"Ka- kau?" Jongin kehilangan suaranya begitu saja.

Sehun berdiri dan menepuk-nepuk celananya, menghilangkan debu. Ia memandang ke bawah, tepat ke mata Jongin yang sedang mendongak.

"Aku penjahat Jongin."

"Kau bercanda.."

Dengan gerakan tiba-tiba Sehun kembali berjongkok, ia mencengkram dagu Jongin lalu memberinya seringaian. Mata mereka bertemu. Jongin sadar sekarang, orang ini memang tak bermaksud baik padanya, tapi kenapa hatinya tetap berusaha menyangkal itu?

"Apa aku terlihat sedang bercanda?"

Mereka sangat dekat, bahkan napas Sehun berhembusan di wajah Jongin yang pucat. Sehun terlihat berbeda dari kesannya di mata Jongin.

"Untuk apa?" desis Jongin.

"Menculikmu? Tentu untuk mendapatkan uang. Apa lagi."

Jongin menundukkan wajahnya meski tangan Sehun masih mencengkram dagunya. Entah kenapa itu sedikit menohok Sehun untuk alasan yang tak bisa Sehun mengerti. Ia tak suka Jongin yang seperti ini.

"Uang..." desis Jongin.

Sehun berusaha mendongakkan wajah Jongin, tapi Jongin menolak membuat Sehun harus memperkuat cengkramannya dan akhirnya Jongin mendongak sambil meringis. Ketika matanya terbuka, iris hitam itu terlihat berkaca. Tohokkan kedua terasa di dada Sehun. Kembali entah kenapa. Biasanya ia tak peduli bahkan meski korbannya berlumuran darah dan memohon dengan putus asa.

"Cengeng!" ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Sehun membuat Jongin membulatkan matanya dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Sehun.

"Aku tidak cengeng! Aku hanya merasa betapa mirisnya hidupku. Aku bekerja bagai budak karena uang dan di saat aku kira akan mendapat teman tulus ternyata tidak- karena uang juga." Jongin setengah berteriak.

"Jangan berlebihan bukannya kau sangat bahagia dipuja banyak orang, dikenal di mana-mana! Ciih memutar balikan fakta huh?"

Napas Jongin terlihat naik turun. "Kau tak tahu apa-apa!"

"Hahah tentu saja aku tak tahu apa-apa soal dunia glamourmu. Tapi aku tahu dunia lain yang takkan pernah orang seperti kau bayangkan ada."

Jongin tak berkata lagi, ia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Pokoknya bersikap baiklah kalau tak ingin kulukai!"

Sehun berdiri lalu berjalan menjauh, meninggalkan Jongin yang sedang menggigit bibirnya keras menahan tangisan. Dia bukan lelaki cengeng. Dia bukan lelaki cengeng. Tapi wajah kedua orang tua dan kakaknya yang berlintasan membuat satu isakan lolos dari bibirnya. Mimpi apa dia semalam kenapa tiba-tiba saja jadi korban penculikan?

.

.

.

.

Ketika Sehun kembali Jongin tampak tertidur bersandar miring pada dinding. Pasti tak nyaman tidur seperti itu? Tapi Sehun segera menghilangkan pikiran itu. Sudah lama ia tak pernah peduli pada perasaan kasihan lagi, tapi entah kenapa Jongin berhasil menumbuhkan perasaan yang ia buang jauh-jauh. Kalau kau lemah, kau akan kalah. Itu prinsip dalam dunia kejahatan yang tentu saja sudah menjadi prinsip Sehun juga.

Sehun berjongkok dan menatap wajah polos itu. Jongin mungkin mencitrakan dirinya sebagai sexy, manly, liar, tapi sekali lihat Sehun tahu kepribadian Jongin tak seperti itu. Dan ia merasakan pantulan dirinya sendiri pada Jongin. Lihat wajah polos itu begitu indah meski semua make up sudah terhapus dan pakaian sederhana yang ia pakai.

