Disclaimer © Masashi Kishimoto
This fic is mine
Rated © T
Warning © OOC berkepanjangan, Bahasa nggak baku, alur secepat kecepatan cahaya, typo tak kasat mata dan teman-temannya.
Summary © Status jomblo dan malam minggu yang tak dirindukan membuat Sasuke, Gaara, Shikamaru, Naruto, Sai dan Kiba melakukan perjalanan di akhir pekan, bagaimana kisah perjalanan absurd mereka?
Note © Hanya ff samvah yang ingin sekedar menghibur :v/Banyak scene nggak penting dan garing banget! Daripada dongkol, mending klik tombol back aja kaka :v
Nb © sebagian cerita diadopsi dari kartun legendaris 'Dora The Explorer'
Don't Like Don't Read
.
.
.
Ngetrip
Chapter 3
.
.
.
"Kita-kita pengen ke Kampung Rambutan Runtuh. Gue lewat jalan mana dan pake perahu yang mana?" setdahh, Naruto to the point.
"Katakan petaa... katakan petaaa...!" seru Tobi dan Deidara bersamaan.
"Oh, Tuhaann... apa lagi ini..."
"Eh, bukan petaaa... tapi katakan 'Tobi'.." yang bertopeng lolipop, Tobi, menyadarkan rekannya, Deidara.
"Eh, iya ding. Gue lupa..."
Sementara Tobi dan Deidara berdebat persoalan 'katakan peta' atau 'katakan Tobi', Sasuke dan yang lainnya saling pandang sambil berdoa 'Tunjukkanlah kami jalan yang benar, bukan jalan orang-orang yang bikin nyasar dan bukan pula jalan mereka yang sesat'
"Kok diem...?" Deidara menyibakkan rambut pirangnya yang dikuncir sambil ber-wink ria kepada Gaara, kalo di anime-anime nih ya pasti di sekeliling Deidara bertebaran semacam bunga kembang tujuh rupa dan efek-efek bercahaya.
"Sstt.. dia ngeliatin lo tuh.." Sasuke nyenggol Gaara tanpa mengalihkan pandangannya dari Deidara yang semakin berpose menjijikkan.
"Nggak ah, perasaan lo aja kali.." Gaara memperbaiki rambutnya, nggak dipungkiri doi merasa grogi dipandangi oleh Deidara.
"MAHO detected..." Sai geleng-geleng kepala merasakan aliran-aliran listrik antara Gaara dan Deidara.
"Namanya siapaa nih..." Deidara melangkah keluar dari POS TobiDei berjalan mendekati Gaara.
"Haa.. haa... Gu-gue?" Gaara menunjukk dirinya sendiri saat mendapati Deidara berdiri dihadapannya.
"Hu'uummm..." Deidara mengangguk dan tetap memainkan rambut pirangnya dan entah mengapa doi semakin terlihat seperti ulat bulu. Gatel!
"Wah.. ada apaan nih, Bang!" Naruto maju berdiri disamping Gaara, memberikan perlindungan kepada Gaara dari godaan syeitan yang terkutuk. Tangan kiri Naruto merangkul leher Gaara.
"Ihhh..~ kok manggil Abang sihh.." kata Deidara sok manja, tak lupa jari telunjuknya ia daratkan (?) di dada Naruto.
"Jangan pegang-pegang dong, Bang..! Pelecehan ini namanya..." dan sialnya, Shikamaru pun ikutan bego.
"Abisnya adek yang satu ini ngegemessin sih..." Deidara tetap maju tak gentar memandangi Gaara.
"Man, elo emang ganteng. Tapi percuma elo ganteng kalo pacar elo nggak kalah ganteng juga.." lagi-lagi, Sasuke berbisik ke Gaara yang bikin Gaara pengen dilahirkan kembali dengan tampang yang biasa-biasa aja.
'Lo enak jelek. Ada alasan buat jomblo. Lah, gue? Cowok aja jatuh cinta ke gue.. resiko orang ganteng lah.' batin Gaara memandang Deidara yang tetap nekat ingin tahu namanya.
Ada yang nyari Kiba?
"Menurut analisa gue, ternyata selama ini gue salah gaul dengan semacam spesies yang ada di depan sana" Kiba duduk unyu diatas ranselnya sambil mengusap-usap dagunya. Sok mikir sambil menganalisa temannya satu per satu.
"Mbak Deidara... clue-nya gimana nih? Katakan petaaa... atau katakan Tobi?" Sai membelah kemesraan Naruto dan Gaara, menyadarkan Deidara dari ilusi ketamvanan Gaara.
Bersyukurlah punya teman seorang mahasiswa Seni semacam Sai, naluri dan instingnya kuat banget. Terbukti dengan santainya ia memanggil Deidara dengan panggilan 'Mbak' sementara dari tampang dan bodi, keliatan banget si Deidara ini tipe 'batangan'.
"Ah, baiklah..." Deidara menghembuskan nafas berat.
