Our Story
Title: Our Story (3/3)
Disclaimer:
-Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
-Plot © Akashitetsuya3
Main Cast: -Kuroko Tetsuya –Akashi Seijuurou
Other Cast: -Generation of Miracle (for this chapter) –Haizaki Shougo
–Momoi Satsuki – 2 Original Character
Genre: Supranatural, Friendship, Sci-Fi
Rating: K+
Type: Fanfiction
Length: Three chaptered
Warning: OOC, Typo(s), AU,
Dedicated for #1stAnnivKfIndo^^
Notes: Oh iya, kemaren ada review dari Use my Imagination-san nanya:
"Kuroko bangun2 robot kan?gapunya hati? kok bisa ngerasain bla bla bla"(saya lupa pertanyaannya, yang jelas sejenis itu/plak
Jawabannya: "Ya, aduh jangan nak '.'/ jangan jadi Jaki. Iya, dia diciptain Jaki sebenernya supaya bisa tempur ngelawan FBI
tapi ternyata, Kuroko itu lemah. Jadi dia punya keistimewaan khusus bisa merasa 'kasih sayang', tidak seperti 'jenis-jenisnya' (istilah apa ini -_-)
mudahan ngerti. ngerti kan *nyodorin katana* /heh
yaudah,langsung aja
.
.
.
Happy Reading
Percuma. Teman-teman Kuroko terlalu kuat. Keempat remaja berambut warna warni itu sudah terluka parah, walau tidak separah Kuroko. Banyak luka lecet dikulit-kulit mereka, walau mereka memakai baju pelindung. Bukan karena mereka lemah. Sekali lagi, bukan. Tetapi karena ini bukan bidang mereka. Apalagi mereka mendapat tugas ini secara tiba-tiba setelah diancam Akashi. Kuroko pun belum bisa bergerak.
"Hei Kau, yang berambut merah sepertiku", panggil Kagami. Akashi menoleh.
"Mau apa kau memanggilku?!", jawab Akashi dengan suara dan tatapan yang dingin.
"Sebenarnya mudah bagiku untuk menyeret Kuroko, tetapi Aku ingin mengetahui seberapa jauh kekuatanmu. Ayo, bertarungah denganku. Kalau kau berani", tantang Kagami.
"Aku tidak takut", jawab Akashi. Ia melepas jas Teikou-nya. Ia pun maju dan melangkah ke tempat Kagami.
Other side . . .
"Midorima-kun . . .", panggil Kuroko.
"Apa nanodayo?", Tanya Midorima.
"Tolong . . . buat aku pulih walaupun sedikit", pinta Kuroko.
"Apa? Tunggu, itu diluar kemampuanku nanodayo", tolak Midorima.
"Kumohon. Saat ini Akashi-kun dalam bahaya. Kagami-kun merupakan robot terkuat. Akashi bisa mati ditangannya", pinta Kuroko lagi.
"Baiklah, tapi mungkin itu membutuhkan waktu beberapa puluh menit. Kau bersedia?"
Kuroko mengangguk. Midorima langsung memapah Kuroko menjauhi tempat itu.
10 menit berlalu. Akashi memang hebat, Ia bisa membuat kekuatan Kagami menurun 50%. Tetapi Kagami lebih kuat daya tempurnya, Ia berhasil membuat kekuatan Akashi menurun 75%. Bahkan keadaan Akashi kini lebih parah dari keadaan teman warna-warninya. Pengobatan Kuroko sudah selesai. Ia masih dipapah Midorima untuk kembali ke tempatnya semula. Ia harus menunggu 10 menit lagi agar Ia bisa bergerak.
Tiba-tiba, tangan kanan Kagami terlepas kulitnya. Keluarlah sebuah senjata. Ia menodongkan senjata tersebut kea rah Akashi tidak dapat bergerak karena kehabisan tenaga. Kuroko yang melihat itu langsung panik. Itu senjata andalan para robot. Siapapun manusia yang terkena senjata itu akan langsung tewas ditempat. Kuroko tidak tahu apa dampak senjata tersebut terhadap robot. Ia memaksa kakinya agar dapat bergerak. Ia berlari menuju kearah Akashi.
"Akashi-kun, AWASSS!", teriak Kuroko.
"AAAARRRGGGHHH", terdengar suara teriakan Kuroko beberapa detik setelahnya.
Ya, Kuroko tubuh Kuroko berhasil tiba didepan tubuh Akashi sebelum senjata tersebut mengenai Akashi. Tetapi, senjata tersebut mengenai 'perut' Kuroko. Terlihat oli keluar dari bagian tersebut. Mungkin itulah darah-nya.
"TETSUYA!", teriak Akashi. Ia juga memaksa tubuhnya agar dapat bergerak. Ia menarik Kuroko untuk meninggalkan tempat itu. Ia menidurkan Kuroko dibawah pohon. Mata Kuroko tidak bisa terbuka sebelah. Sedangkan Kagami, Ia lanjut mengancurkan gedung Teikou Koukou itu.
