Summary Chapter 2 :
(Hey, siapa orang yang kau cari hingga membuatmu berlari seperti itu?)
"Apa kau tak merasa bahwa akhir-akhir ini Kise menjadi sering tidak fokus dan terlihat sangat kelelahan, nanodayo?"
Ia tahu bahwa ia mungkin tidak akan bisa melihat mekaran pohon-pohon sakura itu lagi dan menjelajah berbagai dunia lewat rel kereta memanjangnya.
"Kau tahu rasanya mulai meragukan hal-hal di sekitarmu, bahkan dirimu sendiri?"
Ia tahu. Tapi bukan seperti ini cara yang ia mau untuk menutup hari-hari singkatnya.
"Kise-kun, kau ... tidak tahu tentang vonis dokter terhadapmu?"
Hanya bersama orang itu ia ingin menghabiskan sisa napasnya. Hanya demi orang itu ia hidup.
"Saat ini Kurokocchi berada di Ruang 307, Rumah Sakit Aoyama. Biasakah ... kau menjemputnya di sana, Aominecchi?"
Makanya, biarkan aku pergi menemuinya, melindunginya, dan membuatnya bahagia.
"Kise-kun hanya bisa bertahan sampai musim semi tahun depan."
Aku ingin hidup lebih lama lagi.
PROLOGUE OF THE FORGOTTEN MEMORIES WHICH MAKE THE RAIN FALL
Sepasang permata keemasan yang sedari tadi bersembunyi itu akhirnya menampakkan diri. Satu helaan napas berat pun terhembus keluar dari mulutnya seiring dengan kedua matanya yang mendelik kesal ke arah sumber suara yang sedari tadi terus mengganggu momen penuh kedamaiannya. Ponsel yang sebelumnya ia biarkan terkubur jauh di antara ilalang dari tempatnya yang teduh di bawah pohon pun lama-kelamaan berhasil mengusiknya. Kalau bukan karena sosok yang sedang menghangatkan diri di balik dekapan lengan kirinya itu yang mencegahnya, mungkin sudah lama ponsel itu ia hanyutkan ke sungai terdekat.
Menyadari pemilik tangan yang menyelimutinya itu tak jua menciptakan gerakan untuk menghampiri benda malang di sana, ia pun akhirnya memutuskan untuk bangkit dan berjalan perlahan untuk mengambil ponsel itu.
"Huwaaa, untuk apa kau mengambilnya—hai, hai, aku akan menjawabnya, aku mengerti-ssu!" Dengan berat hati—karena ia tidak mau terus diberi tatapan menakutkan seperti itu oleh sosok yang menemaninya di sana—ia pun akhirnya mengangkat alat elektronik itu dengan setengah hati. Surai-surai keemasannya yang sudah lepek dan berantakan, ia sampirkan ke belakang telinga kemudian ia tempelkan benda itu ke telinganya.
"Hai, hai, Fuyumi-san. Kau tidak perlu meneror ponselku terus-ssu. Aku masih hidup kok..."
Suara bentakan yang sangat kencang pun sontak terdengar dari seberang sana sesaat setelah pemuda bermata hazel itu menyelesaikan kalimatnya. Ia bahkan sampai harus menjauhkan ponsel itu dari indra pendengarannya bila ia tidak mau tuli mendadak. "Pelan-pelan, Fuyumi-san... Tarik napas—hembuskan..."
Setelah ia mendengar sayup-sayup sang manajer melakukan apa yang ia sarankan, ia pun mengukir seulas senyum tipis di bibirnya dan terkekeh pelan. "Nah, nah, sudah merasa lebih baik? Ada apa kau menghubungiku, Fuyumi-san? Seingatku aku sudah mengatakan bahwa dua hari ini aku tidak mau diganggu dengan kontrak apapun-ssu."
["Hah, kau masih tidur ya, Kise? Kau pikir, dua hari yang kau maksud itu hari apa dan sekarang hari apa!?"]
Rangkaian kata itu susah payah ia coba cerna dengan otaknya yang sejak kemarin terasa ingin meledak. Kedua matanya berputar ke atas kemudian ke samping dan ke bawah seolah ia sedang memikirkan jawaban dari soal ujian matematika yang sangat sulit. Melihat hal itu, sosok di sampingnya pun tersenyum lebar ke arahnya sebagai bentuk dukungannya untuk pemuda itu. Kise yang disemangati begitu pun tak kuasa menahan kurva senyumnya untuk tidak mengembang lebih lebar lagi. Jemari tangannya yang tidak sedang disibukkan oleh ponsel itu pun mengusap lembut ke arah surai-surai hitam milik sosok di sampingnya.
Hanyut dalam gerakan monotonnya dalam mengelus rambut panjang milik sosok yang terlihat begitu menikmati perlakuan lembut itu, ia sampai tidak sadar bahwa sang manajer sudah melayangkan bentakannya lagi.
["AAAH... Baru kali ini kau seperti ini, Kise! Sekarang hari minggu dan kau meminta izin untuk libur pada hari Jum'at dan Sabtu, ingat? Sudahlah, cepat ke sini atau akan kuseret kau ke sini sekarang juga!"]
"Ahaha, Fuyumi-san mau menyusulku ke Kanagawa-ssu? Aku sih senang-senang saja~ Habis ..." Ia arahkan pandangannya ke arah tirai-tirai merah jambu yang bergemerisik riuh di bawah hembusan angin musim semi. Dari balik kelopak-kelopak yang masih terus bermekaran, ia dapat melihat bagaimana gradasi biru langit di atasnya terpaku menatap daratan membentang yang menjadi tempatnya berpijak. Sinar matahari yang terasa hangat di kulit pucatnya memberikan efek rileks pada sekujur tubuhnya yang masih terbalut perban. "Aku tidak tahu cara untuk pulang ..."
Itu benar. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya ia bisa sampai di tempat asing itu. Ia ingat dengan dirinya yang kemarin menaiki kereta JR untuk pergi ke sebuah kota di prefektur Kanagawa, transit di Oofuna, kemudian menaiki kereta Tookaidou line, namun hanya sebatas itu. Ingatannya berhenti sampai di sana. Ketika ia terbangun, ia sudah berada di tempat itu, terbaring di atas rerumputan hijau di bawah atap bunga-bunga sakura yang memberikan kesan teduh. Lalu, di tempat yang sama, ia pun bertemu dengan sosok mungil (mungkin tidak begitu mungil) yang mengatakan bahwa ia mengenal sang model.
"Iie, daijobu-ssu! Tadi aku hanya bercanda kok. Kau tidak perlu ke sini, nanti aku akan langsung ke tempat pemotretan.—Aa, tidak usah! Fuyumi-san tidak usah ke sini! Aku tidak mau merepotkan, sungguh, aku tidak apa-apa. Tapi Fuyumi-san jangan kaget dengan penampilanku ya...—Huwaaa Fuyumi-san sudah tahu? Malam Jum'at kemarin pergi ke rumah sakit untuk mengunjungiku?"
["Hnn, yang penting, cepatlah ke sini! Luka seperti itu bisa ditutupi oleh make up kok."]
"Yes, sir!" serunya penuh semangat sebelum ia memutuskan sambungan mereka dan menurunkan ponsel itu dari telinganya. Ia biarkan tangan yang menggenggam ponsel itu jatuh terkapar ke tanah begitu saja seraya ia benturkan keningnya pada sebelah lutut yang ia lipat. Senyumannya seketika runtuh. Kilatan cemerlang pada sepasang hazel itu pun meredup.
Untuk sesaat ia hanya terdiam di sana, membiarkan hembusan angin membuat surai-surai keemasannya menari-nari. Dalam bisu ia mencoba menenangkan diri, mencoba meringankan beban berat di pundaknya yang berakhir sia-sia. Hingga sosok itu menelusup kembali ke bawah lengannya, mengusap-usapnya ujung kepalanya pada dada bidangnya. Barulah seulas senyum tulus—yang walaupun tipis—terukir di wajahnya. Dengan senang hati, ia pun membalas perlakuan lembut itu dengan sebuah dekapan erat.
"Arigatou. Terima kasih telah menenangkanku. Kau baik sekali..."
Sosok itu menciptakan sebuah suara aneh yang entah bagaimana ia mengerti. Ia sendiri bingung kenapa sosok itu begitu mengerti dirinya, begitu mengerti beban dalam dirinya yang membuat dadanya terasa sesak. Padahal, ia selalu berpura-pura.
"Kau itu ... mirip sekali dengannya."
Yang berada dalam dekapannya pun mendongakkan kepala sambil menunjukkan ekspresi penasarannya. Melihat ekspresi yang menurutnya manis itu, Kise tak kuasa menahan tawa. Seolah, ia benar-benar sedang ditatap oleh dirinya—Kuroko Tetsuya—dengan bola mata besar yang benderang oleh sepasang permata aquamarine.
"Oh ya, siapa namamu tadi?"
Sosok mungil itu pun bangkit. Surai-surai hitamnya menggelitik wajah Kise yang hanya bisa terkikik menahan geli. Tangan mungil itu menunjuk ke sampingnya, ke arah sebuah gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rerumputan kecil. Sebuah papan dari kayu tertancap kokoh di sisi depan gundukan tanah tersebut. Kise yang menelusuri kemana arah telunjuk itu membawanya pun hanya bisa mengukir senyuman tipis.
Ah, mau berapa kali pun ia mencoba memahaminya, tetap saja gundukan tanah itu terasa begitu asing baginya. Sama seperti adegan-adegan dalam mimpinya yang ia yakini tak pernah ia kenali namun mampu menciptakan letupan perih pada dadanya yang akan terasa sesak secara tiba-tiba. Namun, itu toh tak membuatnya menolak pernyataan yang disampaikan sosok mungil itu di awal pembicaraan mereka. Gundukan tanah dan papan kayu itu—kuburan itu—dulu ia yang membuatnya.
Dibacanya dan coba ia resapi entah untuk keberapa kalinya sejak ia tersadar di tempat itu akan sebuah kanji dan beberapa hiragana yang ia eja dan membuatnya harus menelan pahit karena lagi-lagi didatangi oleh mimpi-mimpi buruknya. Ia meringis kesakitan sambil memijat-mijat pelipis kepalanya yang terasa sakit dan terus bertahan memandangi gundukan tanah dan papan nisan itu lekat-lekat. Mencoba mengerti tanpa harus tersakiti.
Ia ... egois bukan?
"Tulisanku dulu jelek sekali ... Aku hampir-hampir tidak bisa membacanya-ssu ..."
Sosok mungil itu menatap Kise dengan tatapan sendu dengan bulir-bulir air mata menggenang di pelupuk matanya. Menyadari hal itu pun, Kise buru-buru mengukir senyuman modelnya dan menurunkan tangannya dari kepalanya agar si mungil tidak lagi merasa khawatir kepadanya.
"Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa ... Kalau memang ada sesuatu yang kulupakan, aku harus segera mengingatnya. Kalau memang ada hal yang harus kulakukan sehingga aku berada di sini, aku harus segera melakukannya, kan?" ucapnya seraya menoleh ke arah sosok mungil yang bersimpuh di sampingnya. Pemilik surai hitam itu memandang sebentar sebelum akhirnya mengangguk lemah.
Setelah merasa bahwa rasa sakit dikepalanya sudah semakin membaik, sang model pun beranjak dari tempat itu. Diambilnya tas sekolah yang terkapar begitu saja tak jauh dari tempatnya berada, kemudian ia sampirkan ke pundak. "Nah, sekarang saatnya aku pergi." Kedua mata itu terfokus pada ekspresi sendu yang diciptakan oleh sosok berambut hitam itu.
"Tapi aku berjanji akan kembali. Lalu, aku akan membawanya juga ke tempat ini.
Sampai saat itu datang, aku mohon maaf karena pada akhirnya aku tak bisa sepenuhnya mengingatmu. Namun, aku tidak boleh egois. Aku akan berusaha mengingatnya—ah tidak-tidak, aku serius, aku tidak apa-apa!" Sosok mungil itu kembali memeluknya, mentransfer kehangatan tubuhnya pada tubuh Kise yang lebih tinggi darinya. Seiring dengan perasaan khawatir yang tersalurkan lewat pelukan singkat itu, Kise mengerti. Lagi-lagi sosok itu ingin berkorban untuknya, membiarkannya terus menjadi seseorang yang egois dengan melupakan segalanya dan menikmati hidupnya sedangkan ia masih memiliki sesuatu yang harus ia lakukan.
Tidak, tidak. Ia tidak mau menyesal nantinya.
Satu kecupan singkat di kening sosok mungil itu mengakhiri pertemuan singkat mereka. Kedua kakinya menciptakan beberapa petak ke depan, kemudian ia balikkan tubuhnya. Sosok itu tetap berada di sana—tentu saja, apa yang ia pikirkan—di depan kuburan itu sambil memandang ke arahnya. Kali ini sebuah senyuman lebar terpatri di wajah ia yang berada di tempat teduh dan dengan senang hati, Kise membalasnya dengan senyuman yang sama dan sebuah lambaian tangan.
Semilir angin membuat pepohonan di sekitarnya bergoyang, juga tangkai-tangkai mungil pohon sakura yang begitu riangnya menari menyambut musim berkembang. Rerumputan pendek di sekitarnya pun ikut berdansa, tertarik oleh alunan musik yang disuguhkan sepoi angin yang berhembus di sana. Mungkin ketika ia kembali lagi ke tempat itu, bunga-bunga sakura itu sudah berguguran. Sayang sekali, padahal bila terus bermekaran seperti itu pasti akan sangat indah.
Namun, umur bunga sakura tak pernah selama itu dan tak mungkin selama itu. Hidupnya begitu singkat, makanya semua orang Jepang sangat menunggu-nunggu datangnya masa di mana kembang merah muda itu akan bermekaran. Namun, di waktunya yang singkat itu, ia memberikan kebahagiaan bagi siapapun yang melihatnya.
Seperti halnya waktunya yang sangat singkat.
Bila ini adalah kesempatan keduanya, maka ia ingin memberikan kebahagian kepada dunia yang telah membiarkannya hadir di tengah-tengahnya. Terutama untuk seseorang yang begitu ia cintai.
Padahal, hal itu begitu sederhana, namun baru sekaranglah ia mengerti. Lamban sekali, ya?
Ia tundukkan tubuhnya sembilan puluh derajat ke arah sosok mungil itu—kepada kuburan itu—kepada ia yang mungkin dulu begitu dihormatinya hingga nama di papan nisan itu tertulis dengan sufiks –cchi di sana. "Terima kasih banyak karena telah menggantikan tempatku pada hari itu, Akicchi. Doumo Arigatou Gozaimashita."
Ketika ia menegakkan tubuhnya lagi, sosok itu telah menghilang dari sana. Secepat abu yang diterbangkan angin, secepat musim yang berganti. Walau ia yakin, selama ini pun sosok itu selalu berada di sana, mengawasinya dari suatu tempat di angkasa biru membentang yang ingin ia jelajahi suatu saat nanti.
Di tapakinya jalan yang begitu asing dalam memori otaknya namun begitu familiar bagi kelima panca indranya. Ia biarkan instingnya bermain di sana, mengantarkannya pulang melewati rel kereta yang membentang tak jauh dari tempat itu. Ia rentangkan tangannya dan ia langkahkan kakinya pada barisan petak-petak rel. Seperti seorang anak kecil dalam mimpinya, seperti dirinya dalam pecahan kenangan yang terlupa.
Walau sebenarnya ia berbohong.
Walau sebenarnya ia tak pernah baik-baik saja.
Walau jauh di lubuk hatinya, ada sedesir rasa takut untuk mengingat apa yang telah ia putuskan untuk lupakan.
Entah resolusi apa yang telah ia ucapkan sebelumnya, walau itu tulus dari dasar hatinya, pada akhirnya ia tak mampu mendorong kegelisahan itu pergi.
Bila ia tidak berbohong pada sosok mungil tadi—Aki—ia tidak mungkin berhenti melangkah kini. Senyuman yang telah ia paksa untuk terukir di sana perlahan-lahan roboh. Hingga kakinya benar-benar membeku di tempat—terkalahkan oleh gemetar yang membuat seluruh semangat dan tenaganya tersedot keluar—dan ia hanya bisa tertunduk untuk beberapa lama.
Ketika pijakannya bergejolak dan sebuah monster logam besar melaju kencang dari arah yang berlawanan pun, ia masih tak bergeming di tempat. Hingga seseorang yang tak ia kenal berteriak ke arahnya, barulah ia tersadar dari dimensi pikirannya dan menyingkir dari lintasan sang kereta.
.
.
[Untuk pemilik nama yang diam-diam selalu terlantun dalam setiap do'aku ...]
.
.
Hari itu adalah hari ketika bunga-bunga sakura berguguran dari pohonnya dan langit terlihat begitu cerah hingga menyilaukan mata.
Rasanya aneh ketika kini ia tiba-tiba dihadapkan pada sebuah skenario bak manga-manga shoujo yang diam-diam sering ia baca. Ia percaya, selalu percaya dan menyakini apa yang menjadi prinsipnya. Ketika ia menyusuri petak-petak rel kereta memanjang itu, selalu, ia akan menemukan 'dunia' berbeda yang belum pernah ia ketahui dan bayangkan sebelumnya. Seolah terdapat stasiun-stasiun imaji yang akan membuatnya berhenti sejenak dan menerawang ke area sekitar petak rel tersebut. Selalu pula ia menemukan berbagai macam 'takdir' di sana, setidaknya begitulah kata orang-orang yang ia temui dalam perjalanannya di atas petak-petak rel kereta itu.
Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia selalu menemukan awan mendung di tempat-tempat baru yang ia lewati dan putuskan untuk kunjungi sesaat. Kemudian ia akan menemukan mereka yang membawa titik hujan. Mereka yang menyerah. Terus dan selalu ia akan memberikan penjelasan yang sama, dorongan yang sama, padahal ia hanyalah siswa Sekolah Dasar biasa. Saat itu, ia akan benar-benar dituntut untuk bersikap dewasa dan bijaksana lebih daripada anak seumurannya di antara tawa-canda yang memang menjadi khasnya. Biar ia menanggung sebagian beban mereka, menumpuknya pada pundak mungilnya yang mencoba untuk tetap tegak.
Asal ia dapat membuat mereka mendapatkan keberanian mereka kembali untuk menjajaki jalan yang sebelumnya mereka buang jauh-jauh. Biar ia berkorban demi orang lain.
Namun, ketika kini ia dihadapkan pada hamparan langit yang begitu ia kenal, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Sebab ia sendiri pun tak percaya dengan 'takdir' yang kini menghampirinya. Di satu petak yang dekat dengan Stasiun Odawara, ia menemukan kondisi yang berbeda. Kali ini bukan awan mendung atau titik hujan yang ia temui.
"Tidak bisa ya kalau tidak tahu nama satu sama lain?"
Langit hitam yang begitu pekat, yang mencoba tetap tegar dengan menyerap cahaya matahari yang berusaha mencapainya namun belum mampu mencapainya. Langit itu hampir-hampir menjadi langit sendu musim dingin. Hanya sepersekian detik lagi dan mungkin hitam itu akan menggumpal sempurna dan tak ada secercah cahaya pun yang dapat melewatinya lagi.
"Kalau begitu, perkenalkan, aku Kise Ryouta." Anak laki-laki itu menjulurkan tangan dengan senyum mengembang sambil berusaha menerawang jauh ke dalam sorot kedua bola mata itu. "Kalau kau? Siapa namamu?"
Ia seperti diri-'nya' saat itu bukan? Itulah mengapa ia memberikan nama itu kepada-'nya'. 'Ia' yang memiliki bola mata yang sama. Bak langit di—
"... Aki."
"Eh?" Suara itu begitu pelan, tak lebih dari hanya sekedar bisikan. Namun, itu cukup untuk membuat sekujur tubuhnya mati rasa. Berbagai perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan itu bertubi-tubi muncul ke permukaan, memaksa jantungnya memompa darah lebih cepat hingga napasnya tercekat.
"... Boku wa ... Aki desu. Amamiya Akihito. Yoroshiku onegaishimasu."
—musim gugur. Aki. Seperti nama yang pernah ia berikan pada-'nya' bertahun-tahun yang lalu.
Ia tak pernah meragukan skenario yang membawanya pada orang-orang ini. Ia selalu mensyukuri tiap-tiap hal yang terjadi dalam hidupnya, sepahit apapun itu. Walaupun ia tak sepenuhnya sekuat itu, ia tetap mencoba. Namun kali ini ia benar-benar tidak menyangka. Benar-benar...
"A-Akicchi?"
Dengan orang ini, ia diam-diam menyiapkan gulungan panjang permohonan maaf. Sebab ia tahu, ia tidak bisa tidak egois lagi setelah ini. Lagi, ia beralasan bahwa bagaimana pun para pembawa titik hujan itu berargumen tentangnya, tetap ia hanya ...
... manusia biasa. Ia tak mungkin sekuat itu. Sebab hanya ada dua jenis air mata yang akan meloloskan diri dari kilauan hazel miliknya.
Air mata yang membuktikan teori 'aku hanya manusia biasa'.
Dan air mata yang mengalir untuk orang lain.
Hari itu, air mata yang berhasil menerobos bendungan kuatnya memiliki makna dari keduanya sekaligus.
.
.
.
_ o-O-o _
.
.
[Senyuman Musim Semi]
By KensyEcho
Disclaimer: Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
ßíoç (Bios) by Hiroyuki Sawano feat Mika Kobayashi
Beta Reader: Arisa Yukishiro
.
[Erinnest du dich noch? Erinnerst du dich noch an den Tag an dem du ... ?
Do you still remember? Do you still remember the day when you ... ?]
.
Saya tidak mengambil keuntungan materil apapun dari pembuatan FanFiction ini.
