James Potter, Quidditch, dan Coklat Panas

Chapter 3

Disclaimer : HP ttep punya J.K.R

Makasih banget buat yang masih setia nge-rivew.. you are precious things for me :D

Met baca ! and have fun !

"Kau lagi?" kata Andrew, menahan tawa.

Allessa terperangah karena dua kali menabrak orang yang sama dalam satu hari.. Mungkin setelah ini dia akan mempunyai hobi baru, menabrak Andrew Flint. Hampir seluruh kepala yang belum sempat mengeluarkan kaki dari bangku panjang menoleh kearah mereka berdua. Sebagian tertawa dan sebagian lagi melotot tidak setuju. Dan yang ditabrak tidak mengeluarkan kemarahan atau rasa jengkel. Andrew Flint malah hanya memberikan raut muka sabar dan tersenyum tipis. Allessa makin bingung melihatnya.

"Lain kali hati-hati. Kau harus melihat ke arah depan saaat berjalan atau berlari. Dan." belum sempat Andrew melanjutkan ucapannya Allessa sudah buru-buru membungkuk meminta maaf dan pergi.

Allessa berjalan agak scepat dan sedikit berhati-hati. Ia mendengar suara James, Brith dan Fred berteriak memanggil namanya. Ia tak mau menjadi pemegang rekor Hogwarts sebagai penabrak paling ceroboh. Ia berbelok menuju toilet terdekat dan satu-satunya toilet yang dekat dengan aula besar. Sayup-sayup terdengar suara derap seseorang mengejarnya. Ia ingin menguapkan rasa malunya hari ini. Allessa sadar bahwa yang ia tabrak adalah salah satu orang beken di Hogwarts.

"Demi merlin…. Apa sih yang kulakukan hari ini."katanya penuh nada penyesalan sesaat setelah ia mendudukkan diri di salah satu kloset yang tertutup. Cahaya obor yang remang remang membuat tempat ini penuh dengan dengung nyamuk betina haus darah. Beberapa saat kemudian Allessa mulai tak tahan berada di toilet malam- malam, sebagian lagi karena ia merasa sudah saatnya keluar dan menghadapi kenyataan bahwa dia, seorang gadis biasa yang normal nan standar, telah menabrak selebriti Hogwarts yang terkenal lagi tampan di depan seluruh aula besar.

Allessa baru saja menutup pintu toilet tempatnya berdiam saat ia mendengar suara tangisan lirih. Cahaya obor yang bergerak membuat suasana semakin lengkap. Bulu kuduk (?) Allessa menegang. Ia terlalu sering melihat film Muggle koleksi Peter, dan ia ingat suasana di Film itu. Suasananya persis seperti saat ini. Pemeran utamanya akan bertemu sosok hantu mengerikan sesaat kemudian. Ia mulai ketakutan dan berjalan berjingkat.

"Si..Siapa di..sana?" tanyanya gemetaran saking takutnya. Allessa mencari sumber suara itu dan menemukan bahwa tangisan itu berasal dari salah satu bilik kamar mandi disana.

"Ha..halooo…." serunya tanpa jawab. Suaranya bergaung di dinding toilet. Ia mengingat-ingat apakah ini toilet lantai tiga, tempat Myrtle Merana bergentayangan. Ia berharap suara itu adalah hantu itu sekarang. Karena kenyataanya hantu yang sudah kita kenal lebih tidak mengerikan daripada hantu yang baru saja kita jumpai, kan?

"Hiks….hiks…" suara itu berasal dari bilik ke empat di deretan kiri. Bilik itu disinari sinar bulan yang menembus dari jendela.

"Sekali lagi kutanya, Siapa itu…?" kali ini Allessa mulai menyuntikkan keberanian dalam kata-katanya walau masih gemetaran.

"Apakah kau salah satu teman Rin Corner ? mau menyiksaku lagi? Apa salahku ke kalian?" tanya suara itu putus asa sambil sesenggukan. Allessa lega setelah mendengarnya. Itu berarti ia bersama manusia sekarang.

"Tenang. Aku bukan kroni Rin Corner. Eh, kalau boleh kuberi saran. Keluarlah dari sana dan ayo kita kembali ke asrama kita masing-masing. Rekomendasi yang buruk jika kau ingin menangis disini. Kujamin tempat ini sama sekali tidak kondusif untuk menangis di malam hari." Katanya pada suara yang di dalam. Lalu keluarlah seorang gadis berdasi kuning-hitam dan di jubahnya terbordir seekor musang tanah. Gadis itu berambut cokelat terang berkepang dua dan memakai kacamata bulat yang besar dan terlihat tebal.

"Maaf telah mengganggumu. Ayo kita keluar. Perfek akan mulai patrolinya sebentar lagi." Kata Allessa pada si gadis. "Oh iya,ngomong-ngomong, siapa namamu? Kau Hufflepuff kan?"tambahnya.

