Beautiful Mistake
.
.
.
.
.
.
.
Haruno Sakura, Uchiha Sasuke
.
.
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
.
JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DILARANG COPAS DAN PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN!
DLDR!
Selamat Membaca!
oOo
Tokyo, 7 tahun lalu.
Sasuke merasakan angin malam berhembus mengenai tubuhnya. Kulitnya putih dan dia tampan, beberapa wanita memandangnya dengan pandangan genit dan dia menatap mereka tanpa minat. Tidak ada yang menarik minatnya selain pekerjaan.
Sahabatnya, Naruto selalu mengatakan jika dia terlalu kaku karena bekerja terus menerus. Tetapi dia bekerja untuk memenuhi kehidupannya dan juga ibunya. Kakaknya sibuk dengan keluarganya dan dia harus mencukupi kehidupannya dan ibunya. Apalagi ayahnya sudah meninggal.
Salju mulai turun dan Sasuke merasakan rasa dingin menusuk tulangnya. Hanya dengan bermodalkan jaket butut miliknya, Sasuke berjalan menyusuri jalanan malam kota Tokyo. Dia yakin ibunya pasti sudah tidur, dia bisa membayangkan tempat tidurnya yang empuk dan hangat.
"Sasuke-kun?"
Sasuke menolehkan kepalanya dan menatap seorang wanita berambut pink berdiri di belakangnya dengan baju hangat miliknya. Wajahnya memerah karena rasa dingin yang menusuknya.
"Hn."
"Aku pikir bukan dirimu." Sakura berjalan di sampingnya. "Dingin sekali, ya. Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan disini?"
"Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan?"
"Aku dari kampus dan kebetulan aku lapar, jadi aku membeli makanan. Keluargaku sedang keluar kota jadi aku tinggal sendirian di rumah. Rasanya menyeramkan tinggal sendiri."
Melirik wanita berambut pink itu, dia merasa tidak ada yang berubah kecuali bentuk tubuhnya. Seingatnya, saat dia berada di sekolah dasar, Sakura memiliki jidat selebar bandara dan bentuk badannya yang seperti papan cucian. Namun, sekarang wanita itu terlihat lebih berisi dengan beberapa tonjolan menggoda di tubuhnya.
Tetapi, sifat wanita itu tidak berubah sama sekali. Masih saja ramah dan murah senyum. Seingatnya, Sakura bukan tipe orang yang memilih teman. Entah mengapa, meski wanita itu mengejarnya, dia merasa jika Sakura bukanlah tipenya.
"Mau mampir ke tempatku?"
Sasuke memperhatikan Sakura dan wanita itu terlihat malu-malu.
"Hn?"
"Aku memang tidak tahu dimana rumahmu, aku dengar dari ramalan cuaca jika akan turun salju. Bagaimana?"
Dan entah mengapa, Sasuke meng'iya'kan ajakan wanita di sampingnya itu.
.
.
.
.
Tokyo. Sekarang.
"Selamat datang." Jiraiya maupun Yamato menyambutnya. "Kami sudah menunggumu."
"Terima kasih banyak." Sakura tersenyum dan duduk di samping Neji.
Sasuke merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Mungkin karena selama ini dia selalu dipuja sebagai public figure, Sakura sama sekali tidak memandangnya. Wanita itu terlihat ramah dan dia yakin jika itu benar-benar Sakura yang dikenalnya. Lalu, mengapa dia harus memikirkan jika wanita itu tidak memandangnya?
"Kami ingin anda memainkan peran ini." Jiraiya memberikan naskah kepada Sakura.
"Neji-kun sebelumnya sudah mengatakan padaku tentang sinopsisnya, aku menyukai ceritanya."
"Tentu saja, Neji yang membuatnya." Jiraiya tertawa. "Jadi, kapan kita bisa mulai syutingnya?"
"Aku sudah mengatakan pada atasanku dan dia mendukungku. Jadi, kita bisa mulai kapanpun." Sakura tersenyum.
"Aku suka dirimu!" Jiraiya menepuk bahu Sakura. "Jadi, kita bisa mulai syuting lusa, bagaimana?"
Mereka semua menjawab dengan kompak. Tidak ada yang berani membantah produser mereka.
"Baik."
"Tapi, Sakura-chan. Aku ingin beberapa pemain dan kru di vaksin. Apa kamu bisa melakukannya?" tanya Yamato.
Sakura mencoba berfikir sejenak.
"Baiklah. Sebelum syuting saya akan melakukannya. Saya akan meminta bantuan dari pihak rumah sakit untuk membantu."
"Aku semakin suka wanita ini." Jiraiya tertawa puas. "Baiklah semua sudah ditentukan."
.
.
.
"Hoek!"