"KATAKAN TOBI..!" seru Deidara yang lebih cocok dikatakan 'jeritan'.
"Maksudnya...?" Sasuke cengo.
"Apanya yang maksudnya gimana...?" Naruto bingung dan memberikan pertanyaan yang sama sekali jauh dari kalimat tanya yang baik.
"Gimana apanya yang dimaksud?" Shikamaru meminta penjelasan dari Sai.
"Apanya yang kenapa sih..?" Sai nggak kalah bingung, memandang ke belakang tempat Kiba bertengger. Kiba pun maju mengambil barisan.
"Gue nyimak aja deh.." Kiba nyari aman.
"Yaeellaahhh... Masa kecil kalian pada nggak bahagia ya?" Uhhuuyy, Gaara bersuara juga akhirnya.
"Makanya jangan sinetron mulu yang kalian nonton, pernah nonton Dona the explorer nggak sih?" lanjut Gaara,
"DONA THE EXPLORER?" yang lain bersahut-sahutan.
"Intinya lo lo pada nurut aja. Kalo doi ngomong 'katakan Tobi' berarti kalian harus manggil tuh orang yang namanya Tobi. Ngerti nggak?" Gaara memandang satu per satu temannya.
"Ohh... gitu..."
"KATAKAN TOBI...!" Mbak Deidara kembali berteriak.
"TOBI...!" sesuai dengan instruksi Gaara, yang lain pake jurus 'nurut aja' untuk cari aman.
"Katakan sekali lagi...~" perintah Deidara sambil mengacungkan cari telunjuknya.
"TTOOBBIII..!"
"Ayo katakan bersamaku..." tiba-tiba Deidara mendapatkan pom pom yang ia gerakkan kesana kemari.
"TOOBIIIIIII...!"
"Lebih keraaass..." Mbak Deidara mulai ngeselin.
"TOBIII...!"
Sasuke udah ngipas-ngipas diri saking gerahnya, Naruto mengusap air matanya mulai terharu, Kiba mengambil air minum untuk membasuh tenggorokannya yang udah kering meneriakkan nama Tobi, Sai tetap senyum sementara suara hatinya tetap memanggil Tobi, Shikamaru tampak memejamkan mata sambil mengepal tangannya dan Gaara? ah, nggak usah ditanya, Gaara mah anaknya apa-apa 'dibikin asik aja'
"Ayoo... Katakan sekali lagi..." Deidara meloncat-loncat kecil.
"TTOOBIIIIIII...!"
"Aku tak bisa mendengarmu..." Deidara menyimpan tangannya di telinga kirinya, seolah tak mendengar suara 6 anak muda yang sebenarnya suara mereka udah bisa bangunin sahur orang satu kelurahan.
"LO BUDEG ATO GIMANA...? MAKANYA PUNYA RAMBUT JANGAN DIGONRONGIN...!" Shikamaru emosi tapi ditahan oleh Sai di sampingnya.
"Tahan man... tahan...! Cobaan hidup emang berat" Sai menahan lengan Shikamaru.
"Lagian elo kan gonrong juga..." Kiba menyadarkan Shikamaru.
"Sorry, gue khilaf dan lupa kalo rambut gue juga gonrong..." Shikamaru kembali tenang.
Jika kau mencari tempat, akulah orang yang tepat... AKU TOBI.
Jika kau mencari lokasi, akulah orang yang kau cari... AKU TOBI..
Aku Tobi... Aku Tobi... Aku Tobi..
Aku Tobi... Aku Tobi.. Aku Tobi..
Aku Tobi... Aku Tobi...
Aku Tobi...
AKU TOBII... YEAAAHHH!
"Iyee.. iye.. elo Tobi..." Naruto tak kuasa menahan kata-kata yang tertahan di bibirnya saat melihat sesosok pria bertopeng menari-nari dengan asyik tanpa musik sedikit pun.
"HAAAIII... AKU TOBIII...!" yang bernama Tobi say hello.
"IYA, TADI KAN GUE UDAH BILANG ELO EMANG TOBI, YANG BILANG ELO EMAK GUE, SIAPAA...?!" kali ini Naruto yang seolah ingin maju menghajar Tobi.
"Sabar, maann.. Sabar..." Gaara mengusap-usap punggung Naruto.
"Sekumpulan cowok nyasar mau ke Kampung Rambutan Runtuh tapi tidak tau arahhh..." kata Tobi dengan suara sumringah.
'Nyinggung amat kata-katanya...' Sasuke mengerutkan kening.
"Jadi, katakan pada Nagato..." Tobi mengacungkan jari telunjuknya.
"Lah, Nagato siapa lagi tuh?" Kiba nanya ke Shikamaru.
"Mana gue tahu, lo pikir gue penduduk sekitar sini?" waduh, hold on,boys. Shikamaru lagi sensi nih.
"Inget tuh namanya, Nagato..." Gaara meminta Sasuke untuk mengingat nama Nagato.
"Iya, bakalan gue inget. Tenang aja..." kata Sasuke disertai cap jempol.