Tiba-tiba, jam tangan ponsel Akashi berbunyi. Ia segera mengangkatnya. Lalu, terpampang layar monitor dihadapannya. Disana terlihat seorang waniya berambut merah dan bermata heterochromatic sedang menatap layar monitor.
"Seijuurou, kau dengar aku?"
"Kaa-san! Ya, aku bisa mendengarnya", ucap Akashi.
"Ada apa Kaa-san?", Tanya Akashi.
"Begini, Kaa-san tidak punya banyak waktu. Kaa-san tahu disana kau tengah berusaha melawan robot-robot yang menyerang sekolahmu. Kaa-san dan Tou-san disini juga tengah berusaha melawan pembuat mereka, Haizaki Shougo. Jadi…" Ibu Akashi menggantung kalimatnya. Ia terlihat tengah melakukan sesuatu.
Tiba-tiba, sebuah CD keluar dari monitor itu.
"Kaa-san, apa ini?", Tanya Akashi.
"Itu CD yang Kaa-san dan Tou-san buat selama ini. Khusus untuk menghancurkan robot-robot itu. Cara menggunakannya, kau harus memasukkan CD itu kedalam CD room yang terdapat dalam monitor Jam tanganmu. Setelah kau melakukannya, akan muncul sebuah tombol. Kau harus menekan tombol itu. Setelah kau menekan tombol itu, otomatis robot-robot milik Haizaki akan langsung lenyap dari bumi ini. Hanya kau satu-satunya yang bisa melakukan itu, nak. Kau satu-satunya keturunan anggota FBI disitu. Kau harus berjuang! Demi Kaa-san, Tou-san, dan semua manusia dibumi ini", terang Ibu Akashi.
Layar monitor itu hilang. Jam tangan handphone milik Akashi pun mati. Tanda panggilan telah diputuskan. Ia langsung menuruti perintah Ibunya. Ia memasukkan CD itu, dan benar saja. Ada sebuah tombol yang kini sudah terpampang dihadapannya.
Tiba-tiba, Akashi bimbang. Ia bisa melenyapkan robot-robot itu dengan tangannya sendiri. Tetapi . . . Itu sama artinya dengan Ia melenyapkan Kuroko!
"Kau harus menekan tombol itu, Akashi-kun", pinta Kuroko. Suaranya terdengar lemah.
"Tapi sama saja artinya Aku harus membunuhmu dengan tanganku sendiri!", ucap Akashi.
"Semua sama saja, Akashi-kun. Kalau Kau tidak menekannya, sama saja. Mereka akan menang, lalu mereka memaksaku ikut mereka, Kita berpisah, dan . . . orangtua Akashi-kun terancam. Tetapi, kalau Akashi-kun menekannya, Aku dan teman-teman robotku lenyap, dunia akan aman, dan orangtua Akashi-kun bisa kembali ke Akashi-kun", jelas Kuroko.
"Demo . . ."
"Kau harus menekannya, Akashi", ucap Aomine. Midorima, Murasakibara, dan Kise ternyata sudah ada disana.
"Akashicchi, kumohon jangan egois", pinta Kise.
"Tidak! Aku tidak akan menekannya! Ingat? Aku SELALU be…"
"AKASHI-KUN!", bentak Kuroko memotong perkataan Akashi. Akashi melihat kea rah Kuroko. Kuroko terlihat seperti ingin berbisik kepadanya.
Kuroko langsung membisikkan sesuatu kepadanya. Setelahnya, Akashi langsung terpaku. Kuroko mengambil kesempatan. Ia menggunakan sisa tenaganya untuk mendorong tangan Akashi agar menekan tombol itu. Dan akhirnya jari telunjuk Akashi berhasil memencet benda tersebut. Terlihat teman-teman robot Kuroko tidak bisa menjangkau benda yang hendak digunakan untuk menghancurkan sekolah itu. Ya, mereka (dan Kuroko)kini berubah dari benda nyata menjadi benda maya.
"Tetsuya . . .", Akashi mencoba menggapai Kuroko, namun hasilnya nihil. Ia seolah-seolah menggapai udara.
"Sayonara, minna-san. Terima kasih atas waktu yang telah kalian lalui bersamaku", ucap Kuroko. Tunggu, ada yang aneh. Lengkungan terlihat disekitar mulutnya. Ia .. Ia tersenyum. Teman-temannya hanya memandang lirih ke arahnya. Termasuk Akashi.
"Sayonara, Aomine-kun, Midorima-kun, Murasakibara-kun, dan Akashi-kun . . .", Kuroko menggantung kalimatnya. Terlihat setetes cairan bening jatuh dari pelupuk matanya. Apakah Ia mulai merasakan bagaimana memiliki hati?
