Hello... Minna-san! XD Kayaknya udah lama nih gak update nih fanfic... hehehe, Maaf ya baru dirilis chap 3 nya! ^3^)a Mudah-mudahan masih ada yang ingat sama fanfic ini... hihihi.

Warning: Maybe OOC, Typo(s), Aneh, Abal, etc XD

Oh iya! Saya minjem karakter Grell Sutcliff dari Kuroshitsuji milik YANA TABOSO untuk jadi anak Karin dan Suigetsu XD

Disclaimer: MASASHI KISHIMOTO

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 3

Dipagi hari yang cerah disebuah perumahan, yang tepatnya adalah tempat tinggal seorang Sakura. Dia melihat sebuah taksi berhenti didepan rumahnya, dia yang tadinya sedang menyirami bunga. Kini mematikan keran air, lalu menghampiri kakaknya yang tampak kacau yang baru saja turun dari taksi.

"Kakak...?" Dia menghampiri kakaknya, lalu memeluknya. Setelah beberapa menit, ia pun melepaskan pelukan itu. Dan melihat air mata yang mengalir ke pipi kakaknya,"Kakak..." Wanita itu masuk kedalam rumah, dan Sakura pun menghampirinya.

Sedangkan didalam rumah kakaknya tengah duduk dilantai sambil menangis, mengadu kepada ayahnya tentang suaminya,"Dia meminta uang padaku dan jika aku tak memberinya uang. Dia tidak akan memberikan Grell kepadaku." isak Karin.

"Hm... Aku tak habis pikir bahwa ia melakukan hal seperti itu," ucap Kizashi sedih,"Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada, Suigetsu-san." sambung Sai ingin menenangkan semuanya, tapi semuanya tampak menunduk dan bersedih.

O.o.O.o.O.o

Siang harinya, Ino dan Sakura pergi mencari rumah Naruto... Ya seorang senior di kampus. Mereka ingin membicarakan sesuatu yang sebenarnya adalah masalah Sakura, hanya saja ia tak berani pergi sendiri sehingga Sakura mengajak Ino untuk pergi. Dan sesampainya ditempat yang dituju, Ino melihat seorang berambut putih(bukan uban) yang sedang menyiram tanaman, memang tampangnya atau hal lain Ino sampai berpikir bahwa pria itu adalah tukang kebun.

"Hei, tukang kebun! Apa benar ini rumah nomor 10A?" Pria berambut putih yang mendengar suara itu pun berdiri tegak dan melihat ke kiri maupun ke kanan mencari asal suara itu,"Hei, tukang kebun! Aku disini!" panggil Ino berteriak.

Pria berambut putih itu pun menghampiri Ino,"Kau memanggilku?" Tanya pria itu.

"Ya, siapa lagi kalau bukan dirimu. Kau tukang kebun, kan?" Tanya Ino balik. Pria itu pun menatap Ino kesal namun ia bersabar sedikit,"Ini adalah rumahku. Ada perlu apa ya?"

"Oh... Benarkah ini rumah nomor 10A?" tanya Ino sekali lagi, Pria itu pun mengangguk.

"Apa ada Naruto didalam?" tanya Ino. Jiraiya mengangguk lagi,"Ada perlu apa? Biar kusampaikan padanya?"

"Tidak perlu. Biar aku saja yang bicara." ujar Ino, Jiraiya mengangguk,"Baiklah. Silahkan masuk... Biar aku panggilkan dia." Jiraiya pun meninggalkan keduanya, Ino dan Sakura pun mengikuti pria berambut putih itu masuk kedalam.

Naruto tampak menuruni tangga dengan Choji,"Apa celanaku sudah benar?" tanya Naruto pada Chouji. Tetapi pertanyaanya tidak diubris oleh Choji karena pria itu berhenti saat melihat 2 orang gadis tengah berada diruang tamu. Naruto sempat menoleh kebelakang, lalu saat Choji memberi tanda Naruto pun kembali menoleh kedepan.

"Selamat siang, Senpai." seorang gadis terlihat hormat padanya, Naruto pun tersenyum simpul. Lalu, ia turun kebawah tetapi sebelum menghampiri Sakura dan Ino, ia menyapa keponakannya Konohamaru dan menyuruhnya pergi. Lalu, ia pun menoleh kearah Ino dan Sakura... Mempersilahkan keduanya duduk, Naruto menarik meja sehingga berpapasan dengan Sakura. Pria pirang itu memandangi wajah Sakura sambil tersenyum tidak jelas.

"Mmm..." Sakura merasa risih dipandangi seperti itu,"Naruto, kami ke-" Naruto menoleh kearah Ino yang tiba-tiba bersuara.

