Yeeeey ''\^0^/'' ... sudah masuk Chapter 3. Terimakasih sudah mau mengikuti Love You Till The End sampai sekarang, tapi mungkin bentar lagi selesai. aamiin :D
Hontoni arigatou buat Rev, foll and fav-nya :D, saya sangat senang XD
carverwords19 : Terimakasih buat koreksinya, Saya akan lebih teliti lagi :3. di tunggu lagi koreksinya :). udah sempet baca ulang Ch.1, iya itu masih galau ttg sudut pandang. tapi udah di benerin dikit, untuk sementara waktu ini ^-^9. hohoho
Mell Hinaga Kuran : iya, semoga saya bisa bikin cerita yang makin lama makin seru :3... aamiin
Baiklah... Selamat membaca :3
LOVE YOU TILL THE END
Discliamer: Detective Conan -c Aoyama Gosho
Warning: OOC abis, GJ, Typo(s), alur maju-mundur, plot loncat-loncat
R&R please :)
Di Chapter sebelumnya:
Higo menunggu Shiho di depan gerbang sekolahnya, namun Shiho telah memiliki janji pulang bersama Shinichi. Melihat tatapan Shiho pada Shinichi, akhirnya Higo tahu bahwa Shiho menyukai Shinichi. Mengetahui Shiho makin akrab dengan Higo membuat Shinichi merasa tidak senang dan tampak murung saat perjalanan pulang.
Chapter 3 : Kenangan yang Indah
Keesokan harinya di sekolah
"Ohayou Mouri-san"
"Ohayou Miyano-san"
"Mouri-san, apakah Kudo sudah datang?" Tanya Shiho.
"Emm... Ie, rasanya dia belum datang. Lihat saja bangkunya masih kosong" Jawab Ran sambil menunjuk bangku Shinichi.
"Tumben dia belum datang, biasanya jam segini dia sudah bikin onar di kelas" Shiho meletakkan tasnya di bangku.
"Mungkin... ia bangun kesiangan" Jawab Ran Sekenanya.
Shiho mengangguk pelan tanda setuju. Kemudian Ran melirik ke arah Shiho.
"Emm... Miyano-san, apakah setelah kejadian di lapangan kemarin kamu pernah bertemu Ryusuke-san lagi? tanya Ran.
"Eh? memangnya ada apa Mouri-san?" tanya Shiho penasaran.
"Aku penasaran padanya, aku ingin mengenalnya lebih jauh"
"Oow... yang aku tahu dia adalah seorang kapten sepak bola SMA Toho dan sebentar lagi mereka akan mengikuti kejuaraan tingkat nasional, jadinya hampir setiap hari mereka berlatih di sana, di lapangan yang kemarin kita lewati" Shiho melirik pada lapangan di sebelah gedung sekolah mereka.
"Ya... cuma sebatas itu sih yang aku tahu" lanju Shiho.
"Waaw, seorang kapten sepak bola? pantas saja dia terlihat sangat keren, ternyata dia memang keren, aku semakin ingin mengenalnya..." Ran terlihat kagum dengan cerita Shiho.
"Em... Miyano-san?" lanjut Ran.
"Iya?"
"Bolahkah lain kali aku mengajakmu menemui Ryusuke-san sepulang sekolah?"
"Hem?... boleh, aku akan menemanimu" jawab Shiho sambil tersenyum.
"Terimakasih Miyano-san" Ran membalas senyuman Shiho.
Teng...Teng...Teng... Bel tanda masuk berbunyi, seluruh murid memasuki ruang kelas dan menempati bangku mereka masing-masing.
"Hah... sudah bel masuk, kenapa Shin belum juga datang? kali ini dia benar-benar terlambat" Gerutu Shiho.
Tak lama kemudian, sensei memasuki kelas...
"Ohayou minna" Sapa sensei pada murid-murid.
"Ohayou Sensei" jawab semua murid secara bersamaan.
"Pagi ini Sensei mendapat kabar bahwa Shinichi izin tidak masuk karena sakit, kita doakan saja semoga ia cepat sembuh". lanjut Sensei.
'Shinichi sakit?' batin Shiho.
Hari ini tidak seperti biasanya. Seharusnya saat ini seluruh siswa di SMA Teitan sedang sibuk dengan kegiatan ex-school mereka masing-masing, namun seorang Shiho Miyano, anggota Ekstakulikuler Sains dan Matematik SMA Teitan yang paling rajin dan pintar, akhirnya menanggalkan rekor 'full present'-nya dengan membolos dari kegiatan ekstra. Saat ini yang ada dalam fikirannya hanyalah keadaan Shinichi.
