Kuroko no Basuke © by Fujimaki Tadatoshi

Gray Disaster

Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya x Mayuzumi Chihiro

Genre : Hurt/Romance/Comfort

Rated : M (anak kecil dilarang baca)

Warning : BoyxBoy dan konten dewasa

Setelah melakukan hal yang sangat bejat pada adiknya sendiri, tidak serta merta membuat Chihiro puas hanya dengan satu kali klimaks. Dia bahkan melakukannya hingga beberapa kali tanpa ampun, tanpa memberi Tetsuya istirahat sehingga hingga klimaks Tetsuya yang kesekian kalinya, Tetsuya pingsan. Dapat dikatakan, Chihiro sudah gila. Dia tidak bisa berhenti. Tetsuya yang selama ini hanya bisa dia lihat keindahannya, sekarang sudah menjadi miliknya. Chihiro tersenyum, namun senyuman itu adalah senyuman kepedihan yang teramat menyakitkan. Air mata Chihiro mengalir deras melihat tubuh Tetsuya yang tak sadarkan diri terlonjak mengikuti hentakan tubuh Chihiro.

Bahkan saat Tetsuya pingsan pun, Chihiro masih melanjutkan kegiatannya. "Aku mencintaimu Tetsuya, aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu uhnn..!" bersamaan dengan klimaks Chihiro yang entah keberapa kalinya, tubuhnya ambruk di samping Tetsuya yang masih pingsan. Chihiro menyusul Tetsuya ke alam mimpi, padahal beberapa menit lagi, hari sudah hampir pagi. Sebelum terlelap, Chihiro tersenyum tipis. Masalah yang menghantuinya sejak kemarin menjadi hilang begitu saja dari pikirannya. Kini Chihiro sudah sangat siap untuk menghadapi hari esok — membalas kelakuan paman sialan itu.


Tetsuya terbangun ketika jam sudah hampir menunjukkan pukul 9 pagi. Matanya mengerjap perlahan. Ketika kesadarannya kembali sepenuhnya, Tetsuya langsung terlonjak kaget dengan nafas yang memburu, jantungnya berdebar sangat kencang. Bayangan tentang kejadian tadi malam terlintas dengan sangat cepat dipikirannya. Air matanya mulai mengalir lagi tanpa bisa ditahan. Tetsuya benar-benar berharap tadi malam itu hanyalah sebuah mimpi yang sangat buruk.

Dilihatnya sekeliling kamar milik Chihiro, tidak ada siapapun dikamar itu, barang-barang pecah yang tadi malam berserakan sudah kembali rapi, bahkan di kamar mandi pun tak ada suara. Apa mungkin Chihiro di dapur. Ia sangat ingin menemui Chihiro, tapi Tetsuya masih sangat takut. Banyak yang ingin dia tanyakan pada kakaknya itu.

Segera Tetsuya turun dari tempat tidur dan beberapa detik kemudian tubuhnya ambruk ke lantai. Pinggangnya benar-benar sakit dan nyeri. Dirinya masih tidak mengenakan pakaian sama sekali dan cairan putih perlahan mengalir dari lubang Tetsuya, ia tahu cairan itu adalah milik Chihiro. Sekali lagi Tetsuya menangis keras sembari meringkuk disisi tempat tidur.

"Jijik... uuuuu hikss, jijiiik hic hic"

Tangan Tetsuya mencengkeram kedua lengannya dan mencakar kasar dirinya sendiri hingga kedua lengannya memerah. Tangisan serak suara Tetsuya yang hampir habis terdengar beberapa lama di kamar itu.

Tetsuya berjalan dengan susah payah ke kamar mandi. Membersihkan dirinya, Tetsuya melihat pantulan dirinya di depan cermin besar kamar mandi. Sangat mengenaskan. Banyak sekali bekas gigitan dan hisapan di sekujur tubuhnya akibat perlakuan Chihiro. Pergelangan tangannya memerah dan lebam di beberapa tempat. Mata Tetsuya memerah dan bengkak. Dan untuk kesekian kalinya Tetsuya menangis.


Selesai mandi dan mengenakan pakaian, Tetsuya turun ke lantai bawah, hendak mencari Chihiro di dapur, namun nihil. Yang ada hanya menu sarapan yang mungkin disiapkan Chihiro pagi tadi. Tetsuya berjalan melewati ruang tamu, dilihatnya vas pecah yang kemarin hancur berantakan sudah bersih. Mungkinkah Chihiro pergi ke kantor? Tetsuya segera melihat garasi dan benar saja, mobil Chihiro sudah tidak ada di tempat.