"Aku Dione McMillan. Aku kelas empat. Lalu kau?" sahut Dione balik bertanya saat akan keluar dari pintu ayun toilet. Ia melihat kiri kanan lorong toilet untuk memastikan sesuatu.

"Namaku Allessa Wood. Kalau boleh bertanya, apa yang kau lakukan disana? Dan kenapa nama Rin corner kausebut-sebut?" tanya Allessa sambil mengayunkan pintu hingga berderit pelan.

Dione termangu sebentar. "Aku sedang menangis setelah Rin Corner mengolok-olokku dan mulai menarik rambutku karena aku membentaknya."

"Apa kau tidak ikut makan malam?"

"Ikut, tapi hanya sampai makanan utama."

"Oh." Kata Allessa saat sampai di lukisan Nyonya Gemuk. "Kalau begitu, sampai jumpa. Dan senang berkenalan denganmu."

"Terima kasih karena mau berbicara denganku."kata Dione dengan mata yang masih basah namun penuh sinar bahagia saat mengucapkannya.

Allessa kaget dengan perkataan Dione. Ia heran mengapa Dione begitu bahagia walau mereka hanya berbincang 10 menit.

"Kenapa kau berterima kasih?"tanyanya heran.

"Sebelumnya Sangat jarang ada orang yang mau berbicara denganku." Ujar Dione dengan senyum merekah. "Nah, sampai jumpa dan selamat malam."

"Selamat malam juga." Balas Allessa canggung. Dione segera berlalu.

"Unicorn Terbang" ujarnya kepada Nyonya Gemuk.

"Oh sayang… kau ketinggalan pembaharuan kata kunci ya.. sayangnya kata kuncinya salah."

'Ukh.. sebentar. Sepertinya aku ingat Brith memberitahuku.' Batinnya sesaat kemudian "Pedang Godric" ucapnya penuh kemenangan.

Lukisan itu membuka dan menganga-lah lubang besar dan tangga. Allessa memanjat naik ke ruang rekreasi. Disana terduduklah James dan Fred yang sedang serius memperhatikan sesuatu (Yang pasti itu salah satu barang aneh mereka) dan beberapa anak yang duduk sekedar bersantai atau mengobrol dengan temannya.. James bangkit menghampiri Allessa.

"Allessa. Kemana perginya kau tadi? Aku mencarimu kemana-mana tahu. Kau seharusnya tidak pergi dulu sebelum melihat anak-anak kelas satu yang kami kerjai. "kata James penuh semangat dan memegang pundak Allessa. Jadi benar yang tadi ada seseorang yang menyusul Allessa, dan itu James.

"Aku mau tidur dulu." Ujar Allessa mengantuk dan mengelakkan kedua tangan James dari bahunya.

"Oh. Baiklah, kami juga akan tidur kok. Nah. Selamat malam."sahut Fred.

Allessa mengangguk dan berjalan ke koridor menuju kamar putri. Namun ada langkah kaki yang berderap pelan mengikutinya. Ternyata itu James.

"Als ! tunggu. Aku ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu." Kata james sambil mengeluarkan sebuah perkamen. "Ini formulir pendaftaran anggota tim Quidditch Gryffindor. Ini formulir pertama yang disebarkan. Kau patut berbangga hati, karena mempunyai sahabat yang tampan, baik hati, terkenal, dan loyal sepertiku."

"Hih. Jangan sombong dulu kau. Em, terima kasih banyak untuk formulirnya. Kau memang sahabat terbaik." Kata Allessa tersenyum tulus.

"Seleksinya akan diadakan besok sore untuk cheaser dan besoknya untuk keeper cadangan. Cepat tidur untuk menjaga kesehatan dan stamina mu untuk besok," Kata james dengan mencubit kedua pipi Allessa yang memang agak tembem. "dan semoga berhasil, berusahalah semaksimal mungkin." tambahnya sambil mengacak-acak rambut Allessa lalu berlari ke ujung koridor kembali ke ruang rekreasi.

"Oh ya ! aku lupa, Selamat malam putri tidur! Jangan lupa mimpikan aku, ya ! hahaha" Serunya di ujung koridor pada Allessa.

Allessa masih terpaku di tempatnya tadi berbicara pada James. Wajahnya kini semerah ceri, ia tak sanggup mengatakan apa-apa. Ia hanya melongo dan berjalan pelan kearah pintu kamarnya. Kenapa perasaan suka ini begitu membingungkan.

Howl ber uhu keras saat Allessa masuk dan berjalan menuju ranjang. Ia bersyukur melihat semua teman sekamarnya sudah berada di balutan selimut mereka masing masing dan tak ada yang menyadari ia belum ada di kamar. Allessa melihat tumpukan petinya dan sapu Lightning storm 002 yang berkilat ditimpa cahaya lampu tidurnya. Ia rapikan dulu semua pakaian dan jubah dari peti ke lemarinya. Lalu memakai piyama merah jambunya dan membaringkan tubuhnya ke kasur dan memanadang sapunya penuh harap. Beberapa menit kemudian ia sudah bermimpi menaiki sapu itu melewati tribune-tribune stadion Hogwarts. Ia sudah lupa keinginannya menulis surat untuk ayah dan ibunya.