.
Warning: AU, kemungkinan OOC, alur yang membingungkan, gramatikal seenak jidat. Kalimat langsung yang diberi tanda kurung, tanda petik, italic, atau bold menerangkan tokoh yang mengatakan dialog tersebut dan kapan ia mengatakannya.
.
.
_o-0-o_
CHAPTER 3 : THE FORGOTTEN MEMORIES WHICH MAKE THE RAIN FALL
.
.
.
.
.
Kise Ryouta terbangun dengan peluh di sekujur tubuh dan napas yang tersengal. Sepasang hazelnya membulat lebar dan otot-otot tubuhnya menegang. Rasa nyeri di kepalanya bagai paku yang di tancapkan dengan kuat berkali-kali. Untuk beberapa saat, ia hanya membiarkan langit-langit kamarnya menjadi fokus penglihatannya dan ruangan remang itu terabaikan tanpa penerangan dari sang surya yang mulai menampakkan diri dari balik horizon.
Lagi-lagi ia bermimpi tentang semua adegan asing dimana ia selalu menjadi pemeran utamanya. Mimpi yang terus berulang itu, seharusnya sudah ia hapal betul akan isinya. Rel kereta dan dua orang anak kecil yang selalu menghabiskan waktu bersama. Namun, mimpi kali ini berbeda. Sebab, adegan-adegan yang muncul kali itu membuatnya berharap agar bukan dirinyalah yang menjadi sang protagonis.
Entah bagaimana ia tiba-tiba teringat pada sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh sang ayah—tentang seorang ksatria dan bunga Forget-Me-Not. Seperti rol film dari sebuah kisah di masa lampau. Hanya kali ini—
—Forget-Me-Not itu terbercak merah ...
.
.
(Mimpikah? Kenyataankah?)
.
.
"—kun ... ! Kkh ... –kun!"
Siapa? Siapa nama yang kau teriaki itu? Aku ... tidak bisa mendengarnya.
"...—sudah berjanji ...!"
Janji? Janji apa? Aku bahkan tidak mengenalmu? Tapi ... kenapa kau menangis?
Siapa ... yang kau tangisi? Aku ... lebih menyukai senyumanmu, lho.
—Eh? ... Memangnya ... aku pernah melihat kau tersenyum ... sebelumnya?
" ... ngun ... ayo bangun ..."
Bangun? Memangnya aku sedang tertidur?
Semua yang ada dalam jarak pandangnya terlihat kabur. Dadanya naik dan jatuh dengan beratnya seolah bernapas adalah hal yang paling sulit dilakukan. Kedua telinganya kian menuli dengan teriakan demi teriakan seorang anak kecil yang berlutut di hadapannya dan sedari tadi sibuk menggoyang-goyangkan sesuatu. Mungkin tubuhnya?
"...-kun! ...Kise-kun!"
Ia mencoba mengulurkan tangannya ke depan—ke arah surai-surai lembut milik si anak bertubuh mungil. Tetapi walaupun berada pada jarak sedekat itu, ujung jemarinya ... tetap tak sampai ... kenapa?
Kenapakenapakenapakenapakenapa—?
Kenapa tangannya tak sampai?
Aku ... hanya tidak ingin ... melihatmu berwajah seperti itu ...
Tak apa! Tenang saja! Aku ... ada di sampingmu ...
Jadi ... walaupun aku tertidur ... aku ... pasti akan membuka mataku lagi ...
(—aku akan menunggumu di tempat yang sama, mengawasimu dari sini.)
— Dan saat itu terjadi ... aku ingin ...
(Hingga hari ketika ruang kosong di sampingmu terisi oleh untaian jemarimu dengan satu-satunya orang yang mampu membuatmu selalu tersenyum seperti itu.)
—Kau tersenyum untukku.
(—kau yang terkasih.)
.
.
(Aku berjanji—hingga kelopak terakhir layu.)
.
.
Ia tutupi sebelah matanya dengan tangan kanannya yang bergetar. Kedua matanya terasa panas sedang bendungan matanya hampir terdobrak lagi. Walau ia berusaha keras agar hanya lengkung senyum yang tercermin darinya—agar tak ada yang tahu bahwa apa yang baru saja ia lihat itu begitu menyesakkan, begitu menyakitkan hingga rasanya ia ingin lari. Berlari dan berlari hingga semua pecahan mimpi itu takkan bisa mengejarnya lagi.
Namun, sialnya, ia tidak bisa lari. Mereka terus memunculkan diri di dalam kepalanya, menendang mundur hal-hal yang dianggap tak berguna hingga atensinya hanya tertuju pada gambar-gambar itu.
Reruntuhan. Rel kereta. Anak kecil. Forget-Me-Not dengan bercak merah.
Sebuah jendela di kamarnya bagai gerbang ajaib yang mengantarkannya pada kenangan-kenangan terlupakan di musim-musim itu—pada dunia luar tempat semuanya terjadi. Dunia imajinya ketika kisah itu dimulai saat sakura-sakura di 'sana' kehilangan napas terakhir mereka.
"... Akicchi."
Tirai-tirai senja di musim gugur. Payung-payung pagi di musim semi. Lukisan memori di Kanagawa.
Untuk setiap napas yang ia hirup, untuk setiap detik yang ia miliki.
"Aku benar-benar ... tidak ingin menyia-nyiakan apa yang telah kau titipkan padaku ..."
Ia takut. Dengan dunia di balik jendela itu, ia takut untuk mengerti, takut untuk mengetahui apa yang tidak ia ketahui dan yang mati-matian ia lupakan.
Dan di dalam ruangan gelap itu ia terus termenung, disibukkan dengan pikiran-pikirannya sendiri. Kilau hazelnya meredup, keruh. Tatapannya menerawang jauh, kosong tanpa nyawa. Ia, bagai vas bunga cantik yang pecah berkeping-keping, yang walau kau coba perbaiki pun takkan pernah sempurna lagi.
Namun, ia boleh tertawa pada dirinya yang menjijikkan. Benar, bukankah ia sangat menjijikkan? Sebab, sampai detik ketika ia memutuskan untuk bersembunyi di balik kegelapan, ia bahkan tidak mengetahui alasan ia memutuskan untuk melupakan semua memori-memori itu dan konsekuensi apa yang akan ia terima bila ia melupakan semuanya.
Apakah ada pihak yang akan tersakiti?
Maukah ia menemukan lebih banyak lagi yang senasib dengan Aki karena keegoisannya untuk lari dari semua memori itu?
"... dan aku ... belum mau pergi ke tempatmu ..."
.
.
.
[Aku bermimpi tentang sebuah rel panjang yang walau kuikuti sampai kapan pun,
tak juga kutemui titik akhirnya.]
.
.
.
"... Kise-kun?"
Seorang pemuda yang sedari tadi hanya terdiam menerawang ke luar jendela itu pun menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Di depan bangkunya yang berada di pojok belakang kelas, salah satu teman sekelasnya merangkap teman satu tim klub basketnya berdiri dengan tas sekolah tersampir di pundak kiri. Walau orang yang lebih pendek darinya itu masih tidak bosan memasang ekspresi datar di wajahnya, namun dengan kedua mata yang sedikit melebar dan bibir yang sedikit membuka, Kise Ryouta bisa menduga bahwa Kuroko Tetsuya saat itu terlihat sangat terkejut.
Kise menelengkan kepalanya ke samping kemudian mengangkat ujung-ujung bibirnya hingga membentuk sebuah kurva senyum. "Ohayou, Kurokoc—itai-itai-itai-itai-itai!!" Belum sempat Kise melanyelesaikan sapaannya kepada pemain bayangan itu, kedua pipinya tiba-tiba sudah ditarik kuat-kuat oleh jemari mungil Kuroko ke arah berlawanan hingga erangan demi erangan kesakitan pun terlontar dari bibir sang model.
"Gah—sakit Kurokocchi!" seru Kise sambil mengusap-usap kedua pipi malangnya yang kini sudah berwarna merah sesaat setelah Kuroko akhirnya melepaskannya.
"Ternyata kau benar-benar Kise-kun," ucap Kuroko tanpa ada rasa bersalah.
"Hidoi-ssu! Memangnya Kurokocchi pikir aku siapa!?"
Pemuda bersurai keemasan itu mengalihkan pandangannya ke samping seraya ia lipat kedua tangannya di depan dada persis seperti anak kecil yang merajuk karena tidak dibelikan permen. Melihat sikap kekanak-kanakkan Kise, justru itu berhasil meruntuhkan pertahanan ekspresi datar Kuroko. Seulas senyum tulus terukir di wajahnya, disusul oleh sebuah kalimat yang terucap begitu pelan namun entah bagaimana dapat terdengar oleh telinga sang small forward.
"Yokatta desu."
Kise tertegun. Ia memutar kepalanya perlahan, kembali ke arah bangku di sampingnya yang kini telah diisi oleh Kuroko Tetsuya. Kedua alisnya tertaut sempurna dan kedua matanya membulat lebar. 'Yokatta?' Apa ia tidak salah dengar?
"Ah. Kukira Kise-kun tokokyohi," kata Kuroko lagi dengan santainya sambil mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya. Sesekali ia akan melirikkan mata ke arah sang sahabat yang sedang menciptakan ekspresi tercengang karena kata-katanya. Dan bagi Kuroko, itu sangat lucu. Menggoda pemuda pirang itu memang menyenangkan sekali. Tetapi lebih dari itu ...
"Tok—aku tidak absen sekolah selama itu, Kurokocchi ..." Sesaat kemudian, kursi Kise sudah menghadap ke arah bangkunya. Tangannya bergerak kesana-kemari, menciptakan gerakan-gerakan aneh demi mendukung pembelaannya. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, nee, Kurokocchi?"
Menghela napas panjang, kemudian Kuroko pun menjawab sejujur-jujurnya, "Kise-kun tidak membalas pesanku. Kemudian setelah kejadian itu, Kise-kun tidak masuk sekolah selama hampir dua minggu."
"Huwaaa, Kurokocchi mengkhawatirkanku-ssu~" seru Kise girang dengan senyuman lebar terplester di wajahnya.
"Itu karena Akashi-kun terus membahas akan memberikan hadiah pada Kise-kun bila Kise-kun tidak memunculkan diri juga. Aku tidak tahu Kise-kun mempunyai nyali sebesar itu untuk membuat Akashi-kun kesal."
"Hee? A-Akashicchi!? Aku kemarin bertemu dengan Akashicchi dan ia memang terlihat seram sekali-ssu! Aku akan dibunuhnya!"
Kuroko tersenyum lebar melihat perilaku heboh sang sahabat di sampingnya. Beban yang ada di dadanya selama beberapa hari Kise absen dari sekolah pun sedikit-sedikit mulai terangkat. Ia memang tidak tahu apa-apa mengenai hal yang akhir-akhir ini mengganggu pikiran Kise hingga ia terlihat tidak bersemangat dan lebih sering melamun.
... Kuroko senang, Kise sudah tidak semurung sebelumnya.
