasuke?, apa kau tidak mendengar apapun tentang pemilik perusahaan itu?" Naruto menatap Sasuke yang kini telah duduk disamping kanannya di meja makan. Sasuke selalu makan besama satu meja dengan keluarga Namikaze, karena Naruto tidak suka jika Sasuke menganggap dirinya adalah pelayan, bagi Naruto, Sasuke adalah keluarga. Walaupun hingga kini Sasuke selalu menolak tawaran Naruto untuk menjadi putranya.
"Entahlah, saat itu saya sedang menjalani masa kuliah"
"Aku lupa jika aku sendang bertanya pada pemuda yang berangkat ke Oxford pada usia 15 tahun dan pulang pada usia 20 tahun dengan membawa gelar S2nya dengan nilai sempurna." Naruto tersenyum bangga pada Sasuke. Mirip senyum seorang ayah yang bangga akan pencapaian putranya. Naruto berharap Sasuke akan mau untuk menjadi putra yang tidak pernah dia miliki.
"Papa!" Seorang gadis berambut hitam memeluk leher Naruto dari belakang.
"Kau sudah bangun sayang? Bagaimana tidurmu?" Naruto tersenyum mendapati putri semata wayangnya kini telah bangun dan memberikannya ciuman selamat pagi dipipi.
"Nyenyak sekali Papa, selamat pagi Sasuke nii." Terdapat semburat merah saat Himawari memberi salam pada Sasuke dan duduk tepat didepannya.
"Apa yang akan kau lakukan hari ini Hima?" Naruto bertanya pada sang putri yang kini telah tumbuh menjadi wanita yang luar biasa menawan.
"Be..lan..ja.. heheheh"
"Lagi?" Naruto menaikkan alisnya, mendengar keinginan sang putri yang memang suka sekali berbelanja.
"Hemm... Ada tas dan sepatu yang kuinginkan, bolehkan Pa.." Naruto hanya menghela nafas dan mengangguk, dia sadar dia tidak akan bisa menolak keingainan Himawari apapun itu. Mungkin itu juga yang membuat gadis satu ini menjadi manja.
Sarapan diwarnai dengan celoteh riang dari sang putri Namikaze, yang sesekali di warnai senyum Naruto ataupun gelengan dan anggukan Sasuke.
"Kau tunggu aku di mobil Sasuke, aku akan ke atas untuk mengambil kontrak dengan Subaku" Naruto mengelap mulutnya dan beranjak berdiri.
"Biar Saya ambilkan Tuan"
"Aku memang sudah tua Sasuke, tapi aku belum lumpuh. Dan hentikan pangilan tuanmu itu padaku, sudah berapa ratus kali aku menyuruhmu untuk menghentikannya? Aku lebih suka kau memanggilku Naruto dari pada tuan."
"Emm... Sasuke nii.." Himawari memanggil Sasuke yang hendak melangkah pergi.
"Iya Nona?"
"Minggu besok, Sasuke nii bisa menemani Hima?" Terdapat binar harapan dimata Himawari. Mata yang mirip sekali dengan mata yang pernah menatapnya penuh kebencian dulu, mata sang mantan nyonya Namikaze.
Sejak lama Sasuke sadar, gadis didepannya ini menaruh hati padanya. Semua tercermin dari tingah laku dan pandangan yang ia berikan pada Sasuke. Bukannya senang, Sasuke menganggapnya masalah. Untuk rencana yang akan dijalankannya, perasaan gadis ini adalah masalah.
"Maaf Nona Himawari, hari itu saya memiliki janji." Tanpa menoleh Sasuke meninggalkan Himawari yang menatapnya kecewa. Cepat atau lambat Sasuke tahu, ia harus menyelesaikan masalah perasaan Himawari padanya, sebelum Naruto tahu dan memperunyam segalanya.
Sesampainya di perusahaan Namikaze, mereka disambut bungkukan dan salam para karyawan. Para pengunjung yang baru pertama melihat pemandangan Naruto yang berjalan diikuti Sasuke, tidak akan bisa mengalihkan pandangan. Jangankan mereka, para karyawan yang setiap hari melihatpun masih belum terbiasa. Naruto yang berambut pirang dan bermata biru, mirip raja dari negeri dongeng dengan segala karisma dan wibawanya, sedangkan Sasuke, dia seolah menjelma menjadi kaisar malam yang dapat membuat setiap orang bertekuk lutut hanya dengan pandangan.
