Pesta perayaan itu benar-benar terlaksana. Untuk merayakan kelahiran Sang Putri Lalisa yang menjadi satu-satunya sebagai Princess of Underworld. Kelahiran yang tak disangka-sangka karena mereka semua menebak jika bayi ketiga juga berjenis kelamin laki-laki.
Putri Lisa ーbegitu bayi cantik itu dipanggilー mewarisi banyak hal dari kedua orangtuanya. Bibir dan hidung yang indah, mata yang berkilau dan rambut lebat yang cantik.
Bayi berusia 1 minggu itu memakai dress hitam dengan rok tutu yang lucu, kepalanya dihiasi sebuah bando sayap berwarna hitam kecil. Kedua matanya yang berkilau berbinar cantik mengawasi setiap undangan yang datang menyapanya.
Bayi kecil itu tumbuh pesat tak normal, karena ia keturunan dari sang Raja Dunia Bawah. Berpindah dari satu orang ke orang yang lain, mereka gembira bukan main. Lisa seperti boneka yang hidup, sangat pendiam dan murah senyum. Tapi terkadang ia merengek ingin dikembalikan pada orangtuanya yang duduk diam mengawasi.
Dan Tao merasa putri kecilnya itu menjadi lebih berat dari hari ke hari. Seperti kedua putranya dulu, pertumbuhan yang sangat cepat. Ia tak banyak bicara selama pesta berlangsung, sesekali Chanyeol atau Sehun datang untuk mengajak Lisa bersama mereka atau sekedar menemani Tao yang duduk sendiri.
Kris tentu saja menjamu tamu mereka. Raja bertubuh tinggi itu masih berada didalam pengawasan Tao, berkat rambutnya yang tak tahu bagaimana telah berganti warna menjadi coklat-hitam agak kemerahan. Dia tidak mencat rambutnya 'kan? Karena terakhir kali seorang putra Hermes yang berambut seterang matahari datang membawa surat dan tentu Kris agaknya tertarik untuk bertanya.
Putra Hermes memang hidup di Bumi, tempat makhluk pendosa bernama manusia hidup. Dan memang tak sedikit putra-putri keturunan dari para Dewa yang tinggal disana. Jadi tidak menutup kemungkinan jika Kris juga mengecat rambutnya. Entah bagaimana caranya, karena sang Raja dikenal sebagai sosok yang enggan keluar dari sangkarnya.
Lisa tiba-tiba tertawa, diantara lamunannya, Tao mengikuti arah pandang putri kecilnya itu yang kini membuka kedua tangannya ingin digapai oleh seseorang di depan sana. Dan ia tersenyum kecil melihat sosok sang Raja yang berjalan mendekat.
Tampan, tinggi dan gagah. Oh, rambutnya ditata agak berbeda malam ini, tidak ada rambut yang licin dan rapih, melainkan rambut yang ditata keatas membuat kesan dinamis dan tampan.
Oh, berapa usianya? Tao tidak yakin jika sang Raja berada diangka 100 tahun.
"Apakah princess kita ini nakal, hm?" meringsek mendekat, setengah berlutut untuk mencium pipi tembem Lisa. Kemudian mengangkat wajahnya dan memberi kecupan di bibir persik Tao.
"Lisa anak baik, sejak tadi dia terus tersenyum" menyerahkan sang putri pada Raja karena bayi itu tak henti membuka kedua tangan kecilnya ーingin digendongー pada sang Ayah.
Kris menggendong putrinya, yang disambut pekikan senang oleh Lisa. Dan beberapa tamu mendekat, mereka memuji Lisa, menyentuh pipinya dan tertawa karena celotehan ala bayi.
Melihatnya Tao ikut tersenyum, hingga kemudian menyadari jika sejak berjam-jam putrinya belum mengkonsumsi apapun. Maka ia bangkit dari kursinya untuk mencari keberadaan Martha ーseorang wanita berambut merah yang telah lama mengabdi pada sang Rajaー yang selama ini mengurus Lisa.
Bukannya tak suka dengan pesta, tapi ia hanya merasa tidak biasa dengan gaya hidup sang Raja underworld maupun penghuninya yang lain. Ia tak bermaksut angkuh tidak ingin bergabung, tetapi hati kecilnya seperti enggan untuk berbaur. Dan ia tidak tahu bagaimana cara menghindari pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan untuknya dari para tamu undangan.
Seperti... kau merasa jika tempat itu bukanlah tempat mu...
Tao juga tidak mengerti, kenapa dari sekian banyak penghuni Dunia Bawah, hanya dirinya yang 'berbeda'. Bagaimana mungkin hal itu terjadi jika sepanjang dirinya bisa mengingat, ditempat inilah ia hidup.
