Bagaimana bisa celana SMA ku melorot? Jelas-jelas aku memakai sabuk. Ouh, Sakura menjerit pertanda aku sudah tidak ada apa-apa lagi di matanya. Tapi bukankah dari awal aku memang sudah tak punya apa-apa di matanya? Kisama! Bahkan harga diriku tidak ada…
xxxLovelessxxx
ΩΩΩLOVELESSΩΩΩ
ΩΩΩChapter 3 : Kehormatan ΩΩΩ
ΩΩΩBy : Rouri a.k.a Ma'iΩΩΩ
xxxLovelessxxx
Kejadian kemarin sore sangat berpengaruh kepada hariku yang selanjutnya. Aku datang ke sekolah tanpa ada hasrat semangat. Bahkan aku sempat berfikir untuk membeli topeng mainan di pinggir jalan sebelum ke sekolah. Karena aku sudah tidak punya muka lagi. Hancuuur… Protes kepada Tuhan? Apakah berguna? Aku tidak yakin. Mungkin berguna bila aku mati terlebih dahulu.
Respon apa yang harus ku berikan kepada Sakura jika kami bertemu? Senyum? Mengangguk? Memanggil nama? Atau muka tembok? Ahh…itu fikirkan nanti saja, sekarang aku harus buru-buru masuk kelas dan mencontek PR matematika sebelum bel berbunyi. Sial! Semoga Shikamaru menyelesaikannya dengan sempurna. (pada dasarnya Shika tidak mengerjakan PR oleh alasan malas bukan karena tidak bisa, perlu di catat sodara-sodara!)
xxxPianistxxx
Selain bingung menghadapi Sakura, aku juga bingung menghadapi si Teme. Gk tau deh dengan perasaanku yang angin-anginan ini. Kok aku ngerasa pusing sendiri ya mikirin si Teme? Rasanya lebih ruwet mikirin Teme dari pada mikirin Sakura.
"Si Pangea itu berpisah…."
Mungkin Sakura benar, aku Cuma berlebihan. Teme tidak culun-culun amat kok! Dipikir-pikir lagi, dia tidak seburuk yang selama ini aku pikirkan. Dia baik juga. Rapih, emm…tampangnya kalau diliat-liat lagi sih lumayan. Udah gitu pemain keyboard lagi. Heheehhe. Tapi pasti dia kesal, marah, dan tidak suka padaku pasca that traged.
"…yang ke sebelah sini membentuk benua Asia, sebela…"
Aku kan sudah terlanjur menghina-hina dia. Eh itu kan salah dia sendiri, ngehina duluan! Anggap aja kita impas. Sebenarnya tidak impas sih… orang dia memfitnah ku. Aku bukan cowok mesum seperti yang dia sangka.
"…nah, sekarang kan benuanya jadi banyak, terus…"
Apa aku harus minta maaf? Ti-dak-mung-kin. Lidahku bisa kena kanker akut.
"Coba jelaskan kembali, Naruto."
"TIDAK MUNGKIN!" Bentakku sembari berdiri.
"Apanya yang tidak mungkin?" Tanya Sensei, kacamata separuh bulannya merosot hingga ke batang hidung. Yeah, dia sama sekali tidak membutuhkan kacamata bila memakainya saja seperti itu.
Butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna keadaan. Seluruh siswa―terkecuali Shika yang tidur nyenyak tentunya―memandangi ku aneh. Seolah aku adalah badut dufan yang memang patut ditonton karena ukuran hidungku yang super besar dari badut pada umumnya. Barulah aku sadar. Hatiku mencelos bak sedang menikmati wahana permainan tornado. Lagi-lagi karena melamun. Sensei menatapku tajam. Tentu tatapan yang siapapun tak mau ditatap demikian. Tidak cukupkah…..penderitaan ini, Kami-sama?
Sensei ku berdecak kesal. Kedua tangannya melipat di depan dada. Dagunya sedikit naik menantangku. Oh, aku salah menantang sensei―salah besar. Siapa juga yang berani menantang sensei terbengis di sekolah? Yap, guru dihadapanku adalah seorang sensei perempuan yang sangat bengis dan galak. Karena kebodohanku, kini aku dalam lingkaran kematian. Oh, 2 days ago was my bad day, and now is…. fucking day. I should not dream day.
xxxPianistxxx
"Hahahaha datang satu, tumbuh seribu!"
