Seulgi melangkahkan kakinya perlahan menyusuri koridor gedung dengan bersenandung pelan. Sesekali melirik kotak makanan ditangannya dan tersenyum kecil. Rencananya ia ingin mengajak Sehun makan masakan buatannya, tak sabar, gadis itu berlari kecil menuju kelas dimana Sehun berada.

"Sehunnie," panggilnya ceria, dilihatnya Baekhyun dan Kyungsoo berwajah panik. Sejenak ia tertegun.

Gadis itu melihat Sehun menoleh dan segera saja ia melemparkan senyum manis, baru ia ingin beranjak menghampiri Sehun, ia malah dikejutkan dengan teriakan Baekhyun dan Kyungsoo.

"LUHAN!"

Seulgi tertegun mendengar Kyungsoo menjeritkan nama seseorang yang selama ini selalu dirindukan oleh Sehun, nama yang selalu membuat Seulgi kalah dalam hal apapun. Dan sekarang, bukan hanya namanya saja, melainkan sesosok gadis yang saat ini tengah didekap oleh Sehun dan dibawa keluar ruangan, melewatinya begitu saja. Luhan.

Seulgi jatuh terduduk bersama dengan kotak makanan yang dibawanya begitu Sehun, Baekhyun dan Kyungsoo beserta Luhan menghilang dibelokan. Dadanya sesak melihat kemungkinan yang selama ini ada padanya seperti sia-sia. Luhan kembali, gadis itu kembali. Dan sekali lagi, Seulgi kalah...

..

..

Title : I'm Sorry

Cast : HunHan, pair official EXO. GS for Uke

Genre : Humor, Drama

Chapter : 1-END

Disclaimer : Cast asli itu punya Tuhan, dan atas izin Tuhan juga pheo bisa mengupdate ff ini, jangan men-copas tanpa seizin pheo yaa .. typo bertebaran.

.

.

.

Oh Pheonix present

.

.

.

Sehun terus menerus menggenggam tangan Luhan yang sekarang tengah tertidur lelap diranjang rumah sakit, tadi siang begitu melihat rusa cantiknya pingsan ia segera membawanya kerumah sakit sementara Baekhyun dan Kyungsoo mengekor sambil menelpon Heechul. Sekarang dua gadis itu bersama Heechul sedang mengurus administrasi dan membeli makan malam.

Seakan tak pernah bosan, Sehun terus menatap lekat-lekat wajah damai gadis rusa itu yang tengah tertidur walaupun sempat mengamuk. Ya, Luhan mengamuk karena tidak menemukan Heechul ataupun Hangeng pasca sadar dari pingsan dan malah melihat tiga orang 'asing'.

"Aku sangat merindukanmu, Xiao Lu..." gumam Sehun lirih, mengecup punggung tangan Luhan yang berada digenggamannya dan menatap Luhan dengan sendu. "Jangan pergi lagi..."

Luhan menggeliat dalam tidurnya, sedikit mengernyit sebelum akhirnya mengerjapkan kedua matanya perlahan-lahan. Sehun menatapnya tanpa melakukan apapun, gadis itu sempat melihat sekeliling sebelum akhirnya tatapan matanya jatuh pada Sehun.

"K-kau.. siapa..?" ujar Luhan serak, menyipit dan mencoba melihat Sehun lebih jelas. Sehun mengusap genggaman tangannya dan tersenyum tipis.

"Oh Sehun..." jawabnya pelan, namun Luhan masih bisa mendengarnya. Dahinya seketika mengernyit bingung, ia merasa pernah mendengar nama itu, atau tepatnya mengenal nama itu. Namun ia tak ingat.

Sehun tersenyum maklum, namun melihat Luhan yang seperti ini membuat hatinya meringis perih.

"Oh Sehun..." Luhan menggumam, bola matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.

"Oh Sehun!"

"Hahaha, Mianhae Lulu!"

"Kemari kau! Aish jinjja!"

"Jangan marah, Lu. Kau terlihat jelek."

"MWORAGO? Ya! OH SEHUN!"

"Oh Sehun..." Luhan kembali menggumamkan nama yang sama saat sekelebat ingatan kembali muncul dikepalanya, ia memejamkan matanya sementara Sehun hanya diam memperhatikan.

'Tidakkah kau mengingatku, Lu?' batin Sehun perih.

