Disclaimer: Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi-sensei

A/N: extrim pair, typo(s), last chap :'3

douzo~


.

- Shogi -

Tak

Jejak pion-pion shogi terdengar beradu dengan papan kayu, menimbulkan irama dengan ritme tak menentu dan tak terdefinisi. Sebuah permainan yang membutuhkan kecerdasan otak pemainnya. Maka dari itu tidak banyak yang menyukai permainan yang hampir mirip catur itu.

Tak

Tetapi berbeda bila dia yang memainkan.

Seorang pemuda yang kini berusia lima belas tahun, murid di sebuah SMP bernama Teikou, Akashi Seijuurou.

Siapa yang tidak mengenalnya? Murid pandai, multitalenta, tampan, kaya, dan well so cool. Benar-benar sosok idaman para wanita. Meskipun ada aura pekat yang selalu berkoar dalam dirinya, para wanita —siswi termasuk guru— tak hentinya kagum dan fangirlingan bak calon-calon istri yang sedang mendaftar untuk dijodohkan dengan pangeran dari negeri seberang.

Tetapi sang pangeran itu tidak pernah sedikit pun melirik orang rendahan seperti mereka. Tidak penting, komentarnya. Hanya seseorang yang dapat membuatnya menolehkan kepala dan berbicara (juga berbuat) sekaligus.

"Akashi."

Pintu ruang klub basket terbuka, menampakkan seorang siswa bertubuh menjulang hampir menyentuh kusen pintu bercat putih itu. Dengan rambut pendek hijau ramah lingkungan dan kacamata berframe persegi bertengger di hidungnya.

"Doushita Midorima?" yang bersangkutan berjalan mendekat, mengambil kursi lalu duduk berhadapan dengan sang kapten. "Tumben sekali ke ruang klub saat jam kosong."

"Bukannya aku mau menghampirimu nanodayo, hanya saja aku malas di kelas," ujarnya sambil mengalihkan pandangan. Sang kapten tengah menatapnya tepat di mata dan menyeringai sekilas.

"Ah, ayo main Midorima."

"M-main?" Sekarang wajah pemuda penggila Oha Asa itu memerah.

"Ya. Shogi."

"Shogi?"

"Kau kira main apa?"

"Tidak nodayo." Akashi menghela nafas, memijit keningnya sebentar sambil menunggu wakilnya itu menata pion-pion.

—seringainya terpampang lagi.

.

"Bagaimana bila kita buat taruhan?"

"Taruhan?"

"Bila aku menang, kau harus menuruti kemauanku selama seminggu. Bila kau yang menang—"

"Kau harus membelikanku lucky item selama seminggu."

"Boleh saja."

Dan pertandingan untuk taruhan mereka dimulai.

.

.

Beberapa puluh menit terlewat, tetapi mereka masih serius bertanding. Tidak, bahkan mereka selalu seri sampai detik ini. Ketika Midorima menjalankan pion miliknya, Akashi mematikan langkahnya. Ketika Akashi ganti menjalankan, Midorima mematikannya juga.

Akashi menjalankan pionnya —dan saya tidak tau namanya, entah itu raja atau ratu atau pasukan(?)—. Midorima menyeringai sekilas, menjalankan pion miliknya dan bingo!

"Aku menang." Sang pemuda hijau itu tersenyum dan membenarkan kacamata yang merosot efek menunduk dengan jari telunjuknya.

"Ck. Ternyata kau semakin hebat."

Mulut bisa berbohong.

"Baiklah, apa maumu?" Kata Akashi ketus, menopang kepala dengan punggung tangan kirinya, terlihat sebal tetapi anggun.

"Kau harus membelikanku lucky item untuk seminggu."

"Baiklah~"

Pemuda mungil beriris heterochrom itu berdiri, berjalan menuju jendela kaca yang ada di belakang tempat Midorima duduk. "Mulai sekarang?" Dia menggumam, mengeluarkan benda tajam berwarna merah kesukaannya dari dalam saku jas kemudian berdiri di belakang pemuda berambut hijau itu.

Iris merah dan kuningnya berkilat, dengan cepat tangan kirinya menancapkan gunting ke meja di depan Midorima melalui bahu pemuda itu. "A-Akashi?" Mau tak mau sasaran gunting itu mengalami kejut jantung secara mendadak.

Hanya satu yang ada di pikirannya..

Sang raja tak suka kekalahan.

"Midorima." Menyeringai, dia menyembulkan kepala dari balik bahu shooter Teikou itu.

"Oha Asa bilang, hari ini kau tidak boleh dekat dengan Aquarius kan?"

"Y-ya."

"Hmm Aquarius itu Kuroko."

"Dan 'Sagitarius' akan memberimu kejutan." Iris hijau Midorima membelalak, kaptennya itu berbisik dengan nada kelewat rendah, pipinya memanas tiba-tiba, dan author pun ikut kejang. *dibalang golok*

Akashi mencabut guntingnya, mendorong meja dengan satu kaki, membuat pion shogi itu berhamburan, ada pula yang jatuh di lantai. Dia 'menduduki' paha Midorima, mereka berhadapan. "Gunting atau raja?" Tatapnya tajam.

"—r-raja lebih baik."

Sang raja membuang guntingnya, tangannya menangkup pipi Midorima. Mendekatkan wajah mereka. Sebuah kecupan mendarat di bibir ranumnya.

DOKI DOKI

Berganti sebuah ciuman.

Akashi menciumnya dengan liar, menjelajah setiap inchi mulut shooter itu tanpa jeda, membuat pipinya memerah. Entah karena kehabisan nafas atau malu, Midorima melepas ciuman itu. Dadanya naik turun mencari oksigen disela-sela keterkejutan dan detak jantung yang tidak beraturan. Hei, siapa yang tidak terkejut bila seseorang yang marah bisa menjadi begitu liar?

Tangan mungil itu melingkar di pinggang yang lebih besar, berbisik.

"Aku adalah lucky item-mu Midorima."

Pemuda itu melepas benda berframe persegi yang bertengger di hidungnya setelah memejamkan mata sejenak. Memasukkan dalam saku jas, dan dengan keberanian yang ia kumpulkan, ia balas melingkarkan tangannya. Dahi dan hidung saling bersentuhan dan mereka melanjutkan aktivitas untuk terakhir kali sebelum hari kelulusan memisahkan raga mereka.

.

"Aku tahu, Akashi."

#the end


silakan tunggu sekuelnya~ XD

saya mengucapkan terima kasih banyak bwt reviewer semua, saya bner2 jd semangat X3 *otak remang*

review please :'3