[YAOI BaekYeol] -LIKE A STAR- ep.3

written by : babyLU

Andai aku bisa kembali ke waktu dimana kita masih bersama.

Aku berjanji tak akan menyakitimu.

Aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu.

Dan aku berjanji, kelak aku tidak akan malu lagi untuk memberi tahu pada dunia bahwa kau kekasihku.

Orang yang selalu menganggapku bintang paling bersinar, Park Chanyeol . . .

Byun P.O.V

"baekhyun . . ."

Aku sedikit terkaget saat merasakan sebuah tangan menepuk keras pundakku. Terpampang raut kesal teman sebangkuku, Kim Jongin.

"kau tidak mendengarkan ceritaku"

"eh? Aku mendengarkan kok, nanti kapan-kapan kita coba cafe yang kau ceritakan itu ya" jawabku sedikit gelagapan.

Jongin menepuk jidatnya pelan, dia menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendengar jawabanku.

"kau benar tidak mendengar. Tadi aku bercerita tentang game center yang baru saja dibuka" jawab Jongin.

Aku tersenyum garing padanya, menampakkan deretan gigi putih bersinar milikku.

"dari tadi pagi kau melamun terus, apa yang sebenarnya tengah kau pikirkan?"

Kedua pipiku bersemu merah mendengar pertanyaan Jongin.

Hari ini aku merasa bukan menjadi diriku sendiri, aku jadi lebih cenderung diam dan suka melamun. Ini semua gara-gara namja bodoh bernama Park Chanyeol itu.

Ups, jangan salah paham!

Aku hanya merasa kasihan padanya, namja yang selalu menampakkan cengiran cerianya itu ternyata memiliki sesuatu yang selama ini dirasakannya sendirian.

Aku tidak pernah menyangka jika dia memiliki lemah jantung.

Apalagi mengingat sikapku yang sering jahat padanya. Aku berjanji mulai sekarang akan mencoba lebih lunak terhadapnya, karena Byun Baekhyun namja paling populer di sekolah memiliki hati selembut ulat sutra. Ehh? Yang benar selembut kain sutra.

"maaf Jongin, otakku hanya sedang ingin berjalan-jalan sebentar" jawabku asal yang langsung mendapat tepukan keras di pucuk kepalaku.

Drrt . . . drrrt

ponselku bergoyang menandakan ada sebuah pesan yang masuk, dari Chanyeol.

-Sepulang sekolah aku ingin mengajakmu ke suatu tempat-

-siap bos-

-tumben tidak ada penolakan darimu byunnie?-

- aku sedang bermurah hati ^^d -

Kutekan tombol send di ponselku untuk mengirimkan balasan atas pesan singkatnya. Tidak ada salahnya menerima ajakannya kali ini toh aku sudah berjanji akan bersikap sedikit lunak padanya.

.

.

.

Aku menatap tak percaya pada bangunan di depanku lalu melirik pada Chanyeol yang terlihat begitu bahagia karena berhasil memboyongku kemari.

PLANETARIUM? Tidak adakah tempat lain untuk berkencan?

Kafe, taman kota, mall dan tempat-tempat bergengsi lainnya, bukannya tempat untuk anak sekolah dasar melakukan study wisata seperti ini.

Seharusnya aku bisa maklum karena seleranya benar-benar payah.

Sabar Baekhyun bukankah kau sudah berjanji untuk bersikap baik padanya, jadi turuti saja kemauannya toh waktumu berpacaran dengannya tinggal 2 hari lagi.

"sudah lama aku ingin mengajakmu kesini byunnie"

Chanyeol menarik tanganku dan menggandengnya erat.

"lepaskan!"

"diam" chanyeol mempererat tautan tangan kami membuatku mau tidak mau hanya bisa pasrah dengan pegangan tangannya.

Kami memasuki area planetarium yang terlihat sepi. Sangat sepi.

"kenapa sepi sekali disini?" tanyaku

"tentu saja, karena ini hari rabu dan kebanyakan orang datang kesini pada hari minggu"

Bagus sekali, kau membuat keadaan jadi lebih membosankan karena tak ada orang lain yang bisa kulihat disini selain kau dan pak penjaga yang ada di depan pintu masuk.

Chanyeol membawaku memasuki sebuah ruangan gelap yang hanya di terangi oleh benda bersinar di atapnya.

Aku tak kuasa menahan kekagumanku saat memasuki ruangan itu, segala set dekorasinya diatur seakan-akan kau tengah berada di padang rumput dengan hamparan bintang-bintang di langit malam.

