Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing : Sakura X Kakashi
Genre : Fantasy/Supernatural & Romance -AU
Warning : Gaje, Typo, OOC, abal etc.
DLDR, author baru bangkit dari hiatus hehehehe.
Read and Review please
Early chapter
Sakura Haruno seorang gadis yang berasal dari keluarga pemburu vampir terkemuka menemukan kenyataan bahwa dirinya sendiri adalah anak dari vampir. Sayangnya sebelum mengetahui kebenaran itu secara lengkap kakeknya tewas akibat ulah makhluk yang juga membunuh neneknya. Gadis itu kini sebatang kara. Kakashi Hatake, menawarkan perlindungan dan tempat tinggal yang tak mampu ditolak Sakura...
-o-o-O-o-o-
SILVER FANG
Chapter 3: Heartbeat
Sinar matahari yang menerobos ventilasi kamar yang ditempati Sakura membuat gadis yang tadinya tertidur itu mulai membuka mata. Ia terbangun, kemudian mengedarkan pandangannya. Pemandangan yang berbeda dari biasanya. Ini bukan kamarnya, tentu saja. Gadis itu perlahan bangkit untuk sekedar mencuci muka dan menyikat gigi.
Usai mengganti piyama, ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Terlihat seorang pria berambut perak sedang membaca koran. Pendengarannya yang sangat tajam menangkap gerak gerik Sakura yang mendekat ke meja makan.
"Bagaimana tidurmu?" Sapa Kakashi sambil menggeser segelas susu hangat kehadapan gadis yang duduk didepannya.
"Lumayan…"
"Baguslah," Kakashi menganggukkan kepalanya. "Kau tidak usah masuk dulu hari ini, nanti kusampaikan pada wali kelasmu."
"Eh?" Sakura berhenti menyesap minumannya. "Kenapa?"
"Kurasa kau belum begitu sehat. Bukan begitu?"
"Uhm, benar juga…" Kedua mata Sakura masih sembap akibat terlalu banyak menangis. Jika ia nekat ke sekolah dengan keadaan begitu bisa membuat orang-orang khawatir.
"Ya sudah, aku berangkat dulu," Kakashi melipat koran yang ia baca lalu beranjak dari kursinya. "Aku tinggalkan kunci cadangan dan uang diatas kulkas. Kau santai saja disini," ucap Kakashi sambil menepuk kepala merah muda itu.
"A-ano, Kakashi-san!"
"Hn?" Kakashi menoleh.
"A-aku bisa… ng… membuatkanmu s-sarapan, kalau kau tidak terburu-buru…"
"Hee…"Kakashi mengurungkan langkahnya untuk meninggalkan rumah, melainkan mendekati gadis yang masih terduduk di meja makan. "Kau lupa aku ini apa, hm?" Bisik Kakashi tepat di telinga Sakura. Wajah gadis itu sudah merah padam mendengar suara berat milik pria tampan tersebut. "Vampir… Tidak butuh… Makanan seperti manusia… Kau tahu?"
Kamisama… Rasanya detak jantung Sakura berhenti berdetak saat itu juga. Aroma maskulin milik Kakashi memenuhi indera penciumannya. Ia juga dapat merasakan hawa dingin yang dipancarkan Kakashi saat berada dekat sekali dengannya.
Beberapa detik kemudian tawa Kakashi terlepas. "Hahaha, hmpffft. Harusnya kau menyaksikan ekspresimu barusan! Hahaha, lucu sekali. Lihat! Bahkan telingamu semerah ini, hahaha," Kakashi berusaha mengontrol tawanya. Dari tadi ia menahan tawa saat mendekati Sakura.
Sakura terperangah. Ternyata makhluk ini hanya menggodanya. Sial! Wajahnya sudah sangat merah seperti tomat. Sakura menatap Kakashi yang masih sibuk tertawa dengan tatapan sebal.
"Hmppffft, gomen," Kakashi menghentikan tawanya begitu melihat Sakura yang terlihat kesal. "Aku tidak main-main, vampir hanya butuh darah, Haruno."
"Ya, ya. Pergilah, nanti kau terlambat."
"Hei, kau mengusirku? Ini rumahku"
"Terserah. Tapi aku bisa saja menghancurkan rumah ini jika kau tidak cepat pergi dari hadapanku, tuan vampir!"