'Apa Shin tidak apa-apa?' batin Shiho.
Sudah lebih dari setahun Shinichi tinggal sendiri di rumah, tepatnya setelah ia masuk SMA Teitan. Tiba-tiba kedua orang tuanya harus pindah ke Amerika karena urusan bisnis. Shinichi tidak mau meninggalkan Jepang hanya demi mengikuti orang tuanya, sehingga Shinichi memutuskan untuk tinggal 'sendiri' di rumahnya. Sebenarnya Shin tidak benar-benar sendiri, ia memiliki pembantu yang bernama Akako-san. Namun, Akako-san datang pada pagi dan sore hari, hanya untuk menyiapkan makanan dan membereskan rumah, setelah itu ia akan pulang ke rumahnya.
'Kalau dilihat dari jadwal Akako-san berarti sekarang Shin sendiri di rumah, sebaiknya aku menghubunginya dulu sebelum berkunjung" batin Shiho.
Shiho mengambil handphonnya untuk menghubungi Shin, tak lama kemudian ia mendengar suara dari seberang telfon.
"Hallo..."
"Hallo Shin, apa kau baik-baik saja?" tanya Shiho.
"Haah... Kau ternyata Shiho, haah..." suara Shinichi terdengar berat.
"Shinichi, kau?... kau ada di mana sekarang?" tanya Shiho sedikit panik.
"Aku… hah… aku di rumah, haah… aku…" suara Shinichi terdengar lemah di seberang sana.
"Baiklah Shin, kau tak perlu menjelaskannya, aku akan segera ke sana". Shiho langsung menutup telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Shinichi.
Selanjutnya Shiho mampir sebentar ke minimarket untuk membeli oleh-oleh dan langsung meluncur ke tempat Shinichi. Sesampainya di depan rumah Shinichi, Shiho menekan bel rumah Shinichi.
"Ding... dong..."
Shiho menekan bel sebanyak tiga kali, namun Shinichi tetap tidak membukakan pintu.
'Shinichi lama sekali, apa aku langsung masuk saja?' batin Shiho.
Shihopun memberanikan diri membuka pintu rumah Shinichi.
"Moshi-moshi... Shin? Kau di mana?" tanya Shiho sedikit berteriak saat memasuki rumah Shin.
Sedetik kemudian Shiho menyadari ada tangan yang menjulur dari balik kursi sofa panjang depan televisi. Shihopun menghampiri kursi tersebut, berharap yang ada di balik kursi adalah seseorang yang sedang ia cari. Ternyata benar dugaan Shiho, Shinichi sedang terbaring lemas di kursi tersebut, wajahnya terlihat pucat, nafasnya berat. Seketika itu juga Shiho menghampiri Shinichi untuk memeriksa keadaan Shin.
"Shinichi? Astaga... demammu tinggi sekali Shin, aku akan segera kembali, tunggu sebentar?
Shiho berlari menuju dapur untuk mengambil kompresan, segelas air minum, serta bubur yang ia beli saat di perjalanan. Selanjutnya Shiho mengompres kepala Shin, membantu Shin makan buburnya sebelum akhirnya ia memberikan obat penurun demam pada Shin. Shiho melakukannya dalam sunyi, namun ia sangat cekatan dan penuh perhatian. Shiho tahu yang paling dibutuhkan Shin saat ini adalah perawatan dan istirahat, sehingga ia menahan diri untuk tidak banyak bertanya pada Shin. Tak lama kemudian Shin tertidur di sofa, Shiho memandang wajah Shin yang mulai bernafas normal, butir-butir keringat juga mulai bermunculan di kening Shinichi. muncul kelegaan pada diri Shiho.
'Syukurlah, dia terlihat lebih tenang sekarang, semoga nanti malam demamnya sudah hilang' batin Shiho.
Melihat Shinichi yang tertidur lelap, Shiho memberanikan diri menggenggam tangan Shin. Ia teriangat peristiwa yang membuatnya jatuh cinta pada Shin, yaitu saat mereka berdua masih duduk di kelas 2 SMP.
#Flasback on
Hari itu SMP Hisame, yaitu SMP tempat Shinichi dan Shiho bersekolah, sedang melakukan study tour dengan tema menyatu dengan alam. Kegiatan itu dilakukan selama 2 hari satu malam di wilayah perkemahan. Kegiatan hari pertama adalah sekedar persiapan untuk kegiatan keesokan harinya, mereka mendapat pengarahan tentang tugas serta aturan saat melakukan penjelajahan. Barulah keesokan harinya, mereka melakukan penjelajahan.
