Oke! Shiro di sini kembali dengan chapter 3 'a trip to belitung'! terimakasih untuk semua yang me-review di chapter sebelumnya, terimakasih! XD
Oh iya, maksud saya 'laskar delay pelangi' itu maksudnya mereka menggabungkan 'laskar pelangi' dan 'kacang delay kelinci'. Juga, mari kita katakan saja Piko salah nge-set waktu alarm. Terimakasih bagi yang sudah me-review!
Dan, shiro di sini mengucapkan;
Selamat hari raya Idul Fitri dan Selamat Berlibur dibanjiri banyak PR! :D
Disclaimer: I do not own vocaloid or any other fandom listed below.
Don't like? Don't read
Ch.3: Everyday I'm Slanderin'
"Mikuuu! Jangan basahin bajunya! Kita gak bawa baju ganti ke sini!" Kaito meneriaki adiknya yang sepertinya merasa masa bodo amat ga ada baju. Yah, salah mereka sendiri sih, gak bawa baju ganti ke pantai. Katanya (katanya) cuma akan foto-foto saja di dekat batu-batu. Tapi cewek-cewek (plus 2 shota yang dipaksa ikut) ini maunya main di laut, dengan baju lengkap... Sudah SMA dan SMP masih kayak anak-anak...
"Masa Bodo amat soal baju! Diem aja lu di situ, kakak sialan!" Miku, dengan celana yang sudah setengah basah menjawab dengan sangat 'halus' ke kakaknya yang sepertinya sudah biasa, melihat dia memiliki adik yang seperti itu dan pacar tsundere.
"Miku, miku! Lihat! Ada batu lumayan besar di situ!"
"Neru, di sini juga banyak batu... Itu batu mau kamu apain?"
"Ngg... Lapisin... Pasir?"
Gubrak
"Ooohh! Ide bagus, Neru!"
"Terus, kalau udah ditutupin pasir mau kalian apain? Pasir di situ nanti mengering jadi semacem kristal loh..."
"Mau ditulisin Kaito 3 Meiko."
"HAHPOOAAAA?! (Apa?!)" Memang, Miku ini senang sekali menggoda orang, Rin dan Len, Gumi dan Gakupo, pokoknya semua yang sedang pacaran atau 'kelihatannya' pacaran akan ia goda habis-habisan. Sukses, perkataannya membuat Kaito jatuh dari kursinya dan Meiko menjatuhkan kelapa muda yang sedang diminumnya di tepi pantai.
"MIKU!" Keduanya sekarang menoleh ke arah Miku dengan wajah merah.
"Oh? Gak mau? Kalau gitu... Rin 3 Len?"
"MANA MAU GUE SAMA SHOTA INI?! KITA SAUDARA!"
"Woi, woi Rin! Jangan angkat gue! Eh, woi! Di sini dalem! Nanti bajuku basah! Jangan dilem-"
Byuuuurrr
"... Hramphun,Rhin... Throbaatt... (Ampun, Rin... Tobat...)" Kata Miku dari dalam air setelah dilempar ke laut oleh Rin. Dari dalam air terlihat Miku mengambil sandal putihnya dan mengangkatnya ke atas air.
"Lagian, kenapa sih kalian harus selalu ngajak (baca: maksa) kita ikutan?" Len akhirnya berhasil memprotes para cewek di situ.
"Soalnya kalian shota! Kayak fanArt-nya Eren di shingeki no kyojin!"
-Meanwhile in a parallel world...-
"HACHIIH!"
"Hn? Kamu kenapa, Eren?"
"Ng? Nggak... Rasanya ada yang ngebicarain aku deh..."
"Yaaahh... Bajuku basah semua deh..!"
"Salah sendiri ngegodain Rin, kamu ini..."
"Rin-nya juga terpeleset habis itu."
"Iya, sambil menarik baju Len yang menarik Piko kan? Ngakak deh ngelihatnya."
"Pada Akhirnya semua juga ikutan basah-basahan kan?"
"Habiiss gak asik dong... Masa ke laut gak basah."
"Pada akhirnya cuma nii-san, Meiko-nee dan Gumi yang gak basah... Kenapa kamu gak ikutan, Gumi?"
"Gue lagi Dapet"
"Kasian amat lu liburan ke pantai saat lagi M."
"Urusai!"
"Iya, tapi sekarang kita harus bilas di kamar bilas warung itu..."