Tetsuya menunduk lesu dengan air mata yang lagi-lagi kembali menggenang. "Bagaimana bisa kau pergi ke kantor sementara aku sangat hancur disini Nii-san? Tidakkah kau ingin minta maaf padaku?"

Duduk di teras rumah, Tetsuya menatap kosong taman bunga didepannya. Bayangan pada malam itu masih membuat Tetsuya kebingungan. Ia ingat betul bagaimana wajah putus asa Chihiro memanggil namanya, dimana sedetik kemudian wajah putus asa itu menjadi kejam dan tak berperasaan. Saat itulah Tetsuya mengira, dia sudah kehilangan kakaknya yang dulu. Namun setelah semua perlakuan kejam itu, Chihiro kembali tersenyum tulus padanya. Senyum yang belum pernah Tetsuya lihat sejak kematian orangtuanya. Dan yang terakhir, Chihiro bilang bahwa dia mencintainya? Akh, Otak Tetsuya tidak mampu mencerna apapun. Semua yang terjadi padanya terlalu membingungkan.


Hari mulai sore dan sinar jingga matahari masuk menembus sela-sela jendela yang tertutup gorden tipis. Sejak siang tadi setelah bosan di teras, Tetsuya hanya melamun di dalam kamarnya. Sarapan buatan Chihiro tidak disentuhnya sama sekali. Tetsuya belum makan apa-apa sejak bangun tidur tadi. Semua kejadian yang menimpanya membuatnya tidak merasakan rasa lapar. Yang ada hanya perih di dadanya yang semakin lama diingat akan semakin menyakitkan.

Chihiro belum juga kembali dari kantor. Tetsuya tidak berani menelponnya. Ia ingin secepatnya bertemu Chihiro namun Tetsuya tidak tahu apa yang nantinya akan dia katakan. Ia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa kakaknya memiliki kepribadian yang bahkan Tetsuya sudah tidak tahu mana yang benar. Bagaimana jika Chihiro sebenarnya adalah orang yang jahat? Apa selama ini semua kebaikan yang Chihiro tunjukkan pada Tetsuya adalah palsu?

"Tidak! Aku percaya Nii-san. Mungkin dia mabuk tadi malam. Ya! Mungkin dia mabuk."

Meneguhkan niat, Tetsuya harus kuat. Tidak mungkin Chihiro bisa berubah drastis hanya dalam satu malam. Begitu pikir Tetsuya — dan kini kau tahu, betapa bodohnya Tetsuya berpikir demikian.


Jam menunjukkan pukul 11 malam. Tetsuya masih belum tidur. Mau tidak mau secepatnya ia harus menemui Chihiro jadi dia akan menunggu kakaknya itu pulang.

Sebenarnya Tetsuya sangat lelah walaupun seharian dia tidak melakukan apapun dan hanya melamun. Namun akibat dirinya terlalu banyak memikirkan masalahnya, tenaganya benar-benar terkuras, bahkan dia belum makan yang membuat kondisinya semakin lemas.

Deg! Jantung Tetsuya berdebar sangat kencang tatkala terdengar suara mobil memasuki garasi. Tubuh Tetsuya mulai bergetar ketakutan. Sekuat apapun dia mengumpulkan niat untuk berbicara dengan Chihiro, pada akhirnya ciut juga.

Terdengar suara pintu depan rumah terbuka dan "Tadaima..." suara Chihiro memecah keheningan. Dengan segera Tetsuya mengunci pintu kamarnya dan meringkuk disudut kamar yang berjauhan dengan pintu.

"Tetsuya? Dimana? Kenapa lampunya tidak dinyalakan?"

Tetsuya tidak menjawab, dia menggigiti kuku jarinya gelisah. Tak terasa, ketakutannya membuat air mata tanpa sadar mengalir dengan deras namun tanpa suara. Terdengar Chihiro menaiki tangga ke lantai dua dan langkah kaki Chihiro tepat berhenti di depan kamar Tetsuya. Ganggang pintu terlihat bergerak dari arah luar, Chihiro berusaha membukanya.

"Tetsuya di dalam? Kenapa belum menyentuh sarapanmu? Apa Tetsuya sudah makan?"

Tetsuya tidak menjawab. Bagaimana bisa Chihiro berbicara setenang itu sementara Tetsuya hampir gila memikirkan kelakuan bejatnya seharian.