Seperti yang biasa terjadi di kelas, di acara itupun Shiho dan Shinichi tetap memperdebatkan hal-hal yang tidak penting. Saat itu karena yang lain sibuk dengan kegiatan memasak, Shiho sedang berusaha memasang tendanya sendirian, ia tidak ingin merepotkan yang lain.
"Hei Shiho, yang itu salah... coba lihat ada tali yang belum terikat" Celoteh Shin.
"Diam kau Shin, aku juga tahu" Gerutu Shiho.
Sebenarnya ini adalah kali pertama ia mencoba mendirikan tenda, sehingga ia kesulitan. Shinichi tahu bahwa Shiho tidak bisa mendirikan tenda itu seorang diri, iapun mulai jahil pada Shiho.
"Ow... ternyata 'Miss Perfect' memiliki kelemahan juga ya? Hahaha". Tawa Shin terasa menggema di telinga Shiho dan kemarahan Shiho-pun memuncak.
"SHINICHI... APA KAU MAU KEPALAMU KU LEMPAR PALU?" Teriak Shiho pada Shinichi sambil mengangkat palu yang ia bawa mengarah ke Shinichi.
"Eits... sabar-sabar, aku hanya bercanda Shiho, kau pasti tidak mau kan masuk penjara hanya karena melempar palu ke kepalaku?" bujuk Shinichi.
Mendengar perkataan Shin, Shiho hanya bisa diam sambil mengerutu dalam hati. 'dasar tukang jilat' pikirnya.
"Baiklah, karena aku sedang tidak ada kerjaan maka aku akan membantumu" jelas Shinichi sambil menghampiri Shiho, bersiap membantu Shiho mendirikan tenda.
"Hem? Memang siapa yang meminta bantuanmu? Dasar penjilat"
"Siapa yang kau bilang penjilat?"
"Siapa lagi? Sudahlah tinggalkan aku sendiri, aku tidak akan sudi mendapat bantuan darimu" Jawab Shiho dengan suara agak tinggi.
"Cih... memangnya siapa yang mau membantumu? Dasar nenek lampir" balas Shinichi dengan suara yang lebih tinggi sambil beranjak menjauh.
"Apa kau bilang? Siapa yang nenek lampir... dasar Tukang Usil"
"Nenek Sihir"
"Mulut Rombeng"
Dan begitulang seterusnya, mereka saling melemparkan ejekan sampai suara mereka tidak terdengar satu sama lain. Selanjutnya mereka tidak saling berbicara, mereka saling memalingkan wajah, dan kadang saling mengejek dengan gerakan-gerakan yang aneh.
Keesokan harinya mereka segera bersiap melakukan penjelajahan. Shiho yang memang sangat tertarik dengan sains sudah melupakan perseteruannya dengan Shinichi, sedangkan Shinichi masih terus memandangnya dengan tatapan dingin.
"Ohayou minna, hari ini adalah acara puncak kita, yaitu penjelajahan. Pastikan kalian terus berada dalam grub, kalian paham" terang sensei pada para murid yang telah berdiri di depannya.
"Baik sensei" jawab murid serempak.
Murid-murid mulai berjalan sambil mengamati berbagai tanaman yang ada di sekitarnya. Sensei sesekali berhenti sembari menjelaskan tanaman yang ia temukan. Shiho sangat antusias dengan penjelasan yang diberikan sensei. Sampai akhirnya Shiho terpukau pada sekuntum bunga yang ia lihat berada di kejauhan, bunga itu berwarna ungu kemerahan, terlihat bersinar diterpa cahaya yang menyelinap dari celah dedaunan. Daun-daun di sekitar bunga itu berwarna hijau segar, melambai-lambai diterpa angin semilir. Sungguh pemandangan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
'Waaaw... bunga itu indah sekali, aku ingin memetiknya' batin Shiho.
Tanpa sadar Shiho berjalan lurus menuju bunga itu, ia tidak sadar bahwa ia semakin menjauhi teman-temannya. Akhirnya ia berada tepat di bawah bunga itu.
'Yaaah... bunganya tinggi sekali, aku tidak dapat meraihnya, apa yang harus aku lakukan?' Pikir Shiho.
Shiho berpikir sejenak, lalu ia memanjat ranting yang berada tepat di bawah bunga. Shiho tidak sadar bahwa tepat di bawah ranting itu adalah jurang yang cukup dalam. Awalnya ranting itu mampu menahan berat Shiho, namun karena Shiho sedikit berlompat untuk menggapai bunga sehingga ranting itu akhirnya patah dan Shiho jatuh ke dalam jurang. Shiho tak sadarkan diri.
