Pada hari Sabtu di pekan selanjutnya, seseorang mengetuk pintu apartemen Sakura. Dia sudah menduga sosok di balik pintunya adalah Sasuke karena sejauh ini tak ada orang lain yang memiliki kepentingan sampai harus berkunjung ke apartemennya. Namun, Sakura masih terkejut saat sungguh-sungguh mendapati Sasuke di sana. Dia masih tak percaya Sasuke tidak mendustai kata-katanya. Pria itu rela menempuh jarak sekitar 500 kilometer demi memenuhi tanggung jawabnya.
Sakura mempersilakannya untuk masuk. Mereka duduk di sofa yang sama setelah Sakura menyuguhkan minum. Keheningan yang diselimuti canggung melingkupi mereka. Jika dihitung-hitung, interaksi mereka baru terjadi sebanyak enam hari—pertemuan di bar, empat hari terakhir Sasuke menetap di Tokyo untuk urusan pekerjaan dan hari ini. Dengan waktu sesingkat itu jelas belum cukup untuk membuat keberadaan satu sama lain tidak terasa canggung. Apalagi perkenalan mereka bukan berdasarkan kesamaan minat atau hal semacamnya.
"Bagaimana kabarmu?" Itu adalah pertanyan biasa, tetapi cara Sasuke menanyakannya sungguh terdengar kikuk sekali.
"Baik." Sakura memegang perutnya. "Dia juga baik."
Sasuke mengangguk.
"Bagaimana denganmu?"
"Baik juga," jawab Sasuke.
Kali ini Sakura yang mengangguk.
"Kau berangkat dari Osaka pukul berapa?" Sakura melirik jam dinding. Pukul dua belas lebih.
"Sekitar pukul enam pagi."
Sakura berkedip. Hatinya mengembang dalam arti yang menyenangkan setelah mendengarnya. Sasuke memang pria yang bertanggung jawab. Itu tak bisa diragukan lagi.
"Kau pasti lelah sekali," ucap Sakura. "Mau istirahat dulu? Biar kubereskan kamarku kalau kau mau."
"Tidak perlu, Sakura. Aku ada di sini bukan untuk merepotkanmu, tapi untuk membantumu," ujar Sasuke. "Ada sesuatu yang bisa kubantu?"
"Nanti sore aku mau ke toko buku, aku butuh bantuan untuk itu, mungkin? Untuk sekarang tidak ada. Jadi tak apa kalau kau mau beristirahat." Sakura menepuk sandaran sofa. "Kalau kau tak nyaman di kamarku, terserah kau mau istirahat di mana."
"Kurasa aku butuh tidur sebentar," aku Sasuke. "Di sini saja." Tangannya menyentuh sofa. "Kalau kau tidak keberatan."
Sakura menggeleng. "Aku tidak keberatan," katanya. "Biar kuambilkan bantal agar lehermu tidak sakit." Dia segera pergi ke kamar sebelum Sasuke menanggapi apa pun.
Bantal diberikan. Sakura berkata, "Kalau kau membutuhkan sesuatu, bilang saja, tidak usah sungkan."
"Hal yang sama berlaku untukmu. Jika aku masih tidur saat kau hendak berangkat ke toko buku, bangunkan saja."
Sakura mengangguk. Nyatanya dia tak perlu membangunkan Sasuke karena tidur Sasuke hanya berjalan selama satu jam, masih ada tiga jam menuju waktu yang dia rencanakan untuk berangkat ke toko buku. Tiga jam itu kembali dilewati dengan rasa canggung yang baru. Dalam perjalanan ke toko buku suasananya masih sama. Bahkan saat di toko buku, pulangnya, dan hal-hal lain yang waktunya mereka habiskan berdua tetap terasa seperti itu.
Benak Sakura memutar ingatan saat selama empat hari berturut-turut Sasuke berkunjung dan menemaninya di sini sebagai rujukan untuk membicarakan sesuatu atau melakukan sesuatu. Seingatnya, waktu yang mereka habiskan bersama lebih banyak diisi diam. Lagi pula, mau bagaimana lagi? Walaupun sudah berkenalan, dia masih merasa bahwa Sasuke adalah orang asing walaupun dia membiarkan Sasuke menginap di apartemennya untuk melewati hari Sabtu ke Minggu agar pria itu tidak mengeluarkan biaya apa-apa lagi.