Curhat bisa bikin hati ngemplong. Tapi kalo curhatnya ke Kiba en Shika…. bukan pilihan yang tepat. Apa lagi kiba. Huuuhh… ujungnya mereka cuap-cuap gaje ketawa-ketiwi kayak orang kesurupan roh gila.
"Ya…ya…ya… sudah jam 2. Aku ke multimed!" seruku sedikit kesal dan lemas. Aku pun beranjak pergi tanpa meninggalkan salam perpisahan hangat seperti biasanya. Bukan bersikap getol, tapi dari pada jadi objek hiburan mereka mending aku ngerjain yang lebih bermanfaat.
"Jangan lupa," kata Shika tiba-tiba.
"He?" aku berhenti dan kembali berbalik "apa?"
"Jangan lupa kata-kataku." Aku sedikit tersenyum, tanda meng-iya-kan dan berlalu pergi.
Hmm, emangnya tadi Shika bilang apa? Sepertinya tentang Teme. Tapi aku malas mengingat apa lagi memikirkan itu semua. Aku dalam mood yang jelek. Beberapa kali aku menghindar berpapasan dengan Sakura―aku tak mengira bisa melakukan ini, padahal dulu aku tak bisa melewatkan sehari tanpa bertemu Sakura. Hari ini terasa aneh. Kemana pun aku pergi pasti ada Sakura. Kebetulan yang sangat kebetulan. Ah…jadi gila aku!
Aku segera melaksanakan tugasku begitu tiba di multimedia tanpa mengindahkan keberadaan Teme yang datang lebih awal dariku. Aku tak peduli. Biarkan sajalah! Lebih baik pura-pura dia tak ada. Hmp.
TOK!TOK!TOK!
Pintu pun terdengar diketuk yang artinya Sakura datang. Hal yang tak ku inginkan akhirnya terjadi. Sial! Lagi-lagi…mungkin setelah ini Sakura menyapa Teme, lalu matanya teralih padaku yang sedang bersih-bersih dan tiba-tiba emosinya melunjak. Memaksa ku meminta maaf soal masalah kemarin. Hueeeks…kenapa cewek itu begitu cerewet? Okaa-san saja tidak secerewet itu. Haruskah aku berdebat? Atau mengalah? Minta maaf? Ahh…sialsialsialsial!
"anou, Uchiha-san…" benar saja. Sakura menyapa Teme duluan dari pada menyapa ku―teman seangkatannya dari SMP.
Terus bersihkan debu-debu itu Naruto~ jangan pedulikan merekaaa~
5…10…15…20 menit berlalu. Aku selesai juga. Tanpa mengobrol ataupun melirik Sakura dan Teme. Berat sih untuk beralih dari Sakura, tapi aku berhasil. Aku segera bersiap untuk pulang sebelum emosi Sakura melonjak dan membuat pertengkaran heboh lagi. Ketika hendak keluar dari multimed, Teme mencegahku dengan cara menarik tas soren ku. Gk indah banget deh caranya itu.
"Bukankah ada yang terlupakan, Naruto?" katanya yang terdengar mengancam.
Aku menoleh. Menampilkan wajah masa bodo. Aku sempat kaget terhadap tindakanku ini. Bagaimana tidak, bisa-bisanya aku begini dihadapan Sakura, si Pujaan Hati. Seenggknya aku bersikap gentlemen laa… atou cool gitu…
Aku menaikkan sebelah alis lalu berkata "tidak ada" dan kembali melangkah
"kata 'Maaf',apakah bisa menyegarkan ingatanmu?"
"Sepeeeertinya tidak." Balasku dingin. Jantungku kena serangan! Dugaan agak melenceng. Tapi tetep tujuannya masih itu walau pun bukan Sakura yang berperan. Aku memutuskan terus berjalan. Diam memang emas, tapi selalu diam merupakan salah satu kebodohan.
"Sudah, Uchiha-san. Biarkan saja." aku mendengar Sakura membela Teme. kesal bercampur sempurna dengan sakit―kayak es campur yang siap disikat habis pas matahari lagi panas-panasnya. Dadaku terasa berat padahal tidak ada buah dada tergantung di sini. Sakit seperti ada jarum runcing, kecil,tajam, menancap di jantung. Tiba-tiba tenggorokan terasa sakit. Entah sakit karena apa, yang jelas seperti menjerit atau menangis yang tertahan, beginilah rasanya. Keputusanku berubah, aku berhenti melangkah. Tak menoleh. Terlalu sakit untuk itu. Untuk beberapa saat aku hanya berdiri tegak tak bicara apa-apa.
