Disclaimer : EXO punya agensi mereka, diri mereka, dan orang tua mereka masing masing.
Genre : Romance, Fantasy.
Rating : M karena tema dan bahasa, tidak sampai beradegan NC.
Warning : Yaoi, crack-pair, membahas makhluk mitologi.
+Nimfa+
Pulang itu seperti apa sebenarnya? Pikirnya, satu yang dia rasakan saat ini adalah terbebas dari suatu keadaan yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ada di sekitarnya saat ini. Tidak banyak orang di jalan karena ini bukan jam berangkat kerja juga bukan jam makan siang, ini jam dimana matahari seperti bersinar putih menembus kaca bis yang dia tumpangi. Keadaan yang jauh berbeda dari malam malam yang hingar bingar.
Dia berjalan mengikuti hatinya sementara pikirannya sibuk mengingat mana jalan yang benar, tapi dia tidak peduli hati dan ingatan masa kecilnya sudah cukup untuk menunjukan padanya yang mana jalan pulang. Dan seingatnya dia sedang berdiri di depan rumahnya, rumah dimana Sehun kecil dibesarkan.
Ibunya yang membukakan pintu, memancing senyumnya yang dipenuhi rindu merekah di bibirnya. Wanita itu tampak menua selama tahun tahun ke belakang.
"Sehun…" nadanya bergetar, airmata menggenang di pelupuk matanya. Sehun hanya tersenyum.
"Iya, Bu, ini aku."
Dia pikir dengan ini kehidupannya akan sama seperti dulu, tapi nyatanya tidak. Akhirnya dia tahu ayahnya justru pergi meninggalkan rumah dan kakaknya juga pergi untuk kehidupan yang lebih baik, tapi dari tiga laki laki yang pergi hanya Sehun yang akhirnya kembali. Kembali dan hanya berdua dengan ibunya untuk hidup yang akan diusahakan untuk jadi lebih baik.
"Dia Sehun?"
"Sepertinya, dia masih sangat tampan."
"Sayangnya dia dijual oleh ayahnya."
Sehun menoleh pada tetangganya yang senang betul menunjuk nunjuknya, dia tidak tersenyum tidak juga menatap bengis. Mereka berhenti membicarakan Sehun karena orangnya sendiri memergoki mereka.
Tapi hari hari setelahnya juga tidak jadi lebih baik dari itu. Dari jendela kamarnya dia masih bisa mendengar mereka membicarakan Sehun.
"Gigolo sepertinya untuk apa ada di sini?"
"Sudah dibuang ayahnya masih saja berani kembali, apa dia tidak punya otak?"
"Aku kasihan pada ibunya, kenapa anaknya harus jadi seperti itu?"
Airmata lolos dari matanya, dia berpendapat lebih baik begini daripada menjual organ tubuh, setidaknya dia bisa bertemu lagi dan mencoba melindungi ibunya untuk saat ini, tapi kalau justru dia yang mengundang cacian untuk ibunya untuk apa dia di sini?
Dia juga tidak mau begini sebenarnya, tapi ayahnya terlalu biadab untuk mempertahankan kehormatan keluarganya sendiri. Sehun lupa sudah berapa tahun yang lalu dia dijual, rasanya sudah sangat lama dan dia tidak mau mengingatnya. Tidak ada yang bisa dia ingat kecuali tangisan ibunya saat itu, selain hal itu sangat samar di kepalanya.
Kadang dia lupa umurnya, atau bahkan sekarang hari apa. Yang dia ingat hanya harus cepat cepat melunasi hutang agar cepat bertemu ibunya dan mungkin itulah yang membuatnya masih bersikap kekanakan sampai saat ini.
"Kenapa Ibu terlihat murung?" dari pertanyaan itu terasa benar sifat kekanakan Sehun, dia bertanya seperti anak sekolah dasar yang lugu, Sehun yang lugu, yang tetap lugu.
"Tidak apa apa, Sehun." Ibunya berusaha bersikap biasa walaupun Sehun tahu ada hal mengganggunya.
"Apa karena aku, Bu? Karena orang orang di luar rumah ini terus membicarakan aku yang –"
"Berhenti!" Dan airmata mengalir dari mata ibunya. Sehun terbelalak, tapi setelah jadi tenang, ada hal yang sudah jelas untuknya.
"Pasti karena aku, kan?" Itu terdengar lebih seperti pernyataan dari pada pertanyaan. Sebagian dari sifat kekanakannya menguap entah kemana, digantikan sifat dewasa yang seharusnya sudah lebih dominan dalam dirinya saat ini.
"Aku ini aib keluarga, ya?" Sementara dia akhirnya mengurung diri di kamar, ibunya menangis sejadinya.