"Kau marah?"
"Tidak. Untuk apa aku marah?"
"Oh, jadi benar…" Kakashi melipat tangannya sambil mengangguk.
"Apa?"
"Tidak, bukan apa-apa…"
"Kau ini…"
"Ternyata benar kalau kau ini mudah tersulut emosinya,"
Sakura mendelik, bersiap untuk memberi pelajaran untuk vampir menyebalkan bernama Kakashi. Namun sosok jangkung itu sudah menghilang. Rupanya Kakashi memanfaatkan kecepatan tubuh vampirnya untuk melarikan diri, meninggalkan Sakura yang tak henti-hentinya mengomel.
Selepas kepergian Kakashi, Sakura memutuskan untuk menjelajahi isi apartemen yang ditempati makhluk itu. Setidaknya daripada menganggur, lebih baik ia membersihkannya sekaligus menghapal posisi ruang beserta isinya. Pertama-tama ia bangun dari kursi dan mencuci gelas yang tadinya berisi susu hangat. Sakura membuka kulkas dan lemari penyimpanan makanan. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Kulkas berwarna putih gading itu hanya berisi sebuah susu kotak yang ujungnya sudah dibuka, beberapa tomat busuk dan seikat brokoli yang sudah layu, serta sebutir telur. Sakura menggelengkan kepala lebih kuat sambil berdecak begitu melihat lemari yang seharusnya menjadi penyimpanan bahan makanan sudah dipenuhi sarang laba-laba. Ada sebuah ramen dalam kemasan dan tuna kaleng, namun Sakura tidak yakin masih bisa dimakan. Semua bahan makanan yang sudah lampau tersebut dimasukkan kedalam tempat sampah. Gadis itu memutuskan untuk berbelanja, demi kebutuhan pangannya sendiri.
=xxx=
.Rasanya sudah lama sekali Sakura tidak pergi berbelanja. Biasanya ia dan neneknya sendiri yang memilah dan membeli bahan makanan untuk seluruh penghuni kediaman Haruno. Karena terlalu asyik berbelanja, ia tidak sadar bahwa hari mulai senja. Setelah membawa sekantong penuh bahan makanan yang telah dibelinya, ia bergegas untuk pulang ke rumah.
Sakura terdiam sesaat. Pulang ke rumah? Tanyanya dalam hati. Rumahku sudah hancur berantakan. Aku sudah tidak punya siapapun di dunia ini. Mau pulang kemana? Gadis itu mengigit bibirnya untuk menahan airmata yang mulai menggenang.
Gadis dengan kantong kertas di dekapannya tiba di apartemen dengan langkah gontai. Baru saja tangannya bermaksud memasukkan kunci, kenop pintu sudah berputar. Dari dalam keluarlah pria pemilik ruangan itu dengan wajah panik. Kemeja dan rambutnya sedikit berantakan.
"Ada apa?" Tanya Sakura dengan pandangan tak mengerti. Bukannya menjawab, Kakashi malah menarik perempuan yang bertanya kedalam pelukannya. Sakura terkejut sampai menjatuhkan kantong yang dibawanya. Awalnya ia berusaha menjauhkan tubuh dingin itu, namun karena tenaga dan tubuhnya lebih kecil ia hanya bisa pasrah sambil bertanya-tanya dalam diam.
"Kupikir kau pergi. Kupikir kau..." Pria itu tidak menyelesaikan kalimatnya, dan mempererat pelukannya.
"Maaf. Aku hanya pergi belanja sebentar..." ujar Sakura dengan sedikit takut. "Kakashi... Sesak..."
"Maaf!" Kakashi buru-buru melepas pelukannya. "Mulai sekarang, jika ingin pergi keluar , ajak aku! Atau setidaknya kabari aku!" Ucap Kakashi sambil menatap iris emerald dengan tajam.
"Ba-baiklah, aku mengerti."
"Mana ponselmu?" Sakura menyerahkan ponselnya yang berwarna sama dengan rambutnya. Kakashi menekan tombol-tombol dengan cepat, kemudian mengembalikan kepada pemiliknya.
"Itu alamat e-mailku. Kalau ada sesuatu, tak perlu pikir panjang untuk menghubungiku. Paham?"