Kamar bilas di situ memang tidak bisa dibandingkan dengan kamar mandi hotel. Tapi lumayan bersih, lah. Airnya bersih dan banyak, tempatnya kira-kira cukup untuk mandi dua orang (walaupun kamar bilasnya ada banyak) lampu terang (maklum, ini sudah jam 7), ada paku untuk menggantung baju, dan lantai lumayan bersih dari pasir. Tidak ada handuk sih, jadi mereka sekadar membilas diri, memeras baju tadi dari air lalu memakainya lagi sambil menunggu perjalanan ke hotel yang memakan waktu 30 menit.
Lansunglah, daripada merasa lengket para cewek dan shota langsung menuju kamar bilas. Daripada dibahas bagaimana mereka mandi dan membuat pikiran readers agak mesum, mari kita lihat grup yang tidak ikut berbasah-basahan ini di dalam warung.
Sementara Kaito membayar ongkos untuk kamar bilas, Meiko dan Gumi sibuk memesan makanan supaya makan malamnya sekalian di sini. Barulah saat mereka kembali ke meja Miku dan grup-nya kembali dari kamar bilas. Dan semua protes secara bersamaan:
"LAPEER!" Yah, sepertinya daripada mempedulikan lembab karena baju yang mereka pakai masih setengah basah dan mereka tidak mengeringkan badan, mereka lebih mementingkan suara perut. Untunglah Kaito sudah mengerti sifat adiknya dan teman-temannya sehingga ia bisa memesankan makanan terlebih
"Kenyaaaannnggg!"
"Udangnya enak ya!"
"Tapi tetep saja kita harus berada di dalam baju lembab nan gak enak ini"
"Uwaaa jangan diingetin... Padahal tadi sempet lupa..."
"Tidur juga gak enak nih... Cepetan sampai hotel dong..."
Suasana ramai mobil Miku dkk membuat sopirnya sendiri mulai stress dan mengebut 5000 km/jam (hah?) Ke hotel.
Sesampainya di hotel, mereka yang masih dalam baju lembab langsung melesat ala Eyeshield 21 ke kamar mereka masing-masing. Tetapi ingat, ada 2 shota tertindas di sini yang harus menunggu kamar mandi selesai dipakai.
Len duduk di atas kasur dengan bertopang dagu mengganti-ganti channel TV di depannya sampai ia berhenti menekan tombol di channel Animal Planet. Miku dan Rin menyuruh Len menunggu di situ sementara mereka mandi. Yah, dia basah hanya ketika Rin menariknya masuk ke dalam air jam 4 tadi. Jadi bajunya sudah mulai kering.
'aaaahhhh... karena tadi basah-basahan di bawah matahari, hotel ini serasa surga deh...' Kata batinnya.
Hotel ini memang tidak sebanding dengan hotel sheraton di Jogja apalagi hotel Hilton, tapi untuk di Belitung, sehabis main di laut dan pasir sambil berpanas-panasan, kamar kecil ber-AC memang bagaikan surga. Di kamar ini, yang ada sama seperti standar hotel biasa, ada kamar mandi, lemari, satu kasur berukuran queen size, satu sofa, satu meja beserta kursi dan TV. Nah, bedanya adalah: kamar mandinya tidak ada kenop, apalagi kunci. Hanya seperti pintu dorong toilet di mall. Oleh karena itu, Miku dan Rin mengambil kursi dan dibawa ke kamar mandi.
Sepertinya, saking panasnya dia sebelum masuk ke kamar, ia tidak sadar sampai ia berada beberapa menit di kamar bahwa ternyata kulit wajahnya panas. Langsunglah Len melihat ke cermin di kamar. Ternyata pipinya terbakar matahari! Aduh! bodohnya dia, nggak pakai sunblock tapi bermain di pantai seharian. Langsunglah Len panik dan lari-larian keliling kamar. Soalnya mukanya adalah andalannya untuk jadi populer di sekolah (entah karena tampang cakep ataupun tampang shota).
"GYAAAAAAA MUKA GUE MERAH KEBAKAR KAYAK COLOSSAL TITAN! GYAAAAAA-BHUGH!" Len tiba-tiba kelempar sabun yang dilemparkan rin dari depan kamar mandi.
"LU DIEM SEDIKIT BISA NGGAK, SHOTA!"