Keesokan harinya Allessa merasa lebih baik mati. Ia mendadak menjadi sorotan para penggemar Andrew (yang sebagian besar Ravenclaw dan Slytherin) sebagai cewek lancang yang menabrak ksatria mereka. Beberapa anak Slytherin bahkan mencela Allessa. Ravenclaw hanya berani memberi Allessa tatapan galak, mereka tahu Peter akan membunuh siapa saja yang berani mengganggu adiknya.

"Kau tidak bersemangat hari ini. Ada apa?" tanya Fred begitu Allessa sampai di bangku panjang.

"Apa salahku terlalu ceroboh. Hingga aku mendapat perlakuan mereka."kata Allessa suram

"Kau tidak bersalah. Kau hanya perlu menigkatkan kehati-hatian mu untuk segala sesuatu, kawan."kata James sambil menyendok kentang tumbuknya.

"Brith, seberapa banyak kau tentang ketenaran Flint itu?" gumam Allessa galau pada brith yang berkonsentrasi dengan bubur krimnya. Brith tidak menjawab atau menoleh sedikitpun. Lalu Fred yang berada di sebelahnya menyenggol lengan Brith.

"Heh? Apa?" ujar Brith bingung

"Tak usah, Lupakan"

"Kau mau kami mengerjainya,' lessa?"tanya James di sela-sela kunyahanya.

"Dengar," Fred menggeser duduknya lebih merapat, "Kami sedang menunggu barang baru kiriman ayahku yang boleh kami jual di sekolah. Ada pastiles muntah, permen karet penggelembung, bantal kentut tidak terlihat, penggema suara lapar…."

"….. bulu gelitik tak tertahankan, balsam jerawat, dan …. Oh ! iya. Semprotan pemanjang rambut ekstrim. Nah, kau pilih yang mana?" lanjut James sangat antusias.

"Kalian terdengar sedang menawariku pergi ke neraka." Ujar Allessa penuh derita.

"Hei! Pos Pagi datang!" Seru Fred menunjuk sesuatu seperti gumpalan bulu yang melesat masuk cepat di udara melalui lubang jendela yang terbuka di langit-lagit aula besar. Koreksi. Bukan sesuatu, tapi puluhan dari sesuatu itu. Dan itu semua adalah burung hantu dengan berbagai kiriman yang terikat di kaki mereka.

Semua mendongak berharap dihampiri salah satu dari mereka. Dan tanpa diduga, burung hantu cokelat gelap besar mendarat di sebelah piring sarapan Allessa. Burung hantu itu membawa sebuah bungkusan coklat. Allessa melepasnya dari paket dikakinya dan memberikan potongan daging panggang padanya, lalu burung itu terbang kembali. Allessa segera membuka bungkusan itu dan mendapati sebuah Victorian dress berleher tinggi dan penuh renda. Ia menganga menatap gaun itu seolah ia mendapat bayi Skrewt Ujung-Meletup. 'Apa yang dilakukan mum?' batinnya kesal.

"O-oh. Gaun antik, Lessie?" ujar James yang duduk disebelahnya. "Atau kupanggil madame Wood?"tambahnya jail.

"Coba baca suratnya, Als."kata Brith bijak.

Allessa segera membuka surat lampiran dari ibunya.

Dear,

Mum rasa kau lupa bahwa tahun ini ada kebutuhan gaun pesta di daftarmu. Mum kirimkan gaun lama mum ketika mum seusiamu. Mum harap kau menyukainya. Dan jangan sampai rusak karena gaun itu sangat berharga, honey. Kau bisa menambah beberapa dekorasi yang cocok untukmu. Selamat bersenang-senang!

Mum.

p.s :kirimkan fotomu saat memakainya. Pasti kau sangat cantik. Mum tahu itu.

"Apa maksudnya bersenang-senang?" jerit Allessa putus asa. "Aku akan semakin di sorot. Yeah, mum, terimakasih." Tambahnya lalu menenggelamkan kepalanya ke meja.

"Oh, tenang sobat. Aku bisa memperbaikinya untukmu." Sahut Brith santai. "Aku hanya butuh beberapa gelondong kain dan pita lebar. Kapan kunjungan ke Hogsmead dalam waktu terdekat?"

"Biasanya minggu keempat setelah tahun ajaran baru. Hei, apakah ini artinya akan ada pesta dansa tahun ini?" Kata Fred. Namun Allessa, Brith, dan James hanya angkat bahu.

Mereka menoleh kea rah podium dan melihat professor McGonagall berdiri disana. Burung hantu yang mulanya terlihat tidur dan mengatupkan kedua sayapnya, kini sedang terjaga dengan mata tajam dan sayap yang merentang lebar setelah kedua kaki Profesor McGonagall masuk ke dalam biliknya. "Mungkin ini akan menjelaskan sesuatu."ujar James membuat Allessa mengangkat wajahnya.