"Naruto kurang dididik oleh kedua orang tuanya. Ya…pantas saja lha, kalau dia bertindak begini." Tindas Sakura yang langsung…tentu…kau-tahu-bagaimana-perasaanku.
Kata-kata itu…kata-kata yang begitu sering terlontar dengan mudah dari mulut setiap orang. Kalau tidak salah, terakhir aku mendengarnya ketika aku masih kelas 6 SD. Aku tak mengira bahwa masih akan ada orang yang berkata demikian setelah aku berubah total dari Naruto nakal menjadi Naruto baik. Apakah cewek ini benar-benar Sakura? Ternyata dia seperti ini orangnya. Sungguhkah dia adalah gadis yang ku puja-puja? Gadis manis yang tiap hari ku pandangi dari jauh? Ternyata dia… tak lebih dari sekedar motherfucker. Shit!
Sakit.
"Kenapa kau diam di situ? Kata-kataku terlalu mengenai sasaran, ya?"
Aku mohon…berhenti…
"Punya cermin gk sih di rumah? Berapa sih harga cermin? Biar gue beliin deh yang 2 meter biar lu bisa ngaca!"
Aku laki-laki. Aku tahan banting!
"Ibunya aja udah gila, pantes anakny-"
PLAK!
Tak butuh waktu lama bagi ku untuk mengerti apa yang baru saja ku lakukan. Dan aku tak butuh waktu lama untuk menghajar siapa pun yang telah merendahkan Okaa-san.
"Naruto!" Teme ikut nimbrung tapi buru-buru aku menimpal balik untuk Sakura. Menurutku ini masalah antara aku dan Sakura, bukan dengannya lagi.
"memaki orang tua adalah perbuatan hina oleh orang yang tak punya harga diri untuk dihormati, karena secara langsung memaki diri sendiri," ucapku tegas sekaligus lancar. Aku memberi jeda beberapa saat untuk kalimatku selanjutnya. "kau yang seperti itu, Haruno Sakura"
"Bisakah kalian menghormati ku yang lebih tua?" Teme menyela. Tapi tentu diabaikan lagi, lagi, dan lagi.
Mata emerald Sakura berkaca-kaca. Entah bersiap menangis atau kemasukan debu. Sebelah tangannya menempel di salah satu pipi yang ku tampar. Bibirnya basah kemerahan karena digigit. Keringat―yang tadinya aku pikir air mata―mengucur enggan di sudut dagunya. Pasti Sakura gatal ingin menghapus keringat tersebut.
"Mau mu apa? Kau baru mengenalku kurang dari seminggu ini dan sudah mengatakan kata-kata…." Aku berhenti tiba-tiba begitu Sakura cekugan dan menarik pelukan Teme. Kali ini tak sedikit pun perasaan sakit―tepatnya cemburu.
Aku segera bertolak dari tempat terkutuk ini karena setelah melihat punggung gemetar Sakura aku jadi merasa bersalah. Aku merasa tolol, sangat tolol untuk melukai gadis hina. Eh? ARGHT! Aku tidak tahu! Aku tidak mengerti. Caraku benar kan? Aku tidak diam ketika Sakura menghina Okaa-san. Jadi jika Sakura sakit hati karena rempah-rempah pedas ku, setimpal kan? Tetapi…tetapi…hatiku mencelos. Merasa tak karuan. Seolah aku lah yang salah.
Nafasku terengah-engah. Tak sadar bahwa aku sedang berlari. Sore ini lebih kacau dari sore macam mana pun.
xxxPianistxxx
Deras air mengucur dari shower ke rambut dan berlanjut ke pembuangan. Rintik-rintik air menenangkan ku sekali pun kelebatan demi kelebatan bayangan tadi sore terlihat jelas di mata. Aku mengambil botol shampoo lalu menuangkan lebih banyak shampoo ke telapak tangan meski tadi aku sudah memakainya sampai 2x. Aroma shampoo bisa mengontrol emosional. Mungkin karena ini adalah aroma therapy.
"Jangan terlalu lama," terdengar Okaa-san berseru dari luar "Jangan sampai masuk angin!"
Aku membiarkan kepalaku membentur dinding. Merasakan dinginnya dinding. Masalah yang ku hadapi tak seberapa, tetapi kenapa terasa berat? Hahh…punya teman juga tidak dapat diandalkan. Walau pun IQ Shika luar biasa mengagumkan, tetap saja dia nampak bodoh dengan penyakit tidurnya. Kiba juga gk kalah idiotnya dengan Shika.