"Akashi-kun, daisuki. You are mine. I'm Yours", ucap salam perpisahan Kuroko. Ia pun langsung lenyap, berikut teman-temannya.
Kuroko POV
Aku tidak menyangka aku akan menangis. Setidaknya, sebelum aku tiada aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki hati. Memang perasaan yang kurasakan saat ini hanyalah perasaan sedih. Tetapi, Aku tetap bahagia bisa merasakannya walau hanya sekali. Aku akan berkumpul bersama 'keluarga'ku, bersama Hyuuga-senpai dan yang lainnya.
"Akashi-kun, daisuki. You are mine. I'm Yours", ucapku. Lalu, mereka menghilang dari hadapanku.
Kuroko POV end
The next week….
Tragedi itu sudah berakhir. Robot-robot itu sudah lenyap. Haizaki Shougo-pun sudah berhasil dituntaskan FBI. Akashi ingat pesan yang Kuroko bisikkan padanya . . .
"Lihatlah dibalik bantalmu, disana ada sepucuk surat. Bacalah"
Akashi mencari surat yang dimaksud. Tak butuh waktu lama, Ia berhasil menemukannya. Ia menemukan amplop yang berwarna merah. Dibukanya amplop itu. Disana, terdapat 2 buah kertas. Akashi memilih membacanya satu per satu. Ia mulai dari surat yang pertama.
Untuk Akashi-kun.
Domo. Aku yakin Akashi-kun akan membaca surat ini setelah aku tiada. Aku yakin Akashi-kun sudah mengetahui 'apa' Aku sebenarnya. Mungkin Akashi-kun kaget. Aku kan robot, apakah Aku bisa membuat surat?. Jangan remehkan Aku, Akashi-kun. Aku ini pintar, mungkin tidak sepintar Akashi-kun dan Midorima-kun. Tetapi, Aku tidak seperti Aomine-kun yang mendapat tugas membuat surat pribadi, bukannya membuat surat pribadi malah membuat surat undangan. Mungkin kau tidak tahu tentang ini, tetapi Aku tahu, karena aku sekelas dengannya.
Kenapa malah membahas tentang kebodohan Aomine-kun?. Baiklah, Aku akan berterus terang saja. Aku sudah membuat kenang-kenangan untuk kalian semua. Kau bisa melihat di kertas yang satunya. Lebih baik Akashi-kun lihat dulu, baru membaca lanjutan suratku lagi.
Akashi membuka kertas yang satunya. Ternyata itu adalah lukisan. Lukisan tentang pelangi yang bersinar sangat indah. Tak lupa dengan langit biru yang berwarna cerah. Ia kembali melanjutkan membaca surat itu.
Kau sudah lihat?Aku akan bercerita sedikit mengenai pelangi itu. Well, menurutku pelangi itu kita semua.
Merah, warna teratas melambangkan Akashi-kun yang menjadi pemimpin bagi kami semua.
Kuning, warna yang melambankan Kise-kun yang menjadi mood maker bagi kita semua.
Hijau, warna yang melambangkan Midorima-kun yang menjadi wakil kapten bagi kita semua.
Biru, warna yang melambangkan Aomine-kun yang menjadi Ace bagi kita semua.
Pink, warna yang melambangkan Momoi-san yang menjadi manager kita semua. Akashi-kun tahu, kan? Warna nila selalu menjadi salah satu komponen dalam pelangi.
Ungu, warna yang melambangkan Murasakibara-kun yang terkenal akan defense-nya.
Mungkin Akashi-kun bertanya, "Yang mana diriku?". Aku adalah langit-nya. Ya, Aku berbeda dari kalian. Aku tak seindah kalian. Akashi-kun tahu kan kalau Aku robot? Aku berbeda dengan kalian yang manusia. Begitu pula langit, Ia berbeda dengan pelangi. Tetapi, Aku seperti langit. Aku sering membaca ini di novel fiksi, tetapi Aku tidak tahu ini benar atau tidak. Tetapi Aku bisa mengawasi tingkah kalian dari langit :)
Terima kasih atas waktu yang telah Kalian lalui bersamaku, terima Kasih atas canda tawa yang telah kalian bagi denganku. Jujur, aku masih tidak mengerti tentang semua canda tawa itu. Akashi-kun tahu alasannya, kan? Yang pasti, Aku tidak akan melupakan kalian.
Oh, satu lagi. Akashi-kun, Daisuki. Daisuki wo arigatou. you are mine. I'm yours.
Kuroko Tetsuya
Akashi menutup surat itu. Ia melangkahkan kakinya ke tempat berandanya. Ia melihat ke langit.
'Tetsuya, kau melihatku? You are mine. I'm yours", ucap Akashi sambil tersenyum tulus.
-END-
Yeahh final chapter! I can't believe I can do them just one day . Review?
