"Aku minta sama kalian untuk jangan deketin aku lagi. Atau sesuatu yang bahkan lebih buruk bisa menimpa kalian". / Fail at Summary.
Desclaimer: I'm own nothing. Hetalia punya nya Hima-papa~ OC punya owner nya ^w^
Warning: OOC, OC, Gaje, aneh, abal, ngga jelas, Typo(s), Typo(s) everywhere.
.
UKMalay
The World is Falling in Love
A/N: Hallo! Mala kembali. Maaf ya, Mala sudah lama nggak update .w. Soalnya Mala sedang disibukkan dengan liat-liat informasi SMA dan Universitas :'v Maaf ya, dan ini juga Mala paksa nulis ketika sedang dilanda WB TTwTT Huhu, dan Mala bakal usahakan update secepatnya~ ^^
Chapter 3 : Little by Little
"Malon!"
Suara tersebut membuat gadis berparaskan Melayu itu mempercepat langkah nya menuju kelasnya. Ia tidak mau mendapat ocehan panjang lebar karena baru saja duduk berdua dengan England. Karena, ya. Malaysia saja melarang hubungan Indonesia dengan Nethereland. Bagaimana pula Indonesia tidak melarang hubungannya dengan England? Baru saja Malaysia ingin berbelok, tangan Indonesia langsung menepuk pundak Malaysia dan menariknya agar ia tidak pergi sebelum mendengar ucapan dari Indonesia. Malaysia hanya bisa melihati Indonesia dengan tatapan 'apa-sih-ndon-liatin-gwe-kayak-gitu' Indonesia kemudian langsung to the point. Seperti nya ia disuruh oleh Singapore untuk menjagainya selama ia tidak pergi ke sekolah hari ini. Ia kemudian menarik Brunei yang—tidak sengaja—lewat di antara mereka berdua dengan tampang—sangat—tidak berdosa.
"Si Indon mau ngomong. Dengerin ya." Ucapnya sebelum ia melipir pergi dari hadapan Indonesia yang sepertinya mulai horror.
Malaysia hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari berjalan menghindari Indonesia dan Brunei. Malangnya Brunei yang langsung kena kata-kata tajam nya Indonesia yang seharusnya di lampiaskan kepada adiknya, Malaysia. Ia pun segera masuk ke dalam kelasnya, untuk segera melupakan kejadian tadi dan memulai pelajaran selanjutnya. Namun bukannya langsung duduk, Malaysia malah berniat untuk kembali meninggalkan kelas tersebut setelah mendengar suara Sabah memanggilnya, "Kak Malaysia, sini!"
Mau tak mau, dia harus mendekati Sabah yang sedang dikerumunin Philippines, Myanmar dan Laos. "Kenapa?" Tanya nya malas.
"Ini, ate. Si Sabah ramalan nya akurat banget!" Seru Philippines seraya menoleh ke Malaysia. Malaysia hanya memandang keempat orang itu dengan pandangan malasnya. Kemudian ia mengambil salah satu kartu remi yang tersebar di meja di depan Sabah. Ia memperhatikan kartu itu sebelum memberikannya ke Sabah. Belum sempat Sabah berkata, Malaysia sudah meninggalkan kerumunan itu. Dan memilih untuk segera duduk di bangku nya, karena bisa saja guru akan segera datang.
"Ate Malaysia gak tertarik po?" Tanya Philippines. Laos hanya bisa mengangkat bahunya, gadis kecil itu pun mengambil kartu yang tadi di pilih Malaysia, "Sabah, ini artinya apa?" Laos menunjukkan 9 Sekop. Membuat Sabah sedikit terkejut dan menggelengkan kepalanya. Membuat Laos hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia akhirnya menoleh ke Myanmar yang malah melakukan hal yang sama kepada Laos, "Oh, iya, kuya Singapore gak datang?" Tanya Philippines tersadar.
Laos menggeleng, "Dia sedang sakit." Gadis itu menoleh ke Malaysia yang terlihat lesu, "Makanya kak Malaysia keliatan gak punya semangat."
"Jadi gara-gara kuya Singapore yang ngga dating po?" Tanya Philippines yang dibalas anggukan oleh Laos, gadis itu tertawa kecil, "Padahal mereka—"
"—Kerjaannya berantem mulu." Ucap Sabah, memotong ucapan Philippines.
"Tapi masih mending. Daripada kak Malaysia sama kak Indonesia?" Seketika mereka bertiga langsung bungkam, karena apa yang dikatakan Laos memang benar, se-sering apa pun Malaysia dan Singapore bertengkar, saling salah menyalahkan, tapi setidaknya hubungan mereka masih lebih baik ketimbang hubungannya dengan Indonesia.
"Ada yang liat Indonesia, gak?"
Laos, Philippines, Sabah secara serentak menoleh ke sumber suara itu. Ada satu hal yang tersirat di pikiran mereka siapa-pria-itu. Personifikasi juga? Tapi kenapa mereka tidak mengenalnya?
"Kuya Indonesia ada di luar." Teriak Philippines kepada pria itu, membuat Laos langsung menarik kerah seragam Philippines.
"K-Kenapa langsung diberi tau sih?" Protes Laos kepada Philippines yang memasang wajah 'TwT'
"Iya, kak Phils. Harus nya 'kan Tanya dulu itu siapa." Ucap Sabah yang menekuk lututnya di samping Laos yang sedang menggembungkan pipi kirinya dengan kesal. Sedangkan Philippines masih memasang wajah seperti tadi, "M-Maafkan aku, ate. Aku tidak tau po." Ucap Philippines seraya sujud beberapa kali ke arah Laos dan sabah secara bergantian.
