LTAM #2

.

.

Kalian sudah baca kisah masa sd ku? Oke, aku akan lanjut ke masa smp ku. Oh sebelum itu bagi yang tanya ini kisah nyata atau bukan? Yup, ini kisah nyata tentang mpok H yang rempong dan nyaris monopause. Ha ha aku cuma bercanda di kata terakhir. Dan masalah lama up, itu urusan dengan si suami mpok rempong yang jadi ketularan rempong ha ha. Catatan, ini kisah bukan punya author. Kisah authornya mah ngenes mulu, bukan aneh #dijitak# kayak gini. Lupakan, yang penting sekarang bisa lanjut.

Ada beberapa hal yang perlu di tandai waktu aku menjadi siswa smp, pertama aku jadi pendengki. Ok, aku sebenarnya malas mengakui ini. Tapi tanpa hal ini aku tak akan pernah jadi aku yang sekarang. Alasan aku bilang kalau aku pendengki adalah aku tak akan bisa ikhlas senyum buat orang yang lebih dari aku. Mau bilang aku mirip larasnya eggy? Oh no aku gak pernah sejahat itu. Kedengkianku hanya seputaran tentang keberuntungan beberapa temanku yang mendapatkan cowok tampan. Aku cenderung menghindari cewek yang memiliki cowok tampan. Alasannya? Absurd. Aku tak akan pernah mau akrab dengan cewek yang kemungkinan akan selisih paham denganku masalah cowok. Ha ha otakku mikirnya terlalu ekstrim. Dan sayangnya para cewek cantik entah kenapa selalu nempel-nempel padaku. Itu sukses membuat kantong iriku nyaris meledak. Hei tak semua memiliki cowok tampan. Tapi lagi-lagi aku tak mau mengambil resiko selisih dengan teman dekat karna masalah cowok. Ewww aku memang keras kepala. Meski nyatanya aku sama sekali tak berbakat memulai berpacaran.

Kedua, aku mulai membenci skinship. Wow, kalau di pikir sekarang, sebenarnya bagaimana sih cara kerja otakku? Aku masih suka berlenggak-lenggok erotis di panggung. Sebagai tambahan aku suka memamerkan lekuk tubuhku yang terbentuk lebih keren dari teman-temanku. Percaya saja jika ku bilang aku bahkan terlihat menggiurkan untuk di ena-ena meski hanya memakai kaos biasa pas badan dan celana longgar. Yupz, aura seksiku tak akan tertutup hanya karna pakaian tertutup, jiaaaah. Tapi seperti yang ku bilang, aku hanya suka pamer tapi tak suka dinsentuh.

Ketiga, aku berprinsip sekuat tembok besar di china sana. Aku sama sekali tak sedang mencoba lebay. Tapi aku akan bertahan sememalukan apapun yang ku alami karna keputusanku. Contohnya, saat Shino membuntutiku kemanapun hanya karna ingin jadian denganku. Seperti drama picisan yang ku benci. Dia baru saja putus dari pacarnya dan bilang karna mau pacaran denganku. Dia tampan. Lihat? Sayangnya aku sama sekali tak tergiur meski berkali-kali menjadikannya bahan fantasiku saat masturbasi. Lagi-lagi alasan absurd, dia membuatku menjadi pusat perhatian untuk hal tak berguna. Ok, segila-gilanya aku, aku lebih suka di perhatikan karna segudang prestasiku. Dari juara kelas sampai juara di beberapa perlombaan. Di luar itu, aku benci menjadi pusat perhatian. Dan shino membuatku berada dalam situasi yang ku benci. Jadi aku membencinya. Selamat tinggal, aku akan mencari objek fantasi lain. Khhhh otakku terlalu merepotkan.

Keempat aku jadi tukang php. Ini berhubungan dengan poin ke dua, aku nyaris mudah akrab dengan semua cowok yang ingin menjadi temanku. Tapi hanya tiga cewek yang benar-benar bisa akrab denganku. Sebagai cewek, aku sedikit gesrek karna tak menyukai kerempongan cewek. Yah aku memang spesies aneh. Kalian tahu, mendapatkan pacar bukan hal sulit untukku. Aku bahkan bisa mendapatkan beberapa hadiah tanpa status pacaran. Otakku bisa mengkerut jijik jika memikirkan sentuhan yang kemungkin akan kulakukan jika berpacaran. Ewww aku lebih senang bermasturbasi ria dengan imajinasiku.

