warn! cerita ini udah mulai masuk ke plot serius,
jadi mungkin buat kedepannya humor bakal dikurangin.
Slight other pairing BTS and Seventeen; MinYoon/YoonMin, Meanie/WonMin, Namjin, VerKwan, SoonHoon, JunHao, Jeongcheol. DLDR! RnR!
thanks.
[ ]
.
.
.
.
.
.
.
Idiot Knight
— no matter the consequences, i can't stop —
.
.
; chapter III : i'm with you master.
.
©Jo Liyeol
2017!fic || nonsense || rate t+ || bts-svt!
...
Jungkook menggeliat, melenguh brutal, berkali-kali berguling di ranjang. Matanya masih tertutup terpejam erat, terlampau mengantuk meladeni sensasi getir yang menyelimutinya.
Tapi kemudian, ia kembali bergerak tidak nyaman.
Merasakan seseorang bernapas ke seluruh wajahnya.
Di penghujung lelah pelan-pelan kelopaknya terpuka—tipis, buram, membayang. Menyaksikan bagian luar jendela yang masih gelap gulita teraling-aling bulu mata.
Sebab ini Jungkook kembali memejam matanya rapat, berusaha meraih bunga mimpi dan bersikeras terlelap dengan nyaman.
Namun yang ia dapati justru rasa getir itu lenyap.
Terganti hawa panas membakar tubuhnya.
Maka Jungkook tersentak, membuka kelopak mata dan seketika mendudukan diri. Irisnya terlihat kosong, pompa dadanya bergerak kacau tanpa ritme, napasnya terengah—berat, kacau, benartakan.
Jungkook merasa nyaris sekarat.
Berpikir sejenak mungkin dirinya baru saja mengalami mimpi buruk, namun, saat seseorang memeluknya dari belakang—mengecup daun telinganya, menyusuri seperpanjang lehernya, mencumbunya di bahu—Jungkook menemukan begitu nyata sensasi yang kembali membakarnya.
Lebih jelas dan hidup.
Sangat-sangat panas, mendidih, seolah memanggangnya.
Sedangkan yang bisa ia lakukan hanya memejam mata, mengepal tangan kuat-kuat, berusaha tetap bernapas ketika bara api itu semakin gencar meremukannya.
Dan kemudian, Jungkook tertegun, merasakan kesadarannya porakporanda ketika sosok itu menuntun rahangnya begitu lembut. Menjadikan mereka bersitatap dan suara itu membisik tepat di depan bibirnya.
Jatuhlah padaku ...
Maka Jungkook membatu; mendapatkan tubuhnya hancur menjadi lava, pori-porinya mengelupas dan cairan magma mendidih berusaha membobol kulit luarnya yang mengkropos.
Namun Jungkook terbelenggu.
Terpikat untuk menyaksikan hazel itu. Hanya hazel itu. Perpaduan dari pekatnya darah, api, abu dan kegelapan. Kebeningan safir memantul dari bagaimana ia menatapnya terlalu intens.
Hingga waktu di mana Jungkook menyadari satu fakta, sebuah ironi kalau raganya nyaris punah dari muka bumi. Beterbangan menjadi abu dan sisa-sisa magma sepekat darah.
Dan Jungkook memahami, baru tersadar dengan senyum pongah sosok itu yang menyeramkan. Seolah-olah tertawa untuk kematiannya.
Di penghujung kepunahan Jungkook menyaksikan cara sosok itu berbisik kepadanya. Arogan, angkuh, siap terbahak-bahak.
... dan musnahlah.
Maka Jungkook tergugu, menahan napas yang tercekat di kerongkongan. Memperhatikan seluruh sisa abu dan darahnya terserap dalam sosok itu, dan yang bisa ia lakukan hanya berteriak kencang, meraung histeris.
Sebelum suaranya lenyap beriring seluruh tubuhnya menghilang seutuhnya.
.
if you trust, don't hesitate run(s) towards me.
- bcs im for u.
.
"Jungkook! Bangun! Jeon Jungkook!"
Jungkook tersentak, membuka kelopak mata mendadak; mendapati ibunya yang menepuk-nepuk wajahnya dan Wonwoo yang mengguncang tubuhnya brutal.
Ia terengah.
Napasnya tercekat, pangkal kerongkongannya perih, jalur respirasinya macet.
Tapi kemudian, Jungkook merasa baik-baik saja.
Ia mendudukan diri.
Tidak ada yang salah. Sama sekali tidak ada.
Mimpi kah?
Sial!
Ia berdeham berat, memang tidak ada namun Jungkook bisa mendapati sisa gemetar dan tekanan yang dirasanya tadi.
Dadanya sesak. Meski begitu tetap tidak ada yang salah. Ia merunduk memperhatikan tubuhnya; baik-baik saja, ia mengangkat pergelangannya; baik-baik saja, ia menyentuh permukaan lehernya; baik-baik saja.
Maka Jungkook menengadah, melihat bagaimana kekuatiran ibu dan keresahan sepupunya terperi di wajah. Retinanya berpendar, menelisik sepenjuru kamar takut-takut. Menemukan Jeon Somi di sana; gelisah memperhatikannya di ambang pintu.
Tapi kemudian ia termangu, onix gelapnya bergerak-gerak kacau, membatu—melupakan cara bernapas.
Saat retinanya mendapati Taehyung di sana. Menatapnya kosong, redup, dan kaku bukan main.
