Ini dia chapter 3-nya… Yumi berusaha capat…
Makasiiiiiih banget, buat semua yang review!
Semoga chapter kali ini sesuai harapan readers!
P.S: NARUTO belongs to Kishimoto Masashi-san.
Chapter 3 : Under the Moonlight
Normal POV
"Hhhhhh…" sekali lagi helaan nafas terdengar, mengundang perhatian dari orang-orang disekitarnya. Menatapnya dengan tatapan bingung, khawatir, penasaran, bahkan curiga. Tapi sang penghembus nafas hanya menatap bosan bukunya, seraya menuliskan apa yang tercatat dipapan tulis kelas.
"Kenapa lagi?" tanya Kiba yang kini sukses sweatdrop melihat teman barunya.
"Ha?" Naruto terlihat seperti orang linglung meresponnya.
"Kau ini kenapa? Sejak tadi terlihat seperti orang yang bosan hidup atau semacamnya." Tutur Neji tanpa mengalihkan perhatiannya dari papan tulis kelas dan buku dimejanya.
"A… um… tidak apa-apa, sih… Tapi entah kenapa aku lelah sekali! Ingin tidur... Ditambah lagi jari-jariku seperti habis dimasukan kedalam air es selama berjam-jam. Kaku sekali!"kata Naruto dengan kepala yang mendarat diatas meja. Jujur, dia sudah tidak peduli pada pelajaran hari itu. Tulisan dibukunyapun sudah ajaib jika dapat terbaca.
Melihat tatapan teman-temannya, dia segera mengangkat kepalanya. "A-ah, tidak apa-apa kok teman-teman… Sepertinya aku kurang tidur semalam. Um… sepertinya Kurenai-sensei memperhatikan kita." Jawabnya dengan mata yang membalas lirikan gurunya didepan kelas. Mendengar demikian, teman-temannyapun segera mengalihkan parhatian mereka dan memusatkannya pada pelajaran.
Ya. Sejak bangun tidur pagi ini, entah kenapa tubuhnya terasa sangat lelah. Meskipun dia ingat betul, ia tidak tidur terlalu malam, dan tidur sangat pulas. Tapi tetap saja, entah kenapa tubuhnya seolah kekurangan waktu istirahat. Dan jari-jarinya terasa paling lelah dari seluruh bagian tubuhnya. Membuatku ingin membolos saja… padahal ini baru hari keduaku sekolah. Hhhhh. Batinnya kesal.
Tanpa ia sadari sepasang oniks memperhatikannya dari sudut mata.
Flashback
Mata hitam itu terbuka setelah beberapa jam terlarut dalam kegelapan dan dunia mimpi. Melirik kearah jam dinding yang kini menunjukkan pukul 11.35 hampir tengah malam. Lalu mengalihkan pandangannya yang dingin kearah pintu kamarnya.
Kedua telinganya mendengar suara gaduh yang samar dari lantai bawah rumahnya dan ia bangun dari posisinya. Kemudian diraihnya jaket biru gelapnya dari sudut ruangan, sebelum mebuka pintu dan keluar dari kamarnya. Kakinya setengah terburu menuruni tangga. Hingga akhirnya dia mencapai ruang tamu rumahnya, menemukan berbagai barang yang berserakan dan sepasang wanita dan laki-laki yang kini tengah beradu mulut.
"Kenapa kau selalu membuatku kesal? Kenapa kau selalu ingin membuat kita bertengkar?" pria itu, Uchiha Fugaku, menggeram menahan amarah dengan tangan yang menggenggam erat lengan sofa.
"Aku tidak akan seperti ini kalau kau tidak memulai, Fugaku! Akupun lelah seperti ini terus!" balas istrinya dengan teriakkan frustasi.
"Dengan kata lain, kau mau berpisah, kan? Baiklah. Bukankah sejak awal kita memang saling menawarkan hal yang sama?" Fugaku mendesis memandang wanita dihadapannya.
"Lakukanlah kalau kau menginginkannya sejak awal!" Mikoto kembali berteriak. "Sasuke!" panggilnya setelah menyadari kehadiran putra bungsunya yang bahkan sama sekali tak bergeming. "Pilih! Jika kami berpisah, mana yang akan kau pilih? Ikut aku, atau dia!"
Sasuke, yang seolah menjadi 'objek' perebutan, memandang datar kedua orang tuanya. "Hn, kalau salah satu diantara kalian ingin pergi ke jurang, aku ikut." Jawabnya sakrastik, sebelum berjalan keluar ruangan, memakai boots musim dinginnya, dan berlari menuju pagar rumahnya setelah membanting pintu keluar. Meninggalkan kedua orang tuanya yang kini menatapnya diam seribu bahasa. Hingga dia mencapai pagar dan mendengar sayup suara ayahnya yang memanggilnya untuk kembali masuk kedalam rumah. Yang jelas saja tidak dihiraukannya.
