After the Honeymoon
(Remake by chronossoul)
VIXX Hongbin (GS) & VIXX Hyuk
Introducing:
Fabien Corbineau
BTOB Sungjae
VIXX Ken (GS)
VIXX Ravi
~ Chapter 03. Madness ~
"Oh! Hongbin… kamu sudah kembali?!"
Hongbin menoleh ke arah suara yang menyapanya. Ini hari pertama ia berangkat kantor dari rumah barunya, ternyata ia datang terlalu pagi. Kubikel di sekitarnya masi kosong dan suasana kantor tampak lengang. Pandangan Hongbin bertaut dengan mata milik Mr. Fabien. Sepagi ini, seniornya itu sudah datang. Mr. Fabien adalah salah satu senior yang disegani di kantor itu. Mungkin, karena Mr. Fabien sudah bekerja di perusahaan itu selama lebih dari 10 tahun. Mungkin juga karena ia orang asing. Ia ramah, tetapi jadi sangat berbeda jika sedang bekerja. Tidak ada yang berani membuat satu pun kesalahan jika bekerja dengannya.
Hongbin membungkuk memberikan salam dan memandang Mr. Fabien dengan kikuk.
"Iya, Mr. Fabien. Saya baru kembali dari honeymoon."
"Ah, ya… I can see that… kamu terlihat bersinar!" sahutnya sambil tersenyum memandangi wajah gosong Hongbin dan binary-binar cerah do mata perempuan itu.
"Thank's," jawab Hongbin sambil tersipu malu.
"Kamu ingat pembicaraan kita sebelum kamu pergi?" Mr. Fabien melanjutkan. Mereka masih berdiri. Hongbin mengangguk. Kini wajahya tampak resah.
"Big responsibility. Saya dengar para komisaris dan direktur sebentar lagi akan mengeksekusi rencana mereka. Saya harap kamu siap!" ujar Mr. Fabien sambil mengangguk, kemudian berjalan menuju ruangannya.
Pandangan mata Hongbin mengikuti langkah kaki Mr. Fabien yang menapak satu-satu di karpet. Dia menunggu hingga wangi kayu yang tercium dari Mr. Fabien menghilang, lalu barulah ia berani duduk kembali di meja kerjanya. Hongbin menyandarkan kepala di kursinya yang empuk.
Hfff.
Hongbin merasa resah. Ia belum menceritakan masalah ini kepala Hyuk. Sebelum Hongbin mengambil cuti untuk pernikahan kemarin, Mr. Fabien memberi tahu bahwa Hongbin akan mendapat promosi. Ia akan mengisi posisi manajer yang ditinggalkan seorang senior yang resign.
Tentu hal itu membuatnya senang. Posisi baru berarti tantangan baru. Dan, tentu saja, penghasilan baru yang jauh lebih besar. Namun, seiring dengan itu, ada pula tantangan baru yang harus ia terima. Hongbin sering melihat kalau tantangan besar membuat para manajer sering kerja lembur dan memiliki kesibukan yang menggila.
Padahal, dulu, Hongbin pernah bilang pada dirinya sendiri. Setelah menikah, ia ingin menjadi ibu rumah tangga. Dia hanya ingin mengurus rumah dan mungkin bisnis kecil-kecilan untuk mengisi waktu luang. Ia tidak ingin menderita di jalanan Seoul, berkutat dalam meeting, dan dikejar-kejar target. Ia tidak peduli pada kariernya. Kini, prioritasnya sudah berbeda. Hongbin sudah tidak menginginkan hal itu.
Tumpukan amplop berjejer di depan monitornya. Pasti petugas mail Room tidak mendapatkan pesan kalau ia sedang cuti berbulan madu, makanya surat-surat itu diletakkan begitu saja di meja. Sebelum membuka amplopnya, Hongbin sudah tahu, itu semua tagihan yang harus ia bayar. Tagihan telepon genggam, internet, dan kartu kredit. Ia membuka tagihannya satu per satu, menyusuri deretan angka-angka yang tertuang di dalamnya. Sekali lagi, dia mendesah. Mengapa tagihannya jadi sebanyak ini? Ia tidak ingat pernah menggunakan uangnya dengan cara sebrutal ini. Dan, mengapa ia bisa membeli lebih dari empat sepatu bulan ini?