Jungkook terbelenggu.
Terpikat untuk menyaksikan hazel itu. Hanya hazel itu. Perpaduan dari merah-hitam yang sempurna.
Sepertinya aku pernah melihatnya ... tapi di mana?
Ia tertegun, berpikir banyak sekali buat mengingat lebih jauh. Namun yang Jungkook dapati hanya nihil dan segala omong kosong firasat buruk.
Sampai detik di mana ia terlalu lama menatap—Jungkook menemukan jawabannya, saat mendapati Taehyung yang mengernyit heran, "Jungkook, kau oke?" dengan volaknya yang terlampau berat—serak, dalam, menyesatkan.
Jatuhlah padaku ...
... dan musnahlah.
Maka Jungkook tidak bisa berkata-kata, lidahnya terlampau kelu sementara akal logisnya meruntuh bobrok.
Suaranya?
... sama?
.
Sekali lagi.
Jungkook menyuap nasi di mangkuknya tanpa mengalihkan pandang sama sekali.
Di meja makan pagi ini ia membuat ketiga anggota keluarganya sesekali melirik bingung, saling pandang, kemudian menggeleng berusaha fokus kembali ke makanan masing-masing sekedar kembali melirik Jungkook untuk dua menit setelahnya.
Bertanya-tanya mendapati bocah berseragam lengkap YaGook itu mengamati pemuda yang di bawanya hari kemarin—dengan sangat-sangat mengherankan.
Apa yang salah dari figur tampan ini?
Terlebih bagaimana cara sosok itu terlihat sungguhan tak acuh.
Memang ada yang salah dari Kim Taehyung?
"Ya! Sudah! Aku tau dia kelewat indah! Tapi kau membuat Taehyung-oppa jadi tidak nyaman! Dasar mesum!" Somi bersungut-sungut, menghentakan sumpitnya keras ke permukaan meja; sedangkan irisnya menghunus sebal pada Jungkook.
Namun remaja lelaki ini diam, tidak menggubris sama sekali. Meski Taehyung sendiri mengudarakan tawa sambil memperhatikan sepupu perempuannya begitu hangat.
Membuat Somi tersipu dan menunduk.
Maka untuk ini Jungkook mendelik, entah mengapa merasa bertanggung jawab untuk melindungi anak cerewet ini, "Tutup mulutmu, kusumpal anus babi mau?"
Dan yang ia dapati justru pukulan antusias di belakang kepala.
Dari Jeon Wonwoo yang bersemangat (penuh emosional) di sebelahnya, "Sumpal mulutnya—kujanjikan kuburan sempit buatmu."
Berkat ini akhirnya Jungkook mengalihkan fokus, menunduk riuh sambil mengusak belakang kepala yang nyeri sekali, buat menjadi berisik; "Sial—ah! Adik-kakak gila! Kalian sama-sama tidak waras! Brengsek! Pergi sana dari rumahku!"
Maka lagi-lagi Wonwoo menghadiahinya pukulan.
Kemudian pemuda itu bangkit, tanpa dosa menengguk minumnya buat terakhir kali sambil merangsek keluar kursi, "Tidak perlu dibilang, aku juga mau pergi ke kampus!" cetusnya lalu berjalan ke arah bibinya, "Madam, aku berangkat," mencium pipi wanita itu sebelum melangkah ke adik perempuannya buat mengacak-acak rambut remaja itu sampai kusut, "Sekolah yang benar," dan terakhir ia menoleh pada Taehyung sambil mengangkat sebelah tangan, "Bro ... berangkat," yang dibalas lambaian singkat si Kim sambil tersenyum tipis. Maka Wonwoo memutar meja makan lagi buat melewati Jungkook, hanya untuk memukuli kepala sepupunya dengan barbar, "Aku pergi nih, aku pergi!" dan ketika bibinya menegur baru Wonwoo menempakan cengir dan beranjak ke luar rumah. Mengacuhkan bagaimana Jungkook masih merunduk kesakitan, mengumpatinya panjang lebar sampai berteriak sangat-sangat kesal.
"Jeon Jungkook ..."
Jadi panggilan menyeret ibunya cukup. Terlampau cukup untuk menjadikan ia berhenti mencercai Wonwoo.
Tapi kemudian, ia menengadah tidak terima. Menatap ibunya sambil bersungut kesal, "Ma, Wonwoo-hyung selalu memukulku! Kenapa mama diam saja?!" ia mendengus setelah itu, "Lalu apa? Aku yang salah? Dia bahkan bukan kakak kandungku! Kenapa mama selalu bela dia?!" kemudian jemarinya terangkat menunjuk sebal muka Somi, "Anak ini juga! Dia lebih muda tapi tidak sopan padaku! Mama tidak pernah menegurnya!" maka Jungkook berdiri dari kursinya, tempramennya naik ke ubun-ubun, "Mereka bukan saudara kandungku, Ma! Mereka bukan anak mama! Dan kenapa harus aku yang selalu salah? Hah?!"
Senyap.
Ibunyatidak menjawab. Wanita itu hanya menatapnya bersamaan dua orang lain di sana. Tapi kemudian ketika Taehyung dan Somi kembali menyantap makanan mereka, wanita ini cuma menahan tawa, "Jungkook, sayang, anak mama—belum puas diajari attitude sama Wonwoo-hyungmu, mm?"