Di pertengahan semester dua kelas dua kami mengadakan kemah. Tentu saja aku ikut, aku tak akan ketinggalan dengan hal-hal yang memberiku kesempatan untuk berburu objek fantasi. Sayangnya ada kejadian yang membuatku nyaris mengamuk.

Saat itu aku selesai dengan pertandingan voli, aku segera merangsek ke pertandingan voli putra. Apalagi alasannya selain mantengin satu sosok kece yang sedang melakukan smash. Dia sangat keren. Rambutnya panjang dan di ikat tanggung. Ada garis aneh di bawah matanya. Terserah, yang penting dia keren di mataku. Lalu ada cowok berambut kuning yang mengejar bola sampai ke depanku. Sialnya entah karna apa dia tersandung dan jatuh menabrakku. Bukan itu poinnya, tapi aku yang jatuh terduduk dengan sebelah tangannya di dadaku sementara tangan lainnya di sebelahku menahan agar tak menindihku.

Rasanya kepalaku mendidih akan meledak karna campuran malu dan marah. Aku mendorongnya kasar lalu menendang selakangannya. Tak ku pedulikan suara riuh rendah di sekelilingku. Juga rintihan pria itu. Dengan geram ku tampar cowok itu dan pergi.

Kalian tahu apa selanjutnya? Aku menangis. Gosh, aku menangis hanya karna hal ini. Menyedihkan mengingat aku selalu berfantasi liar. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dan aku tak rela. Dadaku sesak. Aku tak mau kembali lagi ke sana.

"Kau baik-baik saja?" Aku mendongak dan melihat pria yang ku pantengin tadi.

"Kau gila? Mana mungkin aku baik-baik saja." Desisku berbahaya. Ah ini poin kelima, kesinisanku merajalela tanpa pandang bulu. Aku menyukai cowok ini, tapi itu tak menjadikan alasan bagiku untuk bersikap baik padanya. Aku aneh? Ya itu aku.

"Ah aku ke sini untuk minta maaf karna ketidaksengajaan Deidara tadi." Ucap cowok di depanku dengan cengiran canggung yang tak sedikitpun membuatku respek.

Poin ke enam, aku akan membenci sesuatu yang berhubungan dengan yang ku benci. Sebut aku gila. Tapi hidupku baik-baik saja dengan itu. Dan cowok yang bahkan aku tak tahu namanya ini berhubungan dengan Deidara yang ku benci. Sekarang aku membencinya meski aku masih tetap akan menjadikannya objek fantasiku saat masturbasi. Ha ha

"Lupakan. Jangan dekat-dekat aku." Aku memperingatinya dan kembali ke perkemahan, meninggalkannya yang mungkin memandangku aneh. Aku memang aneh. Dan aku tak peduli.

Aku sangat ingin melupakan kejadian itu. Sayangnya para teman cewekku sok manis dengan ikut prihatin. Ewwh demi tuhan aku tak butuh ucapan itu. Bukannya membuatku lebih baik justru menambah rusak sel-sel di kepalaku yang jadi sulit melupakan hal itu.

"Apa rasanya di pegang Saki?" Dan suara Kiba, salah satu teman cowokku yang paling cerewet menambah asupan agar aku makin tak bisa melupakan hal itu.

"Sialan. Mati saja sana." Aku menggeplak kuat kepala kiba. Aku merengut mendengarkan berbagai ledekan dari para cowok. Inilah kenapa aku kadang tak bisa membedakan cowok dan cewek. Mereka sama-sama menyebalkan.

Dan pria bernama Deidara kemarin seperti mencoba meminta maaf padaku. Duh, aku tahu dia tak sengaja. Ya ampun, aku bahkan mengacuhkannya dan dia dengan keras kepala mengekoriku demi kata maaf. Guys, itu tak membuatku terkesan, justru membuatku semakin cemberut. Aku sebal dengan tingkat kebebalan semua orang yang seolah tak membiarkanku lupa kejadian kemarin. Atau aku yang bebal.