Sang surya di luar jendela mulai meninggi, seiring dengan ruang kelas yang mulai dipenuhi oleh murid-murid lain. Sebuah jam dinding di dinding belakang kelas terus menunjukkan berapa banyak detik yang berlalu sejak keduanya mulai berbincang. Namun, tak ada atu pun dari mereka yang mempedulikan semua itu. Tidak Kise, tidak juga Kuroko. Mereka terlalu menikmati waktu-waktu singkat itu dengan saling melemparkan percakapan dan candaan satu sama lain.
Ada perasaan hangat yang tercipta dari percakapan sederhana itu. Kise bisa merasakannya. Bagaimana kegundahannya sedikit demi sedikit mulai terlupakan, bagaimana dadanya pelan-pelan terisi oleh luapan perasaan bahagia. Oh, betapa hebatnya efek yang ia terima dari kehadiran pemuda bersurai biru langit itu.
Ia jadi merasa sangat bersalah karena telah membuat Kuroko dan yang lainnya khawatir dengan masalahnya sendiri. Ia bahkan tidak sadar bahwa ia telah berubah sampai seperti itu bila Akashi tidak memberitahunya. Ia benar-benar beruntung karena memiliki teman-teman yang sangat memperhatikan dirinya.
(—dan teman-teman yang dapat mempertahankan lengkung senyum itu diwajah ia yang sangat berharga bagiku.)
Ee, sou-ssu ka. Untuk pertama kalinya Kise Ryouta menerima pernyataan yang dilontarkan sebuah suara asing yang sejak berbulan-bulan yang lalu terus bermunculan bersama dengan mimpi-mimpi buruk yang membuatnya begitu ketakutan. Lebih dari apapun, ia senang bila melihat orang yang ia sayangi itu tersenyum.
.
.
.
"Ryouta, aku tahu kau bukanlah orang yang pengecut."
Pandangannya terfokus pada papan shogi di hadapannya. Salah satu jemarinya menggerakkan pion shogi itu satu petak ke depan. Sementara ia duduk dengan nyaman di atas salah satu kursi ruang kelas kosong itu sambil menaikkan sebelah kakinya, seorang penghuni lain kelas itu ia biarkan berdiri dengan canggung di dekat pintu.
"Bagaimana Akashicchi bisa begitu yakin-ssu?" Pemuda berambut pirang itu memaksakan seulas senyum tipis. Bibirnya bergetar sedang kedua matanya teralihkan dari sosok seseorang yang ia ajak bicara.
"Aku tahu dan aku pasti benar. Aku tidak mungkin memilih pengecut dan pecundang untuk menjadi reguler Tim Basket Teiko."
"Bwahaha. Basket?" Akashi mendelik ke arah Kise yang tiba-tiba tertawa dengan suara menyedihkan sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya. "Akashicchi, basket dan—"
"Aku tidak peduli dengan opinimu, Ryouta," sela Akashi sebelum Kise sempat menyelesaikan perkataannya. Kali ini kapten berambut merah itu benar-benar mengarahkan pandangannya pada sang model. "Aku memintamu untuk datang kemari setelah sekian lama kau absen dari sekolah maupun latihan basket, bukan untuk membantah kata-kataku."
Kise Ryouta tahu benar perangai Akashi Seijuuro yang senang sekali berlagak seolah ialah pemegang kekuasaan mutlak dari segalanya. Ia tak bisa membantah kata-katanya, apalagi menyangkalnya, ia sadar akan hal itu. Namun, satu hal yang tidak ia sangka akan ia temukan dalam diri kapten yang bertubuh lebih pendek darinya itu.
"Aku tak peduli apa masalahmu yang membuatmu membolos sekolah dan mengabaikan pesan-pesanku. Tapi, berhentilah menyusahkan orang lain dengan bersikap lemah seperti itu."
Dari semua orang yang ia kenal dan hormati dari lubuk hatinya yang paling dalam—
"Kau membuat semua orang cemas, kau tahu? Terutama Tetsuya. Ia tak henti-hentinya menanyakan soal kabarmu padaku dan wali kelasmu. Jadi, jangan lari karena aku tahu kau bukanlah seorang pengecut. Selesaikan masalahmu itu. Lalu, kalau kau sudah puas berpura-pura dibalik kelakuan kekanak-kanakkanmu itu—
Kalau kau butuh bantuan, kau tahu harus pergi ke mana."
—Akashi adalah orang pertama yang mengungkapkan semua hal menyentuh hati itu terhadap perubahan sikapnya selama bulan-bulan terakhir ini. Ia tak percaya akan mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Akashi.
Makanya, saat itu ia benar-benar tak bisa menahan luapan perasaan yang membuncah keluar dari dalam dirinya. Ia biarkan dirinya menangis di depan sang kapten yang sekejap melupakan papan shoginya dan beralih memfokuskan diri pada isakan demi isakan yang keluar dari mulut Kise. Bukan keahlian Akashi untuk menenangkan seseorang. Keahlian itu lebih dimiliki oleh Momoi Satsuki dan Kuroko Tetsuya. Namun, bagi Kise, melalui tatapan yang diciptakan oleh kedua mata Akashi, itu sudah cukup menyampaikan perasaan tulus Akashi padanya. Bukan sebagai kapten dan anggota, apalagi pemimpin dan bawahan, tetapi lebih sebagai teman.
Ya, sudah hampir dua minggu Kise Ryouta absen dari sekolah dan latihan basket klubnya. Selama itu, ia terus mengurung diri di dalam kamar apartemennya, memikirkan apa yang sebaiknya ia pilih dan resiko apa yang harus ia terima bila memilih pilihan tersebut. Namun, pada akhirnya itu semua tidak ada gunanya. Benar kata Akashi, ia pada akhirnya harus keluar dari zona amannya dan menghadapi semuanya.
.
.
.
"Eh?"
Kise memeluk erat benda bulat oranye yang ada di pangkuannya sambil memandangi Kuroko yang sedang mengambil bola-bola basket yang sebelumnya mereka pakai untuk berlatih di gedung olahraga itu. Beberapa menit yang lalu, latihan rutin first string Klub Basket Teiko pun resmi berakhir. Semua pemain telah meninggalkan gedung olahraga itu kecuali Kise dan Kuroko yang hari itu bertugas untuk piket.
"Apa yang akan Kurokocchi lakukan bila Kurokocchi melupakan beberapa hal di masa lalu Kurokocchi?"
Pemuda bersurai biru langit itu terdiam sebentar kemudian mengangkat sebelah alisnya sedikit, "kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu, Kise-kun?"
Menyadari pertanyaan aneh yang tiba-tiba saja terlontar dari mulutnya tanpa ia sadari, Kise pun tertawa hambar sambil menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Iie, maaf tiba-tiba bertanya seperti itu. Kurokocchi lupakan saja apa yang tadi aku—"
"Aku akan berusaha mengingatnya."
Kedua mata Kise membelalak lebar sesaat setelah Kuroko mengatakan hal itu secara tiba-tiba. Hingga hening tercipta dari sang model yang begitu tertegun dengan jawaban Kuroko atas pertanyaannya. Tanpa mempedulikan ekspresi terkejut yang tercipta di wajah Kise, Kuroko pun berlalu dengan membawa dua bola basket di tangannya kemudian memasukkannya ke dalam keranjang bola.
"... walaupun kau tahu itu akan membuatmu mengingat hal-hal yang tidak menyenangkan?"
Pemain bayangan Kiseki no Sedai itu berjalan perlahan ke pojok ruangan untuk mengambil sebuah alat pel. Gedung olahraga yang kini terasa begitu lenggang membuat Kuroko dapat mendengar suara Kise walaupun ia sedang berada cukup jauh dari tempat pemuda bersurai keemasan itu duduk di tengah lapangan.
"Hai."
"Kenapa?"
Kuroko menoleh ke arah Kise yang sedang memasang wajah bingung. Seulas senyum tipis terukir di wajahnya seraya ia mencoba menyuarakan jawaban dari pertanyaan tidak biasa Kise terhadapnya. Ia bermaksud untuk memikirkan menjawab tulus dari pertanyaan Kise itu, sebab bila observasinya benar, ada sesuatu yang membuat Kise akhirnya memutuskan untuk bicara. Dan entah ia telah menanyakan hal itu pada orang lain atau tidak, Kuroko menjadi salah satu orang yang ia percayai untuk mendengarkannya.
"Sebab bersama dengan kenangan yang tidak menyenagkan itu, juga terdapat kenangan-kenangan menyenangkan yang terlalu berharga untuk dilupakan." Singkat dan jelas, benar-benar ciri khas Kuroko sekali. Namun, Kise belum puas dengan jawaban itu. Itu belum sepenuhnya memberikan klu akan jalan keluar yang sebaiknya ia pilih.
"Walaupun kau harus berkorban?" Kuroko pun terdiam, mempersilakan Kise untuk menambahkan detail pada pertanyaannya itu.
"Walaupun bila Kurokocchi memilih untuk mengingat semua itu berarti Kurokocchi harus merelakan Aominecchi akan melupakan Kurokocchi sepenuhnya? Walaupun itu berarti Kurokocchi harus melihat Aominecchi bersama dengan orang lain?"
Ekspresi datar Kuroko seketika berubah menjadi ekspresi terkejut dengan kedua mata membelalak dan bibir yang membuka. Wajahnya merona merah, sangat kontras dengan kulitnya yang berwarna sepucat salju. Kise di lain pihak pun memutuskan untuk menunjukkan ekspresi serius yang jarang sekali ia perlihatkan pada siapapun. Ia ingin pemuda berambut biru muda itu mengerti bahwa pertanyaannya bukan sekedar pertanyaan asal yang ia lontarkan untuk mencairkan suasana.
Kise serius. Kise benar-benar ingin mendengar jawaban dari pertanyaan itu dari sisi orang yang sangat ia hormati. Sebab ini adalah pertama kalinya, ia mengungkapkan kegundahannya selama berbulan-bulan ini kepada orang lain dan orang yang dipilihnya adalah Kuroko. Memang tak secara eksplisit ia lontarkan, namun Kise begitu memahami Kuroko hingga ia sampai pada kesimpulan bahwa bila percakapan ini diteruskan, Kuroko lambat laun akan mengerti bahwa Kise tengah membicarakan tentang dirinya sendiri.
Ekspresi terkejut Kuroko perlahan kembali menjadi datar. Rona merah di wajahnya memudar dan tergantikan kembali oleh warna pucat itu. Kuroko menangkap keseriusan dari raut wajah yang diperlihatkan Kise. Seulas senyum tipis, namun kedua matanya memicing tajam—memerangkap sepasang iris aquamarine-nya. Mungkin, dugaan Kuroko benar. Kise sedang mencoba menyuarakan masalahnya kepada Kuroko dengan bersembunyi dibalik kata 'menurut Kurokocchi'.
"Kise-kun—"
"Tetsu! Aku bosan menunggumu. Cepat selesaikan tugas piketmu lalu kita pulang."