Jungkook tidak akan pernah menyangka kalau belakang kepalanya bakal kena hantam lagi—dari Jeon Wonwoo yang entah bagaimana kembali ada di sana, berdiri di belakang tubuhnya dalam diam.
"Anak ini kurang ajar sekali ya Tuhan. Berani meninggikan suara ke madam—dia mamamu loh ... kau belum pernah kuinjak sampai mampus ya?" Jungkook menoleh, tersentak saat melihat ancaman Wonwoo dari pukulannya yang mengambang di sisi kepala. Tapi kemudian Jungkook cuma bisa meringkuk melindungi tubuhnya dari hantaman Wonwoo yang anarkis, "Kalau orang tuaku tidak dinas di luar negri juga mana sudi kubawa adikku satu atap dengan bocah brengsek sepertimu! Kalau tidak ingat kebaikan hati madamku tercinta juga mana mau kuberbaik hati pada berandalan sial sepertimu! Kalau saja kulupa kau masih anggota keluargaku mana mungkin kubakal berbaik hati memukulimu begini! Dasar bedebah! Lakukan kesalahanmu lagi—bakal kubuat kau diopname berbulan-bulan!"
Saat berghasil menginjak-injak tubuh sepupunya yang lungsur ke tanah, Wonwoo berhenti, memberesi almamater kampusnya sambil menghela napas berat. Mendecih sarkastik lalu melangkah ke kursinya awal, mengambil kunci motor yang tergeletak di permukaannya, lalu mendekati bibinya yang meringis memperhatikan nasib putranya di kolong meja. Tapi Wonwoo bahkan tidak memiliki iba sama sekali, ia mencium lagi pipi wanita itu, "Kunciku ketinggalan, aku berangkat Madam."
Lalu meninggalkan rumah begitu saja.
Mengabaikan ringisan Jungkook, bibinya yang menghela napas lalu bangkit mendekati putranya, Somi yang berteriak kalau ia telah selesai dan akan berangkat; menggoda centil Taehyung, mencium pipi bibinya dan menendang tulang kering Jungkook yang tengah susah payah di papah wanita itu. Lalu berlari kencang mengejar Wonwoo yang keluar rumah.
"Brengsek! Sialan! Awas kalian!" geranyaman Jungkook yang menggema ke seisi rumah.
Menyisakan sesosok makhluk yang memperhatikan keadaan sambil mengulum senyum tipis. Mengetahui fakta bahwa persaudraan ini terjalin dengan kekerasan, gengsi, impolite.
Di atas keseluruhan kasih sayang, perhatian dan cinta yang sangat-sangat besar.
.
Sambil memegangi bahu, Jungkook mengangkat sebelah tangan, memperhatikan lebam biru di pergelangan kirinya.
"Sakit?"
Mereka melangkah menyusuri bata trotoar, melewati jalanan pagi yang lengang.
Tangan kanannya masih memegangi bahu kiri; meringisi nyeri bekas pukulan Wonwoo, Jungkook melirik, mendapati ekspresi Taehyung yang bertanya-tanya. Tapi kemudian, ia menggeleng seolah tidak ada persoalan, "Bukan masalah, sudah biasa."
Maka mereka kembali berjalan menuju YaGook.
Hingga ketika Jungkook buka suara, "Aku baru memberimu nama kemarin malam, dan pagi ini keluargaku mengetahui siapa Kim Taehyung," improvisasinya menuntut dan dingin. Lantas menoleh mamperhatikan figur di sebelahnya sengit, "Apa yang kau lakukan pada mereka?"
Taehyung terdiam. Bungkam beberapa detik mengetahui fakta kalau Jungkook memiliki masalah. Tapi ia diam, membiarkan kejanggalan dalam cara bicara tuannya dan menjawab kalem, "Tidak apapun. Hanya memperkenalkan diri di ruang keluarga saat kau sudah tidur. Mama menanyai namaku, jadi aku memberitau yang kau suruh. Nama lahir, asal, latar belakang, kejadian, dan seluruh rencana yang kau intruksi—semua terkendali," helaan napasnya terdengar terlampau enteng, ia balas menatap Jungkook, "Karena perintahmu adalah tugasku, Tuan. Hidupku mengabdi untukmu."
Hening kemudian yang mendominasi.
Tanpa sepatah kata, remaja itu tidak membalas sakalipun, hanya kembali berjalan dan memfokuskan tatap ke pondasi gili-gili. Bahkan mengacuhkan cara Taehyung memanggilnya tadi.
Menuntun makhluk ini menyusuri rute ke sekolahnya.
Sampai nyaris setengah perjalanan, mereka tetap berada dalam sunyi.
"Jungkook, kau tau secara alamiah aku bisa baca pikiran 'kan?" tiba-tiba Taehyung bersuara, tanpa menoleh melanjuti, "Indera perasaku terlalu peka buat memonitor dan menganalisis keadaanmu, mengetahui fikiranmu, juga melihat apa yang kau bayangkan. Aku sensitif, Jungkook, menyembunyikan sesuatu dariku adalah percuma."
Lantas Jungkook terdiam. Menghentikan langkah lagi mereka di detik itu.
Entah mengapa ucapan Taehyung bagai menusuk jantungnya. Membuat makhluk itu seakan-akan mengatakan; bahwa ia tau segalanya.
Jadi Jungkook menoleh, memperhatikan Taehyung lewat retina yang ketakutan. Merasakan keragu-raguan untuk sementara waktu sebelum napasnya mendesak, mengintimidasinya untuk mengungkapkan tanya, "K-kau ... kau tau?"