"Kenapa kau jahat sekali? Deidara hanya ingin minta maaf. Dan kau tak memaafkannya. Dia benar-benar tak sengaja." Aku memutar bola mataku saat ocehan cowok dengan garis di bawah mata yang namanya aku belum tahu itu lagi-lagi mengusikku saat aku membereskan pakaianku.

"Ck. Bisakah kau pergi? Demi tuhan, ini tenda perempuan." Ucapku sama sekali tak menyembunyikan kejengkelanku. Ya, karna kejengkelanku ini juga aku hanya mendapatkan juara tiga lomba pidato (dulu lomba ini kedengaran keren). Juara kedua lomba voli. Dan juara ke tiga catur. Aku kesal.

"Ck. Kau berlebihan sekali. Bukan berarti kau tak pernah pacarankan sampai menangis hanya karna hal seperti kemarin. Deidara tak sengaja, asal kau tahu." Aku memang tak pernah pacaran. Sialan. Aku tak akan mengaku. Dan aku sampai bosan mendengar kata 'tak sengaja'.

"Aku tahu. Keluarlah." Dengusku.

"Jangan sok jual mahal. Dadamu terlalu besar untuk ukuran yang tak pernah di sentuh cowok." Ucapnya sebelum meninggalkanku. Aku makin sebal. Sialan. Kemarin memang pertama kalinya ada cowok yang memegang dadaku. Hhhh. Mengingatnya membuatku kesal dan ingin menangis. Tapi saat ini bukan itu poinnya. Aku horny. Shit. Bayangan cowok cerewet sialan itu berkeliaran dengan erotis di kepalaku.

Aku mengusap dahiku yang mulai berkeringat. Tak ada satu tempat amanpun di sini untuk menuntaskan hasrat. Apa aku sudah bilang kalau aku tipe orang yang tak pernah mau mengambil resiko? Ya, aku tak akan memuaskan hasratku di sini. Sialan, aku harus mengalihkan pikiranku.

Dengan kesal aku keluar tenda dan ikut membantu mencari kayu untuk membuat api unggun nanti malam. Setidaknya berbicara dengan Kiba membuatku sedikit lupa dengan denyutan sialan di bawahku.

Acara api unggun membuatku tambah kesal. Bagaimana tidak, aku memergoki Kiba berciuman dengan entah siapa dari sekolah lain. Itu membuatku mengrenyit jijik. Khh entah kenapa rasanya imajinasiku lebih indah daripada adegan langsung Kiba dan cewek itu.

"Mengintip orang pacaran itu tak baik lho." Ucap Gaara. Ini juga salah satu pria yang akrab denganku.

"Mengintip apanya. Kiba saja yang berciuman di depanku dengan bodohnya." Umpatku yang membuat Gaara terkekeh. Aku berdecak saat dia menyampirkan tangannya di bahuku.

"Sudah ku bilang jangan menyentuhku." Desisku sembari menepis tangan Gaara kasar. Cowok di sampingku itu hanya terkekeh. Dia memang sialan. Sejujurnya jantungku rasanya seperti di remas saat di dekat para cowok. Termasuk Gaara.

Perutku melilit saat bayangan Gaara menciumku berlanjut dengan mencumbuku berseliweran di kepalaku. Shit. Aku jadi kepanasan. Jangan harap aku akan melakukan seperti yang ada di kepalaku. Sudah ku bilang, itu menakjubkan saat masih menjadi fantasi dan menjijikkan saat menjadi kenyataan.

Acara kemah sudah berlalu. Kiba pacaran dengan Miko, cewek yang waktu itu di ciumnya dan berasal dari smp tetangga. Sangat lucu mendengar curhatan Kiba tentang pacarnya yang cerewet. Yeah mereka sama-sama cerewet. Dan Kiba sepertinya tak menyadarinya.

Gosip baru, Mabui dan Gaara pacaran. Wow. Rasanya sedikit cemburu melihat teman-teman cowokku memiliki pacar. Dan itu semakin membuatku malas berteman dengan mereka. Yeah, aku pendengki, ingat?

Beberapa adik kelas dan yang seangkatan memang mendekatiku dengan kode-kode ingin pacaran. Jiah, aku memang seksi. Aku tahu tapi tak mau tahu maksud mereka mendekatiku. Bagiku cukup nyaman bersama mereka semua tanpa ikatan seperti pacaran. Ya, aku tukang php. Dan aku tak peduli.