Oh ya, it's the Seoul Great Sale! Ugh.
Hongbin mengingat-ingat lagi berapa tagihan yang harus ia bayar. Di antaranya, cicilan rumah, listrik, air, asuransi mobil, uang makan, dan uang bensin bulan ini. Belum lagi tagihan kartu kredit dan telepon milik suaminya.
Memang, Hyuk juga bekerja dan menghasilkan uang. Namun, gajinya yang tidak begitu besar—jika dibandingkan dengan gaji Hongbin itu—segera habis karena dibelikan gadget terbaru yang menarik perhatiannya. Ada saja alasan yang dibuat Hyuk untuk membeli barang-barang mewah tersebut. Akibatnya, Hyuk selalu kehabisan uang untuk kehidupan rumah tangga mereka. Hongbinlah yang akhirnya harus turun tangan mengeluarkan sejumlah uang untuk kebutuhan-kebutuhan mereka bersama.
Hongbin agak menyesal dari awal mereka tidak mebuat kesepakatan tentang keuangan. Ia pikir, cinta akan membuat segalanya lebih mudah, termasuk pembagian tanggung jawab urusan financial. Tidak perlu terlalu kaku, apalagi sampai membuat peraturan. Namun, ternyata dia terbukti salah. Sekarang, Hongbin merasakan beban berat yang harus ditanggungnya.
Sebenarnya, dia pernah mendebatkan hal ini dengan Hyuk. Namun, Hyuk malah bersikap defensive dan berkata kalau setelah menikah, uang sepasang suami dan istri menjadi lebur dan menjadi milik bersama. Hyuk berharap Hongbin memakluminya, karier dirinya belumlah secemerlang karier Hongbin. Hyuk kemudian mengingatkan Hongbin bahwa sewaktu akan menikah dulu, Hongbin tidak pernah keberatan akan jumlah gaji yang dimiliki Hyuk.
Hongbin menghembuskan napas berat.
Di smping tumpukan amplop tagihan, ada tumpukan lain yang membuat Hongbin kehilangan semangat. Tumpukan kertas-kertas berisi pekerjaan telah menghabiskan space meja kerjanya. Di atas tumpukan itu ada kerta post-it warna hijau terang dengan tulisan besar-besar, "HONGBIN, MEETING SENIN 10.00, WAR ROOM!"
Hongbin mengalihkan pandangan ke monitor komputernya. Saat memasukkan password, dan beberapa kali ia salah mengetik. Hampir saja ia lupa dengan password komputernya sendiri. Hongbin langsung mengecek e-mail. Dia melotot saat melihay inbox-nya terdapat 300 e-mail pekerjaan! Lagi-lagi, perempuan itu mendesah. Ia hanya pergi selama seminggu. Dan semuanya telah menjadi overwhelming. Ia menarik napas satu demi satu. Tiba-tiba, ia seperti kena Panic Attack.
Cepat-cepat, ia mengambil ponselnya dan mengetik SMS untuk Hyuk.
Gila kerjaanku! Numpuk!
Tagihan juga. Numpuk!
Hiks. Miss you.
Sent to: Hubby
"HONGBIN!"
Hongbin memutar bola matanya. Siapa lagi yang dapat menambah beban hidupnya?! Di depannya, berdiri seorang laki-laki berdasi biru dengan rambut yang dikeraskan dengan gel.
"Glad to have you back! Kebetuan, kita lagi kalang kabut banget buat nyelesaiin beberapa tugas. Kamu tahu kan, proye sebelum kamu honeymoon itu? Malam ini, proyek itu mau final dan mungkin kita akan stay di kantor sampai konsep kelar!" cerocos rekan kerja Hongbin yang mulai terdengar panjang.
Pelan-pelan, Hongbin seperti tenggelam dalam keheningan yang diciptakannya sendiri. Meski ia masih melihat mulut rekan kerjanya bergerak-gerak dan tangannya mengangkat dengan ekspresif, suara laki-laki itu terdengar jauh. Hari ini, hari pertama Hongbin masuk kantor, dan ia sudah harus lembur. Entah apa yang harus dia katakana pada Hyuk.