"Hooo... Shihooo..."
Sayup-sayup ia merasakan seseorang menepuk-nepuk pipinya sambil memanggil namanya.
"Shihooo... bangun Shiho, sampai kapan kau akan tidur?"
Lama kelamaan suara itu semakin jelas di telinga Shiho, sampai akhirnya ia mampu membuka matanya dan menyadari bahwa ia sedang tidur di pangkuan Shinichi. Seketika itu ia bangun dari posisinya sambil berusaha menjauh.
"SHINICHI?... apa yang kau AAHHH..." Jerit Shiho.
Shiho merasakan rasa sakit yang sangat pada sekujur tubuhnya, terutama pada kakinya, tubuhnya penuh luka akibat terkena ranting dan kakinya terkilir.
"Sudahlah Shiho, diamlah... kau sedang terluka. Tapi syukurlah... kau sudah siuman" tampak raut kelegaan pada wajah Shinichi.
"Lalu bagaimana bisa kau juga di sini Shin? Bagaimana bisa kau menemukanku?" Shiho terlihat bingung.
"Aku tadi turun dengan bantuan tali, itu lihat" Shin menunjuk tali yang menjulur dari atas ke bawah.
"Kalau bagaimana aku bisa menemukanmu, emmm... sebenarnya... dari tadi aku..." Shinichi tampak ragu dengan apa yang akan ia katakan, tapi dengan mengambil nafas panjang Shin bertekat mengatakannya.
"dari tadi aku membuntutimu" lanjut Shin.
Shiho semakin bingung dengan apa yang terjadi, muncul beribu pertanyaan yang ingin dilontarkan Shiho untuk Shinichi namun sebelum sempat Shiho membuka mulut, Shinichi sudah menyelanya.
"Aku benar-benar minta maaf Shiho, maafkan aku... aku tahu aku salah, aku tahu kau tertarik pada bunga itu, aku tahu kau terpisah dari rombongan, aku tahu tempat ini berbahaya, tapi yang aku lakukan hanya melihat saja karena aku pikir kita sedang bermusuhan. Aku sungguh egois, maafkan aku. Ini aku ambilkan" Shinichi mengatakannya tanpa mengambil nafas, kemudian ia mengulurkan bunga ungu merah yang tadi dilihat Shiho.
Mendengar pernyataan Shinichi, tanpa sadar Shiho menitikkan air mata. Shinichi terkejut melihat reaksi Shiho. Iapun merasa semakin bersalah.
"Shiho, kenapa kau menangis? Sungguh aku tidak bermaksud mencelakakanmu" pinta Shinichi.
"Bukan... aku menangis bukan karena aku marah padamu, tapi aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku begitu ceroboh? Kenapa aku selalu marah-marah? Kenapa aku hanya bisa melihat keburukan orang lain" tangis Shiho tak terbendung lagi, air matanya mengalir begitu deras.
Tanpa diduga, Shinichi lalu memeluk Shiho untuk menenangkannya.
"Sudahlah Shiho, tidak ada yang perlu disesali, kita berdua salah. Yang penting kita telah menyadari kesalahan kita. Mulai sekarang kita berjanji akan menjadi teman, kau setuju?"
Dalam pelukan Shinichi, Shiho menganggukkan kepalanya sambil membalas pelukan Shinichi, saat itulah Shiho merasakan ketenangan, pelukan dan kata-kata Shinichi mampu menyejukkan hatinya, hingga akhirnya ia berhenti menangis.
Tak lama kemudian, terdengar suara sensei dan yang lain berteriak mencari mereka.
"SHIHOO... SHINICHII... KALIAN DI MANA?"
Menyadari hal itu, Shinichi melepaskan pelukannya dan menyadarkan Shiho bahwa mereka berdua akan segera selamat.
"Shiho, kau dengar? Itu suara sensei, kita berdua akan selamat" Senyum Shinichi mengembang.
Mendengar hal itu, Shiho hanya bisa membalas senyuman Shinichi sambil mengangguk.
"SENSEI KAMI DI BAWAH SINI, SENSEI" teriak Shiho dan Shinichi bergantian.
Tak lama kemudian, sensei dan rombongan dapat menemukan mereka, selanjutnya sensei mengeluarkan mereka dari jurang. Ternyata selama mengikuti Shiho, Shinichi meninggalkan jejak berupa tumpukan batu serta ranting patah yang mengarah ke lokasi mereka sekarang, sehingga sensei dan yang lain dapat segera menemukan mereka. Saat itulah Shiho sadar, bahwa selama ini penilaiannya salah. Shinichi bukanlah 'hanya' seorang anak sombong yang suka membuat masalah dengannya, namun ia adalah seseorang yang memang 'istimewa'.