Kecanggungan mereka menipis saat Sakura harus melakukan pemeriksaan kehamilannya ke dokter lagi. Di kehamilannya yang baru empat bulan ini, pemeriksaan rutinnya masih dalam periode satu bulan sekali. Pulang dari sana, Sakura memiliki beberapa topik yang bisa dibicarakan dengan Sasuke. Setelahnya, dia sadar bahwa mereka memiliki setidaknya satu keselarasan topik, yaitu mengenai anak mereka.
Sasuke mengantarnya ke rumah sakit tanpa ikut ke dalam ruang pemeriksaan, sama seperti pemeriksaan sebelumnya. Sakura mengerti dan tak merasa tersinggung atas itu sama sekali, karena dia sadar Sasuke bukanlah suaminya. Oleh karena itu, dia mengucap ulang apa yang dokter katakan padanya. Dia menyampaikan pada Sasuke bahwa kandungannya sehat dan kuat, sejauh ini dirinya mengalami kehamilan yang cenderung stabil—ini mungkin disebabkan juga oleh pola hidup Sakura yang baik—dan kemungkinan terjadinya morning sickness akan semakin menipis. Sakura menyampaikan pada Sasuke bahwa sebenarnya jenis kelamin janin di perutnya sudah bisa diketahui melalui USG, tetapi antrean yang sangat panjang hingga kemungkinan dia baru bisa diperiksa pukul sembilan malam membuatnya enggan, dia sudah lelah dengan antrean pemeriksaan. Sasuke memakluminya dan tak memberi paksaan apa pun, mereka bisa mengeceknya lain kali.
Setelah Sakura selesai menyampaikan apa kata dokter, Sasuke bertanya, "Kau tahu kapan tepatnya dia akan lahir?"
"Oh, iya, aku lupa memberitahumu soal itu," kata Sakura. "Jika kandunganku tepat selama 280 hari, maka kelahirannya adalah pada tanggal tiga puluh satu Maret."
"Tiga hari setelah ulang tahunmu?"
Sakura mengangguk. Dia tersenyum. Dia tak menduga Sasuke mengingat ulang tahunnya seperti dia mengingat ulang tahun pria itu.
"Perlukah dia dinamakan sesuatu yang berhubungan dengan sakura atau musim semi juga?" Sakura yakin Sasuke mencoba berkelakar. Dia ingin tertawa karena nada bicara Sasuke yang datar menggagalkan sensasi lucunya. Aneh memang Sakura justru ingin tertawa karena menyadari suatu kelakar terdengar tidak lucu. "Kalau dia perempuan, akan sangat cocok jika warna rambutnya sepertimu."
Senyum Sakura sontak menghilang. Sorot matanya berubah sendu. Dia menggeleng lemah. "Aku harap dia mirip denganmu saja."
"Agar kau bisa mengatakan pada orang-orang bahwa dia bukan anak kandungmu?" Sasuke terdengar sarkastis.
Sakura menatap Sasuke saat kegetiran memenuhi dadanya. Air mata menyeruak dari matanya. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Dia menggeleng ke arah Sasuke agar pria itu mengerti bahwa ini adalah topik yang tak bisa dia bicarakan. Ini merupakan topik yang sensitif baginya.
Sasuke mengembuskan napas panjang dan mengusap wajah. Dia tampak memahami perasaan Sakura dan menyesal atas apa yang baru diucapnya. "Maaf. Aku tidak bermaksud …" Dia menggantungkan kata-katanya di udara.
Keduanya hening sampai tiba-tiba Sasuke bertanya, "Kapan kau mau aku mengganti gaunmu?"
Sakura sontak tertawa. Dia sungguh menghargai Sasuke atas upayanya untuk mengubah topik pembicaraan sekaligus atmosfer di antara mereka. Dia mengusap matanya yang sudah basah. "Nanti saja saat ukuran tubuhku sudah seukuran dengan gaun yang kau sobek dulu," katanya malu-malu. Wajahnya memerah lagi.
