.

Disclaimer: Dynasty Warriors is belong to Koei

Warning!: OOC, aneh, gaje, diksi payah, alur berantakan, EYD hancur, terlalu banyak typo,abal, dan kekurangan yang lainnya + humor garing

IF YOU DISLIKE, PLEASE CLICK BACK!

This story by Dera Maori

.

"Setelah ini, kita akan melakukan apa lagi?" tanya Ling Tong.

"Tanaman suplir, mungkin?" tawar Gan Ning ragu.

"Yasudahlah, mungkin itu bisa mencarinya sendiri dipekarangan rumah masing-masing atau bisa membelinya dipasar. Sekalian juga supaya besok bisa mencari katak hijau" jawab Ling Tong acuh.

"Ya" jawab Gan Ning sambil menghidupkan mesin motornya dan memanaskan mesinnya sedikit lalu keluar dari pekarangan rumah Ding Feng diikuti Ling Tong dibelakangnya yang telah masuk kedalam mobilnya.

.

Di halaman belakang rumahnya, Ling Tong sedang menungging-nungging#plak# untuk mencari tanaman suplirnya.

"Ck! Dimana sih suplirnya itu? Suplir... kau dimana?" tanya Ling Tong sendirian yang masih menungging-nungging tak jelas, "Ah... itu dia!" lanjutnya sambil mencabuti tanaman hjau yang menempel ditembok rumahnya dan mengundang tanda tanya besar dikepala seorang gadis yang sedang melihat aksi Ling Tong didepannya.

"Kakak sedang apa?" tanya gadis itu.

Buakh

"A-adaw!" karena terkejut, kaki kanan Ling Tong tak sengaja tersangkut dikaki kirinya dan membuatnya makin menungging kedepan.

"Eh? Kakak baik-baik saja kan?" tanya gadis itu mencoba membangunkan kakaknya berdiri.

"Iya! Makanya, kau jangan mengagetkan kakak!" seru Ling Tong galak.

"Iya-iya, bukannya bilang terimakasih! Memangnya kakak sedang apa?" tanya gadis yang diketahui bernama Ling Ling tersebut.

"Mengambil tanaman suplir" jawab Ling Tong acuh sambil menunjukan tanaman yang tadi dicabutnya.

Plak

Ling Ling menepuk jidatnya dan mengaduh kesakitan karena terlalu keras.

"Lu kenapa?" tanya Ling Tong.

"Ai... darimana kakak belajar bahasa itu?" tanya Ling Ling heran sambil mengelus dahinya pelan.

"Dari si Dul Anak S*kolah" jawab Ling Tong sambil memainkan kuku-kukunya.

"Film darimana?" Ling Ling masih bertanya.

Ling Ling bertanya, Ling Tong menjawab, "Dari Ind*nesia mungkin" dengan ragu.

"Ehm... Apa itu Ind*nesia?" tanya Ling Ling #Ling Ling digebukin warga Ind*nesia.

"Ah... Bego lu! Udah ah, gue pergi dulu!" ujar Ling Tong ketus.

"Hei! Kakak mau kemana? Aku ingin memberitahu sesuatu!" teriak Ling Ling.

"Nanti saja!" balas Ling Tong teriak.

"Ck! Membedakan tanaman seperti itu saja tidak bisa" gerutu Ling Ling sambil masuk kedalam rumahnya.

.

.

Ping

Android milik Ling Tong berdering dan bergetar menandakan ada pesan BBM masuk.

From: Landak Pirang

Cepat kerumahku sekarang! Berikan tanaman suplirnya juga!

Ling Tong hanya mendengus malas dan mulai mengetikkan sesuatu.

To: Landak Pirang

Iya-iya... Dasar cerewet p(-_-)

Ling Tong mengambil kunci mobilnya dan menuju garasi nya dan mulai mengeluarkan mobil mewahnya.

Brrrmmm...

Setelah meng-gas mobilnya, pintu garasi pun terbuka otomatis dan menuju ke kediaman Gan Ning dengan kecepatan sedang.

.

.

Sama halnya dengan Ling Tong sebelumnya, Gan Ning juga sedang mencari tanaman suplir di halaman belakang rumahnya.

"Fufufu... Lumayan banyak juga, tapi si tiang, dia sudah mendapatkan berapa?" tanya Gan Ning sendirian.