Cklek! Perlahan pintu kamar Tetsuya terbuka.

Kaget setengah mati. Tetsuya baru ingat, kalau Chihiro mempunyai kunci cadangan kamarnya. Mata mereka bertemu. Tetsuya yang terbelalak ketakutan, dan Chihiro dengan tatapan teduh tersenyum lembut pada Tetsuya. Senyuman itu, Tetsuya tak tahu apa artinya. Apakah itu senyuman pahlawannya yang dulu? Atau itu hanya pengalihan agar Chihiro bisa menyakiti Tetsuya lagi. Perlahan Chihiro berjalan mendekati Tetsuya yang meringkuk, semakin merapatkan dirinya pada pojokan dinding.

Chihiro berjongkok di depan Tetsuya. "Tetsuya, tadaima.." lalu mengecup bibir Tetsuya dengan lembut. Tubuh Tetsuya kaku. Terjadi lagi. Tetsuya mulai terisak pelan sembari mendorong Chihiro untuk mundur.

"Ku mohon hentikan.." meletakkan kedua telapak tangannya di dada Chihiro, Tetsuya menunduk memohon sambil menangis.

Senyuman lembut yang terlukis di wajah Chihiro tadi seketika berubah menjadi ekspresi sedih. "Tetsuya membenciku?" —menggenggam tangan Tetsuya.

Tetsuya mendongak, "Nii-san, katakan padaku bahwa malam itu, semua yang kau lakukan padaku hanyalah mimpi. Katakan padaku bahwa itu semua mimpi. Uuuhh hic hic. Aku... mana mungkin aku membencimu Nii-san. Kau adalah satu-satunya keluarga yang ku miliki. Tapi kenapa? KENAPA KAU TERSENYUM DISAAT KAU MELAKUKAN HAL KEJAM ITU PADAKU!? Saat itu kau mabuk kan? Iya! Kau mabuk kan Nii-san. Kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan padaku kan? JAWAB AKUU!" teriakan Tetsuya menggema di seluruh kamar. Tetsuya menangis histeris sambil memeluk Chihiro. "uuhuu aku.. hic takut sekaraaang hic hic. Kumohon, jangan berubah seperti ini."

Chihiro terdiam sejenak kemudian menangkup kedua pipi Tetsuya. "Badanmu bergetar, kau pasti belum makan. Ayo, Tetsuya harus makan." —hendak menarik tangan Tetsuya. "Nii-san, JAWAB AKUU!"

Pertanyaan itu tak digubris oleh Chihiro, dia menarik paksa Tetsuya yang sudah kehabisan tenaga menuju ruang makan, kemudian mendudukkan Tetsuya yang masih menangis di meja makan. Sementara Chihiro memasak, Tetsuya berpikir. Ah, mungkin kakaknya yang dulu sudah mati, digantikan dengan iblis yang saat ini memasakkan sesuatu untuknya. Semoga saja didalam masakan itu ada racunnya sehingga Tetsuya bisa segera bertemu kedua orangtuanya.

Masakan sederhana berupa bubur telah siap di meja makan. Chihiro duduk disebelah Tetsuya dan hendak menyuapi adiknya itu. "Tetsuya, ayo buka mulutmu. Aaa.." Tetsuya bungkam.

"Tetsuya ingat? Kata ibu, kalau kau tidak memakan makananmu, nanti makanan itu akan menangis loh. Ayo makan, buka mulutmu.. bukankan kau selalu suka bubur buatan Nii-san?"

Tetsuya menatap Chihiro, bagaimanapun juga sosok didepannya ini juga bisa menjadi Chihiro yang selama ini dia kenal. Tetsuya tidak mengerti, terlalu rumit baginya. Ini seperti sebuah kutukan yang membuatnya gila.

Sambil menangis, Tetsuya membuka mulutnya dan memakan suap demi suap bubur yang Chihiro berikan kepadanya dan benar saja, rasa bubur itu masih tetap sama dengan yang dimasak Chihiro dulu.

"Siapa kau sebenarnya?" Tetsuya bertanya setelah menelan bubur dimulutnya.

Tak ada jawaban dari Chihiro. Dia terlalu sibuk menyuapi Tetsuya dan menatapnya dengan lembut seraya tersenyum. Oke, kini Tetsuya mulai membenci senyuman itu.

Kegiatan makan malam Tetsuya berjalan tanpa kata. Tetsuya dengan tatapan kosongnya dan Chihiro dengan wajah sumringahnya sambil sesekali menyeka sisa makanan di sudut bibir Tetsuya dengan tangannya.


