DIARY OF ONYX AND EMERALD

Summary : Kisah Sasuke sang dosen killer menghadapi detik-detik kelahiran Uchiha junior/"Oh Tuhan. Lihatlah wajah kecilnya yang sombong itu."/Sekuel of Ujian & Anniversary/1 chapter 1 story/Chap 3. Welcome Junior/

.

.

Special Thanks to :

mantika mochi, Cherry philein, hesty47eclair, NdaYamada, Jeremy Liaz Toner, Kazama Sakura, Azriel Kanhaya, Animea-Khunee-Chan, Hanazono yuri, Jheinchyeon, Hijau, Daffodila, GaemSJ, Anggi Cherryblossom, suket alang alang, iya baka-san, Ucihalily, Zul, Nafidah, haruchan, shinji R, ss, Chess sakura, Pinky haruno, dakisudut, naintin, hevy lovato, Imee-chan Uchiha, Lhylia kiryu, Ore no Hana, Namuchi, an username, Guest.

.

Chapter 3 : Welcome Junior

Disclaimer : Naruto Milik Masashi Kishimoto.

Rate : T

Pair : SasuSaku

Genre : Family/romance

Warning : AU, OOC, garing, dan lain sebagainya.

.

.

Hari minggu yang kelabu. Seperti biasa, setiap pagi Sakura akan pergi ke halaman belakang, menggerak-gerakkan lengannya ke atas dan ke bawah sambil menghirup udara dingin yang sedikit menggelitik badannya. Wanita itu menengadah melihat langit yang kini kelam digelayuti mendung.

"Aish... Kalau begini bisa batal perginya," gerutunya.

"Mau pergi kemana?" Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari belakang kemudian memeluknya dengan hati-hati. Sakura tersenyum tipis. Aroma khas suaminya tercium olehnya. Wanita itu berbalik kemudian mengalungkan lengannya di leher pria itu.

"Aku punya janji dengan Ino, Sasuke-kun. Ke toko buku. Besok kan mulai ujian," ujar Sakura. Ia mengelus-elus pipi Sasuke dengan lembut. Ah... Bahkan dalam keadaan belum mandi pun, suaminya tetap terlihat kece.

Sakura menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah Sasuke, menciumnya dengan kilat, lalu terkekeh pelan. Pria bermarga Uchiha itu memutar bola matanya bosan. Ia sudah hafal gelagat istrinya jika ingin membujuknya. Sekitar dua bulan yang lalu saat Sakura menginginkan agar Sasuke mengijinkannya untuk pergi ke luar kota bersama teman-teman kampusnya, istrinya selalu berlaku mesra dan menciuminya setiap saat. Dari bangun pagi, masuk WC, keluar WC, sebelum makan, setelah makan, selalu diberi ciuman. Namun setelah Sasuke tetap melarangnya untuk pergi, bukan lagi ciuman yang diberikan melainkan gigitan Sakura yang terkenal mematikan –mungkin istrinya turunan kobra-. Alhasil Sasuke tidak bisa tidur karena meriang terkena gigitan sayang bertubi-tubi dari Sakura. Kalau bukan karena alasan cinta, mungkin pria beriris onyx itu akan lebih memilih semedi ke gunung Semeru dibanding serumah dengan wanita bertangan baja di hadapannya.

"Sudah kukatakan jangan pergi ke mana-mana. Lihat perutmu. Ini sudah bulan ke sembilan. Paham?" titahnya pada wanita berambut merah muda yang sedang mengerucutkan bibir. Jari Sasuke mengetuk-ngetuk dahi XL istrinya.

"Kalau aku bilang aku ngidam bagaimana?"

"Jangan cari alasan." Sasuke mencium hidung bangir Sakura lalu berbalik untuk masuk ke dalam rumah meninggalkan istrinya yang masih terpaku di tempatnya.