Sasuke merasakan makanannya naik dan dia memuntahkan isi perutnya. Setelah rapat selesai, dia segera menuju toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Entah mengapa, rasanya sangat mual hingga membuatnya harus memuntahkan semua sarapannya.
Memandang wajahnya di cermin, dia melihat wajahnya yang sangat pucat. Apakah ini permainan takdir dari kami-sama? Jika memang ini bukanlah sebuah kebetulan, tidak mungkin Sakura ada disini jika bukan karena takdir. Mengusap mulutnya yang terasa pahit, dia segera keluar dari toilet.
"Sasuke-kun, kamu tidak apa-apa?"
Kepalanya terasa pusing ketika mendengar suara Karin dan saat wanita itu memeluknya. Seingatnya meski Sakura sangat cerewet dengan suara cemprengnya, tidak ada yang lebih membuat sakit kepala selain suara milik Karin.
"Hn, mungkin aku hanya sedikit masuk angin."
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Karin.
Bagi Karin, Sasuke bukanlah orang yang mudah ditaklukan. Sasuke adalah pangeran sedingin es dan begitu sulit mendapatkan hatinya. Jadi, ketika mereka akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih, dia rela melakukan apapun asalkan Sasuke tidak berpaling darinya.
Sasuke adalah pria idaman wanita manapun dan pria itu bisa mendapatkan wanita manapun hanya dengan menjentikkan jarinya. Dan baginya, Sasuke adalah alat yang bisa dia manfaatkan untuk membuatnya menjadi terkenal.
"Sasuke, Karin, ada apa?"
Mereka berdua menolehkan kepalanya dan menatap Neji yang muncul sembari menggandeng tangan Sakura. Wanita berambut pink itu tersenyum manis, Karin tidak menyukai senyuman itu.
"Ano, Sasuke-kun sedikit masuk angin." Karin menjelaskan kepada Neji.
"Oh, apa dia butuh obat?" tanya Sakura. "Aku memiliki beberapa obat darurat di tasku."
"Tidak perlu, terima kasih." Sasuke menjawab. "Aku hanya perlu istirahat."
"Jika kamu mau. Kamu bisa bergabung makan siang bersama. Kebetulan Naruto sudah ada disana." Neji menanggapi.
"Baiklah. Aku ikut!" Karin menjawab tanpa diminta. "Ayo Sasuke-kun, kamu harus makan supaya sehat!"
Dan kepala Sasuke terasa dua kali lipat lebih sakit.
.
.
.
.
"Sakura-chan selamat!"
Sakura merasa surprise ketika teman-temannya menyambutnya dan memeluknya satu persatu. Padahal Naruto yang mengajaknya makan siang dan sekarang berkumpul semua teman-temannya.
"Terima kasih." Sakura tersenyum. Kemudian dia memeluk Shikamaru yang berada di sebelah Hinata. "Bagaimana kabarmu, tuan pemalas? Lihat wajahmu ini. Apa kamu belum bisa move on ketika Ino menikah dengan Sai atau ketika lamaranmu ditolak Temari-nee?"
"Kau ini masih saja usil, merepotkan." Shikamaru menatap Sakura. "Aku sudah move on. Apa kau mau menikah denganku saja?"
Sasuke melotot ketika mendengar pertanyaan Shikamaru yang dilontarkan untuk Sakura. Entah mengapa, dia tidak suka ketika Sakura mendapatkan pertanyaan seperti itu. Sedangkan Karin, dia merasa muak melihat Sakura yang menurutnya terlalu genit terhadap lelaki.
"Hoi, langkahi dulu mayatku, Shika!" Neji menanggapi.
Mereka semua tertawa lepas dan duduk di salah satu kursi. Mereka sudah lama tidak saling bertemu dan terasa menyenangkan ketika akhirnya mereka bisa bertemu dan saling bercanda satu sama lain. Rasanya seperti kembali ke masa lalu mereka.
"Selamat atas filmmu, Sakura-chan!" Naruto tersenyum lima jari.
"Filmnya saja bahkan belum dibuat, dasar bodoh!"
Tawa mereka kembali meledak ketika melihat Naruto yang mengerucutkan bibirnya tanda dia kesal. Meski sudah memiliki anak, Naruto tidak pernah berubah dan mereka suka sekali menjadikan Naruto sebagai sasaran empuk bagi candaan mereka.
Tidak ada yang akan percaya, jika Naruto murid yang bodoh di kelas mereka sebelum Rock Lee akan menjadi pengusaha sukses yang sekarang menjabat menjadi direktur hanya dalam waktu empat tahun. Naruto memang orang yang gigih dan selalu bekerja keras agar diakui oleh mereka dan sebenarnya mereka sudah mengakui Naruto, hanya saja pria itu sangat keras kepala.