"Siapa namanya?" tanya Naruto pada Sakura,"Yamanaka Ino." jawab Sakura. Naruto pun kembali menoleh kearah gadis pirang pucat itu,"Ino-san, biarkan Sakura saja yang berbicara." ujar Naruto. Ino pun mengangguk.

"Sen-" ucapan Sakura dipotong oleh Naruto,"Nanti dulu... Karena ini hari pertamamu kerumahku, jadi mintalah suatu. Ayo katakan..." pinta Narutoo, Sakura sempat melirik kearah Ino sejenak. Lalu, ia pun menggeleng pelan,"Kami punya teh, kopi, minuman bersoda, biskuit, keripik, dan kue. Ayo makanlah sesuatu." sambung Naruto. Namun, tidak ada sahutan, hening.

"Choji!" panggil Naruto, yang merasa dipanggil pun menyahut,"Ada apa, Naruto?" tanya Choji.

"Ambilkan minuman bersoda dan kue, ya!" perintah Naruto. Yang disuruh pun mengangguk dan bergegas menuju kedapur tetapi dihalang oleh Naruto,"Choji!" panggil Naruto, dengan agak malas Choji pun membalikkan badannya,"Ya?"

Naruto pun merogoh-rogoh saku baju dan celananya,"Rokok?" Naruto menegadahkan tangannya, meminta. Choji pun merogoh sakunya mengambil sebungkus rokok, lalu melemparnya kearah Naruto. Dan dengan mudah ditangkap oleh Naruto,"Baiklah... Silahkan pergi." Choji pun berbalik dan pergi kearah dapur.

.

.

Jiraiya yang tengah memakai bajunya pun melihat Choji yang lewat didepan kamarnya,"Choji, kemarilah!" panggil Jiraiya, pria gemuk itu pun menghampiri Jiraiya,"Ada apa, kak?"

"Siapa mereka yang datang?" tanya Jiraiya.

"Oh... Mereka adalah mahasiswi kampus." jawab Choji. Jiraiya dan Tsunade saling berpandangan, lalu mengangguk,"Baiklah, aku mau mengambil makanan untuk mereka." ujar Choji, lalu meninggalkan Jiraiya dan Tsunade.

Choji pun kembali ketempat Naruto juga 2 mahasiswi di ruang tamu,"Hai semua... Makanan sudah datang!" seru Choji yang tengah membawa nampan, lalu ia memberikannya pada Naruto, pria pirang itu pun menerimanya. Lalu meletakkannya dimeja.

"Ambil kuenya satu." perintah Naruto, Ino pun mengambi kue dengan perasaan agak ragu sedangkan Sakura diberikan langsung oleh Naruto, begitupun untuk minumannya.

"Nah... Dan ini untukmu." Naruto melempar kue kepada Choji dan pria gemuk itu pun langsung menangkapnya.

Keadaan pun masih hening, Sakura dan Ino samasekali tak memakan ataupun meminum hal yang diberikan oleh Naruto tadi. Mereka masih ragu dan merasa canggung karena sebenarnya mereka kesini hanya ingin membicarakan suatu hal dan tidak akan berlangsung lama.

"Nah, jadi apa yang ingin kalian bicarakan padaku?" tanya Naruto membuat keadaan menjadi serius.

"Aku menghilangkan kartu ujianku, Senpai." jawab Sakura sedikit menunduk, karena jika wajahnya menghadap kedepan, ia akan berpapasan dengan wajah Naruto. Dan juga karena pria itu sedang merokok... Asapnya menganggu.

"Hmm... Lalu?" Naruto tampak mencerna apa yang dikatakan oleh juniornya itu.

"Pengumuman di mading mengatakan bahwa tanpa kertas itu tidak boleh ikut ujian." ujar Sakura. Sejenak keadaan masih terlihat hening dan serius sampai pada akhirnya sang pemilik rumah terlihat menahan tawa.

"Pfft..." pria itu menahan tawa, si rambut pirang,"Hanya karena hal itu? Kau datang pada orang yang tepat. Tenang saja nanti aku akan pergi ke kampus dan merobek pengumuman itu dan kau akan bebas mengikuti ujian." jelas Naruto.

"Umm... Senpai membicarakan ini pada kepala sekolah kan?" tanya Sakura.

"Sebenarnya Sakura... kami sama sekali tak membicarakan ini pada kepala sekolah. Kami bisa melakukan apa yang ingin kami lakukan, karena apa yang kukatakan adalah yang kulakukan." jawab Naruto.