"Untuk ke Kampung Rambutan Runtuh, kalian harus melewati Jembatan, Persimpangan Sungai dan Gunung tertinggi..." Lanjut Tobi.
"Jembatan, persimpangan sungai dan gunung tertinggi... oke sip" Ucap Sai, yakin.
"Jadi, katakan pada Nagato... Jembatannnn... Persimpangan Sungai... Gunung Tertinggi..."
"Iya, kurap. Gue inget kok...!" Kiba pun merasa diremehkan. Jangankan Jembatan, Persimpangan Sungai dan Gunung Tertinggi, kata-kata terakhir mantannya yang minta putus dua tahun lalu pun masih doi inget. Jelas-jelas kata-kata cewek itu kalo di print lebih mirip tugas akhir semester, saking banyaknya salah si Kiba sampe harus diputusin.
"Ayo, katakan bersamaku... JEMBATAANNN...!"
"Jembatan...~" Sasuke udah loyo banget. Gaara juga udah mulai risih.
"PERSIMPANGAN SUNGAAAIII..."
"Persimpangan sungai...~" Naruto manyun dan Sai udah mulai mengeluarkan aura membunuh.
"GUNUNG TERTINGGI...!
"Udah ya. Gue dan temen-temen gue udah inget. Bye Maksimal..." Shikamaru mengangkat ranselnya, diikuti oleh temen-temennya yang lain.
Tak ingin berlama-lama dengan kegilaan Deidara dan Tobi, mereka berenam menyusuri jalan setapak menuju dermaga yang penuh dengan jejeran rakit bambu dengan atap daun (apa gitu gue lupa namanya) yang warnanya coklat, di sisi kiri dan kanan rakit tersebut terdapat tempat duduk yang juga terbuat dari bambu.
"Nah, itu dia..." Kiba mempercepat langkahnya.
.
.
.
Keenam anak muda yang nyasar tersebut terkagum-kagum sesampainya di sungai, bayangin aja dari ujung sini sampe ujung sana sejauh mata memandang hanya ada rakit bambu, tak ada mantan yang minta balikan dan tak ada gebetan yang peka.
"Kami nyari yang namanya Nagato..." ucap Sasuke pada seorang pria dengan sisiran rambut rapi ke belakang, style cowok 80-an gitu deh tapi teguran Sasuke nggak digubris.
"Mas... Mas... budeg ya?" panggil Kiba dengan santainya.
"Lagi baca apa sih? Asik banget kayaknya..." ucap Naruto heran nggak dipeduliin. Cieee... ada yang nggak dipeduliin ciiiyeeee...
"Baca buku porno 'kan? Hayo lohhh... ngakuu...!" kata Gaara nunjuk-nunjuk buku yang dibaca oleh seseorang dengan papan nama yang bertuliskan-
'Hidan...' kata Shikamaru memandang dada Hidan,
"Hmmm..." Hidan menghentikan aktifitas bacanya begitu mendengar pernyataan Gaara. Tuh kan, gue bilang juga apa. Gaara sekali ngomong tuh... nggak mungkin nggak dipeduliin.
"Semoga Dewa Jashin mengampunimu anak muda, kau telah menuduhku dengan tuduhanmu yang menyakiti hatiku..." Hidan menutup bukunya.
"Elo sih,..." Sai mendorong bahu Gaara.
"Yaelah, gue kan cuma spontan.." Gaara membela diri.
"Ada yang menyebut namaku..." sesosok pria muncul dengan suara berat, wajah super aneh nan kriminal, -menurut Naruto-, bayangin aja man.. pierching dimana-dimana... di hidung, dagu, telinga... ni orang kerjanya apa nih. Kok sangar gini. Bisa jadi yang namanya Nagato premannya Dermaga Akatsuki.
'Kok gue yang ngilu ngeliatnya...' Kiba geleng-geleng.
"Abang yang namanya Nagato, ya?" Sasuke menjabat tangan Nagato.
"Hmm..." Nagato mengangguk dengan tatapan mata yang tajam.
Sasuke memperkenalkan diri, disusul temen-temennya yang lain. Sai kemudian menceritakan pertemuannya dengan Tobi dan Deidara yang mungkin pasien Rumah Sakit Jiwa yang melarikan diri.
"Yoroshiku..." mereka membungkuk sopan pada Nagato. Baru kali ini mereka nemu orang yang sedikit waras di lokasi ini, yah meskipun tampilannya sangar punya tapi its okay lah ya.
"Baiklah..." Nagato meraih sesuatu yang tergantung di punggungnya.
Nagato membuka resleting benda panjang tersebut. Jangan salah paham, nyet. Jadi ceritanya di punggung Nagato itu ada sesuatu yang panjang yang disarungin (?). Tuh kan, makin salah paham aja.
Ternyata sebuah dayung.