"Jadi ujian besok bagaimana? Kau masih akan mengurungku dalam rumah?" tanyanya dengan nada kesal mendengar keputusan sepihak Sasuke. Sejak kandungannya memasuki bulan ke tujuh, suami berambut ayamnya ini sudah menampakkan gejala-gejala overprotektif di luar ambang batas kewajaran. Ia dan Sasuke sudah mirip kembar siam, ke mana-mana harus bersama.

Sasuke berbalik menatap Sakura dengan wajah datar. "Akan kumintakan izin untuk ikut ujian susulan." Ia pun melenggang masuk diiringi pandangan menusuk dari Sakura.

"Dasar suami otoriter."

OoO


Suara geseran pintu praktis membuat suasana ruangan yang tadinya ramai bak pasar malam berubah menjadi sunyi senyap seperti makam. Dua orang dosen beraura angker berjalan memasuki ruangan dengan langkah tegas dan raut wajah dingin seolah siap menyembelih kepala mahasiswa dengan ujian yang pastinya sengaja dibuat sesukar mungkin untuk mendukung keeksistensian sang dosen killer sebagai pengajar yang harus ditakuti oleh murid-muridnya.

Semua penghuni ruangan menelan ludah. Untuk menerima sang Uchiha sebagai pengawas ujian matematika saja sudah keberatan, apalagi ditambah dengan pengawas berkulit putih mayat yang gemar memakai riasan mata ini. Sasuke memandang wajah-wajah masam para mahasiswa di hadapannya. Hidungnya mendengus. Kalau boleh jujur, ia sama seperti mereka. Tidak suka dengan pengawas berambut hitam panjang yang sedang berdiri di sampingnya. Ya. Kali ini Sasuke berduet dengan Orochimaru untuk mengawas ujian. Entah mengapa semenjak insiden anniversary dan mimpi terkutuknya tempo hari, ia agak alergi berdekatan dengan dosen aneh ini. Namun sialnya, makin menjauh justru ada-ada saja hal yang menyatukan mereka seperti sekarang. Mungkin mereka jodoh yang tertukar.

"Waktu kalian 90 menit. Soalnya berjumlah lima nomor. Selamat mengerjakan," instruksi Sasuke sesaat setelah Naruto membagi-bagikan soal ujian kepada teman-temannya. Orochimaru cuma duduk manis diam di kursi pengawas sembari memasang tampang seram. Itu saja cukup untuk membuat para mahasiswa ini tak berkutik. Jangankan menyontek, bergerak balik kiri balik kanan saja susah. Siapa yang mau mencari masalah dengan titisan siluman ular putih itu. Sekali kena tegur, mungkin akan kena patok atau paling tidak akan kerasukan jin ifrit. Sedangkan Sasuke lebih memilih untuk mengawasi dari sisi belakang, berjauhan dengan Orochimaru.

Dua puluh menit berlalu, para mahasiswa sudah menampakkan tanda-tanda kecemasan. Naruto melirik kanan kiri. Sama. Tak ada bedanya. Seluruh teman-temannya juga memasang tampang depresi. Shikamaru yang terkenal jenius tampak mengerutkan kening dengan wajah mengantuk. Nedji masih dengan wajah cool-nya tetapi keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Lee memutuskan untuk mengerjakan soal dengan menghitung kancing -hanya ia dan Tuhan yang tahu bagaimana caranya mengerjakan soal essay dengan kancing-. Bahkan Sai hanya menatap kertas ujian di hadapannya dengan pandangan kosong. Horor. Soal ujian yang diberikan memang hanya berjumlah lima nomor. Tapi lima nomor ujian itu beranak pinak membelah diri menjadi berpuluh-puluh nomor.

'Ini ujian atau amoeba,' batin Naruto frustasi. Ia merasa otaknya nyaris lumpuh mengerjakan soal durjana dari Uchiha ini.