Naruto dan Sasuke terus berjalan memasuki lift dan menuju lantai teratas gedung yang menjulang menantang langit. Saat akan memasuki ruangan, wanita dengan surai berwarna merah berdiri dan membukakan pintu.
"Selamat pagi Karin"
"Selamat Pagi Tuan Namikaze, Selamat pagi Tuan Uchiha" Karin adalah sekertaris Naruto semenjak empat tahun yang lalu. Perempuan berambut merah dan berparas menawan ini telah membuktikan kecakapannya melebihi ekspetasi Naruto sendiri. Karin telah membuktikan diri pada Naruto, dengan tidak pernah bergosip tentang dirinya dengan karyawan yang lain, serta bekerja dengan kemampuan yang sangat memuaskan. Dan mungkin juga, hanya Karin yang tidak berusaha menggoda dirinya ataupun Sasuke selama ia bekerja.
"Apa jadwalku hari ini?"
"Terdapat rapat direksi pada jam 9 pagi, dilanjutkan dengan janji makan siang dan penandatanganan kontrak dengan tuan Subaku. Dan jam 2 siang perwakilan Sharingan Investment akan datang untuk berbicara dengan anda." Karin selesai memberitahu jadwal Naruto hari ini.
Rapat direksi bejalan lancar dengan bantuan Sasuke, kini Naruto dan Sasuke tengah berhadapan dengan Subagu Gaara, kawan serta rekan bisnis Naruto. Mereka sendang berada di restoran hotel bintang lima milik sang Subaku.
Disini juga dilakukan penandatanganan kortak kerja baru mereka untuk dua tahun mendatang, memperpanjang kontrak yang telah mereka sepakati dulu.
"Kau memiliki asisten yang sangat cakap Naruto" Gaara menyesap kopinya dan memandang Naruto penuh arti.
"Kau kira aku buta dan tidak menyadarinya Gaara?" Naruto tersenyum sambil memandang Sasuke yang tengah melangkah pergi untuk mengantar pengacara yang telah mengesahkan kontak yang mereka tandatangani.
"Apa kau tidak keterlaluan hanya memberinya posisi asisten dengan kemampuan yang dimilikinya?" Naruto memandang teman paruh bayanya ini dengan sebelah alis terangkat.
"Kau kira aku tidak mencobanya? Aku telah menawarkan posisi CEO pada salah satu anak perusahaanku namun ditolaknya. Dia beralasan, dengan menjadi asistenku dia lebih banyak memiliki waktu luang untuk membaca. Kau percaya itu? Mana ada anak muda yang begitu maniak membaca buku? Setiap akhir pekan bukannya berkencan, anak itu akan meminta ijin untuk pergi ke perpustakaan atau mencari buku langka yang diinginkannya. Kadang aku menyayangkan kurangnya ambisi yang dimiliki Sasuke" Perkataan Naruto mungkin terdengar seperti keluhan, namun saat mengatakannya tanpa sadar senyum tercetak pada wajahnya. Dan hal ini tidak luput dari pengamatan Gaara.
"Sifat itu agak mengingatkanku padamu, kau kan juga begitu dulu. tidak pernah berkencan dengan siapapun atau menanggapi wanita yang menyukaimu. Kau sadar tidak, berapa banyak hati wanita kau patahkan karena ketidakpekaanmu?" Gaara terkekeh mengingat masa lalu mereka.
"Benarkah? aku tidak tahu" Naruto menatap Gaara dengan wajah polos, karena ia memang tidak tahu kalau dia begitu terkenal dulu.
"Dasar kau menyebalkan sekali, tapi syukurlah mendiang ayahmu menjodohkanmu dengan Hinata, karena jika tidak, aku tidak yakin kau akan menikah dan punya anak sekarang. Kau kan agak tumpul dengan hal-hal seperti itu." Gaara memandang mengejek pada Naruto yang dibalas decak kesal.