Tao masih belum menemukan sosok Martha ditempat ini. Apa mungkin wanita itu tetap berada di kediaman? Mengingat pesta ini diselenggarakan di tempat berbeda. Tapi jika iya, bagaimana dirinya meminta bantuan untuk mengasuh Lisa?
Pemuda semampai itu mengusap belakang lehernya, kemudian membalikkan tubuh dan melihat sebuah pintu besar berwarna hitam pekat yang tak jauh darinya. Pintu itu terbuka memperlihatkan sedikit celah yang bersinar amat terang berwarna putih.
Cahaya putih itu entah kenapa terlihat begitu menarik perhatiannya, hingga tanpa sadar bergerak mendekat. Tanpa sedikitpun mengerjap, Tao semakin dekat, lalu mengulurkan tangan kanannya hendak meraih kenop pintu itu. Tapi entah mengapa gerakan kaki dan tangannya terhenti. Nyaris menyentuh kenop bernuansa emas yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari jemarinya.
Cahaya putih yang masuk melalui celah pintu itu terasa begitu menggoda. Membuatnya ingin melihat apakah gerangan yang ada diluar sana, dibalik pintu besar berwarna hitam itu. Tapi...
"Kenapa urung membuka pintunya?"
Suara seorang pria menginterupsi lamunannya. Tao menoleh ke samping kirinya dan melihat sosok pria yang sedikit lebih pendek darinya, rambut dan matanya berwarna hitam dan senyumnya hanya terasa dibibir.
"Maaf?" Tao tak mengenal pria itu. Wajahnya asing.
"Seharusnya kau membuka pintu itu dan melihat keluar, Zitao" kata pria itu sembari memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Anda mengenal saya?"
Pria itu tertawa kecil, membuat Tao mengernyitkan dahinya.
"Siapa yang tidak mengenal mu? Kau yang dicintai oleh Son of Hades. Dan aku tidak tahu apa sebuah kebanggan atau tidak menjadi Persefone kedua" sudut bibirnya terangkat. Memberi gestur menghina yang amat kentara.
"Apa maksud anda menyamakanku dengan Ibu mertua ku, Tuan?"
"Kau bangga menjadi Gods of Underworld? Sayang sekali, kau bahkan tidak pantas berada ditempat ini. Kau terlalu menyilaukan"
"Aku tidak mengerti apa yang sedang anda bicarakan"
Pria misterius berpakaian serba hitam itu mengulas senyum, tak kunjung menjelaskan apa maksud dan tujuannya berkata seperti itu padanya. Dan hal itu membuatnya kesal.
"Taozi!"
Sosok Sehun datang dengan tatapan bingung pada 'Ibu'nya yang berdiri didekat pintu. Tao menoleh ke asal suara, melihat putra bungsunya berjalan mendekat.
"Sedang apa kau disini? Raja mencarimu" ujarnya, menyentuh pundak Tao yang terasa tegang.
"Aku sedang bicara dengan..." begitu kepalanya tertoleh kedepan, Tao tak lagi melihat sosok pria yang tadi mengajaknya bicara.
Sehun mengikuti arah pandang Tao dan agaknya bingung karena tidak ada siapapun disekitar sana. Karena dibelakang mereka para tamu sedang sibuk berpesta.
"Tadi ada seorang pria yang berdiri disini dan mengajak ku bicara" ucapnya, menoleh pada Sehun. "Apa orang itu sudah pergi?" melihat kesekeliling kemudian, ia tak melihat sosok itu dimanapun.
"Mungkin. Sudahlah, Raja sedang mencarimu, ayo" meraih tangan Tao, Sehun menarik pemuda manis itu mengikutinya.
Meninggalkan keramaian pesta, Sehun melepaskan genggamannya saat mereka hendak memasuki sebuah lorong pendek. Dan berkata agar Tao datang menemui sang Raja yang sedang menunggu dirinya. Sementara Sehun dan Chanyeol yang akan menemani para tamu.
Tao menurut, ia berjalan kearah satu-satunya pintu yang ada di lorong itu. Membukanya perlahan dan melihat ruangan yang nyaris kosong, hanya sebuah sofa panjang berwarna hitam yang berada ditengah ruangan.
"Kris?" memanggil suaminya yang tak tampak dimata. Tao bergerak masuk sembari menutup pintu.
Sosok tinggi suaminya tak ada disana, ruangan itu sepi. Lantas mengapa Sehun menyuruhnya datang ke ruangan ini?