Aku tau bintang yang ada di atas itu hanyalah rentetan lampu-lampu kecil yang berkerlip, namun mereka terlalu indah jika disebut imitasi.

Chanyeol menepuk tempat kosong disebelahnya, memintaku untuk ikut duduk disitu bersamanya.

"mereka indah bukan?" tanya Chanyeol.

"iya. Aku baru tau jika planetarium bisa seindah ini"

Sepertinya aku harus meralat ucapanku jika planetarium bukanlah tempat yang bagus, mungkin lain kali kalian bisa mencoba kencan ke planetarium. Eh?

Chanyeol mengangkat tangan kanannya seakan berusaha untuk menggapai salah satu bintang itu meskipun yang dapat di gapainya hanyalah angin kosong.

"coba tebak. Diantara bintang-bintang diatas mana yang paling bersinar?"

Aku mamfokuskan pandangan mataku pada arah yang Chanyeol coba gapai.

Apanya yang paling bersinar, mereka nampak sama saja dimataku. Bukannya memang sudah diatur begitu, masing-masing lampu di setting dengan kadar cahaya yang sama terangnya.

"mereka terlihat sama saja" jawabku malas.

Chanyeol menggelengkan kepalanya tanda jika dia tidak setuju dengan jawabanku. Perlahan tangannya bergerak menuju bintang yang dimaksudkannya

"bintang yang paling bersinar itu ada di . . . sini"

Aku tersentak saat arah jari telunjuk Chanyeol berhenti tepat di depan wajahku.

Aku? Aku? Aku?

Aku bintang paling bersinar yang Chanyeol maksud?

"kau Byunni, bintang yang paling bersinar itu"

Pipiku memanas setelah mendengar ucapannya. Oh come on Baekhyun! Kau ini namja keren paling populer di sekolah, jadi jangan mau di gombali oleh seorang namja bodoh.

Aku menjitak pelan kepalanya. Sangat pelan.

Takut jika pukulanku pada kepalanya akan membuat perkembangan otaknya semakin terhambat.

"menjijikkan, kau merayu seorang namja"

Chanyeol hanya terkekeh. Dasar, ucapan sekasar apapun yang keluar dari mulutku tak pernah sedikitpun membuat sebuah goresan di hatinya. Urat perasaannya sudah putus.

"memangnya tidak boleh merayu K-E-K-A-S-I-H-nya sendiri?"

Elak Chanyeol dengan efek slow motion pada saat mengucapkan kata KEKASIH.

Blush!

Sial, lagi-lagi pipiku memerah hanya karena ucapan konyolnya bahkan kali ini wajahku terasa lebih panas.

Untuk beberapa saat aku lebih memilih untuk diam daripada setiap ucapanku selalu dibalasnya dengan kata-kata yang lebih memuakkan.

Chanyeol mengeluarkan sesuatu berbentuk persegi panjang dari saku celananya. Harmonika?

Aku tidak pernah tau jika dia suka bermain harmonika.

Sedetik kemudian dia mulai memainkan harmonika di tangannya, membentuk suatu alunan melodi yang indah.

Aku menatap namja di sebelahku yang tengah memejamkan matanya seakan begitu menghayati irama yang dihasilkan dari harmonikanya.

Lagu ini. Aku tau lagu yang tengah dimainkannya . . .

Dimanapun kau bersembunyi

Aku selalu dapat menemukanmu

Jika disana tidak ada kau

Maka jantungku akan terhenti

Chanyeol menghentikan permainannya lantas menatapku. Dia mungkin tidak mengira jika aku akan menyumbangkan suara indahku untuk mengiringi alunan harmonikanya.

"kenapa berhenti? Belum pernah mendengar suara malaikat?" sentakku yang hanya dibalas Chanyeol dengan sebuah senyuman yang super lembut.

Deg!

Ya tuhan kenapa lagi ini? Sekarang ganti jantungku yang berdegup kencang setelah di suguhi oleh senyuman super lembut miliknya.

Aish,aku tidak bisa mengontrolnya. Bagaimana jika dia bisa mendengarnya?

Bahkan jika kau tidak mengatakan 'cinta'

Aku tetap bisa merasakannya melalui hatiku

Jika kau ada disini

Aku tidak memerlukan apapun

Hal itu bisa dibandingkan dengan hal lain

Hal itu bisa ditukar dengan hal lain

Namun cintamu, hatimu

Siapa yang bisa menggantikannya?