Selesai makan, Tetsuya tetap mematung di meja makan sementara Chihiro membereskan dapur.

"Apa kau tidak ingin minta maaf padaku?" Tetsuya beranjak dari meja makan dan menghampiri Chihiro yang sudah selesai beres-beres.

Chihiro berbalik dan memegang kedua pipi Tetsuya. "Tetsuya besok ingin menu sarapan apa? Nii-san akan memasakkannya untukmu." Tetap tersenyum dengan lembut. Semakin lama semakin memuakkan. Tetsuya muak melihatnya dan segera menepis kasar tangan Chihiro. "PERSETAN DENGAN ITU SEMUA!" dengan segera Tetsuya hendak pergi dari hadapan Chihiro. Ini baru kali pertama Tetsuya berbicara kasar pada sang kakak. Dalam hati Tetsuya sangat hancur. Tidak bisakah Chihiro menjadi kakaknya yang dulu, yang sangat dia sayangi.

Tetsuya berjalan cepat menuju kamarnya, namun belum sempat ia meraih ganggang pintu, tangan Chihiro menariknya dengan kasar, membawa tubuh kecil Tetsuya ke arah kamar Chihiro.

Tetsuya panik, bayangan tentang hal itu membuat Tetsuya dengan cepat menggigit pergelangan tangan Chihiro untuk melepaskan diri. "AAKH! APA YANG KAU LAKUKAN TETSUYA!?" Chihiro memekik kaget dan mencengkeram surai biru itu dengan satu tangan.

"LEPASKAN AKU! LEPAAAS! AKH SAKIIT" Tetsuya beteriak namun sulit memberontak karena cengkeraman Chihiro pada rambutnya sangat kuat.

"Tetsuya! Bukankah sudah ku katakan, aku mencintaimu. Kenapa kau selalu menolakku? Aku akan menjaga Tetsuya. Aku tidak bisa hidup tanpa Tetsuya. Kau milikku selamanya." Cengkeraman pada rambut dilepas lalu dengan cepat tubuh Tetsuya diangkat menuju ke kamar Chihiro.

Belumlah sembuh luka Tetsuya, kini dia dipaksa kembali untuk melayani nafsu bejat kakaknya sendiri. Kau tidak akan percaya betapa gilanya kutukan yang Tuhan berikan kepada Tetsuya. Kalau boleh memilih, Tetsuya ingin mati saja sekarang. Berkali-kali Tetsuya meminta tolong malam itu. Berkali-kali pula ia memanggil nama Tuhan agar mau menolongnya. Tapi tak ada apapun, tak ada siapapun yang datang menolongnya. Tetsuya benar-benar sendirian di dunia ini. Bahkan kini Tetsuya tak memberikan perlawanan sama sekali saat Chihiro melakukan apapun yang dia mau pada tubuh Tetsuya.

Persetan! Tetsuya sudah rusak. Biar saja dia cepat mati sekalian.


Esoknya, Chihiro dengan senyum berseri yang terpatri di wajahnya memasak sarapan untuk Tetsuya yang masih belum bangun dari tidurnya — lebih tepatnya belum tersadar dari pingsannya. Ya, Tetsuya kembali dibuat pingsan oleh Chihiro si bejat itu. Heh, sadis sekali iblis yang merasuki Chihiro.

Tak lama kemudian smartphonenya berdering. Ada panggilan masuk dari orang kepercayaannya di kantor.

"Ya Haizaki, bagaimana perkembangannya?" Chihiro bertanya dengan senyuman liciknya — entah kapan dia belajar tersenyum jahat seperti itu.

"Semua sudah beres. Paman terkutuk itu sudah kami 'bantai' haha. Kini dia sudah tidak memiliki apapun lagi. Selain itu, kami sudah menyerahkan kasus selanjutnya ke tangan polisi agar memberi kesan yang baik bagi perusahaan kita dengan mengikuti ketentuan hukum yang ada pak" suara pria bernama Haizaki di seberang telepon menjawab dengan panjang lebar.

Lagi-lagi Chihiro tersenyum semakin lebar. Senyuman yang tidak jauh beda dari seorang joker. "Kerja bagus. Akan ku tambah bayaran untukmu." Menutup sambungan telepon dan segera Chihiro bergegas menuju kamarnya untuk membangunkan Tetsuya.