Saat ia sadar, sepasang tangan melingkari pinggang sempitnya. Tubuhnya tak bisa bergerak, terkunci di dalam pelukan dan tubuh tegap seseorang yang kini mengecupi bagian belakang lehernya.
Tanpa bertanya pun ia tahu siapa pelakunya. Aroma dan sentuhannya sudah ia hafal diluar kepala.
"Ada apa? Kata Sehun, Yang Mulia mencariku"
Tao yakin jika Kris memang berniat meninggalkan jejak di lehernya karena ia merasakan kulitnya yang dihisap. Pria yang dicintainya itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Hmm, ya. Karena aku tidak menemukanmu jadi ku minta Sehun dan Chanyeol untuk mencarimu" enggan untuk mengangkat wajahnya dari leher jenjang Tao. Goddes of Underworld itu berpindah ke sisi lain leher Tao yang belum terjamah.
"Lalu Lisa?" menggeliat kecil karena geli, satu tangannya memegangi rambut Kris. Bersiap mendorong kepala itu jika terus-terusan menggigit lehernya.
Menjilat hasil karya yang baru saja ia ciptakan, Kris menggerakkan kedua tangannya menyusup dibalik kemeja tipis berwarna marun yang Tao kenakan. Si manis itu memprotes namun Kris mengabaikannya.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, Kris. Mana Lisa?" menarik paksa kepala sang suami hingga pria itu mendongak dan ia menoleh ke bahu kanannya. Saling bertatapan.
"Lisa bersama Martha, gadis kecil kita lapar sayang"
Cup
Mencuri kecupan di bibir mungil istrinya. Dan kecupan itu berubah menjadi ciuman panjang tanpa jeda.
Tao meremas helai rambut Kris, menutup mata menyanggupi pagutan bibir dan lidah panjang suaminya itu. Menggumam diantara ciuman saat merasakan tangan besar Kris bermain di dadanya yang sensitif.
"T-tungguー mmh... Kris!" memukul kepala sang Raja yang sukses mematahkan ciuman mereka. Tao mendengus kesal dan berusaha melepaskan pelukan Kris di tubuhnya.
"Aku akan menjemput Lisa" ujarnya.
"Tidak tidak, Lisa aman bersama Martha, Sehun dan Chanyeol" menumpukan dagu runcingnya dibahu kanan sang istri, Kris mendekap perut rata Tao sangat erat.
"Kalau begitu untuk apa Yang Mulia memanggilku?" tanyanya dengan dahi berkerut samar.
"Untuk ini" Kris tersenyum, sebelum Tao membuka mulutnya kembali ia mendahului, "Karena kau akan marah jika aku melakukannya ditempat pesta"
"Tentu saja aku akan marah, lagipula ku pikir ada sesuatu yang terjadi sampai kau mencariku"
"Memang ada sesuatu bukan? Suamimu ini sedang ingin"
"Tidak bisakah kau menahannya Yang Mulia? Kita masih berada ditempat pesta"
Kris menggelengkan kepalanya, kembali menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Tao yang beraroma manis. Mengusap tangan sang suami yang berada diperutnya, Tao memang tak pernah menolak keinginan sang Raja untuk berhubungan intim, tapi jika mengingat dimana mereka berada saat ini dan sebanyak apa makhluk underworld diluar sana yang tengah berpesta, Tao harus menimbang kembali permintaan suaminya.
"Chanyeol dan Sehun bisa datang kapan saja, Lisa juga pasti nanti mencari kita berdua. Bersabarlah sampai kita sampai di rumah, ya?"
"Tidak mau"
"Aku akan memberi jatah lebih, bagaimana?"
Kepala Kris spontan terangkat, "Sungguh? Kau tidak sedang membohongi suamimu ini?"
"Apa aku pernah berbohong?"
"Apa hukumannya jika kau menolak nanti, hm?"
Tao terlihat tengah berpikir, kemudian... "Kau bisa mengikat ku jika aku berusaha menghindar"
"Baik" Kris menyahut cepat. Terlihat jelas jika ia menyukai penawaran Tao kali ini, lihat saja kedua matanya yang berbinar.
Menekan pelukannya di perut Tao, menegaskan sebesar apa keinginannya dibawah sana yang kini menekan keras bagian belakang sang istri. Sukses membuat pemuda manis yang sudah memberinya 3 orang anak itu merona.
Hanya sentuhan, ia sudah bisa mengingat sebesar apa benda dibawah sana.
"Kalau begitu ayo kota temui para tamu dan segera mengakhiri pesta ini. Aku sudah tidak sabar untuk pulang" merengkuh pinggang sempit Tao, Kris membimbing sang istri keluar dari ruangan itu.