Sakura menjawabnya dengan anggukan. Jujur saja ia sedikit takut karena untuk pertama kalinya ia melihat Kakashi setegas itu. Kakashi menyadari bahwa gadis di hadapannya terkejut dengan sikapnya. Ia menghembuskan napas pendek.
"Baik, maaf aku berlebihan. Sebagai gantinya akan kubuatkan kau makan malam," ucap Kakashi sambil menggulung lengan kemejanya. "Kau mau makan apa?"
"Memangnya kau bisa masak?" dengan ragu Sakura melirik hasil belanjanya yang sempat terjatuh. Ada susu, roti, keju, telur, kecap, bawang, paprika, jamur, daging sapi dan beras. "Aku beli ini. Tadinya aku berniat membuat omurice…"
"Lebih baik kau mandi dan santai saja. Aku yang akan memasak." Kakashi mendorong Sakura pelan untuk menjauh dari dapur. Belum sempat protes, Kakashi mengibas-ngibaskan tangan sebagai isyarat agar gadis bersurai pink itu menurut. Meskipun gadis itu mengerucutkan bibirnya ia melangkah menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Tak lama kemudian tercium bau harum dari arah dapur. Sakura yang sedari tadi dilarang mendekati dapur semakin penasaran." Jangan-jangan vampir itu menjadikan darah domba sebagai minuman pelengkapnya," pikir Sakura ngeri. Ia sendiri sama sekali tidak menangkap apa yang ada di televisi, hanya menekan-nekan remote dengan asal. Gadis itu tidak menyadari bahwa Kakashi telah berdiri dibelakang sofa tempat Sakura duduk.
"Huwaaa!" Pekik Sakura begitu menengok ke belakang. Wajah tampan Kakashi hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Ia terdiam sesaat sebelum bergerak mundur dengan cepat.
"Makananmu sudah siap, Nona." Kakashi membungkuk memperagakan gerakan butler. Mendengar itu, Sakura menahan senyumnya lalu mendekati meja makan. Kakashi dengan sigap menarik kursi dan mendorongnya lagi untuk Sakura. Kakashi bahkan menyampirkan serbet makan di pangkuan gadis yang masih terpana karena mendapat perlakuan seperti itu. Pria yang sedari tadi bertingkah ala butler membuka tudung saji dan mempersilahkan sang gadis untuk menyantap makan malamnya. Sakura dibuatnya terperangah begitu melihat sajian diatas meja.
"Ini semua buatanmu?"
"Kau meragukanku? Tidak sopan."
"Kau sendiri yang bilang bahwa vampir tidak butuh makanan seperti manusia. Jadi kupikir..." Sakura tidak melanjutkan kalimatnya karena melihat Kakashi yang duduk tepat di hadapannya dan menyendok sup jamur secara perlahan. Iris emeraldnya menatap pria berambut perak itu dengan heran.
"Memang tidak butuh. Untuk mengelabui manusia, aku meniru mereka," ucap Kakashi saat suapan terakhir sup tadi selesai ditelan. "Lebih baik kau cepat habiskan makananmu sebelum menjadi dingin, Haruno."
=xxx=
"Terima kasih atas makanannya." Sakura meletakkan sumpit diatas mangkuk nasi yang telah kosong. Kakashi membuat sup jamur dan tumis daging paprika dengan sempurna layaknya koki di restoran ternama. Ia sungguh tidak menyangka bahwa vampir bisa membuat makanan seenak yang barusan dihabiskannya.
Sakura bergegas membereskan meja makan. Saat sedang mencuci peralatan makan yang telah digunakannya, Kakashi dengan santai membuka lemari penyimpanan makanan untuk meletakkan gula, kopi, dan teh yang entah kapan dibelinya. Pasalnya, lemari itu berada tepat diatas tempat mencuci piring sehingga posisi mereka saat ini begitu dekat, sampai-sampai Sakura bisa merasakan hawa dingin Kakashi yang berada di belakangnya. Kejadian tadi sore membuat wajahnya perlahan memerah.
"Kita 'kan sudah tinggal bersama. Untuk apa kau malu-malu begitu?" cibir Kakashi.
"BAKAKASHI!"