Di tempat lain, seorang remaja bersurai merah sedang duduk santai menyandarkan tubuhnya pada kursi direktur sembari membaca beberapa lembar kertas.

"Maaf Tuan muda Akashi. Apa sebenarnya tujuan anda datang kemari? Bukankah tes masuk sekolah ini sudah selesai dua hari yang lalu?" seorang pria paruh baya bernama Hyuga Junpei bertanya dengan sopan pada remaja merah bernama Akashi itu.

"Memangnya, apa salahnya jika aku ingin melihat-lihat sekolah milik ayahku ini? Apa kau keberatan Hyuga-san?" beralih menatap Hyuga dengan tajam.

"Tentu saja aku tidak keberatan Tuan muda Akashi ingin mengenal lingkungan sekolah miliknya. Aku yakin, tanpa menggunakan koneksi dari orang dalam pun, tuan muda Akashi akan dengan sangat mudah lolos dalam ujian masuk sekolah ini." Hyuga tersenyum berat yang dipaksakan. Bisa hancur dia jika berani-berani membuat remaja didepannya ini marah.

"Ku terima pujianmu itu Hyuga-san." — kembali sibuk memperhatikan lembaran kertas yang dipegangnya sambil sesekali tersenyum tipis.

Tapi Hyuga sedikit penasaran, tidak biasanya karena akhir-akhir ini Akashi sering tersenyum seperti sedang merencanakan sesuatu. "Maaf jika aku lancang. Apakah benar tuan muda hanya ingin melihat-lihat sekolah ini saja? Atau mungkin ada sesuatu yang membuat anda tertarik?" Hyuga merutuki dirinya sendiri yang terlalu mudah penasaran. Dalam hati dia berdoa semoga Akashi tidak merasa tersinggung.

"Heeeeh, kau jeli juga rupanya Hyuga-san. Tidak salah jika ayahku menjadikanmu direktur di sekolah ini. Tentu saja ada sesuatu yang membuatku sangat tertarik. Kau ingat kan, aku sudah menyuruhmu mencari keberadaan seseorang?" Kini Akashi beranjak dari kursi yang dia duduki tadi dan berjalan ke arah jendela sambil membawa lembaran kertas yang dari tadi ia pegang.

"Apakah yang anda maksud itu anak yang juga mengikuti tes masuk di sekolah ini? Kalau tidak salah namanya kuro... kurotsu..." Hyuga tampak mengingat-ingat nama anak itu.

"Kuroko Tetsuya. Apa dia lolos?" Akashi bertanya sambil menunjukkan lembaran kertas di tangannya yang ternyata merupakan biodata Kuroko Tetsuya.

Hyuga segera saja memanggil salah seorang staf yang bertugas menyeleksi ujian masuk sekolah.

"Anak yang mendaftar bernama Kuroko Tetsuya tidak lolos seleksi ujian masuk. Hal ini dikarenakan terdapat nilai yang tidak memenuhi standar penilaian pada beberapa mata pelajaran tuan." Staf tersebut menjelaskan tanpa berani menatap Akashi.

"Loloskan dia." Akashi memerintah sambil memberikan lembaran biodata Tetsuya.

"Ta..tapi tuan muda, i..ini akan menyalahi aturan penilai-"

"Apa kau ingin di pecat?" belum sempat perkataan staf itu selesai, Akashi langsung memberi ancaman. Staf itu termasuk orang yang beruntung karena perintah Akashi itu absolut, sekali di bantah, siap-siap saja di pecat. Mungkin hari ini Akashi sedang tidak mood untuk memecat orang.

"Ma..maafkan saya tuan muda. Saya akan langsung meloloskan anak yang bernama Kuroko Tetsuya secepatnya." Akashi mengangguk dan segera staf itu mohon diri untuk melakukan tugasnya.

Dalam hati Hyuga sangat penasaran, apa yang sedang direncanakan Akashi pada anak imut yang bernama Kuroko Tetsuya itu — sekilas tadi Hyuga melihat foto yang tertempel pada biodata Tetsuya sebelum Akashi mencabut dan menyimpan foto itu, ya memang Tetsuya itu terlalu imut untuk ukuran remaja seumurannya. Bahkan sangat berbeda jauh dari tuan muda Akashi yang saat ini masih betah nongkrong di ruangan direktur Hyuga. Menahan rasa sebalnya pada tuan muda absolut itu, Hyuga hanya bisa berdoa semoga Akashi cepat pulang — atau setidaknya pergi dari ruangan Hyuga agar ia bisa segera bersantai.


Bersambung