"Anak-anakku yang kusayangi, dan dewan guru yang sedang berbahagia. Pagi ini akan kukatakan beberapa hal. Yang pertama, tahun ini adalah tahun dimana kita akan menjamu tamu undangan kita dari sekolah sahabat kita, Beauxbatons dan Drumstrag. Dan itu berarti akan ada pesta natal besar tahun ini. Yang boleh mengikutinya hanya kelas empat keatas. Bagaimanapun, untuk apa kita membeli Jubah pesta jika tidak digunakan? Berusahalah untuk menjadi tuan rumah yang baik dan bermartabat. Yang kedua, tahun ini kita mendapatkan Guru pertahanan ilmu hitam baru, ini dia professor Alan Rickman!"

Seorang pria jakung dan pucat berambut hitam berdiri dari deretan guru disambut tepuk tangan riuh dari seluruh aula. Orang itu mengingatkan kami pada satu orang yang sangat terkenal dan dikenang. Professor snape, grur ramuan yang dianggap pahlawan dan di sisi lain dianggap penghianat.

"Kelihatannya kita punya Killerman baru nih" ujar James dengan muka sumringah seolah mendengar seseorang berhasil kesal karena leluconnya.

""Pasti seru." Sahut Fred dengan muka yang hampir sama.

"Hentikan kalian berdua. Tak ada hal lainkah selain hal yang bisa mendatangkan detensi dan potongan poin? Seharusnya kalian paham. Dia professor. Bukan Flich yang bisa kalian kerjai sesuka hati kalian." Kata Allessa tegas

"Lihat mukanya, penuh gurat amarah dan tanpa senyuman sama sekali. Datar dan tanpa ekspresi. Benar-benar orang yang tak punya humor." Kata Fred mempertahankan ide gilanya.

"Jika kalian masih ingin berbuat jahil. Pergi beri Mrs. Norris obat diare atau pil mimisan milik kalian sana! " kata Brith tanpa sadar. Allessa langsung menoleh dengan muka horror.

"Ide yang bagus, Brith. Terima kasih." Kata Fred dan James bersamaan lalu pergi keluar aula. Brith langsung menutup mulutnya seolah takut dengan apa yang baru saja ia katakan.

"Kau baru saja menyiram bensin ke dalam api, Brith." Kata Allessa taktis sambil mengemasi gaunnya.

Kini giliran Brith yang menyusupkan wajahnya ke meja.


Saat istirahat siang setelah makan siang, ruang informasi di bagian sebelah ruang guru mendadak ramai. Berbagai klub ingin menyiarkan pemberitahuan tentang pendaftaran anggota baru bagi kelas dua ke atas. Dan untuk Quidditch, Gryffindors diijinkan professor McGonagall menempel banner besar di papan pengumuman. Isinya tentu saja pendafataran bagi yang ingin bergabung dengan mereka. Dan Allessa tak perlu melihatnya lagi berkat jasa James. Jadi Allessa menurut saja mengekor di belakang Brith yang akan mengumumkan penerimaan di klub Brith, klub keterampilan.

"Kau tak perlu ikut jika kau tidak ingin ikut, sobat." Kata brith mengingatkan Allessa.

"Aku lebih baik mendengar suara cempreng mu di toa pembesar daripada terus-terusan bertemu penggemar Flint. Aku sudah berkali-kali sial hari ini." Kata Allessa suram. Hari ini dua kali dia disiram air se-ember, jatuh terpeleset lendir siput kebun pengunyah daging, dan kehilangan berbagai macam barang miliknya

"Oooh… jangan beri aku muka memelas seperti itu." Kata Brith sambil mengeluarkan tongkatnyan siap mendaraskan mantra penyebar suara.

"sonorus paralella." Gumamnya pelan sambil meletakkan tongkatnya di pangkal lehernya. Oh ya, cara kerja Toa pembesar suara adalah dengan mendaraskan mantra seperti yang dilakukan Brith lalu pembaca harus berbicara melalui Toa utama di ruang informasi, maka suara si pembaca akan terdengar di seluruh Toa pembesar suara yang tersebar luas di seluruh Hogwarts. Hal yang sama berlaku bagi bel jam pelajaran.

"Pengumuman, bagi siswi atau siswa yang berminat mengikuti klub keterampilan harap menyerahkan data dirinya di sebuah perkamen yang bisa kalian serahkan kan pada Brith O'nail kelas empat Gryffindor. Dan untuk anggota lama, dimohon berkumpul di kelas serbaguna sepulang sekolah nanti. Sekian." Umum Brith dengan suara yang sangat merdu.

"Suaramu benar-benar membuatku kagum Brith." Kata Allessa dengan mulut menganga kaget karena baru kali ini ia mendengar suara semerdu itu dari Brith.

"Oh. Terima kasih." Kata Brith. " Hei sebaiknya kita segera berangkat keluar kastil untuk mengikuti pelajaran Pemeliharaan Hewan Gaib, meskipun bel belum berbunyi."