Pada akhirnya Luhan menyerah, ia memejamkan matanya dan mencoba rileks untuk kembali tidur, tanpa menyadari bahwa sedari tadi tangannya digenggam erat oleh Sehun.

..

..

Luhan tengah duduk dikantin dengan kimbap dan bubble tea taro nya saat Baekhyun, Kyungsoo, Chanyeol, Jongin, Sehun dan gadis yang tidak Luhan kenal –Seulgi- datang menghampiri mejanya.

"Hai, Lu. Boleh kami bergabung disini?" tanya Jongin ramah, Luhan mendongak dan menatap mereka bergantian. Pasca kejadian dua minggu lalu dimana ia pingsan dan dilarikan kerumah sakit, gadis itu mulai bisa menerima kehadiran orang lain dikehidupannya selain Mama dan Babanya juga paman Lee.

Luhan mengangguk pelan, yang langsung disambut pekikan bahagia dari Baekhyun dan Kyungsoo. Dua gadis itu langsung mengambil tempat disamping kiri kanan Luhan sementara Jongin dan Chanyeol duduk didepan mereka. Sehun yang duduk disamping Jongin sementara Seulgi harus puas berada diantara kubu laki-laki dan perempuan.

"Woahh, kau masih memakan kimbap dan minum bubble tea? Boleh aku minta kimbapnya?" tanya Chanyeol, biasanya dulu ia akan langsung duduk dan mengambil kimbap Luhan, namun karena sekarang keadaannya berbeda, ia harus berusaha bersikap ramah.

Luhan mengangguk dan menyorongkan kimbapnya agak ketengah agar Chanyeol bisa mengambilnya. Chanyeol tersenyum ramah sembari menggumamkan kata terima kasih dan mengambil satu potong kimbap dengan wajah sumringah.

Luhan tanpa sadar tersenyum, ia seperti pernah mengalami kejadian ini, kejadian dimana ia berbagi makanan dengan orang lain. Walaupun ia masih belum ingat apapun.

Sehun yang sejak tadi memang memperhatikan Luhan dan melihat Luhan tersenyum ikut menyunggingkan senyum tipisnya. Setidaknya suasana dan keadaannya tidak secanggung kemarin.

"Ya ya ya! Jangan tersenyum pada idiot itu, Luhan. Nanti dia menganggap kau menyukainya." Tegur Baekhyun kesal, Luhan tersentak dan segera menunduk. Jongin, Kyungsoo dan Chanyeol terbahak.

"Memangnya kenapa sih, baek? Kau cemburu ya?" goda Chanyeol, Baekhyun mendelik namun rona merah diwajahnya tidak bisa disembunyikan.

Seulgi yang melihat pemandangan itu hanya bisa tersenyum miris, selama ini dia tidak pernah diajak bicara oleh Baekhyun maupun Kyungsoo, namun sekarang saat Luhan ada disini dengan gampangnya ia mendapat perhatian dari semua orang. Termasuk Sehun.

"Ah, aku akan memesan. Kalian mau pesan apa?" tanya Kyungsoo.

"Pesankan aku jajjangmyeon, Kyung. Aku lapar." Jawab Baekhyun, Jongin mengangguk setuju.

"Aku juga mau, Kyungie-ku sayang..."

Kyungsoo mendelik, namun ia tetap mengangguk. "Kau?" tanyanya pada Sehun dan Chanyeol.

Chanyeol menunjuk kimbap Luhan dengan wajah polos, Kyungsoo mengangguk dan beralih menatap Sehun.

"Bubble tea." Jawab Sehun, seketika Luhan mendongak.

"Aku mau bubble tea, Lu..."

"Aku tidak mau."

"Lulu~"

"Tidak mau, Sehun!"

"Ayolah, Lu.. bubble tea..~"

Luhan kembali memejamkan matanya saat satu ingatan kembali muncul dikepalanya, sedetik kemudian ia mengamati satu persatu wajah teman-teman barunya. Ia yakin semua ini ada hubungannya dengan mereka.

"Seulgi-ssi, kau mau pesan apa?" ucapan Kyungsoo memecahkan konsenterasi Luhan kala ia ingin kembali mengingat masa lalunya.