Hingga akhirnya, Naruto dengan cengiran khasnya mengatakan akan menikah dengan Hinata. Wanita yang telah dipacarinya selama tiga tahun. Neji tidak bisa berbuat apa-apa selain merestui adiknya menikah dengan Naruto. Naruto yang cengengesan menikah dengan Hinata yang lemah lembut dan menghasilkan keturunan yang super usil.
Uzumaki Boruto lahir setelah kedua orang tuanya menikah dan sangat usil. Sewaktu balita, Boruto bahkan menusuk mata Shikamaru dan menjambak rambut panjang milik Neji. Di usianya yang keempat tahun, Boruto bahkan membuat Chouji mengamuk karena mengatainya gendut. Benar-benar kombinasi menyeramkan antara Hinata dan Naruto.
"Ngomong-ngomong, Sakura-chan. Bagaimana kabar Sarada-chan?"
Pertanyaan Naruto membuat mereka semua berhenti tertawa dan berbicara. Hinata segera menginjak kaki suaminya dan Karui melotot memandang Naruto yang memandang mereka dengan pandangan bingung tanpa dosa. Sakura tersedak makanannya dan segera meneguk air putih yang ada di meja makan.
Karin menatap mereka dengan pandangan bingung. Dia memang bukan bagian dari kelompok ini. Dia bergabung semenjak berpacaran dengan Sasuke dan merasa jika kelompok ini menyenangkan karena mereka bukan berasal orang-orang sembarangan. Sasuke menatap mereka semua dengan curiga. Otaknya yang jenius mulai mencerna apa yang terjadi.
Naruto menatap Sasuke sebelum membuka mulutnya lebar-lebar. Bagaimana bisa dia lupa jika ada si pantat ayam disini. Dia yakin jika Sakura akan membunuhnya saat ini.
"Siapa itu, Sarada?" tanya Sasuke.
Aaahhhh! Naruto membuka mulutnya lebar-lebar dan Sakura yang menatapnya dengan pandangan tajamnya. Dia mencoba meminta bantuan kepada teman-temannya, namun sepertinya mereka tidak mau membantunya. Shikamaru bahkan tidak mau melihat tatapan melas miliknya.
"Ah, dia adalah temannya Boruto. Kebetulan aku mengenalnya karena dia pernah sakit dan berada di bawah perawatan Sakura-chan." Naruto memandang Sakura. "Bukankah begitu, Sakura-chan?"
"Terima kasih banyak sudah menanyakannya, Naruto." Sakura tersenyum. "Kebetulan Sarada baik-baik saja apalagi dia berada dalam perawatanku." Sakura memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya dan Naruto merasa jika hari akan kiamat keesokan harinya.
Neji meneguk sakenya sebelum melahap daging miliknya. Tidak salah jika dia merekomendasikan Sakura untuk menjadi aktris. Karena aktingnya barusan membuktikan jika wanita itu layak menjadi aktris.
"Merepotkan, ayo kita segera makan karena aku masih ada urusan." Shikamaru buka suara.
"Ah, kau benar." Chouji menanggapi sahabatnya.
.
.
.
"Si bodoh itu, sebenarnya apa yang dia pikirkan."
Neji membiarkan wanita berambut pink di sampingnya mengomel dan tetap fokus pada jalanan yang ada dihadapannya. Sakura tampak kesal karena bisa saja semua bangkai yang dia sembunyikan akan tercium.
Ddrrrr.. Ddrrtt..
Sakura mengambil ponselnya yang bergetar sebelum memandang Caller ID yang ada di layar ponselnya. Dia segera menekan tombol hijau dilayar ponselnya.
"Naruto?"
"Moshi-moshi! Maafkan aku, Sakura-chan! Aku benar-benar lupa jika ada Sasuke disitu tadi!"
"Ya sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan. Toh, sepertinya Sasuke tidak curiga." Sakura mengangkat bahunya. "Ya sudah, aku tutup teleponnya."
"Eh, tunggu dulu, Sakura-chan-"
Klik!
"Si bodoh itu." Sakura menyandarkan punggungnya. "Aku ingin es krim, Neji! Dan beberapa cemilan. Aku ingin segera sampai di rumah menonton film dan menyelesaikan novelku. Si bodoh itu merusak moodku."
Neji melirik Sakura dan tersenyum tipis. Ah, sejak kapan hatinya tertawan seperti ini?
"Baik, tuan Putri."
.
.
.
.
Sakura bangun pukul tujuh pagi dan merasakan tubuhnya sakit semua. Dia baru tidur selama empat jam dan harus segera ke rumah sakit untuk mengadakan morning report, sebelum mengurus permintaan sutradaranya mengenai vaksin.