"Konohamaru sepertinya menyukaimu." Aku hanya diam mendengar ucapan Gaara. Mendekati kelulusan memang lingkaran cowok di sekitarku makin parah. Gaara menopang dagunya di depanku. Sementara kakiku di bawah meja sibuk. Sialan. Melihat wajah Gaara membuatku ingin melakukan sesuatu pada denyutan di bawahku. Yah akhir-akhir ini Gaaralah sumber fantasiku. Banyangan pria tampan dengan garis di bawah mata itu sudah pudar.

"Entahlah." Sahutku. Gaara mengernyit menatapku. Uuuh bagian bawahku semakin gatal butuh sentuhan. Jika bisa aku ingin membuang wajah Gaara ke laut agar tak menyiksaku. Ini sekolah dan aku horny. Sialan.

"Pilih Satu Sakura, jangan mempermainkan mereka."

"Ck. Memangnya apa yang harus ku lakukan saat aku tak ingin memilih. Kau tahu pacaran akan menjadi alasan seseorang menyentuhku. Dan aku tak suka." Aku berusaha senormal mungkin. Gaara mengernyit lagi menatapku. Apa sih sebenarnya yang dia lakukan?

"Wajah dan mulutmu tak sinkron." Aku berdecak sebal. Gaara mulai menghakimiku. Mungkin tidak. Sayangnya otakku sudah berpikir dia mulai menghakimiku dan aku akan berakhir membencinya. Dengan cepat aku berlari ke toilet meninggalkannya. Menuntaskan apa yang ku inginkan. Perutku mulas membayangkan Gaara menyentuhku. Tapi tidak, aku tak mengijinkannya menyentuhku selain dalam imajinasiku. Aku bebal dan naif.

Acara kelulusan tiba. Satu persatu menyumbangkan lagu kesayangannya tuk terakhir kalinya mereka bersenang-senang. Kecuali aku. Maksudku, aku bersenang-senang kecuali bagian menyanyi. Ingat suaraku seperti kaleng di pukul? Itu salah satu alasan aku tak mau menyanyi. Dan bergoyang erotis? Oh imejku terlalu berharga untuk di pertaruhkan dihadapan para guru.

"Kau melanjutkan ke Suna?" Ini suara Samui. Aku hanya mengangguk menyahutinya tanpa mengalihkan perhatianku dari Kiba yang menyanyi dengan apik di depan sana. "Ku pikir banyak dari kita yang melanjutkan ke kota itu."

"Ya, dan ku harap tak ada yang satu sekolah denganku." Samui menatapku bingung. Oke, biasanya orang akan senang jika ada yang di kenal di tempat asing. Sayangnya itu bukan aku, aku lebih senang sendiri di tempat asing. Ck, sudah ku bilang, aku memang aneh.

Percakapan kami berlanjut dengan hal-hal tak penting tentang masa depan. Oh ayolah, aku bahkan tak pernah memikirkan akan jadi apa aku nanti. Hanya mengikuti arus. Dan ketika Samui pergi bernyanyi ke depan sana, Gaara menggantikannya duduk di sampingku.

"Kau mungkin akan merindukanku nanti Sakura." Bisik cowok itu di telingaku. Aku merinding merasakan nafasnya menggelitik di bagian itu.

"Jauhkan wajahmu Gaara." Aku mendorong wajahnya menjauh dengan telapak tanganku dan memandangnya kesal. Apa aku harus mengulang-ulang jika atu tak menyukai sentuhan?

Dia hanya tersenyum menjijikkan saat aku menatapnya tajam. Obrolan ringan kami mengikis rasa sebalku padanya. Dia selalu bisa membuatku berhenti sebal padanya. Aku membencinya di saat yang sama juga tak bisa. Dia teman yang enak di ajak ngobrol.

Masa smpku berakhir tanpa meninggalkan kenangan pacaran. Entahlah, ku pikir dengan hormon sialan yang menuntutku masturbasi nyaris setiap hari akan membuatku cepat pacaran. Nyatanya otakku terlalu aneh untuk memulai hal yang di gandrungi anak remaja itu. Aku Haruno Sakura, tak pernah pacaran hingga lulus smp. Dan masturbasi nyaris setiap hari.

Tbc...