Sasuke menyeringai tipis. "Kau tahu, Sakura, aku masih ragu kau adalah wanita yang sama dengan yang kutemui di bar waktu itu karena sifatmu berbeda sekali," ujarnya. Tatapannya tak lepas dari wajah Sakura yang masih memerah. "Aneh melihat kau malu-malu begini."
Sakura ingin menyembunyikan wajah atau malah mengubur diri. Namun, dia ingin terlihat lebih kuat dari itu. Dia menonjok bahu Sasuke main-main. "Kau pikir aku tidak merasakan hal yang sama tentangmu?!" Matanya menyalang kesal, tetapi wajahnya masih memerah dan ada senyum yang menggelitik bibirnya. "Aneh sekali melihat kau yang sebenarnya berperangai datar, cuek dan dingin jika dibandingkan dengan sosok yang kutemui di bar. Kau yang kutemui di bar itu seperti … se-seperti …," rasa malu menyeruak di dada Sakura. Wajahnya lebih memerah lagi daripada sebelumnya dan panas terasa di telinga. Dia menggeleng keras, "Tidak! Kita tak akan pernah membahas ini lagi!"
Sasuke mendengus menahan tawa. "Baiklah, kita tak akan membahas ini lagi."
Percakapan itu mengubah frekuensi hubungan mereka. Kecanggungan mulai hilang dan Sakura merasa bisa bersikap lebih santai. Dia mulai merasa bisa membicarakan apa saja dengan Sasuke meskipun tak berkaitan dengan kehamilannya. Sasuke bukanlah orang asing lagi baginya, melainkan seorang teman. Untuk saat ini, dia adalah satu-satunya teman yang paling Sakura percayai. Ino masih teman terbaiknya, tentu saja. Namun, frekuensi interaksi mereka mulai berkurang sejak Sakura mulai kesulitan berbicara dengan Ino tanpa membocorkan rahasianya mengingat dia masih amat takut siapa pun yang dikenalinya sebelumnya tahu tentang ini. Ini sungguh membuatnya sedih—terlebih jika menyadari bahwa mungkin dia melukai Ino dengan begini—tetapi kehadiran Sasuke mampu menghapus sedihnya walau tidak sepenuhnya.
Bagi Sakura, Sasuke layaknya stereotipe sahabat lelaki bagi tokoh perempuan dalam novel remaja yang dulu sering dia baca. Dia cuek, tetapi sesungguhnya perhatian. Dia akan mendengarkan apa pun yang kauceritakan sampai selesai, akan menanggapi hanya jika kau menginginkan tanggapan, dan tak akan menghakimi apa-apa. Dia adalah tipikal yang melindungi dan dapat dijadikan sandaran. Walaupun sifat dingin dan cuek Sasuke sering membuatnya jengkel, Sakura tetap merasa sulit untuk tidak menyayanginya.
Kalau sebelumnya dia gelisah di setiap akhir pekan mendekat karena tahu kecanggungannya dengan Sasuke akan membuatnya tak nyaman selama dua hari, sekarang justru dia menantinya karena kecanggungan itu sudah tak ada lagi.
.
—
.
Minggu kedua puluh satu Sakura memeriksakan diri ke dokter lagi. Sasuke menemaninya tanpa masuk ke ruang pemeriksaan seperti biasa. Setelah selesai, mereka segera menuju bagian radiologi. Sasuke menunggu di ruang tunggu selagi Sakura masuk untuk diperiksa menggunakan alat USG.
Sakura keluar dengan wajah berseri-seri. Dia merahasiakan apa kata dokter, baik yang menjadi tempat konsultasi rutinnya maupun yang memeriksanya menggunakan alat USG. Sakura menertawakan Sasuke yang wajahnya mencibir karena semua pertanyaanya dijawab dengan kata nanti. Pria itu masih merengut sampai mereka masuk mobil.
"Sampai kapan kau akan merahasiakannya?" tanyanya dengan nada kesal.
Sakura tertawa.
"Sasuke, bayinya perempuan!" katanya antusias. Dia nyaris melonjak di kursinya. Dia tahu dirinya tak akan bisa menahan diri dari kehebohan, itulah sebabnya dia baru mau mengatakan semuanya saat mereka memiliki privasi. "Ada kemungkinan akan berubah jadi laki-laki, sebenarnya. Katanya memang sering terjadi kasus seperti itu jika terdeteksi perempuan. Tapi entah mengapa sejak awal aku memang merasa dia perempuan dan hasil USG semakin membuatku yakin." Dia menepuk kedua tangannya di depan dada. Kemudian dia mengusap perut dan menatapnya. "Aku yakin dia akan jadi gadis yang sangat cantik karena mirip denganmu."