~ After the Honeymoon ~
"Oh… oke… nanti kabarin aku aja, ya? Love you…!" Hyuk meletakkan telepon genggamnya kembali ke meja. Hongbin baru saja menelepon untuk mengabarkan rencana lemburnya. Sejenak, Hyuk terdiam. Berarti, agenda membeli ponsel keluaran terbaru menjadi gagal. Tampaknya, mereka benar-benar telah menginjakkan kaki di realitas hidup saat keinginan tidak selamanya dapat terwujud.
"Istri tecinta, ya?" goda Sungjae yang sedang asyik menyantap makan siang di sebelahnya.
"Iya…" jawab Hyuk sambil menyeringai. "Mau lembur katanya…"
Sungjae dan Hyuk telah bersahabat sejak pertama kali mereka bertemu di lobi perusahaan itu. Waktu itu, dengan pertimbangan rasa solidaritas sebagai anak baru, mereka pun berkenalan dan bertukar pengalaman. Ternyata, mereka ditempatkan pada satu divisi dan mereka terus bersahabat hingga kini, saat Sungjae telah menjadi supervisor Hyuk.
Awalnya, Hyuk merasa sdikit tidak enak. Dalam hatinya, selalu bertanya-tanya, apa yang ada pada diri Sungjae yang tidak ditemukan pada dirinya? Secara kualitas pekerjaan, Hyuk merasa ia tidak kalah. Komitmen kerja Hyuk pun tidak perlu diragukan. Lalu… apa? menjadi staf biasa, terutama anak buah sahabat sendiri, bisa sangat berat dan menyakitkan. Namun, akhirnya, Hyuk mencoba menerima kenyataan itu dengan lebih santai. Toh, Sungjae tak sedikit pun berubah. Mereka tetaplah teman yang masih saling mencela di waktu luang dan menonton berita criminal bersama di saat makan siang.
"Jadi… gimana rasanya?" tanya Sungjae sambil terkekeh.
"Apa, sih? Rasanya apa?" Hyuk balik bertanya, dia menyendokkan nasi yang telah dicampur budae jjigae ke dalam mulutnya.
Beberpa orang wanita cantik melewati meja tempat duduk mereka di kantin. Mata Sungjae mengikuti langkah mereka sambil bersiul kecil.
"Alaaah, lo pura-pura nggak tau deh… itu loh… gimana rasanya malam pertama… gimana rasanya punya istri…?"
Lagi-lagi, Hyuk terdiam. Dai mengingat kembali malam pertamanya bersama Hongbin. Saat itu, semua terjadi dengan alami dan dalam keheningan kamar hotel. Tidak ada music klasik, tidak ada lilin, tidak ada harum aroma terapi, yang ada hanya mereka berdua dan kegelapan yang pekat. Hyuk bisa merasakan napas Hongbin yang teratur menerpa wajahnya. Dan, semua terjadi begitu saja. Perlahan, tapi pasti. Seperti dituntun menuju satu titik tuntas dan diikat dengan senyuman.
"Malam pertama? SERU BANGET! Gue nggak ngerti si Hongbin ngerti teknik-teknik itu dari mana. Sekedar informasi buat lo, ya… malam pertama gue tuh involving cambuk, borgol bulu-bulu pink, dan stiletto hitam!" ujar Hyuk berbohong. Dia bercerita dengan penuh semangat, lengkap dengan bumbu-bumbunya.
"Wow! Bro! You're so lucky!" Mata Sungjae melotot mendengar cerita Hyuk.
"Yeah…" Hyuk mengangkat bahunya, seakan-akan keberuntungan itu wajar menjadi miliknya.
"Ah… tapi pasti nggak enak, deh… dikekang ama istri…" ujar Sungjae sambil mencibirkan bibirnya.
"Eits… siapa bilang?" Hyuk langsung memotong, tidak terima.
Sejauh ini, Hongbin tidak pernah melarangnya ini itu. Dalam kehidupan perkawinan mereka yang memang baru dimulai, Hyuk tidak merasakan perubahan yang drastic. Kehidupan mereka masih seperti saat pacaran dulu. Cuma bedanya, sekarang mereka bisa tidur sekamar.
"Kalo gitu, lo berani nggak ntar malam ikut dugem bareng gue?" tantang Sungjae.
Hyuk sedikit tersentak. Ia meneguk es teh manis yang sudah hampir habis di hadapannya. Ini hari pertama mereka tidur di rumah sendiri sebagai suami istri. Masa di saat pertama ini, Hyuk sudah mengecewakan istrinya dengan pulang terlambat dan membiarkannya sendirian di rumah itu? Pikiran Hyuk bergelombang dan berputar mengitari kepalanya.