Sehun menghela napas, berada dekat dengan Jongin tak baik untuknya. Ia tahu lambat laun Jongin akan mempengaruhinya dengan alasan yang tak bisa ia jelaskan. Tapi baru saja ia mendapat kabar kalau ia harus menahan Jongin di sisinya lebih lama. Ya meski tak ada di berita-berita, tapi ia yakin diam-diam polisi sedang menyelidiki kasus penculikan Jongin. Agensi pasti merahasiakan ini agar tak terjadi keributan.

Mata itu mengerjap, Sehun segera berdiri dan memasang wajah terdatar yang ia punya. Terdengar gerakan-gerakan, Jongin mungkin berusaha menyamankan lengannya yang pegal tapi tentunya sulit karena tangannya terikat ke belakang.

"Sehun-ah, bisakah kau membuka ikatanku? Aku takkan melarikan diri."

Sehun menoleh dan Jongin balas menatapnya. Tatapan mata yang jujur.

"Sejujurnya aku sedikit senang, hari ini jadwalku padat dan aku sangat kelelahan. Aku bisa beristirahat banyak karena penculikan ini jadinya."

Bodoh! Sehun memaki dalam hati. Apa Jongin tak mengerti apa yang akan terjadi setelah ini? Dia mungkin akan menjadi budak seorang wanita. Ia akan melupakan keluarganya dan mungkin takkan bisa bertemu mereka lagi.

Setelah mendesah karena menemukan dirinya pun ingin melepaskan ikatan Jongin, Sehun menunduk dan mulai membuka ikatan itu. Jongin langsung berdiri, merenggangkan tangan dan kepalanya. Sehun hanya bisa menatap.

"Aku takkan macam-macam Sehuna, aku janji." Jongin berbalik dan memberi Sehun senyum yang membuat sesuatu bergolak di perut Sehun.

"Kenapa?" desis Sehun.

Jongin terlihat berpikir tapi kemudian menggeleng, "Aku tak tahu, tapi rasanya aku tak mau melarikan diri dari sini."

"Bodoh!" kali ini makian itu keluar dengan jelas dari bibir Sehun.

Tapi Jongin kembali memberikan cengiran, "Aku tahu itu. Sejak awal bertemu denganmu aku merasakan perasaan tak enak dibalik perasaan senangku karena bertemu teman baru, tapi aku mengabaikan itu. Aku selalu begitu. Aku bodoh. Aku bodoh saat memutuskan menjadi penyanyi dan penari. Aku bodoh karena aku memaksakan diri meskipun kemampuan yang kupunyai hanya menari. Aku bodoh karenanya banyak yang mengkritik suaraku. Aku bodoh karena membiarkan mereka memberiku karakter sexy membuatku dikritik habis-habisan karena meracuni pikiran para remaja wanita itu."

Jongin memalingkan wajahnya ke depan, "Intinya aku memang bodoh Sehun. Aku tahu itu."

Sehun tak bisa berkata apa-apa, ia kemudian berbalik. "Diam di sini aku akan membawakan makanan."

.

.

.

Hari Kedua

Sehun tersentak tak mendapati Jongin dimanapun di gudang ini. Apa dia kabur? Sial! Ia terus memaki-maki dalam hati. Sedikit menyesal bersikap longgar pada Jongin. Salahnya sendiri juga yang melunak karena Jongin. Tapi siapa yang bisa menolak mata yang kelam itu. Mata itu seolah memintanya untuk mendekat dan menghangatkannya. Perasaannya yang sudah ia matikan sejak lama, tiba-tiba hidup lagi karena sosok Jongin. Harusnya ia sadar bahwa tak ada penjahat yang berperasaan atau ia akan gagal.

Lalu terdengar suara-suara dari luar. Pelan Sehun melangkah keluar. Dan ia hanya bisa terhenyak di tempatnya. Pertunjukkan indah sedang terjadi di depannya.

Jongin berdiri di halaman belakang menghadap matahari. Dan itu luar biasa. Kulit coklatnya menjadi bersinar ditimpa sinar matahari. Mata Jongin terpejam, menikmati sinar matahari yang hangat. Mungkin ia begitu merindukan sinar matahari setelah semalaman disekap di gudang. Dia terlihat begitu damai dan innocent.