Sasuke menunda dirinya dari menyalakan mobil. Tangannya terulur untuk menyentuh perut Sakura dan mengusap bagian yang tak wanita itu pegang. Dia tersenyum tipis. "Akan berlaku sama jika dia mirip denganmu juga."
Sakura membeku. Senyum memias dari wajahnya. Walaupun Sasuke sudah menemaninya, dia masih sangat takut jika anak ini mirip dengannya. Dia masih sangat berharap gen Sasuke jauh lebih dominan daripada miliknya.
"Aku …," Sakura menggantungkan kata-katanya di udara. Dia terdiam lama hingga kedua tangannya turun ke sisi tubuh.
Sasuke menarik tangannya. Sakura yakin pria itu sudah memahami apa yang dirasakannya.
"Lupakan apa yang kukatakan," kata Sasuke. Wajahnya tanpa ekspresi. Dia menyalakan mobil dan perjalanan menuju apartemen Sakura dilalui dengan keheningan yang nyata.
Ketegangan di antara mereka menipis setelah tiba di apartemen. Sakura menyerahkan foto hasil USG pada Sasuke. Sasuke memperhatikannya secara saksama. Entah mengapa sudut bibir Sakura geli melihatnya.
"Apa lagi yang dokter katakan?" kata Sasuke tanpa melepas tatapan dari foto-foto di tangannya.
"Dia sangat sehat," jawab Sakura. "Tak ada masalah apa pun dalam kondisi saat ini ataupun proses pertumbuhannya." Dia beringsut di sofa hingga mendekati Sasuke. Tatapannya tertuju pada foto di tangan Sasuke. "Kau lihat ini? Tubuhnya sudah terbentuk. Ini adalah tangannya. Ini kakinya." Entah mengapa dia ingin lebih rapat lagi dengan Sasuke, menyandarkan kepala pada bahunya, melingkarkan tangan pada tubuhnya. Namun, dia menahan semua keinginan itu. "Kata dokter, kandunganku juga kuat, maka dari itu tak ada kendala untuk bekerja selama yang kulakukan bukan hal berat. Aku juga disarankan untuk sering berolahraga agar lebih fit lagi. Dan …"
Sakura sontak mengatup mulut dan membelalak. Wajahnya memerah. Dia lekas menjauh dari Sasuke.
Sasuke menoleh ke arahnya. "Dan apa?"
"Tidak." Sakura menggeleng keras. "Itu tidak penting."
"Katakan semuanya, Sakura. Aku berhak tahu."
"Tapi ini tidak penting!"
Dahi Sasuke mengernyit. "Kalau tidak penting, dokter mungkin tak akan menyampaikannya padamu. Katakan padaku agar aku bisa lebih tenang dengan mengetahui semuanya."
Jantung Sakura berdebar sangat keras. "Selama ini pun kau belum tentu tahu semuanya karena aku tidak ingat semua yang dokter katakan padaku."
"Tapi kau tetap harus mengatakan semua yang kauingat."
Sakura mengembuskan napas panjang. Sasuke tak akan pernah berhenti mendesaknya sampai mendapatkan jawaban. Mau tidak mau dia harus menjawab.
"Hmm, itu …."
"Ya?"
"Dokter bilang … dokter bilang, ko-kon …"
"Apa?"
Sakura memegangi pipinya yang kini terasa sangat panas. Dia enggan menatap Sasuke.
"Kondisi kehamilanku sangat baik hingga tak perlu takut jika mau berhubungan intim," kata Sakura buru-buru.
Dia ingin tahu raut wajah Sasuke seperti apa—dirinya berharap Sasuke menyesal sudah memaksanya mengatakan itu—tetapi dia tak berani menatap Sasuke. Samar-samar terdengar suara tegukan ludah.
"O-oh."
Sakura semakin merasa malu mendengar Sasuke yang merespons terbata-bata. Dia lekas berdiri. "A-aku mau ambil minum!" Dia bicara dengan energi yang berlebihan.