"Ayo... kawanku... ayo kita pergi... ayo kita kesana kuyakin kita bisaaaa..." Nagato mengangkat dayung hitamnya tinggi-tinggi dan bernyanyi bahagia menuju tepi sungai. Jangan tanya Sasuke dan yang lainnya gimana, shock banget lah. Masa bodi kekar ditambah pierching di seluruh wajah nyanyi lagu-lagu unyu sih.
Dan ternyata, Nagato adalah seorang nahkoda rakit.
"Pelajaran penting kali ini... Don't judge the book by its cover" Shikamaru melangkah mengekor di belakang Nagato yang bergerak riang kesana kemari,
"Mau kemana kitaaaa...?" seru Nagato dengan senyum lebar memandang ke belakang, ke sekumpulan cowok yang telah salah menilai dirinya *yaellaaaahhh...
"Kampung Durian Runtuh..." ucap mereka pelan.
"Mau kemana kitaaaa...?" Nagato makin bersemangat.
"Au ah, gelap..."
"Welcommeee to my paraadiiiseeee..." Nagato mempersilahkan keenam anak muda penumpang rakitnya untuk mengambil posisi. Posisi duduk maksudnya.
Bangku bambu di rakit ini saling berhadap-hadapan. Sasuke mengambil bangku sebelah kiri posisi paling ujung, diikuti Sai dan Shikamaru, sedangkan Kiba mengambil bangku sebelah kanan disusul Gaara dan Naruto yang saling tatap.
"Gue tengah..." sahut Gaara seakan ngerti permasalahan diantara mereka berdua.
"Gue ah..." Tuh kan, gue bilang juga apa. Pasti masalah tengah dan pinggir. Tempat duduk, maksudnya.
"Pokoknya gue..." Naruto langsung chop disamping Kiba, sementara Gaara harus dengan ikhlas menerima kenyataan doi harus duduk di tepian (?) sambil bernyanyi dalam hati.
Mengapa selalu aku yang mengalaaahhhh...~
Tak pernah kah kau berpikir, sedikit tentang hatiku...
"Baiklah, sebelum kita mulai pelayaran kita. Ada baiknya kita berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing..." Nagato menundukkan kepala.
Naruto mengedarkan pandangannya memandang rakit menyedihkan dengan desain yang sungguh apa adanya banget, doi mendapati sebuah tulisan 'Tampang boleh preman tapi hati tetep ingat Tuhan'. Pasti slogan dan prinsip hidupnya Nagato, nih.
Nagato telah membawa rakit yang ia beri nama "Konan" (sang istri tercinta) menyusuri Sungai Terpanjang di Kampung Salak Runtuh, nggak butuh survei atau apa pun yang sifatnya ribet untuk menentukan sungai terpanjang ini, emang dasarnya aja sungai ini sungai satu-satunya di Kampung Salak Runtuh.
Arus sungai sangat tenang, di tepi sungai terdapat hutan lebat dan tak ada tanda-tanda aktifitas manusia sedikit pun.
"Ih, kok gue ngeri sendiri sih. Berasa di pilem pilem apa gitu..." Ah, Shikamaru, potong rambut sono. Jangan malu-maluin gonrong lah. Masa sungai tenang adem aman damai dan sejahtera rukun nan akur gini dibilang ngeri.
"Punya pelampung dan sejenisnya kan, Bang?" maklumlah, Gaara kan nggak bisa berenang, wajar nyari-nyari properti keselamatan. Menurut Gaara, bukan cuma iklan kondom yang kudu 'Safety can be fun', doi juga harus Safety biar Fun.
"Ada, tuh jerigen gede tuh..." jawab Nagato berdiri di garda depan rakit.
"Ah, kalo situasinya gini... gue jadi keinget Anakonda nih..." sahut Naruto memandang sekeliling.
"Jangan ngomong yang serem-serem dong, ucapan adalah doa" Kiba mengingatkan Naruto biar nggak takabbur.
"Anakonda versi gue beda kali..."
"Apaan emang?" Sai penasaran.
"Anakonda... Anak tetangga yang menggoda..."
Krik
Krik
Krik
"Kalo gue sih, lebih inget buaya..." Eh, si Sasuke angkat bicara.
"Aduhh, pada ngomong yang serem-serem..." Kiba mulai gelisah.
"Buaya versi lo apaan, man?" tanya Sai.
"Buaya itu ya kayak kita-kita ini..."
"Ah, gua ogah dibilang buaya. Gue anak baik-baik sama cewek..." Shikamaru nolak disebut buaya.
"Buaya versi gue adalah kepanjangan dari Bukan Anak Muda Biyasa..."
Krik
Krik
Krik
Bener juga sih. Bukan anak muda biasa. Mana ada anak muda yang bawaannya sial mulu nyasar sana sini.
Tiba-tiba Nagato menurunkan bambu panjang sebagai penahan rakitnya.
"Ada apaan, Bang? Jangan bilang beneran ada anakonda ato buaya..." Kiba panik melirik sana sini.
Nagato menghela nafas berat, membalikkan badannya memandang penumpangnya yang dari tadi nggak bisa diem.