Perasaan tak enak menelusupi Sehun lagi. Sosok polos dan tak berdosa itu, harus ia serahkan pada seseorang yang akan menghancurkannya?

.

.

.

Hari ketiga.

Kini Jongin boleh keluar dari gudang tempat ia disekap. Sehun tahu itu berbahaya dari hari kehari ia akan makin melunak. Tapi kembali sesuatu tak kasat mata itu membuat dia tak bisa menolak. Jongin dan pesona misteriusnya membangkitkan sisi Sehun yang sudah ia kubur dalam.

Ini rumah sewaan tentu saja. Letaknya di sebuah bukit pinggiran kota. Ini tempat teraman untuk bersembunyi. Memang rumah-rumah sewaan yang letaknya berjauhan di sini diperuntukkan orang-orang yang ingin mempunyai privasi penuh saat liburan.

Belum ada kabar lagi dari wanita yang menyuruhnya menculik jongin. Dan dari berita yang beredar di internet kecurigaan publik mulai terlihat atas ketidak hadiran Jongin dalam setiap acara boybandnya. Meskipun kebanyakan hanya menduga Jongin kecelakaan atau bahkan menikah.

"Aaaaaaakkkkk..."

Brug.

Sehun yang tak siap, terjatuh mendapat terjangan dari Jongin. Sehun baru saja akan meledak marah, tapi semuanya mengendur melihat Jongin yang memejamkan matanya erat dengan ekspresi ketakutan. Pelan Sehun berusaha bangkit dengan tentu saja membangkitkan Jongin yang tertelungkup di atas badannya.

"Ada apa?" tanyanya pelan.

Tangan Jongin terangkat dan menunjuk ke arah jendela. Sehun berdiri dan berjalan ke arah jendela. Setelah lama mengamati akhirnya ia menemukan seekor kupu-kupu besar. Apa Jongin takut pada kupu-kupu? Yang benar saja!

"Kau takut pada kupu-kupu?"

Nada meremehkan Sehun membuat Jongin bangkit dan memberi tatapan tajam. "Aku tak takut pada ular asal kau tahu. Pada beberapa binatang besar dan berbahaya lainnya. Tapi.. " suaranya melemah, takut-takut ia menatap ke arah jendela. "Aku .. aku hanya phobia itu.." Jongin memalingkan wajahnya yang sedikit memerah malu. Ayolah lelaki mana yang takkan malu diketahui takut pada mahluk yang bahkan yeoja begitu menyukainya.

Sehun mendekat lagi pada Jongin setelah mengusir kupu-kupu itu. "Kenapa?"

Jongin menoleh pada Sehun tapi lalu memalingkan wajahnya lagi sampai Sehun mencengkram dagunya dan membuat mata mereka bertatapan lagi. Entahlah kenapa di depan Sehun, Jongin jadi memperlihatkan sisi lemahnya yang selama ini selalu ia berusaha simpan rapat-rapat.

Dengan keras Jongin menyentakkan wajahnya membuat cengkraman Sehun terlepas. Ia lalu sedikit menjauh. "Aku tidak tahu. Tapi.. eomma bilang aku pernah tak sengaja menelan kupu-kupu ketika kecil. Mungkin kupu-kupu itu mengepak-ngepak di.. ahh ini menjijikan..."

"Baiklah tak usah diceritakan lagi, kupu-kupunya sudah kusingkirkan." Sehun duduk di sofa dan mulai menyalakan televisi. Jongin mengikuti dan duduk di samping Sehun sedikit berjarak.

"Bolehkah aku menghubungi keluargaku.. emm hanya untuk.. agar mereka tak khawatir.. aku akan bilang kalau aku sedang liburan dan aku..."

"Tidak!" jawab Sehun tegas.

Mata Jongin terlihat kaget tapi kemudian ia berusaha lagi. "Ha.. hanya sekali saja Se-sehunna..."