Mereka tak banyak berinteraksi kecuali saat makan. Sakura tidak berselera memasak untuk makan malam, mereka memutuskan untuk memesan dari luar karenanya. Selesai Sakura mencuci piring, dia mendapati Sasuke duduk di sofa sembari menatap foto hasil USG dengan cermat. Ibu jarinya mengusap permukaan foto. Sakura sama sekali tak bisa menahan senyum melihatnya.
"Kadang-kadang aku masih tak percaya dia hidup di dalam perutku," kata Sakura. Dia duduk di sisi Sasuke dan beringsut mendekat hingga lengan mereka bersentuhan. Jantung Sakura berdebar-debar, dia masih ingin dekat dengan Sasuke sampai saat ini. Dia haus oleh afeksinya. Dia jadi seperti ini sejak suasana di antara mereka menjadi lebih santai.
"Aku tidak pernah melihatmu sebahagia ini," komentar Sasuke. "Bagaimana pendapatmu soal semua ini sekarang?"
Sakura mengerjap. Dia baru menyadari bahwa perkataan Sasuke benar adanya. Dia menyandar pada Sasuke sembari menarik-narik kemeja untuk dimainkan ujung jari.
"Walaupun dia ada karena suatu kesalahan, tapi kehadirannya sama sekali bukan kesalahan," Sakura berkata sembari tersenyum. Dia mengusap perutnya. "Dia anugerah, Sasuke."
Tangan Sasuke yang bebas ditariknya untuk ditaruh di atas perut. Sasuke langsung mengusapnya tanpa diminta. Dia duduk miring di sofa setelah menaruh foto hasil USG di meja dan membuat Sakura menghadapnya. Tubuhnya membungkuk hingga kepalanya menyandar di perut Sakura.
"Bagaimana denganmu? Apa yang kaupikirkan tentang ini?" tanya Sakura.
Sasuke menarik napas panjang. Dia mengusap perut Sakura menggunakan tangan dan pipinya. "Kau mau jawaban yang jujur, Sakura?"
Entah mengapa jantung Sakura terasa berlompatan di dadanya. Dia meneguk ludah. "Hm, iya?" tanggapnya ragu.
"Kehadirannya membuatku sangat lelah selama dua bulan ke belakang," kata Sasuke.
Napas Sakura tertahan di dada. Hatinya terasa dicubit. Memang, selama dua bulan ke belakang Sasuke melakukan perjalanan Osaka ke Tokyo dan sebaliknya seminggu sekali, tetapi pernyataan Sasuke tetap melukai hatinya. Rasanya dia ingin meneriaki Sasuke siapa yang lebih lelah jika dibandingkan dengan dirinya yang sudah mengandung benihnya selama lima bulan?! Namun, dia mencoba mengatur emosi.
"Pengeluaranku selama dua bulan pun membengkak karenanya. Dan ini jelas di luar rencana."
Sakura lekas mendorong Sasuke dari perutnya dan membuat pria itu duduk tegak untuk menatapnya. Raut wajahnya diliputi kemarahan. Dia hanya diam, menunggu penuturan Sasuke yang sepertinya masih memiliki lanjutan.
"Tapi aku tetap tak bisa membenci kondisi ini. Aku tak bisa membenci ataupun menyesali kehadirannya." Tatapan Sasuke terarah pada foto hasil USG yang ditaruh di meja. "Kau benar, Sakura. Walaupun dia ada karena kesalahan kita, tapi eksistensinya sama sekali bukan kesalahan. Aku," dia meneguk ludah, "aku bahkan sudah menyayanginya walaupun belum benar-benar merasakan kehadirannya."
Kemarahan yang nyaris Sakura luapkan lenyap seketika. Sisa-sisa emosinya disalurkan untuk terenyuh dan hati yang menghangat. DIa mengecup pipi Sasuke tanpa memikirkan apa pun sebelumnya. Setelah sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan—afeksi pertama yang dia berikan untuk Sasuke—merah mewarnai wajahnya. Dia memalsukan sebuah batuk.
Sasuke pun tersentak dengan merah di lehernya. Dia menggosok hidung dengan perangai canggung. "Kupikir kau akan marah," katanya setelah berdeham.