Sunyi.
Taehyung bisu.
Bahkan sama sekali tidak menatapnya.
Sampai beberapa detik terlewat, hanya untuk membuat Jungkook menyaksikan sosok itu tertawa. Ceria, manis, menenangkan. Dan kemudian ia menyaksikan apa arti keindahan saat Taehyung menoleh membuat mereka bersitatap.
Lewat raut ceria ia menaikan sebelah alis, pongah namun kekanakan, lantas berbicara lewat vokal main-main yang justru membuat Jungkook tercekat, "Mimpimu tadi malam?" lalu menggedik acuh, "Kalau itu yang kau maksud ... maka iya."
.
.
Langkah Jungkook mati saat Taehyung menariknya tiba-tiba ke balik tembok, sebelum mereka sungguhan sampai di jalanan utama arah gerbang YaGook.
"Apa-apaan, hah?" Jungkook menyalak, suaranya terdengar tidak terima.
Sedangkan Taehyung justru menampakan cengir sok inosen.
Kemudian, sambil menangkup wajah bocah itu ia berbisik tepat di kening Jungkook, "Tutup matamu sebentar."
Hening.
Ada yang salah. Jungkook tau ada yang salah.
Sebab ia sama sekali tidak mengerti mengapa dirinya menurut begitu saja, dengan cekatan memejam mata untuk makhluk ini. Benar-benar menutup matanya.
Bahkan ketika merasakan bibir Taehyung mengecup keningnya lembut.
Membuai, bergelinyar, panas—bagi Jungkook, apapun tentang V the Voltage adalah panas mulai sekarang.
Menjadikannya terlena, hingga tidak bisa menyaksikan bagaimana benderang kegelapan menyelimutinya secerah cahaya surga. Membungkusnya dalam kehangatan yang dingin. Mengungkungnya—membelenggu untuk terjerat dan bebas.
Hingga kemudian segala kekuatan supranatural Taehyung menghilang, lenyap seiring benderang itu berubah menjadi kabut yang pelan-pelan menipis lalu pudar. Jungkook bisa rasakan Taehyung perlahan menjauhkan bibirnya.
"Jungkook, buka matamu."
Bisikan itu kembali tersuara, membisik di tempat yang sama.
Maka Jungkook menurut, hanya untuk menemukan senyum kotak Taehyung memenuhi jarak pandangnya, "Kau sembuh, pain go away."
Bocah itu tergugu tidak mengerti, kurang sanggup memahami langsung arti pernyataan Taehyung.
Hingga Jungkook menyadari sesuatu.
Ketika ia tidak lagi merasakan nyeri bekas hantaman Wonwoo di sekujur tubuh. Membuatnya terperenjat, heran atas ketidak percayaan. Namun ketika mengangkat sebelah tangan; Jungkook tergugu memperhatikan pergelangan kirinya tidak lagi memiliki memar.
Dan nyatanya, ia masih bocah SMU biasa yang begitu mudah terpukau.
"Wow!" Jungkook menganga dramatis, mendongak buat menatap Taehyung takjub, "Bagaimana kau melakukannya?"
Balasan Taehyung cuma sebuah senyum simpul. Meski begitu tidak sedikitpun dari tanggapannya sanggup menghentikan keterpukauan si Jeon.
Hingga menjadikan bocah itu terlupa akan hal apa yang membuatnya begitu mewanti-wanti Taehyung sejak pagi.
.
.
Jungkook mendengus keras—keras sekali.
Ia tau hal ini bakal terjadi.
Tidak sedikitpun Jungkook ragu sosok di sebelahnya bakal menjadi sumber perhatian orang-orang.
Tapi ternyata, yang Jungkook tidak ketahui adalah hal ini bisa jadi sangat-sangat uncomfortable.
Semenjak keluar dari jalan sepi Taehyung sungguhan menjadi fokus setiap manusia pagi ini. Anak-anak, remaja, dewasa, lansia, bahkan para pengendara yang berhenti di lampu merah. Tidak satupun dari mereka melewati Taehyung begitu saja tanpa tatapan terpana; sampai kepala mereka berputar mengikuti langkah si Kim yang melewati seluruhnya acuh tak acuh.
Maka Jungkook menghentak bumi lumayan keras. Menghentikan langkah keduanya ketika tidak jauh lagi gerbang YaGook sudah terlihat. Ia menarik napas dalam-dalam, berpikir situasi seperti ini bakal jadi sangat berbahaya.
Andai kata Jungkook nekat masuk gerbang membawa Taehyung di sampingnya, kemungkinan terbesar adalah seluruh penghuni YaGook tidak bakal memulai KBM hari ini. Atau setidaknya makhluk ini dipastikan bakal mengundang kerumunan siswi-siswi buat mengepung mereka.
Sial! Jungkook tidak mau—benar-benar tidak mau.
"Jungkook?" Taehyung bersuara sambil memperhatikan tuannya heran.
"Tae ...," namun vokal terlampau datar ini tersuara sebagai jawaban. Lantas Taehyung mendapati Jungkook menoleh padanya dengan sangat kesal, "Tau apa yang kupikirkan sekarang?"
Makhluk ini mengedip beberapa kali, berlagak inosen sebisa mungkin, "Mm," kemudian mengangguk-angguk sambil mengulum senyum hingga pipinya menggembil bulat.
Lalu hening mengudara.