"Waktu yang tersisa enam puluh menit lagi," lantang Sasuke memecah keheningan. Suara gerutuan terdengar di mana-mana. Di tengah kondisi ujian yang semakin memanas, tiba-tiba terdengan alunan ketukan dari arah pintu. Berpuluh pasang mata melihat ke arah suara tersebut. Bola mata Sasuke membesar terkejut atas sosok berperut besar yang kini berdiri di pintu ruangan. Saat di rumah, ia telah mewanti-wanti istrinya agar tidak pergi ke kampus, namun takdir berkata lain. Wanita bersurai pink itu sekarang tengah berdiri dengan wajah gugup seraya menggigit bibirnya. Sasuke terjebak dilema. Ingin diusir namun kasihan. Lagipula ia kapok jika istrinya mengamuk dan menyuruhnya tidur di luar. Tetapi jika diizinkan masuk dan mengikuti ujian, akan merusak dedikasi dan komitmennya sebagai dosen killer. Lagipula ia merasa tak enak dengan dosen berwajah ular yang sedang duduk di kursi pengawas. Nanti dipikirnya ia pilih kasih dengan membeda-bedakan perlakuannya pada mahasiswa.

"Ya sudah. Masuk." Suara Orochimaru bagaikan oase di tengah gurun, menyejukkan hati dua insan yang sedang dirundung kegalauan. "Aku tidak suka wanita hamil seperti kura-kura menghalangi pintu," lanjutnya lagi. Sungguh kata-kata yang manis dari bibir sexy seorang Orochimaru.

Sasuke kontan mendelik menatap wajah tanpa dosa Orochimaru yang tega menyebut istrinya kura-kura. Lalu Sasuke apa? Suami kura-kura? Hidungnya kembang kempis mencoba menahan darah tingginya yang meletup-letup. Bisa heboh se-universitas jika ia membabi buta di sini.

Sakura mengambil kertas ujian lalu duduk di kursinya dengan hati-hati. Ino yang memang berada tepat di belakangnya, membisikinya. "Kenapa kau datang? Perutmu tidak apa-apa?"

"Tidak apa, Ino," sahut Sakura pelan dan mulai mengerjakan soal ujian.

1 jam, 2 menit, dan 30 detik kemudian...

"Oke. Waktu habis. Segera kumpulkan," perintah Sasuke. Suasana kelas menjadi riuh rendah. Semua murid misuh-misuh tak karuan mengutuk soal matematika biadab yang baru saja mereka kerjakan. Satu persatu mereka maju untuk mengumpulkan lembar jawaban. Sasori memandang lembar jawabannya dengan sedih. Pasrah saja lah, serahkan pada Tuhan. Jika tak lulus, dia bisa membelokkan cita-citanya untuk menjadi model pakaian dalam pria.

"Mau kukumpulkan, Sakura-chan?" tawar Naruto. Sakura menggeleng kemudian tersenyum.

"Biar aku saja, Naruto." Sakura mencoba berdiri tetapi seketika rasa menusuk yang teramat sangat menyerang dirinya. Wanita itu terduduk sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.

"Sakura-chan!" Pekikan Naruto membuat seluruh kepala menoleh ke arah mereka.

"Sakura, kau kenapa?" Ino memegangi bahu Sakura dengan wajah khawatir.

"Ada apa?" Sasuke dan Orochimaru menyeruak kerumunan mahasiswa. Ia terkejut melihat istrinya sedang terduduk menahan sakit.

"Sasuke, perutku..." lirihnya.

"Ada apa Sakura?" Pria itu menahan tubuh Sakura yang mulai berkeringat serta menggenggam tangannya cemas.

Orochimaru maju ke dekat Sakura. "Ini sih mau melahirkan. Cepat bawa dia ke rumah sakit bersalin."

"Sensei sih. Soal ujiannya kesusahan. Bayi Sakura jadi ikut-ikutan stres." Tuduh Lee diiringi anggukan setuju dari kawan-kawannya. Sasuke melotot tak terima dituding sebagai penyebab utama insiden tersebut.

"Cerewet! Cepat ambil kursi roda di ruang kesehatan!" seru Sasuke tak sabar. Debar jantungnya menabuh dengan kencang melihat wajah pucat Sakura. Ia terus menggenggam jari-jari lentik wanita itu untuk sekedar menenangkan meskipun dirinya sendiri tengah gugup setengah mati.