Seulgi tergagap sebentar sebelum akhirnya menjawab pelan, "Orange juice saja jika tidak keberatan, Kyungsoo-ssi."

Kyungsoo tersenyum tipis sebelum akhirnya mengangguk. Walaupun mereka memang kurang menyukai keberadaan Seulgi ditengah-tengah mereka –apalagi ada Luhan sekarang, namun Kyungsoo tidak bisa mengungkapkannya secara terang-terangan, berbeda dengan Baekhyun yang ceplas-ceplos dan apa adanya.

"Tunggu disini sebentar."

Selepas kepergian Kyungsoo yang mengantri untuk memesan makanan dan minuman mereka, Baekhyun memulai dengan mengajak Luhan mengobrol yang sesekali ditimpali oleh Jongin ataupun Chanyeol, sedangkan Sehun dan Seulgi hanya memandangi mereka dengan pandangan berbeda.

Jika Sehun melihatnya dengan tatapan tenang dan sesekali tersenyum melihat Luhan tersenyum malu-malu mendengar gurauan Chanyeol dan godaan Jongin, maka lain halnya dengan Seulgi. Gadis itu hanya bisa menatap miris kearah Sehun dan Luhan bergantian. Selama dua tahun semenjak Luhan pergi, Seulgi tidak pernah melihat Sehun tersenyum, bahkan karena dirinya. Tapi sekarang ia tengah tersenyum dengan mata yang tak pernah lepas dari Luhan.

'Tatap aku, Sehunna...'

"Makanan dataaangggg~" Kyungsoo berteriak gembira dengan nampan yang penuh berisi makanan dan minuman. Ia meletakkan nampan itu dimeja, dan satu plastik berisi beberapa bubble tea disamping nampan itu.

"Woahhh, selamat makaannnn~" teriak Baekhyun tak kalah heboh, Luhan menoleh dan memperhatikan Baekhyun dengan seksama.

Baekhyun yang merasa diperhatikan menoleh dan bertanya heran, "Ada apa, Lu? Kau mau?" tanyanya sembari mengangkat sumpit yang sudah dililit jajangmyeon kearah Luhan.

Luhan tersenyum dan menggeleng, "Ani.. hanya saja, aku merasa... kau seperti seseorang yang mungkin pernah kukenal dimasa lalu..."

"Uhuk!" Jongin yang sedang meminum bubble tea nya tersedak tiba-tiba, begitupun lima pasang mata disana.

"Kau serius?" tanya Baekhyun antusias, Luhan menatapnya tak yakin.

"Tidak terlalu, terlalu samar..." ungkap Luhan jujur, Baekhyun langsung memeluk Luhan dengan erat.

"Tidak apa-apa, jangan terlalu dipaksakan. Kau akan bisa mengingatnya nanti! Aku yakin itu!" ujar Baekhyun semangat, Kyungsoo tersenyum lebar dan ikut memeluk Luhan yang sekarang mengernyit bingung.

Sehun, Jongin dan Chanyeol sedikit menghela nafasnya dengan lega, setidaknya Luhan bisa mengingat mereka semua perlahan-lahan. Namun tidak bagi Seulgi, ini adalah sebuah ancaman tak kasat mata.

Ya, Seulgi memang sudah tahu perihal Luhan yang mengalami amnesia, Sehun sendiri yang menceritakannya dan memintanya untuk ikut menolong Luhan. Ia hanya bisa mengangguk pasrah saat mendengar permintaan Sehun, tak kuasa menolak.

"Ehem," Seulgi memecah euforia Baekhyun dan Kyungsoo dengan dehemannya, Sehun ikut menoleh. "Maaf, tapi sepertinya aku harus pergi lebih dulu. 5 menit lagi kelas ku dimulai." Ujarnya selembut mungkin dan membungkuk singkat sebelum berbalik meninggalkan kantin.

"Ah! Bagaimana kalau akhir pekan ini kita menginap saja. Sehunna, rumahmu bagaimana?" tanya Chanyeol, Sehun menoleh dan saat itulah ia melihat Chanyeol mengedip padanya. Ia tersenyum dan mengangguk.

"Ya, aku ikut! Aku ikut! Luhannie, kau harus ikut." Pekik Kyungsoo semangat.

Luhan mengerjap polos, "Ikut kemana?"

"Menginap tentu saja," jawab Jongin gemas.

"Menginap?"

