Menjadi bagian dari kegiatan MOS memang menyebalkan. Biasanya Yoongi akan bangun pukul setengah tujuh dan tidak jarang datang terlambat. Namun, karena sahabatnya yang menyebalkan yang bernama Kim Namjoon memaksanya untuk ikut menjadi bagian dari kegiatan MOS. Jadilah Yoongi datang tepat pukul setengah tujuh dimana biasanya ia masih bermimpi.
Bawa buku panduan ke aula. Semuanya. Kalau tidak salah ada sepuluh kotak. Terima kasih. Aku menyayangimu.
By : Kim Sialan Namjoon
"Semoga aku ingat untuk menghajarmu!" Itulah kata-kata penyemangat Yoongi untuk memulai pekerjaannya.
Lima kotak sudah Yoongi pindahkan dan masih ada lima kotak lagi menunggu.
"Kenapa terasa berat sekali? Bukannya semua kotak sama isinya. Argh! Kepalaku pusing sekali! Tidak! Semangat Yoongi! Setelah selesai kau akan beristirahat untuk mengumpulkan tenagamu agar bisa menghajar orang yang katanya sahabatmu itu."
"Sunbae, perlu bantuan?"
BRUKK!
Yoongi begitu terkejut hingga menjatuhkan kotak yang dibawanya dan tentu saja kakinya tertimpa. Yoongi berjongkok untuk membuka sepatu dan mengusap kakinya sendiri. Tiba-tiba saja Yoongi jatuh terduduk karena tidak tahan karena pusing yang menyerangnya.
"Sunbae tidak apa-apa?"
"Matamu buta hah? Kakiku tertimpa kotak sialan itu dan kepalaku….argh!"
Gadis yang sepertinya murid baru itu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menyeka keringat Yoongi.
"Maafkan aku sunbae."
"Kau pikir aku akan memaafkanmu begitu saja?" Yoongi melihat papan nama besar dari karton yang tergantung di lehernya. "Rupanya kau anak baru? Angkat semua kotak ini ke aula."
"Tapi, ini hanya ada satu sunbae."
"Di dalam ruangan ini masih ada lagi bodoh!"
"Eoh? B-baiklah sunbae."
Dengan segera gadis itu beranjak untuk membawa kotak yang terjatuh tadi.
"Hei!"
"Iya sunbae?"
"Aku tidak bisa berjalan kalau sudah seperti ini."
"Lalu?"
"Kenapa sekolah ini menerima orang bodoh sepertimu? Bantu aku berjalan ke dalam."
"Baik sunbae."
Yoongi memintanya untuk membawa dirinya ke salah satu sofa besar di ruangan. Lalu ia memberikan Yoongi botol air miliknya.
"Saya rasa sunbae kehilangan banyak cairan. Jadi minum saja ini."
Oh! Lihatlah senyumnya. Sangat manis dan membuat matanya yang sipit semakin sipit. Yoongi berdehem untuk menyadarkan otaknya yang mulai memuji gadis dihadapannya dan langsung menerima botol airnnya yang berwarna biru langit. Setelah itu dia pergi untuk mengerjakan apa yang telah Yoongi perintahkan.
"Hei! Kau menyuruh anak baru mengerjakan pekerjaanmu?" Tanya namjoon yang baru saja masuk ke ruangan OSIS.
Dengan kesal Yoongi melempar botol air yang sudah dia habiskan setengah isinya dan ditangkap dengan mulus oleh Namjoon. Dia pasti terlihat bingung dengan warna dan gambar beruang yang ada di botol air tersebut.
"Itu bukan punyaku."
"Tentu saja bukan punyamu. Astaga! Wajahmu pucat!"
"Apa maksudmu? Wajahku memang begini."
"Maksudku…bibirmu. Kau kenapa?"
"Kecapaian. Aku sudah melewati batas kesanggupanku dan ini semua gara-gara kau! Lihat saja nanti! Aku akan menghajarmu."
"Saat sakit masih saja galak." Namjoon bergumam.
"Aku mendengarnya sialan!"
"Sudahlah! Aku….ADUH!"
Yoongi hanya bisa tertawa melihat namjoon yang kesakitan karena dagunya bertabrakan dengan kepala anak baru itu saat membalikan badannya. Botol yang dipegangnya jatuh dan sedikit retak. Menumpahkan air yang ada di dalamnya.