Matanya memandang putrinya yang tidur dengan sangat nyenyak di sampingnya. Dia sudah menyiapkan hati kala bertemu dengan Sasuke. Dan saat melihat mata hitamnya, dia hampir kembali jatuh sebelum menguasai dirinya. Dia tidak boleh menjadi lemah, apalagi pria itu tidak mencintainya.
Memeluk Putri kecilnya dengan erat, Sakura berharap Sarada tidak tumbuh dengan cepat. Dia akan berusaha membesarkan Sarada semampunya dan tidak akan membiarkan Sarada kehilangan kasih sayangnya di sela pekerjaannya. Terkadang dia merasa tercabik-cabik ketika mata hitam Sarada memandang teman-temannya yang memiliki seorang ayah. Dia bukannya tidak mau mengenalkan Sarada pada ayah kandungnya. Karena belum tentu, Sasuke akan menerima Sarada atau malah sebaliknya. Sarada akan dipisahkan dengannya dan dia tidak mau hal itu terjadi.
"Mama, sesak."
Sakura tidak bisa menahan senyumnya dan mencium pipi gembil Sarada dengan gemas. Betapa menggemaskannya Putri kecilnya.
"Mama harus ke rumah sakit dan mungkin akan makan malam di rumah. Sarada ingin dibawakan apa?" tanya Sakura.
"Pie tomat milik bibi Karui."
Sakura tersenyum. Setelah menikah dengan Akimichi Chouji. Karui dan Chouji memutuskan untuk membangun sebuah restaurant dan juga toko kue yang sangat lezat dengan pelanggan yang cukup banyak. Siapa yang menyangka jika Karui sangat ahli dalam mencampur bahan makanan.
"Baiklah, akan mama belikan." Sakura segera bangkit dari duduknya dan bersiap-siap untuk bekerja.
.
.
.
Rumah sakit masih cukup sepi saat Sakura sampai. Dari kejauhan, dia bisa melihat senior sekaligus atasannya dan juga calon kakak iparnya berjalan berlawanan arah dengannya.
"Selamat pagi, Yugao-san."
"Sakura? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Yugao.
"Aku harus mengurus beberapa hal dan juga masalah yang telah aku bicarakan semalam."
"Jika soal pekerjaanmu, semuanya sudah di ambil alih dan ada Koass yang membantu." Yugao menepuk bahu Sakura. "Kamu bisa meminta bantuan Matsuri."
"Ngomong-ngomong soal Koass. Aku jadi ingat masa-masa saat menjadi koass. Benar-benar masa yang paling melelahkan."
"Kenapa jadi membahas masa lalu?" Yugao tertawa. "Sebaiknya kamu fokuskan dirimu dulu. Bukankah disana ada dia?"
"Yah, meski aku tak mau mengakui. Tapi itu sangat menyebalkan."
.
.
.
"Si bodoh itu benar-benar."
Ino meneguk minumannya dan memakan pasta miliknya. Kemarin dia tidak bisa datang untuk makan siang bersama karena harus menemani Sai dalam pameran lukisannya dan Inojin yang akan menghilang entah kemana jika tidak diperhatikan dengan baik. Dia terkadang bingung mengapa genetik milik Sai lebih banyak menurun pada putra kecilnya itu.
"Begitulah Naruto. Tidak berubah sama sekali." Sakura meneguk minumannya.
"Tapi, Sakura. Aku tidak menyangka jika tipe wanita Sasuke-kun semacam Uzumaki Karin. Aku pernah datang ke rumah Naruto dan dia berpakaian sangat minim. Bahkan dia memamerkan pusarnya yang ditindik. Berbeda jauh dengan Hinata!"
"Kau masih saja jadi biang gosip seperti biasanya." Sakura tertawa. "Jangan samakan dengan Hinata. Dia adalah wanita yang lemah lembut dan penyabar. Butuh berapa lama agar Naruto bisa peka terhadap perasaan Hinata. Jika tidak, entah sampai kapan Hinata akan menunggu si bodoh itu."
"Urusan tidak peka dan bodoh Naruto juaranya."
Sebuah suara tawa terdengar begitu keras dan sangat mengganggu. Ino menolehkan kepalanya dan merasa terganggu dengan suara tawa yang sangat keras itu. Matanya bisa melihat sekumpulan wanita dengan tampilan yang sangat seksi yang dia yakin jika mereka adalah model.
"Kau tahu, aku benar-benar tidak menyukai Haruno Sakura itu." Karin tertawa. "Dia sangat genit dan sikapnya sangat memuakkan. Aku yakin jika kalian akan muak jika satu lokasi dengannya."
"Memang apa bagusnya dia, Karin?" salah satu temannya menanggapi. "Nama dan wajahnya ada di setiap majalah."