-o-o-o-o-
"SAKURA!" Pekik gadis berambut pirang begitu melihat kehadiran Sakura di kelas. Gadis tadi berlari dan langsung memeluk sahabatnya itu hingga orang yang dipeluk merasa sesak. Mereka berpelukan cukup lama sampai orang-orang menatap mereka dengan heran.
"Kau kemana saja? Dasar bodoh! Kenapa kau tidak mengabariku sama sekali?! Kupikir kau juga..." . Kalimat Ino terhenti. Air matanya mulai mengalir tanpa bisa ditahan.
"Maaf, Ino. Hanya saja saat itu aku merasa kalut sekali sampai tidak bisa menghubungimu." Sakura melepas pelukannya dan menepuk pipi Ino yang sudah dibasahi airmata.
"A-aku... Aku turut berduka atas kepergian beliau..." Ino menerima tisu yang disodorkan Sakura. "Maaf aku tidak bisa menghadiri pemakamannya karena aku sedang menjadi moderator seminar di Kiri Gakuen. Tapi sungguh, begitu seminar selesai aku langsung ke rumahmu yang ternyata kosong dan dipenuhi garis polisi."
"Aku mengerti. Kurasa jika kau meletakkan satu buket bunga segar dari tokomu Kakek akan memaafkanmu."
"Aku juga akan membawa daifuku kesukaan kakekmu. Tunggu saja."
"Terima kasih..."
"Kalau rumahmu kosong, sekarang kau tinggal dimana Sakura?" DEG! Pertanyaan Ino sedikit menohok Sakura. Mana mungkin dirinya bisa bilang bahwa dirinya kini tinggal bersama Kakashi Hatake, penjaga laboratorium sekolah yang berwujud asli seorang vampir? Bukan hal yang mustahil jika Ino sempoyongan sebab terlampau kaget mendengarnya. Pertama, Kakashi Hatake adalah seorang laki-laki (dan vampir) dewasa. Kedua... tunggu. Apa poin yang pertama tadi? Laki-laki dewasa? Kakashi Hatake? Ya. Biar bagaimanapun juga, Kakashi adalah seorang pria. Sakura menjitak kepalanya sendiri.
"Jawablah, Forehead!" Ino mengguncang sahabatnya yang sepertinya asyik dengan lamunannya.
"Ah? Etto... untuk sementara kau tidak usah mencemaskan tempat tinggalku."
"Kau menyewa apartemen, ya? Bagaimana kalau uangmu habis? Kau bisa tinggal di rumahku kalau kau mau."
"Terima kasih, Ino. Aku tidak mau merepotkanmu lebih banyak." Sakura tersenyum.
"Hhhh kau ini seperti baru kenal kemarin saja. Pokoknya kau tidak perlu sungkan saat butuh bantuan. Oke?"
Obrolan mereka terhenti ketika Yamato Sensei memasuki kelas.
-o-o-o-o-
"Sakura, selamat ulang tahuuuun!" Sepulang sekolah, Sakura 'diculik' ke cafe oleh ketiga sahabatnya. Ino, Hinata dan Tenten telah menyiapkan kejutan kecil untuk Sakura yang bahkan tidak ingat bahwa hari ini adalah ulang tahunnya. Kejadian belakangan ini membuatnya terlalu banyak pikiran.
"Teman-teman... Terima kasih..." Sakura menyunggingkan senyumnya yang paling tulus. Tangannya mengambil satu persatu konfeti yang berjatuhan di kepalanya. Hinata mengeluarkan kue ulang tahun dari kotak yang dibawanya. Cheesecake dengan hiasan stroberi yang menggugah selera. Tenten meancapkan lilin dan menyalakan api. Ketiganya bernyanyi.
"Sebelum kau tiup, ucapkan permohonanmu."
Sakura memejamkan matanya kemudian meniup semua lilin dalam satu hembusan. Mereka bertepuk tangan lalu bersulang dengan soda yang telah dipesan.
"Apa yang kau mohon? Kekasih baru, ya?" Goda Ino yang disambut jitakan Sakura. Gadis berambut merah muda itu memotong kuenya menjadi empat bagian samabesar kemmudian dioper kepada teman-temannya.