"Marah ya, Bang...?" tanya Gaara yang ah gue nggak tahu gimana jelasinnya cowok yang satu ini.
"Kita berisik ya, Bang...?" Naruto pun ikut bertanya.
"APAKAH KALIAN MELIHAT JEMBATAAANNNN...?" sungguh diluar dugaan pemirsa. Nagato bertanya dengan semangat. Inget umur, Bang... inget umur...!
Mentang-mentang keasikan bahas Anakonda dan Buaya, mereka jadi lupa pesan Tobi.
"Itu disanaa...!" seru Shikamaru menunjuk jembatan gantung yang tak layak pakai, jembatan gantung peninggalan penjajah di zaman kuda makan pasir.
"Jembatan gede gitu kok masih nanya..." gumam Sai heran.
"Manaa... aku tak melihatnyyaaa..." ah, jago main teater nih si Nagato.
"Itu.. disono...!" tunjuk Sasuke, jengkel.
"Bagian manaaa...?" Nagato masih sok nyari jembatan.
Gaara melangkah dari tempat duduknya mendekati Nagato, Gaara memutar kepala Nagato menghadap jembatan.
"Itu disono... sekali lagi Abang nanya, kita-kita bakalan jorokin Abang ke sungai..." ancam Gaara yang sukses membuat Nagato bungkam.
"Ah, benar... itu disanaaa..." ah, sok sadar nih si Nagato.
"Hebat juga lo..." Shikamaru ber-high five dengan Gaara sebelum Gaara kembali ke singgasana sederhana miliknya.
Si Konan, -rakit maksudnya- kembali mengikuti kemana arus sungai membawanya, berharap akan sampai pada pelabuhan yang tepat dan disambut oleh orang yang tepat *apaansih.
"SMS gebetaaan aahhh...~" Sai mengeluarkan Iphone-nya, berniat mengusir sepi dengan cara SMS-an bareng gebetan.
"Emang elo punya?" tanya Sasuke mencibir.
"Wih, jangan salah. Gue adalah salah satu cowok most wanted di fakultas Seni dan menjadi cowok idaman mertua satu-satunya di jurusan gue, jurusan Seni Rupa..." Sai membuka lock-screen Iphonenya dan mencari nama Yamanaka Ino, anak fakultas tetangga, fakultas Hukum, jurusan Hukum Adminstrasi Negara. Sai mengetik pesan dan mengirimnya.
"Kok nggak ada balesannya?" tanya Kiba nggak rela kalo Sai punya gebetan. Bukan masalah Kiba naksir dan cemburu sama Sai. Nggak enak aja gitu, kalo kita kosong tapi temen kita punya gebetan.
Kosong? Rumah kosong aja ada hantunya... masa hati kamu kosong nggak ada apa-apanya sih... *eah.
"Perlu kalian inget... ada yang namanya statistik ngirim pesan.." Sasuke menyela.
"Statistik ngirim pesan..?" yang lain membeo.
"Iya, statistik ngirim pesan diliat dari waktunya..." lanjut Sasuke.
"Coba jelaskan dan berikan contoh...!" Gaara nggak sabaran.
"Kalo dia balesnya 1 menit artinya dia suka sama lo..."
"5 menit, dia agak suka sama lo..."
"10 menit, mungkin dia bakalan suka sama elo... someday"
"30 menit... dia agak nggak suka sama lo..."
"24 jam... dia nggak suka sama lo.."
"Sebulan... oke fix, jangan deketin lagi..."
"Setahun...? Mending lo mati aja, man..." Sasuke mengakhiri penejlasannya tentang 'statistika ngirim pesan berdasarkan waktu' sambil menepuk pundak Sai. Temen-temennya yang lain ngangguk-ngangguk menyimak.
"Wah, masih nggak ada balesannya..." Shikamaru memandang Iphone Sai yang sesuai dengan kriteria hape-nya jomblo. Kayak lampu kamar mandi gitu deh, nyala tapi nggak bunyi. Sai cuma manyun menerima kenyataan. Intinya, jangan dipaksain bahagia kalo emang nggak bahagia *apaan.
"Tapi tenang dulu, bro... kadang cewek nggak bales pesan kita karena beberapa alasan... gue merangkumnya menjadi 5 alasan" Naruto nyeletuk memberi secercah harapan pada Sai.
"Apaan tuh?" jangan tanya deh, yang kerjanya penasaran mulu pastinya Gaara, dongs.
"Alasan pertama, Dia cuma mau bikin elo galau..." Sai sedikit nyegir denger yang satu ini.
"Alasan kedua, Dia lagi sibuk..." Sai ngangguk-ngangguk denger Naruto ngoceh.
"Alasan ketiga, ada yang lebih asik dari elo..." Sai mulai suram..
"Ciyee.. yang nggak asik ciyeee..." Gaara colek-colek Sai pake kakinya.
"Elo kok nggak tahu suasana sih, ini bukan sesuatu untuk di 'ciyee'-in" Kiba mendiamkan Gaara.
"Alasan keempat... lo cuma figuran dalam hidupnya..." Sai semakin loyo.