Ah, tapi kan, si Hongbin juga lembur… pikirnya lagi.
"Lo pasti takut, kan?!" ujar Sunjae kembali mengejeknya.
"Bukan gitu, Man! Kasihan si Hongbin kalo sendirian!" jawab Hyuk berusaha berkelit.
"Lah, tadi lo bilang dia ntar malem lembur? Trus, ngapain juga lo pulang ke rumah sendirian Cuma buat bengong-bengong ngeliatin kulkas? Mendingan, ikut gue bersenang-senang, deh! Kita rayakan kedatangan lo kembali! Oke?" bujuk Sungjae sambil menepuk-nepuk pundak Hyuk seolah-olah telah mendapat persetujuan.
Hyuk berdehem berusaha melancarkan tenggorokkannya yang tiba-tiba tercekat. Hyuk merasa, pernikahan ini memang seharusnya tidak mengubah apa pun. Mereka tetap individu yang sama dengan yang dulu. Dan, kalau dulu Hongbin tidak pernah keberatan saat Hyuk pergi keluar bersama teman-temannya, sekarang pasti juga tidak akan ada masalah.
"Okay." Akhirnya, Hyuk mengangguk. "Dugem it is…!"
~ After the Honeymoon ~
Dentuman musik yang kencang langsung menerpa wajah Hyuk dan teman-teman kantornya saat mereka memasuki sebuah klub di kawasan Gangnam. Lampu dalam berbagai warna menyambar-nyambar wajah mereka. Di sana, dalam keremangan, Hyuk melihat orang-orang menikmati waktu. Ada yang mengangkat tangan ke atas sambil bergoyang mengikuti ke mana music membawanya. Ada juga yang sibuk menghabiskan alkohol di gelasnya.
Hyuk dan Sungjae mengambil tempat yang sudah mereka pesan terlebih dahulu tadi. Sofa itu sudah tidak jelas warnanya, tetapi masih sangat nyaman ketika diduduki. Sungjae memesan minuman tanpa alkohol untuk mereka semua. Seorang wanita dengan baju ketat yang inim, mengantarkan pesanan mereka. Teman-teman Hyuk mulai bersiul dan berkomentar.
"Malam ini, kita ngerayain hidup barunya Sanghyuk!" teriak Sungjae mencoba mengalahkan suara music yang mendentan kencang. Tangan kanannya menggenggam gelas untuk bersulang.
"Akhirnya, Hyuk terjun juga ke dunia yang selama ini gue hindari, hahaha…! Welcome to husband club!" Sungjae mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
Hyuk tersenyum kecut. Ia berdiri menyambut gelas-gelas minuman teman-temannya yang telah terangkat untuknya. Merayakan tanggung jawab baru yang harus ia pikul, kehidupan berkeluarga yang sampai sekarang visinya masih buram.
"Cheers!" teriak mereka bersamaan.
Tak lama, salah seorang temannya memanggil salah satu pelayan berwajah cantik untuk duduk di sebelah Hyuk.
"Coba godain dia… dia pengantin baru!"
~ After the Honeymoon ~
Hyuk berjalan menjauhi keramaian menuju toilet. Duduk selama beberapa menit berdekatan dan dirayu oleh wanita cantik yang seksi membuat napasnya sesak.
Sebenarnya, Hyuk tadinya ingin menelepon Hongbin, memastikan istrinya itu telah aman sampai di rumah. Namun suasana di sini sangat rebut, istrinya itu bisa curiga. Dia memang tidak berani mengaku pada Hongbin kalau sekarang sedang berada di klub bersama teman-temannya. Dia tahu itu tidak jujur, tapi paling tidak, ini namanya white lie. Untuk kepentingan Hongbin juga. Agar istrinya itu tak selalu curiga nantinya jka Hyuk pulang malam.