"TERUS?! GIMANA KALO GUE MASUK SEKOLAH PAKE MUKA KAYAK TITAN GINI HAAAHH?! GUE BISA KEHILANGAN MUKA!" Seru Len sambil menggosok-gosok hidungnya yang terlempar sabun.
"WAH, BAGUS TUH! KAMU BISA COSPLAY JADI COLOSSAL TITAN!" Rin berkacak pinggang sambil meneriaki adiknya yang entah alay atau narsis.
"GAK LUCU, SIAH, RIIIIiiiii...nnn..." Len tiba-tiba merendahkan nadanya ketika melihat Rin ternyata berada di depannya dengan hanya berbalutkan handuk dari atas dada ke paha.
...
...
...
CROOOTT!
"KYAAAAA! LEN HENTAI! KENAPA MIMISAN SEGALA!" Jerit Rin sambil menutupi badannya pakai tangan setelah melihat adiknya nosebleed dan diam di tempat begitu. "...he? Woi, shota, lu napa?"
Len terjatuh ke arah depan dari posisinya. Yah, readers sudah bisa membayangkan bagaimana peristiwa sekarang terjadi.
"GYAAAAA! NANIIIIIIII?! MIKU-NEE JUGA JANGAN MALAH FOTO-FOTO!" Seru Rin ke arah Miku yang memotret kejadian ini pakai kamera dari belakang pintu kamar mandi.
'Bener-bener deh... Gak usah sampe nyuruh gue tidur di sofa kali...' Kata batin Len sambil menarik selimut extra yang disediakan hotel beserta dengan bantalnya sampai menutupi bahunya. Memang sih, kamar Len dan Rin disatukan, soalnya koper mereka berbarengan (walaupun Len dilarang melihat ke bagian pakaian Rin) soalnya koper lain di rumah mereka sudah rusak semua. Mama lily memang suka ceroboh sih... Mungkin bisa dibandingkan dengan Kikue-sensei dari Acchi Kocchi. Len, yang sekarang sudah di dalam piyama bergambar pisangnya sekarang ini masih menyumbat hidungnya pakai tisu karena mimisan tadi. Rambut honey blonde-nya yang sekarang terurai menjadi sepanjang Rin ia singkirkan dari wajahnya supaya tidak kena krim*) yang dioleskan Miku di pipinya tadi. Dia membuka sedikit gorden jendela yang ada di samping sofa untuk melihat keramaian jalanan Belitung... Yang sebetulnya SAMA SEKALI KOSONG. Sampai tiba-tiba dia jadi merinding ketika melihat ada bayangan hitam berbentuk seperti orang bertudung menuju ke arahnya...
Saking shock-nya dia tidak bisa bergerak ataupun bicara, cuma bisa mengeluarkan kata-kata panik di tengah keringat dinginnya itu.
"Ah... Aa... Han... Han... Ham... HAMTARO! (?)"
Bukan, itu bukan Hamtaro, bukan juga ao onii (hiii), bukan kuntilanak, bukan debt collector (hah?). Tapi begitu Len melihat bahwa mahluk itu tak berwajah, tahulah dia apa mahluk itu: slanderman**)
Slanderman itu mendekat ke jendela kamar Len...
Makin dekat...
Makin dekat...
Wajahnya yang hitam legam itu bertatapan dengan wajah Len...
Dan dia mulai bergerak sambil berkata;
"Everyday I'm Slanderin'" *lagu everyday I'm shuffelin' dimulai*
"GYAAAAAAAAAAAAAAA!"
*)krim Olay, kalau shiro mukanya kebakar sering diolesin itu supaya sembuh. 2-3 harian juga langsung sembuh :D
**) slanderman, hantu yang konon tidak memiliki muka.
Oke! Maaf jika gak terlalu lucu dan bagus, akhir-akhir ini idenya campur-campur, maklum, main game terus sejak awal liburan.
Maaf jika update-nya lambat, shiro harus bantuin mengepak paket ramadhan buat orang-orang di kantor orang tua. Kemungkinan besar chapter selanjutnya juka akan agak telat, shiro harus pulang kampung lebaran nanti, dan di sana sinyalnya jelek, gak sejelek belitung sih, tapi jelek.
Terimakasih sudah mau membaca, me-review, mem-follow atau mem-favoritkan cerita ini! Terimakasih sekali!
Sekali lagi kuucapkan:
Selamat hari raya idul fitri!
Terakhir...
Please Review? :3