Semenjak kejadian itu Shinichi semakin terkenal dikalangan anak-anak perempuan. Semenjak kejadian itu pula sikap Shiho berubah, ia jadi 'melunak' pada Shinichi, Shiho seperti menjelma menjadi seorang anak yang penurut, apapun yang dikatakan Shinichi ia tidak pernah lagi menyangkalnya. Hal ini membuat Shin dan teman-temannya merasa aneh. Hingga akhirnya, hari itu Shiho ingin mengungkapkan perasaannya.
'Aaah akhirnya, hari ini tiba juga. Hari dimana jimat keberuntunganku telah siap' Shiho berkata dalam hati sambil memandangi kedua jimat yang saat itu ia pegang.
Shiho terlihat sangat senang karena ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Shinichi sepulang sekolah. Ia telah bertekat akan menyatakan perasaannya pada Shin saat jimatnya, yaitu kelopak bunga merah-ungu yang Shin petik untuknya, telah kering sempurna. Shiho berniat memberikan salah satu jimatnya pada Shinichi.
Namun ketika Shiho hendak memasuki ruang kelas, Shiho mendengar percakapan antara Shin dengan anak-anak perempuan di kelasnya, Shiho kenal bahwa anak perempuan itu adalah Miki dan Nami.
"Hey Kudo, apa kau merasa ada yang aneh dengan sikap Shiho?" tanya Miki pada Shinichi.
"Iya, kalau dipikir lagi, semenjak kau menolong Shiho aku tidak pernah lagi melihat kalian bertengkar" Nami menambahkan.
"Oi… oi… apa kalian ingin aku dan Shiho bertengkar?" Jawat Shinichi dengan wajah tampak heran.
"Bukan begitu, aku hanya penasaran saja. Jangan-jangan… gara-gara kamu menolongnya waktu itu Shiho jadi suka padamu" goda Miki.
"Eh?..." Shinichi terlihat sangat kaget, jelas sekali bahwa Shinichi tidak siap menjawab pernyataan Miki.
Mendengar pertanyaan Miki, jantung Shiho berdegub sangat kencang, Shiho terus memegangi jantungnya seakan takut jantung itu akan loncat dari tempatnya. Keringat dingin mulai bercucuran dari seluruh tubuh Shiho, Shiho merasa nafasnya semakin berat. Shiho ingin lari dari tempat itu namun dia sangat penasaran dengan jawaban Shinichi.
"B-baaka, hahaha" suara tawa Shinichi menggelegar di seluruh ruang kelas.
"Mana mungkin hal itu terjadi... Lagi pula kami sama sekali tidak cocok, hahaha" lanjut Shinichi disela tawanya.
"Benar juga sih, kalian memang selalu bertentangan di semua hal, hahaha… bodohnya aku" jawab Miki.
"Sudahlah, jangan berfikir yang aneh-aneh. Kami hanya berteman" tambah Shinichi.
Kemudian mereka tertawa bersama.
Mendengar jawaban Shinichi, yang bisa Shiho lakukan hanyalah berlari menjauh. Saat itu yang Shiho rasakan hanyalah rasa sakit yang teramat sangat, rasa sesak di dada yang membuatnya sulit bernafas, rasa pilu yang begitu menyayat hingga membuatnya ingin berteriak, hingga akhirnya ia tidak mampu lagi membendung air matanya.
Shiho duduk termenung di atap gedung sekolahnya, Shiho menangis, meratapi nasibnya.
"Shinichi… apa memang mustahil bagiku untuk menyukaimu? Tapi aku tidak mungkin bisa membencimu, lalu apa yang harus aku lakukan? Kami-sama… apa yang harus aku lakukan?"
Shiho terus mengulang-ulang pertanyaan itu, hingga akhirnya dia berjanji pada dirinya sendiri.
"Baiklah Shiho, tegarlah… Shinichi tidak akan suka melihatmu seperti ini. Aku harus menjadi Shiho yang kuat. Aku harus bisa menjadi seseorang yang pantas menjadi rival maupun teman bagi Shinichi, aku ingin menjadi seseorang yang selalu bisa diandalkan. Ya, aku harus bisa… hanya itu yang bisa aku lakukan. Walau apapun yang terjadi, walau mungkin hatiku akan semakin hancur, aku akan tetap melakukannya"
Sambil beruraikan air mata, Shiho mengucapkan janji itu pada dirinya sendiri.
TBC... :')