Kiba dan Lee berlari-lari sambil membawa kursi roda. Sasuke langsung menggendong Sakura dengan hati-hati kemudian didudukannya ke kursi lalu mendorongnya dengan cepat namun tetap hati-hati agar kandungan Sakura tidak terguncang. Sementara yang lain mengekor dari belakang.

"Ayo, cepat sensei!" perintah Naruto setelah mereka semua telah menaiki mobil milik Sasuke. Pria Uchiha itu melirik ke belakang. Sakura ada di bangku kedua bersama Ino, Hinata, dan Naruto. Sedangkan di bangku paling belakang tampak Chouji, Sasori, Nedji, Shikamaru, Kiba, dan Lee yang duduk berdesak-desakkan. Sejak kapan mereka semua naik. Mana di kursi terdepan cuma Sasuke pula yang sedang duduk di balik kemudi. Persis seperti sopir. Dalam keadaan normal, mungkin pria itu akan menggampar semua mahasiswanya. Tetapi saat ini keadaan genting. Maka dibiarkanlah mereka ikut serta.

Sesampainya di rumah sakit, Sakura segera dinaikkan ke ranjang dorong kemudian dilarikan ke ruang bersalin. Sasuke mengekor di samping Sakura.

"Sasuke, cucianku!" jerit wanita itu tiba-tiba.

Sasuke melongo. Masih sempat-sempatnya istri merah mudanya ini memikirkan cucian.

"Masalahnya ada baju kesayanganmu. Nanti kelamaan terendam."

Sasuke berbalik melihat Chouji yang tampak ngos-ngosan karena tubuh tambunnya dipaksa lari ke sana ke mari mencari alamat palsu. "Chouji, angkat rendaman cucian di rumahku. Ini kunci rumah." Tanpa hati dosen muda itu melemparkan sebuah kunci ke arah Chouji yang diterima dengan raut menahan tangis. Pemuda bulat itu serasa ingin gelundungan di koridor rumah sakit. Kenapa mesti dia yang harus diperintah untuk mengurus cucian Sasuke. Memangnya wajahnya mirip mesin cuci. Namun tak ayal ia menurut juga setelah diancam tidak akan diluluskan oleh Sasuke.

"Tidak usah temani aku, Sasuke-kun. Tunggu aku di luar."

"Aku mencintaimu." Sasuke mencium dahi Sakura sebelum istrinya dimasukkan ke dalam ruangan.

Pria itu memegang kepalanya sembari bersandar ke dinding putih rumah sakit. Raut cemas tampak jelas terpampang di wajahnya. Ini pengalaman pertama. Dan istri tercintanya sedang bertaruh nyawa di dalam sana. Tentu saja dirinya khawatir.

"Tenanglah Sasuke. Istrimu akan baik-baik saja." Sebuah tepukan di pundaknya membuat Sasuke memalingkan wajah. Kakashi, Minato, Orochimaru, dan seluruh teman sekelas Sakura tampak pula berada di sana. Bungsu Uchiha itu menepuk jidatnya pelan. Ini mau lahiran atau mau demo.

Ratusan tetes keringat dingin kemudian...

"Suami dari Nyonya Sakura?" Seorang suster berpakaian serba putih keluar dari ruangan bersalin. Semua menoleh. Suster separuh baya itu tampak kebingungan.

"Suaminya yang mana?" tanyanya lagi.

"Saya. Bagaimana dengan istriku?" Sasuke unjuk tangan. Wanita itu tersenyum menyambutnya.

"Selamat, Tuan. Anak anda laki-laki."

"Wuahh..."

Suasana rumah sakit seketika gegap gempita oleh sorakan mahasiswa-mahasiwa Sasuke yang terdampar bersamanya. Naruto tak kuasa menahan haru karena sudah menjadi paman. Minato, Kakashi, dan Orochimaru memberi selamat atas lahirnya jagoan kecil anggota baru keluarga Uchiha. Ingin rasanya ia menangis bahagia sekarang.