Uh oh, sepertinya ia sudah salah memberi penawaran pada sang Raja.
"Aah! K-Kris! Aaahh! Hyaaahh~~ not again! Uuhhh... aaahh!"
Pengendalian dirinya sudah hancur tak bersisa sejak menit pertama sang Raja menyentuh dawai instrument sehalus surga. Melodi indah yang mengalun dari sosok seindah pendamping hidupnya yang cukup membuat kedua putranya gusar itu sungguh dinikmatinya.
Tak peduli jika memang mereka mendengar, karena surga yang dimilikinya sungguh lebih menggoda. Bibir mungil semanis madu sudah beberapa kali memohon agar dirinya segera menyudahi permainannya karena puti kecil mereka yang terlelap di box bayi disamping tempat tidur mereka.
"Kris! A-aku... aaahhhnn~~ hyaaaah! Oohhh... not there! Nyaaah~!" dadanya semakin saat buah delima kemerahan didadanya kembali dihisap oleh bibir tebal sang Raja. Lidahnya sampai kelu karena serangan nikmat diseluruh tubuhnya, hingga tak tahu lagi apa yang harus dilontarkannya dan menutupi wajah berpeluh yang memerah sempurna menggunakan kedua telapak tangannya.
Kris meninggalkan jejak diseluruh tubuhnya, tanda kemerahan hingga cairan lengket yang membasahi seluruh tubuhnya yang panas karena perbuatan sang Raja yang tak kunjung bosan.
"Let me see your face, sugar" suaranya serak sarat akan gairah. Membuka tangan Tao yang menutupi wajahnya, sengaja membakar tubuh mereka berdua dengan mempertemukan alat vital mereka. Tao mengelijang.
Begitu manis bagai madu, sepasang mutiara hitam yang sendu mengundang dan alunan melodi yang indah menjadi musik pengiring. Taozinya yang sempurna.
"Call my name" pintanya, mengulum cuping telinga Tao membuat si manis itu menggeliat.
"Ngghh... Krisss~"
"Again"
Bibirnya merambat bagai laba-laba yang sedang menenun.
"Kris... "
Taozinya memang manis. Dirinya tak pernah bosan. Ia akan terus membuat sawai itu benyanyi, tak akan membiarkannya berhenti. Karena ia begitu Indah.
"Louder, sugar"
Tao mendesah, Kris bermain diatas pusarnya, meremas milik mereka bersama agar api terus berkobar.
"Kris! Aahh!! No! D-don't.. aaahh~~"
Tersenyum karena ulahnya, Kris melepaskan milik mereka dan menarik kaki jenjang Tao melingkari pinggulnya. Yang disambut oleh si manis itu mengaitkan kedua kakinya dibelakang punggung sang suami.
Benda besar panjang dan keras itu membakar hingga ke seluruh tubuhnya. Menerobos masuk dengan begitu mudahnya memicu teriakan nikmat dari mulutnya, dan tubuhnya bergerak sesuai irama.
Sang Raja menanamkan kesejatiannya sangat dalam, mendobrak titik nikmatnya berulang kali hingga dadanya terasa akan meledak.
"Kris! Kris! Aahh! It's too deep! Hyaaahh!"
Kris juga merasakannya, kejantanannya seperti dihisap kuat oleh lubang istrinya. Dan ia tak pernah bisa mengendalikan diri dari surga didepan mata.
Gumpalan otot didalam sana semakin membengkak, mendesis seperti ular, ia mencengkram kuat pinggang sempit Tao kala sekelebat bayangan putih telah menari didepan mata. Hingga bayangan itu semakin nyata dan membuat mereka berteriak bersamaan.
Tembakan cairan hangat didalam tubuhnya membuat Tao mengerang, Kris tak kunjung melepaskan pinggangnya, merasa perutnyanya menghangat akibat cairan cinta suaminya. Dan ia tak lagi bisa mengingat sudah keberapa kalinya penguasa underworld itu mengisi lubangnya dengan cairan lengket yang hangat.
Tao memejamkan matanya saat Kris mencabut kejantanannya yang masih memuntahkan cairan putih kental, membiarkan ulah sang suami yang kini kembali melumeri tubuh lengketnya dengan cairannya yang tak kunjung surut.
Kris tersenyum puas melihat hasil karyanya. Kini Taozinya terlihat seperti kudapan berlumur susu kental manis yang siap disantap. Seluruh tubuhnya basah oleh cairannya, kecuali wajahnya yang cantik itu.