Sakura tiba-tiba tak kuasa menatap Sasuke. "Dua pernyataan awalmu memang membuatku marah, tapi sisanya mampu melenyapkannya," katanya. Dia mencoba mengarahkan pandangan pada Sasuke meskipun debaran jantungnya menggila. "Dan soal keluhanmu—"
"Ada yang perlu kubicarakan soal itu," potong Sasuke. "Tiga minggu lagi sewa apartemenmu habis, 'kan? Sudah kau perpanjang?"
"Belum."
Sasuke tampak lebih serius. "Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, perjalanan Osaka-Tokyo dan sebaliknya yang kulakukan selama seminggu kali itu melelahkan, terlebih aku mengendarai mobil sendiri."
Kalau tadi keluhan Sasuke melukai hatinya, kini justru membuat rasa bersalah memenuhi dada Sakura. Wajahnya murung. "Sasuke, aku minta—"
Sasuke mendesis. "Dengar dulu," potongnya. "Aku tidak menyalahkanmu. Aku tetap melakukannya sebagai bentuk tanggung jawabku dan akan tetap melakukannya jika perlu. Tapi ada pilihan lain. Kau kembali ke Osaka dan tinggal bersamaku setelah sewa apartemen ini habis atau lebih cepat lebih baik. Bagaimana? Kalau kau keberatan, tidak apa-apa. Tapi persetujuanmu akan sangat membantuku."
Sakura meneguk salivanya. "Aku benar-benar minta maaf, Sasuke. Selama ini aku sangat egois dan tak memikirkan kondisimu sama sekali. Aku selalu berpikir bahwa hanya aku yang disusahkan dalam masalah ini, tapi aku salah," ucapnya dengan intonasi menyesal. Dia menggigit bibir. "Kau sudah melakukan banyak hal untukku. Dan sekarang, kalau aku bisa meringankan bebanmu, aku akan melakukannya."
"Sungguh?"
Sakura mengangguk. "Aku bisa pindah mulai minggu depan, sepertinya. Tapi, tunggu, kau tinggal dengan orang tuamu?"
"Tidak. Aku tinggal sendiri."
"Hmm, orang tuamu tahu soal … ini?"
"Aku tidak tahu bagaimana cara memberi tahu mereka."
Sakura tersenyum kecut. "Kita merasakan hal yang sama, kalau begitu."
"Kau yakin akan siap pindah dalam seminggu?" tanya Sasuke. Sakura menyadari bahwa Sasuke tak ingin membahas topik sebelumnya lebih lanjut.
"Iya, jika urusan re-sign tidak sulit. Mungkin kehamilanku bisa mempermudah urusannya," ujar Sakura. "Lagi pula semakin cepat aku pindah, kau tidak perlu capek-capek lagi ke sini."
"Baiklah," kata Sasuke. "Terima kasih atas pengertianmu."
"Kau tidak perlu mengucap terima kasih. Jika mengingat semua yang kaulakukan selama ini, hal yang kau sebut sebagai pengertianku itu tidak ada apa-apanya," ujar Sakura.
Sasuke tersenyum tipis. "Itu adalah sesuatu yang harus kulakukan." Dia menyentuh lengan Sakura dan membuat posisi mereka saling berhadapan. "Sakura, aku masih ingat kekhawatiranmu jika harus tinggal di Osaka. Yang bisa kulakukan untuk itu hanyalah mengingatkanmu bahwa kau tidak sendiri dan aku akan ada jika kau membutuhkan seseorang di sisimu."
"Aku memang masih takut," ucap Sakura lirih. "Tapi aku tidak setakut itu lagi karena aku masih mengingat hal yang baru kauingatkan padaku."
Sasuke mengusap lengannya dengan lembut. Sakura membelalak terkejut saat sekonyong-konyong Sasuke memeluknya. Dia membalas pelukan itu dan menyandarkan tubuh pada tubuh tegap Sasuke. Rasa nyaman yang menggelitik mendadak menyesaki dadanya.
Bad Cherry99: Belum tau ini sampai chapter berapa, tapi sekitar 6-10 kayaknya? Dan ini kalo udah di-publish semua bakal saya ubah jadi one-shot karena flow-nya lebih cocok untuk one-shot.