"Untukmu, forehad! Kuharap kau lekas pandai menggunakannya. Aku akan menjadi gurumu kalau kau kesulitan." Ino menyodorkan kotak yang berisi seperangkat alat-alat kosmetik. Sakura meringis saat menerimanya. Jujur saja ia bukanlah seorang pesolek seperti sahabatnya itu. "Arigatou, Pig!"
"Sa-Sakura-chan... ini dariku..." Hinata memberikan hadiahnya dengan malu-malu. Tenten juga ikut menyerahkan pemberiannya.
"Arigatou, Hinata, Tenten. Aku saja tidak ingat bahwa hari ini adalah ulang tahunku..."
"Makanya jangan larut dalam kesedihanmu, Sakura. Ada kami, kok," ucap Tenten sambil meremas tangan Sakura.
"Baiklah, hari ini kita berpesta!" Ino mengangkat garpu yang diujungnya terdapat stroberi. Mereka semua bersenang-senang hingga sore.
=xxx=
Sakura pulang dengan sedikit tergesa. Meskipun ia telah mengabari Kakashi kalau dirinya pergi bersama temannya tetap saja ia takut jika kejadian beberapa minggu lalu terulang. Ia tidak mau membuat Kakashi khawatir lagi. Wajahnya memerah lagi saat ingatan akan Kakashi yang memeluk erat tubuhnya muncul.
"Harusnya kau bilang kalau bawa benda sebanyak itu." Ujar Kakashi begitu melihat Sakura dengan hadiah dari teman-temannya. Tangannya bergerak mengambil ketiga kotak sehingga Sakura tidak lagi kerepotan.
"Aku bisa sendiri, kok."
"Hari ini kita makan malam di luar. Pakailah baju yang rapi. Kutunggu kau satu jam lagi."
"Eh?" Sakura hanya bisa mengerutkan dahinya.
=xxx=
Sakura tersenyum saat memasuki kamar mandi. Air hangat dengan aroma cherry sudah tersedia satu bak penuh. Sakura tidak menyalakan lampu karena ada lilin-lilin kecil yang menyala dengan cantik dan di sekelilingnya kelopak mawar merah bertebaran. Sakura berendam dengan senang hati. Perasaannya campur aduk, namun berpusat pada satu objek, Kakashi Hatake. Ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran pria tersebut. Bisa-bisanya ia dibuat tersenyum dengan kejutan kecil yang telah disiapkan di kamar mandi itu.
Usai berendam selama hampir setengah jam, Sakura menyudahinya dan membalut tubuhnya dengan handuk. Ia memikirkan instruksi Kakashi untuk memakai baju yang rapi. Mungkinkah ia akan mengajakku ke restoran mahal? Pikirnya. Sakura membuka lemari dan memilih baju. Sakura teringat atas pemberian ketiga sahabatnya. Dibukanya kotak pemberian Hinata dan Tenten. Sebuah gaun putih selutut berbahan satin dan aksen pita merah muda di pinggang serta sepasang sepatu tumit tinggi yang juga berwarna merah muda. Sakura terperangah melihat hadiah yang diterimanya.
Gadis berambut merah muda itu mematut dirinya di depan cermin. Awalnya ia agak ragu, namun akhirnya disentuhnya peralatan kosmetik yang diberikan Ino. Matanya terpejam untuk sesaat, berusaha mengingat cara berias yang pernah diajari sahabatnya itu. Kemudian mulailah ia memoles wajahnya sendiri.
=xxx=
"Kau terlihat cantik," puji Kakashi begitu Sakura keluar dari apartemen. Mau tidak mau Sakura tersipu mendengar pujian Kakashi. Jantungnya terasa hampir copot saat melihat sosok di depannya menggunakan kemeja hitam yang dilapisi dengan setelan jas berwarna putih. Pria itu tidak mengenakan masker seperti biasa, sehingga ketampanannya yang melebihi manusia biasa terlihat semakin jelas. Kakashi memakaikan sebuah mantel kepada gadis yang baru saja muncul, dan menggandengnya menuju mobil. Kakashi membuka pintu mobil dan mempersilahkan Sakura masuk terlebih dulu, kemudian menutupnya dan berpindah ke tempat duduk pengemudi.
"Ng… Kita mau kemana?" Tanya Sakura begitu mesin mobil dihidupkan.