Gan Ning mulai mencabut lagi tanaman-tanaman suplir dan mengumpulkannya dikepalan tangannya.

"Sudah ah"

Gan Ning berdiri dari tempatnya dan mulai berpindah masuk kedalam rumahnya.

Tin

Tin

Suara klakson mobil didepan rumahnya membuat Gan Ning bingung.

"Bi, didepan ada siapa?!" teriak Gan Ning pada maid nya supaya memberi tahu siapa yang datang.

"Tuan muda, tamu yang didepan mungkin teman anda, tubuhnya tinggi dan rambutnya diikat ponytail" ujar maid itu pada Gan Ning.

Gan Ning langsung melesat pergi menuju gerbang dan membuka pintunya.

"Aku sudah menunggu dari tadi" ketus Ling Tong sebal.

"Oh" Gan Ning hanya ber-oh-ria.

"Ck! Setidaknya suruh aku masuk, kek"

Gan Ning memutar bola matanya bosan menanggapi perkataan Ling Tong yang menurutnya kekanak-kanakan, "Yasudah masuk, sekalian juga dengan mobilmu"

Dalam langkah pertama, Ling Tong menghentakan kakinya menuju mobilnya dan membanting kasar pintu mobil.

Lagi-lagi, Gan Ning memutar bola matanya bosan menanggapi teman seangkatan sekolahnya itu.

.

.

Setelah Ling Tong masuk dan dipersilahkan duduk, Gan Ning berucap, "Ini tanaman suplirku. Mana punyamu?" sambil mengeluarkan tanaman suplirnya yang tadi baru diambilnya.

Ling Tong mengeluarkan tanaman suplir—yang dianggapnya—dihadapan Gan Ning.

Ling Tong terdiam.

Tanaman yang Ling Tong bawa tergeletak diatas meja.

Gan Ning cengo.

Loading: 5 %

Loading: 32%

Loading: 58%

Loading: 79%

Loading: 83%

Loading: 101% (njir, kelebihan!)

"MASA LU GAK BISA NGEBEDAIN MANA SUPLIR MANA LUMUT?!"

Gan Ning marah sambil mengeluarkan hujan lokalnya.

"Gak usah di capslock juga kali" Ling Tong memutar bola matanya bosan.

'Ngapain ni anak bawa-bawa sistem keyboard' Gan Ning mendecih kesal.

"Ehm..." setelah berdehem pelan, Gan Ning melanjutkan perkataannya, "Tanaman apa yang kau bawa" dengan suara maskulin.

"Ya elah, nanya lagi. Ini suplir boook"

'Ampun dah. Apa leluhurnya Ling Tong juga se-OOC gini?'

"Kau tahu tumbuhan lumut?" tanya Gan Ning yang sudah kembali dari kewarasannya (?)

"Tidak" jawab Ling Tong santai sambil menyelonjorkan kakinya dimeja depannya. Gan Ning menggeram pelan atas kelakuan teman seangkatannya itu

"Tuan Ling Tong..."

"Hmm...?"

"Saya rasa, tumbuhan yang ada bawa adalah tanaman lumut. Darimana anda bisa menganggap kalau ini adalah tanaman suplir?"

"Entah!"

Dengan ganas, Gan Ning menabok kepala buntut kuda-ditebas-tersebut dengan kesal.

"Tanaman suplir di rumahku sudah tidak ada lagi. Hanya segini yang aku dapat. Aku harap kau membawa lebih banyak lagi. Tapi kenapa kau justru mebawa tanaman lumut?!" Gan Ning sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya lagi.

"Oh"

Poor Gan Ning.

.

.

"Bagaimana untuk katak hijau?" tanya Ling Tong.

"Terserah"

'Hoo... ternyata silandak ini ngambek, toh'

"Kita cari di pasar" ujar Ling Tong.

"Tidak" tolak Gan Ning.

"Hah... kenapa?" tanya Ling Tong innocent.

"Sok polos lu. Udah ah, jijik gua lama-lama" Gan Ning merinding disco saat Ling Tong mengedipkan matanya berulang kali pada Gan Ning seperti kelilipan bedug—eh salah, debug—eh salah lagi, debu.

"Jadi?"