"Anda boleh masuk, Tuan. Tapi tolong tamu anda ditertibkan karena mengganggu kenyamanan rumah sakit."

Sasuke langsung mengusir Naruto beserta kawan-kawan seperti mengusir sekawanan bebek liar. "Sudah. Bubar. Bubar."

"Kau mengusir kami juga, Sasuke?" sungut Kakashi tak terima diusir seperti bebek. Ia menyilangkan tangan.

"Yang bapak-bapak boleh tinggal."

"Tapi kami boleh datang kembali kan Sensei?" Naruto angkat suara mewakili aspirasi kawan-kawannya.

Pria bermata kelam itu mengangguk, kemudian masuk ke dalam ruangan untuk menemui Uchiha juniornya.

OoO


"Dia mirip sekali denganmu, Sasuke-kun," ucap Sakura sambil membelai lembut bayi mungil yang berada dalam gendongannya. Pria di sampingnya tersenyum, memandang istrinya lalu mencium dengan sangat hati-hati darah dagingnya yang tampak terlelap nyaman.

"Tapi dia mewarisi mata indahmu, Sakura." Sasuke mengusap rambut istrinya dengan sayang. "Terima kasih atas perjuanganmu," lanjutnya lagi.

Ibu muda itu balas tersenyum, memperbaiki posisi sandarannya di ranjang agar punggungnya tak lelah. "Naruto dan lainnya sudah tahu ruanganku, Sasuke-kun? Kapan mereka akan datang?"

Sasuke mengedikkan bahu. "Mungkin mereka tak lama lagi akan—"

"Halo sensei, Sakura-chan." Belum selesai ia berbicara, suara melengking yang khas langsung muncul dari balik pintu kamar inap Sakura. Di belakang pemuda itu mengekor Kakashi, Minato, Ino, Hinata, Tenten, Kiba, Shikamaru, Neji, Sasori, Sai, Chouji, bahkan kakak sulungnya yang keriput pun muncul.

"Jangan berisik, Naruto. Kau membangunkan anakku," tegur Sasuke jutek. Anaknya bisa muntah darah jika terus-terusan mendengar suara melengking pemuda pirang itu.

Pemuda bermanik biru yang dimaksud cuma memeletkan lidah malu. "Maaf Sensei. Aku cuma mau menjenguk keponakanku," bisiknya pelan tepat di daun telinga Sasuke.

Pria Uchiha itu hanya bisa menarik napas. Sejak kapan anak tampannya menjadi keponakan kepala duren itu.

"Hai, Sasuke, Sakura," sapa Itachi manis. Sulung Uchiha itu tersenyum lebar saat melihat bayi kecil dalam gendongan Sakura. Mata bulat kecil bayi itu terbuka. Menampakkan emeraldnya yang cerah.

"Oh Tuhan. Lihatlah wajah kecilnya yang sombong itu. Betul-betul mirip denganmu, Otouto," komentarnya. Yang lainnya pun ikut-ikutan komentar.

"Tolong angkat aku jadi menantumu, Sakura," kata Ino seraya tertawa. Namun sungguh lelaki mungil ini sungguh manis dengan mewarisi wajah rupawan khas Uchiha tetapi dengan manik hijau Sakura yang indah.

"Ino pedofil."

'Plak.'

Shikamaru kena kibasan rambut Ino.

"Boleh aku gendong?" Sasori maju dan meminta izin pada wanita merah muda itu. Sasuke menatap datar pemuda berwajah imut di hadapannya dengan raut tak rela. "Jangan lama-lama. Jangan terlalu kasar mendekapnya. Kau belum berpengalaman." Wantinya sok tahu.

Sasori mengambil alih anak Sasuke dari dalam gendongan Sakura dengan hati-hati. Uchiha kecil memandang pemuda merah itu dengan mata bulatnya.

"Ohh... Lucunya."

Pria itu berdecak kesal karena bayinya terlihat girang berada dalam dekapan Sasori. "Oke. Cukup." Sasuke mengambil Uchiha kecil dari Sasuke, namun saat berada dalam gendongan ayahnya, bayi mungil itu malah tersentak kaget, bibirnya gemetar, kemudian tangisnya meledak.