"TIDAK!" bentak Sehun membuat Jongin tersentak dan bergetar di tempatnya. Sebenarnya Sehun membentak untuk menghilangkan keinginan hatinya yang hampir saja kembali jatuh pada pesona Jongin dan mengatakan iya.

"Mi-mianhae... Mi-mianhae... Mi-mianhae." Desis Jongin berulang-ulang.

"Sudah! Makanya jangan.." ucapan sehun terhenti begitu menoleh pada Jongin. Pemuda itu sedang menunduk dengan badan kaku. Tangannya mencengkram lutut keras hingga buku-buku tangannya memutih. Bahunya bergetaran.

Kenapa dia? Sehun hanya sedikit membentak kan?

"Kai..." Sehun segera menggeser badannya dan mengguncang bahu Jongin.

Tapi Jongin tetap menunduk dan mendesiskan kata maaf berulang-ulang. Dan dia tetap begitu meski Sehun berusaha sekuat tenaga mengembalikan kesadarannya.

"JONGIN!"

Barulah kepala itu mendongak dan ketakutan begitu terpancar di matanya. "Mi- mianhae.. a..aku..."

"Kau kenapa sebenarnya? Berhenti minta maaf!"

Jongin langsung menutup mulutnya. Mata ketakutan itu tetap terpancar pada Jongin. Dan ia terlihat menggigit bibirnya keras.

"Aku tak marah padamu, okay? Jadi berhenti minta maaf..." dengan lembut Sehun berusaha menjelaskan dan perlahan napas Jongin jadi teratur. Setelah terlihat tak takut lagi ia terlihat salah tingkah sekarang.

"A.. aku tidur dulu.." tanpa menunggu jawaban Sehun, Jongin berjalan terburu-buru ke kamar yang Sehun tunjukkan menjadi kamarnya.

Ternyata masih banyak misteri dari Jongin dan sepertinya ini tak baik bagi keberlangsungan sifat jahat Sehun.

.

.

.

.

Memang tak diceritakan jelas di artikel itu, tapi Sehun bisa mengira-ngira apa yang terjadi pada Jongin. Dan ya Sehun mulai mengerti kenapa ia begitu gampang luluh, Jongin sama dengannya. Rapuh dan kuat dalam saat bersamaan. Salah satunya topeng tentu saja.

Jongin pernah menjadi korban penipuan agensi palsu. Dan ia mendapat perlakuan buruk di sana. Dan sehun pun begitu. Bedanya ia mendapat pekerjaan palsu. Ia dijanjikan gaji besar tapi yang ia dapat adalah perlakuan budak malah pelecehan juga. wajahnya memang sedikit cantik, karena itu Sehun membenci wajahnya juga dulu. Sekarang ia menggunakan wajah cantiknya untuk kejahatan jadi ia rasa tak terlalu merugikan.

Mungkin Jongin pun begitu. Ia pasti trauma pada perlakuan di agensi palsunya.

"Kai..." Sehun memang selalu berusaha membiasakan dirinya memanggil Jongin dengan Kai, untuk jaga-jaga.

Jongin yang sedang duduk di dekat jendela tak menoleh.

"Aku memang penakut dan memalukan..." desisnya.

Sehun hanya menghela napas tak tahu cara menghibur orang. "Orang yang pernah mengalami peristiwa seperti kau mungkin saja jadi trauma.."

Jongin menoleh cepat tapi kemudian kembali berbalik. Ia sadar Sehun pasti sudah mencari tahu tentang sikap anehnya tadi. Dan hebatnya dia bisa menyimpulkan dengan tepat. Padahal selama ini ia sudah berhasil menutup dalam trauma itu.

"Mereka menyiksaku... apalagi kalau mabuk... berlatih dance dengan keras tak boleh ada kesalahan.. kalau aku mengadu mereka mengancam akan membunuhku.. mereka butuh uang bayaran yang boleh dilakukan secara berangsur.. aku tak bisa mengadu. Aku takut, siksaan mereka tak main-main, aku selalu takut bahkan untuk kesalahan kecil.. aku menjadi trauma mendengar bentakan, karena itu aku selalu berusaha menghindari itu hingga sekarang..."