"Naruto, apa kau tidak ingin menikah lagi? Himawari sudah hampir dewasa kan? ingatlah, suatu hari ia akan memiliki keluargannya sendiri. Kau mau menghabiskan hari tuamu sendirian tanpa pendamping." Gaara bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Bagaimanapun ia khawatir dengan temannya ini.
"Dan juga, mengingat sifatmu, selama ini kau pasti hidup selibat. Memangnya kau tahan?" Binar jahil mulai mewarnai mata Gaara.
"Tutup mulutmu Subaku" Naruto langsung berdiri dan bersiap untuk pergi, agak kesal dengan sindiran Gaara. Ekspresi kesal Naruto malah membuat Gaara terkekeh.
"Ada apa?" Sasuke kembali ke tempat mereka dan mendapati Subaku Gaara terkekeh dengan Naruto yang berwajah kesal.
"Tidak ada, ayo cepat pergi. Tinggalkan saja orang gila ini." Sasuke mengikuti langkah Naruto. Hingga beberapa saat kemudian Sasuke memdengar Subaku berseru,
"Sasuke, tolong beritahu Tuanmu itu. Sudah saatnya dia mencari wanita untuk menempati kursi Nyonya Namikaze. Aku bisa mengenalkannya pada beberapa wanita luar biasa jika dia mau!"
Seruan itu membuat Sasuke berhenti membeku, untuk sepersekian detik, topeng stoik Sasuke hilang, ia menoleh kebelakang dan memandang sang Subaku Gaara dengan pandangan menusuk penuh amarah dan ancaman mematikan sebelum tersadar dan kembali melangkah pergi.
Gaara tertegun mendapat tatapan dari Sasuke, apa yang dilihatnya barusan itu nyata? atau cuma khayalannya saja?. Karena jika iya, itu bukanlah tatapan pria yang tidak memiliki ambisi, itu lebih mirip pandangan moster yang menunggu kesempatan dalam gelap. Memang lelaki seperti apa yang telah dobesarkan oleh sahabatnya ini?.
Perwakilan Sharinggan Investment hadir di kantor Naruto tepat pukul 14:00. Perusahaan itu tidak mengirimkan pemiliknya untuk melakukan pembicaraan dengan Naruto, namun mereka mengirim dua orang pria sebagai perwakilan. Seorang pria tinggi besar berambut orange, memperkenalkan dirinya sebagai Juugo dan pria lebih kecil berambut perak bernama Suigetsu. Dalam pertemuan itu terjadi pembicaraan yang mengarah pada kesepakatan bahwa Sharinggan Investment akan ikut berinvestasi pada mega projek yang sedang digarap Naruto.
Tidak ada yang aneh dengan kedua orang itu, hingga saat Sasuke mengantar mereka hingga ke lift dia berkata, "Lakukan tahap awal rencana," dan diberi bungkukan oleh kedua orang yang seharusnya tidak pernah dia kenal.
"Akhirnya semua dimulai, jika aku tidak bisa mengapaimu aku akan menarikmu hingga sejajar denganku Naruto"
Saat Sasuke kembali keruangan Naruto, Sekali lagi ia sematkan senyum yang sama yang dia berikan saat ia baru saja membunuh Namikaze Hinata.
Bersambung...
Ada yang nungguin ini cerita ngak? maaf lama...! dan maaf pula pendek. tapi chap depan bakal lebih panjang kok, dan untuk Chap berikutnya tolong kebijaksanaannya agar tidak membaca di siang hari hehehehe Nisaa juga nulisnya ngak siang hari soalnya... fufufufufufu. (Tau kan kenapa disaranin begini?)
Tapi kalau dirasa tidak etis, bacanya nunggu habis lebaran aja ya... XD cuma bulan2 ini nisaa punya banyak waktu. Chap ini udah lolos 3x baca ulang oleh nisaa.. ilmu yang didapet dari kost sebelah juga udah dipake. tapi ngak tahu udah bener apa belom. jadi nisaa masih nunggu kritik dan saran dari para readers.
Dari sini telah ditarik garis merah. Melangkah ke depan berarti faham akan resiko yang ditanggung, karena di sebrang jiwa sadis yang berkuasa fufufufufu...
Sampai jumpa Chap 4 nanti ya...