"Cih, dia itu tidak ada bagus-bagusnya sama sekali."
Emerald milik Sakura memandang Ino yang bangkit dari posisi duduknya.
"Ino-"
"Ah, selamat siang, Karin-san. Wah, kebetulan sekali bertemu denganmu disini." Ino menghampiri wanita itu dan tersenyum manis.
Karin memandang wanita dihadapannya dengan curiga. Dia seperti pernah bertemu dengan wanita ini namun dia lupa dimana.
"Siapa kau?"
"Aku adalah Yamanaka Ino dan aku adalah fansmu." Ino duduk di salah satu kursi yang kosong. "Boleh aku duduk disini?"
"Silahkan saja." Karin menjawab sekenanya.
"Lalu, bagaimana dengan pertemuanmu dan Haruno Sakura kemarin?" tanya temannya.
"Kau tahu, dia itu wanita yang sangat genit. Aku harus menjauhkan Sasuke-kun darinya sebelum wanita itu merebutnya."
"Mengapa aku tidak berfikir seperti itu, ya?" Ino buka suara sebelum tersenyum. "Aku pikir, Sakura lebih baik darimu, nona Uzumaki."
"Apa maksudmu? Bukankah kamu bilang jika kamu adalah fansku?!" Karin merasa terhina ketika Ino mengatakannya.
"Sah-sah saja jika aku mengidolakan siapa saja." Ino mengangkat bahunya. "Lagipula, wanita yang kalian bilang genit dan semacamnya tadi, lebih baik dari kalian. Karena dia memiliki karya sebagai seorang novelis dan seorang dokter yang berjasa menolong sesamanya. Jika sekarang dia menjadi aktris, apa salahnya? Itu lebih baik dari pada hanya mengumbar bentuk tubuh."
Ino bangkit dari duduknya.
"Lagi pula, aku bukanlah fans seperti kalian. Namaku Yamanaka Ino dan aku adalah sahabatnya Haruno Sakura. Untung saja aku bisa menahan diri untuk tidak mencabik wajahmu itu." Ino tersenyum mengerikan. "Aku permisi."
Sakura tidak bisa menahan senyum gelinya ketika melihat betapa gaharnya sahabatnya. Ino memang terkenal paling galak dan berani diantara mereka semua saat berada di sekolah. Dibalik wajahnya yang cantik dan murah senyum, Ino adalah sosok yang galak.
"Apa yang kau lakukan?" Sakura merangkul Ino. "Dasar bodoh."
"Aku hampir saja mencakar wajahnya." Ino tertawa puas dan mereka berjalan keluar cafe, meninggalkan Karin dengan wajah merah padam.
.
.
.
"Sakura, kamu dimana?"
"Aku sudah akan sampai di rumah, Neji-kun. Tenang saja." Sakura tertawa. "Aku membelikan Sarada pie tomat."
"Hati-hati dan ingat, kamu sekarang sudah terkenal dan harus menjaga dirimu dengan baik."
"Aku bahkan sudah sampai di rumah." Sakura membuka pintu rumahnya. "Selamat istirahat."
"Kau juga."
Sakura tersenyum dan memasukan ponselnya ke dalam tasnya. Dia tidak bisa mengatakan betapa beruntungnya dia memiliki sahabat seperti Neji. Saat dia hamil dan akan menggugurkan Sarada, Neji yang mati-matian menghalanginya dan pria itu sampai meminta bantuan Naruto dan juga Hinata.
Sebenarnya, Naruto saat itu begitu emosi dan ingin menghajar pria itu. Tetapi, Neji sebagai penengah menenangkan Naruto dan meminta kepada semua teman-temannya agar merahasiakan kondisinya dan juga Sarada. Dia benar-benar berhutang Budi pada Neji karena berkatnya dia menjadi lebih hidup dan mampu menjalani semuanya.
"Tadaima."
"Okaerinasai, mama!"
Sarada berlari dan memeluknya sedangkan Sakura tersenyum sebelum menggendong Sarada.
"Mama bawakan pie tomat kesukaanmu." Sakura mencium pipi gembil Sarada dengan gemas.
"Tadi, Sala dan juga nenek membuat kue kesukaan mama!" Sarada menceritakan harinya dengan penuh semangat.
"Benarkah, pasti enak sekali."
Sakura bersyukur karena Sarada ada disisinya. Dia tidak bisa membayangkan jika dia menggugurkan kandungannya saat itu.
.
.
.
Tokyo, 7 tahun lalu.
"Aku buatkan coklat hangat tanpa gula dan aku bawakan pakaian milik Sasori-nii. Sebaiknya kamu mengganti pakaianmu dan aku akan buatkan sup tomat."