Sebuah suara bariton yang begitu menggelegar di dalam gedung olahraga itu tiba-tiba muncul dan menyela kalimat Kuroko. Dua orang penghuni yang sebelumnya begitu hanyut dalam percakapan mereka pun sontak menoleh ke arah sumber suara. Seorang pemuda berkulit cokelat dengan surai-surai biru sepekat dalamnya samudera pun muncul dari balik pintu lapangan basket indoor itu. Sebelah tangannya menempel pada bingkai pintu sebagai penahan berat tubuhnya sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk menutupi mulutnya yang membuka lebar karena menguap.
"Maaf membuatmu menunggu, Aomine-kun," ucap Kuroko penuh kesopanan seraya ia tundukkan badannya sebagai ungkapan penyesalannya.
Sang ace Kiseki no Sedai baru saja hendak mengucapkan sesuatu lagi kepada Kuroko tetapi ia urungkan sesaat setelah kedua matanya bertemu dengan iris hazel Kise. Sepertinya Aomine tidak menyadari keberadaan Kise sebelumnya di sana. Itulah mengapa sang power forward langsung menunjukkan raut wajah tak senang—Kise menyadari hal itu walau perubahan ekspresinya sangat kecil. Aomine itu mudah sekali ditebak-ssu.
"Kurokocchi~" Kise pun bangkit dari posisinya sambil membawa bola basket yang sebelumnya ia peluk kemudian berjalan perlahan ke arah Kuroko. Senyumannya terlihat perih dan sakit di dadanya kembali lagi ketika ia menyadari telah menjadi pihak 'pengganggu' di antara Aomine dan Kuroko. Dengan berbisik, ia pun berkata sambil berlutut sehingga ia bisa menatap lekat-lekat wajah mantan instruktur yang lebih pendek darinya itu, "daijobu-ssu. Kurokocchi pergi saja bersama Aominecchi. Biar aku yang akan menyelesaikan piket kita."
"Tapi, Kise-kun—"
Kise menggelengkan kepalanya kemudian menghentikan protes Kuroko dengan meletakkan jari telunjuknya di depan mulut pemuda bersurai biru langit itu, mengisyaratkannya untuk tidak membantah. "Lain kali, Kurokocchi boleh melakukan hal yang sama saat aku sedang buru-buru untuk pulang, oke?" Ekspresi kekanak-kanakannya pun seketika melembut, berubah bijak, dewasa—dan terluka. "Gomen, aku sudah memperlambat Kurokocchi dengan menanyakan hal-hal yang tidak penting."
Mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Kise, raut wajah Kuroko pun berubah menjadi raut wajah terkejut sekaligus terluka. Sebab sang observer menyadari nada sedih dan bersalah dari kata-kata yang dilontarkan pemuda tinggi di hadapannya. Ia tak menyangka Kise akan menganggap dirinya sebagai beban bagi Kuroko. "Kise-kun ..."
"Mou, jangan berekspresi seperti itu-ssu ..." Jari-jemari Kise menarik lebar ujung-ujung bibir Kuroko ke atas seraya dirinya pun juga ikut tersenyum lebar, "senyum~"
Hatinya luluh. Sebab senyuman itu begitu lebar dan tulus, hingga ia melupakan kata-kata bernada sedih Kise dan mengikuti kurva senyum yang dibentuk sang model. "Hai. Kise-kun juga."
"Oi, apa yang sedang kalian bicarakan?"
Aomine berseru dari tempatnya semula berdiri dengan memasang raut wajah bosan. Melihat hal itu, Kise pun langsung tertawa dan melambaikan tangannya ceria ke arah pemuda bersurai biru tua itu. "Aku kan hanya pinjam Kurokocchi sebentar-ssu~" ucapnya sambil mengerucutkan bibir. "Aominecchi buru-buru sekali ingin kencan dengan Kurokocchi~"
Kalimat terakhir yang dilontarkan Kise berhasil membuat Aomine tertegun. Tak kasat mata memang, tetapi peka dan sensitif adalah salah satu keahlian Kise. Sebab gelagat yang diciptakan Aomine saat mendengar kata-kata Kise benar-benar unik. Aomine adalah orang yang terlalu terbuka (dan mudah ditebak) untuk bisa menyembunyikan hal kecil itu dari pandangan Kise, sehingga dari sana Kise dapat menarik sebuah kesimpulan.
"Kau ini bicara apa, Kise? Aku hanya menemaninya berbelanja untuk karya wisata besok."
Aomine bukanlah tipe orang yang akan melakukan sesuatu macam 'menemani berbelanja' bila tidak ada suatu hal spesial yang mendorongnya tanpa sadar untuk melakukan hal itu. Bukankah, kenyataan itu sudah cukup membuktikan kesimpulan Kise?
"Kise-kun, kami duluan ya. Terima kasih banyak," ucap Kuroko sesaat setelah ia telah kembali dengan tas sekolah tersampir di pundak dan kaos biru mudanya yang sudah terlindungi jaket klub basket Teiko.
"Yo, Kise."
Kise melambaikan tangan ke arah punggung kedua sahabatnya yang kemudian melenggang pergi, meninggalkan sang model sendirian di dalam gedung olahraga yang begitu besar dan luas. Senyuman profesional yang sering ia paparkan di depan kamera terpatri di wajahnya, sangat kontras dengan binar hazelnya yang memburam akibat luapan air di bendungan matanya.
Ia merutuki dirinya sendiri yang masih saja merasa sesak dan sakit saat melihat duo cahaya dan bayangan itu begitu dekat dan serasi. Padahal orang yang ia sayangi telah menemukan sumber kebahagiaan yang mampu membuatnya selalu tersenyum seperti itu. Seharusnya Kise bahagia, kan?
Ia bahagia kok.
Apalagi setelah ia menyadari satu hal yang mungkin belum disadari oleh kedua orang sahabatnya itu. "Senangnya, perasaanmu berbalas ya, Kurokocchi."
Kemudian ia pun menemukan satu kondisi lain yang juga dapat dikategorikan sebagai perasaan bahagia. Ketika dadamu terasa sesak dan kedua matamu terasa panas ketika orang yang begitu berharga bagimu tersenyum bahagia bersama orang lain, itu pun juga bagian dari 'bahagia'.
.
.
To: Kise Ryouta
From: Kuroko Tetsuya
Subject: Pertanyaan yang belum terjawab
Jawaban dari pertanyaan Kise-kun sebelumnya adalah bila Aomine-kun bahagia, aku akan tetap melakukannya—berusaha mengingat kenangan yang aku lupakan itu. Aku tidak akan mengatakannya sebagai bentuk pengorbanan sebab ketika Aomine-kun bahagia walaupun bersama orang lain, aku juga akan bahagia. Sehingga itu bukanlah sebuah pengorbanan.
Jangan khawatir Kise-kun, bila gadis yang Kise-kun sukai memiliki perasaan yang sama dengan Kise-kun, pasti suatu saat kalian akan bersama. Kise-kun juga jangan takut untuk mengingat apa yang Kise-kun lupakan. Oh ya, apa hubungannya mengingat masa lalu dengan Aomine-kun yang akan melupakanku dan memilih bersama orang lain? Lalu, kenapa perumpamaannya harus Aomine-kun?
.
.
.
[Sebab, ada hal yang akan membuatnya bahagia bila ia melupakan keberadaanku.]
.
.
.
Monster logam itu melaju kencang di atas rel—melewati stasiun demi stasiun yang membentang antara Tokyo dan Kanagawa. Pemandangan-pemandangan berbeda terlintas dari balik kaca jendela. Kelopak demi kelopak dalam paduan warna lavender dan merah jambu bertebaran—juga wanginya yang menyesakkan, memabukkan.
Ia menikmatinya, seharusnya. Itulah mengapa ia menolak untuk duduk di salah satu kursi kosong gerbong tersebut, kan? Namun, ia membisu ketika teman-teman sekolahnya begitu riuh di belakang. Hazelnya menerawang jauh ke luar jendela. Jauh menyusuri ilalang meninggi, rel membentang, terik membakar teduh, dan tirai sakura yang berdansa. Ia sesungguhnya tak percaya dengan ideologi yang membuatnya kini berdiri di atas lantai kereta itu. Ia pun tak percaya bahwa ia benar-benar akan menepati janjinya pada gadis mungil bersurai hitam itu. Ia datang ketika kembang-kembang sakura mulai berguguran di tempat itu. Sama seperti latar asri dalam mimpinya. Ketika dua orang anak kecil bercanda riang dibawah payung-payung merah jambu sakura dan lavender wisteria, menikmati pancaran hangat sang surya, dan melodi burung-burung mengangkasa.
Walau mereka hidup bagai bait-bait sajak dalam sebuah tembang menyayat hati. Walau detik mereka berpisah adalah waktu ketika hujan badai menggoyahkan perakaran yang telah dibangun kuat. Sebagai keberadaan kecil yang terkadang terlupa. Rapuh dan tak memiliki tempat di dunia. Menggeliat untuk bisa bangkit dan menyatakan dengan lantang bahwa mereka masih hidup.
"Sayang sekali."
Ia mendelik ke arah personifikasi langit cerah musim panas. Tatapannya pun menerawang—sama seperti dirinya. Bersimpati pada reruntuhan cantik bunga sakura. Tersenyum pilu untuk nyawa-nyawa yang terangkat ke angkasa.
"Mereka hanya mekar setahun sekali tetapi gugur secepat ini."
Diam-diam, ia menyetujuinya. Sebab itulah yang menarik perhatian orang-orang untuk menunggu bunga cantik itu mekar di musim semi. Namun, kembang itu begitu dikenal, dielu-elukan, dan dipuja-puji oleh setiap orang. Sehingga umurnya yang singkat memiliki begitu banyak makna, meninggalkan jejak mendalam bagi tiap penikmat.
"Berbeda dengan 'itu'."
"Eh?"
Ia mengukir seulas senyum pilu. Mungkin kisahnya pun tak ada yang tahu—tak ada yang peduli.
"Tak ada yang mengingatnya. Das Vergissmeinnicht."
.
.
.
[Seolah jarum penunjuk waktu berputar mundur,
kembali di sini—tempat kita pertama kali bertemu]
.
.
.
Odawara, Prefektur Kanagawa.
Desau angin musim semi mengiringi hentakan langkah kaki rombongan murid SMP Teiko. Ramai-ramai suara yel-yel dari beberapa kelompok barisan yang dibagi secara acak oleh guru-guru pendamping mereka kian meredup di telinganya. Tumpukan tas dalam berbagai warna yang sebelumnya memenuhi ruangan itu kini lenyap tak berbekas.
Anggota Kiseki no Sedai pun turut melenggang pergi menuju Yokohama—tempat diselenggarakannya babak penyisihan Inter High untuk wilayah Kanagawa—setelah Akashi meminta izin—mengancam lebih tepatnya—kepada sang penanggung jawab lapangan agar seluruh anggota Kiseki no Sedai diberi keringanan untuk tidak mengikuti aktivitas yang telah direncanakan seharian itu. Memang sulit dipercaya karena ternyata sang kapten benar-benar berambisi agar tim reguler klub basket Teiko menyaksikan babak penyisihan pertandingan nasional basket tingkat SMA itu.