Sehun hanya diam, ya sudah ia bilang kan, ia payah dalam bujuk membujuk, menenangkan ah itu bukan dirinya terlebih dia juga mengalami hal yang sama dan bahkan lebih pahit, ia cenderung menyepelekan masalah orang lain.

"Kau tahu yang lemah akan kalah, Kai..."

Kai menoleh cepat. "Aku tidak lemah!"

"Buktikan kalau begitu. Jangan menghiba-hiba dengan kisah kelam hidupmu. Buka matamu banyak orang yang lebih buruk nasibnya dibanding kau!"

Sehun meninggalkan sebelum lagi-lagi ia akan luluh.

.

.

.

.

Hari keempat.

Kai tak terlihat keluar kamar. Sehun sedikit khawatir. Dengar! Ini hanya sedikit. Sehun berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya sedikit khawatir saja.

Setelah waktu hampir menuju tengah hari, Sehun akhirnya menyerah. Ia masuk ke kamar Jongin tanpa mengetuk sama sekali. Dan ia benar-benar terperanjat. Jongin masih di posisi yang sama saat kemarin ia keluar dari kamar. Duduk menghadap ke jendela.

"Apa yang kau lakukan?" Sehun mendekat dan mengguncang bahu Jongin.

"Aku tidak lemah." Desis Jongin lemah. Ia masih tak mau menatap Sehun.

"Bodoh!" maki Sehun gemas.

"Aku memang bodoh tapi aku tidak lemah!"

Dan Sehun tahu, ia kalah. Ia ingat dulu ia pernah mengatakan hal yang sama. Ia memang bodoh tapi ia tak ingin dipanggil lemah. Sehun menghambur dan memeluk Jongin. "Kau tak lemah. Maafkan aku."

Tubuh itu terkulai di pelukan Sehun. Dia pingsan. Sehun semakin memeluk erat.

.

.

.

.

.

Hari keenam.

Mereka tak tampak seperti penculik dan korbannya sekarang. Mereka tampak seperti sahabat yang kurang akur dan sedang berlibur bersama.

"Pasti enak sekali jadi selebriti itu..." Sehun sedang menggunakan Laptopnya. Jongin mendesah malas.

"Kali ini karena apa?" tanyanya sambil mendekat.

"Bajumu bagus! Kau dikipasi setiap saat. Seperti seorang raja."

Jongin tersenyum miris. "Tak seindah itu Sehunna. Kau tahu dulu ketika masih traini itu sangat berat. Sampai kadang aku ingin menyerah saja. Begitu debut juga tak mudah, kau hanya dianggap anak bawang, ada juga yang disinisi karena dianggap mendompleng seniornya yang sudah terkenal. Ketika sudah terkenal pun malah semakin berat, jadwal yang tiada hentinya..."

"Karena itu kau bersyukur karena kuculik?" potong Sehun.

Jongin mengangguk. "Aku sayang pada para fans, mereka itu bagai napas saat aku sudah sangat sesak. Tapi ada juga fans yang malah menambah sesakku. Mereka berlebihan memujaku dan balik menjadi boomerang. Ketika semua itu terjadi kadang aku ingin kembali menjadi aku yang dulu bukan apa-apa. Aku bebas berkeliaran tanpa harus takut ada yang menguntit. Kelakuanku disorot penuh. Kalau benar dicibir, salah apalagi- dicaci."

Sehun termenung. "Aku.. emm aku disuruh oleh Ssaeng fansmu juga..."

Mata Jongin membulat. "Ja.. jadi bukan oleh pesaing atau haters?"

Sehun mengangguk.

"Kkau.. akan menyerahkanku padanya?"

"Tentu saja untuk itu aku dibayar Kai." Sehun berusaha menahan perasaan yang ingin menguar lagi itu.