Sasuke menerima segelas coklat hangat tanpa gula. Kesukaannya karena dia tidak begitu suka makanan manis. Memandang pakaian yang diberikan Sakura, dia segera membersihkan diri sebelum berjalan menuju dapur dan menemukan Sakura sedang memasak.
Wanita itu tampak cantik ketika mengikat rambutnya dan mengenakan apron. Biarpun Sakura mencintainya, entah mengapa dia tidak pernah bisa mencintai Sakura meski dia ingin. Terkadang, rasa ingin tahunya muncul dan dia melihat akun media sosial milik Sakura dan memandang foto-foto wanita itu saat tersenyum bahagia bersama teman-temannya. Ada rasa rendah diri dalam dirinya ketika melihat Sakura yang dengan mudah menggapai cita-citanya.
"Sasuke-kun, kamu lapar sekali? Supnya sudah matang." Sakura meletakan sup diatas meja. "Ayo dimakan agar tidak masuk angin."
"Hn."
Sasuke memakan sup tomat buatan Sakura dan merasakan masakan itu sangat lezat. Seperti masakan rumahan yang biasanya ibunya masakan. Sakura yang duduk di sebelahnya tidak bisa menahan senyumnya.
"Enak?"
Sasuke tidak menjawab. Matanya memandang Sakura yang kini salah tingkah. Sakura memang sudah berubah, tetapi wanita itu tidak berubah dan akan terlihat malu-malu juga salah tingkah saat melihatnya.
"Sakura, apa kamu masih mencintaiku?"
"Eh?" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan bingung. Sebenarnya Sasuke tidak memerlukan jawaban karena dia sudah tahu jawabannya. Sakura tahu minuman dan makanan kesukaannya, jadi tidak mungkin jika perasaan Sakura sudah sirna.
Wanita berambut pink itu menjadi gelagapan ketika Sasuke mendekatkan tubuhnya. Satu ciuman di dapatkannya di bibir dan Sakura tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya kaku dan ini merupakan sebuah kejutan baginya. Matanya memandang Sasuke yang terlihat menikmati ciumannya dan dia membalas lumatan-lumatan lembut Sasuke.
Melepaskan ciumannya, Sasuke memandang wanita dihadapannya yang kini wajahnya memerah.
"Sakura, terima kasih."
Ciuman Sasuke kemudian menjadi ganas dan sarat akan nafsu. Malam itu, Sakura memberikan apa yang selama ini dia jaga.
.
.
.
Hari sudah pagi ketika Sasuke membuka matanya. Onyxnya menatap Sakura yang tidur di sampingnya seperti anak kucing yang lucu. Entah pukul berapa mereka selesai melakukannya dan Sasuke benar-benar merasa puas. Entah apa yang ada di pikirannya hingga melakukannya dengan Sakura.
Seharusnya Sasuke menyadari perasaannya secepat mungkin jika dia tahu, dia akan menyesal nantinya.
.
.
.
Ting tong..
Hyuuga Neji membukakan pintu rumahnya dan memandang seseorang yang muncul dengan baju basah dan mata yang bengkak memerah. Melihat wanita dihadapannya, Neji benar-benar tidak bisa menahan keterkejutannya.
"Sakura, ada apa?"
Wanita dihadapannya memeluknya dan menangis. Tangannya mengelus rambut halus itu sebelum merasakan punggung wanita kau bergetar hebat.
"Apa yang harus aku lakukan?" Sakura mengangkat kepalanya. "Aku hamil."
.
.
.
.
.
Tokyo, sekarang.
Sasuke membuka matanya dan merasakan napasnya memburu seperti lari marathon. Mengambil botol air mineral di samping tempat tidurnya, Sasuke meneguknya hingga habis dalam sekali tegukan. Tenggorokannya terasa sangat kering.
Lagi-lagi mimpi itu datang. Sasuke mengusap wajahnya dan memandang sekelilingnya. Dia berada di kediaman Uchiha dan kakaknya serta keluarga kecilnya sedang menjaga ibunya. Kakaknya memintanya untuk pulang dan istirahat karena besok dia harus mulai melakukan syuting.
Ini pasti karena pertemuannya dengan Sakura dan membuatnya hingga seperti ini. Tetapi, ada sesuatu yang mengganggunya dan hal itu menyebalkan.
.
.
.
Sakura terbangun dan matanya menatap jam yang menunjukan pukul tiga pagi. Dia menyelesaikan novelnya dan berniat menuju ke penerbit untuk membicarakan soal novel terbarunya. Mungkin, dia bisa meminta bantuan Neji selaku seorang penulis juga.
Mimpi buruk itu datang. Sakura sudah lama tidak merasakan mimpi buruk itu dan seketika mimpi itu datang kembali. Dia akui, dia bodoh karena tidak berfikir panjang saat melakukannya dengan Sasuke. Saat itu dia buta dan itu membuatnya menyesal.