"Ayo." Seru Allessa. Ia baru saja berjalan beberapa langkah ketika ingat bahwa ia lupa dengan bukunya di asrama.

"Brith aku harus kembali ke asrama terlebih dahulu. Kau bisa pergi dulu."

"OK. Pastikan kau tidak terlambat." Sahut Brith

Namun Allessa sudah berlari dengan kencang dan hanya mengangkat jempolnya ke atas tanda ia mengerti ucapan Brith. Allessa berlari dan langsung mengatakan kata kunci dari jauh sehingga ia tak perlu berhenti untuk mengatakannya kepada lukisan nyonya gemuk. Berlari tak masalah bagi Alles karena ia biasa dilatih fisik oleh ayahnya dengan cara berlari. Setelah mendapatkan bukunya Allessa langsung berlari lagi menuju keluar kastil. Ia berjalan berbelok ke koridor dan tiba-tiba ia terpeleset… Gedubrak!…. Dan bertepatan saat bel berbunyi.

"Ouch… " rintihnya sambil memegangi bokongnya yang basah karena sesuatu seperti minyak. Ia piker ia tau siapa pelakunya. "Sampai kapan penderitaan ini berakhir?' batinnya

"Butuh bantuan?" tanya sebuah suara.

Allessa mendongak menatap orang yang berbicara. Dan berdirilah Andrew Flint di depannya. Memberikan tangannya pada Allessa. Allessa ragu-ragu menerima uluran tangan Andrew.

"Aku tidak menggigit kok." Ujar Andrew melihat keraguan Allessa.

"Aku terjatuh karenamu, bisa di bilang begitu." Kata Allessa tenang.

"Ayolah, kita akan makin terlambat."

Akhirnya Alles meraih tangan itu dan Andrew mwmbantunya berdiri dari tumpahan minyak itu.

"Wow!" Allessa hampir saja terpeleset untuk kedua kalinya.

Jika saja Flint tidak meraih pinggangnya dan menahan keseimbangannya. Tangan Flint tangsung mendapat tepisan begitu Allessa sadar di mana tangan itu berada. Wajah keduanya masih berona merah jambu saat berjalan cepat keluar dari pintu gerbang.

Mereka keluar kastil dan berlari menuju pondok Hagrid yang dipenuhi Anak-anak Gryffindor dan Slytherin.

"Potong lima angka masing masing untuk Slytherin dan Gryfindor." Teriak hagrid saat melihat dua anak yang terlambat masuk kelasnya.

"Emm. Aku mengalami kecelakaan Profesor. " kata Allessa

"Kalau begitu, tambah lima angka untuk Gryffindor." Kata Hagrid

Yang mengherankan, Andrew diam saja. Allessa berpikir Andrew akan mengikutinya menyatakan alasan keterlambatanya. Namun tidak. Allessa hanya mendengus tidak peduli.


Sore ini seleksi akan di mulai. Jantung Allessa berdetak cukup kencang. Ia memakai jubah trainee milik Gryffindor yang ia dapat kan ketika ia menyerahkan Formulir pendaftaran. Ia juga memakai sarung tangan Quidditch miliknya. Allessa mondar mandir di ruang rekreasi gelisah sambil sesekali melihat jam tangannya. 'Seleksi kan di mulai setengah jam lagi. Ooohh apa yang harus ku lakukan.' Katanya panik dalam hati.

"Kau akan semakin cemas jika kau panik. Santai saja. Dan semua akan baik-baik saja." Kata James mengingatkan.

"Kau akan disana kan ?" tanya Allessa gusar, memegang sapunya dengan kuat.

"Tentu. Aku juga harus melihat performa yang diseleksi." Jawab James dengan yakin sambil memberi senyum kecil ke Allessa. "Aku akan di sana juga mendukungmu."

"Hanya pastikan akau memberi kemampuan terbaikmu, oke?" Kata Fred memberi semangat.

Allessa hanya mengangguk-angguk lalu menghempaskan diri ke sofa empuk. James memberikan segelas minuman kesukaan Allessa, cokelat panas dengan aroma macam-macam. Kali ini jeruk.

"Terima kasih." Kata Allessa pendek.

"Kami juga akan disana, Als." Kata Charina dan Roxanne hampir bersamaan "Kami mendukungmu." Tambah Charina.

"Kau juga akan mendukungku kan?" tanya Fred dengan mata berbinar-binar.

"Untuk apa?" tanya Char balik dengan mengernyit.

"Aku juga di lapangan Char sayang…." Kata Fred penuh rasa kasih sayang.

Charina hanya merinding menderngarnya. Dan yang lainnya tertawa. Candaan tentang Fred dan Charina dan segelas cokelat panas membuat suasana hati Allessa mulai tenang dan tak lagi tegang.

"Brith akan datang, kan?" tanya Allessa masih cemas

"Aku tak tahu, Als. Mungkin acara klub nya sebentar lagi selesai." Jawab James sambil memberi tatapan tenang pada Alles. "Dan jangan cemas lagi." Tambahnya dengan tatapan pura-pura galak.