"Kapan?"

"Aku tak bisa memberitahumu..."

Jongin berusaha tersenyum meski hatinya takut bukan main. "Nde.. maaf..."

Maaf?

"Karena ssaeng fansku kau jadi orang jahat..." setelah berkata lirih seperti itu, Jongin masuk ke dalam kamar meninggalkan Sehun yang sedang membuka mulut ingin menjelaskan.

Aku memang penjahat sejak awal Jongin. Desis Sehun pada angin.

.

.

.

.

"Pacarmu ya? Tak kusangka kau sekarang suka pada namja 'Black Pearl'?" cengiran menghiasi pemuda yang baru saja datang mengantarkan bahan makanan dan berbagai keperluan yang Sehun perlukan. Tentu saja berbahaya kalau Sehun yang keluar untuk membeli kebutuhannya. Dia tak bisa meninggalkan Jongin apalagi mengajaknya.

Jongin terlihat kaku di tempatnya. Matanya menatap tajam, meski gesture tubuhnya ketakutan.

"Jangan bicara yang aneh-aneh, sana pulang Hyung!"

"Jadi benar?" pemuda itu mendengus dan kembali memberi Sehun cengiran menyebalkan.

Sial! Sehun melihat wajah Jongin memucat. "Tentu saja bukan Hyung! Aku masih normal senormal-normalnya."

"Jinja?" sang Hyung menaikan alisnya. "Kalau begitu aku boleh mencobanya?"

Baik Jongin maupun Sehun membulatkan matanya. Mata Jongin meredup, sementara Sehun bingun harus bagaimana, di satu sisi ia tak ingin dibilang gay, di sisi lain ia tahu Hyung itu takkan menyerah.

"Pulanglah Hyung... dia hanya milik klienku.."

"Ah ternyata benar.. kau melindunginya.. haha ini akan jadi berita besar. Seorang Sehun ternyata memang sesuai rumor yang beredar adalah seorang gay.." Si hyung pun akan beranjak keluar sambil tertawa-tawa. Tapi cekalan tangan Sehun menghentikannya.

"Sudah kubilang bukan! Lakukan saja apa yang mau hyung lakukan padanya, kalau tidak percaya." Sehun tak punya pilihan lain.

Jongin tersentak ia terdiam di tempatnya.

"Jinja?" mata si Hyung mendelik.

"S-sehuna..." Jongin mencicit, ia meremas masing-masing ujung kemejanya.

"Uwaahh dia memanggilmu Sehunna? Dia tahu nama aslimu? Bukankah semua orang harus memanggilmu blackpearl? Mencurigakan!"

Napas Sehun memburu, "Sudah kubilang aku tak peduli apa yang mau kau lakukan padanya HYUNG!"

Sehun keluar dari kamar dan membanting pintu keras. Meninggalkan sang Hyung dan Jongin.

.

.

.

.

"TIDAKK! PERGI!"

Terdengar barang berjatuhan. Sehun menggigit bibirnya keras. Ia tak bisa seperti ini tak bisa. Bagaimana ini? Hanya karena harga dirinya tak berarti harus mengorbankan Jongin kan? Meskipun pada akhirnya Jongin tetap akan jadi korban, tapi setidaknya saat ini ia bisa tenang. Tapi..

"Argh..." Sehun menjambak rambutnya kesal.

Dan ketika terdengar teriakan Jongin lagi. Sehun tak bisa menahannya.

Ia mendobrak pintu kamar sekuat tenaga, dan segera menyingkirkan tubuh si Hyung dari atas Jongin yang tampak kacau. Sepertinya ia melakukan perlawanan yang tak sedikit. Wajahnya dipenuhi lebam.

"Kalau sampai dia cacat, bossku akan memotong uangnya Hyung... jadi pergilah!"

Si Hyung hanya menyeringai lalu keluar, setelah memandang Sehun dan Jongin bergantian- lama. Sehun yakin dia pasti tetap akan menyebarkan di kalangan mereka bahwa Sehun menyukai seorang pria... yang sekarang tampak bergetaran.