"Alasan kelima... elo jelek..!" kata Naruto santai kayak di pantai dan selow kayak lagu melow.
"Lah, terus kira-kira gue yang mana?" Sai sebenernya meminta dukungan moral dari temen-temennya.
"Alasan kelima lah, karena elo jelek..." tapi apa ada daya, (Sai kamu nggak jeleekk kokkkk !)
"Sabar ah, mungkin engkau bukan takdirnya, mungkin bukan pula jodohnya... " Shikamaru menenangkan Sai yang bersandar galau di bahunya.
Gaara penasaran, lagi lagi penasaran dan nggak jarang bikin penasaran. Doi meraih Iphone Sai yang terletak tak berdaya dalam dekapan lemah tangan Sai.
"Kayaknya ada 6 alasan SMS elo nggak dibales..." Gaara memandang intensif pada layar hempong (?) Sai.
"Alasan keenam apa?" tanya Naruto yang merasa surveinya terbantahkan oleh Gaara.
"Sinyal hape elo ilang, bego!" Gaara mengembalikan Iphone milik Sai. Sai bangkit penuh harapan memandang hapenya. Ternyata emang sinyalnya ilang.
"Ah, udah... Iphone elo baru aja menangin rekor muri sebagai tempat paling sepi di negeri ini..." Sasuke tetap gencar ngeledekin Sai.
Ngomong-ngomong, kok Nagato, sang Nahkoda kita dikacangin sih?
"Bang, masih jauh nggak, Bang?" tanya Shikamaru nggak sabaran.
"Yaelah, rakit ini kecepatannya cuma 20 km/jam..." wih, canggih juga nih rakit, ada speed-meter nya juga.
"Ah, panas banget... baru juga jam segini..." Naruto kipas-kipas diri.
"Ujan kek, gerimis gitu... biar ademan dikit..."
Baru aja beberapa detik berselang setelah Gaara menyelesaikan kalimatnya, langit biru cerah tiba-tiba diselimuti oleh awan hitam yang tiba-tiba menebal.
"Kok gelap..." Sasuke panik.
"Jangan-jangan,, gerhana matahari..." Oke. Kiba ngaco.
"Mau ujaan..." Sai melupakan kegalauannya dan lebih memilih memandang langit yang tiba-tiba mendung semendung hatinya.
"Ah, lo sih... ngomongnya yang nggak-nggak mulu..." Sasuke menyalahkan Gaara.
"Kok gue mulu sih... bukan salah gue dong, gue emang agamis anaknya. Nggak heran kalo diem-diem Tuhan nge-notice kata-kata gue..." ethdaaaahhhh...
Langit mulai menumpahkan tetes demi tetes air hujan yang memberikan kehidupan bagi semesta alam. Awalnya sih, gerimis tapi lama kelamaan kok makin deres yaa...
"Wah, ujan..." gumam Nagato masuk ke tengah-tengah penumpangnya untuk berteduh.
"Yakali, Bang, yang bilang badai pasir siapa..." ini Shikamaru ada dendam apa sama Bang Nagato.
Chhhhuuurrr...
Aliran air tiba-tiba jatuh tepat di atas Kiba dan akhirnya Kiba memasuki zona 'basah...basah..basah.. seluruh tubuh..ah...ah ah... mandi ujan'
"Boocchooorrr... bochooorrr..." sahut Gaara memandang Kiba yang panik dengan air hujan yang tiba-tiba nongol dan membasahi Kiba.
"Wah, bocor nih, Bang..." tambah Gaara yang tidak berniat membantu Kiba.
"Pakein cat No Dr*p dong Bang, biar nggak bocor..." Naruto memandang atap yang terbuat dari dedaunan kering.. kalo dipikir-pikir... mana bisa dipakein cat anti bocor.
"Iya yaa, besok-besok dicoba. Makasih sarannya..." ini yang bego siapa sebenernya...-_-
"Gimana nih... gue basah.." Kiba masih panik sendiri. Sai melirik kesana kemari mencari penghidupan untuk Kiba.
"Nih..." Sai menyodorkan sesuatu.
"Kenapa lo ngasih panci ke gue?" tanya Kiba heran, Kiba mah bukan tukang masak, masa dikasi panci.
"Lo pilih basah atau apa? Pake ini buat nampung airnya..." Sai tetap memaksa Kiba menerima panci tersebut.
"Nggak apa apa nih, Bang?" Shikamaru meminta persetujuan Nagato untuk menggunakan panci, Nagato mengangguk.
Pernah denger teori Determinisme Lingkungan? Ya, suatu teori yang menyatakan bahwa lingkunganlah yang mempengaruhi tindakan manusia. Kiba misalnya, atap bocor tepat di atas kepalanya, jadi mau nggak mau dia harus naruh panci tepat diatas kepalanya juga. Semacam...ah bayangin aja sendiri.
Seakan tidak puas dengan hanya mengerjai Kiba, kali ini atap bocor pun mengenai Sasuke dan Sai.