"Cari di sawah"

"Kok sawah?! Pasar juga banyak kaleeee"

"Ingatlah perkataan guru Sun Shang Xiang"

Flashback

"Ingatlah, untuk bahan-bahannya kalian harus mencarinya sendiri. Seperti 2 bilah bambu, 2 ekor katak hijau, dan 12 ekor jangkrik. Kalau tidak..."

Kreek

Kreek

Sreet

Suara seperti retakan tulang dari guru Shang Xiang menambah kesan horror, ditambah lagi guru Shang Xiang membuat tanda menebas dilehernya dengan ibu jarinya. Setelah sekian lama kelas unggulan tersebut terdiam, akhirnya ada yang bertanya juga. Sang ketua murid kita, Zhu Ran*plok-plok-plok#digaplok.

"Um... guru, kalau tidak ada, boleh kan mencarinya dipasar?" ujarnya mencari alasan.

Dan meja pun melayang kearahnya sambil berteriak "TIDAK ADA ALASAN!" dari guru Shang Xiang.

"Zhu Ran!" seru Lu Xun tak tega melihat teman fire attack-nya *ngapain lu bawa-bawa kayak gitu?* babak belur karena dilempar meja.

Glek

Semua murid termasuk Ling Tong dan Gan Ning pun telan ludah dengan susah payah.

'Tapi, darimana guru Shang Xiang tahu kalau nantinya akan mencari dipasar' batin Gan Ning bingung.

Seolah bisa membaca pikiran, guru Shang Xiang langsung berujar, "Jika kalian nantinya bertanya darimana aku bisa tahu kalian akan mencarinya di pasar atau tidak..."

Double Flashback (?)

"Tuan Zhang Jiao..." Shang Xiang mencoba berbicara pada bapak-bapak brewokan*ditendang* dihadapannya.

"Hm...?" sesosok (?) yang dipanggil 'Tuan Zhang Jiao' tersebut bergumam sambil terus komat-kamit mengucapkan mantra dimulutnya dan tangannya bergerak pelan diatas bola bulat putih didepannya.

"Saya ingin minta bantuan"

"Apa?"

"A-anu... saya ingin anda mengawasi kelas XI-A dari SMA Wu Senior High School"

"Untuk apa?"

"Saya sedang memberi tugas pada mereka. Tugas itu mencari 2 bilah bambu, 2 ekor katak hijau, dan 12 ekor jangkrik. Saya ingin mereka tidak mencari bahan-bahan itu di pasar, melainkan mencarinya sendiri tanpa bantuan dari orang lain seperti dari keluarga"

"Boleh aku meminta datanya?"

Shang Xiang memberikan sebuah buku berukuran sedang pada Zhang Jiao, "Ini bukunya, tuan. Satu kelompok berisikan dua orang dan saya juga sudah mencantumkan bersama siapa mereka sekelompok"

"Waktunya?"

"Maksimal selama seminggu"

"Jadi, ada 30 siswa dengan 15 kelompok yang harus aku awasi maksimal seminggu?"

Shang Xiang mengangguk.

"Baiklah, biayanya 30 jt"

"BUSEEETT!"

Shang Xiang shock? Tentu saja.

Tunangan dari kepala sekolah SSHS—Liu Bei—tersebut shock. Dari rumah, dia hanya membawa 10 jt, itu pun ada untuk cadangan. Tapi sekarang, bapak-bapak brewokan*ditendanglagi* dhadapannya minta 30 jt? Bisa tekor dia!

"Hahaha... wajahmu itu enggak banget pas shock. Saya hanya bercanda, biayanya hanya 3 jt kok" bapak-bapak bre*dideatglare* Zhang Jiao menyengir watados (wajah tanpa dosa).

Shang Xiang mengeluarkan uang 3 jt tersebut dengan wajah cemberut, 'Kalau dia bukan orang yang aku minta tolong, sudah aku habisi dia!' batin Shang Xiang penuh dendam (?)

Sedangkan Zhang Jiao hanya terkekeh atas tanggapan Shang Xiang, mengingat dia juga bisa membaca isi pikiran orang lain dan isi hati orang lain (?)

End Double Flashback (?)

"... Kalian mengerti kan?" lanjut guru Shang Xiang sambil memasang seringai manis yang mengandung makna iblis*digampar* dibibir sekseh nya.