"K-kai..." Sehun mendekat.

"A-aku takkan berisik lagi.. aku .. aku melakukan apapun.. t-tapi jangan begitu lagi Sehunna.. aku .."

Dada Sehun tiba-tiba sesak. Tak tahu kah Jongin nanti pun ia akan tetap begini bahkan mungkin lebih parah.

"A.. aku memang... lemah.." desis Jongin lagi.

Sehun tak berkata apa-apa, ia hanya memeluk Jongin.

.

.

.

.

.

Hari kesepuluh

Sehun menimang-nimang ponselnya. Baru saja kliennya menelepon. Dia meminta Sehun menyerahkan Jongin besok siang di tempat yang telah mereka sepakati. Kenapa rasanya sekarang jadi sangat berat melepaskan Jongin? Ayolah kemana perginya semua ketidakpeduliannya? Kenapa ia jadi peduli pada Jongin?

"Sehunna..."

Sehun tergagap dan menoleh pada Jongin yang sedang berjalan mendekat padanya. Dia membawa mangkuk yang sepertinya berisi nasi goreng dicium dari aromanya. Jongin tak terlihat sedepresi kemarin. Mungkin karena ingat dia tak ingin dipanggil lemah lagi.

"A- aku membuat ini untuk kita..." Jongin meletakkan mangkuk yang ternyata memang berisi nasi goreng. Tanpa banyak bicara Sehun menarik mangkuk dan mulai makan. Di sampingnya Jongin melakukan hal yang serupa.

"Kai... " acara makannya telah selesai dengan keheningan.

"Hmmm?"

"Besok. Aku harus menyerahkanmu..."

Meski tak melihat ke samping, Sehun tahu tubuh Jongin menegang. Tapi ketika menoleh pada Sehun, bibirnya tersenyum. "Nde... terimakasih sudah berbuat baik padaku..."

Bibir Sehun terbuka tapi ia sendiri tak tahu harus berkata apa.

"Ah iya aku selalu penasaran tentang satu hal?" ucap Jongin masih dengan senyuman tenangnya.

"Apa?"

"Kenapa black pearl? Kenapa kau memilih nama itu?"

Sehun terdiam. Itu sudah lama sekali, ia hampir lupa kenapa memilih nama itu sebagai nama samarannya.

"Karena aku suka saja. Dan black itu terkesan kebalikan dari penampilanku kan? Orang akan sulit membayangkan kalau sosok dibalik Black Pearl adalah seseorang berkulit pucat sepertiku."

"A..aah…" Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya.

Jongin berdiri membereskan bekas makan mereka dan berjalan sedikit terhuyung ke dapur. Tapi sesaat dia menoleh. "Tapi sepertinya itu lebih cocok untukku, ya kau tahu.. kulitku…." Ia kemudian berbalik lagi.

Sehun tersenyum hanya sedikit. Kenapa Jongin masih tak memberontak pada semua ini? Padahal ia berharap Jongin kabur atau menghubungi polisi, ia memberi banyak kesempatan sebenarnya. Sehun tak lagi mengunci seluruh pintu saat malam, ia juga sering meninggalkan ponselnya di tempat yang akan terlihat Jongin.

Sehun kembali termenung. Kenapa Jongin?

.

.

.

.

Hari Penyerahan

Tangan Jongin bergetaran. Sehun bisa merasakannya karena ia menggenggam tangan Jongin erat. Mereka ada di sebuah padang rumput kecil di pinggiran desa. Angin bertiup kencang di sana, membuat mereka sesekali menggigil.

"Kai..."

Terdengar deheman kecil sebagai jawaban.

"Kenapa kau tidak mencoba kabur? Banyak kesempatan untuk kabur kan?" desis Sehun.

Tangan Jongin terasa menegang.

"Aku hanya.. entahlah.. aku tak ingin kau dalam masalah. Kau... teman pertamaku setelah sejak lama..."

Sehun mengernyit. "Bodoh!" desisnya.