"Waduuhhh... disini jugaaa..." Sai kaget tiba-tiba ada sensasi basah (?) dari atasnya.
"Yaelah... ngerepotin aja deh..." Gaara merogoh ransel besarnya.
Gaara mengeluarkan satu per satu barang bawaannya, ada kulkas, lemari pakaian, tabung gas, sapu beserta pelnya dan sebuah... payung.
"Itu buat apaan?" tanya Sasuke mulai bego saat menerima payung kuning bermotif Spongebob dari Gaara.
"Ya biar nggak kehujanan lah. Mana ada sejarahnya payung dipake mancing ikan..." Sasuke dan Sai nurut aja, kalo diliat-liat Sai dan Sasuke mesra juga yah satu payung berdua. Gue iri -_-
"Cucuran airnya ngenain gue nih..." ujar Shikamaru yang mendapat imbas cucuran air hujan dari payung yang digunakan Sai dan Sasuke. Shikamaru nggak mau ganggu ketenangan Sasuke dan Sai yang berada dalam naungan lindungan payung, lebih baik doi ngeluarin sesuatu yang bisa melinduginya dari hujan.
Yap. Jas hujan.
"Tumben elo dan gue nggak kena..." gumam Naruto heran memandang Gaara, gimana nggak heran? Kemarin-kemarin ada apa-apa pasti semua kena. Terus sekarang? Hanya ada pemandangan Kiba yang pegel nahan panci di kepalanya, lebih mirip ibu-ibu yang ngangkut air dari sumur, Sasuke dan Sai dengan mesranya satu payung berdua dan Shikamaru yang kepanasan mengenakan jas hujan.
BYUUURRRR...
Si Konan (rakit ya) tersentak kaget menerima guncangan arus sungai yang tiba-tiba deras. Angin semakin kencang, rakit yang tadinya berkecepatan 20 km/jam, sekarang lebih terasa seperti kecepatan ngocehnya emak kalo lagi marah, iya, 250 km/jam, ceepeet bangeeeet.
Sasuke dan Sai harus mati-matian menahan agar payung yang mereka pake nggak terbang kebawa angin.
"Itu payung kesayangan gue..." nggak tega juga kalo udah ngeliat Gaara masang tampang melas gitu.
"Bang, gimana nih, bang... kalo rakitnya kebalik temen kita ada yang nggak bisa benerang, Bang..." Shikamaru mengkhawatirkan Gaara. Nggak berapa lama, dipangkuan Gaara udah ada jerigen gede yang bakalan digunakan sebagai pelampung. Safety can be fun tapi kadang nggak juga sih.
"Tenang... pemirsa... everything's gonna be alright.." wih canggih juga nih Nagato.
"Mau kemana, Bang?" tanya Naruto saat melihat Nagato melangkah menuju garda depan rakit.
"Biar rakitnya nggak terbalik.." dengan gagah berani, Nagato melangkah meraih bambu panjang.
"Jangaaan, Bang... bahaya...!" seru Sasuke.
"Hyyyaaaatttt...!"
Nagato menancapkan bambu ke sungai dan hasilnya...
"BAANNG NAGAATTOOOOOO...!" nggak tahu kenapa, bambunya berdiri tegap di sungai dan Nagato nyangkut di bambu itu, sementara rakit yang larinya kenceng banget seakan nggak nunggu Nagato.
"JANGAN MATI BAAANNGGG...!" Sasuke merampas jerigen dipangkuan Gaara dan melemparkannya pada Nagato, Nagato dengan sigap menangkap jeringen tersebut.
"BAAAANNNG NAGAAATOOOOOO...!" lagi-lagi mereka berteriak melihat Nagato yang terombang ambing di sungai, arus sungai yang deras membawa mereka semakin jauh dari Nagato,
"Let it ggooooo...~ Let it gooo... " Gaara tiba-tiba menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh Demi Lovato, lagi-lagi... tontonannya Gaara ketahuan banget apaan.
Mereka semakin jauh dari Nagato dan nggak tahu kenapa... pokoknya nggak tahu kenapa, tiba-tiba hujan derasnya berenti, angin kencengnya berubah jadi adem dan si Konan berjalan normal dengan kecepatan 20 km/jam.
"Ha?" Shikamaru heran.
"Udah berenti?" Kiba menurunkan panci dari kepalanya, ngomong-ngomong tangan doi pegel gila, man.
"Terus Bang Nagato gimana?" Sasuke menurunkan payung Spongebob milik Gaara.
"Kalo ujannya tiba-tiba berenti gini, gue yakin dia baik-baik aja..." Sai ber-positive thingking.
"Tapi beda lagi ceritanya kalo di sungai ini beneran ada Anakonda atau Buayanya.." lanjut Naruto.
Mereka membereskan diri mereka yang tadinya berantakan kini semakin terlihat berantakan. Kayaknya nih ya, Nagato nggak perlu repot-repot nge-No Dr*p-in rakitnya. Apanya yang mau dicat? Toh atapnya juga udah beterbangan tak tersisa tertiup angin.