Jungkook diam lama sekali, mengamati suasana di sekitar mereka jadi lebih ramai, beberapa orang tanpa sadar berhenti dari aktivitas dan sisanya sengaja berdiri di sana untuk memperhatikan Taehyung. Terlebih siswi-siswi berseragam YaGook yang mulai berkumpul dan mengambil foto sambil berhisteria gemas.
Brengsek! Ini sungguhan sial!
Maka entah ide dari mana, usai mendengus Jungkook justru mengutarakan keinginan yang bahkan Taehyung sendiri belum bisa membacanya, "Berubah jadi seumuranku. Urus adrimistrasi dan masuk ke sekolahku—jadi teman sekelasku Taehyung. Kau bisa?" geranyamnya sebal, "Ubah dirimu jadi sepuluh tahun lebih muda, jangan terlalu bersiniar, buat seolah-olah kau manusia biasa."—supaya tidak semenarik ini.'
Taehyung mengangkat sebelah alis, "Apa-apaan?"
"Lakukan saja. Ini baru kali kedua tapi aku sudah muak loh," intonasinya sama sekali tidak bercana, sedangkan angannya mengingat lagi histeria tadi malam ketika ia keluar rumah sakit.
Jadi Taehyung menahan senyum tidak menyangka, "Ei, lalu keluargamu bagaimana? Aku bilang kemarin usiaku dua puluh delapan, kau sendirikan membuat naskah tentang 'Aku si pengusaha dermawan yang sedang cari tempat tinggal buat mengurus proyek', ini juga yang kemarin kita diskusikan dan sepakati sebelumnya."
Jungkook diam sebentar, kemudian, tanpa dosa mengudarakan dengusan lelah, "Banyak omong, persetan kesepakatan, lakukan saja apa mauku. Aku tuanmu ingat?" ucapnya sarkastik.
Taehyung mengedip beberapa kali, tidak sempat menjawab sebab Jungkook kembali bersuara.
"Manipulasi. Kau bisa manipulasi pikiran orang 'kan? Reset semuanya dari awal! Kita mulai lagi dan naskah sekarang adalah kau; murid SMU 18 tahun, teman sekelasku yang kaya raya, orang tuamu mau cerai, maka aku membawamu pulang ke rumah!" jeda, "Buat ingatan semua orang jadi seperti itu, kau bisa 'kan?"
Maka Taehyung mendesis, rautnya merengut tidak habis pikir, "Kriminal sekali kau, Jeon. Pikiranmu yang labil ini bisa jadi membuatku jatuh ke tangan yang salah."
"Cerewet, Kau itu terlalu banyak protes. Lakukan saja, aku tuanmu!"
Taehyung mengulum bibir sambil menaikan alisnya, memutar bola mata, kemudian berdeham satu kali dengan tatapan pongah, "Beri satu alasan kenapa aku harus?"
Tanpa ragu Jungkook menjawab, tidak memakan waktu sama sekali, "Karena aku masih menginginkan kehidupan normalku yang sebelumnya, mempunyaimu di sebelahku sudah lebih dari sebuah malapetaka, jadi cukup bencana saja yang berkunjung dihidupku; aku tidak mau dengan senang hati menerima kiamat juga," mata bulatnya meredup bukan main. Kesal, emosi, tempramennya ada di puncak, "—cukup ditempeli makhluk sepertimu. Tolong jangan buat aku sengsara di usia semuda ini. Aku masih mau merasakan kebahagiaan, bukan tekanan batin," lantas sebelah tangannya menuntut Taehyung pakai telunjuk tepat di muka, "Karena perintahku adalah tugasmu, Voltage. Hidupmu mengabdi untukku. Jadi lakukan."
Sebab ini Taehyung bungkam, tergugu dan membatu.
Merasakan dirinya berubah linglung.
Demi Tuhan, untuk ribuan tahun yang telah ia lewati, atas nama seluruh menghuni planet tempatnya diciptakan.
Belum ada satupun makhluk yang segini berani memperlakukannya.
Menunjuknya di wajah, menggeram padanya, bahkan menatapnya segini datar. Terlalu berani dan menantang kekuatannya. Yang entah mengapa membuat Taehyung merasa di rendahkan.
Tapi kemudian, meski memiliki begitu banyak peluang untuk dengan mudah membakar Jungkook hidup-hidup, menguliti ataupun menyiksa tanpa menyentuhnya—Taehyung justru menahan senyuman.
Merasa tertarik bukan main.
Tidak ada. Tidak ada satupun ciptaan Tuhan yang berani begini menantangnya ketika mengetahui fakta bahwa dirinya adalah Doll. Sudah kekentuan mutlak bahwa hewan-hewan akan membungkuk untuknya, tanaman merunduk padanya, dan para manusia senantiasa bersujud si bawah kakinya. Tidak terkecuali seorang pastur dan biksu yang berakhir mengenaskan dipenghujung hayat usai memperlakukannya gegabah. Atau bahkan sesama makhluk dari pelanet yang sama, sekumpulan wujud yang memperlakukannya lebih hati-hati ketimbang saat menghadapi Lord, sang pemimpin mereka tersendiri.
Tapi mungkin Jeon Jungkook adalah pengecualian.
Ya ... untuk sekian ribu tahun yang ia lewati akhirnya Tuhan mempertemukannya dengan sebuah dispensasi.
Maka ini menjadi benar-benar menarik.