"Ya, dirumah Sehun."

..

..

"Ahjumma dan Ahjussi belum pulang ya, Hun?" Baekhyun berjalan lebih dahulu memasuki mansion keluarga Oh dengan cuek. Mereka memang sering datang kesini, jadi tak ada rasa canggung lagi. Berbeda dengan Luhan yang berjalan masuk dengan ragu-ragu. Sehun yang melihat itu segera menggenggam erat jemari Luhan.

Gadis itu mendongak dan mendapati Sehun sedang tersenyum manis padanya,

"Tidak apa-apa, anggap saja rumahmu," ujar Sehun kalem, seakan tahu pikiran resah Luhan.

Luhan tertegun sebentar dengan detak jantung yang bergemuruh heboh. Ia tidak mengerti, namun saat berada disamping Sehun gadis itu merasa nyaman dan merasa Sehun bukanlah orang asing. Hatinya berkata begitu.

"Y-ya..." jawab Luhan pelan, Sehun tersenyum dan menariknya masuk kedalam. Luhan tak menolak sama sekali.

"Selamat datang Tuan Muda.. ah? Nona Muda Luhan? Selamat datang..." Luhan mendongak dan menatap seorang butler paruh baya yang sedang tersenyum ramah padanya.

"A-anda mengenal saya?" tanya Luhan sangsi, melirik Sehun yang tersenyum tipis.

Butler yang diketahui adalah kepala pelayan Kang tersenyum maklum dan mengangguk sopan. Sehun sudah menceritakan semuanya pada orang tua dan juga penghuni rumahnya tentang keadaan Luhan.

"Tentu, Nona tidak berubah sama sekali. Semakin cantik."

Luhan mengerjap polos dan mengerutkan dahinya mendengar penuturan kepala pelayan itu, ia baru pertama kali –mungkin- datang ke rumah Sehun namun sambutan yang ia dapat seperti sering kesini.

"Apa makan siangnya sudah siap, Kang Ahjussi? Teman-temanku sudah kelaparan." Sehun berusaha memutus perbincangan agar Luhan tidak terlalu memikirkan hal ini. Kepala pelayan Kang menoleh dan tersenyum sopan.

"Sudah, Tuan Muda."

"Baiklah, terima kasih."

Dengan itu Sehun melemparkan senyum tipisnya pada sang kepala pelayan dan menggamit Luhan menuju ruang tengah dimana teman-temannya berada.

"Kau darimana? Tersesat dirumahmu sendiri ya?" sindir Jongin begitu melihat Sehun dan Luhan datang.

"Duduk disini, Lu." Seru Kyungsoo dan menepuk tempat kosong diantara dirinya dan Baekhyun.

"Kita makan saja dulu, maid ku sudah menyiapkan makan siang." Sela Sehun dan menahan Luhan yang ingin berjalan menghampiri dua gadis itu.

"Ah! Benar, kita makan saja dulu. Aku lapar." Chanyeol dengan segera bangkit dan mengulurkan tangannya pada Baekhyun, "Kajja, Baek."

Baekhyun dengan senang hati menyambut uluran tangan kekasihnya dan berjalan riang menuju ruang makan. Diikuti Kyungsoo dan Jongin dengan Sehun dan Luhan yang mengekor dibelakang.

Ya, sesuai rencana mereka beberapa hari lalu, mereka memang menginap dirumah Sehun pada akhir pekan. Tujuannya hanya satu, mencoba lebih dekat dengan Luhan dan mengembalikan ingatan gadis itu. Heechul dan Hangeng pun tidak keberatan dan malah memekik senang dengan ide mereka. Mereka tahu bahwa anak-anak itu tidak akan berbuat macam-macam atau melakukan hal-hal yang diluar batas.

Luhan sendiri bingung dengan Mama dan Babanya yang langsung mengizinkannya, entah kemana sikap overprotective kedua orang tuanya jika Luhan sudah bersama Baekhyun, Kyungsoo, Jongin, Chanyeol dan Sehun.

Dan Seulgi? Oh, dia tidak tahu menahu soal rencana menginap ini karena Chanyeol mencetuskannya tepat setelah Seulgi berpamitan jika ia ada kelas. Pria tinggi itu sengaja melakukannya karena ingin membuat Sehun maupun Luhan nyaman, begitupun mereka.