Sehun tahu wanita pasti sangat sensitif dengan apa yang orang bicarakan, ibunya juga termasuk, yang ketika tetangganya membicarakannya tanpa sengaja itu akan jadi beban pikirannya. Sekarang ini yang membuatnya nama keluarga makin jatuh saja adalah Sehun, tapi tidak tidak bisa melakukan apa apa untuk membersihkannya, sekalipun bersih tidak akan seperti dulu lagi.
"Ibu, aku akan pergi, mungkin untuk waktu yang lama."
Tapi ibunya itu tahu kalau akan sangat sulit bertemu Sehun, apalagi membawanya pulang, setelah ini. Sehun sendiri tahu bahwa bukan pilihan terbaik dengan meninggalkan ibunya, tapi yang dia pikirkan adalah dengan kepergiannya maka orang akan berhenti membicarakan ibunya, walau kenyataannya mungkin tidak akan seperti itu.
Dia sendiri kembali ke apartemennya yang biasa, yang sekarang bisa disebut hadiah cuma cuma dari Kris, muncikarinya yang kelewat baik. Dia tidak pernah mengisi apartemen ini dengan barang barang karena dulu dia rasa dia akan meninggalkan tempat ini, tak terpikir olehnya dia akan kembali ke sini seperti ini.
Dari jendela yang terbuka lebar terlihat sungai yang ada di belakang gedung apartemen, bukan Han memang, tapi sudah cukup indah apalagi dengan langit jingga di atasnya. Sehun berjalan perlahan menuju sungai itu, di airnya yang jernih dia bisa melihat bayangan wajahnya dengan jelas.
Sehun merasa sedikit aneh, dia tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya dia rasakan dan apa yang dia pikirkan tentang dirinya sendiri, semuanya tidak jelas dan dia menenggelamkan diri pada aliran sungai yang deras.
Air di sekelilingnya berwarna jingga dengan sangat cantik, seperti tembaga, tapi juga sangat jernih. Awalnya hanya batuan yang dapat dia lihat sebelum dia melihat sosok itu, sosok dengan mata hitam yang indah menatapnya, surai surai kemerahan sedikit menutupi mata itu, beberapa ikut tersapu arus yang kuat. Sosok itu terlalu indah bila disebut manusia. Tubuhnya mungil, tanpa sehelai benangpun untuk menutupinya, berenang saja seperti anak kecil. Dia berusaha meraih Sehun.
"Orang gila! Kau mau mati, hah!?"
Gambaran sosok tadi hilang begitu saja, tahu tahu dia ditarik dari dalam air. Dia tidak terbatuk apalagi pingsan, dia hanya masih memikirkan sosok tadi. Luhan pernah bicara soal nimfa saat Kai menghilang, mungkin nimfa itu yang seperti itu, dia sama sekali tidak tahu.
"Hey." Sehun kemudian dikejutkan oleh tangan yang melambai di hadapannya, dia tersentak dan orang itu duduk di hadapannya.
"Kau sudah gila atau apa?" Tanyanya. Rambut hitamnya yang basah, matanya yang besar, dan suaranya yang dalam membuat Sehun menyadari sesuatu.
"Apa kau Park Chanyeol penghuni apartemen sebelah apartemenku?"
"Kalau sudah tahu kenapa masih tanya?"
Sehun tersenyum saja, Park Chanyeol itu masih menunjukan wajah sok kerennya. Dia melepas kaos yang dikenakan Sehun, tapi Sehun menahannya.
"Apa yang mau kau lakukan?" Tanyanya dengan tangan yang menyilang di dada.
"Memperkosamu." Sehun tersentak, ada getaran aneh pada dirinya ketika Park Chanyeol mengatakannya, sementara semua orang kayak membelinya dengan kesepakatan yang rumit dari Kris, pemuda ini justru terang terangan bilang ingin memperkosanya dengan sangat santai. Rasanya sangat aneh tapi juga sangat menghibur hormonnya.
"Hey."
Sehun menengok lagi kearahnya.
"Aku tidak peduli apa alasanmu, tapi bunuh diri bukanlah pemecah masalah. Masih ada aku di sini yang siap menerimamu seperti apapun kau." Itu sangat menyentuh hati, tapi dari awal bukan bunuh diri yang ingin Sehun lakukan. Sehun hanya tertawa mendengarnya.
"Kau benar benar akan menerimaku?"
"Tentu, meskipun kalau dulunya kucing sekalipun."
Sehun tertawa lagi. "Kucing" Dia mengulang kata itu sambil membuat tanda kutip dengan jarinya. Di wajah Park Chanyeol bisa terlihat keterkejutan.
"Ah, siapa yang peduli." Park Chanyeol tersenyum padanya, begitu juga dia.
(Setahuku kalau para gadis disebut kupu kupu, pemudanya disebut kucing. Aku tahu dari acara TV yang kutonton malam malam sekali, jadi banyak kemungkinan salah. Mohon maafkan aku untuk kesalahan kesalahan seperti itu.)
(Cuap cuap tentang Suho; dia adalah sang nimfa itu sendiri dan aku selalu membayangkannya begitu.)