Semua murid di kelas itu bergidik ngeri atas kengerian guru biologi mereka. Mereka hanya bisa pasrah, biarlah waktu yang menjawab (?)

End Flashback

"Jadi... kita harus mencari dimana?" tanya Ling Tong (lagi).

"Di sawah, bego! Daritadi lu nanya mulu!" bentak Gan Ning kesal.

"Daritadi marah-marah mulu, lagi kedatengan tamu?" celetuk Ling Tong.

'Gan Ning, bersabarlah'

Poor Gan Ning (for the second time).

.

.

Kini, mobil mewah Ling Tong ditumpangi dengan dua orang dengan Gan Ning yang sedang fokus menyetir sedangkan Ling Tong disebelahnya yang sedang fokus main Angry B*rds yang memang suaranya sudah terdengar.

Gan Ning berdecih kesal, ada apa dengan Ling Tong hari ini?

Kenapa Gan Ning merasa Ling Tong menjadi sangat bodoh?

Dia berkelakuan seperti anak kecil, membedakan lumut dengan suplir saja tidak bisa.

Bagaimana nilai matematika—eh salah, bagaimana nilai IPA-Biologi nya waktu masih SMP?

"Ngapain kita ke sawah?" tanya Ling Tong (lagi).

Dengan gemas sekaligus kesal, Gan Ning meremas stir mobil Ling Tong dengan keras.

"Hei, kau menyiksa mobilku" celetuk Ling Tong watados.

Ckit

Gan Ning sengaja berhenti mendadak didekat sawah, untuk tidak sampai terbentur karena memakai seatbelt.

Blam

Setelah melepas sabuk pengaman mobil, Gan Ning keluar dan membanting pintu mobilnya dengan keras diikuti Ling Tong.

"Memangnya katak hijau di sawah itu ada ya? Yang aku tahu, katak hijau itu adanya dipohon-pohon. Kalau yang di sawah itu namanya kodok" ujar Ling Tong sambil berpose berfikir.

"Kita coba saja dulu" jawab Gan Ning yang mulai menggulungkan jeans nya dan melepas sepatunya lalu masuk kedalam tanah basah yang ada pada sawah yang baru ditanam.

"Tidak minta izin dulu dengan yang punya?" celetuk Ling Tong.

"Itu mah gampang"

Akhirnya, Ling Tong pun ikut melakukan hal yang sama dengan Gan Ning dan mulai membungkuk-bungkuk macam abah-abah nyasar*digetok* dan mulai mengorek-ngorek tanah basah tersebut.

"Kwork, kwork, kwork, kwork" suara kodok memenuhi telinga dua pemuda itu (?) yang sedang berusaha mencari kodok, entah kodok ataupun katak.

"Hup!" seru Gan Ning yang sudah mendapatkan kodok besar ditangannya.

"Permisi, kalian siapa? Sedang apa kalian disini?" suara halus dan lembut membuat Gan Ning dan Ling Tong membeku terkejut.

Slowmotion Mode: On

"Hhhhaaaaaa"

Ling Tong mengeluarkan suaranya sambil menoleh kearah belakang dengan cepat, membuat ikatan rambutnya menampar wajah Gan Ning dengan kibasan tajam, setajam silet, XD

"Kkkkkwwwoooorrkk"

Kodok yang digenggam Gan Ning tiba-tiba terlepas dan melompat setinggi yang dia bisa dan...

Pluk

Nemplok diatas kepala Ling Tong, XD

Slowmotion Mode: Off

Ctak

Empat siku-siku bersarang dijidat Ling Tong dan berusaha mengusir kodok tersebut dari atas kepala buntut kudanya*digaplok*

Setelah melihat secara jelas siapa yang sudah mengagetkan mereka, mata Gan Ning tiba-tiba merubah jadi lope-lope warna pink, XD membuat Ling Tong disebelahnya jadi sweatdroped.

"Umh... a-anu" suara lembut itu dikeluarkannya lagi.

"Ning, jaga mata lu dong!" bisik Ling Tong.

"Ibu..." suara gadis kecil membuat Ling Tong dan Gan Ning menoleh lagi kearah depan.

Dag... Dig... Dug...

Kretek... Kretek...

Pyar... Pyar...

Mata Gan Ning yang awalnya lope-lope pun retak dan pecah, kasihan...