Siang hari sudah berganti malam, keenam remaja itu juga sudah membersihkan diri dan memakai piyama masing-masing bersiap untuk tidur. Namun sepertinya tidak, karena keenam pasang mata itu nyatanya sedang berada diruang keluarga dan bermain game bersama.

Chanyeol dan Sehun terlihat tengah menatap fokus kearah layar datar LED didepan mereka dengan stick PS ditangan, sesekali terdengar umpatan dan tawa dari mereka berdua. Sementara Jongin yang sedang menunggu giliran rebahan dikedua kaki Kyungsoo yang sedang duduk bersandar dibawah sofa, kedua sejoli itu terkadang saling melempar candaan mesra. Baekhyun yang duduk diatas sofa yang tepat diatas Kyungsoo terlihat mencat kuku-kuku lentiknya, sementara Luhan tengah berkutat dengan smartphone nya sambil sesekali tersenyum kecil, jarinya bergerak lincah membalas chat seseorang diseberang sana.

Lama kelamaan, gadis rusa itu menguap. Ia melirik jam di ponselnya dan tertera angka 22:34 disana. 'Pantas saja,' batinnya. Ia tidak pernah tidur selarut ini. Perlahan ia mengedarkan matanya dan menatap satu-persatu temannya yang masih bergelut didunia mereka. Ia berpikir untuk pergi tidur lebih dulu, namun ia tidak enak. Akhirnya dengan perlahan ia memasukkan ponselnya kedalam saku piyamanya dan bersandar disofa dan memejamkan matanya, tak lama kemudian terdengar dengkuran halus yang menandakan bahwa rusa cantik itu telah terlelap kedalam alam mimpi.

Baekhyun terlihat puas dengan hasil cat dikukunya, gadis itu menggerakkan jemari lentiknya dengan anggun dan tersenyum lebar.

"Lu, bagus ti..." omongan Baekhyun menggantung begitu saja saat ia melihat objek yang ia ajak bicara sudah mendengkur halus dengan kepala yang miring kekiri dan poni yang menutupi wajah manisnya. Sejenak Baekhyun tertegun mengamati wajah damai Luhan yang sepertinya memang sudah tertidur pulas.

"Neomu yeppo..." lirih Baekhyun sambil tersenyum manis, "Sehun-ah..."

Sehun yang merasa dipanggil menoleh, mengabaikan Jongin yang merasa menang karena Sehun keluar dari fokusnya. Pemuda itu menatap Baekhyun yang malah tak menatapnya, melainkan menatap seseorang disampingnya yang tengah tertidur.

"Apa?"

Baekhyun mendongak dan menunjuk Luhan, Sehun mengarahkan tatapannya pada gadis itu dan terpana. Luhan sangat cantik.

"Dia seperti malaikat.." gumam Baekhyun, Jongin yang penasaran menoleh kebelakang dan mendapati Sehun dan Baekhyun yang masih memandangi Luhan dengan tatapan kagum.

"Well, Sehun-ah.. bawa Luhan kekamar saja. Lagipula ini juga sudah malam," sahut Jongin kala melihat waktu semakin larut, ia juga melihat kekasihnya tidur bersandar dibadan sofa dibawah Luhan.

Sehun seakan tersadar dan perlahan berusaha mendekap Luhan perlahan, takut malaikat itu terbangun. Baekhyun juga sudah berpindah tempat dan membangunkan Chanyeol yang tertidur dikarpet.

"Aku duluan," gumam Sehun dengan Luhan digendongannya, Baekhyun dan Jongin mengangguk seraya menggendong Kyungsoo kekamar tamu sementara Baekhyun membangunkan Chanyeol.

Selama perjalanan menuju kamar, Sehun tak henti-hentinya menatap kagum raut wajah damai Luhan yang bersandar nyaman didadanya. Pemuda itu sengaja membawa Luhan kekamarnya, bukan kekamar yang ditempati Baekhyun dan Kyungsoo.

Dengan hati-hati lelaki keluarga Oh itu membaringkan sang gadis ditempat tidur, Luhan menggeliat pelan seakan mencari posisi nyaman sementara Sehun menarik selimut untuknya, lelaki itu sempat menyentuh ponsel Luhan yang berada disaku piyamanya dan memindahkan benda persegi itu ke nakas disamping tempat tidurnya.