Hari pertama dimulainya rangkaian kegiatan karya wisata SMP Teiko ke Odawara dan Hakone – Kanagawa, ia sudah harus menerima keadaan yang memaksanya untuk tetap tinggal di tempat penginapan yang disewa oleh sekolahnya sementara teman-temannya yang lain sedang bersenang-senang di luar sana. Menyedihkan, ia sama sekali tidak menyangka akan langsung terkulai tak berdaya di tempat tidur setelah di waktu kosong mereka kemarin, ia meminjamkan payungnya kepada Kuroko karena hujan turun dengan lebatnya dan ia tahu kalau Kuroko memiliki tubuh yang sangat rentan sakit. Sehingga ia berakhir dengan berlari sambil hujan-hujanan sebelum pemuda bersurai biru muda itu menolak payung yang dipinjamkannya. Namun, ia tidak percaya, justru ia sendirilah yang ambruk setelahnya. Memalukan sekali.
Ia masih ingat dengan jelas ekspresi khawatir dan merasa bersalah Kuroko terhadapnya hingga yang bersangkutan memaksa untuk tetap terjaga dan menjaganya semalaman. Demamnya memang tak juga turun malam itu hingga para sensei dan beberapa temannya pun ikut khawatir dengan keadaannya. Ia tahu, ia sudah sangat menyusahkan, terutama kepada Kuroko yang hampir-hampir memutuskan untuk tidak mengikuti acara sepihak Kiseki no Sedai hari itu karena terlalu mengkhawatirkan—
"Kise-san."
Kepalanya sontak ia putar sembilan puluh derajat ke arah sumber suara yang memanggil namanya dengan penuh kelembutan. Di hadapanya, seorang wanita bersurai cokelat tengah mengintip dari balik pintu kamar tempatnya berada sambil tersenyum hangat ke arahnya. "Kau sudah bangun rupanya."
Kise pun dengan senang hati membalas senyuman itu. "Maaf sudah merepotkan, Haruka sensei." Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar parau dan ia membencinya. Itu akan membuatnya terlihat tidak berdaya di depan sang wali kelas. Ia tidak mau merepotkan orang lain lebih dari ini.
Namun, Haruka hanya menggelengkan kepala kemudian terkekeh pelan. Ia berjalan menuju sebuah jendela besar di kamar tersebut kemudian menyampirkan tirai hijau yang sebelumnya membuat ruangan itu menjadi remang, membiarkan garis-garis sinar mentari pagi menembus selapis kaca jendela dan menerangi ruangan itu. "Sudah memakan sarapan yang saya siapkan?"
"Ya, terima kasih. Makanannya enak sekali-ssu~" seru Kise bersemangat.
"Benarkah?" Wanita itu menoleh ke arah Kise kemudian melanjutkan, "Syukurlah kalau begitu. Soalnya, hanya itu yang kami punya."
Hening kemudian, sebab keduanya terlalu disibukkan oleh pikiran masing-masing. Wali kelasnya kembali mengalihkan pandangan ke arah sebuah lukisan alam di luar sana, dengan bunga-bunga bak pelangi yang bermekaran dengan menyerap kehangatan sinar matahari. Sebuah titik remang yang ia yakini sebagai sebuah desa dibalik hamparan hijaunya permadani rerumputan, mencuat kontras dan begitu menarik atensinya. Menggelitik jiwanya, menciptakan beribu pertanyaan tentang identitasnya.
"Kirei na~" gumaman takjub itu tanpa sadar terlontar keluar dari bibirnya yang terpoles lipstik tipis.
Kise pun ikut memusatkan perhatiaannya pada sebuah tempat yang dilihat Haruka melalui kedua iris cokelat itu. Ia tersenyum seiring dengan tatapan matanya yang berubah teduh. Ia menerawang, jauh ke tempat-tempat yang lebih ia ketahui daripada siapapun juga. Hingga apa yang tak ia sadari pun terlantun begitu saja.
"Ada sebuh desa yang dibelah oleh jalur kereta Odawara menuju Hakone. Rel kereta itu membentang jauh melewati berbagai macam 'dunia' menakjubkan yang mungkin belum pernah dilihat oleh orang lain. Kemudian di ujung desa yang berbatasan dengan kota, terdapat sebuah rumah yang sangat besar. Sebuah pohon sakura yang sudah sangat tua tumbuh kokoh di halamannya. Orang bilang, rumah itu terisolasi sebab tak ada yang begitu mengenal sang tuan pemilik."
Bibir pucat itu terus bercerita, mengulas apa yang tak sepenuhnya ia yakini pernah menjadi bagian dari memorinya. Namun, ada sebuah perasaan hangat yang menjalar keluar ketika ia terus membiarkan alam bawah sadarnya mengambil alih tubuhnya. Haruka pun menyadari perubahan itu. Ia adalah salah satu fans seorang Kise Ryouta dan sebuah anugerah baginya ketika ia bisa menjadi wali kelas dari sang model idolanya. Sehingga ia sangat mengenal anak didiknya itu dengan baik.
Tatapan teduh, garis kedewasaan, punggung tegak nan kokoh—ia tak berani menginterupsinya. Sebab, ekspresi itu—semuanya—sangat tidak mencerminkan sosok Kise yang ia ketahui.
"Namun, sebenarnya rumah itu tidak pernah kosong. Seorang anak kecil sakit-sakitan dan sang ibu tinggal di dalamnya dengan penuh kebahagiaan. Sampai hari di mana ibu itu mengorbankan nyawanya untuk anak kecil ini, rumah itu pun kemudian mati."
Haruka mengerutkan kedua alisnya, mencoba menerjemahkan bagian terakhir dari kalimat yang dilontarkan muridnya yang masih terpaku dengan sesuatu yang ia temukan di luar jendela. Kata 'mati' yang begitu menyesakkan, begitu menyayat hati.
"Namun, langit cerah pun datang. Ia mengisi kekosongan itu. Menghidupkan apa yang mati dengan keberadaannya. Pendamping setia anak kecil kesepian yang kemudian belajar untuk mencintai daratan dan angkasa membentang yang ada di atasnya. Mereka berjanji dan berjanji, kemudian mewujudkannya sebagai sebuah keajaiban.
Sebab ini hanyalah sebuah dongeng lama, katanya. Ketika hujan menjadi air mata, ketika hembusan angin menjadi napas yang bercerita, ketika dedaunan dan tangkai-tangkai menjadi tangan-tangan yang mencoba menggapai, sebab tubuh itu tertancap oleh perakaran yang kuat. Bukan sekokoh, seindah, dan sehebat pohon sakura memang. Sebab keduanya hanyalah ..."
Kise Ryouta mengalihkan pandangannya ke arah sang sensei yang hanya bisa terdiam membeku di tempat dengan kedua mata berkaca-kaca. Kedua hazelnya memerangkap iris sewarna tanah gembur yang menyuburkan tanah—memintanya untuk mendengar sebuah kisah yang terdengar palsu dan kekanak-kanakkan bagai dongeng-dongeng klasik.
"... Sepasang bunga mungil yang terlupa."
Namun, semua itu adalah kisahnya. Sebuah kisah yang benar-benar nyata.
.
.
.
[Regentropfen sind meine Tränen
Wind ist mein Atem und meine Erzählung
Zweige und Blätter sind meine Hände
Denn mein Körper ist in Wurzeln gehüllt.]
.
.
.
Haah. Haah.
Kedua kakinya terus berpacu, menyusuri jalan-jalan yang terasa asing baginya. Napasnya memburu dan jantungnya berdegup dengan kencang seolah bisa meledak kapan saja. Ia panik. Sungguh panik.
Sambil terus menempelkan ponsel antiknya ke telinga, diam-diam ia berdoa agar seseorang di ujung sana yang ia coba hubungi berkali-kali sedari tadi itu akan segera menjawab panggilannya.
[Moshi-moshi. Haruka sensei, ada ap—]
"S-sensei!" selanya tanpa basa-basi di antara napasnya yang memburu. "Kise-sa...hh Kise...hah..."
[Pelan-pelan. Tenanglah. Coba jelaskan dengan tenang, apa yang terjadi?]
Wanita itu pun akhirnya memutuskan untuk menghentikan langkahnya. Ia sandarkan punggungnya pada sebuah dinding bata yang ia temukan. Hirup, hembuskan. Hirup, hembuskan.
"Kise-san ... saya tidak bisa menemukannya di mana pun! Sesaat yang lalu saya meninggalkannya untuk membeli sesuatu di luar dan ketika saya kembali, kamarnya sudah kosong. Saya juga tidak bisa menemukannya di dalam penginapan!"
Suara tawa pun terdengar menggema dari ujung sana dan itu membuat wanita beriris cokelat itu menggembungkan sebelah pipinya kesal. Apa-apaan tertawa seperti itu padahal ia sedang memberitahukan hal yang serius.
[Kise-san tidak akan apa-apa. Mungkin ia hanya ingin berjalan-jalan sebentar karena bosan. Tak usah panik. Kembalilah ke penginapan. Rombongan saya akan segera kembali.]
Setelah itu, percakapan pun berlangsung dengan wali kelas Kise yang tak henti-hentinya meyakinkan bahwa itu adalah sebuah masalah yang sangat serius mengingat Kise masih belum sembuh dari demamnya dan seorang sensei di ujung sana pun membantah dengan halus dan berusaha menenangkannya. Hanya beberapa menit kemudian dan sambungan itu pun akhirnya diputus dengan kekalahan di pihak Haruka.
Ia menghela napas panjang kemudian menghembuskannya, berusaha sebaik mungkin mengembalikan degup jantungnya seperti semula. Mungkin ia memang berlebihan. Ia pernah bekerja di taman kanak-kanak milik ibunya sehingga jiwa over-protective-nya masih berbekas, walaupun sekarang ia adalah seorang guru SMP. Lagipula anak didik yang ia hadapi ini bukanlah—
"Kise-kun menghilang?"
Haruka perlahan-lahan mendongakkan kepalanya, memandang ke depan, ke arah sesosok makhluk yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Sedetik kemudian teriakan melengking pun lolos dari bibirnya.
"K-Kuroko-san! Kau mengagetkan saya! Sejak kapan kau berada di sanaI?"
"Sejak Haruka sensei tadi menelepon."
"Be-benarkah? Sa-saya sama sekali—"
"Saya permisi untuk mencari Kise-kun." Laki-laki bersurai biru langit itu menundukkan badannya sopan kemudian berlari kencang ke arah yang berlawanan tanpa mempedulikan teriakan sang wali kelas yang terus memanggil namanya.
.
.
.
(Hey, tidakkah kau ingin mengetahui hal yang tidak kau ketahui?)
.
.
.
Kelopak matanya membuka—menampilkan sepasang permata keemasan yang redup oleh cahaya. Mentari yang kehilangan warnanya. Keruh. Kosong. Ia merasa sangat kosong. Hampa—bahkan ia tak yakin paru-parunya masih menghirup udara.