'Hiks... Hiks... Aku tak menyangka, dia sudah mempunyai suami, sudah punya anak lagi' batin Gan Ning galau.

"Hei! Kalian siapa?!" seru gadis kecil itu sambil menunjuk wajah kedua pemuda itu.

"Lingqi, jangan seperti itu sayang..." pemilik suara lembut itu dikeluarkan lagi sambil mengelus surai coklat gadis kecil yang tadi dipanggil 'Lingqi'.

"Kenalkan, namaku Ling Tong" Ling Tong maju dengan PD nya dan mulai memperkenalkan dirinya dengan suara yang maskulin.

"Ah... namaku Gan Ning" sambung Gan Ning meski masih patah hati, XD

"Namaku Diao Chan, dia putriku, namanya Lu Lingqi" wanita itu memperkenalkan dirinya dengan nama 'Diao Chan'.

Diao Chan dan Lingqi hanya menggunakan pakaian sederhana. Diao Chan hanya menggunakan celana pendek sepanjang lutut dengan kaos putih, sedangkan Lingqi menggunakan celana tiga perempat dan kaos pink bergambar barbie, XD

"Diao Chan..." suara berat dari arah belakang membuat keempat orang itu menoleh kearah belakang.

"Ayah..." seru Lingqi sambil berlari kearah pemilik suara itu dan meminta digendongnya.

"Lu Bu..." Diao Chan tersenyum manis kearah pria yang sedang menggendong putrinya.

Ling Tong dan Gan Ning menganga melihat penampilan pria itu. Apakah dia adalah suami dari Diao Chan? Kira-kira, itulah yang mereka pikirkan.

"Siapa mereka?" pria yang dipanggil Lu Bu tersebut memincing sinis kearah GanTong dan membuat kedua pemuda tersebut bergidik ngeri.

"Mereka Ling Tong dan Gan Ning" ujar Diao Chan.

"Kau kenal mereka?" tanya Lu Bu.

"Tidak, barusan aku melihatnya disini. Aku tidak tahu mereka sedang apa" jawab Diao Chan.

"Sedang apa kalian disini?" tanya Lu Bu pada dua pemuda dihadapannya, "Aku adalah pemilik seluruh sawah ini"

'Hah? Pemilik sawah ini, dari penampilannya kayaknya enggak banget' batin Ling Tong.

Hei, Tong. Kepemilikan seseorang tidak harus dilihat dari penampilannya kan?

Lu Bu mengenakan celana pendek berwarna hitam dengan kaos oblong berwarna hitam pula dengan topi bambu dikepalanya dan tadi pacul sebelum menggendong putrinya.

'Pemilik sawah kok kayak petani?' kometar Ling Tong lagi.

"Err... kami sedang mencari katak hijau disini" ujar Gan Ning.

Alis tebal milik Lu Bu mengkerut disertai dahinya pula, 'Mencari katak hijau disawah? Apa mereka masih waras?'

"Katak hijau mana ada di sawah"

Ling Tong menyenggol Gan Ning sebal, perkatannya tadi benar kan? Mana ada katak hijau di sawah.

"Jadi... kami harus mencarinya dimana?"

Gan Ning bertanya namun tatapannya terarah pada Diao Chan.

Plak

Lu Bu menampar pelan wajah Gan Ning dan berkata, "Ikut aku" dengan perasaan sebal sekaligus cemburu.

"Khikhikhi... makanya, mata itu dijaga" bisik Ling Tong lalu mengikuti Lu Bu mengabaikan mata Gan Ning yang berkaca-kaca.

"Kwrek, kwrek, kwrek, kwrek"

Setelah sampai ketempat seperti aquarium raksasa, suara mirip seperti kodok tadi mulai terdengar.

"Ini, kalian pilih saja katak hijaunya" ujar Lu Bu cuek.

"Banyak sekali" komentar Ling Tong-ini orang banyak banget komen sih?-

"Nona Diao Chan, apa semua katak ini milik tuan Lu Bu?" tanya Gan Ning modus, "Memangnya untuk apa?" sambungnya.

"Untuk dimakan" jawab Diao Chan jahil.

"Haaaa?"

Gan Ning shock, idiw... memang bagaimana rasanya.

"Hahaha... saya hanya bercanda kok, mungkin Lu Bu memang sudah hobi memeliharanya" ujar Diao Chan.