"S-sunbae…."
Yoongi dan namjoon mulai kalut melihat gadis itu menangis. Yoongi memaksakan tubuhnya untuk berdiri dan menghampiri gadis tersebut.
"Kau ini cengeng sekali. Aku akan menggantinya bahkan dengan kualitas yang lebih bagus. Diamlah! Kau bisa membuatku terlihat buruk. Hei!" Yoongi mengguncang bahunya dengan keras dan membuatnya semakin menangis. "Kau!" Yoongi menggeram dan namjoon hanya bisa meringis.
"Itu botol kesayanganku!" Gadis itu masih tampak tidak terima dan semakin menangis. Yoongi semakin kalut dan tanpa sadar ia mengecup bibir gadis itu.
PLAK!
Yoongi memegangi pipinya yang baru saja ditampar dan gadis itu sudah berlari keluar ruangan. Yoongi bisa mendengar suara tawa namjoon.
"Kau pikir dia ibumu yang bisa kau cium seenaknya? Kau ini!"
.
Sebulan lamanya sejak kejadian itu, Jimin selalu ketakutan melihat Yoongi.
Apa wajah imutku terlihat seperti pedofil diluar sana?
Yoongi berguman kepada dirinya sendiri. Ia akui dirinya memang galak dan selalu melakukan apa yang ingin dia lakukan. Tapi Yoongi sama sekali tidak berminat melecehkannya. Biasanya cara itu ampuh untuk meredakan tangisan ibunya dan ia hanya mempraktekannya.
Bel pulang berbunyi dan dengan asal-asalan Yoongi memasukkan buku-buku miliknya. Yoongi tidak perduli dengan murid-murid yang ia tabrak dan Yoongi langsung menarik tangan Jimin saat ia baru keluar dari kelas begitu menemukannya. Mereka sampai di sebuah gudang. Yoongi menutup pintu dengan kasar dan memenjarakannya di dinding dengan kedua tangannya.
Yoongi menghembuskan nafas melihat gadis yang ia ketahui bernama Jimin itu menahan tangis. Yoongi menangkup kedua pipinya dengan lembut. "Maaf kalau membuatmu ketakutan. Tapi aku hanya ingin meminta maaf."
Jimin semakin menangis bahkan semakin keras dan membuat Yoongi frustasi. Ia melepaskan tangkupannya dan menendang kursi rapuh yang ada di sebelah kirinya.
"Hiks…."
"Berhentilah menangis! Aku tidak mau menyakitimu. Aku terbiasa mencium bibir ibuku saat beliau menangis. Itu ciuman pertamaku." Yoongi meremas rambutnya sendiri karena frustasi.
Sementara disana, Jimin masih terdiam di tempatnya dan memandang punggung Yoongi. Cukup lama hingga dengan tangannya yang masih bergemetar, Jimin menyentuh pundak Yoongi.
"S-saya memaafkan sunbae. Maaf membuat sunbae bingung."
Dengan semangat Yoongi memeluknya dengan sangat erat.
"Terima kasih! Terima kasih! Akhirnya aku bisa tidur nyenyak malam ini."
"Sunbae…saya tidak bisa bernafas."
"Maaf." Dengan canggung Yoongi melepaskan pelukkannya. Lalu ia teringat sesuatu dan mengeluarkan sapu tangan milik Jimin dari saku celananya dan Jimin menerimanya. "Aku ingin mengembalikan ini. Tapi aku belum bisa mengembalikan botolmu. Susah sekali mencari yang sama persis."
"Tidak apa sunbae. Saya pulang dulu."
Yoongi tersenyum lega saat melihat Jimin keluar dari gudang tersebut.
.
Para siswa siswi BUSAN SENIOR HIGH SCHOOL terlihat senang namun ada juga beberapa diantara mereka terlihat kecewa dengan hasil ulangan yang mereka lihat di papan pengumuman. Jimin sendiri tidak menyangka bisa mendapatkan peringkat sepuluh. Saat masih berada dikerumunan, ia merasakan seseorang menarik tangannya.
"Sunbae?"
"Ini. Ucapan selamat atas peringkatmu. Kau hebat!"
"Eoh?" Jimin tertegun melihat botol air yang Yoongi berikan kepadanya. "Kenapa sunbae menggantinya? Saya sudah ada penggantinya."