Entah bagaimana ia bisa sampai di tempat asing itu. Ia tidak ingat. Sekujur tubuhnya mengerang. Permadani hijau itu bagai jarum-jarum pembentuk goresan luka. Hanya ada rasa sakit juga sesak—dan panas—hingga ia berbaring di atas kolam air mata.
Ketika seharusnya ia terkulai di atas kasur empuk penginapan, kini ia berada di tempat yang memiliki atap berupa lautan biru tanpa noda. Dan sebuah rel kereta membentang di sampingnya.
Melodi itu terputar. Tanpa pemutar musik, tanpa iPhone kuningnya. Lirik demi lirik, sajak demi sajak sendu. Cerita dongeng masa lalu.
"Kise-kun."
Tubuhnya seketika menegang. Rasa nyeri itu menggerogoti tiap jengkal raga yang seharusnya hanya mengenal kekosongan. Tubuhnya bangkit dan hazel itu membelalak lebar.
Ribuan kelopak merah jambu dan lavender menari di antara sapuan lembut angin—bagai debu yang merindu. Lalu sebuah mimpi pun membutakan pandangannya. Mimpi akan hal-hal menyakitkan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.
Ia tak sadar. Bagai pengembara yang hanya mengikuti kemana angin membawanya.
Kedua kakinya menapak pada tanah berbatu hingga ia dapat melihat sesuatu yang tak ia sadari ketika ia berbaring. Sebuah bangunan tua yang diselimuti ilalang—reruntuhan yang membangkitkan nostalgia.
"Kise-kun."
Lagi-lagi suara itu.
Ia mendongakkan kepala kemudian menengok ke kiri dan ke kanan—berusaha mencari arah suara itu berasal.
"Chotto matte yo!"
Suara lain yang berbaur dengan gemuruh derap langkah kaki yang semakin lama semakin terdengar dekat.
"Akicchi!"
—dan sesosok tubuh anak kecil pun berlari di sampingnya, masuk ke dalam bangunan yang entah bagaimana kini lebih terlihat sebagai sebuah mansion tua daripada reruntuhan.
Reruntuhan? Memangnya bangunan ini pernah menjadi reruntuhan?
Kedua kakinya melangkah sendiri, kanan-kiri, kanan-kiri, membentuk sebuah gema harmoni. Ia pun tidak mengerti pada sebuah perasaan asing yang tiba-tiba meluap dari dalam tubuhnya hingga membuat dadanya terasa sesak. Yang ia tahu hanyalah insting untuk tetap berlari mengikuti anak kecil itu masuk ke dalam mansion tua di hadapannya.
Napasnya memburu, membentuk sebuah kepulan udara putih yang terhembus dari bibirnya. Langkahnya semakin lama semakin cepat ketika ia mulai memasuki bagian terdalam mansion itu. Tak lagi ia menangkap sosok anak kecil yang sebelumnya berlari di depannya, namun kedua kakinya tak kunjung berhenti melangkah. Seolah ia sudah hapal betul tiap detil petak ruangan yang ada di dalam bangunan itu.
Secercah cahaya yang muncul dari balik atap-atap reot membutakan pandangannya hingga semakin lama secercah berubah menjadi berkas-berkas cahaya yang sangat banyak. Ia menutupi kedua matanya dengan lengan kanannya kemudian berlari semakin cepat ke arah datangnya cahaya tersebut.
"Aku tak tahu kau bisa berlari secepat itu, Akicchi..."
"Maafkan aku, Kise-kun. Tapi aku benar-benar harus segera pulang ke Tokyo. Jadi, apa yang mau kau tunjukkan padaku?"
Perlahan ia pun membuka matanya. Sepasang hazelnya berbinar dan bibirnya bergetar. Hidungnya menghirup dalam aroma sakura dan wisteria yang berbaur menjadi satu—juga keberadaan satu jenis bunga lain yang hadir di antara kaki-kaki kecil kedua anak yang berdiri membelakanginya.
Pelupuk matanya terasa berat, bendungan itu berangsur runtuh bersama seluruh luapan perasaan yang tiba-tiba menyeruak dari tiap-tiap bagian raga yang sudah beberapa hari ini bimbang. Potongan-potongan mimpi itu terangkaikan oleh rantai-rantai panjang yang membentuk sebuah film tanpa judul.
Ya, tanpa judul karena ia tak membutuhkan judul untuk kumpulan adegan yang begitu ia kenal.
"Itu! Lihatlah, Akicchi!"
Salah satu anak yang lebih tinggi menunjuk ke arah sebuah bunga mungil yang mekar di antara sela-sela lantai yang berlubang. Bunga itu mengarah pada berkas cahaya yang menyusup masuk melalui bagian atap yang berlubang di atasnya. Kelopaknya yang berwarna biru muda mengembang lebar seolah tengah tersenyum ke arah ia dan kedua anak kecil itu.
"Bunga apa itu, Kise-kun?"
—Dan tanpa ia sadari, butiran hujan itu sudah jatuh membasahi kedua pipinya yang bersembap merah.
"Forget-Me-Not!"
Seketika itu juga pun jantungnya seolah berhenti berdetak. Tak sanggup ia bendung air mata yang terus memaksa untuk membanjir keluar—dan isaknya yang hampir pecah. Sebab, ia mengenalnya.
Ia mengenal bunga itu.
"Forget-Me-Not?"
"Humm!"
Bunga mungil yang terlupa. Perlambang kekuatan memori dan kenangan.
"Kenapa ... ia berada di sini?" Anak yang lebih pendek itu berlutut. Begitu serius memandangi si kembang kelopak lima.
"Mungkin ..." Anak yang lain menautkan kedua tangannya di belakang punggung. Melompat agak ke samping sehingga ia dapat memperhatikan raut wajah yang dibuat oleh sang penanya. "Ia ingin ... ada orang yang menemukannya."
Ada sebuah perasaan hangat yang membuncah keluar dari dalam tubuhnya. Hingga hazel itu menatap mantap ke depan—tak lagi keruh. Seulas senyum tulus terukir di wajah pucatnya yang basah oleh air mata. Tetes-tetes yang terus mengalir kemudian jatuh membasahi lantai reot di bawahnya.
Ia penikmat, penonton. Sebab apa yang ada di depannya terlihat begitu mengharukan—menyayat hati. Film lama itu terputar tanpa ia harus bersusah payah mencarinya. Satu dari sekian banyak adegan menyenangkan yang belum pernah ia ketahui.
Kedua anak laki-laki itu ... terlihat sangat bahagia.
("Apakah ... kau sudah ingat, Kise Ryouta?")
Seorang penginterupsi. Ia muncul dengan sebuah jaket putih yang menutupi bagian atas tubuhnya dan wajahnya. Seorang anak kecil yang lain berdiri tegak di atas sebuah meja rapuh. Jemari mungil itu menarik tudung jaketnya ke depan—kuat-kuat agar tak ada yang bisa mengintip wajahnya. Hal itu membuat Kise yang sempat tertegun pun kembali mengukir kurva senyumnya.
"Ya." Pemuda berambut keemasan itu mengangkat sebelah tangannya dan menggunakan ujung lengan piyamanya untuk menghapus jejak air mata di wajahnya. "Apakah kau itu suara yang sering muncul di dalam kepalaku?"
Hening sejenak, anak laki-laki itu tak langsung menjawab. Mungkin ia ragu harus memulai darimana, harus mengungkapkannya atau tidak. ("Mmm.") katanya disertai dengan sebuah anggukan kepala.
("Apakah kau menyukainya?")
"Eh?"
("Kenangan yang kau lupakan ini.")
Pertanyaan itu membuat Kise terkekeh pelan sebelum ia memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya dari sosok dua orang anak kecil di hadapannya, ke arah anak laki-laki bertudung putih di sampingnya. Ia perhatikan baik-baik bagian wajah yang tak terlindungi tudung itu—juga beberapa helai keemasan yang mencuat seperti miliknya. "Ini kenanganmu, kan?"
Anak laki-laki itu menoleh ke arah Kise, membiarkan pemuda itu melihat senyuman lebar yang terpatri di wajahnya. ("Kenanganmu juga.")
"Kalau begitu kau sudah tahu apa jawabannya, kan?" Pertanyaan itu tak terjawab, memang. Sebab, tanpa dijawab pun, keduanya telah sama-sama mengetahui jawabannya.
Ya, mereka berdua menyukainya—untuk tiap detik yang dihabiskan bersama anak kecil yang selalu ditunggunya di stasiun, yang ia tunjukkan pada 'dunia' terlindung ilalang, yang ia berikan setangkai anggrek putih dan Forget-Me-Not terakhir. Kise mungkin bisa memahami—atau mencoba memahami. Semua mimpi buruk itu ... benar pecahan kenangan-kenangan yang lama ia buang jauh-jauh. Sebab dari lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin menulis dari awal kisahnya di sebuah buku catatan baru yang masih kosong. Ia ingin merangkai kenangan-kenangan baru, mencipta pelangi yang membelah kelabu.
Ia ingin selalu bersamanya. Selaluselaluselaluselalu—ia ingin orang itu ingat bahwa ia ada di sana. Memperhatikannya, melindunginya, dan menunggunya untuk datang. Ia ingin agar musim semi berikutnya dan berikutnya dan berikutnya, ia masih bisa melihat bunga-bunga sakura bermekaran bersama dirinya. Seperti sebuah janji yang pernah ia buat bersama orang itu. Ia ingin—
("Nee, gomennasai. Hontou ni gomennasai.")
Dua lengan mungil yang terasa begitu hangat melingkari tubuh Kise yang entah sejak kapan sudah terduduk di permukaan lantai yang dingin sambil mendekap erat kedua lututnya. Air matanya tumpah, isaknya membahana. Ia tak menahannya. Sebab mungkin, itu akan menjadi yang terakhir ia menangisi keputusan yang selanjutnya akan ia buat.
("Aku juga ingin menepati janjiku untuk melihat bunga sakura lagi bersamanya. Tetapi, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri bila ialah yang menggantikan posisiku—bila ia menyakiti dirinya lagi karena mencoba menggapai tempatku. Jadi ...")
Ia tahu. Ia mengerti. "W-wakatta ... hik ... wakatta yo ...!"
Jari-jemarinya meremas kuat kedua lututnya seraya dekapan anak laki-laki bertudung putih itu semakin erat. Di antara isakkan frustasinya, sayup-sayup ia bisa mendengar suara tawa, dua jenis suara yang saling bertukar bahagia. Pecahan kenangan tentang dua anak kecil itu masih tersaji, terus berputar di depan matanya, di antara bunga mungil berkelopak biru itu.
"Aku pernah memberikan satu pada kuburan 'Akicchi'. Jadi, 'Akicchi' tidak akan melupakanku-ssu!"
Pecahan kenangan tentang dirinya di masa lalu bersama seseorang yang begitu berharga baginya.