Sruuuu~t Aku menyedot tetes terakhir susu Ultra vanilla sementara mataku tak lepas dari tv. Tidak ada makan malam untuk hari ini. Aku hanya mengisi perut kelaparan ini dengan 1 botol kecil susu Ultra. Ugh. Cacing-cacing berdemo ria di dalam usus nih! Untuk sekarang bukan lah hal yang aneh Okaa-san lupa memasak. Awalnya aku pikir karena kelelahan bekerja. Tetapi lama-lama makin sering saja dia lupa. Penyakit atau bukan, aku peduli. Sudah pernah periksa ke dokter sih… tapi dokternya deh kayaknya yang sakit. Masa dia bilang Okaa-san terlalu lelah karena kebanyakan sex? Ah…dia bercanda! Otou-san tidak pulang selama 10 tahun, bagaimana bisa Okaa-san kelelahan karena sex? Dan tentu saja di rumah ini aku lah satu-satunya cowok. Aku yakin 100% tidak ada cowok lain yang pernah menginjakan kaki ke rumah ini selain aku―dan Otou-san.
Tawa samar Okaa-san membuatku kesal dan ingin menghantam orang yang sedang melaporkan ramalan cuaca di layar tv. Efek dari kelaparan kali, ya? Sumpah, aku kesal pada Okaa-san. Bagaimana bisa dia betah di samping telepon selama 2 jam? Cuap-cuap ngelayab. Gk jarang juga ledakan tawa keluar lebih kencang dari tawa ku yang biasanya. Serasa dia itu anak muda deh. Terkesan dia ntu kakak perempuanku.
Rumpii deh yey! Apa yang dia obrolkan? Dan dengan siapa? Yang ku dengar dari telepon pararel yang ada di dapur, lawan bicara Okaa-san sih cewek. Tapi aku tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Selain bahasanya yang aneh, mereka terlau banyak tertawa mendadak. Sejak kapan pula Okaa-san senang ngerumpi di telpon? Oh…aku lupa, mungkin itu yang dinamakan menghabiskan masa tua. Well, aku gk boleh ganggu… and I know what I must do now, go to bed.
Mudah-mudahan aku bisa tidur nyenyak tanpa makan malam.
xxxPianistxxx
"Kau tidak bisa pergi dari kemunafikan…"
Deru nafas memburu. Suhu meningkat drastis. Belaian demi belaian membuat nafas―serta nafsu―nya menggila.
"kenapa kau tidak datang padaku secara langsung? Tak perlu kau minta…. Karena akan ku berikan dengan senang hati…"
Kancing demi kancing terbuka and for god's sake dia melenguh keenakan. Keringatnya mengucur kayak botol minuman yang diberi lubang di bawahnya (lebay). Apa lagi begitu penisnya digenggam kuat.
"tem…temhhh….teme sialan!"
Sasuke berdecak merendahkan. Salah satu sudut bibirnya naik beberapa senti. Manis, licik dan menyebalkan yang jelas-jelas menjijikan. "masih berani mengatai ku, huh?"
"AAAAAAArrrrrrrrghhhhhtt!" Naruto menggelinjang begitu rangsangan hebat lain menyentuh. Tangannya sudah kemerahan dan lecet. Tapi tentu luka kecil itu tidak bisa menghalangi rasa nikmat duniawi ini. Dan posisi Naruto yang dirantai begini pun tidak menjadi penghambat kenikmatan.
"Suka kan dengan rantainya?" Sasuke mengecup pangkal leher Naruto. Beberapa kali menggigit, menjilat dan menyedot sampai berbekas merah sementara tangan yang dibawah sana tak berhenti menggodai benda sensitive Naruto.
Naruto meronta berusaha terbebas dari jeratan rantai sialan ini. Tangannya mulai mati rasa setelah beberapa waktu dibiarkan menggantung diatas kepala. Kaki nya tidak berdaya karena di beri beban rantai yang jauh lebih berat dari bobot badannya sendiri.
"Le-lepaskan aku…" Naruto meminta kasar hanya untuk menyembunyikan desahan gairah sexnya.
"Setelah ku lepas, lalu kau mau pergi kemana?" Bisikan menggoda dengan nafas hangat sukses membuat nafsu Naruto bangkit―lebih berkobar-kobar dari sebelumnya.
"Pergi!" jawab Naruto singkat. Dia tak mau lagi berkata-kata. Jika sudah begini, mungkin yang keluar nanti malah desahan yang mengundang setan birahi.