Sehun sempat terkikik geli saat melihat casephone Luhan. Bambi. Entah bagaimana gadis itu ingat kalau ia menyukai rusa biru itu.

"Tanpa sadar kau mengingat hal-hal kesukaanmu," gumam Sehun seraya menatap wajah polos Luhan sambil tersenyum.

Pandangan Sehun berubah sendu, "Aku harap kau juga mengingatku, Lu." Lirihnya. "Maafkan aku..."

Dan dengan itu, Sehun perlahan mengecup kening Luhan dengan sayang, menyalurkan rasa rindu dan kasih sayang yang selama ini terpendam selama dua tahun sebelum akhirnya mengusap surai coklat madu Luhan dan beranjak keluar kamar.

..

..

Sinar matahari mulai mencuri-curi masuk melewati celah-celah gorden yang masih tertutup, seorang gadis bergelung dibawah selimut sama sekali tak terusik sebelum suara dering telepon menginterupsinya.

Suara ponselnya yang nyaring masih saja berdengung hebat memenuhi seluruh penjuru kamar, membuat sang gadis mau tak mau membuka matanya dan menyambar ponselnya diatas nakas.

Mama calling

"Yeobseo?"

"Luhannie, sayang.. ini sudah pagi.." seseorang wanita diseberang sana langsung menyapa lembut begitu mendengar suara khas anak semata wayangnya yang sepertinya baru terbangun.

Luhan berdecak tanpa sadar, "Mama, kenapa menelpon Lulu? Seperti Mama ada ditempat jauh saja." Ujarnya serak, tangannya yang bebas digunakan untuk mengusap kedua matanya dan bersandar pada kepala tempat tidur.

"Aigoo, anak ini. Lupa jika tidak sedang ada dirumah, hm?" tanya Heechul gemas, Luhan mengernyit sebentar sebelum mengedarkan pandangan keseluruh kamat. Benar. Bukan kamarnya.

"Cepat bangun dan mandi, sayang. Dan kalau bisa pulang sebelum sore, baba mengajak makan malam. Oke? Sampaikan salam Mama pada Sehun dan teman-temanmu.."

Klik.

Luhan masih mencoba mengumpulkan kesadarannya saat sambungan telepon diputus oleh ibunya begitu saja. For your information, Luhan memang tidak bisa bangun pagi, ia akan selalu dibangunkan oleh Mamanya –Heechul-, namun berhubung sekarang rusanya itu tidak ada dirumah, Heechul merasa harus menelpon nya untuk membangunkan putrinya itu.

Ceklek

Belum juga kesadarannya pulih semua, pintu kamar terbuka menampilkan sosok pemuda berkaos biru dengan leher V-neck dan celana selutut. Luhan menoleh.

"Oh, kau sudah bangun?" sapanya sambil tersenyum tipis, pemuda itu membawa tubuhnya masuk kedalam dengan sebuah tas ransel ditangannya, "Kupikir kau masih tidur." Lanjutnya dan terkekeh pelan.

"Aku tidur disini semalam?" tanya Luhan sangsi, pasalnya ia ingat betul kalau semalam ia ketiduran disofa.

Pemuda itu –Sehun- tersenyum, "Ya, aku yang memindahkanmu kesini," ujar Sehun kalem.

Kontraksi yang ditimbulkan kalimat Sehun berefek panas pada kedua pipinya, Luhan yakin pasti warna pipinya semerah tomat karena tersipu sekaligus malu kala mengetahui Sehun menggendongnya kekamar, gadis itu menunduk dengan menggenggam ujung selimutnya.

Sehun tersenyum tampan melihat gadisnya merona malu. Oh? Apa bisa Sehun menyebut Luhan itu gadis-nya?

"Mandilah, setelah itu turun untuk sarapan."

Luhan mengangguk dalam diam dan Sehun segera beranjak dari sana setelah sebelumnya menaruh tas ransel Luhan di kaki tempat tidur. Luhan dengan segera mengambil tas ransel bergambar bambi itu dan mengeluarkan handuk dari sana, dengan segera ia melangkahkan kakinya kekamar mandi setelah sempat mengedarkan pandangannya.