Matanya menatap Sarada yang tertidur dengan nyenyak dikelilingi oleh boneka-boneka pemberian dari orang-orang kesayangannya. Ah, mungkin dia harus menarik kata-katanya jika dia menyesal. Karena dia tidak pernah menyesali kehadiran Putri kecilnya dalam hidupnya. Bahkan baginya, Sarada adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuknya.
Mengambil salah satu novelnya, Sakura mulai tenggelam dalam dunianya karena dia tidak bisa kembali tidur.
.
.
.
.
Neji menghisap rokoknya dan memandang televisi yang sedang menayangkan anime malam. Dengan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya, Neji menatap wanita berambut coklat panjang yang tertidur dengan lelap. Tenten adalah temannya semasa kuliah dan juga salah seorang penulis. Wanita itu pernah menyatakan perasaanya dan dia tidak menanggapinya.
Entah sejak kapan, Tenten menjadi teman satu malamnya disaat gairahnya memuncak dan butuh pelampiasan. Tenten adalah wanita cantik yang tangguh, pintar dan mandiri. Wanita itu juga tidak keberatan menjadi teman satu malamnya.
Dia terbangun ketika mimpi itu datang. Mimpi dimana menampilkan memori saat Sakura datang dan mengatakan jika dia sedang hamil. Perasaannya campur aduk dan ingin rasanya dia membunuh temannya saat itulah juga. Pria berengsek yang egois dan memikirkan dirinya sendiri.
Sebenarnya, dia sudah memberikan beberapa sinyal kepada Sakura. Namun wanita yang sekarang sudah menjadi seorang ibu itu tidak peka. Sakura tidak menanggapi sinyalnya karena tidak paham. Mungkin, ini adalah akhir dimana dia akan melabuhkan hatinya pada satu wanita. Karena selama ini, dia tidak suka terikat dengan sebuah hubungan.
Menghisap rokoknya dan mematikannya, Neji bangkit dari posisi duduknya. Mungkin sebotol beer bisa menemaninya tidur.
oOo
"Selamat pagi, Sakura-chan!"
Sakura yang muncul dengan pakaian santainya memandang Yugao yang duduk di kursi makan bersama kakaknya. Kakaknya, Haruno Sasori sudah berpacaran dengan Yugao hampir tujuh tahun lamanya dan dia heran, mengapa kakaknya tidak segera melamar Yugao. Padahal umur keduanya sudah tak muda lagi. Kebetulan juga, Yugao adalah atasannya di tempatnya bekerja.
"Apa yang Yugao-nee lakukan di sini?"
"Aku ingin ikut ke lokasi syuting." Yugao tersenyum. "Lagipula, kapan lagi bisa melihat artis beradu akting."
"Kebetulan kata Jiraiya-san, syutingnya belum full. Dia ingin aku menyesuaikan dulu."
"Tidak mau. Sala mau ikut!"
Sasori muncul dengan Sarada dalam gendongannya. Bocah kecil itu tampak tidak suka berada dalam gendongan pamannya.
"Ada apa ini?" tanya Sakura.
"Sala mau ikut paman Saso!"
"Hei, sudah paman katakan jika paman pergi hanya sebentar."
"Tapi Sala mau ikut paman dan mama!"
Sakura tersenyum lembut dan mendekati Sarada. Dia mengambil alih gendongan kakaknya dan mengelus rambut Sarada dengan lembut.
"Mama dan paman hanya pergi sebentar. Mama akan membawakan Sarada hadiah, Sarada ingin boneka tomat yang kemarin kita lihat, kan? Jika Sarada berjanji dirumah bersama kakek dan nenek juga menjadi anak yang baik. Akan mama belikan."
"Mama janji?" tanya Sarada.
"Janji." Sakura mencium hidung putrinya sebelum memeluknya dengan erat.
"Mama, sesak." Sarada mengusap matanya yang berair. "Sala janji akan jadi anak yang baik."
Sakura benar-benar bersyukur karena memiliki Sarada dalam hidupnya.
.
.
.
.
"Jadi, Sakura-san, aku harus memeriksa yang pria?"
Mereka sampai di lokasi syuting dan lokasi sudah ramai dengan kru yang sibuk. Sakura memandang Sasuke yang duduk dengan santai bersama dengan pria berambut perak dan Karin yang sedang merias wajahnya sebelum memandangnya dengan pandangan tidak suka. Sakura mengangkat bahunya acuh tak acuh. Selama dia berada di dunia penulis, dia pernah berada di titik terbawah dimana karyanya dicaci maki karena mengangkat tema yang berat. Dia sudah terbiasa melihat yang seperti Karin.