"Khekhekhe mau ku antar?" sela jeda, lalu Sasuke melanjutkan kalimatnya. "ku antar ke puncak kenikmatan…"
HUAAAHH! Naruto menjerit sejadi-jadinya. Tak peduli apakah rahangnya cukup panjang untuk menjerit sehebat itu.
Garis sinar putih kekuningan menerobos masuk jendela beserta gordennya. Menyoroti makhluk malas yang enggan membuka mata. Sekujur tubuhnya dilumuri keringat padahal sang surya baru sedikit menyalurkan kalor di kamar ini. Tiba-tiba mata Naruto terbuka, melotot bak kesurupan roh mbah surip (?) nafasnya tersengal-sengal. Dan ada kejanggalan dari caranya bangun, yakni rahangnya menganga lebar. Atau semalam dia tidur dengan mulut terbuka? Waow…mudah-mudahan tidak ada nyamuk yang bersarang di lambung laparnya.
"Gila!" ujarnya setengah protes. Bangkit dari futon dan segera menuju kamar mandi. Bercermin tanpa peduli untuk apa melihat wajah diri sendiri yang baru bangun tidur. Gk bakal jauh lah pemandangannya dari banjir iler en kotoran mata. Iukhh…
Naruto meraba-raba mukanya. Bahkan dadanya yang polos dari benang pun ikut diraba. Terlintas bayangan mimpi semalam. Sungguh mengerikan. Jijik namun…mengundang rasa penasaran.
"Bercinta dengan teme…" gumamnya masih shock berat. Ragu apakah dia bisa masuk sekolah hari ini.
"Gila! Benar-benar gila. Mana mungkin aku bisa terangsang oleh makhluk itu…"
Naruto menatap lekat-lekat bayangan dirinya sendiri di cermin. Gk tau lagi deh apa tujuan dari itu. Yah pokoknya dipelototin aja deh. Walo tubuh gk sixpack juga gk apa-apa. Tapi sejurus kemudian matanya membulat lebar dan nyaris mau keluar dari lubang mata. Urat-urat leher dan wajah namapak jelas. Perlahan-lahan kepalanya turun ke bawah. Dengan tangan kiri dia meraba daerah sekitar selangkangan. Basah….
"Terangsang?" tanyannya pada dirinya sendiri. "Oh…for god's sake…fuck!" detik selanjutnya, terdengar jeritan tak tertahan. Jeritan kesal.
Bodoh atau pintar, bukan aku yang nentuin. Pagi ini Naruto sibuk di toilet yang berakhir bolos dari sekolah. Sibuk nagapain di toilet? Ya apa lagi selain boker? Mmm….kalian pikir apa? 'ngocok'? terserah deh mau kalian apa. Pokoknya Naruto kejang-kejang di toilet. Gk jarang teriak en melenguh aneh gitu deh…
Okaa-san nya Naruto gk terlalu peduli tuh ma tingkah anaknya pagi ini. Toh,dia juga malas kudu ngurus anak yang udah bisa ngurus dirinya sendiri. Dia juga gk mau tau tentang teriakan-teriakan aneh di lantai atas.
"SMA…" Gumam Kusina. "Onani pagi-pagi? Che!" Dia menggeleng-geleng kepala tanpa berhenti tersenyum. Beberapa kali membolak-balik halaman majalah bulanan yang baru saja tiba di depan pintu. "persis ayahnya…" tambahnya singkat dan langsung membuang majalah ke rak sepatu. Dia sendiri segera memakai highheels merah yang cocok dengan pakaian minim dan gaya rambut yang sedang dia pakai―tentunya terlihat sensual sekali. Astaga…apa kata Naruto jika dia melihat Okaa-san yang lemah lembut berdandan begini?
Sadar atau nggk, masalah selalu ada di sekitar kita. Hidup itu kekal oleh masalah. Gk ada masalah sama aja gk idup. Mati aja lu sekalian! Well, kata-kata gue tadi jangan dimasukin ke fict ini. Itu di luar cerita (kalo menurut kalian gk nyambung).
Konflik datang. Gimana Naruto bisa menghadapinya bila tiba-tiba dia jadi ketagihan sex? Apa lagi pasca mimpi basah…apakah Naruto akan mengetahui sosok asli di balik kelembutan Okaa-san? hahhhh hanya Tuhan dan Alam yang tau…
Just RnR. Lu ngasih masukan, gue terima!
Sori kalo chap ni ngedadak beda dari chap sebelumnya.