"Lihat saja nanti."
Perjalanan mereka didominasi oleh diam. Sakura merasa cangung dan berdebar dengan sosok di sebelahnya. Aroma maskulin Kakashi menambah frekuensi debaran jantung si pemilik surai merah muda. Bagaimana mungkin seorang vampir dengan mudah membuatnya berdebar? Rutuk Sakura dalam hati. Untuk mencairkan suasana, Sakura berniat menyalakan radio. Saat akan menekan tombol 'on', jarinya bersentuhan dengan jari lain yang sedingin es. Rupanya Kakashi berpikiran sama. Refleks, Sakura menarik tangannya.
"A-aku hanya ingin menyalakan radio."
Kakashi tersenyum tipis lalu menekan tombol yang belum sempat tertekan barusan. Sebuah lagu bernada lambat mengalun indah, membuat Sakura semakin salah tingkah. Kenapa lagu romantis, sih? Sakura memaki radio tanpa suara. Ia melirik Kakashi yang terlihat tenang dan serius dalam mengemudi.
Beberapa saat kemudian Kakashi terlihat menghentikan laju kendaraannya. Sepertinya mereka sudah sampai di tempat yang di tuju. Kakashi menggandeng Sakura memasuki sebuah hotel mewah dengan arsitektur bergaya Eropa. Sakura sendiri dibuat takjub dengan interior yang menghiasi setiap sudut bangunan.
"Maaf, Tuan. Sudah memesan tempat?" tanya seorang pelayan begitu Kakashi tiba.
"Hatake."
"Tuan Hatake dan tunangannya ya?" Pelayan tadi tersenyum begitu nama Hatake ditemukan dalam daftar khusus. "Ikuti saya..."
Sakura berbisik, "Siapa yang kau maksud dengan tunangan?"
"Diamlah." Jawab Kakashi singkat.
Keduanya diantar ke sebuah meja yang nampaknya sudah dipersiapkan. Meja itu berada di dekat jendela sehingga pemandangan malam kota Konoha dapat dilihat dengan jelas. Sungguh pemandangan luar biasa ketika jutaan lampu menerangi kota, apalagi restoran tersebut berada di lantai paling atas.
Kakashi dan Sakura duduk berhadapan, dengan makanan pembuka berupa salad yang sudah tersaji di meja. Pelayan mempersilahkan keduanya untuk menyantap hidangannya dengan iringan musik klasik. Cahaya temaram terpancar dari lilin yang telah dinyalakan sebelum mereka tiba. Suasana romantis begitu kental disana. Sakura menjadi begitu gugup entah kenapa.
"Kakashi...Apa-apaan ini?" Sakura mendesis. Tidak berani membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk makan di restoran super elit ini.
"Perayaan ulang tahunmu."
Biasanya ulang tahun Sakura dirayakan di rumah keluarga Haruno. Tiap tahun neneknya selalu membuat cake dengan banyak krim dan stroberi sebagai hiasannya. Kakeknya akan membelikan hadiah apapun yang Sakura mau. Rupanya tahun kemarin menjadi ulang tahun terakhir yang bisa dirayakan bersama kakek dan neneknya.
"Apakah hari ini menyenangkan?" Tanya Kakashi begitu mereka berdua menyantap hidangan penutup berupa sepotong opera cake.
"Meskipun rasanya sepi tanpa Baachan dan Jiichan..." Sakura menelan potongan kuenya. "Setidaknya aku masih punya Ino, Hinata, dan Tenten."
"Hoo begitu..." Kakashi mengangguk. "Di usiaku yang ketujuhbelas, saat aku berhasil masuk universitas ternama, saat itu juga ayah ibuku tewas akibat tabrak lari..." ucap Kakashi. Sakura tertegun mendengar ucapan Kakashi. Rupanya masa lalu Kakashi juga pahit.
"Sejak saat itu aku memutuskan untuk menjadi pengacara yang berkewajiban menghukum orang yang bersalah..."
Hening untuk sesaat. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sakura-berpura-pura asyik menatap keluar, padahal debaran jantungnya mulai terasa cepat. Baru kali ini ia diperlakukan layaknya seorang putri oleh pria, yang notabene seorang vampir.