"Aku juga tau. Tapi karena botol air ini aku tidak bisa berhenti mengingatmu. Hingga akhirnya, aku jatuh cinta...kepadamu."
Jimin melihat sekelilingnya dan sepertinya beberapa murid mulai merasa dirinya juga Yoongi menjadi lebih menarik dibandingkan pengumuman penting disana.
"Sunbae..."
"Tidak apa kalau kau tidak bisa menjawabnya sekarang, kau butuh waktu kan?" Yoongi mencoba tersenyum dan berlalu meninggalkan Jimin yang terpaku.
"S-sunbae!"
"Iya?" Yoongi membalikkan badannya.
"Selamat atas kelulusannya."
"Terima kasih. Apa kau tidak keberatan untuk pergi ke pesta kelulusan bersamaku lusa nanti?"
Jimin mengangguk samar dan Yoongi benar-benar tersenyum sekarang.
"Aku akan menjemputmu nanti."
.
Jimin mengenakan gaun sederhana berwarna cream dan membiarkan rambut panjangnya tergerai. Tidak lupa make up natural dna bando berwarna hitam serta heels pemberian dari kakaknya yang baru meluluskan SHS di Seoul.
"Sekali lagi selamat ya atas peringkatmu. Pertahankan dan kalau perlu kau harus meningkatkannya."
"Iya eonni. Terima kasih atas gaun dan sepatunya. Aku sangat menyukainya."
"Sama-sama. Eonni mungkin akan pulang minggu depan."
"Benarkah? Eonni mau aku masak apa?"
"Nanti akan eonni katakan."
Tiiiit!
"Eonni, sudah dulu ya? Temanku sudah menjemput."
"Baiklah. Hati-hati."
.
"Kau cantik." Puji Yoongi saat Jimin baru memasuki mobil dan memasang seatbelt.
"T-terima kasih sunbae."
Jimin benar-benar bingung sekarang. Padahal sedari tadi ia sudah menyiapkan diri untuk menjawab pernyataan cinta Yoongi kemarin. Mobil sudah melaju dan tidak ada pembicaraan hingga mobil itu pun berhenti dan sudah terparkir.
"Sunbae."
"Iya?"
"Jawabanku iya."
"M-maksudnya?"
"Aku juga mencintai sunbae. Maaf kalau sunbae lama menunggu. Waktu itu aku sangat bingung." Jimin menunduk dan meremas gaun yang ia pakai hingga tangan Yoongi menyentuh tangannya.
"Terima kasih. Kau sudah memberikanku hadiah yang terindah hari ini."
.
Dua tahun berlalu. Jimin sudah meluluskan sekolahnya dan Yoongi sudah hampir memasuki semester lima diperguruan tinggi. Namun ada satu hal yang harus diketahui. Hubungan mereka benar-benar sama sekali tidak diketahui orang lain bahkan sahabat Yoongi sendiri. Saat Jimin menanyakan alasannya, Yoongi pasti akan marah dan Jimin hanya bisa diam. Walaupun terkadang ada pertengkaran, hubungan mereka tetap berjalan. Yoongi sedikit berubah sekarang. Ia sering sekali pergi ke pub hanya untuk sekedar bersenang-senang.
Disaat sedang mempersiapkan hari jadi mereka, Jimin memberikan Yoongi kejutan di rumahnya. Ia membuat masakan yang menjadi favorit mereka berdua. Namun, saat waktu menunjukkan pukul dua belas malam tepat, Yoongi tidak juga datang.
Jimin hampir putus asa hingga Yoongi datang. Bau alkohol begitu menusuk indra penciuman Jimin. Bahkan Yoongi dengan kasar menciumnya dan membanting tubuhnya diatas kasur. Berkali-kali Jimin mencoba menyadarkan Yoongi, namun semuanya percuma hingga kesalahan besar itu terjadi.
.
"Oppa! Kenapa kau seperti ini? Hiks..hiks..." Jimin membungkus tubuhnya dengan selimut dan menangis dengan isakan pelan. Ia berbaring membelakangi Yoongi yang duduk berlutut di lantai tepat disamping ranjang Jimin dan tampak menyesali apa yang telah dilakukan olehnya. Jimin langsung menepis kasar tangannya yang ingin menyentuh Jimin. "Jangan pernah menyentuhku lagi dengan tangan kotormu! PERGI!"
