Summary: Mamori merasakan perasaan yang ganjil… apa itu?


Sebenarnya hari itu biasa saja bagi Mamori—Hiruma masih mengarahkan pasukan-pasukan Devil Bat-nya dengan AK-47—jika dia belum mengetahui kalau sebenarnya Hiruma bergabung dengan situs cinta agar percintaannya dibantu. Setiap bertemu dengan Hiruma, dia selalu ingin tertawa, tetapi di lain sisi dia ingin menjerit kepada Hiruma.

"Kau kenapa sih, manager sial?" tanya Hiruma saat latihan usai.

"Ha? Aku? Aku.. aku kenapa?" Mamori menanyainya balik sambil menunjuk dirinya sendiri. Hiruma menggeleng.

"Malah bertanya kepadaku. Justru aku tidak tahu kau kenapa, manager bodoh! Kau seperti aneh hari ini," Hiruma menatapnya curiga, yang membuat Mamori seperti sedang dipelototi oleh setan (karena memang itu yang terjadi).

"Aku… aku nggak apa-apa kok! Jangan tanya yang aneh-aneh deh, Hiruma!"

"Tapi kau betul-betul aneh hari ini, manager sialan!" Hiruma ngotot ingin tahu. Mamori berdiri dari duduknya dan berdiri membelakangi Hiruma.

"Aku nggak apa-apa! Ngotot amat, sih!" seru Mamori kepada sang kapten. Lalu ia berjalan menuju lokernya.

Ia hendak membuka lokernya saat Suzuna tiba-tiba muncul dan berkata, "Hayo~ Ada apa dengan Mamo-nee dan You-nii? Kalian berdua sedang bertengkar karena orang ketiga, ya~?"

"A—Apa? Suzuna, jangan mengarang yang tidak-tidak, dong!"

"Kalau aku salah, kenapa muka Mamo-nee merah?"

"Ha—haa?" Mamori memegangi pipinya yang panas. "Nggak! Nggak mungkin! Sudahlah, Suzuna!"

"Hahahaha~~ You-nii sama Mamo-nee pacaran lho!" Suzuna mengumumkan kepada seluruh anggota Devil Bat. Lalu mereka meneriakkan "APA?" serentak, seakan-akan mereka adalah kelompok paduan suara.

"Mamori-neesan, apakah itu benar?" tanya sang Eyeshield 21, Sena.

"Nggak, Sena! Jangan percaya hal begitu—"

Hiruma mengeluarkan senapan-senapannya dan segera menembakannya. Seluruh orang di ruang loker pun tiarap dan teriak kewalahan, mencari tempat berlindung. Kecuali Mamori, dia mengambil sapu terdekat dan menangkis semua peluru yang dilontarkan senapan Hiruma.

"Diam kalian! Kita nggak punya waktu untuk bicara tentang hal tidak jelas seperti itu! Seharusnya waktu luang digunakan untuk membicarakan strategi mendapatkan Christmas Bowl!" seru Hiruma. Dia berhenti menembak, dan memasukkan senapannya ke dalam tas-nya lagi. Dia pun berjalan keluar, meninggalkan seluruh anggota Klub Amefuto SMU Deimon terbengong.

CHAT

Users: DevilBatBoss, PinkuMori

DevilBatBoss: Hei
DevilBatBoss: Kau lagi

PinkuMori: iya.. memang kalau aku lagi, ada apa?

DevilBatBoss: tidak apa-apa

PinkuMori: Kau sudah membeli hadiah untuk cewek itu?

DevilBatBoss: Belum
DevilBatBoss: Aku bingung ingin membelikannya apa
DevilBatBoss: Kalau kau sebagai cewek, ingin dibelikan apa?

PinkuMori: Hm… Tergantung cewek itu sendiri, inginnya apa..
PinkuMori: Kalau aku sih… mungkin perhiasan dan yang lain-lain akan cukup bagus..

DevilBatBoss: Perhiasan? Baiklah..