"Sasuke-kun!"

Sasuke gelagapan. Boleh saja ia jenius dalam bidang matematika, namun jangan ditanya tentang masalah urus-mengurus bayi. Nol besar. Sejak dulu ia jarang berinteraksi dengan bocah manapun. Sikap sok tahunya hanyalah kamuflase untuk mengaburkan fakta bahwa ia pun sama sekali tidak tahu apa-apa tentang ini.

Mendengar tangis bayi Sakura reflek naluri om-om Nedji tersentil. Dengan sigap ia mengambil bayi itu dari Sasuke, menggendongnya, kemudian membujuknya. Ajaib. Uchiha junior sontak diam, tenang, dan damai, kemudian Nedji menyerahkannya kembali pada Sakura. Apakah Nedji pernah bekerja sebagai baby sitter? Atau pemuda gondrong itu pernah melahirkan? Tak ada yang tahu. Yang pasti saat ini, tampang Sasuke sudah mirip seperti mangga muda diberi jeruk nipis. Asem.

"Sepertinya anakmu lebih rela jika bapaknya Sasori atau Nedji, Sasuke," celetuk Kakashi yang segera dibalas dengan pandangan menusuk dari ayah muda tak berpengalaman itu. Kakashi tersenyum mengejek. Puas telah mengerjai mantan muridnya yang menyebalkan ini.

"Siapa namanya Sakura-chan?" Gadis lembut bersurai indigo bertanya. Ia terkekeh pelan ketika telunjuknya digenggam oleh tangan mungil bayi Sakura.

"Namanya Rensuke, Hinata," jawabnya.

Itachi mengernyit. "Apa artinya?"

Sakura tertawa. "Sakura en Sasuke. Sasuke yang memberikan nama, Itachi-nii," jawab wanita itu sambil melirik suami di sampingnya. Yang dilirik memasang tampang acuh tak acuh.

"Hah?"

Seluruh penghuni dalam ruangan itu terdiam dengan berbagai ekspresi. Namun cuma satu yang terdapat dalam pikiran mereka. Singkatan busuk macam apa itu. Namanya sih normal. Tapi singkatannya itu membuat orang ingin nangis darah. Seperti anak labil. Apa pula itu Sakura en Sasuke. Sungguh malang nasibmu nak.

"Alay. Kenapa tidak diganti dengan Alexander saja?" Sai yang terkenal jujur –bahkan kelewat jujur- langsung komentar. Pemuda ini memang hobi memperkeruh suasana.

"Alexander kepalamu!" Sewot Sasuke. Enak saja si pucat ini menghina nama pemberiannya yang menurutnya keren itu.

"Kenapa bukan Naruto saja?" Naruto memberi usul membuat Sasuke menyipitkan mata tak suka.

"Kau belum pernah dihajar Naruto?"

Naruto mingkem.

Itachi mengibaskan tangannya mencoba menenangkan keadaan yang mului rusuh perihal sengketa pemberian nama keponakannya. "Sudah. Sudah. Bagaimana kalau namanya diganti Tom, Sasuke? Lengkapnya Tomato. Menurutku itu lucu. Kau juga menyukai tomat."

"Sekalian saja namanya kangkung." Urat di jidat Sasuke membentuk persimpangan. Iya, memang itu nama yang lucu. Semua orang akan tertawa terbahak-terbahak menertawakan anaknya jika bernama Tomat. "Sekali Rensuke, tetap Rensuke. Tidak bisa diganggu gugat," tegasnya lagi. Semua langsung memasang mimik kecewa.

Sasuke senewen. Sebenarnya ini anak siapa. Ada apa dengan orang-orang ini. Seharusnya momen kelahiran ini adalah momen yang paling berbahagia untuknya. Seharusnya semua orang mengucapkan selamat dan memberinya hadiah. Ini malah dihujani protes dan kritikan di mana-mana. Ia merasa menjadi satu-satunya pihak yang paling disudutkan di sini.