"Jimin, ma-"
"Pergi!" Jimin berkata dengan sangat dingin dan membuat Yoongi berhenti memohon. "Kunci mobilmu ada di meja ruang tamu. Pergilah! Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal."
"Ji-"
"Apa kau tidak mengerti?"
"Baiklah."
Jimin dapat mendengar suara mobil Yoongi yang terdengar samar dan lama kelamaan menghilang. Tangisannya semakin kuat hingga ponselnya berbunyi karena ada pesan masuk. Ia masih membungkus tubuhnya dengan selimut dan berjalan mendekati meja belajarnya.
Sayang, eonni akan sampai siang nanti.
.
Saat kedatangan kakaknya, Jimin bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan mencoba menormalkan hidupnya. Kakaknya begitu bangga saat Jimin mendapatkan peringkat tiga dan memberikannya hadiah berupa ponsel baru. Setidaknya Jimin bisa melupakan Yoongi dengan memiliki ponsel baru.
Namun keanehan terjadi. Sebulan setelah kejadian itu, Jimin merasa ada yang lain dari tubuhnya. Mulai dari terlambatnya haid hingga sering mual bahkan muntah. Jimin hanya menurut saja saat kakaknya mengajaknya ke dokter. Dokter mengatakan tidak ada yang aneh dan menyarankan mereka untuk ke dokter kandungan.
"Adik anda hamil."
Jantung Jimin seakan berhenti berdetak.
"H-hamil?"
Dokter perempuan itu pun mengangguk dan tersenyum.
.
Hanya diam yang menemani perjalanan mereka menuju ke rumah. Seokjin sibuk dengan pemikirannya dan mencoba menahan emosi yang berkecamuk diotaknya. Sementara Jimin hanya bisa menunduk dan menahan tangisnya.
"Percuma kau menangis menyesalinya. Anak itu tidak akan menghilang dari perutmu."
"E-eon-ni..."
Seokjin sengaja mengerem mendadak saat mereka sudah sampai di rumah. Ia menatap Jimin dengan begitu tajam.
"Keluar dan masuk ke kamarmu! Aku akan menyusul." Ujar Seokjin datar dan memandang lurus ke depan.
"A-aku..."
"Cepat lakukan selagi aku belum marah." Seokjin mencengkram erat stir hingga buku jarinya memutih. Ia menghela nafas saat Jimin sudah keluar dan menyandarkan tubuhnya. Kemudian ia menjalankan mobilnya menuju pemakaman. Langkahnya terhenti di depan dua buah makam. Tubuhnya bergetar dan jatuh berlutut.
"Appa, eomma, maafkan aku."
.
Jimin memeluk lututnya sambil menangis dan membiarkan tubuhnya dibasahi oleh air yang mengalir dari shower. Bahkan ia mengabaikan tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan. Ia juga mencoba memukul-mukul perutnya berharap agar janin yang dikandungnya gugur.
"Jimin! Apa yang kau lakukan?! Kau gila?" Seokjin langsung mematikan aliran air dan memaksa Jimin untuk berdiri. Jimin hanya bisa menunduk dan memeluk tubuhnya yang sangat kedinginan. "Kau ingin menggugurkan darah dagingmu? Bagaimana pun juga janin itu anakmu. Dia tidak bersalah. Tapi kau!"
"Biarkan saja! Biarkan anak ini mati bahkan kalau perlu aku juga mati!" Jimin kembali memukuli perutnya dan Seokjin segera menghentikannya kemudian memeluk Jimin begitu erat tanpa memperdulikan bajunya yang basah. Sejenak hanya suara tangisan mereka yang terdengar.
"Maafkan eonni sayang. Maafkan eonni. Eonni tidak bisa menjagamu. Eonni bukan kakak yang baik untukmu. Maafkan eonni."
"Eonni...hiks..." Jimin semakin mengeratkan pelukan dan tidak sadarkan diri.
"Jimin!"
.
Seokjin duduk dengan tegak sambil melipat kedua tangan di samping ranjang Jimin. Raut wajahnya begitu datar namun otaknya benar-benar terasa penuh. Berkali-kali ia menghapus airmatanya yang menetes. Amarah, penyesalan, dan prihatin bercampur menjadi satu di benaknya.