"Ehem..." deheman seseorang membuat obrolan sepasang manusia tersebut terhenti.

Dapat dilihatnya, Lu Bu sedang melipat kedua lengannya didepan dada dengan telapak kaki kanannya seolah-olah sedang mengetuk-ngetuk lantai dan tatapan matanya yang memincing sinis, "Jika kau membutuhkan katak hijaunya, cepatlah ambil bersama teman buntut kudamu itu dan pergi dari sini!"

Gan Ning segera kabur dari tempat dan menyusul Ling Tong.

"Cemburu ya?" goda Diao Chan.

"Tidak" jawab Lu Bu datar.

"Yasudah, padahal tadi kalau cemburu, mau aku cium loh..."

"Arrgghh... iya-iya, aku cemburu. Puas kau! Sekarang cium aku!"

"Tidak akan"

"Grrr kau akan mendapat hukumannya nanti"

"Wleeee"

Diao Chan kabur dari tempat karena sudah tahu akan dikejar Lu Bu, tanpa sadar ada sepasang mata dengan pemilik nya yang sedang menyedot ingus.

Srrriikk

"Ih... dasar jorok! Bantuin gue nih buat dapetin kataknya" Ling Tong menarik kerah belakang Gan Ning dan mulai menyuruhnya untuk membantunya mengambil katak.

"Tak tahukah kau? Hatiku sakit, hatiku hancur, hati..."

"Baca puisinya nanti saja" potong Ling Tong cepat.

"Lu mah gak tau situasi"

"Lu yang gak tau situasi, cepet kek bantuin gue!"

"Hup! Ish! Gak dapet, Tong... susah tau!" seru Gan Ning menggerutu sebal.

"Tang-tong-tang-tong, pala lu gue gentong. Cari lagi!"

"Kwrek, kwrek, kwrek"

Ling Tong berjalan mengendap-ngendap kearah katak hijau yang sedang duduk di atas batang pohon dengan tenang, "Hup! Ning, gue udah dapet nih!"

"Nang-ning-nang-ning, pala lu gue topeng monyet" gerutu Gan Ning sebal.

"Hah?"

"Yang itu loh... yang musiknya 'ting nang-ning-nung ning-nang-ning ning-nang-ning-nung' gitu..." teriak Gan Ning sambil mencak-mencak.

"Oh..."

'Hiks... gue udah nyanyi-nyanyi kayak gitu, malah responnya cuman 'Oh', udah gitu, pake flat face lagi' batin Gan Ning miris.

Poor Gan Ning (for the third time).

.

.

Setelah banting tulang (?) untuk mendapatkan dua ekor katak hijau, akhirnya kedua pemuda tersebut pamit pada pak Lu Bu, nyonya Lu Lingqi, dan nona Diao Chan, XD

Dalam perjalanan pulang, kini Ling Tong yang menyetir disertai suara-suara katak hijau dan isakan tangis Gan Ning, DX

""Kwrek, kwrek, kwrek"

"Hiks... hiks... hiks... hwaaaaaa"

"Hentikan tangisanmu itu, Landak!"

Ya, itulah isi dalam mobil Ling Tong yang ramai bagaikan pasar malam Jum'at, XD

"Brrrrmm.. brrrmmm..."

"Turun, sudah sampai dirumahmu, ini kataknya, simpan baik-baik!" suruh Ling Tong sambil memberikan wadah yang berisikan dua ekor katak pada Gan Ning yang masih terisak-isak.

Gan Ning turun dari mobil mewah Ling Tong sambil membawa katak didalam kandang kucing milik Gan Ning. Tapi jelas gak ada kucingnya.

"Huhuhu..."

Srriikk

"Ibu, kenapa kakak berambut pirang itu menangis? Tadi, aku lihat kakak yang berada didalam mobil membentaknya" ujar seorang gadis kecil yang digandeng ibunya dipinggir jalan yang lokasinya tidak jauh dari tempat berhentinya dua pemuda tersebut.

"Bisa-bisanya seorang anak mengusir ayahnya sampai menangis begitu. Anaknya didalam mobil, sedangkan ayahnya diluar" jawab ibu dari gadis itu marah dan mengundang ibu-ibu lainnya.

"Ada apa bu? Kok marah-marah sendiri?"

"Itu, lihat disana, seorang anak yang membentak ayahnya. Dasar durhaka!"