Alessa hanya memberikan senyuman sebisanya. Dan tiba-tiba muncul lah yang baru saja di bicarakan, Brith O'nail. Wajah brith sangat sumringah melihat mereka semua.

"Penerimaannya sukses. Banyak anak kelas dua dan tiga tertarik. Kyaaa!" jeritnya sangat bahagia. "Dan coba tebak, Akulah ketua untuk periode tahun ini."

"Kyaaaa!" dan akhirnya semua gadis turut berbahagia dengannya. Fred hanya tersenyum miring dan ikut memberi selamat dan James menyalami ketua klub keterampilan yang baru ini.

"Yap! Sepertinya ini waktu yang tepat untuk berangkat ke lapangan. Ayo!" Ajak James

Lalu mereka semua bergerak menuju lapangan. Allessa, Charnia, Fred dan james langsung masuk ke lapangan dan membiarkan Brith, Roxanne, dan Miranda mencari tempat duduk yang dekat dengan gawang. Sulit di percaya, tribune di sekitar gawang dan bangian tengah agak ramai. Dan hei! Ada Andrew disana melambaikan tangan pada Allessa. Dan Allessa bahkan sempat menangkap bayangan Peter dan pacarnnya, Janette Davies, duduk di salah satu tempat di tribune. Peter memasang muka kesal dan Janette bermuka masam bosan dan jengkel.

Pandangan Allessa dan Peter bertemu. Peter memberi pandangan mengancam ke Allessa, dan Allessa hanya memberi pandangan menantang.

Allessa's POV

Kau melihatku peter? Ya, aku disini melakukan larangan terbesarmu. Seleksi Quidditch. Lihat matanya? Dingin sekali melihatku. Huh. Kasihan sekali si bodoh itu. Ia pasti sangat terpaksa mengikuti Peter kemari. Dia kan takut kelembapan lapangan rumput merusak keindahan kulit cantiknya dengan bintik-bintik.

Aku tidak peduli dan meleggang terus menuju dekat tenda persiapan. Lightning Storm-ku sudah dalam genggaman. Tinggal tunggu waktu di mulai.

Namun tiba-tiba kulihat Peter. Mengerjarku dan berhasil menarik tanganku.

"Apa yang kau lakukan disini?!" tanyanya dengan muka terlihat sangat murka

"Seleksi. Dan kau tak bisa menghalangiku. Aku sudah empat belas tahun, Pete!"

"Kuperingatkan kau, nona muda Wood! Aku harus menjagamu dari segala bahaya. Kau tahu, kan?" kata Peter mulai naik emosi.

"Peter! Aku sudah cukup mandiri untuk menjaga diriku sendiri! Aku tak mau kau atur-atur. Aku bukan bayanganmu."

Peter menghela nafas mualai melunak. Dan diam sejenak untuk berpikir apa yang ingin dia katakan. "Dengar, Aku hanya ingin kau baik-baik saja. Dan tanpa luka, Jika kau ingin ikut," Peter menahan nafasnya, "Kau harus berhati-hati. Dan berjanjilah kau tidak akan melakukan hal yang ceroboh. Mengerti ?"

Aku hanya mengangguk. Peter berbalik kembali ke tribune. Dan saat itu lah kudengar bunyi peluit panjang. Aku menoleh dan melihat semua peserta berlari ke satu arah. Aku langsung ikut berlari sambil mengenggam sapuku dengan sangat erat.

"Semua peserta, merapat kemari!" Teriak Victorie Weasley , sang kapten Quidditch.

"Dengar, Calon Keeper ikut Nott ke gawang timur, dan untuk Calon Cheaser ikuti aku. Nah kawan-kawan, kuharapkan kemampuan terbaik kalian. Semoga beruntung." Kata murid kelas tujuh itu sangat tegas dan ber wibawa.

Kami semua langsung terbagi dalam dua rombongan. Sempat kulihat Rose Weasley ikut dalam seleksi ini di bagian keeper. Wow! Gryfindor kali ini benar-benar di dominasi oleh klan Weasley—Potter.

Victorie menjelaskan cara seleksinya. Peserta harus maju per grup dan membuat sebuah taktik. Dan minimal memasukkan tiga bola ke dalam ring dalam 15 menit. Dan dinilai dengan nilai individu. Itu cukup sulit. Tapi aku yakin bisa melakukannya.

Saatnya mengambil nomer dan, viola! Aku mendapat urutan keempat. Aku satu regu dengan seorang anak laki-laki kelas dua dan seorang anak perempuan kelas tiga yang setahuku bernama Jane Froster. Kami sudah merencanakan taktik yang sangat jitu. Taktik ini sebagian dari taktikku dan sebagian lagi dari taktik yang gagal Dad halau dari gawangnya. Giliranku masih lumayan lama, Aku berjalan dan tiba-tiba ada yang menarik tanganku.

End Allessa's POV

"James!" seru Allessa berusaha berontak.