"GAWAT NIH...!" Naruto panik.
"Di depan udah ada persimpangan sungai, kita pilih yang mana...?" Sai ikut memandang ke depan karena kalo memandang ke belakang rasanya sakit mengingat masa lalu yang memilukan.
"Emangnya kita bisa milih ya?" Sasuke mah adem aja.
"Ikutin maunya ni rakit aja, terserah deh ntar dia ke kiri atau ke kanan. Pokoknya mah terserah aja, udah..." Kiba pun tak kalah santainya karena mereka tahu-
"Paling ujung-ujungnya nyasar lagi..."
.
.
.
Si Konan ternyata lebih milih arus sungai yang ke kiri. Sasuke dkk, ngikut aja. Anak sungai yang mereka lewati terlihat lebih kecil dari sungai sebelumnya.
"Kalian nggak kepikiran buat naik ke darat?" celetuk Gaara.
"Di sekitar sini masih hutan..." Shikamaru memandang sekeliling.
"Terus kita berentinya pas kapan?" Naruto juga udah nggak bisa lama-lama berada di atas rakit.
"Pas negara api menyerang! Ya pas kita nemu ada perkampungan lah..." sahut Sasuke dengan sarkastik.
"Lagian Naruto kan cuma nanya, kenapa harus dimarahin gitu..." Gaara menepuk-nepuk bahu Naruto,
"Gue nggak abis pikir yah, kalian ada hubungan apa sih sebenernya?" Kiba memandang Naruto dan Gaara bergantian.
"Eh, Eh... liat tuhh... di depan ada bendungan irigasi sawah, berarti deket-deket sini ada pemukiman..." Yes, akhirnya keenceran otak Shikamaru telah dikembalikan setelah Yang Maha Kuasa merenggutnya untuk sementara waktu.
Rakit mereka semakin mendekati bendungan mini untuk pengairan pertanian tapi ada hal yang lebih menyita perhatian mereka ketimbang bendungan mini di hadapan mereka.
Apa itu?
Pemandangan cewek lagi nyuci.
Yeah. Seorang cewek berambut panjang lagi nyuci di pinggir kali. Cewek-cewek pedesaan, man...!
"HIINAATAAAAA-CHUUUAANNNN..." Kiba berteriak memanggil nama seseorang. Mungkin nama cewek yang lagi nyuci.
"Hinata?" Sasuke mencoba mengingat sesuatu.
Cewek yang namanya Hinata berhenti dari aktifitas kucek kuceknya, heran memandang sekumpulan anak muda di atas rakit yang nyaris hancur sekali tiup.
"Sok kenal lo..." Gaara ngejek Kiba.
"Nggak sotoy... itu cewek yang gue temuin di pasar tadi..."
"Hinata...? Cewek di pasar...?" Sasuke masih mikir.
Rakit mereka terhenti di bendungan. Mereka mengemasi barang mereka kemudian naik ke darat. Gaara boleh merasa hidup lepas dari sejenis air-airan. Namanya juga nggak bisa benerang, ketemu air kalo salah-salah ya see you in heaven.
Kiba memimpin jalan mendekati Hinata, Hinata yang melihat segerombolan lelaki mendekatinya meninggalkan cuciannya dan lebih memilih berdiri. Penampilannya aduhai banget vroh. Kemben selutut, yang artinya, bahu, lengan, dan kaki semuanya terekspos bebas. Namanya juga cewek-cewek desa, justru hal ini yang jadi daya tariknya –pikir Sasuke-.
"Kiba-kun?" ucap Hinata dengan suara lembutnya.
"Tuh kan, nggak sok kenal.." Kiba berbalik memberi konfirmasi kepada Gaara.
"Kenapa Kiba-kun disini? Bukannya mau ke Kampung Rambutan Runtuh ya?" tanya Hinata heran.
"Kita nya-"
"Nggak kok, Hinata-chan... kita-kita salah naik perahu tadi..." Sasuke membekap mulut Kiba, jangan malu-maluin lah kalo lagi nyasar.
"Ini tadi yang di pasar ya?" Sepertinya Hinata mengenali wajah tamvan nan menawan milik Sasuke.
"Ah, i-iyaa..." aduh, Sasuke cuma cowok normal yang bisa salting juga kalo diliatin sama cewek yang kostumnnya agak... ehm lah pokoknya.
"Kita bisa numpang di rumahnya Hinata-chan nggak?" Gaara, dengan tidak tahu malunya bertanya.
"Bisa kok tapi rumahnya sederhana sekali..." Hinata tahu persis, meski penampilan 6 cowok di depannya lagi super berantakan tapi keliatan kalo mereka dari kota. Cuma nggak enak aja kalo Hinata ngeluarin statement 'Sok jaim padahal nyasar'.
.
.
.
TBC
Yosh... selanjutnya, bagaimana kisah mereka di rumah Hinata?
Ada yang nungguin,?
See you next chap yah, gengs