Dia berjalan dan terus berjalan. Awalnya dia hanya menysusri kegelapan malam tak tentu arah. Namun tiba-tiba otaknya mencetuskan ide yang segera disetujuinya. Dia melihat sebuah perempatan jalan, dan memilih untuk berbelok ke kanan. Berjalan lurus sampai akhirnya matanya menangkap sebuah gerbang besar, yang segera dia panjat dengan mudahnya.
Dan disanalah dia. Sekali lagi berdiri ditengah taman sekolahnya dimalam hari. Dia duduk ditempat yang sama seperti kemarin. Matanya memandang tak fokus kearah jendela yang menjadi lokasi pertemuannya dengan sang gadis yang penuh misteri. Sejenak ditutpnya kedua mata malamnya, menikmati hembusan angin musim dingin. Lalu terdengarlah sekali lagi, suara yang menyentuh lembut telinganya. Seketika itu juga kedua matanya terbuka. Terbuka lebar. Tanpa sadar tubuhnya mengambil posisi tegak dan tak lagi bersandar. Kedua telinganya menajam, berusaha menangkap suara yang samar-samar. Lagu ini… suara yang sama seperti malam itu… lagu ini…ini… aku kenal lagu ini… tapi…dari mana datangnya?
Sesegera mungkin dia beranjak dari duduknya dan menengok kesana kemari sementara kedua telinganya berusaha mencari sumber suara. Kakinya berlari secepat yang ia bisa. Menuntunnya masuk kedalam gedung lama. Dengan kedua telinga yang masih berusaha tidak kehilangan jejak, kedua kakinya menaiki tangga, menuju lantai 2. Ditelusurinya lorong gelap, yang hanya diterangi cahaya dari luar bangunan. Melalui jendela dengan kaca-kacanya yang sudah tak lagi utuh.
Tak dia pedulikan nafasnya yang tidak teratur. Rasa penasarannya sudah tak lagi tertahan. Lagu yang dia kenal. Tempat dia bertemu gadis bagai malaikat. Dan perasaan yang asing baginya. Ia terus berlari hingga akhirnya disanalah dia berdiri. Dihadapan sebuah pintu kayu besar yang sudah lapuk. Dengan papan yang bertahan menggantung diatasnya hanya dengan sebuah rantai rapuh. Ruang Musik. Begitulah yang tertulis pada papan kusam itu.
Sambil berusaha memperbaiki nafasnya yang memburu, perlahan dia melangkah maju. Tangannya dengan ragu meraih gagang pintu. Diputarnya dan terbukalah si pintu kayu meski hanya sedikit. Seketika itu juga, celahnya menghamburkan lantunan merdu dari dalam ruangannya. Suara piano yang memainkan deretan nada-nada lembut. Dan mata Sasuke membelalak.
Sudah kuduga! Aku kenal lagu ini! Takut akan menggangu penampilan yang sempurna itu, dia hanya diam terpaku. Kedua matanya memperhatikan punggung sang pemain dalam diam. Entah kenapa, sesuai dugaannya, memang gadis itulah. Gadis yang kemarin malam ditemuinya tanpa sengaja. Gadis aneh yang bahkan dia tidak tahu siapa. Memainkan piano tua berwarna putih yang masih elegan ditengah ruangan berterpa cahaya bulan.
Tanpa sadar ia menutup matanya, membiarkan telinganyalah yang menangkap dentingan suara. Menikmati tiap nada yang tercipta dari tuts-tuts dan jari-jari anggun pemainnya. Dan sekali lagi, dia tidak mempedulikan waktu yang bergulir. Ia terhanyut dalam lagu indah itu, hingga intro penutup dikumandangkan.
Menyadari lagu telah berakhir, dia membuka kedua matanya, sekali lagi memperhatikan punggung sang gadis dihadapannya. Beberapa detik berlalu, hingga gadis itu bergeming, seolah menyadari keberadaan orang lain. Dengan anggun tubuhnya berdiri, lalu perlahan tubuhnya berbalik, mengarah pada sang pendatang baru. Syok. Ya, sangat syok. Sekarang jelas sudah. Sasuke mematung diam seribu bahasa melihat makhluk dihadapannya. Barulah dia melihat wujud asli gadis yang selama ini menggema dalam pikirannya. Dan hanya satu kata yang saat ini menetap. Cantik. Sangat.
Mata gadis itu, biru bagaikan langit pagi yang bertemu perbatasan laut atas dasar kalau bumi itu bulat. Tiga garis bagaikan kumis kucing dikedua pipinya. Rambut pirang panjangnya yang dihiaskan bandana putih salju berpita. Tapi hal yang membuat Sasuke kebingungan, yaitu tubuhnya yang berbalutkan gaun, yang lagi-lagi gaun tidur bahkan tanpa alas kaki. Gaun tidur berwarna senada dengan bandananya, tak berlengan dengan pita dibawah dadanya. Wajah gadis itu. Benar-benar seperti murid baru dikelasnya dengan versi wanita.
Itulah pemandangan yang menurut Sasuke paling indah. Gadis itu berdiri menatapnya dengan tatapan polos. Bermandikan cahaya bulan yang menerobos kaca jendela ruangan. Berbagai kata berkelebat dalam benaknya. Tapi bibirnya tak mau bergerak. Sampai sekali lagi sang gadis ingin pergi meninggalkannya.