"Ikut aku sebentar." Ujar James pendek menyeringai misterius sambil menarik Allessa ke suatu tempat. Dan berhenti di samping tenda pemain.

"Hei, sebentar lagi giliranku. Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Allessa dengan muka mengernyit.

"Berikan aku tanganmu." Kata James

Allessa ragu. Ia takut akan di beri barang aneh-aneh dari James. Namun ia tetap mengulurkan telapak tangannya pada James.

"Aku hanya akan meminjami mu ini." James mengeluarkan sebuah kalung berliontin sebuah botol kecil berisi cairan bening yang ditahan kuat dari anyaman tali kalung itu. "Ini jimat keberuntungan ku. Aku mau kau memakainya. Aku memakainya demi keselamatan. Tapi yah, bisa kau lihat. Aku lebih sering jatuh. Bayangkan jika aku tanpa ini. Aku mungkin sudah tinggal nama." Ujar James sambil meletakkan kalung itu dalam genggaman tangan Allessa.

"OK. Selamat berjuang!" ujar James sambil memegang pipi Allessa dengan kedua tangannya. Ia mendekatkan kepalanya ke kepala Allessa dan…

…. membenturkan dahinya pelan ke dahi Allessa. "Kepalamu keras juga..hehehehe." ujarnya dengan aneh.

James segera pergi setelah mengacak-acak rambut Cokelat milik Allessa yang di kuncir kuda. 'de javu?' batin Allessa sambil menuju tempat seleksi dengan muka memerah. Perasaannya meledak-ledak. Ia merasa lebih ringan sekarang. Allessa lantas memakai kalung milik James

Giliran Allessa di mulai. Ia menunggu peluit berbunyi menandakan bahwa seleksi di mulai. Ia mantap memegang gagang sapunya, siap menghentak tanah sekuat tenaga. Ia berperan sebagai cheaser pencetak gol. Seruan dari sahabat-sahabatnya membakar semangatnya.

PRIIIIITTT! Whuss! Tiga sapu terbang melesat dengan kecepatan yang menakutkan. Regu Allessa pertama-tama harus merebut Quaffle dari lawan terlebih dahulu. Ia menugaskan Jane melakukannya. Dan berhasil. Jane mengoperkan Quaffle tidak dengan lemparan, melainkan dengan gerakan melayang melambung melewati Allessa. Allessa selanjutnya harus mengoper ke si kecil kelas dua dengan tipuan. Selanjutnya si kecil di perintahkan menembak ke gawang Victorie Weasley, namun Cuma tipuan lagi, dan ternyata Allessa lah yang memegang kendali untuk memasukkan bola. Allessa meluncur cepat ke gawang dan menukik keatas setelah mendekat dua meter dari Victorie. Dan saat celah Victorie kaget itu lah ia memasukkan bola. Dan… GOLL… penonton bersorak!

Selanjutnya taktik mereka semakin menggila dan memberikan tiga gol lagi dalam sepuluh menit. Allessa benar-benar mengerahkan kemampuan terbaiknya.

Di tiga menit terakhir. Allessa harus memberikan kesempatan pada dua orang anggotanya. Mereka meluncur setelah merebut bola dan Allessa sadar, bola itu berwarna hitam-Quaffle tipuan, Quaffle seharusnya berwarna merah. Ia langsung menendang mengembalikan bola itu ke lawan. Dan mencoba mencari Quaffle yang sesungguhnya. Si kecil melihatnya dan langsung merebutnya dari tangan lawan. Mereka kembali ke permainan taktik mereka yang hampir tanpa cacat. Saling mengoper dengan taktik tinggi membuat Keeper sendiri bingung. Dan setiba Dua meter dekat gawang allessa memberikan bola kepada Jane, namun Jane malah memberikan bailk ke Allesa dengan putus asa.

"Waktu kita habis Allessa!"teriaknya

"Tidak, Belum!"teriak Allessa penuh semangat.

Ia membawa Quaffle itu dengan tangan kanan. Namun tiba-tiba ia melepas tangan kirinya dari sapu dan dengan cepat Quaffle berpindah tangan ke tangan kirinya, siap ditembakkan, dan tangan kanannya memegang sapu. Saking cepatnya berpindah tangan, Vic masih mengira ia akan menembak dengan tangan kanan dan menjaga daerah kanan. Namun…

WHUS!PRIIIIIIIIITT! masuknya Gol Allessa bertepatan dengan habisnya Waktu. Allessa langsung melayang berputar di udara. Saat turun ke tanah lapangan, Brith, Charina, Fred, James, Roxanne, Miranda bahkan peter mendatanginya.

"Kau hebat!" seru Fred

"Kau mengira kau terbang tanpa memegang sapu tadi." Kata Brith sangat antusias

"Nilai mu pasti sangat tinggi. Taktikmu benar-benar rapi." Puji James

"Yang terpenting kau selamat." Kata Char kalem lalu memeluk Allessa dalam balutan jubah Seragam trainee. Semua gadis mengikuti tindakan Char walau badan Allessa tak karuan baunya.