Membuat Taehyung tersenyum sepenuhnya saat sebelah tangannya terangkat, menangkap jemari Jungkook dan menuntunnya turun pelan-pelan. Membuka jari-jari itu dan meletakan telapak tangan si Jeon di permukaan dadanya.
Membiarkan sosok itu merasakan kekosongan dari bagian luar tubuhnya yang tanpa detak jantung. Menggenggam tangan Jungkook erat-erat kemudian menarik tersenyum separuh, "Dimengerti, Tuan," bisiknya mendebarkan.
Maka Jungkook terperangah, membolakan sepasang retina bundarnya tidak menyangka, tertegun menyaksikan Taehyung melakukan alterasi di sini.
Di hadapan orang banyak ia menyaksikan glitter merah-hitam menaburi Taehyung dari kupu-kupu senada yang keluar dari punggung sosok itu. Tidak mempedulikan keterkejutan semua manusia ini. Taehyung tetap menyelimuti tubuhnya hingga tenggelam di balik serbuk berkelip; utuh dari kepala hingga telapak kaki, tak menyisakan seujung jaripun.
Tertimbun sepenuhnya.
Kemudian, ketika Jungkook bersama keterkejutannya dapat melihat kemerlip itu muai melebur dan perlahan hilang.
Sosok itu masih berdiri di sana.
Namun belum sampai keseluruhan kemilau itu lenyap, setiap pori-pori Taehyung yang mulai terlihat justru memancarkan cahaya hitam terang. Tidak membiarkan figur di balik glitter-glitter tersebut menampakan diri utuh ke indra pengelihatannya dan semua orang. Maka refleks motorik Jungkook menuntut buat memejam mata spontan ketika cahaya ini mulai menyakiti retinanya.
.
"Jungkook, bangun."
Jungkook membuka mata pelan-pelan, mendapati kegelapan menyelimutinya sebelum ia sadar bahwa dirinya tengah menelungkup. Menjadikan tangan-tangannya sebagai bantalan. Lantas perlahan ia menengadah, mendudukan diri tegap di kursinya.
Lalu kemudian, Jungkook tertegun—kebingungan mendapati situasi sekitar.
Apa? Apa ini? Kenapa ia tiba-tiba ada di dalam kelasnya?
Maka Jungkook memperhatikan sekitar dengan seksama, linglung dan terperangah bukan main.
Apa dia cuma bermimpi?
Segala tentang Kim Taehyung hanya mimpi?
Jungkook nyaris menampar mukanya sendiri sebelum sebuah suara menyadarkannya dari arah belakang, "Tuanku, aku di sini."
Ia tertegun sejenak, lantas dengan kelewat cepat memutar tubuh menyaksikan seorang siswa dengan rambut merahnya memangku dagu di meja.
Dan melambai padanya kemudian sambil mengulum senyum panjang, "Hai?"
Maka Jungkook menjadi benar-benar membeku kebingungan.
Dia tidak bermimpi ternyata. Semuanya adalah nyata.
Ya Tuhan, ini bahkan lebih tidak masuk akal.
Itu V the Doll, Kim Taehyungnya.
Dengan wajah 10 tahun lebih muda.
Yang berhasil membuat Jungkook nyaris tersedak liur sendiri.
What the fuck! Demi Kambing! Kenapa wajah belianya malah terlihat lebih indah?!
.
"Bagaimana kau melakukannya?" Jungkook menatap Taehyung menyelidik. Ujung matanya memicing pongah meski raut ekspresinya sama sekali tidak manampik bahwa ia lagi-lagi terpukau.
Sekarang jam istirahat makan siang omong-omong.
Usai melewati jam pelajaran dengan sangat natural mereka melakukan kegiatan sekolah seperti pada umumnya. Lebih mengherankan saat seluruh kawan sekelas bahkan sahabat-sahabatnya memperlakukan Taehyung dengan alami. Hingga ini menjadikan Jungkook sungguhan tidak konsen memperhatikan Ahn songsaenim mengajar, mengingat kalau ini bukanlah hal wajar. Dan yang paling tidak masuk di pikirannya justru; Taehyung menjadi lebih tampan dari sebelumnya, tapi histeria orang-orang tidak lagi seheboh ketika Taehyung berusia usia 28 tahun. Menjelma hanya sebagaimana wajarnya siswa tampan dan poluper di sekolah.
Jungkook menggeret Taehyung ke taman belakang sekolah. Duduk di bawah pohon ek dekat lapangan outdor. Duduk berhadap-hadapan.
Taehyung menggedik bahu enteng, "Entahlah. Yang penting bisa mewujudkan keinginan tuanku."
Jungkook memperkeruh wajahnya, "Yang benar saja! Lalu orang-orang yang menontonmu di trotoar?"
"Tenang saja, memori mereka bakal terhapus sendirinya."
"Foto dan video yang mereka ambil?"
"Hancur. Semua bukti yang menyimpan memori tentang mutasiku tadi akan otomatis hancur—tanpa terkecuali sebuah otak yang tidak sengaja masih bisa mengingatnya," dengan santai Taehyung mengangguk dua kali, "Kepala orang itu bakal pecah dengan isi di dalamnya yang berceceran."
Jungkook meringis, refleknya otomatis memegangi kepala.
Membuat Taehyung tertawa memperhatikannya, "Tenang saja, kau itu pengecualian."
Maka si Jeon menghela napas sambil lega sambil mengusap dada.