Laos menghela nafas panjang, "Yaudahlah." Ia pun bangkit untuk melihat siapa pria itu. Tapi ia berdiri dengan kekosongan, melihat pria itu sudah tidak ada lagi. Laos melirik Vietnam yang sedang menopang dagunya dan melirik ke segala arah dari tadi, "Kak, tadi Nampak pria yang di sana itu gak?" Tanya Laos seraya menunjuk ke arah pintu kelas.
"Pria mana? Ngga ada, tuh. Dari tadi 'kan ngga ada siapapun disana."
"Eh?"
.
.
.
"Aku duluan ya~"
"Ate Malaysia, mau pulang bareng po?"
"Ah, aku harus ke perpustakaan dulu. Kalian boleh pulang duluan." Ucap Malaysia yang sedang membereskan buku-buku nya dan memasukkan nya kedalam tasnya. Philippines menganggukkan kepalanya, ia pun berjalan perlahan mendahului Malaysia—diikuti Brunei di sampingnya keluar kelas untuk segera pulang ke rumahnya. Sedangkan Malaysia masih berkutik dengan tas nya. Ia berhenti ketika melihat seisi kelas sudah sepi. Seraya menghela nafas pelan, ia meragu saku kemeja nya dan mengambil ponselnya.
'Kau dimana? Apa kau sudah makan? Aku masih di sekolah. Mau ku bawakan sesuatu?'
Ia mengetikkan sebuah pesan singkat yang akan ia kirim untuk Singapore. Setelah menerima pemberitahuan bahwa pesan itu terkirim, ia langsung menyandangkan tasnya di bahunya dan berjalan keluar dari kelasnya. Seperti yang ia katakan, ia akan ke perpustakaan terlebih dahulu sebelum benar-benar pulang ke rumahnya. Malaysia menyelipkan tangannya di saku kemeja nya, sambil sedikit bersenandung ia melakahkan kakinya menuju perpustakaan yang tidak terlalu jauh dari kelasnya tadi.
"Sepi ya." Gumamnya saat ia berdiri tepat di depan pintu perpustakaan yang benar-benar sepi. Tidak ada orang disana. Ia kemudian memutuskan untuk segera masuk ke perpustakaan yang kosong itu. Ia kembali bersenandung kecil sambil berjalan memperhatikan jenis-jenis buku yang tersusun rapi menurut jenis dari bahasan buku-buku itu. Ia berusaha mencari jenis buku yang tepat untuk membantunya mengerjakan soal yang sangat menumpuk dan berat dari gurunya itu. Membuatnya seakan pecah kepala hanya dengan mengingat bagaimana guru super killer itu memberikan pekerjaan rumah yang harus selesai selama dua hari.
Dddrrttt…
Merasakan getaran yang ia tau betul itu membuatnya langsung mengambil ponselnya. Sepertinya yang ia duga, pesan masuk dari Singapore.
'Aku sudah makan. Kau cepat pulang saja.'
Malaysia manyun, ia benar-benar tidak puas dengan balasan itu. Setelah mengunci lockscreen handphone nya, ia kembali meletakkannya kedalam saku kemeja nya. Mood nya retak, hancur berkeping-keping, bersamaan dengan terbenturnya kepala nya dengan bahu seorang pria yang sedang memperhatikan Malaysia.
Eh? Pria?
"Aduh—" Ia mengaduh pelan seraya mengusap kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak sakit. Malaysia mendongakkan kepalanya, menyadari pria yang ia tabrak lebih tinggi darinya. Ia sedikit membelalakkan matanya.
"Oh, kau belum pulang?" Pria itu memperhatikan Malaysia. Malaysia menggelengkan pelan kepalanya, "Aku baru mau pulang. Kenapa belum pulang?" Tanya nya.
"Aku juga baru mau pulang." Ia terkekeh pelan. Mata hijau yang cerah dan menyejukkan itu membuat Malaysia menundukkan kepalanya. Mata itu terlalu cerah untuk ia lihat. Mungkin ia bermimpi sekarang. Bahkan mimpi pun tak ingin mempertemukannya dengan pria di depannya. Ya. Siapa lagi? Kalau bukan seorang England. Tapi dalam hati ia tersenyum, dalam hatinya ia senang. Ia bahkan tak ingin bangun kalau ini benar-benar mimpi, "Mau pulang bareng?" Ajaknya.
Malaysia mengangguk ragu, "Mungkin aku tidak akan menolak." Ucapnya seraya tersenyum.
England pun berjalan perlahan di samping Malaysia, keluar dari perpustakaan yang sepi itu, "H-Hei, England?" Panggil Malaysia pelan, membuat England menoleh ke arah gadis di sampingnya.
"Iya?"
"Tanganmu luka. Kenapa?"
England buru-buru menyembunyikan tangannya yang di balut perban, terdapat bekas-bekas lebam di sekitarnya—dengan cara menutupinya dengan lengan panjang nya yang tadi ia lipat ke atas, "Bukan apa-apa. Tadi ada pria aneh yang mendatangiku."
"Pria aneh? Siapa?"
"Entahlah."
To be continued, maybe~
A/N :
Now Playing : -
Word(s) : 1.136
Sign
Shien-chan Freehdamiaseaa Mala