Melihat Sasuke yang mulai kesal, Minato angkat bicara. Sebagai orang yang dituakan di ruangan ini, ia merasa punya tanggung jawab moril untuk mendinginkan suasana. "Sudahlah. Rensuke nama yang baik. Rensuke Uchiha. Dia akan menjadi pria gagah sepertimu, Sasuke."

Bungsu Uchiha itu menarik bibir, tersenyum kecil. Akhirnya ada juga manusia normal di tempat ini. "Tolong jangan rusak kebahagiaanku dengan kata-kata kalian," ungkapnya. Jujur saja, pria itu sudah ingin menangis di pojok ruangan setelah menjadi bahan bully-an oleh mahkluk-mahkluk tak berperasaan yang tengah menjenguk istrinya ini.

"Kami cuma bercanda, Sasuke. Tentu saja kami turut senang atas kelahiran anakmu," kata Kakashi. Pria bersurai silver itu menepuk punggung Sasuke.

"Hn."

"Ibu dan ayah akan datang besok pagi untuk melihat Rensuke. Aku pulang dulu ya, Otouto. Sakura, jaga kesehatanmu. Sampai jumpa pria kecil," pamit Itachi setelah mengecup keponakannya yang kembali terlelap.

"Kalau begitu baiknya kami semua juga pulang. Sakura dan bayinya perlu banyak istirahat." Minato menyalami sepasang suami istri itu bergantian diikuti Naruto dan lainnya.

"Sampai ketemu lagi, Rensuke. Paman akan datang lagi," ucap Naruto sembari tersenyum lebar. Sakura mengangguk dan melambaikan tangannya.

Setelah mereka semua pergi, Sasuke menghembuskan napas lega. Akhirnya hidupnya bisa tenang setelah makan hati dikritik seharian. Tidak rekan dosen, tidak mahasiswa, sama-sama tukang hujat. Ia melirik box bayi yang terletak di dekat ranjang istrinya. Rensuke pun tengah tidur lelap.

"Kalau ingin istirahat di rumah, pulanglah, Sasuke-kun. Suster akan menjagaku di sini," ujar Sakura setelah melihat suaminya yang terlihat lelah. Pria yang dinikahinya beberapa tahun silam itu menggeleng.

"Aku ingin istirahat di sini." Sasuke naik ke atas ranjang Sakura serta merebahkan diri sambil mendekap istrinya dengan erat.

"Kenapa tiba-tiba manja begini?"

"Memangnya kenapa? Usap rambutku hingga aku tertidur. Kalau Rensuke bangun, aku tidak bisa tidur lagi." Mendengar jawaban suaminya Sakura tersenyum geli. Sedikit paham bahwa Sasuke agak takut jika perhatiannya pada pria itu akan berkurang dengan hadirnya Rensuke di tengah-tengah mereka. Sakura tahu betul, kadang suaminya yang tampak dingin dan tak peduli sebenarnya bagaikan anak kecil yang pencemburu dan butuh perhatian lebih dari dirinya.

"Tidur yang nyenyak, Sayang."

Sakura pun mengusap dan membelai lembut surai hitam Sasuke hingga terdengar dengkuran halus dari pria itu.

OoO


Author's note :

Saya kembali lagi. Pertama-tama terima kasih untuk semua yang telah memberi concrit dan tanggapannya tentang fic ini. Salam kenal ya... Kalian luar biasa :D

Sebelumnya saya juga minta maaf karena saya ngetiknya juga disempet-sempetin di tengah tumpukan data yang harus diolah. Jadi harap maklum kalo kalian ngerasa kadar kenistaan dalam cerita ini semakin bertambah *cari-cari alasan.

Entah kenapa saya selalu berkhayal mereka punya anak laki-laki yang mirip dengan Sasuke, makanya anak Sasuke sengaja saya ganti gendernya, tidak sama dengan canonnya. Untuk umur Sakura, anggap aja 21 menjelang 22 tahun.

Saran dan kritik yang masuk selalu saya tampung kok.

Akhir kata,

Mind to review?