Lalu mereka berdua larut salam obrolan tidak penting hanya untuk beberapa menit sebelum atensi keduanya terenggut.
"Guk!"
Jungkook yang pertama kali menoleh, memperhatikan arah koridor buat menemukan Jimin dengan mulut yang mengunyah samgak sambil menggeret Yoongi di belakangnya.
Taehyung berusaha tidak peduli, memandang anak-anak bermain basket di lapangan lebih menarik mungkin.
Tapi waktu ketika kaki-kaki kawan Jungkook berhenti di belakangnya, Taehyung merasakan sensasi itu, magnet kuat dari kodrat lahirnya sebagai makhluk distingtif.
Maka Taehyung reflek menoleh, menengadah mendapati raut sama terkejut dari siswa seputih kapas itu.
"Rose?"
Jimin mendelik, menunduk menatap Taehyung heran, "Rose?" sebelah alisnya terangkat, "Siapa?" sembari menggigit di samgak lagi ia merangkul siswa di sebelahnya erat, "Ini Yoongi."
Tapi Taehyung tidak acuh. Justru memperhatikan sosok itu lebih intens.
Maka Jungkook yang menyadari kegelisahan sahabatnya langsung mendengus keras-keras, "Hei! Dia itu Min Yoongi—kawan kami," cara bicaranya ketus bukan main.
Taehyung menoleh menatap si Jeon, "K-kawan?" ucapnya tidak percaya. Kemudian diam sebelum beberapa detik setelahnya mengusung raut mencemooh, "Kawan?" ulangnya penuh sarkasme.
"Taehyung, jaga mulutmu," titah Jungkook mengancam, "Jangan sok kenal, Tae. Dia Min Yoongi—sahabatku," kemudian ia maju buat memangkas jarak di antara mereka, berbisik tepat di hadapan muka Taehyung, "Kuingatkan, kalau kau mau hidup tenang di bumi; sekalipun jangan pernah mencari masalah dengan kawanku yang pucat satu ini. Mulutnya sadis, sifatnya galak—anarkis, brutal, tapi otaknya terlalu cerdas untuk diremehkan. Kalau kau buat penyakit sekarang, kujamin tidak sampai dua puluh empat jam identitas alimu bakal dia ketahui."
Tapi Jungkook bahkan tidak menemukan setitikpun rasa gentar di raut Taehyung. Yang ada justru remaja itu berekspresi mencemooh dan menahan tawa, "Pft! Min Yoongi? Nama apa itu—" lalu dengan kurang beraninya ia menoleh, menelisik Yoongi penuh cela. Lalu ia kembali menatap si Jeon, "Tuan—Jungkook," tangan-tangannya terangkat mencengkram bahu Jungkook pelan, "Dengar. Dia Rose—Suga-hyungku. Bukan Min Yoongi," jeda, "Dia makhluk sejenis—"
"Cukup!" ujaran Taehyung terputus ketika dengan emosional Yoongi menggeram, "Aku Min Yoongi," iris matanya meruncing seolah mencabik-cabik sang Voltage, "Min. Yoo. Ngi."
Maka Taehyung diam. Hanya memperhatikan di tempatnya.
Menahan senyum emosionalnya mendapati makhluk itu berani menggeram kepadanya.
Sebelum dengan perlahan ia mulai bangkit dari duduk, menepuk bagian belakang celananya yang kotor dan mendekati Yoongi tanpa segan.
Terus memperhatikan figur seputih kapas ini lewat iris matanya yang memancarkan bara kemurkaan.
Tapi Taehyung bahkan belum sampai hati untuk membakar Yoongi hidup-hidup, ia masih sempat mengukir senyum kekanakan, "Oh! Benarkah? Apa aku salah mengenali orang? Kau Min Yoongi?" lalu rautnya berubah sok kebingungan, "Aaah! Kalau kau Min Yoongi, berarti Suga itu siapa? Si rescue demons, Rose—rescue of spirit evil," fokus matanya pindah pada Jimin yang masih memakan nasi kepalnya lapar, "Apa mungkin kau? Park Jimin, kau punya sayap merpati putih? Bisa terbang? Ada mutiara di keningmu? Parnah kau lihat rambutmu memanjang tiba-tiba? Atau melihat ada cahaya putih keluar dari tanganmu?" Taehyung menemukan kerutan di dahi Jimin, sepasang alis tebal remaja itu nyaris berpaut, "Ahh ... kurasa kau kebingungan. Maksudku—kau pernah berubah menjadi malaikat? Dangan ranting-ranting indah mengelilingi tubuhmu?"
Maka Yoongi melepas rangkulan Jimin, sekedar mengumpulkan kekuatannya untuk mendorong dada Taehyung hingga sosok itu terpental beberapa meter ke tanah.
Membuat Jimin dan Jungkook terkejut bersamaan. Si Jeon bangkit, bergegas menghampiri Taehyung yang berusaha mendudukan diri.
"Ka-kau oke? Taehyung?" kentara jelas raut di wajah bocah itu kelihatan cemas bukan main. Maka Taehyung tersenyum, menggusak rambut Jungkook pakai tangannya yang kotor terkena tanah, berusaha berbuat iseng namun yang si Jeon dapati justru ketenangan.
Pelan-pelan, Taehyung bangkit seakan tidak terjadi apapun. Ya, andai kata ia bukanlah makhluk transendental, mungkin tulang-tulangnya sudah menggeser atau retak di bagian bokong.