"Tunggu dulu!" kata Sasuke, yang segera menghentikan langkah gadis itu lebih jauh. "Kau siapa?" AKHIRNYA! Pertanyaan itu keluar juga! Pikirnya dalam diam.
Bukan jawaban yang didapatnya, justru sebuah tawa lembut yang menggema diruangan. Akhirnya sebuah suara bagaikan lonceng, berhasil menggelitik telinga sang pemuda raven. "Naruto…" katanya seraya menyunggingkan senyuman lembut.
Mata Sasuke –lagi-lagi- membelalak. A-apa? Namanya-pun sama! Whoa! Ini gila! "A-apa?" bisiknya tanpa sadar.
"Na-ru-to! Uzumaki Naruto…" dia tersenyum polos.
U-Uzumaki? Ah, berbeda. Bukan Namikaze Naruto.
"Kau… permainanmu indah…" Sasuke bergumam meski berhasil membuat gadis dihadapannya mendengar.
Beberapa kali matanya berkeip sebelum berkata dengan senyuman manis "Terimakasih… Kau siapa?"
"Sasuke, Uchiha Sasuke." Jawabnya singkat.
"Salam kenal Sasuke!" sapanya ceria yang dibalas oleh senyuman dari si pemilik nama. Tapi kemudian Sasuke teringat sesuatu.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan disini malam-malam? Kemarin juga! Apa kau tidak kedinginan memakai gaun tidur ditengah malam bersalju?" tanya Sasuke dengan nada penasaran yang jelas.
Gadis itu hanya menatapnya kebingungan. "Tidak. Tidak dingin kok. Aku memang selalu kesini setiap hari. Pianonya… cantik…" katanya dengan senyum manis seraya mengelus lembut piano putih disampingnya.
Kau lebih cantik… Sasuke tersentak. Pi-pikiran macam apa itu?
TENG TING TENG TING TONG
Dentangan lonceng jam tua dikegelapan pojok ruangan, tiba-tiba mengganggu momen yang indah bagi Sasuke itu. Dengan patung sepasang kekasih yang diliputi debu menari-nari diatasnya, sang jam menunjukan pukul tengah malam melalui dentangannya. Gadis itu, Naruto, terlonjak. Reaksi yang sangat berbeda dengan Sasuke yang menganggap remeh, bahkan tak ambil peduli pada pengumuman si jam tua.
"Ah, waktunya sudah habis." Desah Naruto perlahan.
"Eh?" Sasuke kebingunan.
"Aku harus pergi. Hari sudah berganti." Kata Naruto sambil tersenyum kearah si raven.
"A… Kenapa?" alis Sasuke berkerut meski majahnya tidak menampakan kepanikan dalam hatinya.
"Aku harus kembali. Selamat pagi, Sasuke." Katanya seraya berbalik dan berlali perlahan menjauhi pria yang baru saja dikenalnya.
"Apa kita bisa bertemu lagi?" Sasuke setengah berteriak, membuat sang gadis berhenti sejenak dan menengok kepadanya degan senyuman manis.
"Ya… sampai besok, Sasuke! Akan kumainkan lagu khusus untuk teman baruku besok malam! Jaa!" serunya sebelum berlari menerobos kegelapan lorong.
"Besok malam, ya…?" gumam Sasuke halus dengan bibir yang menyunggungkan senyum tipis.
End Flashback
Naruto's POV
Oke, jujur saja tubuhku agak merinding… kenapa sejak pagi si Teme itu memelototi aku terus sih? Batinku frsutasi. Si Teme itu memang tidak bosan cari gara-gara! Apa, sih, maunya?
Aku berusaha untuk berpura-pura tidak tahu dan tidak ambil peduli. Tapi walau bagaimanapun, aku tidak nyaman diperhatikan sepanjang waktu. Ternyata si Teme itu serius mau memasang mata padaku! Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk lepas dari pengawasannya barang sedetikpun.
Sasuke's POV
Mirip.
Benar-benar mirip!
Mereka seperti anak kembar berbeda gender. Tapi kemarin si Dobe yakin sekali mengaku bahwa dia tidak punya saudara kembar. Jawabannya terlalu jujur dan meyakinkan untuk diragukan. Cih, sial! Membuatku pusing saja! Naruto… itu siapa? Apa hubungannya dengan si Dobe? Mustahil ada 2 orang yang sangat, bahkan terlalu mirip didunia ini. Kecuali mereka kembar. Tapi… dia… Ck, merepotkan!
….
Aku tertular Shikamaru…
Uzumaki Naruto. Namikaze Naruto. Apa-apaan ini?
To be continue…
Yak! Satu chapter lagi! Hhhhhh… lumayan juga…
Semoga enggak mengecewakan, ya! XI
Dan a.k.h.i.r.n.y.a kenalan juga mereka~ XD
Maaf, ya, kalau Yumi update'nya agak lama…
Sekian dan terimakasih… ^o^d
Sincerely, Orenji-chan *plak*