"Nnhh~~ aahh Kriss~"
Gumpalan otot yang keras dan panas itu menggesek puting dadanya yang kembali mengacung. Kris sengaja menggesek kepala penisnya dibagian sensitif sang istri, melihat bagaimana belah bibir kucing itu meracau dengan dada membusung.
"Aku ingin merasakan mulutmu, sayang" ucapnya.
Tao mengerti, maka dari itu ia berusaha bangkit duduk sementara Kris menekuk lututnya kedalam untuk berdiri diatas lututnya. Jemari lentik Tao menggenggam ereksinya yang membengkak, dengan posisi menungging mulai mengendus kepala penisnya yang berkedut, lalu menjulurkan lidah merah mudanya yang basah.
"Do you like it?" suaranya sangat rendah, mengusap helai hitam Tao. Ia mengamati 'pekerjaan' si manis itu.
Kepala itu mengayun naik-turun selagi lidahnya sibuk membersihkan sisa cairan sang suami pada penisnya yang berukuran besar. Pipinya bersemu sambil menutup mata, Tao dengan teliti menjilati tiap senti gumpalan otot yang bengkak itu, merasakan hawa panas dilidahnya yang licin.
Tanpa diminta oleh sang Raja, Tao melahap gumpalan besar itu meski mulutnya tergolong kecil. Mendengar desahan Kris yang menyambut perbuatannya, ia jadi semakin bersemangat untuk 'memakan' penis sang suami yang sudah beratus kali memuaskannya itu.
Ia sadar jika benda keras seperti kayu itu berubah semakin besar dari waktu ke waktu. Dan Tao menyukainya. Ia tak pernah mengatakannya karena malu, cukup Kris yang sering menggodanya.
"I want cum in your mouth, sugar" Kris menekan lembut kepala Tao, membuat si manis itu mengernyit karena kejantanan besar yang menusuk makin dalam di tenggorokannya.
Tao istri yang patuh, ia berusaha sebaik mungkin 'memakan' gumpalan otot dimulutnya itu hingga merasakan kedutan dibagian kepala penisnya. Saat cairan itu keluar menembak langsung ke dalam tenggorokannya, dengan senang hati ia menelan cairan kental itu.
Tapi Kris tak membiarkannya menelan semua cairan yang keluar, kejantanan besar itu dicabut dan menyebabkan semprotan cairannya menghujam wajah cantik Tao, membuat pemuda itu refleks memejamkan mata.
Cairan yang keluar cukup banyak, entah sudah keberapa kalinya ia memuntahkan cairan kental itu, yang jelas tak terlihat gurat lelah diwajah tampan sang Raja.
Bagaimana mungkin seorang Gods of Underworld lelah saat bercinta dengan Ratunya?
Tao menjilati bibirnya yang basah dan mengusap kelopak matanya yang juga terkena semprotan cairan kental sang suami, kemudian membuka matanya kembali dan melihat sang Raja yabg tersenyum padanya.
"Sudah lama sekali aku ingin melakukan itu" ujarnya menyeringai.
"Tapi aku tidak bisa memasukkan semuanya ke dalam mulutku" Tao menggumam.
"Itu tidak masalah sayang. Yang terpenting kita akan bersama selamanya" menarik lembut lengan Tao, ia tersenyum membawa pemuda itu duduk diatas pangkuannya.
Menempatkan ereksinya tepat dibelahan bokong sang istri, ia memeluk erat pinggangnya yang sempit dan memberi ciuman bertubi-tubi diwajahnya.
"Kau masih ingin lagi, Yang Mulia?" Tao memeluk leher suaminya, memberi usapan di belakang leher pria itu.
"Kau tahu ini tidak cukup untukku. Kau sudah berjanji, ingat?"
"Aku tidak lupa"
"Jadi apa aku perlu mengikatmu?"
Tao menggelengkan kepalanya. "Tidak. Lakukan sampai kau puas, aku hanya akan memanggil namamu"
Kris tersenyum, memagut bibir lembut Tao dan kembali berperang lidah. Selagi kedua tangannya perlahan mengangkat tubuh ramping itu dan ereksinya mengacung tegak.
Lalu menurunkan tubuh itu kembali hingga kejantanannya dengan akurat menghujam lubang nikmat Tao. Si manis itu mengerang, meremas kuat rambut sang suami. Dan lagi-lagi kedua tangan Kris yang kokoh menggerakkan pinggangnya untuk memompa penis yang menusuk-nusuk lubangnya.
Tao hanya berharap Lisa tidak segera bangun karena keributan yang mereka ciptakan.