Kau adalah segalanya bagiku

Kau adalah segalanya bagiku

Terus bersinarlah seperti bintang di langit

Kau adalah satu-satunya cintaku

Selamanya hanya cintaku

Kita akan selalu bersama

Di sebuah tempat tanpa kesedihan . . .

Kami berdua terkekeh bersama setelah menyelesaikan konser kecil kami. Chanyeol mengangkat tangannya lantas menaruhnya diatas kepalaku.

"gomawo, telah mewujudkan keinginanku"

Aku memiringkan kepalaku bingung mendengar ucapannya.

"keinginan apa?"

"dari dulu aku ingin sekali melihat indahnya bintang pada malam hari bersama seseorang yang kusukai. Tapi sayang tubuhku tidak tahan dengan udara malam jadi aku hanya bisa mengajakmu ke tempat ini"

Ujarnya lirih.

Apa dia bilang? Dia bilang apa?

Seseorang yang disukai. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku gusar berusaha untuk menepis pikiran-pikiran keji jika akulah seseorang yang Chanyeol maksud.

Tapi seharusnya memang benar kan, toh memang aku yang diajak Chanyeol untuk mewujudkan keinginannya.

Aku menundukkan kepalaku saat teringat jika namja dengan senyum secerah mentari ini mengidap penyakit yang bisa dibilang parah.

"chanyeol sebenarnya aku . . ."

Chanyeol menatapku dalam, menanti kelanjutan apa yang akan keluar dari mulutku.

"maaf, sebenarnya aku sudah tau tentang penyakitmu"

Aku menggigit bibir bawahku gugup, sedangkan dia hanya tersenyum hangat. Padahal kupikir dia akan marah atau apa.

"aku sudah tau"

"eh?"

"sejak tadi pagi tingkahmu berubah. Kau jadi sedikit baik padaku tidak menyebalkan seperti biasanya hehehe"

Aku mengerucutkan bibirku kesal. Jadi dia pikir selama ini sikapku menyebalkan?

"jangan pernah berubah dan mengasihaniku. Aku lebih suka Byunni yang biasanya"

Aku memeluk namja disebelahku ini. Bisa kurasakan jika Chanyeol sedikit kaget dengan aksiku yang tiba-tiba memeluknya namun dia langsung membalas pelukanku, melingkarkan kedua tangannya di pingganggku.

Aku sadar betul dengan apa yang kulakukan, namun biarkan kali ini saja aku tidak munafik dan mengikuti kata hatiku. Aku hanya ingin memeluknya.

.

.

Aram P.O.V

Aku menendang-nendang kerikil yang kurasa menghalangi jalanku, membuat mereka beterbangan ke segala arah. Hari ini aku benar-benar kesal pada Kyungsoo.

Dengan teganya dia merelakanku bersama Jongin sunbae.

Terkadang aku tidak bisa mengerti dengan perasaanya. Dia bertingkah over protective seakan menyukaiku, tapi di sisi lain dia tidak pernah sekalipun mengucapkan kata suka padaku.

Mungkin memang benar jika selama ini aku hanya terlalu percaya diri dan berharap banyak atas perasaannya. Tapi harapan inilah yang menguatkan perasaanku sampai sekarang.

"araaaam~"

Aku menoleh sebal pada sumber suara yang memanggilku. Sebenarnya tanpa menolehpun aku sudah bisa mengenali suaranya.

Kyungsoo memegangi dadanya yang mungkin terasa sesak karena berlarian mengejarku. Dia memegangi tanganku erat seakan tak membiarkanku untuk lepas darinya.

"jangan pernah meninggalkanku lagi. Bukankah sudah kukatakan jika kita harus berangkat dan pulang sekolah bersama"

"hmm" jawabku malas

Kami berdua berjalan dalam diam dengan tangan yang saling bertaut. Ini bukan hal yang menakjubkan jika kami akan terus bergandengan tangan sampai rumahku, karena kami memang melakukannya setiap hari.

Pernah aku bertanya padanya dan dia hanya menjawab 'aku tidak ingin Aram lepas dariku'.

Sekarang coba pikir, yeoja mana yang tidak akan menaruh harapan jika terus diperlakukan seperti itu oleh orang yang disukainya?

"kau sakit gigi? Kenapa dari tadi diam?" tanya Kyungsoo

Aku menggeleng sebagai jawaban. Bukan karena sakit gigi tapi aku sedang malas bicara denganmu.