"Wah, kurang ajar ya"

Ling Tong yang mendengar bisik-bisik para ibu-ibu, keluar dari mobilnya dan entah karena apa segerombolan ibu-ibu itu datang kearahnya dan membuat wajahnya menjadi pucat.

Sreet

"Aa-duduh! Sakit!" Ling Tong meringis karena telinga kirinya dijewer keras oleh salah satu ibu-ibu tersebut.

"Engg?" Gan Ning sedikit melek dan dalam hatinya tertawa melihat wajah Ling Tong yang tersiksa, XD

"Dasar anak kurang ajar ya kamu! Berani-beraninya kamu membentak ayah kamu sampai menangis begitu!" ibu-ibu itu kembali membentak Ling Tong.

"Aduh... kek, jangan menangis lagi ya..." sedangkan ibu-ibu yang lainnya sedang menenangkan Gan Ning.

"Cepat minta maaf!"

"Hei, bu! Dia ini bukan ayah saya! Tapi dia ini te... aduh!" jeweran Ling Tong lagi-lagi diperkeras.

"Wah... kamu sudah tidak mengakuinya sebagai ayahmu ya? Benar-benar tidak bisa dimaafkan!"

Sreet

"Adaw... sakit PEA!"

"Hiks... hiks... jahatnya" racau Gan Ning yang mulai mengerjai Ling Tong.

"A-adaw... i-iya, yah... aku minta maaf" ujar Ling Tong setengah jantung—eh salah, setengah hati dan ikut bersandiwara.

"Huhuhu... iya, ayah maafkan, nak" jawab Gan Ning yang agak menyeringai.

Sreet

"PEA!" seru Ling Tong lagi sambil mendelik tajam kearah ibu-ibu yang tadi menjewernya, pengen lepas jeweren, kenapa telinganya sambil ditarik? Bisa-bisa telinganya jadi telinga gajah.

"Nah gitu, akur-akur terus ya..."

"Iya, dah..."

Apa saking mudanya Ling Tong, sampe dibilang anaknya Gan Ning? *Dera dikasih senyuman sekseh Ling Tong, XD*

Apa saking tuanya Gan Ning, sampe dibilang ayahnya Ling Tong? *Dera dimusou Gan Ning, DX*

Ibu-ibu yang tadi menjewer Ling Tong dadah-dadah kearah dua pemuda tersebut.

'Dasar ibu-ibu monster!' batin Ling Tong sebal, "Puas lu!"

"Khekhekhe... makanya, jangan main-main sama gue" Gan Ning cekikikan.

"Udah ah... gue cabut dulu! BM gue kalo mau cari jangkrik" ujar Ling Tong lalu masuk kedalam mobil.

"Oke, hati-hati darling. Bye! Muach!" Gan Ning kasih kissbye kearah Ling Tong dan membuatnya merinding disco, 'Efek ditolak Diao Chan jadi gitu ya?'

..

TBC

..

CDA (Curhatan Dera Area)

Hallo... Dera balik lagi dengan chap baru, gomen kl update nya ngaret banget *lu mah biasanya juga gitu -_-*

Ini udh humor belum? Dera sih ngarepnya iya

Kata orang-orang sih, Dera termasuk orang-orang yang humoris, tapi Dera rasa gak tuh

Walaupun hanya menulis fic, Dera juga pengen bisa orang buat ketawa :D

Mengetik chap 3 ini juga untuk mengisi rasa bosan selama puasa. Gomen kl telat, untuk para readers, selamat berpuasa bagi yang muslim ^_^

End CDA

Thanks to:

xtreme guavaniko: Ini udh next, semoga suka...

safniradhika: Entahlah, mereka bisa akur atau tidak, ini udh next...

DCL: Wah... makasih masukannya ya kak... untuk hukum 'di' ini udah rada mendingan belum *ngarep*? Dera juga pengennya bahasa gak terlalu baku, karena kl bahasanya terlalu baku, humornya gak akan kerasa juga. Untuk Taishi Ci, nanti Dera pikirkan lagi, XD

MarzukyHatsune47: Mau yang lebih maho lagi *smirk* *digaplok GanTong*. Ini udh update

Aiko Ishikawa: Ini udh next, semoga suka...

Setelah membaca, berkenan untuk review?