Sesaat keadaan pun kembali hening, Ino tak dapat berkata apa-apa karena dari saat pertama kali ia berbicara, Naruto sudah tidak mengizinkannya. Dan dengan terpaksa ia harus tidak bicara karena Naruto adalah seorang senior, orang yang dihormati dan benar yang dia katakan tadi apa yang ia katakan adalah yang ia lakukan. Ino hanya bisa menghela nafas, dan sesekali ia melirik kearah Sakura. Gadis berambut pink panjang itu tampak membeku duduk berpapasan dengan Naruto. Ia pun menggeleng pelan.

"Naruto! Ada telfon untukmu!" seru Choji. Pria berambut pirang itu pun menoleh, Choji pun melempar telfon pada Naruto dan refleks Naruto pun langsung mengangkapnya. Ia memposisikan telfon di telinganya.

"Naruto-sama, apa ada lagi yang harus kami lakukan?" tanya seseorang disebrang telfon yang ternyata adalah Tsunade, kakak iparnya.

"Semuanya sudah ada disini... Tidak ada lagi yang aku perlukan bahkan juga kau." jawab Naruto, Tsunade yang mendengar jawaban dari adiknya itu pun terkejut lalu langsung mematikan telfon. Naruto tersenyum pada Sakura, lalu melempar telfon itu kebelakang,"Tangkap!" serunya, tetapi telfon malah terjatuh dilantai.

"Dia tidak mau bunyi." cengir Naruto.

O.o.O.o.O.o

Keesokan harinya di kampus, Naruto dan sahabat-sahabatnya sedang berdiri didepan mading. Naruto terlihat seperti sedang khawatir dan menunggu seseorang, ya seseorang. Pucuk dicinta ulam pun tiba... Orang yang dikhawatirkan pun kini tengah berjalan bersama sahabatnya, mereka berdua tampak tengah mengobrol.

"Hai... Sakura. Bagaimana ujianmu?" tanya Naruto. Kedua gadis itu pun berhenti berjalan dan membalikkan badan sehingga mereka berhadapan dengan Naruto dan agar terlihat lebih sopan.

"Berjalan dengan baik." jawab Sakura sambil tersenyum tipis.

"Terimakasih." ujar Ino.

"Aku ingin Sakura yang mengucapkannya." pria pirang itu tampak seperti memprotes walau wajahnya terlihat tenang.

"Terimakasih, Senpai." ujar Sakura, membungkukkan badannya sejenak. Lalu, pergi dengan Ino meninggalkan Naruto. Naruto menatap punggung gads yang telah menjauh itu sambil menghisap rokoknya.

Para sahabat Naruto yaitu, Kiba, Rock lee, dan Choji pun melihat Naruto yang tampak aneh. Lalu, Lee pun nyengir tidak jelas.

"Lihat! Gadis itu mengucapkan 'terimakasih' pada Naruto, memangnya ada apa?" tanya Lee.

"Dia menghilangkan kartu ujiannya. Jadi aku membantunya untuk mengikuti ujian." jawab Naruto.

"Hei! Ceroboh sekali dia. Hei, gadis!" teriak Kiba. Naruto pun langsung membekap mulut Kiba,"Mbbhh..."

"Jangan! Dia itu gadis yang baik." ujar Naruto menyela Kiba, dan seketika Choji pun berkata,"Gadis yang baik adalah gadis yang pantas untuk dicintai." ujar Choji,"Gadis yang baik pantas untuk dipuji." lanjut Lee.

"Dia itu suka bernyanyi... Aku mendengarnya, saat aku pergi ketempat suci." cerita Naruto, sahabat-sahabatnya pun tertawa,"Apa aku tak salah dengar? Seorang Naruto pergi ke tempat suci?" tanya Choji.

"Kakakku menyeretku kesana dan disebut apa? Mmm... Haruno oishi, Dia pembuat kue yang enak." ujar Naruto.

"Kau makan itu juga?" tanya Lee. Naruto hanya mengangguk.

"Eh!? Naruto, matamu merah? Kenapa?" tanya Kiba.

Naruto pun langsung mengucek-ucek matanya,"Ah! Kemarin aku tidak dapat tidur." jawab Naruto.

"Damai tersesat... Tidur tersesat." ujar Choji.

"Gadis itu telah membuat Naruto gila! Oi! Naruto-senpai, telah jatuh cinta!" teriak Lee.

Naruto pun mengkerutkan dahinya, pipinya tampak memerah,"Hei! Lihat... wajahnya memerah!" goda Choji. Wajah Naruto semakin memerah. Ia belum pernah merasa semalu ini, seumur hidupnya.

"Jangan sembarangan!" Naruto pun membuang rokok yang berada disudut bibirnya, ia tersenyum tidak jelas.

TBC

Aku tau... Ini pendek. Tapi ya... Hehehe. Maklumin aja... ^^a Saya emang gak bisa ngetik banyak-banyak XD I'm sorry. :Da

RnR, please? ^^a