Hyuk sedang mengetik beberapa baris SMS untuk Hongbin saat ia menabrak seoarng pria dan wanita yang berdiri di lorong toilet. Hyuk mengangkat wajahnya, ingin meminta maaf. Namun, saat melihat siapa yang ditabraknya, dia langsung tertegun. Wajah di hadapannya sangat familier. Pemilih wajah itu pun memandangnya dengan tatapan kaget. Hyuk memalingkan wajah tanpa mengucapkan apa-apa dan bergegas masuk ke toilet. Dimasukkannya lagi ponsel ke saku celananya, tanpa sempat mengirimkan SMS untuk istrinya.
Hyuk berdiri di dekat wastafel, menunggu. Ia tahu laki-laki yang tadi ditabraknya itu pasti akan menyusulnya. Dan benar, sosok pria perlente yang masih menggunakan jas dan dasi baru saja mendorong pintu toilet.
"Jadi, kamu sudah pulang dari honeymoon?" tanya laki-laki itu dengan suara berat. Wajahnya tampak khawatir.
"Sudah," jawab Hyuk dingin. "Siapa wanita tadi? Itu bukan Jaehwan noona."
Laki-laki itu terdiam. Matanya terlihat mengembara seperti kebingungan memilih jawaban yang tepat.
"Jawab, Wonshik hyung!" suara Hyuk terdengar mendesak.
"Kamu nggak usah ikut campur! Ingat, kamu juga bukan malaikat. Malaikat tempatnya nggak disini!" jawab Wonshik sambil mengeluarkan tatapan penuh ancaman. Kemudian, ia buru-buru keluar dari toilet.
Hyuk menghembuskan napas berat. Ia pura-pura mencuci tangan saat seorang pria masuk dan menggunakan toilet. Lalu, ia pun berjalan keluar dengan hati gamang.
Wonshik hyung itu suami Jaehwan noona, kakak perempuan Hongbin yang paling Hongbin sayangi. Hyuk sama sekali tidak habis pikir. Ia mengira Wonshik hyung dan Jaehwan noona adalah pasangan serasi yang sempurna. Bahkan, Hongbin ingin kehidupan perkawinan mereka berjalan harmonis seperti kehidupan kakaknya itu. Hyuk menghusap wajahnya. Sekarang Wonshik hyung mengetahui keberadaannya juga. Mereka saling memegang ekor masing-masing. Tiba-tiba saja, Hyuk ingin segera pulang.
~ After the Honeymoon ~
Hongbin memandang jam dinding dengan resah. Sudah tengah malam, tetapi Hyuk belum juga pulang. Ia sudah coba menelepon berkali-kali, tapi Hyuk tak mengangkat teleponnya. Tadi, untuk pertama kalinya, Hongbin pulang kerumahnya sendiri. Hari pertama langsung hambar tanpa keharidan Hyuk. Ia pulang ke rumah yang kosong dan berantakan. Dengan tubuh yang lar biasa capek, ia mulai membereskan sedikit demi sedikit barang yang berserakan di lantai, hanya agar ia bisa sedikit melihat ubin rumah mereka. Melelahkan.
Hongbin mencoba tidur. Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, Hyuk sudah dewasa dan tidak ada hal buruk yang terjaid padanya. Namun, ia hanya dapat terus membolak-balikkan badan di tempat tidur. Matanya tak dapat terpejam, apalagi tertidur. Dengan geram, ia meloncat turun dari tempat tidur dan menyalakan computer. Mungkin, berbicara dengan seseorang di messenger akan membuatnya merasa lebih baik.
~ To Be Continued ~
I'm back~~ Adakah yang rindu? Hihihi
Fabien Corbineau itu model, dan pernah muncul di runningman juga. Dia saya pilih karena mukanya lumayan buat jadi bos yang songong dan suka seenaknya, hahaha, mian Fabien~ ^^
Akhir-akhir ini lagi tergila-gila sama om Levi/Rivaille Ackerman dan dedek Eren Jeager. Maklum, baru join di fandom SNK, terus di ig juga yang nongol couple yaoi nya mulu, jadi ya gitu… susah lepas dari yaoi (harus sedih atau bahagia? Hikshahaha). ff yang couplenya RiRen (Seme!Levi x Uke!Eren) tuh rata-rata bagus semua, sampe gak bisa berhenti baca. Saya mana bisa buat ff yang macem begitu, hahaha.
Maaf jika ada typo yang bertebaran. :)
Terimakasih sudah menyempatkan baca ff ini. Silahkan ditunggu chapter selanjutnya ^^
Arigatou~ Thank you very Gamsa~ :*