Luhan merasa tidak asing dengan kamar ini, ia mengedarkan pandangannya sekali lagi dengan teliti, mencoba mengingat kalau-kalau ia memang pernah kesini. Namun Luhan tidak bisa mengingat satupun masa lalu nya.

Kilat mata rusa Luhan akhirnya tertumpu pada salah satu hal menarik disamping meja belajar Sehun, dengan raut wajah penasaran ia berjalan pelan menghampiri nya dan detik selanjutnya gadis itu mengernyitkan dahi.

Itu hanyalah sebuah mading spons dengan judul 'HunHan is Love' diatasnya, namun yang membuat gadis itu mengernyit adalah, beberapa foto yang ditempel disana dengan paku kecil warna-warni adalah foto Sehun bersama... Dirinya.

"HunHan's Love...?" gumamnya pelan, ia tidak mungkin salah, foto itu adalah fotonya dengan Sehun. "Kenapa aku bisa berfoto bersama Sehun?" ia bertanya pada dirinya sendiri dengan nada ragu.

Setelah lama berdiam diri disana, Luhan akhirnya memutuskan untuk segera membersihkan diri karena teman-temannya pasti menunggunya untuk sarapan, "Aku harus menanyakan pada Mama nanti," tekadnya sebelum masuk kedalam kamar mandi.

..

..

"Mama! Baba!" Luhan berteriak nyaring begitu memasuki mansionnya, memanggil kedua orang tuanya yang ia yakin ada didalam.

"Kenapa sayang?" suara berat khas milik Hangeng –babanya- menginterupsinya bahwa kedua orang tuanya ada diruang keluarga, dengan segera ia melangkahkan kakinya besar-besar dan duduk disofa disamping babanya dengan posisi memeluk pria paruh baya itu dari samping.

"Aigoo~ kenapa dengan anak baba yang cantik ini, hm?" Hangeng terkekeh melihat tingkah manja Luhan yang tiba-tiba datang memeluknya, dengan lembut ia mengusap surai halus putrinya itu yang masih tenggelam didalam pelukannya.

"Ya ya ya! Dasar rusa centil." Luhan dan Hangeng mendongak bersamaan saat mendengar suara cempreng khas Heechul menggema diruang keluarga itu.

"Mama!" Luhan merengut tak terima karena perkataan ibunya. Hell, dia hanya bermanja-manja pada ayahnya yang jarang bertemu, apa salahnya?

Heechul terkekeh melihat Luhan merajuk, menggoda putri semata wayangnya memang menyenangkan, lagipula jarang mereka bertiga berkumpul seperti ini.

"Apa acara menginapnya menyenangkan?" tanya Heechul antusias, Luhan jadi teringat niatan awalnya pulang cepat-cepat.

"Mama, ada yang ingin Lulu tanyakan..." ujar Luhan pelan, Heechul dan Hangeng saling menatap sesaat sebelum akhirnya menatap putri tunggalnya.

"Tentang apa, hm?" tanya Heechul lembut, mengusap surai Luhan dengan sayang sambil tersenyum manis.

Luhan terlihat menggigit bibir mungilnya, ragu-ragu untuk mengatakan, "Em..."

"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, sayang?" kali ini Hangeng yang bertanya saat melihat raut gelisah dari putrinya itu.

"Masa laluku..." gumam Luhan pelan, Hangeng dan Heechul menahan nafas, "Aku ingin tahu tentang masa laluku, Mama, Baba.." jelasnya lagi.

Heechul sempat terdiam beberapa saat setelah mendengar permintaan Luhan, wanita itu kembali beradu pandang dengan suaminya yang hanya menggelengkan kepalanya perlahan dan menggedikkan bahu, tanda bahwa ia sendiri juga tidak tahu.

"Ehm.." Heechul mencoba membuat suaranya sebiasa mungkin, "Kenapa Lulu tiba-tiba ingin tahu masa lalu Lulu? Apa Lulu mengingat sesuatu?" tanya Heechul pelan. Luhan mendongak menatap ibunya, sempat ragu sesaat.

"Kurasa, ya, Ma. Akhir-akhir ini Lulu selalu bermimpi aneh, tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang dimimpiku..."

"Benarkah?"

"Dan kupikir aku mulai bermimpi aneh semenjak Mama dan Baba memintaku untuk berteman dengan Baekhyun dan kawanannya..."