"Eonni..." Jimin tersadar dan memegang tangan Seokjin. Bahunya mulai bergetar hingga airmatanya pun mengalir. Seokjin hanya bisa tersenyum pahit. "Maafkan aku. Aku bukan adik yang baik. Maafkan aku eonni."
Tanpa berkata apa-apa, Seokjin melepaskan genggaman tangan Jimin. Ia beranjak dan ketika kembali, ia membawa segelas susu. Kemudian ia membantu Jimin yang belum berhenti menangis untuk duduk dan menyodorkan susu tersebut.
"Eonni..."
"Habiskan susu ini dan istirahatlah. Nanti malam aku akan membangunkanmu."
Seokjin keluar dan menutup pintu kamar Jimin. Meninggalkan adiknya yang menatap dirinya dengan sedih.
Namun Jimin tidak mengetahui kakaknya sudah terisak dibalik pintu kamarnya..
.
Yoongi tidak benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak sejak kejadian itu. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah datang ke rumah Jimin dan memperhatikannya hingga berjam-jam. Yang ia dapat lihat hanya seorang wanita yang pernah ia lihat di ponsel Jimin sebagai wallpaper. Yoongi mengambil kesimpulan bahwa wanita itu adalah kakak dari Jimin yang bernama Seokjin. Wajahnya terlihat datar dan begitu banyak memendam emosi. Setelah melihat wanita itu pergi dengan mobilnya, Yoongi memberanikan diri untuk menghampiri Jimin. Pintu dibuka setelah diketuk olehnya.
"Tunggu!" Yoongi menahan pintu yang akan ditutup kembali. "Aku merasakan ada hal buruk yang terjadi. Aku kesini hanya untuk memastikan."
Jimin memalingkan wajah setelah berada di ruang tamu. Matanya terlihat bengkak dan sembab serta wajahnya juga memerah seperti habis menangis.
"Kau benar. Ada hal buruk yang terjadi. Bahkan lebih buruk."
"Katakan! Ada apa?" Yoongi memegang bahu Jimin sehingga gadis itu mengadap dirinya.
"Aku sudah hamil satu bulan. Dan kau tau, karena hal ini kakakku menjadi dingin terhadapku. Semuanya rusak karena dirimu! KARENA DIRIMU! MASA DEPANKU DAN HIDUPKU HANCUR!" Jimin terduduk di sofa karena tubuhnya sudah benar-benar tidak bertenaga lagi. Sementara Yoongi sudah jatuh berlutut dan fikirannya sudah berkecamuk. Hanya suara tangisan Jimin yang terdengar.
"Jimin...bisakah...kau gugurkan saja?"
"A-apa?"
"Gugurkan kandungan itu. Masalah akan semakin panjang kalau kau mempertahankannya."
"Apa maksudmu?!"
"Aku mohon gugurkan saja. Aku takut-"
BRUKK!
Jimin mendorong Yoongi yang berlutut dihadapannya. Emosinya benar-benar meledak sekarang. Ia fikir Yoongi yang merasa bersalah akan bertanggungjawab. Tapi ia salah besar. Justru Yoongi malah menyuruhnya untuk membunuh janin yang sama sekali tidak berdosa.
"Aku tau kau akan melakukannya. Aku hanya bisa berharap kau akan bisa tidur nyenyak dan tidak perlu meminta maaf. Karena mulai sekarang, apapun yang berhubungan denganku sudah tidak penting lagi."
"Jimin..."
"Pergilah!" Jimin berkata dengan dingin dan sama sekali tidak menatap wajah Yoongi.
"Aku akan pergi. Tapi setidaknya kau dengarkan penjelasanku dulu."
"Pergi!"
"Aku mohon!"
"PERGI!"
.
Setelah Yoongi pergi, Jimin terus-terusan menangis dan memeluk lututnya. Saat mendengar suara pintu dibuka dan sosok kakaknya muncul, Jimin langsung beranjak untuk memeluk Seokjin.
"Eonni! Maafkan aku! Bawa aku pergi dari sini! Aku mohon!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Edisi Flashback!
Author harap ini cukup jelas untuk menjelaskan bagaimana mereka bisa bertemu. Kalau ada yang kurang, diabaikan aja ya? Hehe...
Sebenarnya mau digabungin di chapter 2. Tapi kayaknya dipisah lebih gimana gitu. Cukup sampai disini and Bye~~~~~~~