"kau marah padaku?" tanyanya lagi.

Aku menghentikan langkahku membuatnya mau tidak mau juga berhenti melangkah.

"kyungsoo aku ingin bertanya sesuatu padamu, namun kali ini aku tidak menerima jawaban 'entahlah' ataupun 'aku tidak tau' . . ."

Aku menarik nafas banyak-banyak sebelum melanjutkan ucapanku, hal ini benar-benar membuatku gugup.

"apa . . apa arti diriku untukmu?"

Hening. Untuk beberapa saat Kyungsoo hanya terdiam menatapku.

Aku telah terlanjur menanyakan tentang hal ini jadi mau tidak mau aku juga harus siap mendengar jawaban apa yang akan keluar dari bibir indahnya.

Aku telah merasa lelah jika terus berharap.

Kyungsoo menangkup kedua pipiku lantas memperkecil jarak diantara kami. Aku spontan memejamkan kedua mataku saat merasakan kelembutan bibirnya menyentuh dahiku.

" kau orang yang paling berharga. Sahabat terbaik yang pernah kukenal"

Aku menepis kedua tangannya dari wajahku.

"hanya sahabat?"

"tentu saja, memangnya apa lagi?" jawabnya mantap.

Tes!

Satu butir

Tes!

Dua butir

"Aram kenapa menangis? Ba-bagian mana yang sakit?"

Aku mengusap kasar wajahku yang kini telah basah oleh air mata. Memalukan, kenapa harus menangis di depan Kyungsoo?

Tapi lebih memalukan lagi jika mengingat seberapa besar aku pernah berharap padanya selama ini.

"go-gomawo telah memberikan kepastian"

Aku berlari meninggalkannya. Aku malu, sangat malu.

Yang kuinginkan sekarang hanyalah cepat sampai ke rumah dan membenamkan wajahku ke bantal.

"ARAM KAU KENAPA?"

Kyungsoo menarik kasar tangan kananku setelah berhasil mengejarku.

"berhenti menangis! Kau membuat hatiku juga ikut terluka"

Ibu jari tangannya tak henti mengusap air mataku. Dia hendak merengkuhku dalam pelukannya namun aku menolak.

"tolong bi-biarkan aku sendiri"

Kyungsoo tak melepaskan pegangan tangannya, tetap memandang sendu padaku. Meminta penjelasan atas apa yang telah menyebabkanku menangis.

"kumohooooon, biarkan aku pergi" pintaku memelas.

Perlahan kurasakan pegangan tangannya mengendur membuatku bisa langsung melepaskan diri dan berlari meninggalkannya.

.

.

Byun P.O.V

Pagi ini mereka semua menatapku seperti kemari-kemarin, namun entah hanya perasaanku saja atau memang benar tapi tatapan mereka kali ini terasa lain.

Biasanya mereka akan menatapku dengan kagum dan mata yang berbintang-bintang, oke aku memang namja keren paling populer di sekolah jadi hal itu wajar.

Tapi kali ini mereka menatapku dengan tatapan yang eeergh . . .jijik mungkin?

Apa yang salah denganku?

Aku mengecek bajuku, rambutku, bau badanku dan segala hal yang ada di tubuhku. Sempurna seperti biasanya lantas apa yang salah?

"good morning teman-teman!" teriakku ceria saat memasuki kelas.

Mereka terdiam menatapku lantas kembali melanjutkan aktivitasnya seakan tidak pernah menganggap kehadiranku.

Aku menghampiri tempat dudukku dimana sudah ada Jongin, teman sebangkuku ini juga ikut memangangiku dengan aneh.

"sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semua orang melihatku dengan tatapan aneh?"

Tanyaku.

"aku percaya jika kau tidak seperti yang mereka kira Baekhyun" jawab Jongin serius.

"apanya?"

Jongin mengambil koran sekolah yang disembunyikannya di belakang punggung. Memperlihatkan padaku artikel utama dari koran mingguan itu.

'BYUN BAEKHYUN AND PARK CHANYEOL ARE DATING?'

Serasa di sambar petir kurebut koran yang memuat berita tentangku dan Chanyeol. Disitu juga terdapat foto kami berdua yang tengah bergandengan tangan di depan Planetarium.

What The %a*"

Sekarang juga akan kubakar ketua redaksi beserta semua staff koran sekolah.

~~~~~ToBeContinued~~~~~

RnR pleaseee~ :D