Matsuri memandang lokasi syuting dihadapannya dengan mata berbinar. Dia adalah junior dari Sakura dan mengaguminya lebih dari apapun. Dia adalah orang kepercayaan Sakura dan membantu wanita itu semampunya. Bahkan saat Sarada sakit dan Sakura sibuk di rumah sakit, dia rela menukar jadwalnya guna merawat gadis kecil itu. Dan dia sekarang merasa beruntung karena seniornya mengajaknya kemari.
Matanya memandang aktor yang sedang naik daun, Uchiha Sasuke. Di Jepang, tidak ada yang tidak mengenal sosok tampan yang menjadi perbincangan kaum hawa yang menggilainya. Dia menyukai pria tampan dan dia tidak memungkiri jika dia mengidolakan Sasuke.
"Sakura-san, itu benar-benar Uchiha Sasuke?" tanya Matsuri.
"Kau sedang melihat yang asli, Matsuri." Yugao tertawa.
Sasori memandang Sasuke dengan pandangan aneh. Dia bukannya tidak suka dengan pria itu. Hanya saja ada yang mengganggunya.
"Oh, Sakura-chan, kamu sudah datang!" Jiraiya tersenyum. "Apa kamu sudah siap?"
"Aku selalu siap." Sakura memantapkan dirinya. "Oh ya, perkenalkan, dia adalah Matsuri yang akan menjadi asistenku hari ini dan ini kakakku, Haruno Sasori dan kekasihnya, Yugao."
"Salam kenal." Yugao tersenyum. "Aku juga seorang dokter, jadi aku bisa membantu jika dibutuhkan."
"Tidak perlu, kalian melihat-lihat saja." Jiraiya memanggil krunya. "Baiklah Sakura-chan, kamu bisa mempersiapkannya di dalam tenda."
"Sepuluh menit lagi silahkan masuk, bagi yang laki-laki bisa datang kepada Matsuri dan yang wanita kepadaku."
Sepuluh menit kemudian Sakura dan Matsuri sudah sibuk dengan pekerjaan mereka, mulai dari memeriksa kondisi kru dan juga pemain sampai memberikan vaksin. Sakura bekerja dengan serius karena sebagai seorang tenaga kesehatan, dia harus mementingkan pasien daripada dirinya sendiri.
"Selanjutnya."
Uchiha Sasuke masuk dan mata Matsuri mulai berbinar. Namun, Sasuke langsung duduk dihadapan Sakura dan memandang wanita itu. Karin yang mengikuti Sasuke masuk ke dalam tenda memandang Sakura dengan pandangan tidak suka.
"Maaf tuan, bagian pria bersama dengan Matsuri." Sakura berkata dengan sopan.
"Aku ingin disini.". Sasuke berkata dengan tajam dan dalam. Karin memandang Sasuke dengan pandangan penuh cemburu miliknya. Ini tidak boleh dibiarkan, dia harus segera bertindak atau Sasuke akan pergi dari pelukannya.
"Baiklah, aku akan mulai saja."
Sakura mulai bekerja mulai dari memeriksa detak jantung hingga tekanan darah. Sasuke memandang bagaimana Sakura dengan telaten melakukan pekerjaannya.
"Sakura, setelah selesai syuting, bisa kita bicara berdua?" tanya Sasuke.
"Aku tidak menerima ajakan diluar pekerjaan, tuan."
Sasuke salah. Wanita dihadapannya bukanlah wanita yang sama seperti yang dulu. Dia membenci sikap sombong dan angkuh milik Sakura. Wanita ini sudah berubah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf karena keterlambatannya... Maaf sekali :( dikarenakan urusan dunia nyata mulai dari perkuliahan hingga magang sangat menyita waktu. Akan diusahakan secepat mungkin tapi tidak janji.
Untuk yang belum tahu, Sakura buka lapak di sebelah dengan penname yang sama yaitu Aomine Sakura dan mencoba peruntungan baru. Tapi tenang saja, Saku bakal tetap aktif disini untuk menghibur kalian. Kalian juga bisa follow Saku disana. Ciayo! ^^
Jangan lupa tinggalkan review!
Special thank's to :
Nyanko-Un, Guest (1), lianalia24, lacus clyne 123, ss, abcd, Uchiharuno Kid, bee, sqchn, saskusukasasu, Azalea Em, maroon, kliwon12, Guest(2), Hanazonl Yuri, Saskey Saki, rerenis18, Mellyana77, Sachika Arikazuto.
Adakah yang belum kesebut atau salah penulisan? Terima kasih banyak atas reviewnya dan jangan lupa tinggalkan review!
Sampai ketemu di chap selanjutnya!
-Aomine Sakura-