"Hidup itu ... singkat sekali, nee, Akicchi. Entah semenit kemudian, atau besok, atau lusa, atau minggu depan ... kita tak tahu kapan kita akan mati."
"Kenapa kau membicarakan hal itu, Kise-kun?"
Perlahan-lahan, isakkan Kise pun mereda. Air mata itu masih berjatuhan di pipi pucatnya yang merona merah. Namun, ia memutuskan untuk mengintip adegan demi adegan yang sedang berlangsung—tanpa terusik oleh kehadiran Kise dan anak laki-laki bertudung putih yang masih mendekapnya—di hadapannya. Melalui pandangan yang buram oleh air mata, ia kembali menjadi penyimak setia.
Anak kecil bersurai keemasan yang sedari tadi dipanggil dengan nama 'Kise-kun' itu pun tersenyum simpul ke arah anak sebaya di hadapannya. Jemari mungilnya meremas gugup ujung jaket putih yang ia kenakan sedang sepasang hazel miliknya teralihkan ke arah yang lain.
"Aku ingin ... melihat bunga sakura bersama Akicchi sebelum hal itu terjadi."
—sebelum aku pergi dan meninggalkanmu di sini.
"Hai. Janji."
Dan dua buah kelingking pun tertaut. Perlambang terikatnya sebuah janji.
"Kau ... membuat janji yang tak bisa kau tepati?" Kise berkata di antara jejak-jejak tangisannya—dengan suara paraunya yang bergetar.
("Aku menepati untuk dua tahun berikutnya ... tetapi, aku gagal menepati untuk satu tahun terakhir.")
Mendengar suara lembut yang berbisik di belakang telinganya itu, Kise hanya bisa tersenyum miris. Perlahan-lahan, ia pun mengangkat kedua tangannya dan berbalik mendekap tubuh yang lebih kecil darinya itu.
"Kau melalukan hal sampai sejauh ini karena kau mencintainya?"
("Banyak orang mengatakan bahwa cinta itu takkan bertahan lama. Aku terlalu kecil untuk mengerti apa arti kata itu sebenarnya. Tetapi, aku meyakini perasaanku padanya. Ia begitu berharga hingga aku rela melepaskannya dan membuatnya melupakanku asal ia bahagia.")
Kise menyandarkan kepalanya yang terasa sakit di dada anak kecil itu. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa begitu lemas, entah karena semua hal membingungkan itu atau akibat demamnya yang kian meninggi—atau malah keduanya. Sekelebat pertanyaan masih hilir-mudik di dalam kepalanya, memaksa untuk terucap lewat kata-kata. Namun, ia lebih memilih untuk diam dan meresapi baik-baik silabel demi silabel yang diucapkan oleh anak laki-laki itu.
Kemudian ia berjanji dalam hati, untuk tiap-tiap permohonan dan kisah yang terungkap melalui bibir anak laki-laki bertudung putih itu. Sedikit demi sedikit, ia mulai memantapkan hati dan membuat sebuah pilihan.
("Sampai musim semi tahun depan, sampai kelopak Forget-Me-Not terakhir gugur, tolong buatlah ia bahagia.")
—sebab ia tidak memiliki waktu sebanyak itu untuk memikirkan pilihan lain. Bukan, ini bukan pengorbanan. Kise telah mempelajarinya dari Kurokocchi.
"Bwah, hentikan keklisean ini~ Memalukan-ssu!" Ia melepaskan diri dari kehangatan itu—dekapan lengan mungil itu. Berdiri tegak—mandiri—kemudian berjalan perlahan ke depan. "Kau tidak perlu khawatir. Daijobu ssu yo!"
Ya, kali ini ia tidak berbohong. Ia benar-benar baik-baik saja. Bersama dengan sekelilingnya yang mulai meredup, tembok mulus yang menua, dan rentetan adegan dua anak kecil yang sirna—ia mengukir senyuman lebar pada setangkai Forget-Me-Not mungil di hadapannya—tumbuh pada lantai berlubang reruntuhan mansion itu. Dinding-dinding kenangan yang sebelumnya memerangkap dirinya pun runtuh.
Dua kelopak biru muda tersisa—sisa waktunya sebanyak dua dari lima kelopak Forget-Me-Not itu.
Waktu yang sangat singkat. Terlalu singkat. Membayangkan apa yang bisa ia lakukan dengan waktu sesingkat itu, membuat dadanya terasa sesak hingga napasnya memburu cepat. Ia bukan tak mempercayainya. Ia hanya ingin memastikan hal yang seharusnya sudah ia ketahui jawabannya.
"A, warui. Aku belum menanyakannya walau sudah berdiskusi sepanjang ini. Kise menatap lekat-lekat sosok anak laki-laki yang masih berdiri tak bergeming di hadapannya. " Siapa namamu?"
Hampir seluruh bagian wajah anak laki-laki itu masih tersembunyi di balik tudung jaket putihnya, memang. Namun, ia menyadari bagaimana tubuh yang lebih kecil darinya itu menegang mendengar pertanyaannya. Juga bagaimana anak itu berusaha keras agar tidak tertawa.
Anak laki-laki itu mengangkat kedua tangannya, meraih tudung putih itu. Dalam gerakan yang sangat lambat, tudung pelindung itu tersampir—dibiarkan mengekspos apa yang sebelumnya disembunyikan. Wajah yang sama dengannya—dan tubuh yang bagai duplikat dari refleksi anak kecil yang beberapa saat lalu muncul sebagai bagian dari kenangannya bersama dengan seorang anak kecil lain yang dipanggil 'Akicchi'.
("Aku Kise Ryouta yang mati dua tahun yang lalu.")
.
.
.
.
.
Dengan bola mata besar yang benderang oleh sepasang permata aquamarine, ia seperti sedang ditatap olehnya. Oleh personifikasi langit paling cemerlang di musim panas. Yang ia temukan—bukan, orang itu yang menemukannya—di antara ilalang menjulang dan petak-petak rel logam membentang. Di antara tarian kelopak merah jambu sakura dan lavender wisteria. Di antara hari-hari panjang di musim semi.
"Boku wa Aki desu. Amamiya Akihito."
.
.
.
.
.
Jantungnya sudah lama berhenti berdetak hingga bayangnya tak lagi nampak di hari terik tanpa awan. Jiwa Kise Ryouta sudah mengudara ke angkasa raya sejak dua tahun yang lalu—meninggalkan seseorang yang dicintainya di bumi.
.
.
.
Kalau kau diberi kesempatan untuk melakukan apa yang belum sempat kau lakukan semasa kau masih hidup, apa yang ingin kau lakukan, Kise Ryouta?
Catatan:
[1] Terima kasih banyak kepada Arisa Yukishiro yang sudah meluangkan waktunya untuk mem-beta FFn ini, kepada semua reviewer— Shaun the Rabbit, Guest, Dee Kyou, Calico Neko, dan kuroegare—dan seluruh silent reader yang selalu setia membaca dan mendukung FFn ini :'D
[2] Tokokyohi: Sebutan untuk tindakan seorang pelajar yang mengarah pada perilaku drop out atau penolakan untuk pergi ke sekolah. Ditandai dengan absen sekolah selama 50 hari atau lebih.
[3] Haruka berasal dari kata 'Haru' yang dalam bahasa Jepang berarti musim semi
[3] Perubahan: Di chapter satu, timeline terakhir yang bagian Momoi menyebut-nyebut soal Karya Wisata ke Kanagawa, yang sebelumnya "Jangan bilang kalau kau tidak tahu minggu depan anak kelas dua akan mengadakan karya wisata ke Kanagawa?", menjadi "Jangan bilang kalau kau tidak tahu sekolah akan mengadakan karya wisata terakhir untuk angkatan kita ke Kanagawa?" Ada kesalahan timeline dari perhitungan awal saya. Mohon maaf! #bunuhsaya
Terjemahan:
[1] Vergissmeinnicht (Bahasa Jerman): Bunga Forget-Me-Not
[2] Iie: Tidak
[3] Boku: Aku
[4] Daijobu: tidak apa-apa
[5] Hidoi: Kejam
[6] Sou-ssu ka/Sou desu ka: Begitu
[7] Gomen (—nasai): maaf (lebih sopan dengan penambahan –nasai)
[8] Kirei na: Cantiknya
[9] Chotto matte yo: Tunggu (sebentar) – 'yo' dipakai sebagai penegasan
[10] Wakatta: Mengerti
[11] Warui: My bad
Balasan untuk Reviewer Guest:
[1] Guest: Terima kasih banyak! Uwooo, ayo seach XD Kereta itu keren sekali! Apalagi jalur kereta Jepang yang super ribet. Oh, karena kali ini saya belum memberi tahu jalur kereta yang dipakai untuk karya wisata Teiko ke Kanagawa, mungkin Anda juga bisa mencari jalur kereta yang menghubungkan Shinjuku - Tokyo dan Odawara - Kanagawa
[2] kuroegare: S-sensei? :'O Ah, titel itu terlalu tinggi, panggil Kensy atau Echo saja. Ah, terima kasih banyak. Kuro-san terlalu memuji, nanti kalau saya terbang ngga balik-balik gimana? Saya memang cukup membully (my beloved) Kise di sini :') Sudah saya lanjutkan!
A/N:
Mohon maaf sebelumnya karena saya terlambat update lagi. Tadinya saya pikir akan selesai sebelum UAS, tetapi ternyata tidak bisa. Sekali lagi mohon maaf ... *ojigi*
Lalu, kalau misalnya ada yang bingung sama chapter ini, daijobu da yo. Itu murni kesalahan saya yang bingung menuangkan ide saya dalam bentuk kata-kata seperti apa. Hasilnya malah begini padahal sudah berkali-kali saya rewrite ,_,) Saya suka sekali dengan twist dan bermain-main dengannya, padahal masih sangat amatir. Untuk itu saya mohon maaf sebesar-besarnya ... *ojigi*
Ini adalah FFn bergenre angst dan ... supernatural. Baru saja keluarga hint supernaturalnya di sini. Tapi ini bukan fantasi. Seperti kata 'dunia' dengan tanda petik yang sering diucapkan Kise, itu hanyalah filosofi. Lalu, karena alur yang saya gunakan adalah alur yang sangat maju mundur tanpa peringatan 'flashback' atau 'kenangan', jadi saya mohon koreksinya bila saya membuat kesalahan. Untuk kata-kata dalam Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris yang saya selipkan di setiap chapter, itu adalah lirik dari lagu Bios-nya Guilty Crown. Lagu ini sangat indah karena seluruh liriknya berupa kata-kata puitis.
Kemudian, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk semua reader yang telah banyak mendukung cerita ini dengan berbagai cara dan dalam berbagai aspek. Kalau cerita saya bisa memuaskan dan menyenangkan reader saja, saya sudah sangat senang sekali. Juga untuk Hamao Kyousuke-cchi yang videonya telah membuat saya memberanikan diri mempublish chapter ini. Sekali lagi terima kasih banyak TT-TT Ganbarimasu! *ojigi*
Salam,
KensyEcho