PinkuMori: Eh?
PinkuMori: Kau mau membelikannya itu?

DevilBatBoss: Ya

PinkuMori: Ooh…
PinkuMori: Selamat berjuang, ya!
PinkuMori: Aku left

DevilBatBoss: Baiklah

PinkuMori left the chat.


"Mamori? Kau mau kemana?" tanya Ibu Mamori saat melihat anaknya memakai pakaian pergi dan menenteng tas.

"Aku mau beli gaun bu, untuk prom kelulusan minggu depan," jawab Mamori sambil memakaikan sepatu ke kakinya. "Aku pergi ya, bu!"

"Hati-hati, Mamori!" seru ibunya saat Mamori sudah di depan gerbang rumah.

Beberapa menit kemudian, Mamori sudah berada di gerbong kereta menuju Shibuya. Karena ramai, dia terpaksa berdiri dan berdesak-desakan. Dan tanpa sengaja dia mendorong seseorang.

"Aw—Ma-maaf! Saya tidak sengaja— Hiruma?"

"Heh? Kau lagi, manager sial?" tanggap Hiruma santai.

"Kenapa kau naik kereta ini?"

"Memang tidak boleh kalau aku naik kereta jurusan ini?"

Mamori terdiam. Selain karena dia tidak bisa menjawab, dia terdorong-dorong oleh orang dibelakangnya.

"Ck, dasar kereta sial," kata Hiruma sambil mengeluarkan senjatanya. "Jangan, Hiruma!" cegah Mamori, tapi terlambat. Hiruma menembakan senjatanya yang membuat semua orang di kereta panik dan mengira bahwa kereta itu dibajak.

"Nah, kalau seperti ini kan, nyaman," ucap Hiruma seraya menaruh kembali senjatanya saat semua orang yang tadinya berdiri sekarang berjongkok ketakutan, kecuali Mamori.

"Hiruma! Kenapa kau selalu membuat kerusuhan di setiap tempat,sih?"

"Bukan aku yang mulai. Mereka yang mencari masalah."

"Jelas-jelas kau yang mulai, Hiruma! Berdesak-desakan di kereta kan, hal yang wajar! Apalagi sekarang itu malam Sabtu!" Hiruma menutup kupingnya dengan kedua telunjuknya, tidak mau mendengarkan omelan Mamori. "Hei, dengarkan aku!"

Mamori menarik lengan bajunya, membuat Hiruma menoleh ke arahnya. Saat Mamori menarik lengannya, Mamori juga memajukan wajahnya, yang membuat wajah mereka hanya tinggal sejengkal. Hal ini membuat Mamori memerah.

"A-Aaah! Sudahlah! Aku capek bicara denganmu!" Mamori mendorong Hiruma.

"Hee… sudah kuduga dari dulu, manager sial."

"Apa?"

"Kau menyukaiku." Hiruma membuat permen karetnya menjadi balon dan balon itu pecah dengan segera. Terjadi pause selama beberapa detik.

"HAH?" teriak Mamori. "Itu—nggak mungkin, kan?" Jantung Mamori berdebar.

"Hm.. tidak mungkin, ya?" ejek Hiruma.

"Te—tentu saja! Mana mungkin kan?"

'Mana mungkin? Lalu kenapa aku berdebar?' ucap Mamori dalam hati. "Sudahlah, Hiruma! Dari tadi sore kau selalu menanyakan hal yang aneh!" Mamori membuang mukanya dari pandangan Hiruma.

"Oke, oke, aku tidak tanya apa-apa lagi." Hiruma mengangkat kedua tangannya seperti sedang disergap polisi. Tapi seorang Hiruma tidak mungkin melakukan hal itu saat disergap polisi. "Tapi aku mau kau, manager bodoh, temani aku membeli sesuatu!"


Update chapter 3~~ aye aye~~ apdet kilat nih, abis pada minta apdet kilat *plak*

Bagaimana? Hope you like it~ See you soon! *lari dengan kecepatan Sena*