"IUUH…. Hahahaha." Tawa para gadis meledak.

"Sekarang, ayo kita kembali ke Asrama. Kita tunggu pengumuman hasilnya nanti malam." Kata James membuyarkan kerumunan Allessa and the girls. Mereka berjlan menuju kastil.

"Hei. James!" seru Allessa pada James dan James langsung membalikkan badannya menatap Allessa.

"Terima kasih untuk semuanya. Untuk Quidditch, cokelat panasnya dan kalung keberuntungannya." Katanya malu-malu

"Hemf.. tak apa." Kata James santai lalu membalikkan badannya kembali berjalan.

Sadar tak ada lagi temannya yang menunggunya, Allessa berteriak pada James. "JAMES SIRIUS POTTER ! TUNGGU AKU."

Sesaat kemudian terdengar ledakan tawa James dari jauh.


"Briiiiiiiith! Chariinaaa! Mirandaaa! Roxanne! AKU TERPILIH. Kyaaaaaaaaaa !" teriak Allessa setelah mengetahui ia lolos dalam seleksi pada malamnya di kamar asrama.

"Benarkah?"tanya seluruh orang dalam kamar

"Benar. Victorie baru saja menempel hasilnya di ruang rekreasi."

"AAAAAAA" semua segera berjingkrak-jingkrak hingga….. PRANG! tak sengaja memecahkan botol berisi perkamen untuk hiasan kamar mereka.

"Oh, apa ini?"tanya Brith

"Tak usah kalian pedulikan ini hanya hiasan. Aku akan membersihkannya. Kalian tidur saja." Kata Allessa

"Baik, selamat malam Als. Cepat tidur." Kata mereka

Allessa mengangguk dan membersihkannya dengan sihir. Lalu ia tak sengaja melihat sesuatu seperti surat. Terdorong keingin tahuannya ia membuka perkamen itu. Dan menemukan bahwa..

Dear siapa pun yang menemukan ini,

Kuberitahu rahasia. Kamarmu memilikai sebuah balkon ajaib yang bisa kau buka. Letakkan tangan mu di jendela kaca yang tak pernah terbuka. Ucapkan, 'Aku keturunan Crouch. Biarkan aku masuk.' lalu buat garis X dengan jari mu. Maka kau akan masuk ke balkon ku. Selamat mencoba.

B.C Jr

Terdorng rasa ingin tahunya yang besar, Allessa melakukan yang ada di surat. Mula-mula ia meletakkan telapak tangannya di jendela yang dianggap macet. Lalu ia menggumamkan kata kuncinya.

"Aku keturunan Crouch. Biarkan aku masuk." Gumamnya agak pelan takut membangunkan teman-temannya. Allessa melakukan tindakan ke tiga dan ia mendengar kan dengan sangat seksama. Ia mendengar dengkuran lembut milik teman-temannya. Dan ajaibnya ketika ia mencoba membuka selot jendela itu, jendela itu terbuka seperti pintu. Ukuran jendela yang tidak jauh beda dengan ukuran pintu membuat Allessa mudah melangkah masuk. Awalnya ia ragu untuk melangkah. Namun setelah menemukan bahwa ada lantai yang bisa ia pijak. Allessa memutusakan masuk.

'WAh…..' ia sangat kagum dengan balkon rahasia ini. Ia mencoba melihat sekitar dan menemukan seseorang. Ia sangat kaget melihat orang itu disini. Orang itu pun kaget dengar kehadiran Allessa di tempat yang sepertinya sudah menjadi privasinya.

"KAU?!" seru mereka berdua bersamaan

TBC

Siapakah yang bertemu dengan Allessa di balkon temuannya?

Apa yang terjadi pada Allessa Dan Andrew?

Apa pula yang terjadi pada Allessa dan James?

Tunggu kelanjutannya di chap berikutnya ! bye2!


(a/n)Gimana ceritannya ? kepanjangan ? terlalu membosankan?

Ato malah bikin ILLFEEL?!

Aduuuuuuhhh…. Sori banget klo gitu… jeongmal mian!

Penjelasan untuk Alan Rickman, dia pemeran Severus Snape dalam film Harry Potter. Kan selama idup Snape kan pgen BGT jd guru pertahanan ilmu hitam tp g pernah kesampean (HP5) berhubung orang x udah mati duluan, jadi aku ber inisiatif buat ngidupin lagi dgn nama lain.

panggilannya Allessa jadi mirip panggilannya Albus Potter yah...

Untuk Chap selanjutnya aku nggak bisa njanjiin update cepet. UNAS udah di depan mata guys.. :'(

Tapi aku nyempetin BGT buat ngelanjutin nulis

Dan untuk. , Uzumaki Ucha D'Sapphire, LavenderSun, megu takuma, Reva, fanspotter, Garnett, Dandeliona96,

Makasih banget dah ngereview

Dan yang belom ngeriview ? RnR please…..

Sampai jumpa di chap 5