Ia bergerak menghampiri Yoongi yang mengacuhkan segala macam ocehan risau Jimin, justru menatapnya lewat tatapan mengintimidasi yang sama. Maka Taehyung hanya tersenyum miring saat menemukan percikan cahaya putih yang keluar dari sela-sela telapak tangan Yoongi.
Lantas, sebelum Jimin bahkan menyadari pergerakannya, Taehyung sudah melakukan telepotrasi di belakang Yoongi. Membuat si Park terkejut dan keheranan. Namun yang Taehyung justru lakukan hanyalah tersenyum, sambil menyentuh belakang kepala Yoongi pakai ujung telunjuknya.
Masih tersenyum ketika bicara terlalu santai lewat intonasinya yang menikam, "Mestinya kau tidak melakukan itu. Mungkin tinggal di bumi untuk beberapa waktu membuatmu lupa konsekuensi di antara kita."
Yoongi diam, retinanya berpendar kacau, kusut, namun berusaha tenang, "Kau ... bagaimana bisa ada di sini?"
Taehyung terkekeh pelan, "Entahlah," ia menggedik bahu, "Insiden?" kemudian iris matanya menatap Jungkook di sana yang memperhatikan mereka kebingungan, "Atau memang sebuah takdir."
"Omong kosong," sinis Yoongi mendesis. Mengambil kesempatan yang ada ia berusaha melawan untuk membebaskan diri. Namun ketika ia berkilah dan membalik badan, yang ada Taehyung memindahkan jari telunjuk itu tepat di pangkal kerongkongannya lumayan dalam.
Menjadikannya tertohok dan menggeram panas.
Saat itu Taehyung justru mengudarakan senyumannya lagi, "Percuma," ucapnya sinis, "Konsekuensi, Hyung, konsekuensi," maka Jungkook yang duduk di sana bisa merasakan bagaimana waktu berhenti.
Dedaunan mengambang di udara dan angin berhenti bertiup. Jungkook melirik ke arah Jimin yang membeku persis manekin.
Taehyung melakukannya—ia melakukan sihirnya lagi.
Namun Jungkook bahkan tidak mengerti mengapa hanya dirinya yang bisa bergerak bersamaan kedua orang itu, hingga akhirnya ia paham, mengerti bahwa Taehyung ingin ia memperhatikan bagaimana sistem kekuasaan antar penghuni langit hipotesis.
Saat dengan santainya makhluk bersurai mera itu bicara dari suaranya yang berat dan dalam, teruntuk Yoongi yang kesakitan hanya kerena ujung jemarinya, "Sepertinya kau benar-benar butuh kuingatkan," salah satu sudut bibirnya memunculkan efek senyum arogan, "Lord yang berkuasa, Lead yang memimpin, Doll yang menentukan," iris matanya memicing sengit, membelenggu retina Yoongi tanpa minat melepaskannya, "Kau hanya pengobat, Hyung, Rose diciptakan cuma untuk menyelamatkan," kemudian dari tempatnya Jungkook bisa lihat raut Taehyung berubah kelabu. Datar, tanpa ekspresi, sama sekali tak minat main-main. Maka ia tertegun, merasakan napasnya habis di kerongkongan saat menyaksikan kawannya yang menggeram pilu; sementara dengan selas Jungkook bisa lihat Taehyung memunculkan api hitam dari telunjuknya, "Kita memang tidak akan mati ...," vokalnya menyeret gelap. Sengaja mempermainkan sosok ini tanpa minat menghancurkannya dalam sekejap, "Tapi kalian semua bisa musnah ditanganku ... mestinya kau ingat itu."
Maka Jungkook menutup mulut tidak percaya saat melihat jelas-jelas figur kawannya perlahan berubah menjadi apa yang Taehyung deskripsikan di awal.
Malaikat.
Yoonginya bermetamorfosis menjadi sosok malaikat dengan ranting-ranting indah di belakang punggungnya.
Sedangkan Yoongi meringis, kalah untuk merubah diri di depan Jungkook sebagai mode cara untuk tetap bernapas. Taehyung justru masih dengan senang hati bermain-main dengan aksinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
tbc.
Jo Liyeol's Curhat Timing
Oeee dedek update uyeeee =w= maaf banget buat late updatenya /nuhun/ februari udah mulai un, jadi dedek lagi banyak-banyaknya pm, les, sama pelajaran tambahan. ya gitu lah pokonya =w= lastly, kucinta kalian gaes. (kopas di Golden Park; mampir aja kali mumpung gratis :v /dor!/apa sih Li?)
.
PS(1): semua typo yang ada adalah kekhilafan.
PS(2): kucinta kaliaaaan ft. titik dua bintang. (tebar sempak dan kecup basah) =3= mumumu
PS(3): see u again in chapter 4! byebye =3=9
PS(4): thanks for: follows, favorite, and reviews.
—jakarta, 24 oktober 2017.
spesial cintah buat:
nielwink, Taekooks'cream, wanUKISS, Vminkook trash, YM424, emma, itsathenazi, ChocoCookies-shy, Phcxxi, Dee, kimrin, Vteo, LebahMadu, Jimsuga, Albus Convallaria majalis, jiii, Ly379, WULANCHAN424 , RainKim, hlyeyenpls, karlienjustien, alliennusneptune, Akira ayzharu, kimraa.
—and all Guess undetect.
maaciw banyak buat komentar, kritik dan saran kalian =3= ciom sini semuanya cioooomm ...
