Teruntuk readers tersayang; ficlet ini memang mini, karenanya bersiaplah untuk melihat update yang nyaris kurang dari dua ratus kata. Bukan sekarang, tapi di beberapa chapter ke depan XD
Author bisa saja meng-upload semua chapter yang sudah author tulis, namun mengingat kesibukan kuliah author; harap dimaklumi yah ;)
"Eh?"
Fugaku mengunyah makanannya dengan ekspresi masam. Kelihatannya menyakitkan; mengunyah fish fillet masakanku.
"Aku bilang, Itachi akan ikut denganku ke Amerika. Persiapan awal sebelum menjabat di Uchiha Corporate."
"Itachi baru 17 tahun."
Fugaku melirik Sasuke. Anak itu tidak pernah menatapnya lurus di mata lagi. Tidak pernah, semenjak pemakaman Ibu tiga bulan yang lalu.
Fugaku tidak ada di sana.
Aku hanya menunduk memperhatikan piringku. Fugaku tidak pernah berhenti membuatku terkejut, bukan? Setelah mengira dia akan membiarkan kami bertiga hidup dalam damai bersama tanpa Ibu, ia harus melancarkan serangan baru. Kali ini, ia berencana merebut Itachi.
"18 tahun, dalam waktu dekat. Usia sempurna untuk training calon CEO korporasi terbesar di Jepang." beber Fugaku seolah penjelasannya adalah keputusan mutlak. Bukan tidak mungkin, mengingat kata-katanya adalah perintah di rumah ini semenjak Ibu pergi.
"Omong kosong."
Brak! Suara keramik peralatan makan Sasuke membuatku terlonjak. Tanpa babibu ia beranjak dari kursinya di sisiku, sisi lain yang tidak ditempati Itachi. Fugaku tidak memanggilnya untuk kembali.
"Aku harus ke kantor pusat, jadi aku tidak bisa tinggal."
Itachi-nii...akan meninggalkan kami?
"Kemas barang-barangmu. Kita berangkat besok pagi."
Aku tidak sanggup melihat Fugaku pergi menuju pintu depan rumah.
"Tenten-chan, kau baik-baik saja?"
"Kenapa...diam saja?"
Itachi bungkam.
"Nii-chan berjanji...akan selalu bersamaー"
"Kita tahu suatu saat Ayah akan menempatkan kita semua di korporasi." potongnya dengan nada yakin.
"Kalau aku berhasil meyakinkan Ayah, aku satu-satunya CEO yang mereka butuhkan, kalian tidak perlu berpisah."
Pandanganku mengabur. Oh, Tuhan. Ini sudah terlalu lama. Menangis hanya akan memicu migrain.
"Tidak seperti Ayah, aku akan mengunjungi kalian lebih sering." lanjutnya sembari mencium kepalaku. "Kau percaya padaku."
Terlambat. Aku akan menyesali ini besok pagi, di saat otot mataku terasa sakit dan syaraf di kepalaku nyeri.
Aah, aku sudah gagal. Aku mengecewakan Itachi dengan menunjukkan sisi lemahku. Di dalam benakku pun, aku tidak lagi memanggil AyahーAyah.
"Fugakuーtidak akan membiarkanmu, Nii-ch...an..."
"Ayah mungkin akan melakukannya, tapi aku tetap akan pulang. Bukan setahun sekali, lebih sering."
Seolah aku mempercayai janji kosong semacam itu...
Dan, di usia kami yang ke tiga belas, tepat sebelum ulang tahun Sasuke, kami kehilangan satu lagi anggota keluarga yang berharga.