"Rasanya aku tidak tau harus berterima kasih seperti apa padamu..." Akhirnya kata-kata itu meluncur dari bibir mungil Sakura. Mendengar hal itu, bibir Kakashi tersungging. Sungguh, Sakura sampai terperangah melihat betapa tampannya makhluk ini ketika tersenyum. Sadar bahwa dirinya diperhatikan, Kakashi berdehem dan mengalihkan pandangannya.
"Mau berdansa?"
Awalnya Sakura merasa kesulitan menyesuaikan langkahnya dengan Kakashi. Pertama, ia memang tidak bisa berdansa. Kedua, sepatu yang dikenakannya lumayan tinggi sehingga semakin membuatnya sulit bergerak dengan leluasa. Namun Kakashi membimbingnya dengan lembut.
"Semoga kau menyukainya. Maaf hanya ini yang bisa kuberikan…"
Sebuah kalung melingkari leher Sakura. Bandulnya berbentuk bunga sakura, dengan warna merah muda yang dibingkai dengan warna perak. Sekali lihat juga orang bisa mengetahui, bahwa itu bukanlah kalung dengan harga murah.
"Ini…" Sakura kehilangan kata-kata. Pria penuh kejutan itu sukses menggenggam hatinya.
"Selamat ulang tahun, Sakura Haruno."
-o-o-o-o-o-
Ini buruk. Benar-benar buruk. Aku adalah manusia biasa dan Kakashi adalah aku membenci makhluk ini karena salah satu dari spesiesnya telah merampas nyawa kakek dan … Aku…
To be continued
oOo Cuap2Author oOo
(karena panjang, yg lagi sibuk disarankan skip aja)
He.
Hehe.
Hehehe.
*diarak pake garpu peternakan & obor*
*ditolongin Gintoki*
TADAIMAAAA~! Meirnpyon hadir kembali di dunia fanfiksi.
Maaf beribu maaf karena kelamaan mati suri hiatus. Nungguin prince charming kissu princess dulu soalnyahahahaha. Sebenernya fic ini udah lama sekali teronggok hingga mungkin menjadi kerajaan sarang laba-laba di folder karangan saya beserta fic lain yang tercampakkan selama hampir dua tahun. Bukannya malas, hanya saja... apa ya? Hehe. Jujur saya sempet kehilangan passion menulis terutama di fanfiction, bahkan sempat berpikir untuk deactive. Namun entah keajaiban macam apa yang membawa saya berniat menamatkan fic dan muncul ide baru untuk fic selanjutnya.
Ehiya ngomong-ngomong saking lamanya hiatus bio saya masih muda banget ya wkwk. Sekarang udah bukan high-school-girl lagi nih huhuhu. Sekarang saya sedang menjalani pendidikan di tahun kedua di sebuah Universitas yang berada di daerah Depok. Jadi harap maklum jika kesibukan (dan kemalasan) masih seringkali mendominasi hari-hari saya.
Aduh maaf ya cuap-cuapnya kebanyakan, abisan kangen sih hehehe. Eh iya satu lagi ya FIC INI DIBUAT JAUUUUH SEBELUM GGS ALIAS GANTENG GANTENG SERIGALABERBULUDOMBA NONGOL DI TV. Lagian di chapter sebelumnya saya sudah bilang kalo fic ini terinspirasi dari Twilight. Btw pas bikin fic ini saya abis baca Black Butler trus dengerin lagu Flightless Bird & American mouth makanya beberapa adegan diatas didasari kedua hal itu (hayo tebak yang mana). Mungkin suatu hari nanti saya akan membuat fic di fandom Black Butler atau Gintama yang akhir-akhir ini menjadi semacam candu bagi saya.
Makasih banyak buat semua pembaca baik itu silent reader ataupun reviewers (?) yang memberikan masukan untuk fic abal ini. Semoga kalian merasa terhibur.
Review please? ;)
AWikipedia: A is the first letter and vowel in the ISO basic Latin alphabet. It is similar to the Ancient Greek letter alpha, from which it derives. The upper-case version consists of the two slanting sides of a triangle, crossed in the middle by a horizontal bar. The lower-case version can be written in two forms: the double-storey a and single-storey ɑ. The latter is commonly used in handwriting and fonts based on it, especially fonts intended to be read by children. It is also found in italic type.