Heechul berbinar, benarkah Luhan mulai bermimpi aneh –yang Heechul yakin adalah potongan masa lalunya- semenjak dia dan suaminya meminta Baekhyun, Kyungsoo, Jongin, Chanyeol dan juga Sehun untuk membantu Luhan? Apa ini tandanya keadaan Luhan mulai membaik?

"Mama..."

Lamunan Heechul sepenuhnya buyar karena mendengar panggilan Luhan yang terdengar ragu-ragu.

"Ya, sayang?"

"Apa mereka memang mengenalku dimasa lalu?" Luhan menatap orang tuanya bergantian, "Karena aku merasa mereka tidak asing bagiku, terutama Sehun..." Luhan mengucapkan dua kata terakhirnya dengan pelan, salahkan telinga Heechul dan Hangeng yang kelewat peka hingga bisa mendengarnya.

"Sehun? Kau mengenali Sehun, sayang?"

Luhan menggeleng tak yakin, "Saat pertama kali bertemu dengannya, dan Baekhyun menyebut namanya, aku merasa tidak asing. Dan saat melihat wajahnya, aku merasa pernah melihatnya walaupun tak ingat dimana." Jelas Luhan jujur.

'Kau memang mengenalnya sayang,' batin Heechul mengerang.

"Dan.. Ma..."

"Ya?"

"Aku tidak sengaja melihat foto Sehun dikamarnya, foto selca Sehun dengan... Ku."

DEG!

Kedua orang dewasa itu sontak membulatkan kedua matanya saat mendengar penuturan Luhan, Sehun masih menyimpan fotonya dengan Luhan? Hebat.

"Lalu, apa setelah melihat foto itu Lulu mengingat sesuatu?" tanya Hangeng, sedikit berharap putri tunggalnya itu memang mengingat sesuatu.

"Ada sekelebat bayangan samar yang kulihat, tapi tidak jelas."

"Kenapa tidak tanyakan pada Sehun saja?" Heechul berujar halus, Luhan menggeleng pelan.

"Aku tidak yakin, Ma. Lagipula semuanya masih samar. Tapi Mama belum menjawab pertanyaan ku."

Heechul mengerutkan dahinya dengan bingung, "Pertanyaan yang mana?"

"Apa mereka memang mengenalku dimasa lalu? Jika iya, aku seperti orang bodoh tidak mengenali teman-temanku sendiri.." lirih Luhan. Hangeng dengan segera membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya.

"Ini semua proses sayang.. lama kelamaan Lulu akan mengingat semuanya, jangan terlalu memaksakan diri, baba tidak mau melihat keadaanmu yang kacau lagi.." ujar Hangeng pelan.

"Ne, baba.." balas Luhan dan mengeratkan pelukannya dipinggang babanya.

"Mama dan Baba menyayangimu, sayang..."

..

..

..

..

..

To BE CONTINUE

Pheo jawab review dulu ya..

Nisaramaidah28 : engga kok, pheo gak ngebikin seulgi jadi antagonis disini^^

Arifahohse, 13, seravin09 : jangan Cuma next aja chingu ^^ tapi terima kasih ^^

Juna Oh : pheo juga gatau ff ini bakal panjang atau pendek, ikutin terus aja :v gomawooooo ({})

Laabaikands : terima kasihhh ^^ pheo berulang tahun yg ke-20 ^^ tenang ff ini gak dibikin berat kok konfliknya, jadi ikutin terus aja ^^

Agassi 20 : husshhh ^^ seulgi gak jahat kok disini ^^

Oohme614 : kalo seulgi nya dibuang, ff nya end dong? :v

Sellin : hai jugaaaa~ hehe pheo juga baper loh :v

Saraxxi : hehe semoga suka yaa meski jalan cerita nya gak beda jauh dengan ff lain ^^ dan terima kasih ucapannyaa ^^

Oke, holaaaa~ masih ada ya ternyata yg nanya soal sosok asli pheo :v

Pheo ini perempuan, sekarang lagi menempuh pendidikan S1 di salah satu universitas dijakarta, semester 6 ^^ umur 20 tahun. Udh kan? Mau tanya apa lagi? Monggo...

Gimana? Masih baper, HunHannya ada moment-nya yaahh meski agak baper :v see you next chap.. annyeeoooonggggg~

.

.

Oh Pheonix 2016