"Aku tahu Sehunna... aku tahu harusnya aku kabur karena kau orang jahat.. tapi hatiku berkata lain. Berapa kali pun aku mencoba meyakinkan diriku untuk kabur, aku selalu menemukan alasan yang kubuat sendiri untuk membela kejahatanmu." Jongin menatap ujung sepatunya tak berani menoleh pada Sehun, ia merasa sangat lemah sekarang.

Terdengar deruman mesin dari kejauhan.

Dan Sehun ada dalam dilema.

Pikirkan Sehun! Sehun menarik napas panjang dan menghembuskannya keras. Apa yang harus ia lakukan?

Sebuah mobil hitam mengkilat semakin mendekat. Jongin meremas tangan Sehun berusaha mengurangi ketakutannya. Tapi tetap saja ia tak berusaha untuk pergi.

Sehun masih berpikir. Ada yang berbisik-bisik keras di belakang kepalanya. Ia akan sangat menyesal bila memberikan Jongin. Sang Black Pearl yang sebenarnya. Ya julukan itu lebih cocok untuk Jongin, Sehun mengakuinya. Bukan soal kulitnya, tapi Jongin benar-benar sesuatu seberharga black pearl baginya.

Dan mungkin ini kesempatannya.

Kesempatan memperbaiki semuanya. Memperbaiki hidupnya. Mungkin Jongin jalannya untuk kembali. Menjadi orang baik, ya meski gagasan itu terdengar menggelikan.

Mobil itu berhenti tak jauh dari mereka.

Ayo Sehun berpikirlah, ambil keputusan terbaik.

Tangan Jongin bergetar.

Kalau Jongin bersedia mengambil resiko itu, resiko untuk dipisahkan dari keluarganya, demi dia- maka...

Tepat sebelum pintu mobil itu terbuka, Sehun menarik tangan Jongin berbalik dan berlari.

Sesaat tak terjadi apa-apa. Mereka pasti kaget. Lalu terdengar letusan pistol. Ya Sehun tahu kliennya pasti akan membawa bodyguardnya.

Sehun semakin mengeratkan pegangannya. Berlari menembus pepohonan.

Sehun juga harus berani mengambil resiko demi Jongin.

.

.

.

Epilog

"Kai... jelaskan padanya aku tak mau!"

Jongin menoleh dan terkekeh. Rambut berwarna-warni menyembul dari kepala Sehun. Meski aneh tapi entah kenapa itu terlihat pas untuk Sehun. Ia tampak sangat manis, dan Jongin tahu Sehun paling tak mau terlihat manis.

"Itu keren dan cute sehunna..." komentar Jongin, membuat bibir Sehun maju. Sementara sang stylist memberi cengiran terimakasih pada Jongin.

"Aku tidak cute..."

"Terima saja kau memang lebih pantas menjadi cute Sehunna..." Jongin terkekeh dan segera berlari menghindari Sehun yang mendekatinya.

Oh Sehun member baru di Boyband Jongin. Kasus mereka ditutup diam-diam. Wanita yang memerintahkan menculik juga tak berani muncul di publik dan tak bisa melaporkan juga, mengingat ia berasal dari keluarga terhormat. Pengamanan mereka juga lebih ditingkatkan. Lebih dari itu ada Sehun sendiri yang akan menjaga Jongin. Pekerjaan membosankan dan melelahkan tak terlalu terasa lagi oleh Jongin semenjak Sehun menemaninya.

Hanya saja ya Sehun jadi lebih sering mengomel. Bagaimana mungkin dia yang mantan penjahat tingkat satu harus mendapat peran cute, aegyo?

Yang benar saja! Dunia sudah terbalik!

.

.

.

.

END

Beginilah akhirnya. Sebenarnya sudah berhenti dari ini. Tapi karena saya tahu menderitanya membaca cerita yang ditinggalkan authornya sebelum tamat, maka saya tamatkan dulu. Semoga tidak mengecewakan. #bow

Terimakasih pada reader sekalian yang sudah mau membaca dan meripiu.